Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of loop
Stats:
Published:
2019-01-30
Words:
1,011
Chapters:
1/1
Kudos:
35
Hits:
421

proliferate

Summary:

Kau bisa bersembunyi.

Tapi tak mungkin selamanya.
.
.
.
SamaIchi. TDD era.

Notes:

i should sleep, it's 2AM.
hujan, waktu yang tepat untuk menulis.
daku kembali lebih cepat dari perkiraan wwww
ini kacau tapi.. semoga suka!

Hypnosis Microphone and its characters belongs to KING RECORD. Purely non-profitable fanwork.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Proliferate

[definition taken from merriam webster]

1 : to grow or cause to grow by rapid production of new parts, cells, buds, or offspring

2 : to increase or cause to increase in number as if by proliferating : multiply

 


   

“Ichiro! Kau berkelahi lagi?”

Ramuda berlari menghampiri Ichiro yang baru saja datang. Dalam keadaan babak belur. Luka-luka lebam di pipi kanan, dekat ceruk leher, dan di dekat pergelangan tangan. Seharusnya ia datang setengah jam lalu, seharusnya. Tapi sesuatu terjadi sebelum ini. Samatoki melotot ke arah Ichiro. Sang pemilik nama tidak memberikan jawaban. Hanya terkekeh dan mencoba mengarahkan pandangan ke arah lain. Jakurai berusaha memaklumi. “Ichiro-kun, lagi-lagi terlambat karena berkelahi. Kemarilah, biar kurawat lukamu.”

Secara otomatis ia duduk di samping Jakurai. Sambil menggumamkan, ‘maaf, terima kasih’. Selagi Jakurai mengoleskan alkohol steril pada luka-lukanya, Samatoki mulai menggerutu,

“Bocah memang tidak tau aturan. Bisa-bisanya datang terlambat. Kau mau kubunuh–”

“Ichiro-kun, bisa buka gakuranmu? Di sebelah sini ada luka juga kan?”

Samatoki berdecih karena omelannya dihentikan (secara tidak langsung) oleh Jakurai. Tidak bisa membantah, Ichiro bergerak melepaskan ikatan slayer di tangan kanannya. Barulah ia menanggalkan seragam sekolahnya. Mendapati kejanggalan, Jakurai semakin memicingkan mata. “Ini bukan luka dua minggu lalu? Kenapa tidak bilang kalau infeksi?”

Ichiro yang daritadi sibuk menahan rasa sakit, mau tidak mau harus mengaku, “Hehe, iya nih, Jakurai-san. Kemarin terlalu sibuk jadi lukanya jarang kubersihkan. Tiba-tiba udah infeksi..”

Dokter itu menghela napas, “Lain kali bilang. Kalau makin parah malah jadi masalah,” dan dibalas dengan tawa olehnya.

Saat itu Samatoki samasekali tidak menyadari perubahan drastis dari rekan satu tim kesayangannya.

 


Ichiro datang ke kediaman Jakurai. Tengah malam. Dengan darah mengucur deras dari luka di paha kirinya. Hampir seluruh tubuhnya berlumuran darah yang mulai mengering. "Astaga, cepat kemari! Sebenarnya apa yang kau lakukan, Ichiro-kun!?"

Dia hanya tertawa. 

Di pagi harinya, Samatoki datang ke rumah Jakurai karena tidak mendapati keberadaan bocah itu di panti asuhan. Motornya terparkir asal-asalan. Tentu saja dia khawatir. Belakangan ini Ichiro sangat sering terluka. Jika saja Sensei tidak memberitahunya, Samatoki akan menunggu di sana hingga waktu Ichiro pulang sekolah. Sialan, dia malah terkapar.

Jakurai mengizinkannya masuk. Samatoki tidak banyak bicara. Di sebelah ruangan ini, Ichiro sedang tak sadarkan diri. Kehilangan banyak darah. Jakurai memberinya beberapa petunjuk. Bahwa bocah sialan itu jadi tukang pukul di tempat anak buahnya. Dengan kata lain, dia menjadi bawahan dari anak buah Samatoki. Astaga. Pantas saja tiap hari luka-luka. Tidak mau jadi yakuza tapi mau jadi anjing yakuza rendahan? Bodoh juga ada batasnya.

Setelah menghidangkan teh hangat, Jakurai izin berangkat ke rumah sakit. Dia meminta Samatoki menjaga Ichiro hingga dia sadar. Tanpa diminta pun Samatoki sudah berniat melakukan hal yang demikian. Samatoki kembali ke tempat Ichiro terbaring.

Ichiro tampak begitu rapuh. Mungkin ini dirinya yang sesungguhnya. Samatoki mengelus punggung tangannya yang sedikit dingin. Dahulu Ichiro tidak selemah ini. Bahkan setelah ia dihajar hingga babak belur oleh Samatoki, lukanya sembuh dengan cepat. Terlalu cepat. Ichiro bergurau, "kan aku masih muda. Regenerasi selku masih sangat bagus. Tidak seperti Samatoki-san yang udah ubanan. Padahal masih 22 tahun."

Samatoki yakin. Ada hal lain yang disembunyikan olehnya.

 


 

 

Hari ini ichiro datang. Kebetulan Samatoki sendirian di ruang kerjanya. Ramuda dan Jakurai tidak ada. Kali ini ia datang dengan luka goresan di pipi. 

“Bodoh! Kali ini kau adu jotos dengan begundal yang mana lagi?”

“Gapapa lah. Kan cuma dikit lukanya,” ia mengerucutkan bibir. Jika saja di situasi yang lain, Samatoki pasti langsung ingin mengecup ujung bibirnya, “ya memang. Luka gores tidak semudah itu infeksi. Seharusnya hanya butuh tiga hari sudah sembuh total.”

Ichiro tetap hening. ia paham jika Samatoki sudah tau semuanya. “Itu. Kau kira bisa terus menyembunyikannya dariku?”

Dia terkekeh. Berdiri, mendekati Samatoki dan duduk di pinggiran kursi. Tidak menjelaskan apapun. Mereka bertukar pandangan selama sepersekian menit, “hehe, begitulah.”

“Apanya yang begitulah, dasar tolol!”

“Walaupun kukatakan, sisa umurku juga tidak akan bertambah kan?” Brengsek. Setidaknya jika kau katakan padaku, takkan sesering itu aku memarahimu.

Senyum merekah dari bibirnya yang sedikit sobek di ujung, “Samatoki-san tidak tau kalau leukimia memang fatal, tapi masih ada cara untuk mengontrol dan menanganinya?

Persetan. Apapun itu, Samatoki akan menemukannya. Apapun untuk membuatnya tetap berada disini. Apapun yang bisa mengurangi rasa sakit yang dia rasakan.

Ichiro tertawa. Semakin kencang. Semakin keras. Samatoki tak bisa lagi membedakan maknanya. Lalu tertunduk dalam. Tangan kirinya menggenggam asal sejumput surai hitamnya. “Haha. Hahaha.”

Jika Samatoki tidak pernah terlihat bingung, maka sekaranglah. Ichiro berjarak kurang dari satu meter darinya. Ah, sudahlah.

“E-Eh!?” Ichiro nyaris terperanjat tatkala Samatoki menariknya dari pinggiran kursi. Cukup kuat sehingga kini ia jatuh menindihi yang lebih tua. Tanpa berpandangan, pun dia tau Samatoki sedang melihatnya dengan tatapan yang sulit dimaknai. Jemari Samatoki merengkuh punggung Ichiro. Diam sebentar, hangat. Lalu memaksanya berhenti menyangga tubuh. Biar. Biarkan kau bersandar. Hanya padaku. Berat tubuhmu tak ada apa-apanya.

Meski tak bisa melihat mimik mukanya, ia tau Ichiro tersipu. Telinganya bersemu kemerahan. Detak jantungnya dekat, mungkin terlalu dekat. Saling bersahutan dengan detak miliknya. Selaras. Tentu saja ia juga merasa malu dengan posisi yang seperti ini. Bukan berarti ini buruk. Merengkuh Ichiro sedekat ini tidak bisa dilakukan kapan saja saat ia mau.

Perlahan napas Ichiro mulai teratur. Gejolak emosi tak stabil sebelumnya sudah terlewati. Kali ini berubah menjadi isakan yang sudah ditahan secara berlebihan.

“Aku.. Aku masih ingin hidup, Samatoki-san.” Bersamamu. Menertawakanmu kala kau melakukan tingkah bodoh. Menertawakanmu yang dimarahi Nemu-chan. Menertawakanmu yang tersipu karena Ramuda terus menggodamu. Menertawakanmu yang tak kunjung jujur padaku.

 "Kenapa nggak jujur saja kalau kau ingin terus di sisiku, bocah?"

Ichiro memukul pelan di atas dada bidang Samatoki. Kembali mengerucutkan bibir sebelum ia berkata, "Lagian Samatoki-san kenapa gak mau bilang kalau aku ini kesayanganmu?"

Samatoki tidak tahan. Kedua pipi Ichiro diraihnya. Kecupan kecil berlabuh di bibir. Bau anyir darah bertabur rasa asin air mata. Ichiro tersenyum, yang tercerah sepanjang sore itu, "salah, yang benar itu aku sangat menyayangimu. Si bodoh yang berani membantahku."

Tawa Ichiro semakin intens, "Aku ingin melakukan banyak hal bersama Samatoki-san!"

Samatoki bangkit, tubuh Ichiro diangkatnya sebentar. Kembali menindih Samatoki yang duduk santai di atas sofa. Ia memangku Ichiro yang terus tersipu malu. Keduanya bertatapan. Dahi yang bersentuhan, rambut yang bertindihan, jemari yang bertautan.

 

“Bukankah kita bisa melakukan apapun sebebas-bebasnya?"

Notes:

halo~
kali ini ku datang dengan fiksi yang sedikit lebih memakan usaha.
bisa dibilang langsung ada kaitannya dengan fiksi sebelumnya. bisa juga nggak, kali aja di universe yang berbeda /desh
tapi tetep ada korelasinya kok.
daku menulis ini berbekal word of the day yang didapatkan dari merriam-webster.com
untuk seterusnya, di serial ini bakal begitu juga owo
Samatoki TDD kenapa ganteng banget sobs---
oke, sekian celotehannya. semoga bisa dinikmati. sampai jumpa lain hari!

salam, furo

Series this work belongs to: