Actions

Work Header

Masa Depan yang Kita Banggakan

Summary:

Norman sadar tidak sih, kalau dia tengah menyeret Ray ke dalam masalah yang tidak sehat untuk sebuah persahabatan?

Notes:

The Promised Neverland © Kaiu Shirai
(tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan fanfiksi ini).

Didedikasikan untuk:
#RayEmmaWeek2019

Day VII: (free)

Work Text:

Berjarak namun tidak terlalu dekat dari bibir pantai, mereka mendirikan sebuah kota di atas permukaan laut. Tempat tinggal khusus bagi (mantan) buronan dari dunia iblis. Hampir tidak ada yang berubah dalam kegiatan sehari-hari. Memasak untuk semua, mencuci, bercocok tanam (walau dunia manusia bisa saja mencukupi), dan lain-lain. Hanya fasilitas yang berbeda untuk menyesuaikan dengan peradaban yang ada.

Ruangan-ruangan besar dipakai untuk kepentingan umum. Kapsul-kapsul yang terletak menghadap ke alam bebas merupakan kabin untuk tidur. Dalam satu kapsul ada yang sendiri, berdua, bertiga, paling banyak berempat. Lalu di sini Ray duduk. Tanpa buku. Di atas bangku kayu yang diukir secantik mungkin. Di depannya adalah kebun dengan tanaman-tanaman yang masih rendah.

“Hei, Ray.”

“Kau hampir mengejutkanku.”

Norman duduk di sebelahnya, masih setia dengan warna putih. “Bukannya sudah mengejutkanmu, ya?”

Ray bertopang dagu, pura-pura melihat ke arah lain. “Setelah melihat manusia-manusia ‘normal’, teman-teman kita mulai menaruh minat pada mode.” Dunia mereka saat ini bukan hanya sekadar hitam-putih yang menjemukan mata.

“Ray, kau menyukainya, ‘kan?”

“Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu.”

Halusnya, paradoks. Jujurnya, bohong. Ray jelas-jelas sangat mengetahui arah pembicaraan dan sosok yang Norman anggap sebagai yang disukai Ray. Di depan mata mereka, agak jauh. Sedang menjelaskan teknik berkebun kepada salah satu anak. Dan Norman tahu kebenaran dari elakkan itu. Jadi, dia hanya tertawa.

“Kalau begitu, tumben Ray, kau berada di luar tanpa membaca buku.”

“Semua buku sudah habis. Terlalu bosan untuk mengulang kembali. Aku menunggu Oliver datang membawa titipanku.”

Norman menunjukkan kepada Ray benda berbentuk persegi panjang. Benda yang katanya menimbulkan banyak perdebatan. Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Itu bahasa personifikasinya.

“Jemarimu itu pasti sudah lihai bermain di layar ini, bukan?”

Ray menghela napas. “Kalau harus membayar, aku lebih suka baca luring, Norman. Jika maksudmu aku bisa langsung mengunduh, itu kriminal.”

Norman terbahak untuk kriminal dan Ray yang tidak berhenti berkelit.

“Ya sudah, deh. Aku bilang saja, ya, sebenarnya aku sudah cukup lama memperhatikanmu sebelum menyapamu di sini. Matamu lengket melihat Emma. Kesimpulanku, perasaanmu padanya lebih dari sekadar apa yang mulutmu katakan.”

Ray memindai mata Norman. Mencari-cari rahasia di balik keresahan itu. Norman sadar tidak sih, kalau dia tengah menyeret Ray ke dalam masalah yang tidak sehat untuk sebuah persahabatan?

“Tidak apa, Ray, tidak apa.” Senyum Norman terukir begitu tulus. “Aku melihat semuanya. Dulu aku memang berkata kalau aku menyukainya. Aku tidak tahu kalau mungkin saja kau lebih dulu merasakan perasaan itu padanya. Emma sendiri, setelah kuperhatikan—”

“Ray, Norman, selamat siang.”

Emma berlari kecil membawa kehangatan musim panas di belakangnya.

“Kok kalian serius sekali bicaranya? Tidak mengajakku pula.” Ia tidak menemukan tempat untuk menyempil.

“Eh, bukan begitu kok, Emma. Ini, Ray saja yang ingin dinner eksklusif denganmu nanti malam.”
Aku-gorok-kau-Norman. Terjemah dari tatapan Ray.

“Benar, Ray?”

Norman berdiri, menepuk pakaiannya semisal kotor. “Aku tinggal dulu, ya. Jam tidurku datang.”

Sandiwara sekali.

Ray berdeham ketika Norman sudah jauh. “Norman tidak sepenuhnya bohong. Maksudku, tadi kita bukan membicarakan itu. Tapi makan malam berdua, kau mau?”

 

Series this work belongs to: