Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 6 of Homo Homini Lupus
Stats:
Published:
2014-02-02
Completed:
2014-02-02
Words:
9,980
Chapters:
4/4
Comments:
2
Kudos:
8
Hits:
1,445

Geraman

Summary:

Li Yin, wanita cantik, lemah lembut, dan bersuara emas. Siapa yang tak mencintainya? Akan tetapi, sang bidadari akan berubah mengerikan dalam kondisi tertentu. "Jika kau tidak pergi darinya, tempat ini akan penuh darah."

Notes:

Han Geng dan semua karakter dari SM Entertainment bukan milik saya, tetapi milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Plot sepenuhnya milik saya dan saya tidak menarik kepentingan komersial apapun dari penulisan FF ini.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text


Selain melolong, salah satu cara serigala untuk berkomunikasi adalah menggeram. Geraman biasanya disertai dengan perubahan ekspresi serigala menjadi lebih mengancam. Serigala sering menggeram saat berburu untuk mengintimidasi mangsa. Tujuan lain dari menggeram adalah untuk menunjukkan dominansi pada serigala asing yang mengancam klan, sehingga klan bisa tetap terlindungi.


Li Yin seorang wanita berambut hitam ikal yang cantik. Dia selalu tampak kalem dan pandai membawa diri. Sebagai seorang penyanyi, ia mengukir prestasi dengan suara merdunya, bukan dengan tingkah sembarangan yang menghebohkan. Dengan keindahan diri dan kepribadian yang demikian, Li Yin menjadi pusat perhatian para lelaki di Cina.

Han Geng seorang pria tinggi yang tampan. Pembawaannya tenang nan ramah, mampu meluluhkan hati semua wanita yang melihat. Di dunia akting, dia adalah raja; tak banyak aktor yang bisa mengalahkan kemampuannya dalam seni peran. Para produser film memperebutkannya untuk bermain dalam film mereka. Semakin banyak ia tampil di layar lebar, menyajikan film-film berkualitas, makin banyak juga penggemarnya, terutama dari kaum wanita.

Suatu ketika, Li Yin dan Han Geng bertemu, lalu dunia mereka menjadi berbeda. Menjadi lebih indah, itu jelas, karena mereka saling jatuh cinta. Akan tetapi, ada satu hal lagi yang lebih banyak muncul setelah mereka menikah.

Geraman.

***

Suatu ketika, baik Han Geng maupun Li Yin sama-sama libur. Semua film telah rampung, semua jadwal manggung pun telah selesai. Li Yin, yang saat itu sedang hamil anak pertama, mulai merasakan mualnya kembali setelah duduk manis beberapa saat tanpa melakukan apa-apa. Ia bangkit dan melepas earphone yang ia gunakan untuk mendengarkan musik klasik, memutuskan untuk ‘bekerja’. Han Geng, yang sedang menamatkan surat kabar paginya, mengalihkan pandang pada betinanya. “Li Yin, mual lagi?”

“Sedikit. Mungkin, kalau aku melakukan sesuatu, tak akan terasa lagi,” ucap Li Yin sambil merenggangkan badannya yang agak kaku, “Gege mau kubuatkan sesuatu?”

“Aku belum mau makan apa-apa lagi setelah menghabiskan dua porsi sarapan buatanmu,” Han Geng tertawa, “Terserah kau saja, deh. Kalau memasak membuatmu tidak mual, lakukan saja, tetapi jangan berdiri terlalu lama. Nanti kau lelah.”

“Jangan khawatir, Ge,” ucap Li Yin, senang karena suaminya—atau jantannya, dalam bahasa kaum manusia serigala—masih cukup perhatian, “Kalau kau masih kenyang, kubuatkan kopi saja, ya?”

“Boleh juga,” Han Geng melipat korannya, lalu melangkah ke dapur, “Kau sendiri ingin minum apa? Mau kubuatkan susu?”

“Tidak usah. Bisa kubuat sendiri,” Li Yin mendorong Han Geng keluar dapur, “Aku sedang ingin bekerja, jadi jangan ikut-ikutan. Kau ke ruang musik saja. Nanti minumannya kuantar ke sana.”

“Untuk apa aku ke ruang musik?”

“Main musik untukku, kek. Kau sudah jarang main piano dan aku kangen permainanmu,” Li Yin menepuk perlahan perutnya yang sudah mulai membesar, “Dia juga kangen, nih. Sana, cepat mainkan piano usang itu.”

“Biarpun piano usang, kau masih tetap merindukan bunyinya, ‘kan? Dasar kau.” Han Geng mengecup puncak kepala istrinya, membuat sekujur tubuh Li Yin memanas. Pria tampan ini masih ‘berbahaya’, ternyata. Li Yin pikir, reseptornya tidak peka jika sedang hamil, tetapi nyatanya sama saja dengan sebelum hamil. Lebih peka, malah. “Gege, apa yang kau lakukan, sih?”

“Mencium betinaku. Tidak boleh? Kau kelihatan lebih manis kalau sedang hamil.”

“Aish, sudah sana!” Li Yin mendorong Han Geng keluar dapur sekali lagi, menutupi malunya. Han Geng tergelak. Dia paham pentingnya ‘penandaan’ pada betinanya. Kecupan-kecupan kecil yang manis seperti tadi akan melumpuhkan Li Yin dan dominansinya terhadap Li Yin akan bertambah kuat. Tak akan ada satupun pria yang bisa merebut Li Yin dari Han Geng jika sudah begitu.

Setelah Han Geng berlalu ke ruang musik, Li Yin mulai bekerja. Kopinya sih masih ada. Sayang, susu khusus kehamilan yang ia beli sudah habis, padahal susu itu sangat ampuh untuk menghilangkan mual. “Garam dan merica juga sudah habis. Harus belanja, nih.” gumam Li Yin. Ia cepat-cepat menyeduh kopi untuk Han Geng, lalu masuk ke ruang musik.

Ge, aku harus pergi belanja.”

Han Geng meletakkan secangkir minuman hitam pekat yang baru ia hirup sedikit. “Apa yang harus kau beli?”

“Susu, garam, meri—“

“Buat daftarnya. Biar aku yang beli.” potong Han Geng. Li Yin, yang sedang mengingat apa saja keperluan rumah tangga yang stoknya sudah habis, kaget mendengarnya. “Kok begitu?”

“Kalau kau kebanyakan jalan, dia dalam bahaya,” Han Geng menunjuk perut Li Yin, “Dia sudah tambah besar dan rawan.”

Li Yin mengamati perutnya. Masih enam bulan kehamilan, hampir tujuh. Kalau dibandingkan perut ibu hamil yang sudah sembilan bulan, ‘kan masih lebih kecil. Han-gege terlalu khawatir, pikirnya.

“Aku sudah biasa belanja sendirian selama Gege shooting, jadi tidak apa-apa. Gege di sini saja.” Li Yin meyakinkan, tetapi Han Geng menggeleng mantap. “Ada dua pilihan: aku yang belanja atau belanja bersamaku.”

Li Yin menghembuskan napas panjang, tetapi kemudian mengembangkan senyumnya. “Baiklah.... kalau begitu, belanja bersamaku?”

Cahaya bermain-main di wajah Han Geng. Binar mata kekanakannya juga kembali. “Aku akan siap-siap! Tunggulah di ruang tamu!”

Han Geng baru akan berjalan ke kamar, tetapi Li Yin menahannya. Si lelaki menoleh. “Ada apa?”

Tiba-tiba, Li Yin mendaratkan kecupan singkat di pipi Han Geng. “Aku cuma ingin ‘menandaimu’. Nanti ‘kan kita keluar; akan ada banyak wanita yang melihatmu. Para wanita itu harus tahu bahwa kau milikku.”

“Kau melakukan itu untuk membalasku saja, ‘kan? Gara-gara ‘insiden’ di dapur tadi?” tanya Han Geng sambil tersenyum jahil. Li Yin jadi malu karena ketahuan. “Itu ‘kan alasan sampingan.”

Iris mata Han Geng memerah, berkilatan. “Aku akan memberi pelajaran pada bibir lembutmu itu sepulang kita belanja.”

***

Han Geng dan Li Yin pergi belanja dengan berjalan kaki, jadi mereka juga pulang dengan jalan kaki. Lengan Han Geng terus melingkari pinggang betinanya. Sesekali ia bertanya, “Kau tidak apa-apa?” yang dijawab dengan sabar oleh Li Yin, “Iya, Han-ge. Aku masih kuat.”

“Benar, ya? Aku tidak bisa merasakan nyeri perutmu atau lelah kakimu. Kalau kau butuh bantuan, langsung bilang.”

“Iya, iya. Daripada itu....” Li Yin memandang sekeliling, “...mengapa mereka terus memandangi kita? Padahal aku sudah berusaha tampak senormal mungkin.”

‘Senormal mungkin’ yang dimaksud Li Yin adalah tidak tampak seperti artis.

“Abaikan saja. Mereka hanya iri pada kedekatan kita.” jawab Han Geng santai sambil menarik Li Yin dalam rengkuhan lengannya. Li Yin kembali gugup karena aksi ‘berbahaya’ pria ini. Han-gege benar-benar provokator yang ulung, batinnya.

“Permisi... apakah Anda Li Yin?”

Suara anak kecil di belakang membuat Han Geng dan Li Yin menoleh. Anak laki-laki yang memanggil itu berkulit putih, berpipi tembam, bermata sempit, dan mungil. Manis sekali. Li Yin tak tahan untuk membungkuk dan mengusap pipi anak itu. “Benar, aku Li Yin. Siapa namamu?”

“Ba Yuen.” Anak itu menjawab dengan suara khas anak-anaknya. Malu-malu, dia menyodorkan selembar kertas dan sebatang pulpen. “Bolehkah aku minta tanda tanganmu?”

“Tentu saja.” Li Yin segera membubuhkan tanda tangannya di atas kertas. Anak itu tampak senang. “Terima kasih...”

“Kembali.”

Anak itu tak segera pergi. Ia memandang perut Li Yin yang membesar. Disentuhnya perut Li Yin. “Adik bayi?”

Han Geng dan Li Yin tertawa kecil mendengar komentar si anak. “Iya, benar. Kau pernah punya adik bayi juga?” tanya Han Geng.

Si anak mengangguk. “Perut Mamaku besar.” Ia menggambarkan ukuran perut ibunya dengan membuat bola imajiner di depan perutnya. Aih, betapa polos. Li Yin dan Han Geng semakin senang bicara dengan anak ini, membayangkan anak mereka kelak akan seperti anak ini juga, mungkin lebih lucu. Sayang, belum sempat bicara lebih lanjut, anak itu sudah ditarik ibunya karena si ibu malu. “Maaf... Maaf mengganggu perjalanan kalian berdua. Maafkan anak saya...” ucap wanita yang kelihatannya hanya beberapa bulan lebih tua dari Li Yin itu.

“Tak perlu minta maaf. Ba Yuen lucu sekali. Kami berharap anak kami nanti bisa selucu dia.” kata Li Yin saat menggerak-gerakkan telapak tangannya, membentuk gestur jangan-terlalu-dipikirkan. Han Geng mendukung pernyataan itu. “Doakan anak kami bisa semanis anak Anda kalau sudah lahir.”

Sang ibu rupanya senang anaknya dipuji. “Pasti. Terima kasih sudah memberikan anak saya tanda tangan. Ba Yuen adalah fans berat Anda.” katanya sambil membungkukkan badan. Li Yin dan Han Geng membalas dengan sama hormat. “Terima kasih kembali. Sekali lagi mohon doanya untuk keselamatan kelahiran anak pertama kami.”

Tak disangka, kejadian ini memicu banyak orang untuk mendatangi Han Geng dan Li Yin. Han Geng agak kewalahan juga melindungi Li Yin dalam kerumunan ini. Memang susah menjalani kehidupan sebagai manusia biasa kalau mereka dikenal sebagai artis. Biarpun begitu, sedikit demi sedikit,  jumlah kepala di kerumunan itu mulai berkurang setelah satu persatu mereka mendapat tanda tangan dari idola mereka. Pasangan suami-istri itu lega karena mereka tidak harus berdiri lebih lama dari satu jam untuk menunggu kerumunan itu bubar.

Gege,” bisik Li Yin, sedikit merintih, “kakiku mulai lelah...”

“Nah, ‘kan? Makanya, kau di rumah saja tadi,” ucap Han Geng, khawatir, “Sebentar lagi kita pergi. Aku akan membantumu.”

Namun, Han Geng dan Li Yin tak semudah itu pergi.

“Nona Li Yin, kaki Anda lelah? Mari, saya bantu!”

Setiap artis memiliki fans yang agak gila sampai yang gila sekali. Li Yin termasuk salah satu yang memiliki fans gila sekali. Si penggemar dengan kurang ajarnya melingkarkan lengannya di pinggul dan kaki Li Yin. Sang penyanyi kaget berat, tetapi tidak sempat menghindar. Refleks kakinya (yang dalam keadaan biasa akan menghancurkan muka fans kurang ajar) kurang bagus karena sedang bengkak. Li Yin hampir terangkat dari permukaan tanah.

“Grrrr...”

Li Yin terkesiap.

Suara ini....

Tiba-tiba saja, Han Geng mengambil alih Li Yin dari rengkuhan si penggemar. Dipeluknya Li Yin dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memuntir kedua lengan pria itu. Iris merah Han Geng berkilat sejenak, tetapi tak ada yang dapat melihatnya selain Li Yin dan pria tak tahu sopan-santun itu. Li Yin bisa merasakan napas Han Geng yang tak teratur, biarpun pria itu sedang tersenyum.

“Jangan sentuh dia lagi atau tanganmu retak,” kata Han Geng, hampir tak terdengar, “Li Yin milikku, Tuan yang Baik.”

Pria itu sangat ketakutan. Ia merasakan dominansi Han Geng atas Li Yin yang meluap-luap. Karena itu, saat Han Geng melepaskan tangan si ‘pengancam’, orang itu langsung lari terbirit-birit.

Li Yin masih terkesima akibat kejadian barusan. Dia tak pernah melihat Han Geng begitu ‘tersinggung’. Akan tetapi, belum sempat Li Yin berpikir lebih jauh, Han Geng sudah membopongnya dengan hati-hati. “Maaf membiarkanmu disentuh oleh orang itu.” bisik Han Geng pada Li Yin, menyesal. Li Yin tersenyum maklum. Dikalungkannya sebelah lengan pada leher Han Geng yang kokoh. “Jangan dipikirkan. Ayo, kita pulang.”

Bagaikan robot yang aktif melalui kalimat perintah, Han Geng melesat membawa Li Yin pulang setelah Li Yin meminta. Baik orang biasa maupun kamera paparazzi iseng tak bisa menangkap pergerakan Han Geng yang sangat cepat.

Sesampainya di rumah, Li Yin mengungkapkan pikirannya dengan lebih detil. “Gege, apa tidak apa-apa kau bersikap seperti tadi di depan orang-orang? Imagemu bisa berubah di hadapan media dan fans, ‘kan?”

“Siapa peduli?” Han Geng meletakkan kantung belanjaannya di atas meja dapur, “Pria-pria di luar sana siap untuk memangsamu seperti tadi. Mereka akan makin sulit kau halau sendiri. Tentu saja, aku sebagai jantanmu harus campur tangan.”

“Bahkan walaupun campur tangan itu seseram barusan?”

“Tak salah, ‘kan? Ini masalah serius. Kau terlalu cantik, sehingga diinginkan semua pria,” Han Geng mengurung Li Yin dengan dua tangannya, “Sayangnya, kau sudah jadi betinaku. Kalau mereka ingin merebutmu, mereka harus menjatuhkan aku dulu.”

Li Yin mengerjap beberapa kali. Han Geng sangat serius masalah hak milik ini.

“Jadi, kau akan melukai setiap lelaki yang mendekatiku?”

“Tidak semuanya. Hanya lelaki yang akan ‘mengotorimu’ saja. Satu lagi, kau boleh juga melakukan hal seperti tadi jika aku didekati wanita yang ‘kotor’.”

Mata Li Yin melebar. “Benarkah?”

Han Geng mengangguk. “Aku tidak bisa terus dihantui rasa berdosa karena bersama wanita lain saat kau tidak ada,” –shooting, maksudnya—, “Jadi, kalau kau merasa terganggu saat aku bersama wanita lain, beri saja mereka pelajaran.”

Li Yin tersenyum. Hari ini, ia paham betapa Han Geng menyayanginya. Serigala akan menjaga pasangannya sampai akhir, maka wajib untuk mengusir pihak lain yang tidak diinginkan dalam hubungan mereka. Sesudahnya, mereka tak akan sempat melirik yang lain dan akan dimabukkan oleh satu sama lain.

“Baiklah. Demi klan kita yang terlindung, akan kulakukan.”

***

“Aaah, Baba sudah harus shooting lagi besok pagi,” Han Geng bermonolog—maksudnya sih bicara dengan bayinya, tetapi bayinya ‘kan tidak bisa membalas, “Kamu jangan merindukan Baba dulu, ya. Baba akan pulang cepat, kok. Janji!” Han Geng menautkan kelingking besarnya pada kelingking mungil anaknya. Kegelian, bayi lelaki yang manis itu tertawa. Hati Han Geng meleleh melihat putranya yang begitu mirip dengannya itu. “Ish, Lu Han, cepat besar supaya Baba bisa mengajarimu berakting, lalu kita main film bersama! Dengan begitu, Baba tidak akan berpisah denganmu!”

Li Yin tergelak mendengar ungkapan keputusasaan si ayah baru. “Kau ini... Sabar sedikit. Tunggu 17 tahun lagi, baru kau bisa mengajari Lu Han berakting.”

Han Geng menggelitik perut Lu Han, anaknya itu, supaya mau tertawa lagi. “Aku tidak bisa menunggu selama itu...”

Li Yin hanya bisa menggeleng-geleng bingung. “Terus kau mau apa? Dia ‘kan masih belum bisa belajar banyak. Lagipula, melihat gerakan kakinya yang aktif, kurasa dia akan jadi atlet lari atau pemain sepak bola daripada jadi aktor.”

“Ada benarnya juga, sih. Aku tidak ingin memaksanya menjadi aktor kalau memang bukan itu keinginannya. Wah, dia tertawa lagi! Sini kau, makhluk kecil!” Han Geng mengangkat tubuh anaknya, lalu menggelitik perut si anak menggunakan hidung. Lu Han tergelak, makin bersemangat.

Gege, Lu Han sudah capek,” Li Yin mengambil alih Lu Han dari Han Geng, “Dia harus tidur. Kau juga harus tidur.”

Memang setelah tawanya mereda, Lu Han menguap.

Han Geng mengecup sayang dahi si sulung. “Baik, Jagoan. Karena besok Baba berangkat sangat pagi, Baba pamit sekarang, ya. Selamat malam, tidur yang nyenyak.”

Di penglihatan Li Yin, Han Geng menjadi semakin tampan. Entahlah, mungkin karena ia bertindak sebagai ayah yang baik? Apapun alasan Han Geng menjadi lebih tampan, Li Yin tak akan melepaskannya. Pria tampan itu hanya miliknya seorang, biarpun fans dan aktris lain mengklaim pria itu sebagai milik mereka.

***

“Eh? Adegan ini—lagi? Berapa kali aku harus melakukannya dengan Zhu Yan?”

Dahi Han Geng berkerut ketika menemukan scene yang tak begitu disukainya di script. Apa lagi kalau bukan adegan ciuman?

“Di situ sudah tertera, ‘kan? Ada masalah?” Sang sutradara menanggapi dengan acuhnya.

“Maaf, tetapi aku tak bisa melakukan ini lagi,” Han Geng meletakkan scriptnya di depan sutradara, “Aku sudah menikah. Ada seseorang yang akan marah kalau aku melakukan itu sering-sering.”

“Mengapa kau sangat cemas? Li Yin harus tahu resiko menikah dengan aktor sepertimu,” sang sutradara menggulung script dan mengarahkannya ke wajah Han Geng, “Lakukan aktingmu dengan serius kalau kau tidak ingin mencederai karirmu.”

Han Geng merebut scriptnya kembali. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apa-apa, tetapi iris matanya sempat memerah. Ia membaca scriptnya lagi tanpa minat. Ini buruk. Di pikirannya, hanya ada Li Yin, Li Yin, dan Li Yin.

Maaf.

“Sutradara memang seperti itu,” aktris cantik lawan main Han Geng, Zhu Yan, mendekati Han Geng, “Mohon maafkan dia. Tanpanya, film tidak akan berjalan, ‘kan?”

“Tanpa kita, film tidak akan berjalan,” Han Geng membalik halaman scriptnya, terus berkonsentrasi pada serentetan kalimat yang harus ia hapal, “Dia tidak bisa terus bertindak semena-mena. Kita sudah cukup dewasa untuk menghentikan progres pembuatan film ini.”

“Jangan seperti itu. Adegan ‘itu’ tak akan lama. Aku akan mengendalikan diriku supaya tidak terhanyut di dalamnya.” Zhu Yan tertawa, tetapi bagi Han Geng, itu bukan sesuatu yang lucu. “Baguslah kalau kau paham mengendalikan diri. Kuharap Li Yin tidak akan membuangku atau merobek mulutku setelahnya.”

Sedikit banyak, hal ini menyinggung Zhu Yan. “Gege kelihatannya sangat menyukai Li Yin-jie, ya?”

“Begitulah. Dia sudah mengorbankan karirnya untuk bersamaku, jadi apa pantas aku berkhianat di lokasi shooting? Lagipula, hanya bibirnya yang benar-benar nikmat untuk kucium.”

Zhu Yan memandang Han Geng dengan rasa tak suka. Pria tampan itu takut pada sang istri? Padahal Zhu Yan sudah cukup mempersiapkan diri untuk hari ini, khusus untuk Han Geng, tetapi Han Geng menganggapnya tak lebih dari sampah—itu kesan yang Zhu Yan tangkap.

Kita lihat apakah pesonaku benar-benar tak bisa menjatuhkanmu.

***

Take.

Han Geng menahan kedua tangan Zhu Yan agar tetap melekat pada dinding. “Kau tidak bisa mengingkarinya. Kau telah tunduk padaku.” Ini adalah dialog yang dibawakan Han Geng, walaupun setengah mati Han Geng menolaknya dalam hati.

“Tidak semudah itu. Kau pikir aku perempuan macam apa yang mudah dijatuhkan?”

Han Geng tersenyum miring. “Kau menantangku?”

“Kalau bukan, lalu apa?”

“Pikirkan lagi kata-katamu.”

Wajah Han Geng mendekat pada Zhu Yan.

Sial.

Han Geng berbisik pada Zhu Yan saat bibir mereka hampir bertemu,“Akan ada hal tak menyenangkan bagimu jika kau menciumku.”

Zhu Yan membalas tanpa ragu, “Aku tidak takut.”

Han Geng sudah cukup menahan diri untuk tidak mencium Zhu Yan, tetapi Zhu Yan-lah yang ganas. Wanita itu termakan amarah karena merasa kalah saing dengan Li Yin. Ia maju, samar, seolah-olah memang Han Geng yang mendekatinya. Kemudian, ia mencium Han Geng cukup lama dan dalam.

Han Geng terkesiap. Tidak seharusnya begini. Han Geng tak bisa mundur karena sutradara mungkin akan melakukan take ulang kalau adegan ini tidak memuaskan. Akan ada pengulangan adegan tak menyenangkan ini. Han Geng terjebak dalam situasi sulit...

...yang menjadi semakin sulit ketika ia merasakan aura Li Yin dan Lu Han di lokasi shooting.

Lu Han kecil, yang berada dalam timangan Li Yin, hendak menoleh ke arah ayahnya, tetapi Li Yin memalingkan wajah Lu Han dari arah yang seharusnya. Mata Li Yin memicing penuh horor. Iris matanya memerah.

Wanita itu!

Mata Lu Han teralih ke kalung dengan liontin mawar yang dipakai ibunya dan jadi sibuk memainkannya, lupa pada keinginannya menoleh. Telinga kecilnya bisa mendengar suara geraman aneh, tetapi karena tak mengerti dari mana dan apa arti geraman itu, Lu Han kecil tetap tenang. Malah suara sutradara yang mengagetkannya.

Cut! Kerja bagus, Han Geng, Zhu Yan! Episode ini selesai!”

Para kru bertepuk tangan lega. Kerja keras mereka akhirnya mencapai ujung. Hanya Han Geng yang kelihatan tak senang. Ia berjalan cepat menghampiri Li Yin setelah shooting dinyatakan selesai. “Li Yin, kau ke sini? Ah, harusnya kau tak melihatnya...” sesal Han Geng. Li Yin menggeleng pelan. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Lu Han yang menangis karena kaget. “Tak apa, Ge, tak masalah...”

Tangisan Lu Han membuat perhatian seluruh kru teralih. “Oh, Li Yin? Datang menjemput suamimu? Tumben sekali!” sapa salah seorang kru. Li Yin membungkukkan tubuhnya hormat. “Selamat siang. Maaf mengganggu. Aku sedang kangen pada Han-ge, jadi aku datang.”

“Eh, jangan minta maaf. Malah romantis, ‘kan? Sedang bekerja, lalu dijemput istri tercinta,” celetuk seorang kru perempuan, “Jiejie bawa bekal, ya? Wah!!”

Li Yin meleletkan lidahnya malu. “Iya. Masaknya sedikit asal karena terburu-buru, tetapi masih enak, kok.”

Selagi Li Yin berkomunikasi dengan kru lain, Han Geng hanya diam. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Ada tanda merah yang tipis di kulitnya , goresan lipstik Zhu Yan.

Ck!

Han Geng menarik Li Yin padanya. “Maafkan aku!”

Li Yin tersenyum tulus dan sekali lagi menggeleng. Baru ia akan mengatakan sesuatu, Zhu Yan datang dan ikut meminta maaf. “Jiejie, aku tidak tahu kalau kau berniat datang! Aku sungguh minta maaf, tetapi karena adegan tadi ada di script... aku...”

“Zhu Yan, bukan?” Li Yin menyapa sang aktris dengan ramah, “Santai saja. Ciuman yang ‘ditentukan’ script dan ciuman sungguhan tentu berbeda rasanya.”

Kalimat Li Yin barusan terdengar seperti kalimat memaafkan. Ekspresi bersalah Zhu Yan langsung berubah 180 derajat. “Nah, lihat, ‘kan, Ge? Kau tak perlu khawatir. Sungguh beruntung Han Geng-ge memiliki istri yang pengertian.”

Dahi Han Geng sedikit berkerut ketika istrinya tersenyum tanpa beban pada wanita asing yang telah menciumnya.

Baru setelah Han Geng dan Li Yin dalam perjalanan pulang, sesuatu terungkap.

“Kasihan Lu Han. Dia pasti sangat lelah dibawa berkeliling lokasi shooting.” Han Geng mengusap-usap kepala anaknya yang tertidur lelap di pelukan Li Yin. Jalur yang mereka ambil memang padat—kemacetan tak terhindarkan. Beruntung, itu bisa memberi Han Geng waktu untuk memberikan ‘salam selamat tidur’ pada Lu Han.

“Mau bagaimana lagi? Aku ingin mendampingi Gege lebih sering. Mengetahui kerja kerasmu di lokasi shooting membuatku lebih menghargai uang bulanan.” Li Yin tertawa kecil. Han Geng terkejut mendengar komentar ringan itu. “Kau tidak menganggapku sedang bersenang-senang di lokasi shoot—“

Han Geng tidak bisa menuntaskan kata-katanya. Li Yin sudah meletakkan ibu jarinya di depan bibir Han Geng, lalu menelusuri bibir bawah Han Geng perlahan seolah sedang membersihkannya. “Ciuman karena script dan ciuman karena ingin itu bisa dibedakan. Kau mencium Zhu Yan karena script, tetapi dia menciummu karena ingin. Aku jadi kasihan padamu, Ge.”

“Li Yin...”

“Rasa bibirnya pasti tidak senikmat milikku, ‘kan? Berani sekali dia memperlakukan Gege seperti ini. Aku akan benar-benar menciummu setiba kita di rumah untuk menghapus ciuman Zhu Yan.

Karena kau milikku.”

Li Yin menyeringai, lalu melanjutkan, “Aku akan selalu memaafkanmu untuk hal ini, Ge. Yang tidak kumaafkan adalah wanita yang menciummu.”

Han Geng terpaku. Senyumnya terkembang.

“Aku suka pemikiranmu. Zhu Yan akan belajar sesuatu darimu tentang menciumku.”

***

Beberapa hari berlalu dengan tenang hingga muncul berita mengenai Zhu Yan. Wanita itu absen dari shooting karena mengalami masalah dengan bibirnya. Dalam berita, disebutkan bahwa terdapat sayatan yang membujur dari pipi bawah hingga dagu Zhu Yan, melintasi bibir. Zhu Yan bilang ia lupa mengapa sayatan itu ada di wajahnya, tetapi hal ini membuat sutradara, yang awalnya mengacuhkan permasalahan adegan ciuman Han Geng dengan aktris lain, ketar-ketir. Script diubah dan ini sangat melegakan Han Geng.

 


Aku menggeram untuk menghalau serigala lain darimu.