Actions

Work Header

Footsteps of Time

Summary:

Meski waktu mulai menampakkan guratannya, namun ikatan yang terjalin tak akan semudah itu berakhir.

Chapter Text

Hujan turun perlahan di kota New York. Alec terbangun dari tidurnya yang nyenyak karena terganggu suara tetes air yang menghantam kaca jendela. Dia meraih jam tangannya di meja kecil di samping tempat tidur dan melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Alec menyingkirkan lengan Magnus yang memeluk pinggangnya dengan erat lalu dia pun meninggalkan kamar tidur mereka.

Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Alec menuju ke dapur dan membuat kopi dengan coffee maker yang sengaja Magnus belikan dulu khusus untuknya. Suara biji kopi yang berputar cepat dalam penggiling menjadi harmoni pagi yang sangat menenangkan untuk pemuda berambut hitam itu. Selesai membuat kopi, dia menuangkannya di dua mug dan membawanya ke depan televisi di mana Magnus sudah duduk santai di sana, masih mengenakan piyama sutranya yang berwarna hijau cerah.

Lima belas tahun hidup bersama Magnus membuat Alec mengenal kebiasaan High Warlock  dari Brooklyn itu.

oxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo

Saint Seiya © Kurumada Masami

Saint Seiya Lost Canvas © Teshirogi Shiori

The Mortal Instruments © Cassandra Clare

Footsteps of Time © aicchan

-Alternate Universe-

Sequel from CROSSROAD

-OC warning-

oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxo

“Kau mau ke Institute sekarang?” tanya Magnus yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Ya. Izzy sudah menterorku sejak semalam.”

Magnus tersenyum, “Bukan Izzy yang menterormu, tapi keponakan tersayang yang tidak bisa lepas dari pamannya.”

“Oh shut up!” Alec memakai jaket kulitnya, tetap berwarna hitam, warna favoritnya sepanjang masa.

Magnus terkekeh.

“Aku pergi dulu.”

Okay, aku susul kau di Institute nanti setelah pekerjaanku selesai.”

“Great. Bye,” Alec keluar dari tempat mereka tinggal. Beberapa tahun lalu Magnus memutuskan untuk pindah ke sebuah penthouse yang cukup mewah bagi Magnus dan amat sangat mewah bagi Alec. Dia tak bisa protes karena sekali Magnus punya niat, tak akan ada yang bisa menghalanginya.

Sampai di tempat parkir, Alec menuju ke sebuah motor sport hitam yang kini jadi kendaraan pribadinya. Dia melajukan motor itu menembus jalanan New York yang masih terguyur hujan. Tanpa hambatan dia pun sampai ke Institute New York dalam waktu singkat. Bangunan itu sama sekali tak berubah. Megah dan pastinya terhindar dari pandangan manusia biasa yang tak memiliki kemampuan khusus untuk melihat dunia yang tersembunyi di antara mereka.

Alec memarkir motornya tak jauh dari pintu utama Institute, belum lagi dia melepas helmnya, pintu depan Institute terbuka dan muncullah seorang anak perempuan berusia dua belas tahun yang berlari dan langsung menghambur memeluk Alec.

“Aleeeec!! Aku rindu padamu!!!” seru gadis cilik itu. Dia mendongak, menampakkan wajahnya pada sang paman.

Berapa kali pun melihat, Alec tak pernah berhenti mengagumi paras keponakannya. Mellisa Lightwood. Putri tunggal Isabelle, buah cintanya bersama Meliorn sang peri. Alec tak mau memeras otak untuk memikirkan bagaimana Isabelle bisa menjalin kasih dengan peri kepercayaan Ratu Seelie hingga akhirnya dia hamil.

Itu sempat membuat gempar dunia Shadowhunter dan dunia Downworld. Terlebih lagi Isabelle berkeras hati untuk mempertahankan kandungannya meski dia tak terikat pernikahan dengan Meliorn. Yang pasti akhirnya setelah paksaan dari Ratu Seelie dan juga Valentine, akhirnya Isabelle diizinkan untuk memiliki anak itu. Alec sudah tidak heran dengan sifat adiknya yang memang kadang kelewat santai bahkan untuk urusan seperti ini, tapi kalau Isabelle sudah memutuskan untuk melahirkan janinnya, Alec selalu ada di pihak adiknya, seperti biasa.

  Maka lahirlah Mellisa dua belas tahun lalu. Kehadiran bayi mungil itu membawa peralihan baru dalam hubungan dua dunia. Ratu Seelie yang dahulu terkesan menarik diri dari peredaran dunia, mulai sering tampak keluar masuk Institute New York demi mengunjungi bayi yang telah menarik hati semua orang yang melihatnya.

Bagaimana tidak?

Siapa yang tak terpikat mata hitamnya yang seindah dan sejernih langit malam, dengan kulit putih bersih dihias rambut yang sekelam warna matanya. Wajah Mellisa adalah perpaduan unik dari Isabelle dan Meliorn. Satu-satunya tanda istimewa dari anak itu adalah telinganya yang runcing, telinga para peri. Kini Mellisa tumbuh menjadi gadis cilik yang luar biasa cantiknya, rambut hitam lurusnya tergerai sebatas pinggang, hanya dihias jepit pemanis dari mutiara di sisi kanan kepalanya, hadiah dari Ratu Seelie. Tubuhnya semampai seperti orang dewasa dan Alec bertaruh kalau dia menjadi idola di sekolahnya.

Ya. Sama seperti ibunya semasa muda, Mellisa juga sekolah di dunia mundane, walau dia harus menggunakan tudung pesona. Sifat lain ibunya yang menurun pada Mellisa adalah sifat easy going dan juga bibit seorang Shadowhunter yang sangat handal.

“Kenapa kau baru datang sekarang, Alec? Aku merindukanmu.”

“Maaf, Mell. Pekerjaan datang silih berganti,” Alec meletakkan helmnya di atas jok motor lalu mengikuti Mellisa masuk ke dalam Institute. Aroma yang familiar membuat Alec merasa nyaman. Ini masih rumahnya.

“Alec.”

Pandangannya teralih pada sosok wanita berbalut pakaian dinas Shadowhunter. Bukan ibunya, tetapi sosok Isabelle yang telah tumbuh menjadi wanita sejati yang memancarkan keanggunan seorang ibu dan ketangguhan seorang pemburu.

Isabelle memeluk dan mencium pipi kakaknya, “Aku titip Mell sebentar, ya? Aku harus kembali ke Idris.”

“Ada masalah?”

“Tidak ada yang penting, hanya menggantikan posisi Clary.”

Alec baru ingat kalau Clary dan Sebastian sedang pergi berbulan madu ke Perancis entah untuk yang keberapa kalinya. Pasangan itu memang kelewat mesra. “Dieter?”

“Ada di ruang latihan. Bersama Jace,” Isabelle mengusap kepala putrinya, “Baik-baik di rumah, okay?!”

Okay,” kata Mellisa. “Oiya, ma, kapan uncle Max pulang?”

“Aku akan seret dia kemari kalau dia terlalu asik berburu,” Isabelle mengedipkan sebelah matanya sebelum berbalik pergi.

Mellisa memandang pamannya, “Apa hari ini kau menginap?”

“Aku tidak bisa. Besok pagi aku dan Magnus harus bertemu klien.”

Mellisa tampak sebal tapi dia tidak protes. Dia menunggui Alec yang berbelok sebentar ke kamar mandi untuk berganti pakaian karena yang sekarang dia kenakan basah kuyub terkena air hijan. Setelah Alec keluar, gadis kecil itu menggandeng tangan Alec dan mengajaknya ke ruang latihan di mana Jace ada di sana bersama seorang anak lelaki yang seperti cetakan sempurna Sebastian saat kecil dulu. Dieter Valentine Herondale. Putra Clary dan Sebastian. Sifatnya lebih mirip dengan kakeknya, Valentine. Diam, tak banyak bicara dan serius. Dieter tak akan beralih pada tugas lain kalau satu tugasnya belum dia selesaikan dengan sempurna.

“Alec, akhirnya kau muncul juga,” Jace memandang sahabat terbaiknya itu, “kemana saja, kau? Beberapa bulan ini seperti menghilang ditelan bumi.”

“Aku baru kembali dari Inggris. Ragnor meminta bantuan Magnus untuk menangani satu kasus di sana.”

“Sibuk seperti biasa. Kau makin punya nama di dunia bawah.”

“Tidak juga,” Alec membiarkan Mellisa menghampiri Dieter, “kemampuanku masih belum seberapa,” dia merujuk pada perubahan dalam dirinya. Sejak menjadi seorang imortal, Alec jadi memiliki sedikit kemampuan sihir. Menurut Ragnor dan Tessa, itu bukan hal yang aneh mengingat Magnus sendiri mengalirkan sihirnya pada Alec demi menyelamatkan nyawanya. Karena itu Alec merasa kuat walau sendiri, namun dia merasa utuh dan tak tersentuh jika dia bersama dengan Magnus.  Ikatan mereka lebih erat dari sekedar kekasih.

“Kau sendiri bagaimana?” tanya Alec pada Jace, “ku dengar kau diseret paksa oleh Kardia ke Yunani?”

Mendengar itu Jace menghela napas, “Dia itu tidak bisa dilawan. Aku dan Simon sampai tidak bisa menyela saat Kardia bilang dia sudah menyiapkan semua kebutuhan kami berlibur ke Yunani. Saat sadar kami sudah ada di pesawat.”

Alec tertawa pelan. Memang Jace dan Simon yang paling dekat dengan para pasangan vampire-mate. Mungkin karena hubungan antara Jace dan Simon mendekati hubungan vampire-mate meski Simon bukan vampire berdarah murni.

“Hei kalian berdua, jangan malah mengobrol,” Mellisa berkacak pinggang, “kalian kemari kan untuk melatih kami!”

Akhirnya mereka berdua pun beranjak sebelum kena omel Mellisa lagi. Alec melatih Mellisa karena keponakannya itu tertarik dengan panah, sementara Dieter, sama seperti anggota keluarga Morgenstern-Herondale lain, lebih mengandalkan pedang.

Di tengah sesi latihan, Alec memandang para Shadowhunter di sana. Dulu, dia adalah bagian dari mereka. Dulu, entah sudah berapa banyak rune yang terpatri di tubuhnya. Tapi kini dia terlepas dari semua itu. Terlepas dari dunia dimana dia terlahir dan tumbuh dewasa. Dunia para pemburu.

Alec jadi teringat saat dunia itu terenggut darinya. Kali pertama dia membuka mata sebagai seorang imortal, itu juga menjadi kali pertama Alec melihat airmata mengalir di wajah Magnus disertai ucapan maaf yang tiada henti. Namun justru di saat seperti itulah Alec merasakan kalau dia begitu dicintai oleh Magnus karena warlock itu tak akan mengubahnya menjadi makhluk abadi jika keberadaan Alec dianggap tak begitu berharga untuk dipertahankan.

Walau harga yang harus Alec bayar begitu besar, dia tidak menyesal. Meski memang Alec shock begitu mengetahui bahwa tak ada lagi rune yang tersisa di tubuhnya, bahwa dia kini bukan lagi seorang Shadowhunter. Tapi berkat hadirnya orang-orang yang dia sayangi, Alec tahu dia tidak kehilangan keluarganya, tidak kehilangan jati dirinya sebagai anggota keluarga Lightwood.

Hingga kini waktu terus berjalan, meninggalkan Alec di usianya yang kesembilan belas, dia tetap bisa melangkah seiring mereka yang hidup bersanding dengan perputaran masa. Dia melihat Isabelle tumbuh dari gadis yang cantik menjadi seorang wanita matang. Dia mengikuti pertumbuhan Max, si kecil yang suka manga dan sering diejek teman-temannya, kini menjadi pemuda dewasa dan juga salah satu Shadowhunter yang diperhitungkan kemampuannya.

Clary dan Sebastian menikah dengan upacara tradisional yang sederhana tapi elegan. Garden party yang diadakan di kediaman keluarga Morgenstern di Idris dan dihadiri kerabat juga teman-teman dekat. Kini pasangan itu dipercaya untuk memimpin Institute New York karena Valentine sekarang menjabat sebagai anggota Dewan hingga tugasnya terpusat di tanah kelahiran para Shadowhunter. Dan karena para tetua sudah banyak yang berada dalam usia lanjut, anggota circle pun satu demi satu mengisi posisi dalam Dewan hingga rotasi pemindahan generasi yang menjabat juga membawa angin baru dalam hubungan antara Shadowhunter danDownworlder.

Dunia ini terasa sempurna.

“Alexander Lightwood!!”

Suara Mellisa yang melengking membuat Alec kembali memperhatikan keponakannya yang kini memandangnya dengan sok galak. “Ah… maaf, maaf, aku melamun lagi.”

Mellisa mengerutkan keningnya, “Kau seperti orang tua saja, mendadak suka diam dan memikirkan entah apa,” gadis itu kembali pada latihannya, menyiagakan anak panas dan busur di tangannya.

“Usiaku kan memang sudah tua. Lebih tua dari mamamu,” Alec membenahi posisi Mellisa, “sejajarkan lenganmu dengan pandangan mata dan lepaskan dengan halus.”

Anak panah berdesing dan meluncur lalu dengan tepat menancap di tengah papan sasaran. Mellisa tampak puas dengan itu dan dia mencoba lagi.

Alec mundur beberapa langkah, melihat bagaimana lihainya Mellisa melepaskan satu demi satu anak panah yang semuanya tak ada yang meleset. Dia melirik sekilas dan melihat Jace beradu pedang dengan Dieter. Untuk ukuran anak tiga belas tahun, Dieter sangat tangguh karena bisa mengimbangi Jace. Meski tentu saja Jace tak memakai tenaga penuh untuk melawan keponakannya sendiri.

Pintu ruangan latihan terbuka dan masuklah seorang anak kecil yang berusia lima tahun dengan rambut merah yang sedikit berombak. Dia adalah Reus, putra kedua Clary dan Sebastian. Kalau kakaknya adalah cetakan sang ayah, Reus justru kebalikannya, anak ini mirip sekali dengan Clary, berikut dengan hobi melukisnya. Tak terhitung berapa kali Clary harus mengomeli anak bungsunya ini karena menjadikan dinding Institute sebagai media gambarnya, mengabaikan buku sketsa dan krayon yang sudah tersedia.

“Jace! Alec!” seru Reus yang langsung berlari menghampiri dua paman imortalnya.

Latihan pun serentak berhenti. Dieter menghampiri adik yang terpaut usia jauh darinya, “Kenapa kau turun? Semalam kau demam, kan?” Dieter menyentuh kening adiknya.

“Habis aku kesepian di atas sendiri. Makanya aku menyusul kalian, eh ternyata ada Jace dan Alec,” Reus mengangkat kedua tangannya pada Jace, meminta untuk digendong dan permohonannya terkabul. Dia tertawa senang dan memeluk leher Jace.

Karena mereka tak mungkin lanjut berlatih karena ada Reus, semua pun beralih ke ruang baca. Mellisa duduk di samping Alec, meminta supaya pamannya itu mengepang rambut panjangnya, seperti rambut Isabelle semasa dulu.

“Tumben kau tidak bersama Magnus?” tanya Jace sambil duduk di sebelah Dieter yang memangku Reus dan membacakan buku cerita untuk adiknya.

Alec selesai mengikat rambut Mellisa, “Magnus akan menyusul nanti.”

“Sungguh?” yang menyahut bukan Jace, tapi Reus.

“Ya, dia akan datang dan kau boleh mengerjainya semaumu.”

“Horeeee!!!” seru Reus sambil mengangkat kedua tangannya, membuat buku yang dibawa Dieter terjatuh ke karpet. Reus memandang kakaknya sambil menunjukkan senyuman tanpa dosa, sementara Dieter hanya menghela napas panjang.

Alec menikmati waktu santai dengan mengawasi tiga anak di sana. Dieter, yang sepertinya sudah menyerah menyuruh adiknya diam, akhirnya memutuskan untuk membaca buku tentang sejarah Shadowhunter, buku yang dulu sering Alec baca. Mellisa memangku sebuah buku tebal yang merupakan ensiklopedia senjata. Reus sendiri tengkurap di karpet dan mewarnai buku gambarnya dengan krayon sambil bersenandung lagu entah apa.

“Damai, ya?” Jace bersandar di sofa dan memandang langit-langit perpustakaan yang tinggi dan berbentuk kubah, “Kuharap tak ada lagi kekacauan mengerikan seperti dulu.”

“Kuharap juga begitu, Jace,” Alec mengangguk, menyetujui ucapan sobatnya.

Obrolan mereka terpotong saat mendengar suara pintu utama Institute terbuka. Mellisa langsung meletakkan bukunya dan berjalan ke arah pintu perpustakaan tepat saat daun pintu kembar itu terbuka.

Seorang peri berperawakan tinggi tegap berkulit pucat dan mengenakan zirah peri yang berkilau, berdiri di ambang pintu. Dialah Meliorn, ayah Mellisa.

“Papa,” Mellisa memeluk sosok yang baru saja masuk ke ruangan itu.

Alec memandang bagaimana Meliorn berinteraksi dengan anaknya. Alec masih ingat bagaimana dia dulu, saat masih kecil, selalu sepenuh hati menghindari kontak mata langsung dengan Meliorn setiap kali peri itu datang rapat ke Institute. Siapa yang menyangka, kini dia dan Meliorn justru menjadi keluarga, walau peri itu tak terikat pernikahan dengan Isabelle.

Perhatian Alec teralih pada Jace yang berpindah duduk ke sebelahnya dan berbisik, “Ternyata dia itu tipe ayah yang memanjakan anak.”

“Tidak sesuai imej, ya?”

Jace tertawa, “Oiya, Kardia menanyakanmu. Dia bilang kalau kau ada waktu luang mainlah ke sana bersama Magnus.”

“Aku memang sudah ada rencana ke sana setelah Magnus selesai dengan kliennya.”

“Kalian ini sibuk sekali. Kau pasti sudah jadi jutawan sekarang. Harga untuk sekali menyewa jasa warlock kan tidak murah.”

“Aku bahkan tidak berani ada di ruangan yang sama saat Magnus dan klien mendiskusikan tentang harga.”

Jace tertawa lagi.

Obrolan mereka terpotong saat mendengar suara bersin yang cukup keras. Ternyata Reus. Saat itu Dieter langsung menutup bukunya dan sigap menggendong adiknya.

“Aku bawa dia ke kamar dulu.”

“Aku tidak mau sendirian!!!” seru Reus seketika, mencengkram pakaian kakaknya dengan erat.

Jace berdiri dan mengambil Reus dari gendongan Dieter, “biar aku saja yang menemaninya. Kau bisa lanjutkan belajarmu!”

Tak menolak, Dieter hanya mengangguk pada pamannya. Alec melihat Jace dan Meliorn hanya saling menganggukkan kepala tanpa menyapa. Lalu Alec juga melihat Meliorn mencium puncak kepala putrinya, pertanda kalau dia sudah tidak ada urusan di sini. Mellisa melambaikan tangannya sebelum berbalik dan kembali duduk di sebelah Alec.

“Tumben papamu mampir?” tanya Alec.

“Mencari mama. Karena mama tidak ada, papa langsung pulang deh. Tapi aku dapat ini!!” Meliorn menunjukkan sebuah gelang baru yang melingkar di pergelangan tangannya. Berkilau indah dari perak yang sangat halus, terjalin dalam untaian rumit khas bangsa peri, “Kata papa ini dari Ratu Seelie.”

Alec tak menyahuti. Keponakannya yang satu ini benar-benar bisa membuat imej seorang Ratu Seelie berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan hanya sang ratu peri, tapi Camille, yang dulu juga sangat memanjakan Clary dan Isabelle, sekarang beralih pada Mellisa. Pimpinan klan vampire New York itu tak pernah absen mengirimkan barang-barang, baju tepatnya, di setiap musim, mengikuti mode terbaru yang sedang hits di New York.

Beberapa jam berikutnya, Alec menemani Mellisa dan Dieter di perpustakaan, menjawab semua pertanyaan dari dua anak itu. Alec tak keberatan karena kedua anak itu sangatlah pintar jadi dia tak harus mengulangi penjelasannya.

Kemudian saat hari mulai beranjak sore, Magnus datang membawa empat kotak pizza dan dua botol besar cola. Dia disambut heboh oleh Mellisa yang langsung menyambar kotak pizza dari tangannya. Magnus menghampiri Alec, mengecup singkat bibir pemuda yang telah menemaninya dalam keabadian.

“Boleh kubawa ini ke dapur?” Pinta Mellisa.

“Ya, ya, bawalah!” Magnus memberikan botol soda pada Dieter yang langsung memeluknya, “Sisakan untuk yang la—” ucapan Magnus tak selesai karena Mellisa dan Dieter sudah keluar dari perpustakaan. “Ya ampun mereka itu…” sang High Warlock  menghela napas panjang.

“Lama sekali? Biasanya satu jam sudah selesai,” tanya Alec yang masih duduk di tempatnya.

Magnus menghempaskan diri di sebelah Alec, “inilah kenapa aku benci klien wanita.”

“Kalau begitu kenapa kau setujui kontraknya?”

“Mana aku tahu kalau dia wanita, di surat kontraknya hanya tercantum nama Chris,” Magnus merankul pundak Alec, “mana si kecil?”

“Di atas dengan Jace. Dia sedang sakit. Lebih baik kau jenguk dia, tadi dia menanyakanmu.”

“Bocah hyper seperti itu bisa sakit juga, ya?” Magnus berdiri dan melepas mantel hitamnya yang panjang hingga dia hanya mengenakan kaus putih tanpa lengan, “kau tidak ikut?”

Alec menggeleng, “Aku mau makan pizza. Pas sekali sedang lapar.”

Mereka berbagi satu kecupan lagi dan keduanya berpisah jalan.

Alec menuju ke dapur dan melihat Mellisa duduk berdampingan dengan Dieter. Tak heran, karena mereka berdua sudah ditunangkan, bukan atas paksaan orang tua, tapi karena memang dua anak itu saling suka dan merasa kalau mereka tak akan berpisah lagi.

“Kau mau makan juga, Alec?” tanya Mellisa.

“Tentu saja. Memang kalian sanggup menghabiskan itu semua?” Alec mengambil sepotong pizza lalu menuju ke lemari pendingin dan mengambil jus jeruk yang dia tahu pasti selalu tersedia di sana.

“Mana Magnus?”

Alec duduk di sebelah keponakannya, “Dia sedang menjenguk Reus di atas.”

“Dia itu senang sekali kalau ada Magnus,” ujar Mellisa.

Pintu dapur terbuka lagi dan kali ini masuklah Jace bersama Simon yang entah kapan datangnya. Simon menyapa seadanya sebelum mengambil sepotong pizza dari kotak yang menuai protes dari Mellisa.

“Hei!! Itu kan yang paling banyak kejunya,” seru gadis kecil itu.

Alec hanya menggelengkan kepala melihat seberapa sukanya Mellisa pada makanan bernama keju. Sepertinya Mellisa akan cocok sekali dengan Milo, vampire penyuka keju. Pandangan Alec kemudian beralih pada Magnus yang masuk sambil menggendong Reus.

“Kenapa kau bawa dia turun?”

“Kau pikir aku ke sini untuk jadi baby sitter?” Magnus duduk di samping Alec sambil memangku Reus yang sepertinya senang bertemu dengan warlock kesayangannya.

“Jace bilang Kardia mengundang kita ke penginapan? Bagaimana?”

“Aku ikut kau saja.”

“Jujur aku ingin mengasingkan diri sejenak dari keramaian New York.”

“Kalau begitu setelah ini kita langsung ke sana saja.”

“Tapi bukannya besok ada janji dengan klien?”

“Sudah kuselesaikan sekalian. Klien besok kenalannya si Chris tadi, makanya sekalian saja,” Magnus memberikan sepotong pizza pada Reus yang menggapai-gapai penuh harap, “jadi kita bisa bersantai setelah ini.

Alec hanya mengangguk. Lalu mereka pun segera menghabiskan pizza yang ada di sana hingga hanya tersisa wadahnya saja. Alec dan Magnus pun berpamitan walau harus sepenuh hati bertahan dari pandangan Mellisa dan Reus yang berharap agar mereka diizinkan ikut.

.

.

Malam sudah meraja begitu Alec juga Magnus sampai ke penginapan milik para murni walau sekarang penginapan itu sudah berkembang menjadi kompleks tempat hiburan yang lengkap untuk para Downworlder. Selain sebuah kolam renang besar, di tempat ini juga sudah berdiri sebuah bangunan yang lumayan luas yang berfungsi sebagai bar dan kasino. Ditambah lagi di bagian yang terpisah, agak masuk ke dalam hutan, ada sebuah rumah bergaya modern dengan dinding yang didominasi oleh kaca. Itu adalah kediaman permanen dari Minos dan Albafica, meski sepasang kekasih paling mesra sejagad itu lebih sering keliling dunia daripada tinggal di rumah mewah itu. Para murni di sini juga menjadi pelanggan tetap Magnus yang setiap setahun sekali selalu memperbaiki pelindung tempat ini agar tak terlacak oleh dunia mundane.

“Oh!! Alec! Magnus!”

Mereka berdua menoleh ke asal suara yang ternyata adalah Milo yang sedang duduk santai di tepi kolam renang, tentu saja bersama Kanon.

“Tumben kalian kemari? Kupikir kalian sudah lupa dengan tempat ini.”

“Mana mungkin. Ini kan tempat pelarian kami,” Magnus menghampiri sepasang vampire-mate itu. “Sepertinya sedang sepi?”

“Tidak juga. Banyak yang terisi kok, tapi tempat ini lama-lama jadi seperti tempat hiburan malam, penuh sesak kalau matahari sudah menghilang.” Milo memainkan kakinya yang ada di dalam air. “Kalian menginap?”

“Tentu saja.”

“Bagus!! Aku akan siapkan kamar kalian. Ayo Kanon!!” Milo menyeret Kanon yang duduk di sebelahnya.

Alec mengikuti Magnus ke bangunan utama yang merupakan ‘kantor’ penginapan sekaligus tempat tinggal para murni. Di dalam ada Camus yang duduk di belakang meja penerima tamu. Pemuda berambut merah itu terkejut melihat siapa yang datang.

“Magnus, Alec. Senang kalian akhirnya datang juga,” tanpa bertanya, Camus mengeluarkan kunci sebuah paviliun, “Kalian akan lama di sini?”

“Rencananya memang begitu,” Magnus menerima kunci itu.

“Kalian mau makan malam apa? Biar sekalian nanti dibuatkan Kardia.”

“Apa saja. Kalau buatan Kardia sih semua akan kami makan. Samakan saja dengan pesanan yang lain.”

Setelahnya, Magnus dan Alec pun menuju ke paviliun yang sudah seperti rumah mereka di sana. Letaknya paling dekat dengan hutan dengan balkon yang langsung menghadap ke alam liar. Selama lima belas tahun, tempat ini sudah banyak berubah. Walau bangunannya masih didominasi kayu, tapi bagian dalamnya lebih modern, tentu saja sekarang tempat ini dilengkapi dengan sistem kedap suara untuk lebih menjaga privasi para tamu.

Alec duduk di tempat tidur dan menyalakan televisi walau ujungnya benda itu hanya berfungsi sebagai peramai suasana saja. “Tenangnya kalau tidak terdengar suara kendaraan bermotor,” pemuda berambut hitam itu merebahkan diri di kasur.

Menggantung jaketnya dilemari, Magnus duduk di sebelah Alec, “Berapa lama enaknya kita di sini?”

“Seminggu.”

Magnus ikut rebahan dan dia merangkul pinggang Alec dan mereka bersisian dalam diam. Ini menjadi waktu yang sangat menyenangkan untuk mereka. Tak perlu berkata, tanpa suara, mereka menikmati keberadaan satu sama lain.

.

Suara ketukan di pintu membuat Magnus beranjak perlahan dari kasur karena Alec ternyata sudah pulas. Warlock itu membuka pintu dan terkejut melihat sosok pemuda berambut hitam yang tak pernah dia temui sebelumnya. Pemuda itu membawa kereta dorong berisi dua porsi makan malam yang meski ditutupi, aromanya tetap menyebar.

“Kardia memintaku mengantar ini untuk kalian,” ujar pemuda itu.

“Oh, thanks,” Magnus menarik kereta itu ke dalam kamar. Belum lagi dia bicara, pemuda asing tadi sudah beranjak pergi. Magnus menaikkan sebelah alisnya heran, tapi dia tak berpikir apa-apa dan langsung menutup pintunya lagi.

Saat dia menoleh, Alec sudah duduk dengan wajah masih kelihatan sangat mengantuk, “Makan malam?”

Magnus tersenyum, “Kau itu ya, padahal tadi sudah pulas  tapi masih sempat saja mencium bau makanan.”

“Karena aku lapar,” Alec beranjak dari kasur dan menyusul Magnus ke meja makan bulat kecil yang memang disediakan untuk dua orang. dia mengambil sebuah piring besar dan langsung duduk. Begitu dia membuka tutupnya, aroma yang menyebar bebas makin membuatnya lapar. “Kardia itu vampire, tapi masakannya bahkan lebih enak dari masakan mum.”

Mereka berdua memandang sajian di piring yang berisi kentang tumbuk, iga bakar, sayuran segar yang dibumbui saus kental yang dari aromanya bisa dipastikan berasa pedas. Tak banyak bicara,  keduanya menikmati makanan yang sangat lezat itu.

Sedang enak makan, terdengar suara penanda email masuk dari ponsel Alec. Pemuda berambut hitam itu menjentikkan jadi dan di tangannya muncullah gadget berlayar transparan. Sekarang itu juga sudah menjadi kebiasaannya, kalau dia sedang makan dan ada telepon atau email, praktisnya memang memakai sihir. Tidak perlu berdiri.

“Siapa?” tanya Magnus.

“Izzy. Dia bilang besok kita di suruh ke Institute karena ada makan malam keluarga. Bagaimana?”

“Ya tidak apa-apa. Kita bisa berangkat dari sini, lalu kembali ke sini lagi setelahnya.”

“Kalau Reus tidak menahanmu dengan mukanya yang bahkan bisa menaklukan Valentine itu.”

Magnus tertawa, “Gampanglah itu, nanti kita bawa saja anak-anak kemari. Sudah saatnya mereka berkenalan dengan para murni di sini.”

“Kita bahas itu nanti,” Alec mengiris daging iga di piringnya, “yang jelas sekarang aku lapar.”

Keduanya tak bicara lagi dan menikmati santap malam itu. Setelah puas, mereka beranjak ke beranda belakang dan duduk di kursi ayun yang terbuat dari kayu. Pemandangan hutan di malam hari sangat memanjakan mata. Belum lagi udara yang sejuk dan suasana yang jauh dari bisingnya kendaraan bermotor, meski satu dua kali terdengar lolongan serigala di kejauhan.

Tangan Magnus merangkul pundak Alec, membawa kekasihnya itu merapat. Malam yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.

“Hmm?” Magnus merasakan jemari Alec menyelinap di sela jemarinya, “Ada apa?”

Alec hanya menggeleng.

“Jangan menggodaku, atau aku akan lakukan hal-hal yang aku inginkan.”

“Lakukan saja.”

Sebelah alis Magnus terangkat. Well, lima belas tahun hidup bersama Alec masih sering membuat Magnus dikejutkan dengan perubahan-perubahan kecil dari kekasihnya ini. Alec yang dulu tidak akan terang-terangan ‘mengajak’nya seperti ini.

“Hmm… kalau begini, jangan protes, ya?!” tangan Magnus melingkar di pinggang Alec saat dia mencium bibir sang ex-Shadowhunter.

Dalam cumbuan mereka, ingatan Magnus berkelana di tahun-tahun awal Alec menemaninya dalam keabadian. Di mana waktu mulai menampakkan kuasanya, saat Alec memandang orang-orang di keluarganya terus bertumbuh, saat adik-adinya menjadi dewasa, melebihi saat dia terhenti dalam usianya yang ke-sembilan belas tahun.

Semampunya Magnus berusaha membuat Alec merasa nyaman dan dia bersyukur keluarga Alec tetap bersikap seperti biasa. Isabelle dan Max malah sering sekali mendatangi Alec untuk curhat kalau mereka ada kesulitan. Dua anak itu masih sering bermanja pada Alec walau secara fisik mereka sudah lebih tua dari sang kakak. Magnus tak henti mengucapkan terima kasih dan Isabelle selalu berkata kalau sampai kapanpun, Alec  akan tetap menjadi kakaknya.

Itulah yang membuat Alec melupakan kegalauannya yang tidak penting dan kembali menemukan tempatnya di tengah perputaran waktu yang terus berjalan tanpa menoleh kepadanya.

 Magnus mengakhiri ciuman panjang yang dia bagi bersama Alec lalu berdiri, “Empuknya kasur lebih menggoda dari kursi kayu ini,” dia mengulurkan tangan pada Alec dan langsung disambut oleh pemilik mata biru yang berhasil memenjarakan hati Magnus, memberinya tempat persinggahan hati yang terakhir.

Mereka pun beranjak kembali ke dalam kamar. Magnus menjentikkan jari dan membuat semua lampu di sana padam juga dua pintu menuju luar terkunci sempurna. Malam ini dia tak ingin ada yang mengganggu kebersamaan mereka. Malam ini akan menjadi satu malam lain yang sempurna untuk mereka.

oxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo

TO BE CONTINUED

oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxo