Chapter Text
netranya yang sudah dimodifikasi dengan kontak lensa berwarna biru berpendar tanpa ragu, menembus ritmis hujan yang membaur dengan petrikor di bawahnya. sementara rambutnya yang senada mulai lepek lantaran diciumi likuid yang turun dari kumulus di atasnya.
tungkainya memaksa mengecup jalanan becek lantas mengabaikan eksistensi ranai hujan yang menggenang di tiap langkahnya. lalu dengan menggunakan tangannya yang sempit, ia menghalau air hujan mengenai seluruh rambutnya yang dicat biru sebelum menggerutu pada langit yang tak urung menangis meraung-raung membuat bumi basah dengan cara yang berlebihan.
"kau datang juga," gumam si jelaga yang duduk di ujung ruangan sambil bersedekap. "terlambat lima menit."
"jangan terlalu dramatis," gerutunya pada sang empu, lantas duduk di hadapannya dengan cengiran polos seperti biasa. "jarak dari kampus dan kafe ini tidak sedekat yang kau kira, kook."
mungkin jeon jungkook memang sengaja menggoda kim taehyung yang tak henti menggerutu perihal hujan dan segala tetek bengeknya dengan si pengurai petrikor, meniti sejauh mana seorang taehyung dapat mengoceh dengan bibir tipisnya yang semanis buah pir itu.
jika diibaratkan anomali, maka jungkook adalah anomali di dunia yang dipijaknya.
tidak pada tempatnya; menjadi mahasiswa akuntansi yang tidak pernah mendapatkan nilai di atas tiga koma sekalipun ia sudah nyaris empat tahun menjejaki bangku kuliah.
tidak seperti yang diharapkan kedua orang tuanya; hidup dengan bantuan orang lain tapi tidak bisa membuktikan kelebihannya.
namun daripada itu semua, kim taehyunglah yang menempati anomali kehidupannya, satu-satunya manusia yang hadir dalam keadaan yang tak seharusnya.
tak seharusnya ia mengenal kim taehyung ketika mereka masih sering berkomunikasi lewat situs penulis.
tak seharusnya ia jatuh hati pada taehyung dan kalimatnya dalam setiap frasa dan paragraf yang membuat bulu romannya berdiri.
tak seharusnya ia mengagumi taehyung lebih dari pembaca pada penulisnya.
"apa yang kau pikirkan?" taehyung menyentakkan jungkook pada dunia nyata setelah selesai menyulut api dari pemantik dan menyalakan sigaretnya lalu mengisapnya dengan begitu nikmat. "oh sial, aku butuh yang rasa menthol."
alisnya menukik tajam kala asap serupa awan kumulunimbus itu merangsek masuk mendobrak indera pembaunya, lantas alveolusnya yang tidak tahan dengan asap mengeluarkan protes dengan cara membuat jeon terbatuk-batuk.
"kukira kau tahu rokok tidak baik untuk paru-paru," gumam yang lebih muda dengan kesal walau ia tahu ada kemuskilan dalam membuat taehyung berhenti merokok. "makan sendiri rokokmu, dasar bodoh."
netra lautan itu memandangi rintik hujan yang menabrak jendela kaca di sampingnya, lalu mendongak menatap kumulus pekat yang penaka menantangnya untuk berduel lalu mengolok ketidakmampuannya mencapai troposfer teratas dan menghancurkan evaporasi yang hari ini mengacaukan harinya.
"bagaimana jepang?" tanya jungkook setelah lima menit berlalu dan taehyung tak jua membalas tegurannya, ia jadi ikut-ikutan menatap kumulus yang saling bertabrakan hingga menciptakan kilat yang memekakkan telinga itu dengan serius. "kudengar kau baru selesai menyelesaikan tugas menghafalㅡberapa kanji?"
"menulis kanji dengan komputer lalu menggambarkan tiap frasanya," sahut taehyung tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca di hadapannya.
"ya itulah." jungkook menanggapi sambil lalu. "apa kau berhasil?"
taehyung mengisap kembali sigaretnya, kali ini ia mengisapnya dengan sekuat tenaga seolah sedang menyedot secangkir kafein yang menggoda tanpa perasaan, hingga jungkook sampai bergidik melihatnya. lalu ia mengeluarkan sigaretnya dari bilabial buah pirnya sebelum aerosol pekat menguar dari balik buah pir manis itu.
"awan bodoh itu." vokalnya seraya menuding ke arah kumulus yang semakin pekat. "membuatnya basah dan aku mendapat nilai e untuk tugas itu, brengsek."
"dia hanya awan hyung."
"bodo amat," vokal taehyung dengan nada tak acuh, lalu membuang sigaretnya ke asbak yang sudah penuh dengan limbah serupa. "aku membencinya, dia tidak seharusnya berada di sana saat aku harus mengumpulkan tugas akhir."
"jadi." jungkook menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang didudukinya. "itu yang membuatmu telat? si pak tua itu menceramahimu?"
"aku sedang tak ingin membahas dosenku yang satu itu," tukas taehyung tajam lantas kembali bertanya, "apa yang tadi kau pikirkan? Kau bahkan tak menanggapi ocehanku, tidak biasanya."
"kau."
"ya?" taehyung akhirnya mengalihkan lautannya pada jelaga yang berpendar dengan kilatan tak main-main di hadapannya. "aku kenapa?"
"anomali," sahutnya santai.
alis tipis itu terangkat tak paham sementara di dalam hatinya sebuah umpatan pada tingkat vokabulari jungkook yang mulai meningkat itu membuatnya perlahan tak paham dengan lisannya keluar tanpa hambatan.
"penyimpangan di dalam zona jeon jungkook, sama seperti awan yang adalah anomalimu." jungkook mengimbuh dengan suaranya yang berat. "kau anomali, tapi aku menyukainya."
"basi." sela taehyung sambil menyuarakan tawa jenakanya, melupakan presensi sigaret yang teronggok di asbak dengan bara api yang memudar. "berikan gombalan yang lain."
"aku serius." jungkook berujar kesal ketika taehyung tak menanggapinya dengan serius. "kau anomali yang menyenangkan."
"kenapa?"
"kenapa harus kenapa?"
"aku serius."
"aku juga serius, bodoh."
"berhenti membalikkan kata-kataku, dasar bocah." umpat si lautan pada jelaga yang menahan tawanya sejak taehyung menampilkan kedutan kesal pada dahinya yang berkeringat. "kenapa?"
"karena, kau tidak seharusnya menjadi salah satu alasan aku menyimpangkan kehidupanku." sahut jungkook ringan.
suara rintik hujan masih terdengar di antara hening yang diciptakan oleh si lautanㅡyang masih dalam proses pengelola data di otaknya ketika jungkook selesai memberi titik pada kalimatnya secara lisan.
aroma petrikor menyeruak masuk melalui ventilasi udara lantas membuat keduanya terpaksa menghirupnya dalam-dalam karena presensinya yang memenuhi troposfer.
"aku tidak melakukan apapun." taehyung berkata sambil mengendikkan bahunya tak acuh.
"justru karena kau tidak melakukan apapun," jungkook berimbuh. "aku jadi semakin tidak tahan dan akhirnya menyimpang, menyukai yang kau sukai dan melakukan yang kau lakukanㅡ"
"kau tidak merokok bersamaku."
"aku masih waras untuk tidak merusak paru-paruku." sela jungkook kesal karena kalimatnya selalu dipotong oleh gurauan taehyung yang menyebalkan. "pokoknya, kau seharusnya tidak hadir dalam kehidupanku dan membuatku kacau."
"intinya?"
"aku mencintaimu," jawab jungkook cepat.
taehyung meloloskan kembali deguk tawanya melawan atmosfer bersuhu rendah di sekitarnya, "aku tahu."
"lebih dari seorang pembaca kepada seorang penulis."
.
.
.
taehyung adalah seorang penulis di sebuah situs karya sastra yang sangat dikagumi jungkook, sementara jungkook hanyalah seorang akuntansi yang mencintai dunia kepenulisanㅡyang jatuh cinta pada penulis jurusan bahasa jepang bernama kim taehyung.
.
.
.
.
Fin
