Work Text:
Hibari melirik jam di tangannya. Sepuluh menit sebelum helikopter tim ekstraksi tiba. Hibari mendadak merasakan kehadiran flame lain di tempatnya menunggu. Wajah Hibari mengeras. Tak lama kemudian, ia merasakan badannya diputar tiba-tiba dari belakang.
"Perlihatkan wajahmu," ujar Mukuro sambil menangkup wajah Hibari yang masih menatapnya datar seperti biasa. Senyum kecil terukir di bibir Mukuro ketika mata kelabu Hibari menangkapnya. "Tak pernah berubah, ya."
Mukuro mencium Hibari.
Hibari diam. Mata kelabunya menatap wajah Mukuro dan mata terpejam di hadapannya. Di bibirnya, panas dan ludah bercampur aduk. Hibari meraih pergelangan tangan Mukuro, mencengkeram kuat—lebam biru akan ada di situ, ia pikir, tapi itu bukan urusannya—dan balas menyusupkan lidah dengan brutal.
Lidah Hibari dan Mukuro saling beradu dan berebut kendali beberapa saat sebelum akhirnya kedua bibir terpisah. Mukuro membuka mata, dan kelabu milik Hibari kembali terlihat di depannya—masih dengan tatapan yang sama, seolah-olah beberapa menit yang lalu tidak terjadi apapun di antara mereka.
Kedua tangan Mukuro masih teguh menangkup wajah pria yang lebih tua satu tahun darinya itu. Ada kesenangan tersendiri saat ia bisa menatap Hibari sedekat dan selama ini (karena, biasanya, belum sempat ia menatap, besi berduri sudah siap di depan lehernya, membuatnya harus mendongak dan tak sempat melihat pria itu, sang pemilik besi berduri).
"Aku masih akan membunuhmu setelah ini," Hibari berujar datar. Cengkeramannya pada pergelangan tangan Mukuro masih bertahan. Ia tidak berniat mengurangi intensitas ancaman yang tersalur dari ujung-ujung jarinya.
Seringai tipis muncul di bibir Mukuro. "Kupersilahkan dengan senang hati, Hibari Kyouya," balas Mukuro dengan nada seperti tak terancam, seperti ia memang menginginkan pria itu untuk terus mengejar dan membunuhnya.
Hibari melepas tangan Mukuro dengan kasar. Ia berjalan meninggalkan Mist Guardian Vongola yang masih berdiri di tempat. "Suatu hari, ilusimu tidak akan lagi dapat menolongmu," kata Hibari sebelum punggungnya menjauh dan tonfa kembali beristirahat di pinggangnya.
Mukuro masih berdiri dengan seringainya yang tak berubah. Sambil mengusap pergelangan tangannya, ekor mata Mukuro masih menatap Hibari hingga pria itu lenyap dari pandangannya. Tak lama berselang, sosok sang Mist Guardian Vongola menghilang, melebur menjadi kabut berwarna biru gelap yang perlahan menghilang tak berbekas, seperti ilusi yang lenyap begitu saja.
Setengah tahun tidak bertemu, lalu tiba-tiba Mukuro mencium Hibari. Tidak akan mengubah apa-apa. Hibari tetap akan membunuh Mukuro suatu hari nanti. Bukan urusan Hibari kalau Mukuro memiliki maksud lain di antara ciuman dan sentuhannya.
Mukuro memulai dansa tragis ini; Hibari hanya rekan yang dengan senang hati mengambil bagiannya di tengah kekacauan yang timbul dari tarian mereka.
