Actions

Work Header

Dunia Tanpa Bohong

Summary:

“Karena melampaui hal yang mustahil itu keahlianmu.”

Notes:

The Promised Neverland © Kaiu Shirai
(tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan fanfiksi ini).

Didedikasikan untuk:
#RayEmmaWeek2019

Day IV: determination/distance

Work Text:

Ray melihatnya dari samping. Seperti yang lainnya, Emma masih membopong ransel di punggungnya. Seperti dirinya juga yang masih melingkarkan syal pada leher. Emma tersenyum. Tapi itu bukan senyuman Emma.

Emma masih duduk di sampingnya. Tidak masalah apakah itu di sebelah kanan atau di sebelah kiri. Norman selalu berhadapan. Tidak masalah di depan Ray maupun di depan Emma. Norman melakukan itu lagi, seperti sebuah keajaiban. Dengan rencana-rencana panjang dalam kepalanya. Rencana-rencana analitis yang bertentangan dengan hati. Padahal untuk membentuk suatu hal ampuh pikiran dan hati harus searah.

Ray menyadari itu. Bukan karena Emma mudah ditebak siapapun. Tapi karena Ray terbiasa membaca Emma. Maka, kalau dari dalam saja sudah tidak bersinambung, apalagi seterusnya, ‘kan?

Hidup adalah tentang pilihan. Tidak semuanya dapat dipilih, memang. Namun dalam menentukan pilihan setelah hal yang tidak dapat dipilih, keputusan akan menjadi sangat berisiko. Mereka tidak memilih untuk dilahirkan di dunia ini. Dunia yang bahkan orangtua kandung pun tidak tahu.

Memilih untuk lari atau diam menanti disantap merupakan pilihan pertama.

Ketika menatap jauh lorong gelap dan dingin siang hari itu, tidak hanya tentang lari sebagai tujuan. Mereka berbicara tentang mimpi di luar dinding.

Ray akan membuat Emma menaiki jerapah.

Keputusan-keputusan harus tetap dibuat di luar tembok. Tanpa adanya laut penuh buih pun keputusan harus cepat ditetapkan. Tidak boleh ada penyesalan. Sayangnya, tidak ada yang bisa melihat masa depan. Kemampuan yang ada hanyalah menoleh kebelakang untuk prediksi. Dan sedikit kenekatan.

Ray sudah muak dengan bohong. Andai ia bisa seperti manusia yang tidak pernah berbohong barang sekali. Sosok manusia yang ada di buku-buku perpustakaan. Setelah dirinya, Ray tidak ingin ada yang kedua. Cukup ia membuat Phil merasakan tekanan itu. Ray tidak ingin Emma berbohong pada siapapun, apapun.

Ternyata, mengambil keputusan tidak semengerikan itu. Pada faktanya, seseorang hanya membutuhkan orang lain untuk percaya pada keputusannya dengan jujur. Tanpa berat hati, tanpa paksaan.

Keputusan Ray di titik ini adalah menemani Emma. Dan ia tidak tahu kapan akan mengubahnya. Mungkin ini keputusan seumur hidup.

“Karena melampaui hal yang mustahil itu keahlianmu.”

Series this work belongs to: