Work Text:
Kamar Integrity Knight Ray Synthesis Eighty-one merupakan perpustakaan akbar. Bisa dibilang bagian kedua dari Great Library Room yang tersembunyi. Biar begitu, ruangannya bukan perpustakaan umum. Hanya beberapa orang yang diberikannya akses masuk. Satu orang yang diberi amanat itu justru menyalahgunakan.
"DILARANG MASUK DI ATAS JAM 9 MALAM"
Jarang Integrity Knight Ray tidur jam sepuluh. Biasanya setelah bacaannya selesai. Di akhir kata pada buku itu rata-rata pukul sebelas ke atas. Tanpa ketukan pintu, Integrity Knight Emma Synthesis Sixty-three main masuk. Tanpa watak sungkan, seakan kamar sendiri, mengeluh, "Ray … aku mimpi buruk lagi."
Ray sudah di atas kasur. Sudah berselimut pula.
"Astaga. Aku mau tidur, Emma."
"Aahh, Ray … jangan jahat begitu, dong. Aku sudah jauh-jauh ke sini."
"Tidak ada yang memintamu melakukan itu."
Emma duduk di kasur Ray.
"Tidak, Emma, tidak. Kembali ke kamar. Kau bisa minum pil tidur."
Emma tidak acuh. Dia terkikik, menarik selimut Ray.
"Hei, dasar gila. Laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dilarang tidur bersama."
Ray sangat tega jika harus menendang Emma saat ini.
"Makanya, Ray, jangan tidur dulu. Kalau mau tetap di kasur, sambil duduk, ya?"
Mata hijau yang memaksa tanpa ampun itu tidak bisa ditolak. Sebenarnya, siapa yang berkuasa, sih? Perlahan Ray bersandar pada punggung kasur.
"Apa lagi?"
Emma memperhatikan tangannya. Menerka jejak-jejak mimpi dalam tidurnya. "Mimpi yang sama lagi. Sebuah lorong panjang, tangan dua anak laki-laki yang bergandengan denganku. Kamu sudah tahu apa yang maksudnya, Ray?"
Gelengan kepala sudah disiapkannya sejak tadi.
"Tidak ada yang bisa disebut mimpi buruk dari bayangan itu. Sekarang balik ke kamarmu."
Emma menggeleng. "Kau pasti tahu sesuatu, 'kan? Ayolah, sedikit saja."
Ray mengangkat bahu. Membaringkan badannya lagi, menarik selimut. Menuju tidur dengan posisi membelakangi Emma.
"Yang aku tahu, Emma, itu bukan pertanda kalau kau akan direbutkan oleh dua laki-laki."
Bibir cemberut Emma cuma mampir dalam bayangan Ray. Sampai saat ini, helaan napas singkat dari Emma saja sudah bisa diterjemahkan Ray ke berbagai bahasa.
"Ya sudah, selamat tidur. Maaf telah mengganggu."
Setelah pintu kamar Ray tertutup lagi, ia membuka mata. Tidak akan bisa lelap sebelum menelan pil tidur.
Emma tidak salah kalau memang Ray mengetahui segalanya. Benar-benar segalanya.
Anak ternak yang menjadi pelarian berhasil meraih kemerdekaan. Inilah dunia manusia. Dunia yang selama ini hanya ada di dalam buku-buku lama. Dalam kondisi itu, seseorang yang dipandang tinggi oleh masyarakat menyeringai. Ia mendapat bibit baru demi ambisinya.
Jiwa para pejuang itu direplikasi. Mereka dibaringkan dalam kapsul seperti tidak akan bangun lagi. Rath, dan Ray semakin sadar bahwa setan tidak hanya iblis. Dia ingat semuanya. Tidak ada malam tanpa berpikir rencana ke depan. Bagaimana ia bisa keluar dari dunia ini.
Neverland dan Underworld. Ia hanya ingin hidup sebagai manusia.
Maka, malam ini, tidak lama setelah Emma keluar dari kamar Ray. Berbeda dengan kedatangan sebelumnya yang sangat kusut. Emma di ambang pintu telah memakai baju zirah lengkap. Padang ksatria tersemat di pinggangnya. Hanya tinggal menutup topeng, jadilah ia sebagai Integrity Knight Emma Synthesis Sixty-three.
Tidak terbendung keinginan Ray untuk melontarkan semua cerita pada gadis itu. Ingin Ray keluarkan untuk kemudian menghancurkan prisma yang menghalangi memori Emma.
Keadaan ini, tak ubahnya dengan di dunia sebelumnya. Mereka tinggal di calon tempat ajal tanpa mengetahui betapa busuk tempat itu. Dan Ray, tidak akan membiarkannya lebih lama.
"Cepat bergegas! Kriminal itu tampaknya sangat kuat."
Ray sudah dalam mode siap tempur. Sebelum benar-benar menuju medan pertarungan, Ray menatap Emma di sisinya.
"Apakah kau percaya padaku?"
Tanpa ragu, Emma tersenyum lebar.
"Apa sih, pertanyaanmu itu. Kita partner seumur hidup."
Ray menarik sudut bibirnya. "Walaupun hal yang akan kita hadapi terasa begitu tidak masuk akal, kau akan tetap mempercayaiku?"
Sekali lagi, tanpa ragu, Emma mengangguk.
Yang disebut sebagai kriminal, pelanggar aturan Tabu, berdiri di depan mereka. Mata Ray menatapnya tegas.Yakin seratus persen.
"Aku ingat semuanya, Norman. Ayo kita bertarung bersama."
