Work Text:
Ray dan bukunya dan Emma yang melihat itu sudah menjadi kebiasaan. Entah ini kali ke berapa, rasanya Emma melihat kegiatan itu selamanya. Asumsikan Ray yang menyendiri di bawah pohon—berpartisipasi sebagai penghitung waktu sejak umur 4 tahun. Sampai usia 11, itu berarti tujuh tahun. 7 x 365 = 2555. 2555 kali sedikitnya yang telah Emma lihat. Belum terhitung di kesempatan-kesempatan yang lain.
Di entah buku ke berapa yang Ray baca di perpustakaan shelter, pandangannya menjadi lebih luas.
“Rambutmu sudah lebih panjang, Ray.”
Emma dengan senyumnya, mempertahankan rambut Ray untuk tetap di atas kepala.
Ray memundurkan badan. Kejutan di malam hari tidak terlalu baik untuk mobilitas peredaran darahnya.
“Kau seharusnya tidur, bukan?”
Emma tidak menjawab dengan mulutnya. Perlahan ia tutup buku yang Ray baca. Dari sakunya dikeluarkan gunting.
“Cukur, ya?”
Mereka berpindah ke tempat yang cocok untuk menggunting rambut. Perpustakaan sama sekali bukan tempat yang baik untuk ceceran benda tajam itu.
“Akhir-akhir ini kita jarang ngobrol santai,” ujar Emma di potongan pertama. “Sampai saat ini, aku selalu bersama Ray. Dan aku ingin selamanya begitu.”
“Kau ini kenapa?”
Emma terkekeh, menyadari ini bukan dirinya yang biasa.
“Maaf, Ray, kalau kau jadi bingung. Tadi aku kepikiran bagaimana jika suatu hari harus kehilangan Ray juga.”
Ray saking pikirannya entah ke mana, mendengus. Satu-satunya yang paling dekat dan paling lama bersamanya adalah Emma. Tidak ada yang lain. Perkara itu juga berlaku bagi Emma. Memang, semua yang ada di shelter ini, keluarga. Para pelari Grace Field, teman-teman dari Goldy Pond, juga Yugo yang telah tinggal untuk 13 tahun.
Emma dan Ray mungkin tidak pernah mengatakannya. Mereka sudah kehilangan Norman. Jika salah satu dari mereka juga pergi, maka yang satunya bisa jadi kehilangan rumah untuk pulang. Dan yang lain, akan kehilangan matahari atau bulan mereka. Itu sama sekali tidak baik untuk keseimbangan semesta.
“Selesai, Ray. Jadi lebih rapi.”
Tangan Ray yang mendarat di kepala Emma menunjukkan lebih dari sekadar terima kasih. Bukan cuma ditepuk, tapi juga diacak-acak.
“Hm, kenapa kau ini? Tidak percaya kalau aku bisa bertahan, hm?”
Emma menghentikan Ray dengan tangan kirinya.
“Bukan begitu! Aku juga khawatir kalau suatu saat Ray harus kehilanganku juga.”
Di antara senyum tipisnya, Ray mengambil gunting dari genggaman Emma. Kemudian ia berdiri, meminta berganti tempat.
“Rambutmu itu juga tidak terurus, loh.”
Tidak ada yang lebih memperhatikan Emma ketimbang Ray. Ia juga takut, sangat takut kehilangan mataharinya. Cukup Norman yang menjadi kegagalan dalam hidupnya. Maka setiap hari ia berdoa agar, di mana pun mereka semua tinggal, rasa aman menjadi tamu utama.
Dan satu selipan doa lagi. Tentang untaian rambut yang tidak pernah begitu rapi. Tentang warnanya yang memulai dan mengakhiri hari. Kepala dan rambut yang selamanya ingin Ray hantam dan acak.
“Suatu saat nanti, coba panjangkanlah rambutmu.” gumaman yang terlampau keras.
“Kalau begitu Ray yang tanggung jawab untuk merawatnya, ya.”
“Ha? Kau pikir itu rambutku.”
Entahlah, di mana letak nikotinnya. Sangat mengundang Ray untuk melenyapkannya. Apaan sih itu. Hanya senyawa alkaloid yang menyebabkan ketergantungan. Oh, hanya itu maksudnya dalam majas litotes, ya?
