Chapter Text
Sudah tiga bulan terakhir ini Cinta melihat senyum tipis yang selalu mengembang di wajah kawan sekantor merangkap mantan kekasih semasa SMA-nya acap kali dia bertandang ke gedung galeri yang digunakan untuk menaungi para fotografer yang mengabdi paruh waktu mau pun penuh di perusahaannya. Pria ganteng yang rambutnya kini mulai menggondrong lagi itu juga kerap bersiul sambil bekerja di laptopnya, bahkan membelikan kopi bagi kawan-kawan jurnalis yang sedang berada di ruangan yang sama. Bagi orang lain, mereka boleh berpikir betapa murah hatinya si Rangga Sastrowardoyo yang karyanya menggetarkan negeri itu. Bagi Cinta, ini adalah pemandangan yang menyebalkan. Apalagi ketika dia sedang membalas pesan-pesan di ponselnya dengan senyuman bodoh seperti anak SMA. Pasti dia sedang mabuk asmara.
“Kamu baru punya pacar lagi, ya?” todongnya penuh selidik sambil menarik kursi kosong di sebrang meja yang diduduki Rangga.
“Hei, Cinta. Apa kabar?” ia mengulaskan senyum yang terlalu terang, bahkan bagi Cinta yang pernah menghabiskan beberapa tahun menjadi penerimanya.
“Siapa, Rang?”
“Siapa?”
“Pacar.”
“Oh,” senyumnya mengembang lagi, “Ada, anak TravelMagz. Salah satu columnist-nya.”
“Wah, pacar saya langganan majalah itu. Udah berapa lama jadian?”
“Tiga bulanan, lah…”
Tiga bulan masih senyam-senyum? Sadar dong, udah kepala tiga, bukan kelas tiga SMA, buset.
Namun, Cinta teringat betapa polosnya Rangga dalam bercinta. Waktu SMA, ia bisa maklum, karena anak SMA memang rata-rata bodoh dalam segala hal, toh mereka pun putus ketika lulus. Rupanya, kebodohan lelaki satu itu tidak berhenti di situ saja. Pacar atau sekedar FWB datang dan pergi dalam hidup fotografer kawakan itu, baik pria mau pun wanita. Lucunya, lelaki ini tidak terlalu pemilih dengan siapa dia berkencan. Ia mengencani perempuan yang haus tenar dan ingin jadi model, laki-laki mata duitan yang cuma peduli dengan ‘itunya’ yang (katanya) lebih dari sekedar berfungsi—mendadak muncul niatan untuk menjahili pria itu.
“Eh, kamu mau tau nggak cara supaya pacar kamu makin nempel sama kamu?”
Mendengar itu, pria berambut keriting itu mendongak dari laptopnya dengan mata yang bercahaya. Jujur, Cinta belum pernah melihat ekspresi seperti ini ketika mengorek Rangga soal pacar-pacarnya terdahulu. Ini adalah sesuatu yang baru.
“Gimana caranya?”
*
Malam itu Dilan pulang ke apartemen studionya dengan mengangkut satu kotak donat setengah lusin yang sisa di kantor, tentu saja kiriman Rangga Sastrowardoyo, si fotografer profesional yang kini merangkap sebagai pacar baru Dilan. Ya, sudah tiga bulan juga mereka berpacaran, jadi tidak terlalu baru juga, apa lagi bulan lalu Rangga menghilang lagi. Dia tahu, sih, pasti pria yang hanya lebih tua satu tahun di atasnya itu ada kewajiban entah di pelosok dunia yang mana. Pelosok tersebut juga pastinya tidak memiliki sinyal telepon atau pun koneksi internet. Aliran listrik setengah hari pun sudah harus bersyukur. Ya, memang bukan pengalaman pertama Dilan ditinggal pacar ke belahan dunia lain, tapi tetap saja dia sebal karena hal itu selalu membuatnya panik dan khawatir. Pasalnya, cowok itu tidak pernah pamit. Entah masih merasa single atau apa.
Tadi sore, cowok tidak peka itu datang ke kantornya seperti biasa, bermaksud menjemput sambil membawakan berlusin-lusin donat dari café favorit Dilan. Dia bahkan membawakan donat PB & J kesukaan kolumnis muda itu, berhasil melunakkan hatinya dengan sedikit makanan manis pasca pertengkaran mereka seputar menghilangnya Rangga bulan lalu. Dilan pun mengizinkan pria tampan itu menarik kursi untuk duduk di dekat meja kerjanya selama ia bekerja dan mengemil donat sambil mengobrol. Maklum saja, Dilan sedang dikejar tenggat. Dia dapat melihat betapa kecewanya Rangga tidak bisa membawanya makan malam, tapi lelaki itu menutupinya dengan senyum yang lembut dan candanya yang standar receh. Sekejam-kejamnya Dilan, tentu saja dia tidak tega dan mengantar pacarnya itu ke parkiran sebentar, bahkan mencuri cium supaya senyum Rangga terkembang lebih lebar.
“Besok jemput aku lagi, ya? Ga usah bawa makanan. Buang-buang duit.”
“Oke, yang, tapi ciumnya tambahin, dong? Biar tidur saya nyenyak.”
Dia mendapat pukulan kecil di lengannya, tapi juga satu lagi ciuman yang agak lama sampai kacamata Dilan miring. Sesudah itu, Dilan meninggalkan parkiran dengan pipi yang merah dan jantung yang bertalu-talu. Sejujurnya, dia sangat ingin sekali menghabiskan waktu lebih banyak dengan Rangga yang menyebalkan, tapi bikin sayang dan kangen itu. Ingin sekali ia lupakan pekerjaannya dan mencium lelaki itu lebih banyak, memeluknya lebih sering, tapi mereka berdua sama-sama punya tuntutan pekerjaan dengan tensi yang lumayan. Alasan yang lain lagi adalah dia masih saja merasa gengsi untuk mengungkapkan rindu dan sayang. Sulit memang punya trust issue. Tidak sedikit pria yang ia temui hanya iseng menaruh harap, merayunya habis demi seks, dan berbagai sifat ajaib lainnya.
Obrolan mengenai ‘hubungan yang lebih jauh’ atau ‘bukti cinta’ tai kucing itu tidak pernah muncul di antara dirinya dan Rangga, dan memang ia belum siap kalau saja topik itu naik. Hubungan mereka sudah memasuki bulan ke-empat dan tiap bertemu, mereka sibuk membicarakan di mana pun itu minat mereka bertemu dan kehidupan satu sama lain sambil sesekali pria berambut ikal itu melemparkan candaan garing dan rayuan jelek. Garing dan jelek, tapi tetap saja membuat Dilan nyengir. Sejauh ini, walau menyebalkan, Rangga sukses membuktikan bahwa ia jauh lebih baik dari mantan-mantan Dilan, terutama cowok dari masa kuliahnya yang meminta hubungan badan setelah sebulan jalan bareng. Percobaan pertama yang membuat kolumnis muda itu ragu mencoba lagi hingga berkepala tiga. Sulit baginya melupakan pengalaman buruk itu.
Setelah mandi dan ganti baju, Dilan segera bersantai di kasurnya membuka Netflix di laptopnya untuk teman makan malam: donat yang barusan. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.40, tapi dia masih ingin menyelesaikan satu episode dari seri yang sedang ditontonnya. Satu, saja. Ketika filmnya mulai, ia fokus menonton sambil menikmati donat favoritnya. Ketika tengah serius menonton sambil mengemut donat, ponselnya berbunyi tanda pesan WhatsApp. Ia cuek pada awalnya, tapi kemudian ponselnya berbunyi beberapa kali lagi. Ia pun meraihnya dan mengintip pesan-pesan itu.
Rangga: Yang.
Rangga: Sudah sampe rumah?
Rangga: Sudah makan malam?
Rangga: Sedang apa kamu?
Tidak akan pernah dia mengakuinya, tapi pesan WhatsApp dari Rangga selalu membuat hatinya terasa hangat dan pipinya merona. Dia bahkan sampai menekan tombol pause di layar laptopnya demi membalas pesan-pesan tersebut dengan fokus.
Dilan: Udah kok. Aku lagi nonton The Money Heist. Kamu lagi apa?
Dilan: Udah kasih makan Blanco?
Tentu saja Dilan akan merasa lebih nyaman menanyakan apa pacarnya itu sudah memberi makan ikan mas koki albino peliharaannya daripada situasi perut pacarnya sendiri.
Rangga: Oh, seru tuh. Tenang, enggak akan saya spoil.
Rangga: Blanco sudah makan banyak, dasar ikan rakus.
Rangga: Pacarmu enggak ditanya sudah makan apa belum?
Kolumnis berkacamata itu tertawa kecil.
Dilan: Ngapain? Udah gede ini. Kalo kelaperan ya salah sendiri ga makan.
Kadang pria berusia tiga puluh tahun itu juga sedikit khawatir kalau bahasanya yang pedas menyinggung Rangga, tapi lelaki itu tidak pernah sekali pun menunjukkan ketidaknyamanan atau pun ketidaksukaan terhadap gaya bicaranya yang jauh dari jujur itu. Malahan, ia banyak memanfaatkannya untuk menggombal dengan gaya yang jelek…tapi Dilan suka.
Rangga: Hehehe
Rangga: Sudah makan, kok, di warteg bawah, jadi pacarmu enggak kelaperan. J
Rangga: Btw, Dilan.
Rangga: Saya mau kirim sesuatu.
Rangga: Dilihat ya.
Otomatis Dilan segera menegakkan posturnya. Apa ini? Formal banget. Biasanya kalau mereka mau bertukar link atau foto, mereka langsung kirim saja, tidak pakai minta izin. Dia selalu bersemangat mengecek apa pun itu yang Rangga kirim karena dia suka berbagi artikel-artikel menarik yang luput dari pembacaannya, destinasi wisata yang belum terpikir olehnya, sampai dengan foto-fotonya sendiri yang ia dapat dari berbagai tempat di penjuru dunia. Jantungnya berdebar ketika sebuah foto masuk ke WhatsApp-nya, tapi gambarnya belum jelas dan perlu ia unduh dulu. Kemudian, sebuah pesan menyusul:
Rangga: Tell me what you think about it.
Tipikal permintaan Rangga kalau mengirimkan karyanya sendiri. Dia selalu ingin mendengar kritik dan saran, selalu ingin mencari apa yang bisa ia lakukan untuk menangkap satu frame dengan lebih baik. Memang pacarnya itu pekerja keras tulen dan Dilan menghargainya, tapi dari gambar buram yang belum ia unduh itu, dia benar-benar tidak bisa menebak foto apa itu. Matahari terbenam di sungai Kampar? Komposisinya kelihatan lebih sederhana daripada foto-foto alam yang biasa dibagi pacarnya. Atau mungkin foto makanan? Dia pun segera mengunduh fotonya dan membukanya, lalu mengamatinya. Sedetik. Dua detik…
Kemudian ia melempar ponselnya ke lantai sambil menjerit dan langsung mengatupkan kedua tangan di mulutnya. Wajahnya semerah tomat, tapi entah bagaimana ia kelihatan sedikit pucat juga sementara matanya terbelalak lebar dan napasnya terengah. Ia tampak sangat, sangat, sangat terpukul. Apa dia salah lihat?
Perlahan diambilnya lagi ponsel tersebut dari lantai dan ia buka kuncinya, sekali lagi meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia salah lihat karena Rangga bukan laki-laki kurang ajar. Dia bukan hidung belang, bukan pula laki-laki brengsek. Namun sayang, tetap saja foto yang terpampang tampak sama di matanya. Jelas itu adalah foto sebuah penis yang sedang ereksi, sangat besar dan berurat dan berwarna keunguan. Langsung saja dia kembali ke chatroom mereka, berharap ada penjelasan seperti “sorry, yang, saya salah kirim”, “yang, HP saya dibajak”, atau “gimana menurut kamu tentang terong raksasa yang saya liat di NZ”, tapi pesan yang ia temukan berbunyi:
Rangga: Gimana menurut kamu titit saya?
Langsung saja kolumnis itu naik pitam.
“‘Titit’? Barang itu gak pantes disebut ‘titit’!! Itu…itu…monster!!” geramnya sambil mengetik dan mengirim pesan balasan.
Dilan: Aku gak sangka ya kamu begini. im not talking to you anymore.
Dengan itu, dia langsung memblokir Rangga dan melempar ponselnya lagi ke lantai, lalu memindahkan sisa donat dan laptopnya ke lantai sebelum masuk ke dalam selimut. Ia marah. Sangat marah. Dari semua hal yang ia pikir dan harap tidak ada pada diri Rangga, rupanya laki-laki itu tetap saja orang mesum yang memikirkan seks 24/7. Dia kecewa sampai terasa sesak di dadanya dan sakit di tenggorokannya. Laki-laki memang tidak ada yang bisa dipercaya; otaknya benar-benar di selangkangan semua!
*
Ketika Cinta memasuki ruangan di mana Rangga biasa menikmati kopi dan sarapannya, langkahnya terhenti waktu melihat wajah pria itu. Jika tiga bulan ke belakang wajahnya selalu berseri dan ceria, kali ini wajahnya tampak gelap dan berkantung mata. Senyum tipis yang biasa ia temukan di wajah yang datar itu hilang digantikan dengan lengkungan terbalik di bibirnya, juga kerutan di antara alisnya. Ia sibuk memandangi ponselnya, tapi tidak juga mengetik apa-apa. Di depannya, laptop terbuka dan segelas kopi hitam mengepul, tidak ada tanda-tanda sandwich swalayan atau bubur ayam yang biasa. Dia juga kelihatan berantakan.
Perempuan berambut pendek itu mengigit lidahnya. Apa ini imbas dari perbuatannya kemarin? Ia pun mendekati Rangga dengan hati-hati. Ia hapal tabiat lelaki itu; sangat sulit menyulut emosinya, tapi sekalinya mood-nya buyar, maka dia menjadi manusia berbahaya.
“Hai, Rang…?” sapanya pelan.
“Saya enggak ngerti.” Gumamnya pelan, “Saya melakukan yang kamu bilang dengan baik. Hasil fotonya pun bagus. Saya sampe atur lighting dan komposisi juga biar enak dilihat. Setelah saya kirim dick pic, kok saya diblokir pacar? Apa saya masih payah di foto produk?”
Welp, Cinta ingin meledakkan tawanya karena Rangga benar-benar menurutinya, dengan lugu dan bodohnya! Siapa sangka seorang Rangga Sastrowardoyo menuruti saran Cinta untuk mengirimkan dick pic ke pacar barunya dengan dalih “untuk membuat pacar makin nempel”? Ini mungkin adalah lelucon yang terbaik tahun ini, tapi ia merasa agak prihatin juga dengan Rangga yang berantakan dan situasinya yang seperti ini. Dia memang bermaksud mengerjai Rangga dengan menimbulkan kesalahan kecil. Namanya orang pacaran, mengirim teks nakal adalah kewajaran, bukan?
“Err…hehe…kok diblokir, sih, lebay amat. Tiap hari liat ‘barang’ kamu, juga.” Canda perempuan itu pelan, tapi tatapan bingung fotografer itu meredupkan cengirannya.
“Dia belum pernah lihat.”
Hati Cinta mencelos.
“Yang bener aja, Rang??”
*
Hari itu, setiap teman kantornya menanyakan Rangga yang tidak mengirim makan siang, Dilan menjawab mereka dengan berbagai variasi dari “gak tau”, “gak peduli”, dan “udah mati kali”. Dari situ lah kawan-kawan sekantornya berkesimpulan bahwa, lagi-lagi, kedua sejoli itu tengah bertengkar. Lagi. Kedua lelaki dewasa itu tidak pernah mempublikasikan situasi hubungan mereka, tapi Dilan adalah tipe yang blak-blakan kalau sudah marah dan teman-temannya sudah maklum. Secara umum, temperamennya sangat baik, tapi ketika disenggol, Dilan adalah tipe orang yang akan membalas dengan bacokan. Jadi, ya, mereka memilih untuk tidak mengorek dan membiarkan kolumnis itu misuh-misuh seharian sambil bekerja.
Di sore hari, ketika akan pulang, Dilan menemukan wajah yang familiar di depan resepsionis dan ia langsung berjengit. Rangga sudah menunggunya di situ dengan manis, layaknya seorang tamu yang tahu sopan santun, padahal dia tidak seperti itu sama sekali. Dia adalah orang mesum yang suka mengirim foto alat kelaminnya sendiri demi kepuasan aneh entah apa, dasar orang sakit. Melihat Dilan, lelaki itu segera bangkit dari duduknya.
“Lan—“
“Pak satpam, ini kenapa orang mesum dikasih masuk? Usir yang jauh aja!”
Si pak satpam yang sudah mengenal baik Rangga dan bahkan bertukar nomor telepon dengannya (supaya Rangga gampang kalau mau GoFood makanan untuk Dilan) langsung kelihatan bingung dan memandangi mereka berdua, “Waduh, mas Dilan, kok gitu ngomongnya soal pacarnya?”
“Lan, saya—“
“Bukan pacar saya, pak! Orang kayak gini usir aja, saya jijik!”
“Lan, please dengerin saya dulu—“
“Iya, mas, dengerin pak Rangga dulu.” Si pak satpam ikut-ikutan.
Mau tidak mau, Dilan menghela napas dan menatap Rangga yang berdiri beberapa langkah di depannya. Hatinya sedikit ngilu melihat wajah Rangga yang gelap dan jelas kurang tidur, apalagi kantung matanya yang tebal dan wajahnya yang agak pucat. “Jangan dekati saya. Diam di situ, kita ngomong di sini.” Ujarnya dingin, berusaha mengingat kenapa situasinya jadi begini.
“Oke, Lan.” Rangga mengangguk, “Jadi, soal dick pic saya…”
“’Dik pik’ apaan, mas?” tiba-tiba pak satpam ikut nimbrung.
Dilan ingin masuk ke dalam sumur saja; ia lupa bahwa Rangga bukan orang dengan inhibisi yang wajar. Tentu saja dia tidak akan merasa malu membahas soal dirinya mengirimkan foto penisnya sendiri ke orang lain. Malahan, yang nanti malu adalah Dilan. Apa jadinya kalau pak satpam tahu hobi pacarnya yang menjijikkan itu?
“Ya udah, kita bicara di parkiran aja! Jangan dekat-dekat, jangan pegang. Paham?”
*
“Jadi…teman sekantor kamu bilang, ngirim dick pic bisa bikin pacar lebih nempel?” Tanya Dilan skeptis di parkiran, di salah satu sudut sepi yang menjadi area merokok. (Semua orang yang mau merokok langsung membatalkan niat begitu melihat wajah Dilan yang ditekuk.)
“Iya. Karena dia bilang gitu, jadi saya coba…maksud saya, apa salahnya? Saya juga mau kamu lebih deket lagi sama saya.” Jelas pria berambut ikal itu dengan suara yang lelah dan pasrah, tapi ia menuruti Dilan dengan berdiri minimal empat langkah jauhnya. “Saya pikir…itu hal yang wajar? You know, like one of those relationship secrets no one knows. Yang saya tahu, orang-orang melakukan itu untuk seks, tapi apa yang saya tahu? Saya bukan orang paling sukses dalam mempertahankan hubungan.”
“Kalo tau itu berkaitan sama seks, kenapa juga kamu kirim tanpa izin?”
“Saya kan udah minta izin, yang.” Dia mengusap mukanya lelah, Dilan bisa melihat betapa ia ingin dipeluk saat itu. “Salah saya juga nggak nunggu jawaban kamu…jadi saya minta maaf. Maafin saya, ya, yang?”
Kolumnis itu masih merasa skeptis, tapi ia merasa kasihan juga melihat pacarnya seperti itu. Konyol, sebenarnya, tapi ia masih merasa terpukul karena Rangga sampai hati mengirim sesuatu seperti itu dan, tidak lupa, penisnya benar sebesar itu? Pusing rasanya dia kalau mengingat ketebalan dan panjang benda yang menghantuinya semalam itu, rasanya tidak nyata. Bagaimana ada manusia bisa memiliki…sesuatu seperti itu menempel di tubuhnya? Oke, pikirannya sudah mulai melantur.
“Kalau kamu masih ragu,” Rangga menambahkan, “Saya bisa telepon Cinta supaya ngobrol sama kamu. Dia bilang dia juga minta maaf sudah jahil, saya juga udah marahin—“
“Intinya ini salah paham?” tanya Dilan, “Kamu…nggak bermaksud aneh-aneh ngirim foto itu ke aku, kan?”
“Sumpah demi apa pun yang ada di dunia, saya cuma ngikutin saran teman supaya makin disayang sama kamu.”
Lelaki yang setahun lebih muda itu menatapnya dengan tajam selama beberapa ketukan sebelum menghela napas dan mendekati pacarnya, “Lain kali saran dari temen tuh, jangan ditelen bulet-bulet, kayak bocah aja. Kalo mau kirim dick pic, pastiin yang kamu kirim memang mau dikirimin gituan. Kebayang enggak sih, kagetnya aku dapet gituan? Udah, sini, baikan.” Ujarnya sambil menyodorkan tangan, tapi Rangga mengulurkan kedua lengannya dengan wajah lega.
“Peluuuk.”
“Ih, manja banget.” Namun tetap saja Dilan memeluknya, akhirnya bernapas lega karena kesalahpahaman mereka terselesaikan, akhirnya. Dia juga merasa sangat lega pacarnya mengirimkan hal seperti itu tanpa ada intensi aneh-aneh atau pun alasan mesum lainnya. Minimal, ia bisa kembali meyakini bahwa pacarnya memang beda dari laki-laki lain. Kelewat beda, malah.
“Oke, sayang, sekarang saya mau nanya. Kapan saya boleh kirim dick pic lagi?”
Pertanyaan itu membuat pipi Dilan bersemu dan alisnya menekuk. Ia memukul lengan pacarnya dan memelototinya, “Nggak boleh!”
“Yah, saya masih ada banyak padahal. Susah payah kemarin saya foto, udah foto pake lampu kamar mandi, kurang bagus. Saya pakein lighting tambahan dan soft box juga, makanya tone-nya agak kuning gitu, kan? Kalo liat referensi di internet jelek-jelek banget, sih. Itu juga saya pake mirrorless saya yang Leica biar lebih tajem, terus saya retouch juga.”
Dilan menganga mendengar itu semua. “Gak salah denger? Kamu motret kenti doang pake segala setting lighting dan diedit juga?”
“Masa saya kasih kamu foto jelek, sih?” balas pacarnya yang bongsor itu.
“…Hah? Terus? Kamu…nggak coli, gitu?”
“Hmm…beres foto, langsung saya pindahin ke komputer terus saya sibuk retouch ini-itu, sekalian nyoba pake beauty preset yang dibagi temen saya yang fashion photographer. Seru juga, tapi rumit, terus udah aja saya edit-edit, dapet 12 foto, terus masukin HP, kirim deh ke kamu yang paling bagus.” Terangnya dengan lugu dan polos, “Masih ada 11 lagi, nih, yang. Kamu mau lihat, ngga? Mau saya hapus, soalnya. Takut datanya bocor ke mana-mana kalau HP saya kenapa-kenapa. Kan itu masih foto titit saya.”
Kolumnis majalah travel itu cengo dibuatnya. Dia tidak tahu harus tertawa atau menangis, tapi yang pasti, dia paham kenapa kawan sekantor Rangga bisa mengambil kesempatan untuk menjahilinya seperti itu. Fotografer yang ganteng walau bertampang galak ini sangat polos dan lugu soal pacaran, soal menjaga hubungan, bahkan mungkin terlalu terdistraksi untuk menyisakan waktu memikirkan soal selangkangan. Dia mungkin memiliki pengalaman di banyak sudut dunia, tapi komprehensinya mengenai percintaan dan banyak hal di luar pekerjaannya masih persis anak SD. Lugu, keras kepala, inginnya hanya menyenangkan orang yang disayangi saja.
“Kamu tuh yaaaaaa!!!!” tidak tahan, Dilan pun menangkup pipi pacarnya, mengejutkannya ketika ia mulai menyubiti dan meremas-meremas pipinya gemas. “Ganteng-ganteng bego. Pinter-pinter, naïf. Ngeselin, nyebelin, tapi ngangenin, hhhhhhhhh!”
“Eh—uff—Diyan—avaan—“ dia tidak dapat bicara jelas jika pipinya terus diadon seperti adonan roti seperti itu, tapi ia terima saja, yang penting pacarnya sudah tersenyum kembali. Ia menyentuh pergelangan tangan kekasihnya perlahan dan pipinya pun dibebaskan walau sekarang sedikit kemerahan, “Unblock saya, ya, yang? Jangan lupa.”
“Unblock gak yaaa.”
“Saya janji ga akan kirim-kirim yang kamu nggak mau lihat.”
“Hapus dulu semua dick pic kamu dari HP!”
“Yah, sayang dong usaha saya bikin setting yang bagus khusus dick pic.” Wajahnya kelihatan benar-benar kecewa, membuat Dilan makin gemas.
Mereka lanjut saja beradu mengenai nasib nahas yang menanti sisa-sisa dick pics yang Rangga sudah simpan di ponselnya, tentu dengan suara Dilan yang paling keras di antara mereka berdua. Dari kejauhan, kawan-kawan sekantor Dilan yang terusir dari area merokok mereka yang biasa hanya bisa menatap nanar pasangan bala yang sedang mendiskusikan dick pics dengan lantang dari pinggir mobil-mobil yang diparkir sambil merokok di antaranya. Mereka sendiri tidak tahu harus mendoakan kelanggengan keduanya atau menyumpahi agar cepat putus saja.
