Chapter Text
“Terima kasih telah berbelanja, kami tunggu kedatangan Anda kembali~” seperti NATO machine(1), kata-kata itu meluncur mulus dari bibir pemuda kasir konbini(2) itu, tak lupa disertai bungkukan singkat. Pelanggan itu membalas dengan bungkukan singkat pula. Profesional dan sopan, cek.
Lalu, sunyi senyap kembali.
Wajar, jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.20 AM waktu setempat. Shift malam memang begini; jam kerja yang panjang (sejak pukul 09.00 PM hingga 07.00 AM) dan pelanggan yang jarang-jarang. Meski ini hari pertama sang pemuda kasir dipindahtugaskan ke cabang wilayah ini, tetap shift malam di mana-mana kurang lebihnya sama saja, ‘kan. Mungkin-- yang kali ini malah akan lebih sepi daripada yang pernah dialaminya.
Konbini di wilayah ini berada di wilayah permukiman padat. Kecil, menyempil di antara deretan pertokoan peralatan masak dan jajanan pinggir jalan, dan sedikit ke pinggir kota dari cabang tempatnya bekerja sebelumnya. Cukup untuk hanya dijaga satu orang setiap shift-nya.
Kemudian pemuda itu, seperti yang dapat terbaca dari name tag-nya, bernama ‘Tsurubo’. Tsurubo Shion, nama lengkapnya. Sembilan belas tahun, lulusan SMK, tidak ada niatan melanjutkan kuliah, penjaga konbini paruh waktu, dan pro-gamer di paruh waktu lainnya. Ia keluar dari pos kasirnya untuk mengecek stok ke rak-rak, sekaligus menata kembali yang terserak. Peralatan harian, makanan ringan, minuman kemasan, obat-obatan ringan, semua ia urutkan sesuai tanggal kadaluarsanya. Lalu mengembalikan botol deodoran yang tersesat di deretan bumbu dapur, atau potato chips yang menyaru di antara barisan tortilla chips. Saatnya beralih ke refrigerator bahan makanan segar.
“Oh, selamat datang--” terkejut melihat adanya pelanggan yang tak disadarinya, Shion masih dapat mengucap sapa khasnya dengan otomatis disertai senyum tipis. Namun sungguh, kapan pelanggan yang satu ini masuk?
Pelanggan itu, seorang pemuda yang sedang memilah-milah kotak daging asap beku, mengangguk kikuk tanpa mengucap satu katapun, sesaat seperti membeku di tempatnya berpijak. Jaket hitam panjang melapisi tubuhnya yang tidak terlalu tinggi hingga lutut, tampak di baliknya ia mengenakan kaus hitam, dan training pants hitam pula; kontras sekali dengan kulitnya yang terlihat sangat putih pucat. Rambutnya juga hitam legam dengan poni lurus menutupi mata yang berbingkai kacamata bulat.
Memangnya… orang ini bisa lihat apa, dengan penampilan begitu? pikir Shion spontan, yang sepertinya sedikitnya terbaca oleh sang pelanggan hingga berucap, “… j-j-jangan ngejek-”
“Oh?” Shion terkejut karena pelanggan itu tiba-tiba mengangkat suara. Pelan dan sangat kikuk kedengarannya. Ia memang tidak sepandai itu menyembunyikan reaksinya, tapi apa sejelas itu?
"... ma-maaf..." Pelanggan itu, juga tampaknya terkejut sendiri dan memalingkan muka. Ia segera bergegas mengambil beberapa kotak daging asap, has, serta beberapa olahan beku lainnya hingga penuh kedua tangannya, lalu setengah berlari menuju kasir.
Shion yang masih memproses apa yang sedang terjadi, mau tak mau menyusul gegas langkah pelanggan itu ke balik mesin kasir.
“Sudah semua?” tanyanya dengan profesional. Pelanggan yang menundukkan kepala itu mengangguk lamat, jadi Shion segera saja memindai belanjaan sang pelanggan. Daging asap, daging sapi cincang, has dalam, frozen katsu, frozen ribs, bratwurst sausage, jamur tiram, jamur shitake… Dari jumlahnya, tampaknya untuk persediaan… mungkin dua minggu? Lebih dari itu? Yang jelas, itu jumlah yang cukup banyak.
Sesekali ia mencuri pandang untuk mengamati si pemuda pelanggan kikuk yang tampaknya menyibukkan dirinya dengan memainkan ujung-ujung kukunya. Ia menggigit bibir bawahnya, dan tampak sedikit gemetar pula kelihatannya. Gelisah? Karena apa?
“Semuanya dua puluh dua ribu lima ratus yen,” kata sang kasir, kerling mata mencari tatap dengan sang pelanggan. Sia-sia sebenarnya, karena ia sudah lihat juga tadi; mata itu terhalang tirai ganda kacamata dan poni lurus yang terlalu panjang. Tapi dapat dilihatnya, ada semburat tipis merah muda ke kedua pipinya. Mau tak mau diakuinya, itu-- terlihat manis.
Pelanggan kikuk itu merogoh kantong dalam jaketnya, mengeluarkan sebuah kartu berwarna keemasan. Kedua mata Shion melebar. Ada sesuatu yang dipikirkannya, tapi segera dienyahkan sebelum pelanggan itu menyadari pikirannya lagi. Satu gesekan kartu dan bunyi mesin pencetak struk kemudian, Shion mengembalikan kartu itu ke pemiliknya sembari menyodorkan plastik besar belanjaan ke arah sang pelanggan kikuk.
“Silakan belanjaan Anda, kami tunggu kedatangannya kembali~” ia membungkuk singkat, dan begitu saja sang pelanggan pergi dengan kartu dan belanjaannya. Tanpa sedikit saja ucap, atau bungkukan sopan berbasa-basi.
“--apaan, ‘tuh?” yang di kasir mendesis dan membuang muka, segera setelah sang pelanggan hilang dari pandangan. Ia kecewa tentu. Pelanggan itu tidak mengucap barang sepatah katapun untuknya. Padahal, suara sang pelanggan itu--
---lucu, imut sekali.
Apa bisa… bertemu lagi, ya?
.⚝⚝⚝.
Satu hal yang tidak Shion tahu, di balik belokan menuju kediamannya, sang pelanggan yang kabur itu menghentikan langkahnya yang gemetaran. Ia bersandar di tembok pagar sisi jalan dan menjatuhkan belanjaannya di sisinya, menatap lampu yang menerangi jalanan lengang.
“… k-kelepasan bicara aneh… sial… malu…” ia memukuli mulutnya sendiri, “… habisnya… bikin grogi… cakep…
… semoga…
… jangan ketemu lagi, ‘deh…”
.⚝⚝⚝.
(1)NATO machine: no action talk only machine, mesin penjawab pesan otomatis.
(2)Konbini: convenience store, minimarket.
Random Trivia:
Harga daging kualitas bagus sekitar 1000 yen/100 gram dan daging beku konbini lebih murah dari itu, jadi 20.000 yen daging itu sekitar... yaaa...
