Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of elefante
Stats:
Published:
2021-12-16
Words:
1,254
Chapters:
1/1
Kudos:
3
Bookmarks:
1
Hits:
42

segelas americano dan genggaman tanganmu yang mendingin

Summary:

kim taehyung hanya ingin merasakan apa yang dirasakan jeon jungkook sekali saja. karena, "aku bangga padamu, jungkook." walau jungkook tidak terlalu setuju gagasan tentang mencoba americano langsung.

Notes:

Jeon Jungkook dan Kim Taehyung, bahkan Min Yoongi yang cuma mampir sekilas di sini hanyalah milik orang tua, keluarga dan agensi yang menaungi. Tidak ada keuntungan komersil saat membuatnya, murni hanya untuk menyalurkan isi kepala yang berantakan oleh jalan cerita.

Semoga suka dengan ceritanya, ya?

P.s. plotless dan mungkin agak gak jelas, ehehe :D

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Pada dasarnya, Kim Taehyung membenci kopi, aromanya sudah membuatnya mual bukan kepalang. Jujur saja, kadang pria itu tidak mengerti mengapa ada orang yang sangat kuat menenggak satu gelas penuh Americano, bahkan menambah shotsnya sampai enam. Bukankah minuman itu terlalu manis untuk ukuran lidah manusia biasa? Atau ini hanya terjadi karena pria itu hanya mampu mencecap rasa manis, asin, pedas dan asam sebagai perasanya sehari-hari?

 

Taehyung memberengut membayangkan Americano yang dipegangnya berhasil memporak porandakan isi perut hanya dalam sekali teguk, dan langsung menyesali keputusannya untuk mencoba Americano. Sungguh, menyebalkan sekali. Tidak lebih menyebalkan dari ekspresi mengejek Jeon Jungkook jika pria tersebut berhasil mendapati Taehyung nyaris memuntahkan kopi yang diminumnya hanya dalam lima menit ia mencobanya.

 

“Kau tidak terlihat keren hanya karena  meminum segelas kopi yang tidak kuat kau minum.” Min Yoongi bergumam datar, tanpa ekspresi, sambil memegang cangkir Espressonya dengan asap yang masih mengepul di udara. Pria itu tampak begitu memukau dengan gaya rambut undercut berwarna tangerine, dipadu dengan kaos oblong berwarna hitam yang dimasukkan ke dalam celana jinnya yang ketat, namun tatapannya terlalu dingin, untuk ukuran orang yang suka mengomeli Taehyung soal apapun yang dilakukannya. “Kenapa memaksakan diri, sih?”

 

Taehyung tidak menjawab. Bibirnya masih maju beberapa senti hingga Yoongi yakin jika dibandingkan dengan bebek, Taehyung bisa saja memiliki moncong lebih panjang, karena Taehyung tampak tidak keberatan memiliki moncong bebek. Setidaknya, untuk saat ini, masih moncong bebek, bukan t-rex.

 

“Jungkook minum Americano.” Taehyung meremas cangkir karton kopinya dengan perasaan kesal setengah mati. Siapa, sih, yang tidak kesal saat dirimu tak sanggup meminum kopi yang akan membuatmu merasa lebih keren? “Aku juga mau terlihat sekeren itu.”

 

“Tapi kau tampak  keracunan hebat setelah menyesapnya satu kali.” Yoongi menyesap kopi espresso yang telah ditambah dua shot itu tanpa beban, membuat Taehyung makin kesal karena rasa irinya yang tiba-tiba bangkit. “Coba kau minum jus saja, atau segelas susu.” Pria itu mendesah datar. “Tidak usah membuatku repot seperti tadi pagi dan malah berakhir seperti orang yang baru saja menenggak kalium sianida.”

 

Taehyung mendesah kesal hingga udara dingin di sekitar mulutnya mengepul membentuk asap musim dingin yang tampak berbahaya. Tidak dengan tangannya yang masih terasa hangat karena Americano yang dipegangnya, atau tubuhnya dilapisi mantel super tebal hingga tubuhnya yang semampai tampak tenggelam di dalamnya. Perjalanan menuju kantor penerbitan tempatnya bekerja pun terasa sangat menyebalkan.

 

Kalau dipikir-pikir, ia lebih setuju untuk mencecap kafein yang ada di teh kamomil favoritnya daripada harus menenggak secangkir Americano yang aromanya saja sudah membuat perutnya mual bukan main. Namun, jika bukan karena Jungkook terus membicarakan betapa enaknya Americano dan betapa menyenangkannya melupakan masalah-masalah menyebalkan saat mencecap kopi yang pahitnya luar biasa itu, juga soal kedai kopi yang baru buka di sudut jalan dekat taman bunga kota, Taehyung tidak akan sudi menyeret Min Yoongi hanya untuk membuat perutnya seperti dikocok roller coaster dan diomeli oleh mulut pedas lelaki di sampingnya.

 

 

 

“Kau tahu Americano dapat memberikanmu sensasi yang menyenangkan?” Jungkook menyesap Americano di tangannya tanpa beban. Taehyung sedang menyuapkan kudapan manis berupa Macaroon saat pria tersebut membuka suara. “Kau akan melupakan dengan jelas bagaimana tiap malam kedua orang tuamu bertengkar hebat hnaya karena Mama salah menghitung jumlah koma.”

 

Taehyung mendengkus. “Mereka terlalu egois untuk membiarkanmu tahu.”

 

Tidak ada jawaban. Taehyung jadi sedikit khawatir.

 

“Aku tidak bermaksud𝄖

 

Aku tidak pernah minta untuk dilahirkan.” 

 

Rasa pahit yang meluncur dari indra pengecapnya menuju tenggorokan hingga berdiam di dalam perut terasa dua kali lipat lebih pahit. Ia memilih merogoh tasnya untuk meraih sebungkus kecil kue kecil bulat dengan kismis di atasnya, menggigitnya dengan begitu dramatis walau rasa manisnya tidak mampu menutupi rasa pahit yang memenuhi seluruh inderanya, dan mencecapnya penuh perasaan. Sejenak, Taehyung melupakan rasa pahit, juga rasa sakit yang menyertainya sekaligus.

 

Rasa sakit karena gagal membawa Jungkook keluar dari rumahnya sendiri.

 

 

 

“Apa ini?”

 

Taehyung memberengut. “Kau buta?” Ia balas bertanya, terdengar kasar, tetapi malah membuat tawa Jungkook berderai manis. “Ini namanya kue kering, rasa cokelat.”

 

“Manis?”

 

“Tidak.” Ketus, pikir Jungkook. “Pedas.”

 

Jungkook tersenyum geli. “Untuk apa?”

 

“Yoongi-hyung bilang Americano dan Cookies adalah perpaduan yang menyenangkan.” Taehyung menyerahkan kue kering besarnya pada telapak tangan Jungkook yang terbuka. “Manis dan pahit, sama-sama bisa jadi komplemen.”

 

“Kaupikir begitu?” Satu alis terangkat naik, namun tangannya tetap terangkat untuk mengarahkan kudapan manis itu ke dalam mulutnya yang mati rasa oleh pahitnya Americano. “Hm.” Mulutnya bergerak; mengecap dan menggigit kue berperisa cokelat itu dengan tenang. “Lumayan.” Lirikan singkat mampir pada presensi Taehyung di sampingnya. “Manis.”

 

“Hyung?”

Taehyung tidak menyadari sudah berapa lama dirinya berdiri di tengah jalan sambil memegang cangkir karton Americano yang dibelinya di kedai kopi tadi pagi dan Macaroon berwarna hijau toska di tangannya yang lain. Ia bahkan tidak menyadari absennya Yoongi yang tadi berada tepat disampingnya, malah dibuat bingung oleh kehadiran Jungkook di hadapannya. Mata Taehyung menyipit, tidak percaya orang yang baru saja mampir dalam isi kepalanya yang semrawut, ini semua karena kopi sialan yang berhasil mengacaukan konsetrasinya , ada di hadapannya.

 

“Jungkook?”

 

“Kau tidak apa-apa?” Jungkook meraih lengan Taehyung lembut. “Tampaknya hampir saja menabrakkan diri ke tiang lampu lalu lintas, untung aku langsung berdiri di hadapanmu dan memanggilmu berkali-kali.” 

 

Taehyung terkekeh. “Astaga.” Tangannya segera merangkul lengan Jungkook dan menariknya menuju kantor. “Maaf, aku baru saja diculik oleh Americano sialan ini.” Cangkir Americano yang uapnya masih mengepul di antara udara dingin yang mengelilingi itu kini telah berpindah ke dalam cengkeraman Jungkook. “Untukmu saja.”

 

“Kau𝄖Jungkook menatap cangkir yang dikenalinya dan pria yang menyeretnya menuju pertigaan sebelum kantornya heran𝄖mencoba secangkir Americano?”

 

Retoris, pikir Taehyung gusar. Pipinya memerah karena malu. “Ya, tidak usah banyak tanya.” Satu delikan tajam mampir ke pandangan Jungkook yang masih mencoba membaca keadaan. “Cepat diminum, aku membelinya mahal, dan menyesal sekali setelah mencobanya.”

 

“Untuk apa, hyung?” 

 

“Untuk jadi lebih keren darimu?” jawab Taehyung asal-asalan. Ia mengambil satu gigitan lagi pada kue keringnya yang sisa seperempat. “Tapi ternyata aku lebih keren saat minum teh sambil makan kue keju dengan bluberi di atasnya.”

 

“Sudah tahu tidak kuat minum kopi.” Satu tegukan untuk cangkir kopi yang dipegang Jungkook. “Kenapa masih membeli dan mencobanya, sih? Kau hampir saja melepaskan jiwamu ke alam liar.”

 

“Keracunan, maksudmu?” Taehyung mendelik.

 

“Kopi tidak punya racun,” koreksi Jungkook cepat, tidak terima kopi favoritnya jadi sasaran kebencian Kim Taehyung, “kecuali kau tidak memiliki toleransi kafein yang cukup untuk meminumnya.”

 

“Tapi aku juga ingin merasakannya.”

 

“Hm?” Jungkook mengarahkan atensinya pada wajah Taehyung yang kemerahan karena dingin. “Maksudnya?”

 

Taehyung menghentikan langkahnya, dipakainya untuk memberi Jungkook tatapan serius, walau laki-laki itu tampaknya sedang dibalut oleh rasa dingin yang juga gerah di saat yang sama. Jungkook jadi ikut berhenti, dengan tatapan lembut dan seriusnya yang terlihat dengan jelas oleh iris mata cemani Taehyung𝄖bergetar karena sang empu terlalu serius.

 

Jungkook menahan napas.

 

 

 

“Aku harus minum kopi untuk melupakan kata-kata mereka tentang uang yang tanpa ku ketahui dipakai untuk sekolahku, dan aku terpaksa mangkir karena tidak merasa bahagia.”

 

“Hyung?”

 

 

“Hyung, apakah aku terlalu egois?”

 

“Kau tidak egois, Jungkook.”

 

“Ya…?”

 

“Aku juga ingin merasakannya.” Taehyung mencengkram kepalan tangannya sendiri. “Ketika kau merasa egois saat itu adalah saat kau pertama kali memilih diri sendiri, Jungkook. Aku ingin merasakannya dan meminum kopi itu tampak sangat menyenangkan untuk langsung dicoba.”

 

“Hyung.”

 

“Kau tidak egois.”

 

 

 

“Aku benci jurusan yang kupilih, dan aku lebih benci diriku sendiri yang tidak mampu membuat kedua orang tuaku bangga padaku.”

 

“Apakah kalian akan menghalangi pengunjung toko buku ini masuk sampai tutup?” Min Yoongi menyela tanpa perasaan.

 

Taehyung segera masuk ke dalam ruangan dengan pemanas ruangan yang membuatnya tetap hangat terburu-buru untuk menyembunyikan rona yang memeluk hidung hingga daun telinganya. Sementara Jungkook diam termangu di tempat dengan perasaan campur aduk.

 

 

 

“Aku bangga padamu.”


Yang tidak disadari Taehyung, hari itu Jungkook menyunting naskahnya dengan senyum yang terulas lugas sepanjang hari.

Notes:

Hai, karena lama enggak menulis, kayaknya aku ngerasa sedikit kaku, deh. Hehehe. Untuk yang menunggu karyaku, setelah sekian lama, here is my work.

Series this work belongs to: