Work Text:
Kalau Ray pikir lagi, pakaiannya dan Emma selalu berpasangan. Begitu Don melintas, bayangan itu runtuh. Pakaian mereka semua (bukan cuma ia dan Emma) seragam. Dari bangun hingga tidur lagi, tidak ada yang berbeda. Kemeja putih, celana hitam. Satu kali, Ray membayangkan Emma mengenakan gaun kuning yang ia lihat di dalam buku. Tapi urung dilanjutkan imajinasi itu.
Sebelum mereka memasuki dunia yang belum pernah mereka lihat, Ray menatap Emma. Emma memakai mantel yang sama. Ransel yang sama. Di belakang mereka tersemat busur panah. Pistol tambahan untuk Emma. Kali ini, yang berpakaian seperti itu hanya dirinya dan Emma. Sama sekali bukan hal menyenangkan ketika tahu tujuan mereka adalah kotak pandora. Tapi bagi Ray, selama bersama Emma, dia akan baik-baik saja. Mungkin Ray akan banyak menguras otaknya. Tapi sebenarnya, solusi itu ada di sisinya.
Dalam setiap petualangan, mereka seringkali terpisah. Saat pertama lari dari Grace Field, Goldy Pond—di momen itu Ray benar-benar tidak ingin kehilangan Emma. Maka Ray memikirkan solusi dari cara Emma berpikir. Solusi yang diinginkan Emma. Menggabungkannya dengan logis keadaan. Selama satu bulan, jika tidak diingatkan, tangan Ray akan selalu menggenggam milik Emma. Seolah membagi kehidupannya sendiri.
Dan sekarang, bahkan ia lebih mengingat Emma daripada dirinya sendiri. Terhadap pusaran tempat dan waktu, Emma seperti sisa kotak pandora itu sendiri. Secercah harapan, yang akan menggenggam tangannya. Memeluk dirinya.
Karena mereka adalah manusia yang senantiasa bertahan hidup.
"Genggam tanganku, Ray."
