Chapter Text
( IV )
FINALE
“Akan kukembalikan segera.”
Adalah pernyataan pertama yang Taehyung katakan setelah insiden beberapa saat lalu yang menimpanya. Ia tak menduga para preman itu akan datang dan memporandakan seisi ruangan tengahnya. Meneriaki namanya dengan lantang, dan menampakkan diri dengan gerombolan. Cukup membuat Taehyung ketakutan, bahkan dirinya mengira mungkin hari ini adalah saat-saat terakhirnya diberi kesempatan untuk merasakan kejamnya dunia. Sedikit banyak Taehyung berharap pada mereka untuk menghabisinya mungkin, tapi ia masih ingat tentang pesan ibunya untuk selalu bertahan dalam keadaan apa pun.
Jungkook tak menjawab apa pun, pemuda itu masih telaten membubuhkan natrium klorida pada luka-luka di seutuh wajahnya. Taehyung akui, tenaga preman-preman tadi tidak main-main, buktinya dia babak belur sekarang: biru di mana-mana, luka memar di sudut mata, luka robek di sudut bibirnya. Taehyung bahkan kesulitan untuk sekedar menggerakkan otot wajahnya karena demi hutangnya yang berlimpah ini sungguh sakit sekali.
“Aw!” Taehyung mendesis sakit, suaranya mencicit saat sudut bibirnya terkena kasa yang basah karena alkohol. “Sakit,” katanya lirih sembari menahan air mata yang hendak jatuh. Tidak boleh, menangis karena luka itu akan merusak citranya selama ini.
Jungkook ada di hadapannya saat ini, dan Taehyung tidak bisa lakukan apa pun lagi selain duduk diam dan menurut di bawah kendali pemuda itu. Kemeja yang Jungkook kenakan berantakan, ada sudut-sudut yang kusut dan bekas darah yang tidak terlalu parah seperti milik Taehyung sendiri. Taehyung yakin, ia tidak salah lihat ketika Jungkook mencapit kasa dengan pinset pada baskom mini alumunium di tulang-tulang jemarinya memar tak terbantahkan. Melihat itu hati Taehyung seketika rasakan sensasi tidak nyaman, sungkan, dan rasa bersalah. Nyatanya pemuda di hadapannya ini sudah baik hati membantunya, menyelematkannya dari maut.
Coba saja tadi tidak ada Jungkook, mungkin Taehyung sudah sekarat.
Sekali lagi, Taehyung terpejam saat lebam di sudut matanya dikompres es. Sensasi yang menyengat buat Taehyung betulan menangis hingga refleks menggenggam jemari Jungkook yang berusaha mengobatinya. “Jungkook, sudah. Aku baik-baik saja.”
“Tidak. Nanti akan biru kalau dibiarkan. Lukamu juga akan infeksi jika tidak segera ditangani. Kau diam saja dan menurut padaku. Aku yang akan ambil andil sekarang.”
Tuh, kan. Jungkook menyeramkan jika seperti ini. Perlahan Taehyung lepas jemari Jungkook dari genggamannya, dia memilih pasrah dan mencoba bersandar pada sofa ruang tengah. Jungkook membantu ketika Taehyung meringis karena pinggangnya sakit sekali. Sialan, preman itu menendang tubuhnya tanpa ampun.
“Pelan-pelan,” Jungkook menitah, merangkul Taehyung hati-hati, tanpa sadar menyambut genggaman tangan Taehyung yang sarat akan kesakitan. “Mana lagi yang sakit?”
“Punggungku,” cicit Taehyung sembunyikan wajahnya dari tatap tajam Jungkook yang menghunus entah mengapa. “Pinggangku juga. Semuanya sakit.”
Satu hembus napas terdengar, Taehyung menatap wajah letih Jungkook dengan kalut. Tidak bisa, Taehyung tidak suka jika dirinya harus menyulitkan orang lain, terutama pada pemuda di hadapannya ini. Pasca pertengkaran kemarin, Taehyung tidak ingin menjilat lagi ludahnya, dia masih punya harga diri yang bisa dipertahankan. Jungkook tidak boleh berlebihan lakukan ini padanya, atau mungkin Taehyung akan merasa bersalah dan terlihat seperti penjahatnya.
Meskipun memang benar adanya begitu.
“Tidak perlu pikirkan uang itu. Sekarang fokus untuk obati lukamu, oke?”
Dan ini adalah senyuman pertama yang menghiasi setelah hampir setengah bulan mereka berpisah. Taehyung, entah kenapa, rasanya seperti ada yang memantik rongga dadanya. Seperti ada kerlap-kerlip bintang yang mengisi, seperti ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Melihat senyuman Jungkook yang kini masih bertahan buat Taehyung tertegun dalam tatap terpana.
“Kenapa kau baik sekali padaku?” tanya Taehyung sembari memeta seluruh wajah Jungkook yang tak pernah ia amati dengan posisi sedekat ini.
Pergerakan Jungkook terhenti sejenak, sekilas menatap mata Taehyung yang juga lakukan hal yang sama padanya. Namun, selanjutnya Jungkook kembali bergelut dengan urusannya mengambil gumpalan kasa baru yang steril. “Sebenarnya aku tidak ada alasan khusus untuk membantumu.” Tapi kenapa perasaan Taehyung tiba-tiba kecewa? “Aku melakukannya karena aku rasa aku harus melakukannya. Melihatmu disiksa begitu, siapa yang tega?”
Taehyung menunduk. Separuh merasa malu karena alasan dibalik kejadian beberapa saat yang lalu yang menimpanya. Dia malu pada Jungkook. Dia malu tentang menjadi sok kuat dengan tindakan mengusir Jungkook seperti segalanya Taehyung dapat lakukan sendirian tanpa bantuan orang. Taehyung malu, benar-benar malu—atas tabiatnya yang sekeras batu dan selurus kayu.
Taehyung menyentuh punggung tangan Jungkook yang sibuk membuka plester, menghentikan segala pergerakan pemuda itu. Taehyung tatap Jungkook tepat di kedua matanya yang sekelam malam. “Uang sebanyak itu kau dapat dari mana?”
Ah, apakah Taehyung salah bicara?
Jungkook tersenyum menanggapinya. “Tabungan sewa kost-ku yang baru.”
Taehyung mengerut seketika, wajahnya pias. “K-Kalau begitu aku akan segera kembalikan—“
Taehyung pejamkan mata ketika satu sentuhan terasa di puncak kepalanya. Kemudian berubah menjadi usapan halus di sana. Taehyung buka perlahan kedua matanya, dan yang ia dapatkan adalah senyuman tulus Jungkook yang hangat.
“Tidak perlu tergesa. Kau bisa kembalikan itu kapan saja,” kata Jungkook sembari melepas sentuhan dan mencoba memasang plester ke beberapa bagian wajah Taehyung yang luka.
“T-Tapi—“ Taehyung mendesis ketika plester itu terpasang sedikit menyakitinya, sementara Jungkook membalasnya dengan ucapan maaf yang menenangkan. “Tidak bisa begitu. Aku akan—ma-maksudku, apa yang bisa kulakukan agar hutangku padamu bisa lunas dengan cepat? Karena jujur saja penghasilanku yang sekarang tidak seberapa, dan aku akan tidak tenang jika ini tidak segera usai.”
Jungkook diam pandangannya menerawang seperti sedang berpikir. Pemuda itu bereskan beberapa peralatan yang baru saja ia gunakan, meletakkan semuanya sampai rapi di atas meja kopi di hadapannya. Taehyung menunggunya antisipatif, dan semakin berdebar ketika pemuda itu kini mengalihkan pandangan seutuhnya padanya.
“Jika kau bertanya begitu artinya aku harus mencari solusi yang win win, ya?”
Taehyung memiringkan kepalanya, kedua matanya melebar dengan alis terangkat—kebiasaannya jika tidak paham dengan apa yang disampaikan. “Maksudmu?”
Kemudian senyuman Jungkook makin melebar, tanpa ragu ia raih kedua tangan Taehyung yang beristirahat di atas pahanya sendiri, menggenggamnya erat namun tidak menyakiti. Taehyung dibuat porak-poranda dalam artian yang aneh ketika Jungkook menatapnya lekat-lekat.
“Kenapa?” Refleks bertanya sembari memundurkan kepalanya. “Jungkook?”
Dan kata selanjutnya yang terlontar cukup membuat Taehyung terkejut.
“Kalau begitu biar aku tinggal lagi, jadi penyewa kamar di rumah ini. Jadi kau tidak akan perlu merasa khawatir sama sekali.”
Mendengar itu, entah mengapa beban-beban yang menggelayuti Taehyung terasa menguap entah ke mana, dan juga hatinya terasa lega luar biasa.
Tak terkecuali juga dengan perasaan menggelitik entah itu apa namanya. Taehyung pun tersenyum tulus pada Jungkook untuk pertama kalinya.
Ada beberapa hal yang dapat Taehyung rasakan perbedaannya ketika Jungkook ada di sini. Taehyung menyadari bahwa tinggal dengan sosok lain di sisinya terasa hangat dan memberikan rasa aman. Pasalnya, setiap Taehyung merasa sedih, maka akan ada Jungkook yang datang tanpa bertanya lebih, membuatkannya makanan lezat atau mungkin sekedar menemani sampai Taehyung mau bercerita. Atau ketika Taehyung terlihat ceria, maka Jungkook tak akan menyinggungnya lebih, namun mengusak rambutnya dengan senyum menyenangkan, ucapkan selamat pagi dengan cara yang paling manis, menggiring Taehyung menuju ruang makan dan menggandengnya untuk bantu-bantu pemuda itu di dapur.
Benar, Jungkook tak akan banyak bertanya, namun mengerti apa yang harus dia lakukan di semua suasana hati Taehyung tiap saatnya. Mungkin Taehyung tidak memikirkan terlalu jauh akan treats Jungkook padanya, namun Taehyung hanya mengakui kalau Jungkook adalah sosok yang reliable dan Taehyung sungguh bersyukur telah menerimanya kembali di rumah ini.
Ada Jungkook Taehyung merasa tenang dan aman.
“Kenapa senyum-senyum?”
Taehyung menoleh pada Jungkook yang sekarang sedang mengaduk adonan donat, apronnya masih bersih ketika Taehyung meliriknya. “Tidak apa-apa,” jawab Taehyung singkat, namun senyumnya semakin berkembang.
“Memikirkan apa?”
Taehyung meraih adonan yang sudah jadi, bergerak sesuai instruksi Jungkook untuk membuat bulatan-bulatan donat sebelum didiamkan beberapa saat. “Kenapa ingin tahu?” Taehyung balik bertanya, lantas tertawa ketika Jungkook menatapnya dengan wajah kesal.
“Kenapa menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan? Apa yang kau sembunyikan?”
“Coba tebak,” kata Taehyung dengan senyum jahil. “Eh, eh! Jangan! Nanti kotor!”
“Tidak peduli!”
Jungkook menjulurkan lidah, lalu menangkap kedua tangan Taehyung dalam sekali genggam. Taehyung meronta, berusaha sembunyikan wajahnya dengan kedua tangan yang terkunci, ia tertawa dan berteriak heboh ketika sebelah tangan Jungkook mencolek cokelat cair di atas mangkuk, mengarahkannya pada Taehyung.
“Kemari kau!” Lalu Jungkook tertawa karena Taehyung masih saja bisa menghindari serangannya. “Nakal!” Jungkook menarik Taehyung lebih dekat lalu pemuda Kim itu menubruknya sedikit keras. “Sini mana wajahmu!” katanya lagi dengan tawa heboh yang sarat kejahilan.
Taehyung kalah tenaga, ia pasrah dan pejamkan mata ketika Jungkook dengan santai mencolek wajahnya dengan cokelat cair itu. Bahunya naik ketika Jungkook menambah coretan di mana-mana, wajahnya pasti sudah kotor sekarang. Rasa lengket dan aroma cokelat menguar dari wajahnya. Ia dengar desah puas Jungkook yang berujung tawa membahana, lantas Taehyung membuka kedua matanya dan menatapi si Jeon itu kini membungkuk sambil memegangi perut.
Taehyung mencebik kesal, lalu menuju cermin yang digantung dekat dapur. Dan benar saja, wajahnya sudah kotor dengan gambar-gambar abstrak Jungkook, seperti bentuk love dan tulisan ‘Taehyung jelek, Jungkook ganteng’, belum lagi gambar-gambar jorok khas guyonan anak laki-laki dan itu cukup buat nyali Taehyung tertantang untuk membalas lebih.
Taehyung segera raih mangkuk itu, lalu berlari menyongsong Jungkook yang sudah kabur duluan ke arah taman. Terdengar suara ampun Jungkook yang nyaring namun ujung-ujungnya juga tertawa jahil. Taehyung kejar Jungkook ke mana pun pemuda itu berlari, melewati jembatan kolam, menaiki batu-batu taman, lalu gerak larinya berhenti ketika Jungkook justru berhenti mendadak sementara Taehyung tidak mampu untuk kendalikan tubuhnya sendiri.
Di sana, Jungkook rentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut Taehyung yang akan menubruknya.
“Jungkook awas!”
Tak bisa menghindar, Jungkook tangkap tubuh itu dengan benar. Tangannya merangkul pinggang Taehyung seiring tubuhnya terdorong ke belakang. Kaki-kaki Jungkook tak dapat menahan kencangnya tekanan, sampai punggung Jungkook menyentuh rerumputan taman dengan debuman yang cukup keras. Ia meringis kecil kala nyeri di punggungnya merambat sampai kepala, namun sekali lagi, Jungkook akhiri itu semua dengan tertawa.
“Oh, astaga!”
Taehyung terkesiap, tubuhnya menindih Jungkook yang cengengesan seperti orang gila. Ia edarkan pandangan ke sekitar, mencari keberadaan mangkuk penuh berisi cokelat yang sudah tumpah di dekat mereka. Untung saja Jungkook tadi menepisnya dengan kuat, sehingga mereka tidak berakhir mandi cokelat di mana-mana.
“Hei, Jungkook. Kau tidak apa-apa?” tanya Taehyung yang sadar akan posisi keduanya. “Astaga, maafkan aku—“ Ia berusaha bangkit karena Jungkook sedari tadi hanya diam tak bersuara.
“Eits,” bisik Jungkook sambil kedua tangannya mengeratkan rangkulan di pinggang Taehyung. Ia pandangi Taehyung yang sekarang gelagapan karena pelukan Jungkook yang mengerat di sekitar tubuhnya.
“Jungkook,” Taehyung mencicit, merasa kecil ketika Jungkook menatapnya penuh damba. Ia rasakan ada hal lain yang menyenangkan dalam kerlingan mata Jungkook yang segelap malam. Seperti ada sinar lain yang buat Taehyung sulit untuk berpaling, seperti ada magnet yang membuatnya terpaku sampai lupa bernapas.
Satu tangan Jungkook bergerak, menjumput poni Taehyung yang menjuntai menutupi hingga kedua mata indahnya, lalu mengusap seluruh poni Taehyung sampai dahinya terpampang jelas.
Nah, jika begini, Jungkook dapat melihat betapa indah kedua mata Taehyung yang sebening batu alam dalam genangan madu. Jernih dan penuh misteri yang buat Jungkook semakin penasaran akannya. Jungkook bermain-main pada helai anak rambut Taehyung sebelum menyelipkannya pada belakang telinga Taehyung.
Jika begini, Taehyung terlihat semakin manis dan menawan. Jungkook jadi tidak tahan.
“Hei, Tae.”
Taehyung berjengit saat Jungkook memanggil namanya. Sebuah reaksi yang berlebihan sebenarnya, namun apa tidak pusing Taehyung jika sekarang ia dapat rasakan debar jantung miliknya sendiri sama berisiknya seperti milik Jungkook? Bahkan Taehyung dapat rasakan itu dibawah kulit telapak tangannya, betapa bertalu-talu jantung Jungkook berdentum di sana.
Taehyung tidak menyahut, namun perbuatan Jungkook selanjutnya cukup membuat Taehyung buka suara ketika jemari Jungkook mengusap wajah Taehyung yang cemong di mana-mana. Taehyung yang hanyut dalam suasana, yang sudah hampir memunculkan senyum kecil malu-malunya, kini mencebik ketika didengarnya suara Jungkook meledak bukan main.
Jungkook tertawa puas setelah saksikan wajah Taehyung yang aneh.
“Lihat itu, cemong!” Kemudian tertawa lagi sambil memeluk Taehyung erat-erat, tidak mau lepaskan barang sedetik pun. “Astaga, lucu sekali. Seperti anak kucing yang habis tercebur parit. Hahaha!”
“Lepas!” Taehyung mencubiti pinggang Jungkook tidak main-main. Tapi sepertinya Jungkook tidak punya kesensitifan lebih di area itu. “Lepas! Kau menyebalkan! Rasakan ini!”
Alhasil Jungkook melepaskan pelukannya saat Taehyung dengan berani mencubit bagian dadanya. Tapi namanya Jungkook, orangnya memang suka menggoda, maka dengan cepat ia balikkan posisi: Jungkook mengukung Taehyung dengan kedua tangan yang bertahan di sisian kepala si Kim.
“Kau sudah punya pacar?”
Apa-apaan pertanyaan itu? “Apa maksudmu?
Jungkook tersenyum, manis sekali sampai Taehyung salah tingkah apalagi ketika sebelah tangan Jungkook mengusap sisa cokelat yang tertlinggal di wajahnya. “Aku tanya, apa kau punya kekasih?” tegasnya lagi, namun dengan nada yang lembut.
“Hmm.” Kedua mata Taehyung menatap ke mana pun, asal bukan ke mata Jungkook. Dia berdebar sekarang, sumpah. Perlakuan Jungkook buatnya merasa ada yang aneh dalam dadanya. Jungkook yang senyum-senyum seperti orang gila di atasnya entah mengapa dengan jarak sedekat ini rupanya sungguh luar biasa tampan tak terkira. Alisnya yang tebal, matanya yang bulat dan tajam, hidung mancungnya, luka membekas di pipinya, dan terakhir ... bibirnya. Merah muda. “Kekasih, ya?” gumam Taehyung sembari perhatikan bibir Jungkook yang sepertinya lembut untuk disentuh.
Ah, Taehyung bisa gila.
“Kebiasaan,” Jungkook terkekeh, matanya menyipit kala ia tertawa. Pandangannya kembali terarah pada Taehyung yang tersenyum malu-malu, lalu inner dirinya mengaum bangga ketika Taehyung alihkan pandangan salah tingkah.
Ah, Jungkook bisa mampus.
Kemudian Taehyung mendorong Jungkook ketika jemari pemuda Jeon itu dengan jahil menggelitik pinggangnya. Tawa Taehyung meledak dan meronta minta dilepas. Tidak menyangka jika ia bisa melewati masa kelamnya, bisa membuka pintu untuk orang lain, kembali mencoba memberi kesempatan orang lain untuk memiliki kepercayaannya, dan Jungkook bersyukur Jungkook jadi sosok yang membantunya untuk lewati ini semua.
Angin sore berhembus lembut, burung-burung berkicau di atas langit. Semut-semut mungkin kini sedang berbisik, membicarakan dua anak manusia yang sedang saling tatap dan tangan yang bertaut. Mungkin juga peliharaan mereka yang baru-baru ini diadopsi—Yeontan namanya—berkedip malas dan membiarkan keduanya menikmati momen bersama, atau bisa jadi tanaman perdu yang berjajar di dekat pagar menutup mata kala jarak itu makin terkikis seiring matahari yang akan pulang ke peraduannya.
Jungkook merangkum sisi wajah Taehyung yang sudah merona, memperhatikan matanya yang menyayu, menatap Jungkook dengan perasaan yang menyenangkan. Jungkook tersenyum menanggapi, ia kikis lagi jarak yang menipis dan rasakan hembus napas Taehyung menerpa wajahnya.
Seperti ada efek kejut dan kembang api yang meledak memenuhi kepala kala kulit halus mereka saling bersentuhan, basah bibir Jungkook yang bergerak lembut, lalu cengkraman tangan Taehyung beralih pada kaus yang ia kenakan. Dengan hati-hati ia buka mata, dan menemukan Taehyung yang terpejam dan aroma stroberi dari lipbalm Taehyung memenuhi indra penciumannya. Jadi, seperti ini ya, rasanya berciuman? Jungkook bersyukur Taehyung jadi orang pertama.
Taehyung sendiri tak dapat berbuat apa-apa, maksudnya ia masih payah untuk hal seperti ini, ini adalah kali pertama baginya, jadi ia bergerak ketika Jungkook bergerak. Menyesap ketika Jungkook mendahului, lalu memeluk leher Jungkook ketika pemuda itu memiringkan kepala mencari posisi yang lebih lagi.
Manis, manis, manis. Jungkook rasanya manis sekali. Ada rasa cokelat yang tersisa, ia ingat Jungkook tadi mengunyah sepotong cokelat batang sebelum mencairkannya. Wajahnya terasa makin terbakar, apalagi saat Jungkook mengusap punggungnya dengan posesif, atau menyentuh rambut Taehyung dengah hati-hati, lalu menekan tengkuk Taehyung untuk semakin dekat padanya.
Taehyung tidak tahu, Jungkook pun juga begitu, sejak kapan kedekatan mereka jadi seerat ini, sedekat ini, seintim ini. Pasalnya kemarin terasa begitu sulit untuk menaklukkan hati Taehyung terutama, rasanya seperti baru kemarin mereka saling menyalahkan satu sama lain. Tapi, sentuhan Jungkook yang semakin dalam dan menyentuh relung hati Taehyung yang sempat mati berhasil buat Taehyung merasakan hidup selayaknya lagi.
Jungkook sudah mengubah dunia Taehyung.
Jungkook sudah membawa perubahan yang lebih baik padanya.
Jungkook adalah cat yang beri banyak warna bagi Taehyung, yang tunjukkan mana warna hitam, mana warna putih, mana gelapnya dunia, dan mana menyenangkannya kehidupan. Memang awalnya terasa sangat sulit, untuk melewati garis zona nyamannya sendiri, Taehyung bahkan harus disadarkan berkali-kali, harus disandung dengan kerikil juga batu di tiap langkah kaki. Jungkook tetap ada di sana, di sini, dan di mana-mana, di saat Taehyung butuh sosoknya, butuh rangkulnya, butuh uluran tangannya sehingga ia bisa bangkit lagi dan berusaha lagi untuk membuka hati pada siapa pun itu.
“Terima kasih.”
Jungkook tersenyum lebar setelah ciuman keduanya terlepas, sesekali ia mengecup pucuk bibir Taehyung yang basah dan lembab. Pernyataan terima kasih Taehyung yang berkali-kali terlontar buat Jungkook gemas sendiri. “Untuk apa berterima kasih?”
Taehyung tatap Jungkook dengan penuh damba, di dalam sana, di dalam dadanya, rasanya berdebar luar biasa. “Karena sudah bantu aku untuk lepas dari rasa takutku sendiri,” katanya dengan manis, senyumnya juga terpancing ketika Jungkook berkedip halus. “Terima kasih, Jungkook.”
Jungkook maju lagi, mengecup seutuh wajahnya, di mana-mana, berkali-kali sampai Taehyung terkekeh sendiri karena geli. “Gemas, gemas, gemas!”
Taehyung lalu mencubit Jungkook dengan sedikit lebih keras agar Jungkook berhenti. Jungkook mengaduh, namun kemudian Taehyung usap pipi itu dan berkata maaf dengan lucu.
“Sakit, tahu!” Jungkook mencebik, wajah dibuat-buat seperti anak kecil yang marah karena dicubit temannya sendiri. “Inginku balas tapi mana tega aku bikin pipimu melar.”
Taehyung tertawa, Jungkook yang begini buat dia rasakan sepeti jatuh cinta. “Hm, coba saja kalau berani.”
Namun Jungkook nyengir lebar, kepalanya menggeleng-geleng berlebihan, matanya menyipit saat kekehnya terdengar kekanakan. “Tidak berani, tidak tega.”
Cukup, Taehyung sudah tidak tahan lagi. Ia lantas peluk Jungkook sampai pemuda itu terdorong dan punggungnya jatuh ke rumput, sengaja memalingkan kepala si Jeon sebelum memberinya kecupan singkat di sana.
Jungkook membelalak, terkejut dengan apa yang ia dapat. Tapi kemudian ia tersenyum, karena ia rasakan gemetar tangan Taehyung yang sepertinya grogi dengan tindakannya sendiri. Lantas ia genggam tangan kurus itu, kemudian ia kecup dengan sayang sembari berkata.
“Terima kasih sudah berjuang, Taehyung,” katanya lalu peluk Taehyung semakin erat. “Rumahku.”
END.
