Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of elefante
Stats:
Published:
2019-05-16
Words:
1,005
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Bookmarks:
1
Hits:
74

Paper Hearts

Summary:

Di genggaman tangan Taehyung, ada origami hati sekaligus Jungkook di dalamnya. Begitupun sebaliknya

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

[1]

Apa musim dingin itu?

Sebuah pertanyaan konyol, pikir Kim Taehyung. Semua orang pasti tahu apa itu musim dingin; waktu di mana udara berada di bawah temperatur sepuluh derajat celcius dengan embusan beku dimana-mana.

"Terlalu lama berpikir, Kim."

Matanya bergulir menatap manik obsidian Jeon Jungkook yang berkilat-kilat sementara jaket yang dikenakannya kusut di beberapa tempat, sehingga garis-garis menghiasi sudut-sudut fabriknya akibat ditarik lebih rapat oleh sang empu.

"Pertanyaan bodoh, Jeon," kelakarnya diselingi gelak tawa halus melihat wajah merengut pemuda Jeon di depannya yang manis. "Kau hidup di jaman purba atau apa?"

Jungkook mendengus keras-keras. "Aku tahu itu, yang kutanyakan adalah artinya bagimu," sahut Jungkook kesal. "Jadi kuulangi."

Taehyung menatap wajah Jungkook dengan seksama, menunggunya untuk kembali mempertanyakan pertanyaan yang sudah diulanginya selama seminggu terakhir.

"Apa makna musim dingin bagimu?"

Taehyung menengadahkan kepalanya ke atas, menatap langit kota yang diselimuti awan putih tebal sementara titik-titik salju turun menyentuh epidermis durjanya yang tidak diselimuti apapun. Lalu menutup kelopak matanya.

Kertas berbentuk hati warna biru memenuhi otaknya dalam waktu sepersekon kemudian.

"Jungkook," suara Taehyung terangkat diselimuti semilir angin yang menerbangkan gelombang bunyi dari bibirnya yang memucat. "Paper Hearts."

[2]

"Musim dingin itu artinya berkumpul bersama keluarga," kata Jungkook suatu hari.

Taehyung sedang membuat origami hati dari kertas ketika Jungkook berkelakar sambil mendudukan dirinya di atas kursi kosong berwarna biru langit di sampingnya.

"Liburan di musim dingin sebagai perintah," lanjut Jungkook berapi-api yang tidak dipedulikan Taehyung yang sedang menyelesaikan origami hatinya yang ketujuh ratus tiga puluh. "kau harus pulang, Taehyung."

Pulang ya?

Kim Taehyung mengembuskan napasnya hingga uap pekat mengudara di sekitar mulutnya yang pudar terbawa udara, lalu matanya beralih pada Jungkook yang sedang berusaha merapatkan jaketnya yang tipis sambil bernapas dengan mulut terbuka. Senyum tipisnya tertarik ke atas lalu ia bersuara, "Aku tidak butuh rumah."

"Tapi rumah membutuhkanmu." sahutnya sambil menghalau rasa dingin di permukaan kulitnya dengan menggesek kedua telapak tangan lalu menempelkannya pada seluruh tubuh. "Appa dan Eomma membutuhkanmu."

"Ada kau," Taehyung berfonem. "Aku punya kau, Jungkook."

"Haruskah aku terharu?" tanya Jungkook main-main.

Jeon-sialan-Jungkook.

[3]

Musim dingin ketiga, Jungkook kembali bertanya pada Taehyung apa arti musim dingin bagi laki-laki itu.

"Kau."

"Aku serius, hyung."

Derit tawanya terangkat bersamaan dengan semilir angin musim dingin yang menerpa wajah Taehyung yang memerah akibat udara dingin.

"Aku juga serius," balas Taehyung sambil menampik rasa tergelitik pada perutnya ketika Jungkook mengerucutkan bibirnya lucu. "Jungkook musim dinginnya Taehyung, habis perkara."

Taehyung sempat melihat senyum Jungkook yang muncul dan menghilang dalam waktu lima detik yang terasa seperti lima menit lamanya ketika matanya melirik kertas berbentuk hati yang entah sejak kapan berada di telapak tangan besar laki-laki itu.

"Kalau begitu," Jungkook menengadahkan kepalanya untuk menatap langit yang sama dengan Taehyung sambil mengembuskan napas keras-keras, lalu ia menatap Taehyung dengan mata bulatnya yang berbinar. "Untukmu," ujarnya sambil menyerahkan kertas origami berbentuk hati kebiruan pada Taehyung yang masih termangu di sebelahnya. "Sebagian hatiku."

"Aku juga mencintaimu."

[4]

Musim dingin keempat, Taehyung melewati malamnya sendiri di depan perapian rumah kecilnya bersama detik jarum jam yang bertalu membosankan dan hawa dingin yang berhasil merangsek masuk dari sela-sela lubang ventilasi.

Jungkook ditugaskan ke luar kota dua bulan yang lalu dan baru pulang bulan depan, setidaknya begitulah yang Jungkook katakan padanya.

Ia duduk meringkuk diselimuti kain beludru berwarna merah darah milik Jungkook sambil memegang sebuah toples berisi seribu empat ratus enam puluh kertas hati berwarna biru toska dengan kencang, melafalkan doa-doa pada Sang Maha Kuasa untuk melindungi Jeon Jungkook di luar sana karena cuaca musim dingin kali ini lebih membahayakan dari tahun-tahun sebelumnya.

Telinganya tidak bisa pura-pura tuli ketika penyiar radio memberitakan ramalan cuaca dan keadaan lalu lintas yang tidak bersahabat karena tertutupi oleh debu-debu salju yang menumpuk dengan kelewat lugas hingga membuat perasaannya mendadak tidak enak.

"Terjadi kecelakaan," kata sang penyiar dengan suaranya yang memikat, mampu membawa Taehyung pada bayangan yang terjadi saat itu. "Di Madison Avenue, mobil sedan berwarna biru menabak truk tangki bahan bakar dan tersambar ledakan yang disebabkan gesekan antar besi dan cairan kimia tersebut..."

Lalu sebuah dering berbunyi nyaring memekakan telinga dari arah sekat pembatas antara ruang makan dan dapur membuat Taehyung harus beranjak dari tempatnya untuk mengangkat panggilan di malam hari yang sunyi itu.

"Jungookㅡ"

Kecelakaan.

[5]

Taehyung menggenggam kertas berbentuk hati yang Jungkook berikan padanya dua musim dingin lalu sambil mengusapnya penuh kehati-hatian seolah kertas tersebut tak ubahnya permata yang rapuh dan bisa hancur kapan saja.

Jungkook bilang kertas itu adalah sebagian dari hatinya yang harus dijaga oleh Taehyung agar Jungkook bisa terus hidup untuknya.

Ia ingat Jungkook selalu berceloteh tentang musim dingin dan kertas hati buatan Taehyung tiap kali mereka bertemu, yang dulu membuat Taehyung jenuh kini membuatnya rindu.

Jungkook duduk di balkon kamarnya yang sempit sambil menatap bintang gemerlapan tanpa bergerak sedikit pun dalam keheningan, hanya ada suara embusan angin malam musim dingin ditambah bunyi detik jarum jam yang menyuarakan bunyi yang sama selama lima tahun terakhir.

"Jungkook-ah," panggil Taehyung pelan ketika tangannya sudah memegang pundak yang tadinya kokoh itu sambil mengusapnya lembut. "Ayo masuk, di sini dingㅡ"

"Apa arti musim dingin bagimu?" tanya Jungkook kaku.

Taehyung tersenak kata.

"Hyung," desak Jungkook sambil menoleh menatap Taehyung. "Apakah musim dinginmu masih aku?"

Taehyung menggenggam kertas hatinya kencang-kencang hingga lumat dan tidak lagi berbentuk hati, ia menahannya. Ia menahan rasa sesak yang menjalar dari dada hingga otak dan persendiannya melihat wajah Jungkook yang hancur menatapnya tanpa harapan.

"Paper Hearts," jawab Taehyung dengan suara yang dibuat sebiasa mungkin. "Dan Jeon Jungkook."

Jungkook memalingkan wajahnya.

"Jaga sebagian hatiku, hyung."

"Aku juga mencintaimu."

[6]

Jeon Jungkook
Busan, 1 September 1979
New York, 26 Desember 1999

[7]

Musim dingin tahun ini tidak sedingin biasanya, Taehyung masih bisa berjalan bebas keluar dengan baju kaos tipis bersama Emily yang menggandeng tangannya sambil melompat-lompat kecil sementara rambutnya yang dikepang satu bergerak-gerak kecil di belakang punggungnya.

"Appa." Emily bersuara. "Kita akan bertemu dengan Daddy hari ini, 'kan?"

Taehyung menunduk, menatap eksistensi mungil Emily yang sedang asik berjalan dengan kaki-kaki panjangnya sambil tersenyum ceria dan menyapa siapapun yang ditemuinya.

"Ya, kita akan bertemu Jungkook-Daddy."

Lalu ia merasakan sapuan halus di rambutnya yang kecokelatan diterbangkan angin, dan ia mafhum betul Jungkook mengawasinya.

FIN

 

Notes:

Paper Hearts=Jaga Hatiku=Aku mencintaimu.

Terimakasih sudah mampir!

Love,
Ikkika.

Series this work belongs to: