Work Text:
Imbroglio.
[Definiton taken from Merriam-Webster]
a: an acutely painful or embarrassing misunderstanding
c: a violently confused or bitterly complicated altercation (synonym: EMBROILMENT)
d: an intricate or complicated situation (as in a drama or novel)
Dirinya sudah hampir menutup diri. Untuk apa memberikan kepercayaan pada orang lain? Brengsek. Brengsek. Brengsek! Bahkan Iruma Juto yang memang sudah lama dikenalnya, bisa berbalik memunggunginya atau kembali mengekorinya di situasi yang berlawanan. Saat masih punya kepentingan, siapapun bisa bertekuk lutut atau bahkan menjilati sepatunya. Menuruti apapun keinginannya.
"Sialan."
Sekelumit perasaan hinggap sedetik. Hanya sedetik. Pun dirinya sudah mulai meracau sana-sini, memungut sebungkus rokok yang tandas separuh isinya, memantikkan api, lalu kembali menghembuskan napas berat. Sungguh kebohongan saat dia bilang hanya membutuhkan dua (atau mungkin tiga) hal di hidupnya.
Sake. Wanita. Adik perempuannya.
Nyatanya, hanya ada satu yang dia butuhkan dan keberadaannya samasekali hilang dari pandangan. Luka masih terhujam jauh dalam hatinya. Tatkala teringat dengan sosok bocah pemarah yang bisa membuat perasaannya melayang tinggi karena antusiasme, Samatoki sangat ingin pergi menemuinya dan menumpas habis seringai bodohnya. Hingga ia terkulai dengan tubuh berbalut debu di tanah kotor Ikebukuro, luka-luka lebam, darah yang bercucuran di pelipisnya. Seperti saat kali pertama mereka bertemu.
Berkali-kali Samatoki mencoba menjalin hubungan baru. Pacaran? Teman-dengan-keuntungan? Yang manapun itu. Semua berujung pada kemiripan; tinggi semampai, bersurai hitam, bermata hijau. Tapi tak ada satupun yang mungkin memiliki manik mata berbeda warna. Ataupun tahilalat yang bertengger manis di bawah mata sebelah kiri.
Mengingat namanya saja sudah membuat darah Samatoki naik hingga ujung kepala. Hampir setahun berlalu tapi tak sedikitpun amarahnya meredup. Jangan ada satu orang pun yang berani-beraninya menyebut nama Yamada Ichiro di hadapan Aohitsugi Samatoki.
Tak peduli lagi soal membentuk kru baru. Berkali-kali Juto memperingatkannya agar segera bergerak. Persetan dengan semua itu! Yang ia mau hanya menghancurkan seringai kekakanakan di wajah bocah keparat itu. Membuatnya lebam, lemah, melihat ekspresi kekalahannya.
Sendirian berada dalam ruang kerjanya, perasaan aneh itu menjalar semakin jauh. Bagaimana mungkin. Tentu saja dia tidak sepenting itu. Dia cuma bocah. Yang tertawa renyah sambil menenteng ijazah SMA dan dipamerkannya pada Samatoki. Yang terus mengikutinya sambil memanggil, “Samatoki-san!” berulang-ulang. Yang memiliki keberanian untuk menentang kemutlakan perintahnya.
Yang kepadanya ia bisa menjadi diri sendiri seutuhnya.
Samatoki sangat sangat sangat ingin menghancurkan dia. Hingga ia tak mampu melawan dan berbalik menjadi submisif. Tunduk pada perintahnya.
Pernah dia satu atau dua kali berlaku submisif padanya. Aneh. Samatoki memang menginginkannya. Tapi ketegasan, kuat, dan sedikit brutal memang lebih cocok dengan sosok itu. Bocah badung itu jarang peduli pada dirinya sendiri. Dia takkan segan melakukan hal apapun jika itu menyangkut adik-adiknya. Padahal daripada menjadi tukang pukul, dia lebih baik duduk diam mendampingi Samatoki di markasnya. Sesekali bisa lah adu pukul dengan kelompok pembangkang.
“Aduh, kurasa nggak bisa. Aku nggak punya kemampuan yang setara dengan anak buah Samatoki-san. Lagipula lulus SMA saja belum. Bisa gawat kalau ketahuan jadi yakuza sebelum kelulusan.” Wajahnya tersipu dengan lucu. Samatoki masih mengingat seluruh detailnya. Sekali lagi menghembuskan asap rokok dengan helaan napas yang panjang.
Jika ditelisik lagi.. Kapan kali terakhir mereka bertemu? Saat pertarungan terakhir sebelum kehancuran The Dirty Dawg? Oh, bukan. Hari ulang tahun Aohitsugi Nemu.
Kala itu Nemu meminta Samatoki membiarkan dirinya merayakan ulang tahun ala anak lima tahunan, “Onii-chan, aku mau makan happy mials. Kangen rasanya dulu sama Ibu kan selalu rayain ultah sambil makan happy mials!”
Samatoki dan Nemu masuk restoran cepat saji. Naasnya, Nemu menemukan sosok Ichiro lebih cepat 0,2 detik sebelum Samatoki menyadarinya. Ekspresi terkejutnya yang dungu masih terpatri sangat jelas. Nemu memanggilnya dengan sangat keras sambil setengah berlari ke arah meja paling ujung, “ICHIRO-KUN!!”
Saat itu Samatoki hampir refleks berlari jika saja Nemu tidak memberikan senyuman mematikannya. “Onii-chan, kita duduk di sini saja ya bareng Ichiro-kun! Aku kangen loh, kan sudah lama ga pernah makan bareng bertiga.”
Setengah hati, Samatoki menurutinya. Ia tidak boleh menghajar bocah brengsek ini di hadapan adik kesayangannya. Terutama di hari kelahirannya yang seharusnya berlangsung dalam nuansa bahagia. Ichiro tampak membatu. Berkali-kali berusaha mengalihkan pandangan dengan tetap menggenggam burger keju di tangan. Ia jelas tau mereka tidak boleh adu jotos di hadapan Nemu.
Tentu saja ia tidak bisa tidak memperhatikan perubahan penampilan Ichiro. Kini ia memanjangkan rambut? Itu terlihat cocok sekali. Kesukaannya terhadap hoodie masih sama. Celana panjang oversized. Lalu sepatu sneakers. Benar-benar selera Ichiro.
Nemu duduk di kursi yang dekat dengan jendela. Sehingga Samatoki terpaksa harus duduk berhadapan dengan Ichiro. Astaga, apa yang harus kulakukan. Nemu melihat keanehan dari dua orang yang seharusnya dekat. Ia tersenyum. Sebelum berkata, “Aku sedang merayakan ulang tahunku bersama Onii-chan. Ichiro-kun ikut juga ya? Mau happy mials nggak? Hadiahnya figurine anime lho. Ichiro-kun kan suka.”
Ichiro menjawab dengan suara beratnya (dalam hati, Samatoki tanpa sadar mengucap akhirnya), tergugu dengan manis dan berkata, “E-Eh, iya. Aohitsugi-san hari ini ulang tahun?”
Nemu terbahak-bahak, “aduh, santai saja! Biasanya kan panggil Nemu. Onii-chan juga, sapa Ichiro-kun dong!” Gantian Samatoki yang tergugu. Astaga ia harus bilang apa!? Hai, mantan, gitu?!
Daripada harus menyapa bocah sialan ini, Samatoki memilih bangkit dari kursi, berjalan cepat menuju antrian untuk memesan tiga paket happy mials. Ia mendengar dari kejauhan, tawa Nemu yang semakin menjadi-jadi.
Mereka bertiga berakhir makan dengan damai. Tidak ada teriakan, tidak ada umpatan, tidak ada kebencian.
Samatoki menatap langit melalui celah tirai. Tidak ada pelangi.
Sekali lagi ia menghidup dalam-dalam, menghembuskan asapnya berlahan-lahan. Berkata pada keheningan,
“Sesulit itukah memahami bahwa aku hanya ingin kau berada di sisiku, bocah keparat?”
