Chapter Text
TELAH MENJADI kebiasaannya akhir-akhir ini, menyetir saat cakrawala menggelap dengan berbagai titik gemerlap menggantung manja, laksana meminta tuk dihitung. Tangannya berfokus menyetir, namun netranya tak dapat lepas tuk memuja langit. Musik mengalun pelan, menemani agar ia tak kesepian.
Kedua sudut bibirnya tak mampu ditarik lebih lebar dari ini. Mati lampu di kota menjadikan segalanya sempurna. Biasanya lampu kota menghalanginya tuk mengagumi keindahan bintang. Ia menurunkan kecepatannya dari tiga puluh kilo meter per jam, menjadi dua puluh kilo meter.
Lewat jam dua belas malam, kendaraan telah berkurang drastis. Seungmin menyusuri malam dengan segala kebahagiaan yang tak pernah lepas. Ia kerap berharap agar langit selalu seindah dan sedamai ini. Mengingat ia kerja besok, Seungmin memilih meninggalkan keindahan dan berpulang. Hatinya tak dapat menghilangkan rasa sayang sekali, andai besok ia libur--meliburkan diri, jikalau tak takut gajinya dipotong, maka dapat dipastikan ia akan mengelilingi kota hingga fajar menjemput.
Ia menelusuri jalan dengan penuh kehati-hatian. Kemungkinan ia menabrak hewan dan manusia sekarang, lebih besar daripada saat lampu menyala. Seungmin menilik sekitar dengan teliti, hingga kedua netranya menangkap seorang pemuda yang tengah berjalan di trotoar dengan pepohonan menjulang sebagai penghias.
Pemuda itu tak jangkung. Menggenakan kaos putih berlengan panjang, celana training senada pula. Bawaannya hanya sekadar tas ransel hitam--terlihat berat karena mengembung--dan tangannya memeluk peralatan lukis, mulai dari kanvas dan penyangganya--Seungmin tak tahu namanya. Pemuda berjalan pelan, entah didorong rasa apa, Seungmin mengikutinya dengan mengekori di belakang.
Mobilnya berhenti tatkala si pemuda berbalik, menatapnya. Pemuda mendekatinya, mengetuk kaca jendela dan Seungmin masih tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Tanpa disadari, jemarinya bergetar tatkala menekan tombol. Kaca jendela perlahan menurun. Segera ia bertatap wajah dengan sosok asing tersebut.
"Aku enggak bermaksud--"
"Di sekitar sini ada hotel?" ucapan Seungmin dipotong dengan cepat, intonasinya terdengar lelah dan menggesa.
"Enggak ada," jawab Seungmin mantap.
"Oh," pemuda terdengar kecewa di balik cara dingin ia berujar, "Terima kasih."
Ia berbalik ingin melanjuti perjalanannya yang takkan membuahkan hasil. Segera Seungmin membuka pintu mobilnya, berteriak sebelum pemuda berjalan terlampaui jauh.
"Tunggu!" Pemuda menoleh, namun tak mempersempit jarak. "Anu ..., kalau kau tak ada tujuan, kau boleh tinggal di tempatku."
Seungmin tak tahu mengapa ia mampu seberani itu. Pemuda di depannya butuh tempat tinggal, ia hanya kasihan kepadanya. Ia mengucapkan ulang perkataan itu agar tertanam dalam benak, serta menambah keyakinannya. Seungmin juga tak ingin membayangkan skenario buruk bahwa si pemuda akan pingsan atau ditemukan mati keletihan.
"Apartemenku cukup luas, aku tinggal sendirian. Kau kelihatan capek sekali. Nanti kau akan pingsan kalau jalan terus."
"Kau enggak takut kalau aku orang jahat? Oh iya, bisa jadi pula kau orang jahat, kan?" Samar, Seungmin dapat melihat lengkungan sinis yang tercipta dalam rautnya.
"Aku yakin kamu bukan orang jahat. Kalau aku orang jahat, sekarang aku akan merebut seluruh barangmu dan membiarkanmu mati di luar." Seungmin merasakan tatapan menilai milik pemuda yang terkesan menusuk. Sesaat keheningan merayapi mereka. Sampai akhirnya pemuda melangkah maju, mendekati Seungmin perlahan.
"Terima kasih, hmm ...."
"Kim Seungmin."
"Terima kasih, Seungmin-ssi."
Seungmin membuka pintu belakang, mempersilakan pemuda menaruh kanvasnya. Hendak pemuda duduk di belakang, Seungmin menahannya dengan cara memegang pergelangan tangannya. "Aku lebih suka temanku duduk di sampingku, enggak apa-apa, kan?"
"Oke."
Seungmin kembali ke bangku penyetir, ia tersenyum tatkala melihat si pemuda duduk di samping seraya memasang sabuk mengaman. Tak butuh waktu lama, keempat roda terpacu laju. Mereka membiarkan musik mengalun, membebaskan mereka dari belenggu keheningan. Entah jarum detik telah berkeliling berapa kali. Seungmin mengerjap-ngerjap, ia baru sadar suatu hal.
"Aku belum tanya namamu, ya?"
"Belum."
"Kau tak berniat memberitahuku?"
"Jisung, Han Jisung."
Seketika Seungmin ingin bertanya perkara apa yang ia lakukan hingga larut, terdengar dengkuran pelan, ia menoleh. Jisung tertidur menyamping dengan menjadikan jendela sebagai penahan. Seungmin merasakan sesuatu milik Jisung yang mirip dengannya, namun ia masih tak mengetahuinya. Segumpalan pertanyaan pun bagai benang kusut yang tak terselesaikan.
.
.
.
"Kau sudah bangun?"
Adalah ucapan pertama yang menulusup ke dalam benaknya hari ini. Ingin sekali Jisung menggeleng, lalu kembali dalam posisi meringkuk, mencari sisa kehangatan kembali. Namun, tatkala melihat langit-langit putih yang berbeda dengan dinding kelabu yang biasanya tampak. Ia memilih meregangkan tubuh sejenak, berupa mengangkat tangan tinggi-tinggi, lalu duduk.
Sepasang netranya masih setia terpejam. Hingga terasa kehangatan yang menyelimuti tangannya, ia pun perlahan menyibakkan jelaga dunia. Hal yang kedua ia dapati selain dinding putih adalah wajah Kim Seungmin dengan segala senyuman tulus, serta gelas bening berisi air putih hangat yang tengah ditaruh dalam dekapan jemarinya.
"Minum, air hangat pas pagi banyak kegunaannya." Jisung menurut, membiarkan cairan bening menginvasi kerongkongan, sampai ke titik temunya.
"Jam berapa?"
"Tujuh." Jisung mengangguk mengerti, menguap lebar-lebar. Perlahan, Seungmin beranjak dari kasur, menuju dapur minimalis yang berdominan putih serta abu-abu. Samar-samar aroma masakan menggelitik hidung Jisung. Ia baru sadar sedari tadi Seungmin menggenakan celemek simpel hitam. Pemuda Kim mengaduk-aduk berbagai bahan yang berada di atas panci. Ia menoleh, memberi senyuman yang sama.
"Biasanya aku sarapan satu menu aja, enggak apa-apa?" tanyanya sekilas, lalu kembali memfokuskan diri. Jisung memegang perutnya--lapar sekali, untung perutnya berkompromi. Andai tidak, pasti memalukan sekali.
"Enggak apa-apa, justru aku yang harus berterima kasih." Jisung menaruh gelas pada meja kecil di sebelah. Menuruni kasur, mendekati Seungmin--ia penasaran dengan masakan yang dibuatnya.
"Pajeon*?" tanya Jisung, matanya yang tadi menatap panci berisi telur dan berbagai macam bahan, kemudian menatap Seungmin takjub. "Salah satu makanan kesukaanku."
Seungmin melirik Jisung sekilas, wajahnya tersenyum tipis namun, tak pungkiri sejuta percikan gembira terpancar. Seungmin menekan-nekan adonan pajeon dengan spatula, agar lebih renyah.
"Jisung-ssi, tolong ambilkan dua mangkuk dan dua pasang sumpit." Seungmin menunjuk lemari dapur yang tepat di sisi kiri atas dan bawahnya. Jisung mengangguk, ia membuka pintu lemari yang naik ke atas, mengambil benda sesuai pintaan Seungmin. Lalu, Jisung mengambil sumpit, di laci bawah. Tidak butuh diberitahu, segera ia letakkan kedua macam benda di meja, yang berbentuk layak counter--di belakang Seungmin.
Jisung duduk manis, menunggu masakan. Tak lama kemudian, Seungmin membawa piring berisi pajeon yang telah dibelah jadi dua. Mengambil rice cooker kecil dan botoh wadah yang berisi kimchi*. Dengan cepat Seungmin mengambil nasi untuk dirinya dan Jisung. Setelahnya mereka tenggelam dalam keheningan, hanya deting mangkuk beradu dengan sumpit yang memenuhi ruang. Hingga Jisung yang membuka percakapan tuk pertama kali.
"Kenapa kau membantuku?"
Potongan pajeon kecil baru saja dilahap Seungmin tatkala Jisung bertanya. Ia membiarkan sumpit di dalam mulutnya, seraya menggigit sembari berpikir. "Kau terlihat kesusahan." Ia menarik pasangan besi panjang ketika berkata.
Jisung mendengus. "Andai kalau ada anjing atau kucing yang mengalami kondisi sepertiku, kau akan membantunya juga?"
"Kau manusia, sedangkan kucing dan anjing sudah terbiasa berada di luar sana."
"Kalau begitu, andai kalau aku ini pembunuh, kau akan membantuku juga?"
Seungmin membisu.
"Jadi orang baik boleh, tetapi kalau sampai membiarkan orang asing menginap di rumahmu. kau entah terlalu baik atau terlampaui naif. Jangan-jangan kau tidak memikirkan kemungkinan itu." Seungmin menggeleng pelan, membenarkan hal yang Jisung katakan. Samar-samar indranya dapat mendengar bisikan Jisung; "Bego," ujarnya.
"Tapi, aku yakin kau bukan pembunuh."
"Tahu dari mana?"
"Dari kanvas dan berbagai perlengkapan lukismu."
"Bisa saja itu kamuflase." Jisung mencemooh.
"Enggak mungkin, aku yakin seratus persen. Enggak ada pembunuh yang mencemaskan targetnya, bukan?" Jisung meletakkan sumpit, beranjak dari kasur dan mengambil tas serta berbagai peralatan lukisnya. Seungmin yakin, ia sempat menangkap sentak diri dalam pemuda yang berasal dari netra.
"Terima kasih atas kasur empuk dan sarapannya. Kalau ada waktu, aku akan membalasnya." Suaranya layak biru, nada yang dingin. Pada akhirnya Jisung memilih tak menjawab pertanyaan Seungmin. Setiap derap langkahnya, menuntun dirinya menuju pintu keluar.
"Apakah kau memiliki tujuan?" Seungmin menaruh peralatan makan ke westafel. Perkataannya membuat derap langkah berhenti. Jisung menoleh, menatapnya sinis. Seungmin mengerti arti tatapan itu, itulah hal yang membuatnya mengganggap Jisung mirip dengannya.
"Ada atau tidak, bukan urusanmu." Pemuda Kim lambat laun berdiri di depannya. Ia tak terkejut dengan perangai kasar Jisung, bahkan tak ambil pusing dengan hal itu. Jemarinya mengangkat tangan Jisung, perlahan membelit jemarinya dengan jemari Jisung. Dan mendapati tatapan sinis yang berbeda, kali ini terselip sedikit tanda tanya.
"Jisung-ssi, kau terlihat kesepian."
Satu kalimat yang berasal dari Seungmin berhasil meluluklantakkan seluruh pertahanan Jisung. Dalam kalimat tersebut tak menyiratkan apapun selain ketulusan. Cara Seungmin mengucapkannya sedemikian pelan, terlampaui pelan, seumpama seluruhnya diucapkan bagai kepiluan hati yang selama ini tersimpan.
"Aku juga kesepian, mari kita melengkapi satu sama lain." Ia berujar dengan senyuman penuh. "Entah kenapa aku yakin, malam bertemu denganmu bukan kebetulan belaka. Bisa jadi Yang Maha Kuasa, mengirimmu tuk bertemu denganku. Agarku tak meninggal karena terjerat derita kesepian."
Tatapan dingin nan sinis masih menjadi bagian Jisung.
"Oleh karena itu, aku tak ingin kau pergi. Tinggallah bersamaku, jadilah temanku."
Kali ini Jisung giliran membisu, tak lama kemudian Seungmin melihat senyuman yang masih sama tipisnya. Kali ini lebih terasa lebih hidup.
Mereka tatkala menyerupai, karena kesepian membelenggu. Kali ini, mereka akan membebaskan belenggu tersebut. Namun, salah satu terlampaui naif karena mengira mereka berbagi rasa yang serupa.
.
.
.
BEBERAPA HARI mereka lewati bersama. Ada suatu hal yang takkan pernah berubah; Seungmin yang selalu bangun terlebih dahulu dan Jisung akan menjajah daerah yang Seungmin tinggalkan. Tak jarang Seungmin merasa sesuatu yang berat menimpanya tatkala terlelap. Ia membuka netra dalam keadaan setengah sadar, mendapati sebelah kaki pemuda Han tengah memeluk dadanya. Bantal malah beralih fungsi menjadi guling. Pelan-pelan Seungmin membantu posisi Jisung agar lebih baik, berupa menggeser anggota gerak bawahnya. Namun percuma, tak sampai jarum detik memutar penuh. Kaki Jisung kembali mendekapnya.
Berkali-kali ia melaksanakan kegiatan yang serupa, yakni; memindahkan kaki Jisung kepada tempat yang seharus. Sedemikian banyak sehingga Seungmin mengangkat tangan dan tidur di sofa. Namun, Seungmin hanya mampu mengangguk maklum. Karena itulah salah satu risiko yang ia harus terima, Jisung sendiri telah memperingati; "Cara tidurku jelek," katanya.
Setidaknya Seungmin bersyukur, tidak setiap malam ia perlu merana sedemikian rupa. Terkadang--jarang sekali--Jisung diam tak berkelit sejengkal pun.
Pemuda yang diyakini sebagai pelukis, menyukai makanan manis.
Terlihat jelas, tatkala Seungmin pulang sehabis kerja. Ia membawa kotak yang berisikan tiga potong kue. Ada cheesecake, black forest, dan chocolate cake. Jisung segera membersihkan kedua tangannya yang terlumuri berbagai warna cat air. Tetap dengan raut tak acuh, ia mendekati Seungmin di meja makan. Lalu bertanya, "Aku boleh makan satu?"
"Aku beli memang untuk dimakan bersama," balasnya tersenyum, tipikal sungging yang menutup jendela dunia dan hanya meninggalkan segaris tipis. Tanpa butuh aba-aba, Jisung segera mengambil garpu dan piring kecil, untuknya dan Seungmin. Jemari pemuda Kim menaruh cheesecake ke piring Jisung. Netra Jising melebar sejadinya, jakunnya naik turun, meneguk saliva. Bukannya tiada alasan Seungmin memberikan cheesecake, sebab kedua indra penglihat Jisung tak melepaskan diri dari potongan cheesecake itu. Terlampaui kentara bahwa ia ingin.
Seungmin sendiri mengambil chocolate cake. Memotong dengan garpu, menyuapi mulut, membiarkan cokelat melumer pelan-pelan di lidah. Enak sekali. Jisung yang di seberangnya memakan dengan wajah berbinar masih tanpa garis melengkung, tetapi ia bahagia.
Memakan dalam kesunyian menjadi kebiasaan mereka, bukan sejenis kesunyian mencekam yang berada dalam film horor, bukan pula kesunyian yang berusaha sebaik mungkin tuk menghilangkan kecanggungan. Namun, serupa senyap yang mereka nikmati dengan sesekali melirik sesama. Tatkala netra mereka bertemu, Seungmin akan memberi sungging lebar memancarkan ketulusan seperti biasa dan Jisung akan membalas dengan mengangkat salah satu sudur bibir, memamerkan senyuman tipis. Hanya dari menangkap ekspresi yang tertampang, telah cukup bagi mereka tuk mengetahui perasaan satu sama lain.
Tersisa satu black forest terlihat jelas bahwa Jisung menginginkannya. Tetapi, ia juga merasa tak tahu diri jikalau mengambil. Seungmin yang menyadari, tertawa pelan. Ia memotong segitiga dari sudut tertajam, hingga terbagi menjadi segitiga yang lebih tipis dan kecil.
"Ini." Ia menyodorkan kembali salah satu potongan, "Aku enggak bisa habisin sebanyak itu," dusta Seungmin. Jisung menerima dengan ragu. Setelah menerimanya, ia menunggu Seungmin yang selaku tuan rumah, menyicipi terlebih dahulu. Lalu, ia menyuapi diri sendiri.
"Enak?"
"Banget," jawab Jisung sembari mengangguk.
Malam itu Jisung memilih menghabiskan waktu bertumpu di railing balkon, menatap ribuan kilauan bintang tiada henti. Para pemilik titik terang tak terlalu tampak karena lampu-lampu kota yang masih setia memberi magnitudo semu yang jauh lebih terang daripada mereka. Seungmin memilih mengikutinya seraya mengambil selimut kecil tuk membaluti Jisung yang hanya mengenakan kaos putih berlengan panjang. Ia menyampiri selimut di bahunya, dan mendapat keterkejutan singkat, kemudian ucapan terima kasih.
Jisung mengeratkan selimut kecil dengan tangan kiri, berupa mencengkeram helaian kain tipis yang menyembur ke luar dari perpotongan leher. Tangan kanannya sendiri mengetuk ujung puntung tembakau, berulang kali.
"Seungmin."
"Hmm?"
"Kau punya saudara?"
"Ada, seorang kakak." Saat ini, pemandangan kota terlihat lebih menarik daripada bintang untuk Seungmin. Langit terlampaui redup. Bintang hanya tampak sedikit.
"Dia kayak apa?" Beralih dari kota, tatapannya terkunci pada Jisung sekarang. Jisung sendiri menatapnya. Entah semenjak kapan, mungkin dari tadi. Mengapa malam ini terasa hangat? Kali ini Seungmin tak dapat mengenyahkan pemikiran itu.
"Dia baik." Seungmin tak dapat mendeskripsikan kakaknya lebih.
"Lantas, kenapa kau kesepian?"
"Dia sudah beristri. Sebagai adik, aku harus tahu diri dan menyingkiri. Tak seharusnya aku tetap tinggal bersamanya, aku hanya sebagai beban untuk mereka."
"Oh, lalu kedua orang tuamu?"
"Telah tiada." Dari netra saja, Jisung dapat mengetahui kepiluan yang berusaha disembunyikan. Jisung memilih mengisap puntung, mengeluarkannya secara perlahan.
"Aku turut berduka," ucapnya dengan asap kelabu yang turut menghilang seiring hembusan malam. Seungmin sendiri tak tahu, yang dikatakan Jisung benar-benar tulus atau hanya formalitas belaka. Ia sendiri juga tak ingin memusingkan hal tersebut.
"Kau sendiri punya saudara?" Kali ini senyuman yang biasa tipis, mulai membentuk lengkungan. Hanya saja masih terkesan dingin.
"Ada, seorang adik. Kembar lebih tepatnya." Sepasang netra menerawang, seakan memandang jauh sekali. Padahal hanya kehampaan yang tampak. Seungmin mendapati tatapan itu tak hanya sekali, Jisung kerap kali memandang jauh, tatkala Seungmin mengikuti arah pandangnya. Ia tak menemukan apapun.
"Seperti apa dia?" Kali ini, giliran Seungmin yang mengamati Jisung dan selalu terpaku pada sepasang matanya. Ingin bertanya; apa yang sebenarnya disembunyikan?
"Dia atraktif, mencintai astronomi, kutu buku, juara kelas, menggunakan kacamata bulat besar yang ketinggalan zaman"--Jisung terkekeh pelan--"terkadang aku menyuruhnya melepaskan kacamata agar mereka melihat betapa indah dirinya sebenarnya. Namun, ia selalu bersikeras bahwa ia buruk rupa dan harus ditutupi. Padahal bintik-bintik di wajah membuatnya terlihat keren."
Biasanya Jisung hanya akan berbicara panjang lebar ketika berargumen, baru kali ini ia melihat Jisung membicarakan seseorang dengan wajah penuh bangga.
"Pasti adikmu sangat berharga ya."
"Dia adalah separuh jiwaku."
"Kau ada fotonya?"
Jisung memasukan puntung ke dalam mulut, mengambil ponsel yang berada di saku celana. Seungmin dapat melihat wallpaper jembatan, jenis jembatan yang hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki. Di bawah jembatan, ada sungai berbatu yang memiliki ukuran serta warna batu yang bervariasi, airnya cukup jernih karena Seungmin sendiri masih dapat melihat kerikil yang terendam air.
Jisung menunjukkan gambaran seorang pemuda yang tengah tersenyum lebar dengan sepasang netra menyipit, memperlihatkan kerut di area matanya. Seperti perkataan Jisung, kembarannya benar-benar berbintik. Tetapi, Jisung tak berkata bahwa mereka tak mirip.
"Kita kembar tapi memang enggak mirip," katanya seakan dapat membaca benak Seungmin. "Tahu kembar fraternal?"
Seungmin mengangguk. "Di mana dia?" Sesaat, ia dapatkan raut yang tengah berbisik pilu.
"Dia di Gapyeong."
"Kau tidak ingin mengunjunginya?"
Lagi-lagi, Jisung menebar sungging tipis. Namun, kali ini Seungmin tak mampu menangkap makna di balik senyuman Jisung.
"Sebentar lagi, aku akan mengunjunginya," katanya.
Keheningan kembali, meninggalkan kedua pasang netra yang memandang cakrawala. Walau keduanya menatap titik yang sama, belum tentu hal yang mereka pikirkan serupa. Karena, kini salah satu tenggelam dalam benaknya yang berkeliaran.
.
.
.
"JISUNG."
Yang dipanggil menoleh, menghentikan pergerakan kuas lukis yang berada dalam tautan jemari tangan kanan. Potret kali ini adalah para bintang berkelana, kemarin Seungmin melihatnya melukis musim semi di taman bunga--sekarang lukisan itu telah selesai dan ditaruh di bawah terik mentari.
"Sudah berapa lama kau tak memotong rambut?" Seungmin duduk di kasur, seraya memberi mug berisi cokelat hangat kepada Jisung yang kini menyelipkan kuas pada telinga. Jisung menerima mug, lalu menyesap cokelat sembari melirik langit-langit apartemen, putih. Warna yang cocok dengan Seungmin.
Setelah keheningan yang menandakan pemuda Han berpikir, akhirnya ia menakluk senyap dengan menjawab, "Enggak tahu."
Mug berisi cokelat, Seungmin taruh di atas meja laci kecil berwarna kayu tua--tepat di samping kasur. Ia memegang pipi kiri Jisung, sedangkan tangan sebelah menyibak surai cokelat pelukis ke samping. "Panjang banget rambutmu, sampai terkadang matamu enggak kelihatan. Enggak ganggu pas lukis?"
"Enggak kok, sudah biasa."
"Nanti matamu sakit. Tunggu dulu, aku punya bando cuci muka. Pakai itu dulu ya." Tanpa menunggu sahutan Jisung, Seungmin segera berlari ke kamar mandi dan membawa pulang bando karet berbentuk lingkaran. Jisung ingin memasangnya sendiri, tetapi ia mengurungkan niat tatkala menatap kedua tangan yang berlumuran cat minyak--mengapa ia baru sadar? Padahal tadi ia memegang mug.
"Seungmin, pasangkan." Jisung mengambil kuas dari telinga, "Kalau aku pasang sendiri, nanti kotor."
"Oke."
Jemari Seungmin dengan telaten memasukkan bando dari kepala hingga terjatuh ke leher Jisung. Membiarkan belakang kepala menahan bagian bando, dan ia menyibak setiap helaian ke atas. Kemudian, menarik bando sampai tiada helai selain para rambut bayi yang menutupi segala cahaya yang memasuki netra atau pun keningnya. Seungmin kembali merapikan surai Jisung, ia baru menyadari. Ternyata tak hanya poni saja yang panjang, rambut yang berada di belakang sendiri sudah dikuncir satu ke bawah oleh Jisung, panjang ada setengah jengkal tangan Seungmin--ia diam-diam mengukurnya. Rasanya, awal mereka bertemu rambutnya tak sepanjang ini.
Silau adalah yang pertama kali Jisung rasakan. Sehingga, ia pun menyipitkan netra tuk membiasakan diri.
"Mau potong rambut?" tawar Seungmin yang segara dijawab gelengan pelan oleh Jisung.
"Biar saja, aku memang sengaja panjangkan."
"Kenapa?" Pertanyaan Seungmin seakan spontanitas.
"Sebagai bukti." Setelah meninggalkan alasan yang tak dapat Seungmin pahami, Jisung kembali terlarut dalam aktivitasnya.
Tatkala ia memainkan kuas, setiap coretan yang ia tuang ke kanvas layak mengelus, sedemikian halus dan indah. Warna yang tertuang taklah banyak, namun seluruhnya menyatu, seakan mengatakan bahwa keindahan yang ia miliki tak hanya luput pada satu warna.
Jisung menyadari bahwa Seungmin tiada henti menatapnya. Tetapi, ia tetap mengerjakan lukisan tanpa melirik ke arah Seungmin sekalipun. Andai ia menoleh, ia akan tahu bukan hanya tatapan hangat yang ia dapati. Namun, sorot penuh pujalah yang akan tertera di sana.
.
.
.
"Jisung."
Jarum jam pendek, entah melewati beberapa putaran. Suara pemanggil masihlah serupa, tatkala halus dan hangat. Kini Seungmin diam-diam menghitung berapa banyak kuas yang telah terkotori, berapa banyak yang telah tercampur aduk oleh warna yang berlawanan. Pakaian lengan panjang senada awan yang selalu dikenakan mulai menampakkan perubahan berkat cat minyak menodai. Tampaknya cat tersebut sedemikian keji karena tak hanya baju yang ia kotori. Tak luput area pipi terdapat beberapa torehan hingga percikan, mulai dari; biru tua; putih; hitam; ungu--sebenarnya banyak, tapi Seungmin hanya dapat menyebutkan warna umum yang ia lihat, karena ia bukan ahli yang mampu membedakan semua warna, terkecuali dengan terkategori seperti; tua dan muda. Seperti kalanya warna toska, ia akan menyebutnya campuran antara biru dan hijau.
"Hmm?" Ia menjawab seadanya, mengingat kuas tak hanya bersebaran di gelas, ada pula yang ia gigit. Jisung tak menoleh, ia tetap terfokus pada lukisan.
Mungkin sebentar lagi akan jadi, Seungmin berharap perkiraannya tak meleset.
"Habis selesai, mau jalan-jalan?"
Jisung memandang keluar jendela. Mentari tak lagi berada di atas kepala, ia akan sirna sedari waktu tiba. Seluruh kuas, dimasukan di dalam gelas, perlu diketahui awalnya isi gelas berupa air keran. Namun, kini ia berubah, berbaur dengan segala nada malam yang Jisung gunakan. Pada saat SD, Seungmin menyebutnya ramuan ajaib yang mampu menghilangkan berbagai penyakit.
"Ayo," katanya seraya bangkit menuju westafel, membersihkan tangan serta wajah. Kemudian kembali kepada Seungmin dengan bando yang telah tiada, serta kuncir pendek menghilang.
"Lukisanmu?"
"Tinggal tunggu kering. Jadi, ayo pergi." Jisung mengulurkan tangan setengah kering. Seungmin mengernyit bingung, tak yakin maksud dari Jisung.
"Ya sudah, kalau kamu enggak mau." Tangan yang terulur memasuki saku celana, berjalan dengan apatis, memilih menuruni tangga kecil seraya memakai sepatu. Seungmin mengikuti jejaknya. Ibarat malam indah menusuk layak awal mereka berjumpa, tak pernah sekali pun ia sanggup melepaskan diri dari sosok Han Jisung. Apalagi ketika ia membuka pintu, membiarkan diri terbasuh oleh lembayung senja.
Kaus putih yang selalu dikenakan, kini membaurkan diri bersama percikan abu jelaga hasil merancang potret indah berjiwa kelam. Seolah tak cukup, senja memancarkan sejuta cahaya yang ia mampu untuk tak membiaskan pandangan Seungmin. Sorotnya terkunci pada pemuda Han yang tampak tersenyum tipis. Semilir memilih para surai kecokelatan melampaui leher milik Jisung tuk diembus, memintanya agar menyibak surai ke belakang. Layak yang kini ia lakukan.
"Jangan lama-lama, nanti keburu malam."
Kata-kata itu tak tersampai ke dalam otak Seungmin. Mungkin otaknya memilih berhenti bekerja dan meminta tolong kepada mata tuk menatap Jisung seakan saat ribuan titik semesta menghampiri kala lampu dipadamkan.
Seungmin masih terpaku selang beberapa detik. Jisung mendekat, sedemikian dekat hingga Seungmin dapat merasakan hangat napas menerpa wajah. Jisung menyadari sorot yang Seungmin beri. Ia memilih menunduk, membuang wajah menyeret kedua kaki keluar. Meninggalkan Seungmin yang kini mengejar sembari meneriaki namanya.
Kim Seungmin sendiri tak bodoh melihat raut Jisung yang tak sampai sedetik ia perlihatkan. Kedua netra membelalak, alis menungkik ke atas, ia menahan napas sejenak, kemudian kembali pada ekspresi dingin yang selalu dikenakan bagai topeng yang tak mampu lepas dari kulit karena terlampaui menyatu. Sekilas, Jisung melepaskan topengnya dan ia terlihat sengsara dan akan menangis.
Sekarang, angin senja terasa lebih menusuk dibandingkan sepoi halus mendengkur milik malam.
.
.
.
"Kenapa tadi pergi duluan?" Sebenarnya bukan itulah yang ingin Seungmin tanyakan. Namun ia juga tak memiliki keberanian tuk bertanya; mengapa kau terlihat merana?
"Enggak apa-apa, mau ke mana kita?" Jisung berbalik, menunjukkan raut datar seakan tak terjadi apapun. Seolah ia tak memberi raut derita. Masih dengan senja yang menerpa. Jisung seakan es yang dibaluti dalam kehangatan. Aneh, ia tak mencair, malahan ia bertambah kokoh.
Seungmin menggigit bibir sejenak. Ia ingin memiliki keberanian tuk bertanya, ia ingin mengijakkan kaki pada wilayah privasi Jisung dan ketika ia berhasil masuk ke dalam privasi pemuda. Angin kencang akan menghempasnya hingga keluar dari zona Jisung. Seperti spasi yang diciptakannya sekarang. Mereka hanya berselisih kurang dari satu meter. Namun, Jisung seakan begitu jauh, Seungmin mengulurkan tangan tuk meraih pun tak mampu.
"Ayo nikmati senja." Pada akhirnya, Seungmin hanya mampu berkata sedemikian. Mereka berjalan di trotoar menulusuri dedaunan senada senja atau kayu berguguran. Menginjak daun kaku, hingga menciptakan dering hancur. Tiada konversasi yang keluar dari kedua bibir. Hanya keheningan menyesakan yang meminta Seungmin tuk berlari, menjauhi Jisung karena suasana tidak menyenangkan yang merusak segalanya.
"Seungmin-ah, kau enggak nyaman?" Langkah Jisung berhenti di taman, sedangkan Seungmin berada beberapa langkah di depan. Tak menghapus spasi yang terbuat. Seungmin menggeleng pelan, mendustai diri. Jisung menghembus napas panjang nan kasar. "Aku capek, duduk di dalam ya?" Jisung menunjuk taman dengan jempol yang dilambaikan berulang.
Tak perlu menunggu persetujuan Seungmin, Jisung segera melangkah masuk. Meninggalkan Seungmin tuk menyusul. Ia menyapu helaian daun kering dengan tangan. Mendaratkan pinggul bawah pada kursi kayu tua yang telah dibersihkan dan diikuti oleh Seungmin.
"Bagimu, hidup itu apa?" celutuk Jisung tiba-tiba.
"Hidup itu ya ...." Selama ini Seungmin tak pernah memikirkan tentang kehidupan, ia menjalankan setiap detik menjelang ajal dengan satu semboyan; "Ya sudah". Yang berarti ia tak perlu memikirkannya. Ia bekerja tuk bertahan hidup, tidur agar tubuhnya tak kecepaian, dan makan demi tak ambruk.
Seperti biasakan Jisung memberi waktu kepada Seungmin, yang bahkan tak pernah memikirkan kehidupannya sendiri. Membiarkan keheningan kembali menyeruak di antara mereka. Menikmati angin berhembus halus, menggelitik indra pendengar. Beberapa helai daun kering tertiup pelan. Cakrawala mulai menunjuk gelap, namun senja belumlah berakhir. Tinggal menunggu waktu dan Seungmin masih membisu.
"Menurutku, kehidupan itu seperti kanvas." Mungkin Jisung terlampaui malas menunggu jawaban Seungmin, sehingga pada akhirnya ia memilih membuka mulut.
Jisung kembali pada tatapan itu, sorot pandang yang tatkala jauh dan Seungmin masihlah seseorang yang tak tahu apa yang tengah dipandang olehnya. Ia menengadah, sedangkan Seungmin mengamati setiap inci rupa Jisung.
"Ketika kita lahir, kanvas itu pasti berwarna putih. Sedemikian waktu kita jalankan, kita akan mengenal emosi, berbagai tabiat manusia. Emosi kita gambarkan sebagai warna pelangi. Kebaikan sebagai putih dan kejahatan sebagai hitam." Ia tak lagi menengadah. Kini, ia menatap Seungmin dengan senyuman.
"Seungmin-ah. Aku sudah melihat berbagai manusia di dunia ini--lebih daripada kamu kayaknya. Tetapi, kanvasmu adalah yang paling indah di antara semuanya." Suara Jisung yang biasanya tajam, berubah menjadi lembut. Mungkin, itulah suara terlembut yang pernah ia dengar dari Jisung.
"Dan kanvasku," Seungmin berani bertaruh suara Jisung berubah. Masihlah lembut, namun, ia mendengar bunyi retak di dalamnya, "adalah yang terburuk di antara semuanya."
Surai yang melewati perpotongan leher ikut turun tatkala ia menunduk, menyembunyikan rupa. Jisung terlihat hancur, bersamaan dengan detik di mana senja dilahap, menyisakan gelap gulita.
.
.
.
"JISUNG, TOLONG jagain rumah ya."
Merupakan ucapan yang kerap terlontar dari bibir Seungmin. Tatkala, ia menyelesaikan sarapan dengan terburu-buru. Melirik jam dengan sorot panik. Seungmin akan terlambat dan ini jarang sekali terjadi. Walaupun waktu seakan mempercepat diri, ia masih menyempatkan diri, memberi senyuman hangat nan lebar yang dibalas anggukan singkat serta sungging tipis.
Pintu tertutup, Seungmin telah berangkat.
Diawali dari deting sumpit mencumbu lantai. Benda tersebut berdeting berulang kali, hingga senyap, entah terlempar sejauh apa. Jisung menekan area belakang telinga. Mengeratkan pegangan pada lengan baju yang tengah terpilin. Otaknya berdenyut-denyut. Nasi serta kimchi yang menjadi sarapan, seakan membelah diri, menjadi ganda. Perlahan mengabur. Sekuat tenaga ia menggigit bibir agar tiada pekik sakit keluar dari bibir. Sedemikian sakit sampai ia tak merasa telah mencecap asin dan menelannya.
Seakan itu tak cukup. Otak berdenyut seakan memintanya membuang seluruh isi perut. Jisung menurutinya. Membelalak, ia menekan mulutnya kuat-kuat. Langkah tergesa ia gunakan, segera menggeser kasar pintu toilet. Di westafel, ia muntahkan seluruh makanan.
Rasanya bagai neraka.
Barangkali deskripsi itu terlalu berlebihan. Namun, tak pungkiri setiap denyut perih. Mengirim sejuta rasa sakit. Seakan memintanya melepaskan diri. Meninggalkan tubuh, pergi menjulang ke angkasa. Terlahir kembali menjadi salah satu bintang.
Ditarik napas panjang, kemudian hembuskan. Mengabaikan sekujur tubuhnya yang terasa dingin dan tangan yang gemetaran tiada henti, serta hidungnya yang tampak tersumbat karena muntahan. Jisung menatap pantulan diri dalam cermin. Ia dapat menatap salah satu netranya yang bersembunyi di balik poni. Tiada semburat tertera, rupanya netranya telah semati ini.
Lega rasanya. Jisung akan berkata dirinya beruntung. Selama tinggal bersama Seungmin, tak pernah sekalipun ia tampak semenyedihkan ini di depan pemuda. Mungkin Dewi Fortuna tengah berada dipihaknya. Sehingga kesakitan yang ia alami, selalu berada di jam kerja Seungmin. Namun, bukannya Jisung tak tahu. Bahwa, keberuntungan takkan bertahan selamanya.
Ia mengangkat keran air besi ke atas. Membasuh wajah dengan para tetes bening. Berkumur sejenak, berharap aroma tak mengenakkan menghilang. Harapan dungu, karena percuma. Akhirnya ia mengambil sikat gigi, menaruh odol. Mulai membersihkan gigi, lidah, dan mungkin ... gusi? Entahlah, Jisung benar-benar menyikat dengan semangat hidup yang telah dibumihanguskan. Pelan dan tidak pasti. Perlu waktu sekitar sepuluh menit tuk mengakhiri sesi sikat gigi.
Melangkah keluar toilet. Apa yang harus ia lakukan dengan nasi dan kimchi sekarang? Semuanya tersisa setengah. Kalau kimchi, karena dari toples. Ia tak khawatir, tinggal disimpan di kulkas. Yang menjadi masalah adalah nasi dan selera makannya yang menguap entah ke mana. Jisung mulai curiga, jangan-jangan yang menguap tak hanya selera makannya, juga minatnya tuk "hidup". Sebab, netranya terasa berat sekali. Padahal masih pagi, mentari belum mencapai titik tertingginya.
Jisung mengucek kedua mata. Sebutlah ia tidak tahu diri, karena memilih membiarkan nasi tak bergerak dari tempat. Tak memungut sumpit pula. Kimchi pun ia masuki kulkas dengan setengah hati. Ia menyeret kaki, memintanya beranjak dari kulkas dan menuju kasur. Kedua netra sedemikian berat. Terlampaui berat hingga gelap merajai sebelum dirinya mencapai kasur.
Jisung pun terlelap.
.
.
.
Perlahan ia membuka netra pelan. Bayang-bayang seseorang menyelimuti. Bibirnya mengucapkan beberapa penggal kata. Jisung berusaha menangkap ucapannya.
"Kau kenapa?" Ia menyerukan hal yang ia tangkap. Bayangan orang tersebut, sedemikian bersinar. Tetapi tak menyakitkan, karena Jisung tak butuh menyipitkan netra. Ia terkekeh pelan, tangannya digunakan tuk mengacak surai pemuda di depan. Kini, ia dapat melihat Kim Seungmin seutuhnya. Tiada cahaya hangat yang memancar. Seungmin terlihat khawatir, jelas. Jisung baru sadar, bahwa ia sedang dalam dekapan. Lemah sekali tubuhnya, tatkala ia ingin menyentuh helaian cokelat. Tangannya tampak kebas, seakan tubuh ini bukan miliknya. Tetapi, ia memaksakan diri tuk merasakan jemarinya berada dalam balutan surai.
Ah, kapan terakhir kali dirinya menyentuh rambut seseorang? Lima tahun yang lalu? Sudah lama sekali.
Raut khawatir Seungmin tak dihiraukan. Walau masih kebas, ia berusaha menarik leher Seungmin. Membiarkan diri, masuk antara sela leher dan bahu. Nyaman. Kapan pula terakhir ia mendekap seseorang erat? Raksi Seungmin bagai adiknya. Berupa baskara yang hangat. Rindu perlahan merayapi, memasuki diri dan bersemayam.
.
.
.
Baru saja, ia pulang kerja dan mendapati Jisung menelungkup di dekat kasur. Tak perlu basa-basi, dengan segala kekhawatir teramat, segera ia menghampiri Jisung dan mengangkat pemuda sepelan yang ia mampu. Jisung tampak tenang, layak sosok yang tertidur--selamanya.
Bahu Jisung dicengkeram, diguncang pelan agar ia sadar. Tatkala Jisung terbangun, dengan sorot kosong ia bermain sejenak dengan helai cokelatnya, kemudian menarik Seungmin. Memilih membiarkan dagunya tertahan di siku leher dan bahu. Sedemikian erat, bagai belenggu tiada mantra yang mampu memutuskan.
Seungmin ingin bertanya. Pertanyaan mudah seperti; "Kau enggak papa?" atau "Kau kenapa?". Dua-duanya memiliki konotasi yang seriras. Pada akhirnya ia hanya mampu menepuk-nepuk punggung Jisung. Tiada lontaran tanya yang ia jabarkan. Karena Jisung mendekapnya erat, erat sekali. Ia tampak ingin menyembunyikan fakta bahwa tubuhnya bergetar dalam isakan tersembunyi.
Pakaiannya memang tak terasa dibasahi bening. Namun, ia tahu Jisung menangis. Karena yang berberair bukanlah sepasang netra, melainkan hatinya.
"Seungmin-ah, kau tahu aroma matahari seperti apa?"
"Enggak, aku enggak tahu."
"Coba bayangkan. Hamparan rumput luas, sungai mengalir, cahaya matahari menyinari. Tetapi cahayanya enggak membuatmu terasa terbakar. Melainkan membuatmu hangat dan ingin terus berada di sana selamanya."
Otaknya memproses seluruh perkataan Jisung. Alam yang indah, hangat, dan tenang. Mungkin jikalau kau menemui tempat sedemikian memukau, kau takkan meminta hal berlebih lagi.
"Iya, aku sudah membayangkannya."
"Aromanya, indah bukan?"
"Hmm."
"Itulah aromamu, Seungmin-ah."
Malam itu berakhir dan tiada penjelasan lebih dari Han Jisung. Seungmin pun tak bertanya terlebih lanjut perkara sarapan yang tak habis. Mereka menghabiskan waktu dalam diam. Jisung tak kembali terlelap, ia menghabiskan sebagian besar waktunya di balkon, menghisap beberapa puntung. Awalnya, Seungmin ingin mengikuti jejaknya menuju balkon. Namun, Jisung membentuk senyum tipis seperti biasa yang bermakna; aku ingin sendiri.
Tatkala Jisung mendekapnya, bertanya akan raksi tubuh. Yang tercium dari indra Seungmin hanyalah bau nikotin samar, cat minyak yang kuat, dan kesedihan yang teramat.
.
.
.
PARTIKEL DINGIN perlahan turun dari semesta. Menempel pada segala sudut. Memberi sentuhan singkat, tapi selamanya pada helaian surai. Menumpuk-numpuk sehingga menebal. Cara ia turun sedemikian damai, para semilir memimpin, tak merajang bagai badai. Jemari diangkat, menyentuh beku. Tak butuh waktu lama, beku mulai mencair, mengalir menuju ujung jemari. Lalu menitik ke bawah.
Jisung bersandar pada railing balkon. Membiarkan jemari bermain singkat dengan salju. Seungmin menyaksikan pergerakannya dengan saksama. Kehangatan baskara sendiri telah luntur selang beberapa waktu lalu. Jisung berbaur dengan cakrawara berona tua, salju, serta sendu yang takkan pernah sanggup dilepas. Ia menarik napas dan asap putih keluar. Tubuhnya bergetar singkat. Kedinginan, walau telah memakai mafela kelabu tebal hasil rajut.
Segera, Seungmin melepas mafela putihnya. Melilitkannya pada Jisung agar ia tak menggigil lebih dari itu. Sekarang, lehernya tampak lebih besar daripada setiap orang yang biasanya berpakaian tuk menghalau dingin.
"Seungmin-ah, nanti kamu sakit." Jisung menghangatkan napasnya pada kedua tangan berkali-kali. Lalu berusaha mengalungkan mafela putih ke pemilik sesungguhnya. Ingin Seungmin menarik kedua tangan lalu ia bantu menghangatkan. Namun, seperti biasa ia tak berani.
"Kamu kedinginan."
Jisung memberi sungging tipis--lagi-lagi, ia seperti itu.
"Dalam ada mantel kok, jangan khawatir." Setelah mengatakan hal itu, Jisung berangsur ke dalam dan Seungmin mengikuti jejaknya. Ia mengambil dua mantel yang memiliki warna berlawanan dari lemari. Melempar yang senoda salju ke Seungmin, sementara ia sendiri memasang yang legam.
"Ayo jalan-jalan. Aku kepingin makan eomuk*."
Seakan tak butuh mendengarkan tanggapan Seungmin. Setelah bersiap-siap ia pun melangkah keluar dari pintu masuk. Meninggalkan Seungmin tuk menyusuri.
.
.
.
"Jisung, di sini eomuk-nya enak."
Tatkala Seungmin berkata. Jisung langsung menghentikan langkah. Bertanya akan harga setusuk yang dijawab ramah oleh wanita paruh baya. Ia membeli beberapa tusuk dan meminta agar kuah dibanyakan, sebab hari ini dingin sekali. Satu mangkuk plastik berisi sepuluh tusuk dan mereka memakan seraya berjalan di tengah dingin salju turun, bunyi hiruk-pikuk kendaraan. Mangkuk sendiri, Seungmin yang pegang karena Jisung berkata bahwa ia tak ingin memegangnya.
"Kamu saja yang pegang, Seungmin-ah," begitulah cara ia berujar sembari memakan setusuk. Seperti biasa keheningan sedemikian cepat menyeruak di antara mereka. Namun, keheningan tak lagi menimbulkan kecanggungan. Sebab, benak mereka sendiri terombang-ambing. Sampai di detik perjalanan mereka tersisa separuh tuk menuju tempat bernaung. Jisung menghela napas panjang.
"Kenapa?" tanya Seungmin.
"Kalau hari itu kamu enggak tolong aku. Barangkali aku sudah enggak ada di dunia."
"Jangan bicara sembarangan."
"Kenapa malam itu kamu mau menolongku?"
"Karena kamu terlihat kesusahan." Seungmin tertawa kecil, mereka seakan kembali ke titik awal mereka berjumpa. Pertanyaan Jisung serupa dan sikapnya kala itu benar-benar tak bersahabat.
"Maksudku, kenapa kamu dapat menemukanku?" Seungmin mengerjap-ngerjap. Tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan Jisung. Hendaknya ia menjelaskannya kembali, makna di balik pertanyaan yang terlontar. Aneh, ia memilih menutup mulut kembali menebar sungging khas.
"Mungkin takdir kali ya," bisiknya kecil. "Seungmin-ah, antara bintang sama matahari, kamu pilih yang mana?"
Betapa mudahnya Jisung mengubah topik, seakan perbincangan tadi tak terjadi. Seungmin juga tak ingin mengambil pusing. Ia akan bagai air yang mengalir dan mengikuti Jisung yang berada di hilir.
"Bintang."
"Kenapa?"
"Karena mereka indah. Menerangi langit malam dengan segenap jiwa mereka, membuat kita tak takut dengan malam. Malah menginginkan malam mendekat supaya dapat mengagumi keindahan para bintang. Lagi pula menurutku, bintang ada agar memberitahu ke orang-orang bahwa mereka tak sendirian." Ia menengadah seluruh sorotnya menuju ke cakrawala. Rumah para titik terang berkumpul.
"Caranya mereka memberitahu bagaimana?"
"Enggak tahu. Tetapi selama ini walau aku kesepian, asal adanya bintang, aku selalu merasa bahwa ada orang yang melakukan hal yang sama denganku. Menatapi mereka, mengagumi kecantikan mereka. Kalau begitu, aku enggak sendirian, kan?" Seungmin menoleh, mendapati Jisung menatapnya lekat. Tatapan itu seakan dapat menembus dirinya, membocorkan berbagai informasi pribadi. Sejenis tatapan yang jikalau kau tatap lama dan akan hanyut ke dalamnya. Hanya sejenak, Jisung pun memutuskan sorot itu seakan tersentak akan kenyataan.
"Kalau aku mencintai matahari."
"Alasannya?" Seungmin memberi sorot puja kepada Jisung yang tengah menengadah, menerawang semesta. Seakan mencari sebuah celah dan mengelupasnya. Barangkali mereka tak sadar, kendati dua pasang netra memancarkan afeksi dalam kadar sama.
"Mereka indah dan hangat."
Mereka? Bukankah matahari hanya satu? Hendak Seungmin bertanya Jisung telah melangkah terlebih dahulu. Lagi, ia ditinggal tuk menyusuri jejaknya.
.
.
.
"Enggak tidur?" tanya Seungmin. Biasanya Jisung selalu terlebih dahulu menjamah kasur. Terlebih dahulu terlelap dan Seungmin akan mengambil kesempatan itu, membiarkan netra menjelajah setiap inci pahatan wajah. Sesekali memilin rambut panjangnya.
"Kamu duluan saja." Masih dengan mantel tersampiri Jisung menatap salju, bintang, seraya menggumamkan suatu hal yang tak dapat Seungmin dengarkan.
"Jangan terlalu lama, nanti kamu sakit." Jisung menoleh tersungging sembari mengangguk--ia terlihat seakan menahan sesuatu, nelangsa diukir. Seungmin ingin bertanya, Jisung seakan memberitahu jangan melontarkan kata-kata, tatkala ia memutuskan kontak dengan memalingkan wajah. Seperti biasa, Seungmin tak melanjuti. Meskipun setitik sendu membekas dalam diri.
Kelelahan menghampiri Seungmin terlebih dahulu. Setelah membenahi diri. Ia berangsur berderap ke kasur, menjatuhkan diri, dan tenggelam dalam dengkuran pelan. Melupakan bahwa firasat akan ada sesuatu terjadi.
.
.
.
Baskara masih belum menyentuh puncak. Seperti biasa, Seungmin telah terbangun. Ia menyentuh sebelah. Dingin. Tak mendapati kehangatan bersinggah. Butuh beberapa detik tuk Seungmin memahaminya. Walau raksi cat minyak masih menodai ruang, tiada botol yang tersisa. Bagai dibumihanguskan. Tas besar Jisung juga tak menampakkan diri. Tiada easel kokoh yang selalu digunakannya tuk melukis.
Perut Seungmin seakan terlilit. Panik menguasai diri. Persetan dengan dinginnya musim. Ia segera beranjak keluar, tanpa mantel maupun mafela tersempiri. Seakan tak waras ia berlari sembari meneriaki nama Jisung. Dingin salju membekukan tubuhnya. Tetapi ia masih bersikukuh tuk mencari.
Ia bertanya kepada setiap orang yang ia temui. Menanyakan pertanyaan yang selalu dijawab dengan kata yang sama;
"Permisi, apakah ada melihat pemuda dengan poni panjang dan rambut sepundak?"
"Tidak."
"Ah, terima kasih."
Tujuan terakhir Seungmin adalah stasiun kereta. Jikalau ia tak mendapati jejak di sini. Tampaknya, ia harus menyerah dan menerima fakta bahwa Jisung pergi tanpa memberi salam perpisahan--yang berujung kemungkinan Seungmin memintanya kembali. Konversasi tetap sama. Hanya kata itu yang kerap keluar dari setiap belah bibir, "Tidak."
Hati kian mencelos tatkala mendengarnya. Binaran pada netra seakan ditelan bumi. Dingin. Suhu seakan turun sedemikian drastis. Ibarat jarum yang menusuk-nusuk tubuh dalam balutan tipis. Barangkali ia akan mati beku dalam kondisi ini dan ia tak apa jikalau itu terjadi. Kepergian Jisung mendadak sekali. Tak lupa seraya berlari tadi, Seungmin menelepon memintanya berkata bahwa ia hanya sedang ngerjainya. Jisung seakan bintang untuknya dan bintang tersebut direnggut, menghilang dalam semesta keji.
Ia sampai pada apartemen dengan kondisi baju basah akan keringat serta suhu dingin yang membekas--ia merasa bagai seonggok daging tak berguna yang tiada roh yang mengontrol--rasa dingin yang awalnya menusuk berubah menjadi tak berasa. Menulusuri sekitar, berharap akan adanya benda atau apapun yang Jisung tinggalkan. Dikabulkan ketika menemukan sebuah kanvas penuh bintang yang Jisung lukis--di samping kasur--tatkala hari di mana pemuda berhasil membuat hatinya remuk untuk kesekian kalinya.
Dan kanvasku adalah yang terburuk di antara semuanya.
Tatkala Jisung berkata sedemikian. Seungmin segera bangkit, menarik kepala Jisung pelan, membenamkan dalam dekapan hangat. Kala itu Jisung terlihat akan hancur jikalau tak ia sangga. Hangat tangan Jisung tatkala memegang lengannya masih membekas hingga saat ini.
Terima kasih, Seungmin-ah.
Kini, Seungmin mendekap erat kanvas. Berharap mendapati kehangatkan yang sama. Namun, kanvas itu semikian dingin. Suatu hal yang hidup dan tidak memang sejauh itu. Perlahan ada kertas kecil terjatuh dari belakang kanvas, menyapu lantai. Ia berjongkok, memungutinya.
「Para titik terang berkumpul, merajai cakrawala gelap. Melebur membentuk garis konstelasi saling mengecup. Titik teredup bermagnitudo enam, kehilangan harapan hidup. Ia tak mampu melebur. Kau datang menyemangati, memintanya tuk bernapas walau sakit. Perlahan pendarnya berubah. Sekarang ia pergi dan memintamu mencari.
"Hei, temukan bintang magnitudo enam."」
Para kalimat bagai berbisik; temuilah aku.
.
.
.
