Work Text:
Jika seseorang melakukan sebuah tingkah berpola kepada orang lain, kemungkinan besar ia mengincar perhatian dari targetnya. Hari pertama, cokelat. Hari kedua, bunga. Hari ketiga, surat untuk pertemuan seusai pekerjaan. Pola yang terlalu klise, tapi langgeng. Lantas bagaimana dengan matahari dan bulan yang bergantian di setiap tempat? Apakah semesta juga sedang mencari atensi dari makhluk hina yang merasa dunia dalam genggamnya?
Ketika siang menjadi lebih pendek, laki-laki yang paling sering membaca alam menutup bukunya. Ia melingkarkan syal, memakai sepatu musim dingin, dan mulai melempari Emma dengan bola salju. Mungkin kesadaran untuk bersyukur akan eksistensi matahari baru muncul ketika dingin menyapa. Walau itu salah, Tuhan Maha Baik. Apricity; kehangatan dari matahari di musim dingin. Emma adalah matahari itu. Yang hangatnya tidak berhenti walau di penghujung musim gugur.
Emma adalah suatu pola semesta lainnya untuk Ray. Cukup melihat Emma untuk merasakan empat musim bergilir dalam dua belas bulan. Ahoge yang tidak pernah menurut itu seperti tangkai buah di musim gugur. Buah-buah manis yang akan Ray lindungi dari semut-semut pekerja.
“Cobain kuenya, deh. Manis sekali.”
Delapan jam sejak matahari terbit dan Emma hampir tidak berhenti makan. “Lihat, badanmu gemukan sepertinya.”
“Eh, masa?”
Emma berkacak pinggang tanpa menemukan cermin di antara daun-daun keemasan yang mengundang punggung untuk direbahi. Ray menyelipkan senyum kecil.
“Tidak peduli, deh. Hitung-hitung membuat cadangan lemak di musim dingin. Mau coba tidak, Ray?”
Ucapan itu bahkan tidak bisa disebut sebagai tawaran ketika kue disodorkan pas menyentuh bibir.
“Tidak buruk.”
Emma melebarkan bibirnya padahal musim panas masih jauh.
“Mau lagi?”
“Tidak. Terima kasih.” Tadi saja Ray hampir tersedak.
“Oh, mungkin kau akan lebih tertarik jika melihat makanan yang lain di dalam. Lagi pula anginnya dingin sekali.”
Ray menenteng bukunya. Sambil menggeser beberapa daun di dekat kakinya, dia tersenyum licik. “Yang sampai terakhir buat teh sampai akhir musim gugur.”
“Oi! Ray, kau curang!”
Suara Emma terbawa angin musim gugur yang berlawanan arah. Ray yang berlari di depannya mendengar sayup-sayup. Mungkin ia harus lebih sering bermain petak umpet bersama yang lain ketika rumput berwarna hijau. Hijau yang bukan hanya tersimpan di mata Emma.
