Actions

Work Header

Unbelievable

Summary:

Bisa dibilang kelanjutan dari Unpredictable. Ada pencuri makanan lagi! Apa Kyuhyun masih belum kapok juga? —eh, memangnya sudah jelas Kyuhyun pelakunya? Bagaimana kalau ternyata ada penyusup di dorm? /Warning: makin ga jelas! Humor 1%/ RnR? —mysticahime

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Chapter 1

Chapter Text

Disclaimer: Never owns Super Junior! corettapikalodikasihsiwonoppaatokyuhyunoppamaudongcoret

 

Warning: Gaje. Humor 1%. Bisa dibilang kelanjutan dari ‘Unpredictable’. Tolong kasih tau kalo penggunaan bahasa Korea-nya salah :) Anggep aja dorm Suju disatuin, dan kamarnya sesuai couple Suju *seenaknya*

 

.

.

.

.

mysticahime™

© 2011

.

.

.

.

 

UNBELIEVABLE

 

.

.

.

 

Seperti yang sudah diketahui, pelaku pencurian makanan di dorm boyband papan atas Korea—Super Junior—tertangkap dan divonis menjalani hukuman menjadi cleaning service cuma-cuma di dorm Suju selama satu bulan. Ya, dan sampai hari ini, terdakwa sudah menjalani hukuman tepat selama dua minggu.

 

Ngiiinngg...

 

Suara mesin penyedot debu bagaikan theme song yang selalu sedia menemani Cho Kyuhyun dalam acara membersihkan dorm. Terkadang, suara itu diiringi oleh umpatan khas magnae yang kini kekurangan waktu untuk berkencan dengan PSP tercintanya.

 

“Berantakan banget!” gerutunya kesal.

 

Kyuhyun mengangkat sebuah celana jeans yang digeletakkan dengan sembarangan di ruang tengah. Nah, siapa di antara hyungdeul-nya yang dengan serampangannya ‘membuang’ celana di tempat santai seperti ini? Tidak tahu letak mesin cuci, eh?

 

Sang magnae mematikan vacuum cleaner-nya, meninggalkan soulmate-nya selama dua minggu terakhir itu dan menjinjing celana jeans yang ditemukannya ke kamar mandi—tempat keranjang cucian dan mesin cuci berada. Dilemparkannya potongan denim itu ke bagian paling atas dari gunungan cucian.

 

Dan Kyuhyun terdiam.

 

Aish, menjadi cleaning service di dorm juga berarti membuatnya harus menyelesaikan tumpukan pakaian kotor itu, membuat mereka menari-nari dalam pusaran mesin cuci bersama dengan butir-butir detergen.

 

“Gue disamain sama pembantu,” gerutu Kyuhyun, lebih pada dirinya sendiri. Ditatapnya baju-baju milik hyungdeul-nya yang harus ia cuci. Luar biasa banyaknya, mengalahkan jumlah pakaian di butik besar yang berada di Myeongdong. Hyungdeul-nya memiliki koleksi pakaian yang tak kalah dengan fashion show. Merepotkan.

 

Walaupun ada mesin cuci keluaran terbaru yang selalu siap sedia membantu pekerjaan cuci-mencucinya, tetap saja Kyuhyun harus mengucek baju-baju itu terlebih dahulu. Sepuluh jemarinya terancam keriting sempurna!

 

Malang sekali nasib magnae yang satu ini.

 

Makanya, lain kali, jangan jadi maling makanan...

 

Kyuhyun berjalan gontai ke ruang tengah, menjemput rekan sehidup-sematinya—vacuum cleaner—dan kembali menyalakannya. Berusaha membersihkan ruang tengah secepat mungkin, kemudian berniat membereskan tugas mencuci. Ia yakin sekali, setelah ini ia akan tidur seharian penuh—mengisi ulang energinya yang terkuras.

 

—setelah makan tentunya.

 

.

.

.

.

 

Pukul sembilan malam lewat, dua belas namja berjalan masuk ke dalam dorm yang gelap gulita. Kebetulan sekali, malam ini acara talkshow yang mereka hadiri selesai lebih awal dari perkiraan waktu. Hmm... mereka semua sudah bisa mencium aroma kasur dari ambang pintu dorm.

 

Mereka lelah, sangat lelah. Bahkan Siwon pun memutuskan untuk menginap di dorm karena sudah tidak sanggup menyeret tubuhnya untuk menyetir mobil sampai ke rumahnya.

 

Baru pukul sembilan, namun tubuh mereka sudah nyaris rontok. Kesibukan mereka selama dua minggu ini secara otomatis telah mengurangi waktu istirahat mereka.

 

Setidaknya, selama dua minggu ini mereka tidak perlu menambah kelelahan mereka dengan membersihkan dorm. Yap, tempat mereka tinggal ini telah mempunyai cleaning service baru. Sebagai hukuman, Leeteuk berhasil membujuk manajer mereka untuk meng-cancel jadwal Kyuhyun sebulan ke depan, kecuali bila jadwal itu benar-benar mendesak, seperti konser, latihan koreo, dan jumpa fans.

 

Selain itu?

 

Ditolak.

 

Dengan kata lain: Kyuhyun memang menjadi cleaning service resmi dorm selama satu bulan—dan kalau hyungdeul-nya tega, selamanya.

 

“Aku lelah,” gumam Eunhyuk sambil merentangkan kedua lengannya ke udara, meregangkan punggungnya yang kaku karena harus duduk tegak selama talkshow berdurasi dua jam itu.

 

“Aku tahu.” Heechul yang menjawab.

 

“Aku lelah,” kata Eunhyuk lagi—kali ini sambil menggerakkan pinggangnya ke kiri dan ke kanan.

 

“Aku tahu.” Kini Leeteuk yang menjawab.

 

“Aku le—”

 

“KAMI TAHU!” Seluruh member Super Junior kini menjawab—ralat, hampir semua. Kibum hanya tersenyum, seperti biasa.

 

Eunhyuk cemberut. Tingkahnya seperti anak kecil yang disuruh menemani ibunya berbelanja ke pasar yang berjarak dua belas kilometer dari rumahnya, melewati gunung dan lembah.

 

Kangin yang masuk terakhir mendapat jatah mengunci pintu dorm. “Ada yang punya makanan?” tanyanya dengan wajah polos. “Entah mengapa, rasanya aku lapar sekali...”

 

Hening.

 

“Aku juga.”

 

“Aku juga.”

 

“Aku juga.”

 

“Aku ju—”

 

“—STOOOPPP!” Leeteuk, uri leader, berseru mengalahkan suara dongsaengdeul-nya yang mulai membeo.

 

Sejak kapan member Super Junior jadi gemar meniru ucapan sesama rekannya? Sepertinya profesi mereka akan segera bergeser, dari boyband papan atas Korea menjadi beoband Korea yang membuat fans-nya ilfil.

 

Krik.

 

Hening lagi.

 

Leeteuk mengembuskan napas lega, senang karena repetisi ‘Aku juga’ berhenti berkumandang. Ditatapnya satu-satu wajah sebelas dongsaeng-nya—wajah mereka seolah menjeritkan kalo-gue-ga-dapet-makanan-sekarang-gue-bakal-mati.

 

Kruyuukk...

 

Sial, dirinya juga lapar.

 

Ryeowook yang berdiri paling dekat dengan hyung tertua di grup Suju bisa mendengar suara itu.

 

“Teukie hyung juga lapar?” tanyanya dengan ragu-ragu, walau jelas ia tahu bahwa yang berbunyi tadi adalah perut Leeteuk.

 

Sebelas pasang mata langsung berpusat pada Leeteuk.

 

Uri leader mengangguk dengan senyuman garing.

 

Satu.

 

Dua.

 

Tiga.

 

Sweatdropped.

 

Perkataan Wookie selanjutnya bagaikan Keajaiban Dunia yang kedelapan. “Sepertinya masih ada sisa masakanku tadi pagi... Kalau kurang, kita juga bisa memasak ra—”

 

Sebelas namja langsung menyerbu ruang makan tanpa menunggu kelanjutan kata-kata Wookie. Rasa lapar menulikan telinga mereka. Hanya kata ‘masakan’ yang terdeteksi oleh gendang telinga mereka.

 

Menggeleng-gelengkan kepala akibat melihat kelakuan hyungdeul-nya yang kekanak-kanakkan, sang eternal magnae memutuskan untuk menyusul mereka ke ruang makan. Tidak munafik, Wookie pun kelaparan.

 

Ia bisa melihat punggung sebelas namja yang tampak kaku, mengelilingi meja makan.

 

Sepertinya ada yang aneh.

 

Waeyo, Hyungdeul?” tanya Wookie, berusaha menyelip di antara member Super Junior lainnya. “Mengapa kalian semua diam begi—”

 

Krik.

 

Wookie juga terdiam.

 

Para member berpandangan satu sama lain.

 

Wookie memandang para member satu-persatu.

 

Mata para member membulat.

 

Mata Wookie membulat.

 

“DI MANA MAKANANNYA??” —jeritan itu menggema di ruang makan, perpaduan sempurna dari suara bas, bariton, dan tenor. Kalau saja saat itu ada efek gitar listrik yang super kencang dan gebukan dahsyat drum, sudah dipastikan para ELFs menjerit kegirangan—mengira Super Show sedang dilaksanakan.

 

Padahal kenyataannya tidak begitu.

 

Di atas meja yang dikelilingi oleh dua belas namja itu, terdapat beberapa piring datar dari keramik putih. Piring-piring itu licin. Bersih. Sisa-sisa minyak masih melekat pada permukaannya.

 

—tunggu dulu.

 

Bersih?

 

Bukankah tadi Wookie bilang bahwa masih ada sisa makan pagi tadi? Mengapa piring-piring itu kosong?

 

Para member kembali saling pandang. Menyuarakan pikiran yang sama.

 

Satu.

 

Dua.

 

Tiga.

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

“CHO KYUHYUUUUUUUNNNN!!”

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

Sekeliling Kyuhyun bertaburan cahaya. Blitz kamera menyambar-nyambar, gemuruh tepuk tangan terdengar di seluruh penjuru. Sang evil magnae menyunggingkan senyuman terbaiknya, melangkah ke panggung untuk menerima penghargaan ‘Best Singer’ yang baru saja dimenangkannya.

 

Lagi-lagi, blitz kamera menangkap setiap gestur namja itu.

 

Gamsahamnida...” Kyuhyun melambaikan piala yang baru saja diresmikan menjadi miliknya.

 

SparKyu menjerit histeris ketika sang idola melemparkan senyuman mautnya.

 

Warna biru safir ada di mana-mana, walau kali ini hanya Kyuhyun yang mendatangi Song Awards MBC. ELF tetap mendukung meskipun hanya ada satu personil Super Junior. Mereka mulai menjeritkan nama Kyuhyun.

 

“Cho Kyuhyun! Cho Kyuhyun! Cho Kyuhyun!”

 

Kyuhyun kembali melambaikan pialanya, mengucapkan terima kasih.

 

“Cho Kyuhyun! Cho Kyuhyun!”

 

.

.

.

.

.

.

.

.

 

“CHO KYUHYUUUUUNNNN!!”

 

BRAK!

 

Teriakan yang disusul bunyi pintu yang didobrak paksa menyeret Kyuhyun kembali pada kenyataan. Riuh rendah suasana di Song Awards MBC perlahan-lahan memudar. Gegap-gempita ELF dan SparKyu menghilang seutuhnya. Dan Kyuhyun menemukan dirinya terbaring di atas tempat tidur dengan posisi yang ‘nggak banget’—dengan dua belas namja mengelilingi kasurnya.

 

Wajah mereka tidak menunjukkan niat baik.

 

Glek.

 

Waeyo, Hyungdeul?” Kyuhyun berusaha menarik segala kesadarannya, walau sedikit tak rela mimpi indahnya setelah bekerja keras dengan segunung cucian terhapuskan begitu saja.

 

Heechul maju di paling depan—untuk urusan bicara sinis, dialah laskarnya. “Kau mencuri makanan lagi?”

 

Kedua mata evil Kyuhyun membelalak. “Mencuri makanan? Apa maksudnya?”

 

Sang Cinderella mengedikkan bahunya. “Shindong. Kangin.”

 

Seperti pesuruh Mafia saja, kedua lelaki yang memiliki kekuatan paling besar itu langsung menyeret Kyuhyun turun dari tempat tidurnya.

 

Heyo, apa-apaan ini?” Kyuhyun protes. “Ada apa? Mengapa Hyungdeul menyebut-nyebut ‘pencuri makanan’? Apa ada makanan yang hilang lagi?”

 

Plak!

 

Heechul memukul kepala Kyuhyun dengan sadis. Selain mulut sinisnya yang suka bicara, ternyata tangan Heechul juga suka ‘bicara’.

 

“Aww!” pekik Kyuhyun. “Apa-apaan i—”

 

Kangin dan Shindong keburu menggeret tubuh namja kurus itu ke ruang makan sebelum ia menyelesaikan kata-katanya.

 

Dan magnae itu melihat piring-piring makanan yang licin tandas.

 

Hmm?

 

“Lho?” Kening Kyuhyun berkerut. “Apa kalian sebegitu laparnya sampai menghabiskan semua makanan ini? Aku yang dari tadi membersihkan dorm saja hanya makan nasi sedikit dan sayur dan sepotong a—”

 

“BOHOOONNGGG!” Lagi-lagi, paduan suara versi scream ala Super Junior. Lagi-lagi, kurang efek gitar listrik dan—

 

Ehem.

 

Kyuhyun mematung mendengar semburan kedua belas hyungdeul-nya. Ada apa ini? Mengapa mereka semua marah-marah karena makanan yang mereka habiskan sendiri?

 

Membingungkan.

 

Ia mencoba bicara, “Bukannya kalian yang mengha—”

 

“Kalau kami yang menghabiskannya,” Leeteuk menyela kata-kata Kyuhyun, “kami tidak akan bertanya kepadamu.”

 

“Kau belum kapok menjadi cleaning service rupanya, Kyu?” kali ini Eunhyuk. “Aku yang cuma sehari menjadi cleaning service—karenamu—saja sudah trauma seumur hidup~”

 

“Bertobatlah Kyu, minta maaf pada Yang Di Atas...” Ceramah ala Siwon.

 

Eh?

 

Kening Magnae itu semakin keriting. Apa maksudnya semua ini?

 

“Kau belum kapok menjadi pencuri makanan, eh?” Suara sinis Heechul membuat Kyu merasa tertimpa batu seberat seribu ton saat itu juga.

 

HAAAAHHH???

 

Rahang Kyuhyun melorot hingga hampir menyentuh lantai. Kedua matanya membelalak kaget. Dia? Mencuri makanan?

 

Aniyo!” Si bungsu melambai-lambaikan tangannya yang baru saja dilepas oleh Shindong. “Apa bukti aku melakukannya? Setelah mencuci semua baju kotor kalian, aku makan sedikit, lalu tidur. Lihat—” ia menuding ke arah dapur, “—Hyung bisa menemukan piringku di bak cuci.”

 

Percuma saja Kyuhyun membela dirinya. Mana ada yang percaya?

 

Ia menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung. Predikat Evil Magnae yang disandangnya selama bertahun-tahun tidak mempermudahnya lepas dari tuduhan—justru mempersulit. Memang dia mencuri makanan dari kulkas beberapa waktu yang lalu—dengan alasan sedang bokek dan tidak sempat berbelanja ke supermarket besar yang bisa dibayar dengan gesekan kartu—tapi kali ini, ia benar-benar tidak melakukannya!

 

Sumpah demi PSP tercinta, ia sudah tobat menjadi maling kulkas! (—dan juga tobat menjadi cleaning service.)

 

Tatapan tidak percaya kembali tersorot dari dua belas pasang mata.

 

Glek.

 

“Kyu,” suara Leeteuk membuat yang dipanggil menoleh ke arah member tertua di Suju.

 

Ne?”

 

“Mulai sekarang,” Leeteuk menarik napas, “kau akan menjadi cleaning service dorm sampai Suju pensiun.”

 

Sang magnae langsung terjengkang ke belakang dan pingsan dengan gaya yang tidak elit.

 

.

.

.

.

 

Oh. Mai. Gawd.

 

Lagi dan lagi, ia harus membersihkan seisi dorm. Benar-benar sial kau, Cho Kyuhyun.

 

Deru mesin penyedot debu membuat pria itu semakin jengkel—sebagian besar kejengkelan itu adalah akibat rasa bosan karena terus-menerus mendengarkan bunyi yang sama sepanjang hari. Heyo, tidak adakah vacuum cleaner yang mengeluarkan bunyi yang lebih asyik? Misalnya irama lagu BONAMANA atau Dancing Out—kan Kyuhyun jadi bisa ikut menyanyi. Tapi dengan melodi ngiiiinggg begini? Siapa yang sudi menyanyi?

 

“Ugh.” Sang magnae memunguti buku-buku yang berserakan di lantai. Nah kan, dua belas orang itu benar-benar memperbudaknya. Semakin saja mereka bersikap seenaknya—menyimpan barang-barang sesuka hati, mentang-mentang ada orang lain yang akan membersihkannya (catatan: dengan berat hati) setelah mereka pergi.

 

Contoh saja, ruang tengah ini.

 

Semalam, karena tidak ada makanan lagi, Kangin memotori sebelas member lainnya untuk memesan delivery pizza—yang tentu saja disambut antusias oleh Eunhyuk dan Shindong, juga yang lainnya. Nah, selama menunggu pizza itu diantar, mereka melakukan hobi mereka di ruang tengah. Leeteuk dengan brosur-brosur yang memberitahukan diskon. Yesung dengan kandang Ddangko Brothers. Ryeowook dengan buku resep masakan. Siwon dengan Alkitabnya. Heechul dan Kibum bertanding game di PSP mereka, membuat Kyuhyun iri. Hankyung dengan kamus Mandarin-Korea. Eunhyuk dengan laptop menyala dan terhubung ke internet, membuka situs ‘kau-tahulah’. Dan yang lainnya. Dan yang lainnya. Dan yang lainnya.

 

ARGH.

 

Kalau saja Kyuhyun tega, ia akan segera membakar dorm itu dan kabur ke game center—bermalam di sana sambil terus bermain game meskipun beresiko diserbu ELF. Peduli setan.

 

Dan karton-karton sisa pembungkus pizza ini... haruskah ia yang membuangnya? Semalam saja, Kyuhyun hanya mendapatkan dua potong pizza hasil dari sepotong pizza normal dibagi tiga. Menyebalkan sekali.

 

Jemari panjangnya mematikan vacuum cleaner, kemudian ia meraup karton-karton yang semula berbentuk box itu. Karton-karton itu kini gepeng dan terlipat-lipat—hasil terinjak-injak duo Fishy-Anchovy yang ngotot latihan dance semalam.

 

Groar!

 

Hyungdeul menyebalkan.” Kyuhyun menekankan intonasi pada kata ‘menyebalkan’. Otak cemerlangnya merancang beberapa tindakan balas dendam untuk mereka selama ia berjalan menuju dapur—di mana tempat sampah berada.

 

Ia melewati ruang makan. Ada beberapa piring di meja—lagi-lagi—berisi sisa makan pagi. Kalau tidak salah, tadi masih ada sisa samgyupsal, sepotong omelet, dan—

 

Langkah Kyuhyun berhenti.

 

Di atas meja, ada beberapa piring, dan piring-piring itu—

 

—kosong.

 

Rahang Kyuhyun hampir menyentuh lantai.

 

Pencuri makanan itu beraksi lagi!

 

.

.

.

.

.

 

Suara ketukan di pintu pada malam harinya membuat Leeteuk yang nyaris terlelap kembali membuka matanya. Sejenak pria berambut pirang itu terdiam, menimbang-nimbang apakah ia harus membuka pintu atau melanjutkan tidur. Diliriknya Kangin di tempat tidur sebelah—sudah tertidur pulas.

 

Lanjut tidur saja, ahh...

 

Leeteuk memejamkan kedua matanya kembali. Hmmm... malam ini mimpi apa, ya? Semoga saja mimpinya in—

 

TOK TOK TOK

 

Bunyi ketukan itu semakin kencang.

 

Tidur, tidur, tidur. Leeteuk menutup matanya semakin erat. Lama-lama sang pengetuk juga pasti menyerah dan kembali ke kamar—

 

“Teukie hyung!”

 

DER!!! Sekarang si pengetuk pakai acara menyebut-nyebut namanya, pula. Oh. Mai. Gawd.

 

“Berisik...” terdengar gumaman Kangin, kemudian namja itu membenamkan kepalanya di balik bantal.

 

Leeteuk cuek. Kan masih ada besok—

 

“TEUKIE HYUNG!” Olala~ Masih tidak menyerah rupanya.

 

Oke. Leeteuk yang menyerah. Uri leader menyeret tubuhnya dari atas tempat tidur, kemudian membuka pintu dengan mata setengah terpejam.

 

Wajah Kyuhyun muncul di balik pintu.

 

“Ada apa, cleaning service?” Pertanyaan Leeteuk membuat sang magnae ingin menjejalkan hyung-nya itu ke dalam vacuum cleaner. Dasar magnae kurang ajar.

 

Hyung.” Wajah Kyuhyun menjadi serius. “Apa aku bisa bicara denganmu?”

 

“Hhhh...” Leeteuk menghela napas. Terus terang saja, ia keberatan. Ia baru pulang siaran bersama Yesung setengah jam yang lalu. Capek. Bahkan ia absen mandi hari ini karena ingin langsung tidur, tapi...? Interupsi lagi menjelang waktu tidurnya. “Cepatlah.”

 

Karena tidak ingin mengganggu Kangin yang tertidur, keduanya memilih untuk bicara di ruang tengah.

 

“Ada apa?” tanya Leeteuk setelah duduk di atas sofa. Kyuhyun duduk di seberangnya.

 

Hyung, sepertinya dorm kita sudah tidak aman,” kata Kyuhyun dengan mimik serius.

 

“Apa maksudmu?” Kening Leeteuk berkerut samar. Rasa kantuk membuat otaknya macet. ‘Tidak aman’?

 

“Sepertinya ada penyusup di sini!”

 

MWO? Kata-kata Kyuhyun membuat Leeteuk kembali segar bugar. Aura mengantuknya hilang seketika. Penyusup? Di dorm Suju?

 

“Mengapa kau bilang begitu, Kyu?” Leeteuk segera mencengkram pergelangan tangan Kyuhyun. Kedua matanya menatap lekat-lekat sepasang manik mata hitam itu.

 

Yaoi hints. Leader dan magnae.

 

Ehem.

 

“Pertama-tama, Teukie hyung,” sang magnae memulai ceritanya, “—aku bersumpah semua yang kuceritakan ini sesuai aslinya—” ia menarik napas, membuat Leeteuk semakin penasaran, “—tadi siang ada makanan hilang lagi.”

 

Melihat sang leader menunggu kelanjutan kata-katanya, Kyuhyun bicara lagi.

 

“Saat aku membereskan ruang tengah dan akan membuang sampah ke dapur, aku melihat piring-piring sudah kosong. —bukan aku yang menghabiskan makanan itu, suer.”

 

Kyuhyun menjauhkan dirinya dari Leeteuk, menyandarkan punggungnya di sofa. “Nah, aku jujur: aku tidak mengambil makanan itu. Tadi siang Hyungdeul juga tidak berada di dorm.” Leeteuk mengangguk. “Kalau begitu, pertanyaannya adalah siapa yang mencuri makanan sisa sarapan?”

 

Baru terpikirkan juga oleh Park Jungsoo.

 

Bukan Kyu yang mengambil makanan itu—mata magnae itu kali ini tampak jujur.

 

Bukan ia dan dongsaengdeul-nya yang lain, karena mereka ada kegiatan di luar.

 

Jadi... siapa?

 

Apakah benar ada penyusup di dorm Super Junior?

 

.

.

.

.

 

To be continued