Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2018-02-02
Completed:
2018-02-03
Words:
1,133
Chapters:
2/2
Comments:
7
Kudos:
18
Hits:
281

Bus Stop

Summary:

Kerap pulang malam menaiki bus membuat Jihoon hafal dengan para penumpang tetap dari bus dengan rute yang sama, salah satunya adalah pemuda itu.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Before

Chapter Text

Kerap pulang malam menaiki bus usai mengikuti bimbingan belajar selama setahun belakangan ternyata melatih kepekaanku terhadap lingkungan sekitar hingga aku hafal dengan sejumlah penumpang tetap dari bus dengan rute yang sama.

Lihat ibu-ibu berkacamata di sana itu? Yang duduk tepat di belakang sopir? Beliau adalah karyawati bank swasta, naik dari halte kedua setelah halte dekat tempat kursusku lalu turun terlebih dahulu sebelum aku.

Kalau lelaki paruh baya yang menempati bangku di pojok kiri belakang pasti sudah hadir ketika aku naik dan belum juga beranjak saat aku hendak turun, barangkali jarak perjalanan yang beliau tempuh memang jauh.

Nah, kalau pemuda yang barusan naik itu nantinya akan turun di halte yang sama denganku.

Dinilai dari penampilan luarnya, kelihatannya dia cuma lebih tua beberapa tahun dariku.

Mungkinkah laki-laki itu berprofesi sebagai seorang mahasiswa? Atau pekerja paruh waktu?

Entahlah, aku tak pernah punya cukup keberanian untuk bertanya pada dia. Aku pun tak tahu apakah pria tersebut tinggal di dekat halte tempat kami turun atau bukan.

Padahal menurutku dia cukup tampan dan gaya berpakaiannya pun modis.

Eh?

Astaga, aku ini kenapa sih?

Sedang lelahkah aku?

Ya, pasti gara-gara itu. Karena luar biasa mengantuk, otakku jadi melantur dan memikirkan yang aneh-aneh.

Untung saja malam ini aku kebagian tempat duduk di bus, jadi tak ada salahnya 'kan kalau aku tidur sebentar? Toh halte tujuanku masih lumayan jauh dari sini.


"Err... Halo? Hei, bangunlah."

Kelopak mataku yang semula terkatup perlahan membuka karena suara lembut barusan memasuki indra pendengaranku.

Awalnya reaksiku biasa-biasa saja ketika pundakku seperti diguncangkan oleh seseorang, apalagi aku masih sedikit mengantuk karena baru sebentar tertidur.

Namun alangkah terkejutnya aku begitu menyadari identitas dari orang yang bersangkutan, bahkan aku sampai terlonjak di atas bangku.

"KaㅡKaㅡKau...?!" gagapku tak percaya.

"Ayo, sudah waktunya kita turun."

Pemuda dengan halte tujuan yang sama seperti destinasikulah yang berbisik demikian, tangannya yang semula bertumpu di bahuku kini berpindah untuk menggenggam jari jemariku.

Astaga, astaga, astaga. Sebenarnya apa yang tengah terjadi di sini? Bermimpikah aku?

Selagi aku berkutat dalam kebingungan, dia mengajakku berdiri dan dengan sopan mempersilakan seorang lansia untuk menempati kursiku.

Dalam lindungan tubuhnya yang lebih besar, kami berdesakan melewati kerumunan penumpang bus yang berdiri. Dia bagaikan pengawal pribadi bertugas mengawal kliennya yang berharga.

Tak butuh waktu lama hingga kami mencapai pintu di tengah bus. Lewat sanalah kami berdua melangkah keluar, masih sambil berpegangan tangan.