Actions

Work Header

Crossroad

Summary:

Saat dua dunia bertemu di satu titik yang tak diduga. Ketika dunia fana dan abadi merajut kisah dalam jejak kehidupan.

Notes:

Disarankan membaca The Longest Road >> https://archiveofourown.org/works/17505362/chapters/41234705 >> sebelum masuk ke crossover ini.

Chapter Text

“Kardia, sebenarnya kita mau makan di mana?”  Camus pasrah mengikuti langkah Kardia menyusuri jalanan malam di kota New York yang sedikit padat.

“Sudahlah! Kau ikut saja! Akan aku tunjukan tempat makan yang enak dan pastinya berbeda.”

Tak bertanya lagi, Camus mengikuti langkah sang vampire tampan berambut biru itu. Tak lama, mereka tiba di depan sebuah bangunan yang terbuat dari batu bata merah dan bentuknya seperti dijejalkan begitu saja di antara bangunan lain dan tampak seperti kue soufflé yang miring. Nama restoran itu tergantung miring di sebuah papan dengan lampu neon membentuk satu demi satu hurufnya. Taki.

“Tempat apa ini?” Camus menaikkan sebelah alisnya, “Sepertinya tempat di mana para berandal melakukan transaksi obat terlarang.”

Kardia terkekeh, “di sini, mate-ku sayang, adalah tempat di mana kau bisa makan spaghetti fra diavolo yang sangat lezat,” dia pun mengajak pemuda berambut merah di sampingnya untuk masuk ke dalam restoran.

oxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo

Saint Seiya © Kurumada Masami

Saint Seiya Lost Canvas © Teshirogi Shiori

The Mortal Instruments © Cassandra Clare

Crossroad © aicchan

-00 Pilot-

-Alternate Universe-

Absolutely non-canon fact

Crossover from my fics In The Moonlight & The Longest Road

oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxo

Camus duduk sedikit tak nyaman karena tak bisa menahan diri untuk tidak memandangi sosok-sosok dalam restoran itu yang ternyata bukanlah manusia biasa. Ada Ifrit, warlock tapi tidak memiliki kemampuan sihir. Di sana juga ada dua werewolf dan tampaknya ada beberapa vampire liar di sudut lain, kalau melihat gelagat mereka yang mendadak tenang begitu Kardia masuk. Kardia tampak santai dan bersiul pelan sambil memainkan tissue makan di meja itu.

“Kardia… kau yakin makanan di sini aman?” tanya Camus lirih.

“Tenang saja. Selain menyediakan makanan untuk makhluk-makhluk ajaib, di sini juga ada makanan normal kok. Seperti yang kupesankan barusan.”

Tak ada suara lagi dari Camus karena seorang pelayan mengantarkan smoothie pesanan mereka. Paling tidak sekarang Camus ada alasan untuk menggerakkan tangannya dan mengaduk-aduk minuman itu.

“Santai saja. Selama ada aku, kau aman.” Kardia menggenggam sebelah tangan Camus yang diam di atas meja.

Sekitar lima menit kemudian, pintu restoran itu terbuka dan masuklah empat orang anak remaja yang mengenakan pakaian serba hitam dengan sabuk senjata terpasang rapat di tubuh mereka. Camus memandang penuh rasa ingin tahu, apakah para remaja itu hunter? Mengingat pakaian mereka berbeda dengan para hunter yang biasanya berjubah dan menutupi senjata mereka serapi mungkin.

“Aaah… tak kusangka bisa bertemu dengan mereka di sini.”

“Kau kenal mereka?” tanya Camus, masih belum mengalihkan pada empat remaja yang duduk di meja yang tak jauh dari mereka.

“Tidak. Tapi aku tahu ‘pekerjaan’ mereka apa. Mereka adalah Shadowhunter.”

Shadowhunter?”

Kardia meminum smoothie-nya, “yup. Berbeda dengan hunter biasa, para Shadowhunter adalah manusia yang memiliki darah malaikat dalam tubuh mereka, atau kerennya, mereka biasa disebut Nephilim.”

Mata Camus langsung memandang vampire murni di hadapannya, “Malaikat?”

Kardia mengangguk, “Ribuan tahun lalu, manusia membuat kesepakatan dengan malaikat, lalu keturunannya manusia tersebut akan memiliki kemampuan di atas manusia biasa namun juga memiliki tanggung jawab yang berat.”

Menyimak, Camus sama sekali tak menyela.

Kardia selalu suka sisi Camus yang begitu penasaran pada hal-hal baru yang dia temukan, “Shadowhunter memiliki tugas untuk memberantas demon. Ya, Iblis, kau tidak salah dengar,” ujarnya saat menangkap kilau terkejut di mata pujaan hatinya, “dunia ini tak hanya dihuni manusia, vampire, werewolf dan warlock. Ada makhluk-makhluk kegelapan yang mengintai di balik bayangan, mengincar mereka yang lengah. Di antara dua dunia itulah Shadowhunter berdiri. Mereka mampu menggunakan rune yang memberi mereka kemampuan tambahan. Stamina, penyembuhan dan masih banyak lagi.”

“Hmm…” sekali lagi Camus melirik para empat remaja itu, “ternyata ada manusia seperti mereka di dunia ini. Lalu… kalau sedang membasmi iblis, mereka juga bergerak seperti hunter biasa?”

Kardia menggeleng, “Shadowhunter memiliki tudung pesona yang memungkinkan mereka tak terlacak oleh manusia biasa, mundane, dalam bahasa mereka.”

“Jadi tingkatan mereka lebih tinggi dari hunter biasa seperti Manigoldo dan lainnya.”

“Kira-kira seperti itu. Shadowhunter pun memiliki organi—” ucapan Kardia terhenti dan mendadak dia langsung berdiri dan memandang ke arah pintu masuk, di mana kini di sana berdirilah seorang pemuda dengan rambut coklat berantakan dan mengenakan kaus yang dipadu dengan jaket biru plus jeans belel. “Sungguh hari yang tak terduga. Shadowhunter… dan sekarang… Daylighter. Menyenangkan.”

Agaknya gerakan Kardia yang begitu tiba-tiba membuat empat remaja tadi terkejut dan kini memandang Kardia yang melangkah mendekati pemuda tadi. Camus masih diam di tempat duduknya, tak tahu harus melakukan apa. Kardia berdiri di depan pemuda berambut coklat itu, yang Camus lihat, mendadak memasang sikap defensif meski tak ketara.

“Tak kusangka di New York ini ada seorang Daylighter.”

Seorang gadis Shadowhunter berdiri dan menghampiri Kardia, “Siapa kau?” tanya gadis berambut merah itu, “Apa urusanmu dengan Simon?”

Kardia tak menjawab, dia memandang gadis itu dan memejamkan kedua matanya. Begitu dia membukanya lagi, si gadis langsung berjengit dan mundur selangkah.

“Kau… Vampire!!”

Kardia menyeringai, menampakkan dua taringnya, “Gadis yang menarik. Tak banyak manusia yang berani bicara meski berhadapan dengan kaumku.” Kardia berkedip lagi dan matanya kembali berwarna biru.

“Clary!” seorang pemuda berambut pirang berdiri dan menahan lengan si gadis yang hendak maju. “Tahan! Kau tidak boleh sembarangan!”

“Tapi, Jace!!” protes gadis bernama Clary itu.

Pemuda bernama Jace berdiri di samping Clary. Merasakan suasana yang menegang, Camus beranjak dari duduknya lalu segera ke sisi Kardia, menyentuh lengan vampire itu dengan lembut. Sejenak hanya gema keheningan yang memadati restoran itu, sampai semua pecah oleh suara si pemuda berambut coklat.

“Kau… vampire berdarah murni.”

Senyum kembali mengembang di wajah Kardia, “Senang bertemu denganmu, Daylighter. Anak liar yang istimewa.”

Mendengar itu, Camus mengerutkan keningnya, “Istimewa?”

“Ya. Dia seorang Daylighter. Vampire liar yang bisa berjalan santai di bawah sinar matahari. Sama seperti kaum murni.”

Merasa kalau mereka jadi pusat perhatian, Camus menyarankan agar mereka bicara sambil duduk. Akhirnya, Camus dan Kardia juga Daylighter bernama Simon itu bergabung dengan para Shadowhunter.

Suasana canggung terasa sekali di sana, tapi Kardia tetap saja santai.

“Tak ku kira para Shadowhunter punya kenalan seorang Daylighter. Kalian terlihat akrab sekali dan itu kombinasi yang unik.” Kardia memandang para anak muda di sana.

“Kau sendiri vampire, kan?” gadis bernama Clary tadi terlihat sebal dengan sikap Kardia.

Camus menyenggol lengan Kardia dengan sikunya, tanda agar Kardia bersikap sedikit sopan.

“Aku memang seorang vampire. Tapi bukan vampire yang diciptakan vampire lain seperti teman kalian ini. Aku adalah vampire berdarah murni yang lahir dari rahim manusia. Aku tak akan mati oleh sinar matahari meski aku tak memiliki darah malaikat di tubuhku.” Mata Kardia tertuju pada Simon, “Langka sekali aku bertemu dengan Daylighter. Mungkin hanya sekali dua kali dalam rentang hidupku ini.”

Sepertinya fakta kalau Kardia adalah seorang vampire berdarah murni membuat Camus tak terkejut dengan reaksi orang-orang di hadapannya karena dia sendiri tahu kalau jumlah kaum vampire berdarah murni jauh di bawah jumlah vampire liar.

“Kardia! Sudah! Jangan begitu, kau tidak sopan. Kau bahkan tidak memperkenalkan dirimu,” ujar Camus. Lalu dia memandang para Shadowhunter juga Daylighter itu, “Namaku Camus, dan dia Kardia. Maaf kalau kami sedikit tidak sopan.”

Lalu para Shadowhunter itu pun memperkenalkan diri. Jace dan Clary adalah kakak beradik dari keluarga Morgenstern, dua lainnya adalah Alec dan Isabelle dari keluarga Lightwood, dan Simon adalah anggota dari kelompok vampire yang terikat perjanjian kerja sama dengan pihak Shadowhunter.

“Morgenstern dan Lightwood. Nama yang ternama, rupanya penerus mereka ada di New York.” Kardia memanggil pelayan yang membawakan spaghetti pesanannya tadi, “Jadi apa yang dilakukan Shadowhunter dan Daylighter di tempat seperti ini?”

“Tentu saja makan. Memangnya apa lagi?”

Kardia tertawa pada Clary, satu-satunya yang berani bicara langsung padanya. Lalu dia pun mulai memakan spaghetti di piringnya, tanpa menyadari pandangan para Shadowhunter dan Daylighter di sana.

“K-kau juga bisa makan makanan biasa?” tanya Simon akhirnya, setelah jeda yang agak panjang.

“Tentu saja bisa. Aku memiliki mate, saat ini makanan manusia sama enaknya dengan darah manusia segar.”

Mate?” tanya Simon lagi.

Kardia mengangguk dan mengerling ke arah Camus, “Dia adalah mate-ku. Manusia yang menjadi pendampingku di keabadian ini. Selama ada mate, aku tak bernafsu untuk berburu dan menghisap darah orang lain.”

“Kau… tidak meminum darah manusia?” Tanya pemuda Shadowhunter yang berambut hitam, Alec.

“Hanya darah Camus yang menggugah seleraku. Bahkan aroma darah malaikat kalian tak sebanding dengannya,” jawab Kardia, masih memakan spaghettinya.

“Kardia, sebaiknya kau makan saja!” Camus belum menyentuh piringnya, lalu dia memandang para pemuda di hadapannya, “Maaf ya. Dia sedikit seenaknya sendiri, tapi dia bukan orang –err- vampire jahat.”

Jace memandang Camus lekat, “Kau… pendamping vampire ini. Apa artinya kau juga sudah berumur paling tidak seratus tahun?”

Segera Camus menggeleng, “Sampai setahun yang lalu, aku masih manusia biasa. Benar-benar biasa. Hanya seorang mahasiswa pekerja paruh waktu. Aku bahkan tidak percaya vampire itu nyata.”

“Lalu kenapa kau bisa sampai jadi mate untuknya?” tanya Isabelle, gadis cantik berambut hitam yang dijalin dalam kepangan rapat.

Sekilas Camus melirik Kardia, “Entahlah… alasannya tidak bisa dijelaskan begitu saja,” katanya, “Mungkin… karena dia koki omelet paling enak sedunia?”

Kardia melirik Camus dengan pandangan –sok- terhina, “Oh?! Jadi hargaku cuma sepiring omelet?” dia meletakkan tangan di dadanya, bermuka seolah orang yang sedang terluka, “Itu menyakitiku, Camus.”

Belum sempat Camus berkomentar, pintu restoran itu terbuka lagi dan kali ini yang masuk adalah Milo.

“Kardia! Camus! Aku cari kalian kemana-mana, ternyata malah ada di sini. Pantas susah sekali dicari. Bau kalian bercampur aduk.” Adik Kardia itu menghampiri dua kakaknya dan sedikit heran dengan orang-orang yang ada di sana. Dia segera mengenali tanda di tubuh orang-orang yang asing baginya, “Shadowhunter? Kardia, sejak kapan kau kenal dengan Shadowhunter?” Milo berdiri di belakang Kardia dan meletakkan tangannya di kedua pundak kakaknya. Saat itu penciuman tajamnya terusik oleh bau yang tidak biasa dan membuat dia memandang pada Simon, “… Kau itu… apa? Baumu seperti vampire, tapi kau bukan vampire liar, kau juga bukan kaum murni.”

Kardia meletakkan garpunya, “Ah… ini kali pertama kau bertemu dengan jenis ini, ya? Dia seorang Daylighter, Milo. Vampire liar yang meminum darah Nephilim dan memberinya kemampuan untuk berjalan santai di siang hari.”

Ada kilau ketertarikan di mata Milo, “Daylighter! Aku pikir mereka cuma mitos saja.”

“Aku juga berpikir kalau kaum murni hanyalah cerita rakyat para vampire,” ujar Simon.

Milo tersenyum lebar, “Kau menarik. Kuharap kita bisa jadi teman,” katanya. Lalu dia memandang Camus, “Kanon mencarimu. Dia kebingungan mengurus pembukuan di penginapan.”

“Penginapan?” tanya Simon.

“Iya. Kami mengelola penginapan untuk mereka yang bukan manusia biasa. Kalau kalian mau datang, silahkan saja. Di sana bisa dipastikan akan aman tanpa perlu adu senjata.” Ujar Camus, “Tempatnya sedikit jauh, sih, tiga jam perjalanan dari luar kota, tapi aku yakin kalian akan suka di sana.” Camus akhirnya meminta supaya pelayan membungkuskan makanannya yang tak tersentuh.

“Ini bukan basa-basi. Silahkan saja datang. Free-charge,” imbuh Kardia. Dia berdiri lalu mengeluarkan uang untuk membayar pesanannya dan Camus, juga masih sisa terlalu banyak untuk kembalian, “Kalian pakai saja sisanya. Anggap sebagai salam perkenalan.”

Milo mengikuti kedua kakaknya menuju pintu depan restoran, dia menoleh lagi pada yang masih duduk, “Aku memaksa. Kalau kalian tidak datang, aku yang akan mencari kalian,” dia menyentuh hidungnya, “aroma kalian sudah kuingat, jadi kalian tidak akan bisa kabur.”

Kemudian dia menyusul Kardia dan Camus yang sudah keluar. Tak jauh dari restoran, Milo malihat seseorang dengan penampilan gothic dengan rambut ber-highlight juga dandanan yang berwarna-warni. Hanya sekilas Milo melirik orang aneh itu dan detik berikutnya dia melompat tinggi, mensejajari langkah Kardia juga Camus melintasi gedung demi gedung di rimba kota New York.

.

Magnus masuk ke dalam restoran Taki dan menghampiri para Nephilim plus satu Daylighter di sana. Dia menaikkan sebelah alisnya memandang wajah-wajah yang tampak terpukau di sana.

Hello? Apa kalian kemasukan roh atau sesuatu mengambil roh kalian?” Magnus berdiri di belakang Alec dan meletakkan kedua tangannya di pundak sang kekasih.

Yang menjawab pertanyaan itu adalah Clary. Dia menceritakan tentang orang –er—vampire yang baru saja mereka temui.

  “Vampire murni? Mereka menetap di sini?” Magnus menarik sebuah kursi lain dan duduk di samping Alec. Isabelle yang semula duduk di sebelah kakaknya langsung menggeser kursinya dengan suka rela.

“Mereka bilang sih mereka punya penginapan di luar kota,” Clary menghabiskan smoothie dalam gelasnya. “Menurutmu bagaimana, Magnus? Apa bedanya vampire murni dan vampire biasa? Penjelasan tadi tak begitu bisa dimengerti. Mereka bilang, vampire murni lahir dari rahim manusia.”

Merasakan pandangan penuh tuntutan terarah padanya, akhirnya Magnus mengalah dan menjelaskan tentang vampire murni yang juga hanya pernah dia dengar dari kabar burung saja.

Vampire murni memang bisa bereproduksi seperti manusia. Karena konon mereka dahulu tercipta karena sosok iblis merasuki janin dalam kandungan manusia dan lahir dengan merobek perut wanita yang mengandungnya.”

Saat itu Jace mendorong piring yang ada di hadapannya tanpa suara.

“Dan makanan pertama iblis dalam tubuh bayi yang terlahir itu adalah darah ibu kandungnya. Bayi itu bertumbuh seperti manusia namun makanan utamanya tetap darah. Sampai waktu berlalu dan populasi vampire murni semakin banyak. Namun tak tahu penyebab pastinya apa, terjadi perpecahan di kaum murni karena beberapa lebih memilih untuk menciptakan ‘keluarga’ baru dengan cara yang lebih instant, yaitu dengan mengubah manusia dewasa menjadi vampire. Tapi ternyata vampire yang mereka ciptakan itu tak bisa dikendalikan dengan mudah dan populasi vampire liar pun makin tak terkontrol.”

Vampire liar itu… vampire sejenisku… dulu?” tanya Simon.

“Sepertinya begitu. Vampire murni memiliki darah iblis dalam nadi mereka, sementara vampire seperti Camille adalah manusia yang terinfeksi ‘penyakit’ iblis.”

Isabelle mengaduk-aduk es dalam gelasnya dengan sedotan, “Jadi vampire murni ini sedikit banyak mirip seperti para warlock? Setengah darahnya adalah manusia dan setengahnya darah iblis?”

“Kesimpulan yang luar biasa, Izzy sayang. Serius, aku tidak pernah berpikir ke sana,” ujar Magnus.

“Lalu kenapa tak ada penjelasan apapun tentang vampire ini bagi Shadowhunter?” tanya Jace.

“Keberadaan vampire murni yang tertutup oleh populasi vampire liar membuat fakta menjadi cerita dan cerita menjadi legenda. Apalagi yang sering berkeliaran dan berburu tanpa memikirkan resikonya adalah vampire liar, maka jenis inilah yang lebih dikenal luas.” Magnus memandang wajah-wajah di hadapannya, “Hanya sejauh ini yang aku tahu tentang kaum itu.”

Mendapat informasi yang benar-benar baru, para Nephilim, Simon juga, tampak sangat penasaran dan ingin tahu lebih banyak lagi tentang vampire murni ini.

“Kalau begitu kita penuhi saja undangan mereka!!” seru Isabelle, “Kita bisa bertanya langsung pada mereka. Lagipula katanya penginapan itu adalah wilayah netral. Apa kalian tidak ingin tahu kisah lengkapnya?”

Jace mengangguk setuju, “Itu benar. Kita bisa kesana dengan mobil milik Luke.”

Kesepakatan mutlak pun tercipta dan mereka memutuskan untuk menuju ke penginapan milik para murni. Sepertinya setelah ini, kehidupan mereka akan semakin menarik saja.

.

.

 “Shadowhunter?” Minos membuka kaleng bir yang dilemparkan pada Kardia, “Tak heran sih. Di New York ini kan ada Institute yang menjadi tempat tinggal mereka.”

“Yah… hanya tidak menyangka bisa bertemu dengan anak-anak malaikat. Padahal di kehebohan kemarin mereka sama sekali tak muncul,” Kardia duduk di sofa tunggal, memandang Camus dan Kanon yang sedang mengatur keuangan. “Aku mengundang mereka kemari, kalau kalian tidak keberatan.”

Minos mengangkat sebelah bahunya, “Terserah saja. Kami juga jarang di sini.” Minos merangkul pundak Albafica yang duduk di sebelahnya, “Asal tidak terjadi pertumpahan darah saja. Aku tidak mau membantumu membersihkan sisa-sisanya nanti.”

“Tidak akan. Tempat ini sudah ditetapkan sebagai wilayah netral. Lagipula kalau ada yang mengacau, kita punya dua hunter yang kelewat hebat untuk menangani semuanya.” Kardia menghabiskan isi kaleng birnya, “Kalian sudah selesai?” tanyanya pada Camus dan Kanon yang tampak sudah membereskan buku-buku besar mereka.

“Sudah. Aku mau pulang dulu. Sampai nanti.” Kanon pun melesat keluar untuk pulang ke rumah mungil miliknya dan Milo yang dibangun di bekas kamar mereka dulu.

Camus memasukkan buku-buku itu ke dalam meja konter di depan dan menguncinya, “Minos dan Albafica, malam ini kalian menginap?”

“Tidak. Kami hanya mampir saja. Setelah ini kami mau ke Fiji. Kalian mau ikut?” Minos menaikkan kakinya ke meja.

“Kalian ini. Rasanya baru minggu kemarin kalian pulang dari Paris, sekarang kalian mau ke bulan madu lagi?” Kardia meremas kalengnya seperti meremas kertas.

“Apa salahnya?” Minos menggoyangkan kakinya, “Dunia itu indah, bung. Kau dan Camus juga sesekali perlu memanjakan diri menikmati pemandangan di seluruh penjuru dunia.”

Tak begitu lama, Asmita dan Defteros datang dengan membawa kantung belanjaan. Hari ini memang jatah mereka membeli persediaan makanan, apalagi penginapan mereka sedang ramai. Kardia membantu Asmita juga Defteros untuk menata belanjaan di lemari dapur. Lalu Minos dan Albafica berpamitan karena mereka harus segera ke bandara. Orang lain pasti akan bingung melihat ada orang yang pergi ke tujuan wisata semacam Fiji tanpa membawa barang bawaan apapun. Tapi bagi Minos, barang seperti baju dan yang lainnya adalah kebutuhan sekali pakai dan bisa dibuang kapan pun.

Setelah pasangan vampire-mate paling mesra sejagad itu pergi, Camus menutup pintu belakang dan bergabung yang sedang rusuh di dapur. Pikirannya masih dipenuhi tentang pertemuannya dengan para pembawa darah malaikat tadi. Padahal dia pikir sudah tidak ada hal di dunia ini yang bisa mengejutkannya, tapi ternyata, masih ada dunia yang tersembunyi yang sama sekali tak terdeteksi di mata manusia biasa.

Selesai membereskan semua belanjaan, Asmita dan Defteros berpamitan untuk pulang ke rumah Defteros di New York. Aspros terluka saat bertugas dan harus istirahat total selama tiga hari. Jadilah yang tersisa hanya Camus dan Kardia saja.

Mereka berdua duduk santai di sofa, menikmati sore yang sejuk. Camus bersandar nyaman di pundak Kardia yang asik mencari acara bagus di televisi. Seperti biasa, rasa penasaran bukan sesuatu yang bisa ditahan oleh Camus, jadilah dia bertanya lagi pada kekasihnya.

“Jadi… Shadowhunter itu pemburu iblis? Iblis yang bagaimana, tepatnya?”

“Hmm…” Kardia berangkul Camus, “Iblis itu ada bermacam-macam, tapi intinya mereka dibagi menjadi dua kelompok. Greater Demon dan Lesser Demon. Minos sepertinya punya buku tentang iblis, kalau kau mau aku bisa tanyakan padanya.”

Jawaban dari Camus jelas berupa anggukan penuh semangat, “Lalu apa senjata mereka juga terbuat dari perak?”

“Aku tidak begitu tahu tentang senjata para Shadowhunter. Yang pasti senjata utama mereka itu seraph blade. Pedang yang ditempa dengan mineral khusus dan saat kau beri nama pedang itu dengan nama malaikat, pedang itu akan jadi senjata yang sangat mematikan bagi kaum iblis, juga Downwolder –sebutan untuk vampire dan werewolf, juga warlock.”

“Kau tidak pernah cerita tentang ini sebelumnya.”

“Ya—karena kupikir kita tidak akan bersinggungan dengan Shadowhunter yang serba rahasia itu.” Kardia membesarkan volume televisi yang menayangkan acara musik, “Tapi kurasa ini bisa jadi pengalaman bagus. Kalau bisa menjalin hubungan baik dengan para Shadowhunter, kedamaian kita di sini bisa lebih terjamin.”

Camus mengangguk lagi. Dia membiarkan Kardia mengusap-usap kepalanya membuat kantuk seketika datang, padahal sebelumnya dia segar-segar saja. Menguap sekali, dia memejamkan mata, membiarkan kegelapan merangkulnya.

.

#

.

Dua hari setelah itu, akhirnya tamu yang mereka undang datang juga dengan mengendarai sebuah truk tua. Milo dan Kanon, yang kebetulan sedang ada di halaman bersama Hyoga untuk membersihkan rerumputan yang sudah mulai tak beraturan, menyambut tamu istimewa itu. Hyoga sendiri memandang penuh minat pada sosok yang hanya pernah dia dengar dari cerita tentang manusia yang memiliki darah istimewa dan tanggung jawab yang lebih besar dari hunter biasa.

“Hei, aku senang kalian datang,” sapa Milo, melepas sarung tangan tebalnya yang dia pakai untuk mencabuti rumput. Matanya menangkap sosok penuh warna yang dia lihat sekilas di depan restoran Taki, “Ah!! Kau!!”

Semua mata memandang sosok yang ditunjuk oleh Milo.

“Kau kenal dengannya, Magnus?” tanya Alec.

Yang bernama Magnus mengangkat bahunya, “Hanya bertemu sekilas, tapi aku segera tahu kalau dia adalah seorang ‘murni’.”

“Dan kau seorang warlock!” Milo memandang Magnus dari atas ke bawah, “Ya paling tidak kau tidak lebih menyebalkan dari warlock lain yang aku kenal.” Kemudian Milo pun mempersilahkan para tamu untuk masuk.

Di dalam, Kardia yang sedang membuatkan makanan pesanan salah seorang tamu, menyapa dari dapur, “Akhirnya kalian datang juga. Duduklah! Anggap saja rumah sendiri!”

Tepat saat para tamu duduk, Camus turun dari lantai dua sambil membawa setumpukan buku milik Minos yang dia ambil dari apartemen milik vampire itu kemarin, setelah izin tentunya. Masih ada beberapa buku yang belum selesai dia baca, tapi karena sekarang sumbernya langsung sudah datang, Camus berniat untuk bertanya langsung saja, nanti.

Kardia meminta supaya Milo dan Kanon mengantarkan pesanan makanan ke tamu di kamar mereka, lalu dia bergabung dengan Camus di sofa.

“Bagaimana pendapat kalian? Penginapan yang menyenangkan, kan?” Kardia melepas celemeknya, “Ada beberapa hunter dan satu pasangan vampire-mate di belakang, jaga-jaga kalau kalian merasa tidak nyaman.

“Apa yang kalian lakukan sampai bisa membuat sebuah tempat seperti ini?” tanya Jace, memandang ke sekeliling ruangan yang cukup besar itu.

“Ya, sedikit ini dan sedikit itu.”

“Pertikaian di Long Island setahun yang lalu, kan?” tebak, Magnus.

“Kau tahu?”

“Aku kenal dengan Aiacos, kurasa itu cukup sebagai penjelasan.” Kata Magnus.

Mendengar nama itu disebut, Kardia jadi teringat adiknya, “Mm… ada baiknya kalau kau tidak menyinggung tentang warlock itu di depan Milo.”

“Ada apa denganku?” Milo muncul di ambang pintu bersama Kanon, “Kalian pasti menggosipkan aku,” dia duduk di sandaran tangan sofa yang diduduki Kardia sementara Kanon berdiri di sebelah Camus. Vampire berambut pirang itu memperkenalkan Kanon pada orang-orang di sana.

Agaknya para Nephilim terkejut karena di kota mereka ada beberapa pasangan vampire-mate. Padahal selama perburuan demon, mereka sama sekali tak mendengar kabar tentang keberadaan kaum yang bahkan bagi para vampire biasa adalah sesosok mahkluk dalam legenda.

“Kalian sudah lama menetap di New York?” tanya Isabelle.

“Yang paling lama Asmita. Dia sudah hampir 8 tahun di kota ini, lalu Minos dan Albafica, aku sendiri baru saja jadi pendatang di kota ini.” Kardia bersandar, memandang wajah muda di hadapannya, “Well… bagaimana kalau kita berpesta?” dia melirik Milo yang langsung tersenyum lebar.

“PESTA!!!” Milo menyambar pergelangan tangan Kanon, “kami akan segera kembali,” secepat kilat mereka melesat dan mengilang dari pandangan.

Kemudian Camus menyuguhkan minuman dan makanan kecil untuk para tamunya, “mmm… maaf, kami tidak menyediakan darah di sini,” katanya, sedikit tidak enak pada Simon.

Yang bersangkutan hanya tertawa, “tidak masalah. Sebenarnya… aku yang sekarang bisa menikmati makanan biasa. Dan jangan tanya kenapa karena aku juga tidak paham,” katanya cepat.

Mereka pun mengobrol ringan, saling bertanya, mengakrabkan diri, juga saling bertukar informasi. Clary dan Isabelle sempat bertanya apa ada vampire murni perempuan, yang langsung dibalas Kardia kalau jenis itu lebih banyak merepotkan dari pada menyenangkan. Kardia dan Camus juga tak terkejut saat diberi tahu kalau Magnus dan Alec terikat hubungan khusus meski status mereka sangat berbeda.

Di tengah perbincangan, ponsel Kardia berdering dan vampire itu segera mengangkatnya setelah beranjak ke luar beranda. Dia berbincang sebentar dengan peneleponnya sebelum kembali ke dalam dan duduk di tempatnya semula.

“Dari Asmita. Mereka akan pulang setelah ini karena pasien mereka sudah tidak betah di rumah,” Kardia menggeletakkan ponselnya begitu saja di meja, “kalau kalian bertemu Asmita  nanti, jangan salahkan diri kalian kalau menganggap dia itu manusia biasa. Dia satu dari sedikit kaum murni yang memiliki kemampuan unik, dia mampu menyembunyikan hawa vampire-nya sampai ke titik nol.”

Mereka kembali mengobrol dan sepertinya keterkejutan para Nephilim masih berlanjut begitu Kardia cerita kalau dia juga punya kenalan sekelompok werewolf. Tempat ini benar-benar satu tempat unik yang tak pernah mereka temui sebelumnya.

“Ah! Shura, Hyoga, kemarilah!” Panggil Kardia saat melihat dua hunter yang menetap di sana melintas di depan pintu.

Kedua pemuda itu pun masuk ke dalam dan diperkenalkan oleh para Nephilim. Sama halnya seperti hunter yang penasaran pada Shadowhunter, para anak-anak malaikat pun banyak bertanya pada dua pemburu yang mengkhususkan diri untuk mengatasi vampire dan werewolf. Ternyata ada perbedaan prosedur perburuan dan sepertinya itu menjadi topik yang menarik bagi Alec dan Jace juga Shura dan Hyoga yang langsung membuat lingkaran obrolan sendiri.

“Dasar mereka itu. Kalau sudah masalah berburu pasti semangat.” Clary memandang sebal pada kakaknya.

“Namanya juga anak laki-laki,” sahut Isabelle.

Tak terasa waktu bergulir hingga jingga beranjak kelam. Milo dan Kanon kembali dengan membawa berkantung-kantung penuh daging dan sayuran segar. Di belakang mereka masuklah Asmita dan Defteros.

“Ah!!”

Semua menoleh pada Alec yang tampak terkejut, “kau— yang di kereta…” suaranya semakin pelan karena sadar kalau reaksinya agak tidak sopan.

“Kau kenal dengannya, Asmita?” tanya Kardia.

Asmita pun memandang pada sosok pemuda asing di sana, “Tidak… aku rasa ini kali pertama kami bertemu.”

Akhirnya sekali lagi Kardia memperkenalkan tamu-tamu istimewa di sana dan Alec mengatakan kalau dia sempat melihat Asmita di salah satu kereta bawah tanah di Brooklyn.

“Kau ngapain sampai ke Brooklyn, Asmita?” tanya Milo yang sedang membongkar belanjaannya.

“Mungkin saat aku dan Asmita membantu Aspros dalam kasusnya. Dia itu memang paling tahu cara memanfaatkan orang,” Defteros membantu Milo mengeluarkan belanjaan.

Setelah itu semua pun beralih ke halaman depan. Karena sepertinya pesta BBQ sudah menjadi ritual di penginapan ini, setumpuk kayu bakar selalu tersedia untuk membuat api unggun. Setelah tiga panggangan BBQ disiapkan dan arang juga sudah dipanaskan, Asmita, Defteros dan Kardia diberi kepercayaan untuk mengolah bahan mentah dengan bumbu yang juga selalu tersedia di dalam kulkas untuk berjaga-jaga, sementara yang lain menusukkannya ke batangan besi sebelum dipanggang.

Malam itu menjadi malam yang luar biasa, walau mereka baru saja bertemu tapi dengan segera mereka menjadi akrab. Milo sedang mengobrol seru dengan Simon, sepertinya sedang membandingkan dua vampire wanita yang mereka kenal. Pandora dan juga pimpinan kelompok vampire tempat Simon bernaung, Camille. Milo segera saja bilang kalau dia ingin bertemu dengan Camille itu yang langsung disanggupi oleh Simon. Daylighter itu bilang Camille pasti terkejut sekali kalau tahu ada sekelompok kecil vampire berdarah murni tak jauh dari New York.  Sementara ini Shura, Hyoga, Jace dan Alec masih melanjutkan obrolan mereka tentang perburuan juga jenis-jenis senjata yang mereka pakai, sesekali Magnus menimpali obrolan itu meski usulannya sering tidak masuk akal.

Clary dan Isabelle mendapat beberapa tips memasak dari Kardia juga Asmita. Dua gadis itu terpana karena hasil masakan dua vampire berdarah murni itu berkali lipat lebih enak dari masakan mereka.

Bulan menggantung temaram di antara taburan bintang. Angin malam yang berhembus tak mengalihkan mereka semua dari dekat api unggun dan menikmati makanan yang lezat dengan menyimpan harapan kalau jalinan pertemanan yang baru ini akan bisa terus berlangsung dan akan semakin erat.

oxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo

TO BE CONTINUED

oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxo