Actions

Work Header

Things I Could Do

Summary:

Seokjin merasa kesepian akibat terpisah dari Namjoon, Hoseok dan Yoongi, suami dan sahabat-sahabatnya akibat virus yang melanda. Pemberlakuan karantina wilayah di Kota Seoul sangat membatasi geraknya. Di tengah kebosanan, sebuah ide kemudian melintas berkat video call yang dilakukan bersama Namjoon.

Didedikasikan untuk #StayAtHomeChallenge

Notes:

BTS © Big Hit Entertainment and themselves.
I don't gain any profit from this fanworks but just some fun.

M-preg. Dominant-Carrier. Covid-19 hints. Stay at home challenge. Mention of toddler Jimin and Taehyung.

Happy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Dalam hening malam ia berpaku pada waktu yang beranjak. Dari detik ke menit, lalu menuju hitungan jam. Hingga pagi menerbitkan senyuman hangat sang mentari. Menyuruhnya untuk segera melakukan rutinitas harian. Namun ia masih bergolek di atas ranjang. Napas panjang terhela, sebelum ia bangkit dengan goyah menuju ke kamar mandi dan menyelesaikan kegiatan pagi.

Ia, Seokjin, menguap beberapa kali saat menyeduh kopi di dapur. Dua potong roti bakar hangat terletak di piring bersama beberapa lembar daging asap dan telur mata sapi, juga irisan keju. Cincangan selada, tomat ceri, bawang bombay beserta mayones tersaji di mangkuk sebelah, siap santap. Namun pikirannya masih melanglang buana. Dering ponsel putuskan balon lamunan Seokjin. Dengan segera diraihnya ponsel yang tergeletak di samping piring dan menggeser layar sentuh untuk melihat notifikasi pesan. 

[Sayang, jangan lupa makan pagi. Bagaimana kabarmu pagi ini?]

Sebulir air mata meleleh dari sudut mata, menjejak di pipi tirus yang kini pucat. Batin yang melangsa seolah disiram oleh kesejukan, kekasih hatinya memberi kabar yang mampu membangkitkan senyum dan semangat yang menghilang. 

[Aku sedang makan pagi. Kabarku buruk. Aku kangen sekali padamu.]

Seokjin dapat membayangkan senyum manis sang kekasih yang tengah berjibaku dengan para pasien di rumah sakit. Senyum yang mampu membuat hatinya merasa tentram dan damai. Akan ada lubang mungil menggemaskan tiap sang kekasih melebarkan bibir untuk menebar senyum. Sanggup membuat dunia Seokjin jungkir balik. 

[Aku juga. Rindu sekali. Maaf, aku masih harus di rumah sakit sampai semua ini selesai. Aku harap kamu bisa bersabar. :)]

Satu emotikon senyum membuat sebulir air mata mengalir lagi. Seokjin tidak cengeng sebetulnya, tapi suasana hati yang sedang jelek ditambah tidak bisa tidur semalaman membuat emosinya labil. Mudah goyah. Ia malah jadi tersedu-sedu. Padahal ia tak ingin menangis. Ah, air mata sialan. Umpatnya di dalam hati.

Ponsel di tangan kembali bergetar, kali ini vibrasinya lebih bervariasi dan lebih kuat. Seokjin lupa mengganti mode getar pada ponselnya, berniat supaya memudahkannya untuk tidur tadi malam tapi berakhir sia-sia. Sekarang benda persegi itu menampilkan nama sang kekasih jiwa yang memintanya melakukan panggilan bervideo. Seokjin ingin menolak, tapi hatinya bertindak jauh lebih cepat ketimbang otak saat memerintahkan jempolnya, bukan ke ikon telepon merah, malah menuju ke hijau dan segera menampakkan wajah kekasih kesayangan.

Namjoon yang melebarkan senyum harus melotot panik saat mendapati wajah Seokjin yang muram plus dengan air mata yang membanjir dan hidung yang memerah. Seokjin yang terkejut saat memfokuskan pandangan ke layar ponsel pun meletakkan ponselnya ke atas meja dan menutup kedua wajahnya dengan tangan. Sungguh malu kedapatan sedang menangis. Wajahnya pasti jelek sekali. 

["Sayang, hei... Kenapa menangis? Jangan menangis, Jinseok."]

Panggilan lembut itu membuat Seokjin kembali berfokus menatap wajah tampan Namjoon yang didera letih. Mereka sama kacaunya, tapi Namjoon terlihat jauh lebih baik. Setidaknya menurut Seokjin. Seokjin menyeka air mata dengan tisu. Berusaha menenangkan diri dengan menarik napas panjang dan dalam lalu menghelanya perlahan.

Namjoon tersenyum melihat semua itu. ["Pasti sangat berat untukmu ya, Hyeong?"]

Seokjin hanya mampu mengangguk. "Sangat. Apa kamu masih belum boleh pulang?"

Senyum yang memperlihatkan lekuk manis meneduhkan di kedua pipi Namjoon pun terulas. ["Kamu tahu aturannya, Sayang... Butuh empat belas hari lagi sampai semuanya bisa dikonfirmasi. Sebelum itu terjadi aku tidak bisa pulang, aku tidak ingin membawa risiko ini kepadamu."]

"Aku kangen sekali, Namjoon. Aku ingin menagih jatah pelukan! Baby juga butuh kamu!" rengeknya lagi.

Namjoon terkekeh, amat jarang mendapati kekasih sehidup sematinya itu merengek seperti ini. Mungkin bawaan bayi, mungkin juga karena terlalu lama terkurung di rumah sendiri. Wabah baru yang mematikan membuat mereka terpisah. Terlebih bagi Namjoon yang menjadi ujung tombak perlawanan manusia terhadap virus yang tengah menginfeksi dunia. Namjoon sudah membicarakan hal ini dengan Seokjin sebelum ia pergi menjalankan tugas mulianya. Seokjin pun tahu bahwa suaminya adalah salah satu tonggak harapan bagi semua orang di negaranya kini, bersama ratusan bahkan mungkin ribuan tenaga medis yang tersebar di penjuru negeri. Hanya saja perbandingan antara pasien yang positif terinfeksi virus, pasien dalam pemantauan dan orang lain yang mungkin sudah terpapar virus, namun belum berstatus pasien dengan para tenaga medis yang ada sungguh bagaikan sebuah jarum ditumpukkan jerami.

Namjoon berjuang sekuat tenaga di rumah sakit, berusaha menyembuhkan orang-orang itu. Menunaikan panggilan mulia atas dasar kemanusiaan. Seokjin mengerti itu. Sangat paham bahkan. Namun Namjoon adalah bagian dari hidupnya juga, kekasih hati, orang kesayangan, pasangan hidup, suami sahnya. Ditambah mereka tengah menanti sang buah hati yang tengah tumbuh di dalam perut Seokjin. Tentu saja semua ini sangat berat bagi Seokjin sendiri. Hormon yang labil pada trisemester awal sungguh membuatnya tersiksa, emosi yang naik turun akibat moodswing, ditambah Namjoon yang tak ada di sisinya. Pada waktu-waktu tertentu seperti saat ini, sungguh merupakan penderitaan terberat bagi Seokjin.

Namjoon sangat memahami hal itu. ["Baiklah Seokjin-hyeong sayang, nanti saat semuanya selesai aku akan memelukmu setiap saat kapan pun kamu mau. Bagaimana?"]

Seokjin menghela napasnya. "Apa saat aku periksa nanti kamu tidak boleh ikut?"

["Jinseok, kamu tahu risiko yang kita hadapi bukan? Aku tak bisa membawakan risiko itu padamu atau Baby, Hyeong. Walaupun sangat ingin, aku tidak akan bisa menemanimu. Tidak saat kemungkinan bahwa aku adalah carrier virus masih sangat tinggi.]

Sebelum wajah tampan suaminya kembali merengut, Namjoon kembali melanjutkan. ["Aku akan selalu berada di hatimu. Berada sedekat mungkin denganmu meski aku tidak bisa langsung berada di sisimu. Aku akan melihatmu, juga Baby di pemeriksaanmu nanti, tapi dari jauh, Jin-hyeong. Poli anak dan kandungan adalah wilayah yang tidak boleh kami masuki. Tapi aku bisa mempercayakanmu pada Yoongi-hyeong. Dia akan selalu memberi tahukan perkembangan kalian."]

Seokjin mengerjapkan matanya yang berkabut, lagi-lagi beberapa bulir bening lolos menjejaki pipi. Seokjin kembali menyekanya. "Apa Hobi juga tidak bisa bertemu Yoongi?"

Namjoon mengulas senyum kecil dan mengangguk. ["Bahkan ketika mereka berada satu tempat kerja yang sama, mereka juga tidak bisa bertemu. Menahan diri sebetulnya. Hobi dan aku juga petugas medis lain yang tergabung dalam tim penanganan Covid19 kan tidak bisa pulang sembarangan. Tidak ingin membahayakan kalian tentunya. Orang yang paling kami sayangi. Mana Taehyung dan Jimin kan masih kecil. Hobi lebih memilih menahan diri ketimbang membawakan risiko buat Yoongi-hyeong dan si kembar. Kemarin malah kudengar dari Hobi, kalau Yoongi-hyeong terpaksa 'mengungsikan' si kembar ke rumah ibunya Hobi. Takut kalau ia sendiri malah menjadi carrier meskipun ia tidak bersentuhan langsung dengan pasien yang terinfeksi."]

Seokjin menundukkan kepalanya. Mencerna setiap penuturan Namjoon. Semua ini sangat berat, bahkan untuk sahabat mereka dan anak-anak mereka.

["Jinseok? Jangan menangis.... Um, bagaimana dengan pekerjaanmu? Bagaimana kabar Heechul-hyeong?"]

"Heechul-hyeong baik. Kemarin sore, kami baru saja rapat lewat skype untuk membicarakan mengenai bantuan untuk para karyawan yang dirumahkan. Heechul-hyeong terpaksa mengambil kebijakan ini. Pihak karyawan juga sepertinya menerima. Meski tidak semua sih. Banyak juga yang kecewa. Tapi aku sendiri pun sangat mengerti semua ini berat bagi Heechul-hyeong juga. Aku masih mengerjakan bagianku di rumah."

["Mungkin kamu harus mencoba resep baru untuk hobi memasakmu, Sayang? Biar tidak terlalu menjadi pikiran yang membebanimu, Hyeong?"]

Bibir tebal Seokjin kembali mengerucut bak ikan fugu. "Gimana mau masak?! Kamu tidak di rumah! Yoongi juga tidak bisa berkunjung ke rumah, Hobi juga terjebak sama kamu di rumah sakit! Siapa yang aku masakin?!!"

Namjoon mengaruk belakang kepalanya sambil terkekeh pelan. ["Buat aku bisa kok, Sayang. Kan bisa kamu titipin sama sekuriti di rumah sakit kalau nanti jadi periksa si Baby."]

Bola lampu pijar seolah menyala di dalam kepala Seokjin yang suntuk. Oh, benar juga. Kini senyumnya terukir malu-malu menggantikan raut suramnya tadi.

["Nah gitu dong, kan jadi makin manis Jinseokku sayang."]

"Jangan gombal!!!"

["Telingamu merah, Sayang~"]

"DIAAAM!!!"

Lalu mereka tertawa. Beban Seokjin seolah terangkat begitu saja dari atas pundaknya. 

["Sudah merasa baikan?"]

Seokjin kembali memasang wajah cemberutnya, dengan tambahan pipi yang menggembung lucu. Membuat Namjoon berkali-kali harus memaksa otak agar tidak menuruti keinginan hatinya agar meluncur meninggalkan rumah sakit menuju ke rumah mereka dan menggigit pipi bakpao Seokjin yang menggemaskan. "Belum...," lirihnya dengan raut memelas.

["Kok?"]

"Tetap kangen...."

["Kangennya ditahan dulu ya, Sayang?"]

Seokjin mengangguk pasrah. Namjoon tersenyum manis, memperlihatkan kedua lesung pipi yang sebetulnya semakin memantik rindu di benak Seokjin.

["Jangan kelelahan ya? Ingat ada Baby yang tumbuh di dalam kamu dan membutuhkanmu selalu. Aku juga marah lho, kalau kamu sampai sakit. Lihat ada mata pandanya. Tadi malam susah tidur lagi?"]

Seokjin mengangguk. Namjoon menghela napasnya. ["Nanti kukirimkan aromatherapy ya? Lewat Yoongi-hyeong. Biar pas sampai di kamu, masih dalam keadaan steril dan aman. Kalau yang lain gimana? Masih aman?"]

Seokjin mengangguk lagi. "Aku masih bisa belanja keluar, kalau kepepet banget. Paman Han sama Bibi Song juga rutin memberi kabar kalau stok mereka sudah tersedia. Langsung dianterin ke rumah jadi aman."

["Syukurlah. Oke,"] Namjoon mengangkat pergelangan tangannya, memperlihatkan arloji yang diberikan Seokjin saat ia berulang tahun. ["Waktu istirahatku tinggal sebentar lagi. Aku harus pergi ya, Sayang."]

"Secepat itu?"

["Nanti waktu istirahat pasti kutelepon lagi. Ya?"]

Seokjin mengangguk lemah. "Baiklah. Kamu juga jaga dirimu ya? Jangan sakit! Tidak kumaafkan kalau kamu sampai sakit, Namjoonie!!!"

Namjoon terbahak. ["Iya cintaku, sayangku, Jinseokku. Aku pasti tetap sehat. Untukmu juga untuk Baby. Jaga dirimu."]

Seokjin tersenyum manis. "Aku sayang Namjoonie."

Namjoon balas tersenyum. ["Sampai nanti, Jinseok, Baby. Aku sayang kalian."]

Lalu sambungan itu pun diputus. Seokjin menarik napas lalu menghelanya. Dilakukannya hal itu sampai ia merasa tenang. Dipandanginya sejenak sarapan di hadapannya, kembali melanjutkan makan yang tertunda.

Rasa yang sebetulnya enak, tapi entah kenapa sekaligus juga terasa hambar. Seokjin mencoba tidak terlalu memikirkan hal itu. Setelah menyelesaikan sarapan ia membawa peralatan makannya ke washtafel. Dicucinya bersih dan dikeringkannya sebelum disimpan di rak piring.

Seokjin mengecek isi kulkas. Masih ada daging sapi, daging babi, daging ayam, telur, sayur-mayur, beberapa bahan makanan lainnya juga. Seokjin mencoba mengecek jadwal pemeriksaan kandungan, masih ada waktu tiga jam lagi sebelum ia pergi menemui Yoongi dan memeriksakan kondisi dirinya dan sang bayi. Seokjin meletakkan ponselnya di atas konter dapur sebelum memikirkan menu apa yang akan dibawakannya untuk Namjoon dan rekan-rekannya. Mungkin dia juga harus mempertimbangkan untuk membuat makan untuk Yoongi dan para sekuriti.

Seokjin menghubungi Bibi Song, menanyakan beberapa bahan makanan dan beberapa hal lain yang diperlukannya. Bibi Song memenuhi permintaan Seokjin dan mengatakan bahwa putranya yang akan mengantarkannya ke rumah Seokjin. Seokjin mengucap terima kasih dan menutup telepon. 

Lalu menghubungi Yoongi.

["Halo?"]

"Yoongi-ya?"

["Ya, Hyeong?"]

"Bolehkah aku meminta waktu check up-ku diundur sampai setelah waktu makan siang?"

["Eh? Tidak masalah sih, memangnya kenapa Hyeong? Apa mualnya masih parah? Kalau Hyeong mau biar aku yang ke sana."]

Seokjin menggeleng, meski tahu bahwa Yoongi tak akan bisa melihatnya. "Tidak kok, aku ada perlu sedikit di rumah, tapi waktunya mepet sekali dengan jadwal periksa. Jadi kalau boleh dan kamu tidak keberatan, aku ingin memundurkan jadwalnya."

["Oh, tidak masalah. Hari ini aku agak senggang kok, Hyeong. Jin-hyeong boleh kemari setelah makan siang kalau begitu."]

"Ah, terima kasih, Yoongi. Kalau begitu aku akan ke sana sekitar jam dua. Belum melebihi jadwal praktekmu kan?"

["Tidak, tidak masalah, Hyeong. Aku bermalam di RS, untuk jaga-jaga perihal ada pasien dalam pemantauan yang sedang hamil. Jadi, tim yang tengah menanganinya selalu berkonsultasi dulu denganku."]

"Yoongi...," lirih Seokjin sambil menghela napas. "Terima kasih ya sudah berjuang keras."

Yoongi terkekeh di seberang sambungan telepon. Seokjin menarik senyum tipis mendengarnya. ["Sudah tugasku, Hyeong. Tapi Jin-hyeong tenang saja, aku sudah memeriksakan diri dan hasilnya negatif. Jadi, Hyeong tidak perlu khawatir saat berkunjung nanti. Tapi tolong tetap gunakan masker saat kemari."]

"Pasti. Tolong jangan sampai sakit, Yoongi-ya." Namjoon, Hobi juga. Tambahnya dalam hati, sungguh-sungguh memohon pada Tuhan agar orang-orang yang ia sayangi dijauhkan dari wabah yang tengah melanda.

["Baiklah kalau begitu, kututup dulu teleponnya ya, Hyeong. Kutunggu kehadiranmu dan tolong tetap hati-hati."]

"Iya. Beres. Sampai nanti, Yoongi."

["Sampai bertemu, Seokjin-hyeong."]

Seokjin menghela napas lega. Nah, sekarang... dia tinggal menyiapkan masakan dan menatanya di dalam kotak makan untuk orang-orang kesayangannya. Ia mengelus perutnya yang masih rata. "Terima kasih, baby. Sekarang bertahanlah bersama Papa, kita akan tunjukkan pada Appamu kalau kita sangat merindukan dan mencintainya. Bekerja samalah dengan Papa, oke sayangku?"

Tak lama setelahnya, putra dari Bibi Song datang membawakan pesanan yang Seokjin minta. Memenuhi standar protokol kesehatan dan kebersihan yang berlaku sejak diterapkannya karantina wilayah Kota Seoul, Song Hyunbin meletakkan kardus-kardus yang dibawanya di teras rumah Seokjin--Seokjin telah membukakan pintu pagar miliknya sebelum Hyunbin datang. Membunyikan bel setelah menghubungi Seokjin dan meninggalkan tempat itu setelahnya. Seokjin mengucapkan banyak terima kasih melalui sambungan telepon.

Seokjin keluar setelah mengenakan masker dan membawa tabung semprot berisi disinfektan. Kardus-kardusnya disemprot dengan disinfektan dulu dan Seokjin berhati-hati memindahkannya ke tempat yang terkena sinar matahari. Lalu menuju pagar untuk menguncinya kembali. Seokjin membersihkan diri setelahnya, mencuci tangan serta mensterilkan bagian teras untuk tindakan pencegahan. Meski ia percaya Hyunbin dalam keadaan bersih, tapi ia tidak mau mengambil risiko dan tetap menjalankan protokol kesehatan yang berlaku. Berjaga-jaga lebih baik, bukan?

Setelahnya ia menunggu kira-kira tiga puluh menit sebelum membuka kardus-kardus itu memindahkan semua isinya ke dalam keranjang khusus dan membuang kardus-kardus itu ke tong sampah melalui pintu pagar samping.

Seokjin kembali mencuci tangannya sebelum membawa masuk keranjang-keranjang berisikan berbagai macam bahan makanan serta barang pesanan miliknya ke dapur. Seokjin membuka masker miliknya dan segera mencuci dan menjemurnya. Seokjin benar-benar berhati-hati mengingat kondisinya saat ini dalam keadaan yang cukup rentan. Ia tidak mau bayinya kenapa-kenapa. 

Setelahnya ia mulai memasak. Mencuci bahan makanan dengan teliti lalu memotong dan mengelompokkannya sesuai dengan makanan yang akan dimasaknya. Selesai menyiapkan bahan, Seokjin mulai menyiapkan bumbu-bumbu dan saus yang diperlukan dalam wadah terpisah. Setelah selesai, ia beranjak menuju rice cooker untuk menanak nasi. Beras ditakar dan dicuci bersih lalu dimasak dalam rice cooker.

Seokjin pun bersiap membuat beberapa hidangan. Sesekali ia mengelus perutnya dan bermonolog seakan berbincang dengan sang bayi. Dalam benaknya mengucap syukur, karena sang buah hati benar-benar bekerja sama dengannya hari ini dan tidak membuatnya kerepotan. Mungkin sang buah hati begitu merindukan sang ayah, jadi setelah bertemu sapa dengan Namjoon melalui video call sepertinya sang anak jadi lebih kalem.

Seokjin mulai mencampurkan bahan saus untuk Bulgogi. Setelah siap, ia mencampurkan bahan saus itu dengan daging sapi yang telah diiris. Seokjin mengaduknya sampai rata lalu menutup mangkuk besar berisi daging berlumur saus itu dengan plastick wrap dan menyimpannya di kulkas supaya daging termarinasi dengan baik sebelum diolah lebih lanjut.

Seokjin mencuci tangan dan kembali menyiapkan bahan masakan yang kedua, Yangnyeom Tongdak. Seokjin menyiapkan bahan dasar yang terdiri dari beberapa jenis tepung dan bumbu-bumbu, mencampurkannya hingga rata dan menambahkan telur. Ayam yang sudah siap pun dimasukkan dalam campuran tepung bumbu. Seokjin sesekali menyeka keringatnya dengan punggung tangan. Setelah semua ayam terbalut dengan tepung, Seokjin menyisihkannya sebentar. Ia mencuci tangannya yang penuh dengan tepung lalu mulai memanaskan minyak dalam wajan untuk menggoreng ayam. Di tungku sebelah Seokjin menyalakan apinya, diletakkannya satu wajan lagi di samping wajan untuk menggoreng ayam dan mulai membuat sausnya.

Ayam mulai digoreng, sementara saus disiapkan. Dengan cekatan Seokjin membagi perhatiannya pada gorengan ayam dan saus pedas manis yang enak. Begitu ayam selesai digoreng, Seokjin meniriskannya dulu agar ayamnya tidak terlalu berminyak. Namjoon kurang menyukainya. Seokjin memastikan agar ia bisa memenuhi keinginan sang suami. Makanan enak penuh cinta akan segera siap. Seokjin tersenyum sembari menyelesaikan masakannya yang kedua.

Seokjin merebus dangmyeon* dalam panci berisi air mendidih setelah membereskan wajan yang digunakannya membuat Yangnyeom Tongdak. Di tungku sebelah kembali disiapkannya wajan khusus yang sebetulnya lebih mirip hot plate tapi dengan ukuran besar. Selagi dangmyeon direbus, Seokjin mengeluarkan daging berbumbu yang tadi ditaruhnya dikulkas. Begitu wajannya panas Seokjin pun mulai memasak Bulgogi. 

Sesekali ia memeriksa dangmyeonnya, setelah dirasa lunak dan masaknya telah telah merata, Seokjin mengangkatnya dan meniriskan dangmyeonnya. Seokjin membolak-balik daging bulgoginya. Dengan cekatan segera menyiapkan wajan untuk memasak Japchae. Semuanya merupakan makanan favorit Namjoon, Hoseok dan juga Yoongi. Walau memang Hoseok dan Yoongi jauh lebih menyukai lobster dan seafood, tapi Seokjin rasa mereka tak akan keberatan dengan masakannya yang kali ini serba daging dan ayam.

Segera setelah Bulgogi dan Japchae matang, Seokjin mematikan kompor dan mulai menyiapkan kotak bekal sekali pakai. Tiga kotak pertama disiapkan dengan khusus. Seokjin menyusun nasi, Bulgogi, Japchae, Yangnyeom Tongdak dan Kimchi di dalamnya. Meletakkan sumpit dan menyertakan tisu, lalu mulai menyiapkan kotak-kotak bekal yang lainnya. Seokjin berhenti setiap dua puluh menit sekali untuk meminum air putih atau menyeka keringat sembari melemaskan otot-ototnya. Ia mudah lelah, tapi ia mulai membiasakan dirinya dan sebisa mungkin tetap memiliki aktivitas seperti biasanya. Total ada sekitar seratus porsi yang bisa Seokjin siapkan dalam waktu dua jam lebih, di luar waktu memasak. Setelah siap, Seokjin menyempatkan diri untuk makan terlebih dahulu, sebelum menyelipkan sekotak bening berisikan potongan buah yang terdiri dari semangka, melon, kiwi dan stroberi ke tiap-tiap kotak bekal yang disiapkannya. Seokjin beristirahat sebentar sebelum bersiap-siap menuju ke rumah sakit. 

 

......

 

Cuaca yang cerah menyambut Seokjin saat mengatur bungkusan kardus berisi kotak-kotak makanan di dalam mobil. Meski suhu udara sudah jauh lebih hangat, tapi Seokjin tak lupa menyiapkan jaketnya untuk berjaga-jaga dan mulai mengganti sandalnya dengan sepatu. Seokjin mengunci pintu dan jendela-jendela rumah untuk bersiap pergi. Seokjin menutup rambutnya dengan beanie dan memasang masker, menyalakan mesin mobilnya, membuka pagar lalu menutupnya dan meluncur keluar menuju rumah sakit.

Jalanan yang membelah Kota Seoul begitu senyap. Lengang. Sejauh ini, mobil yang berpapasan dengan Seokjin pun bisa dihitung dengan jari. Seokjin menghubungi Yoongi dengan pesan teks untuk memberi tahukan bahwa ia tengah dalam perjalanan menuju ke RS. Seokjin kembali menyimpan ponselnya ke saku jaket begitu tanda centang kecil muncul dipojok bawah pesan yang dikirimnya. Lampu hijau menyala setelahnya, Seokjin kembali melajukan mobilnya menuju RS.

Seokjin tiba di RS kurang lebih lima belas menit kemudian. Yoongi sengaja menantinya di depan RS, segera menjumpai Seokjin yang baru keluar dari area parkir. Keduanya saling menahan diri untuk tidak memeluk. Seokjin melewati bilik uap disinfektan, dipindai oleh thermo-scan, lalu melepas sarung tangan dan mencuci tangan sebelum mengikuti Yoongi menuju ke poli kandungan dan anak. Seokjin membuka jaket dan beanie miliknya, memasukkan ponsel ke dalam saku celana bersama dompet, sementara jaket dan yang lain termasuk kunci mobil dititipkan di tempat khusus di koridor depan, agar disterilisasi sementara ia menjalani pemeriksaan rutin di ruangan Yoongi. 

Seorang perawat mengecek kembali suhu badan Seokjin, memeriksa tekanan darah, menimbang berat badan dan detak jantung Seokjin. Menuliskan hasilnya pada formulir yang disediakan untuk diserahkan pada Yoongi yang menyalinnya dalam rekam medis milik Seokjin. Yoongi pun melakukan pemeriksaan lebih lanjut sembari Seokjin berkonsultasi mengenai banyak hal. Yoongi memberikan saran dan mencontohkan beberapa gerakan senam untuk membantu mengurangi rasa pegal dan sakit otot yang diderita Seokjin. Terutama merekomendasikan pijatan-pijatan yang bisa dilakukan secara mandiri demi mengatasi kelelahan setelah beraktivitas sementara dalam kondisi sedang mengandung. Si bayi sehat, tentu saja. Perkembangannya tak lupa dicatat oleh Suster Yeon selalu asisten Yoongi di ruangan. 

"Semuanya normal, Hyeong. Apa ada keluhan tertentu?"

"Sejauh ini baik, sih. Mualnya sudah berkurang meski kadang kalau sudah kumat aku bisa lemas."

"Kalau begitu akan kutuliskan resep antimual dan vitamin agar membantu mengurangi rasa mualnya saat kumat."

Seokjin memandangi Yoongi yang sibuk dengan kertasnya. Lalu diserahkannya itu kepada sang perawat. "Nona Yeon, minta tolong untuk memberikan ini ke bagian farmasi dan nanti sekalian seperti yang biasa untuk Tuan Kim Seokjin."

Sang perawat mengangguk sembari tersenyum. "Baik Dokter Min. Seperti yang biasa. Kalau begitu saya permisi dulu. Tuan Kim, mohon tunggu sebentar ya."

"Terima kasih, Suster Yeon."

"Ah, ya, Nona Yeon, silakan beristirahat duluan. Jam kerja kita selesai untuk hari ini. Kurasa daftar pasien yang berkonsuntasi hari ini sudah selesai, bukan?"

"Benar, Dok. Hari ini Tuan Kim yang terakhir."

"Nah kalau begitu silakan beristirahat duluan. Tuan Kim dan aku akan berbincang-bincang dulu di sini."

"Baik, Dokter Min. Terima kasih. Saya permisi, Dokter Min, Tuan Kim."

Nona Yeon undur diri dari ruangan Yoongi. Yoongi berdiri dari mejanya dan mengajak Seokjin menuju ke ruangan sebelah untuk duduk dengan santai dengan tetap menerapkan jarak aman dan tetap menggunakan masker.

"Aku sebetulnya mau ke rumahmu, Hyeong. Setelah ini. Karena kudengar dari Namjoon kamu kesepian."

Bibir tebal Seokjin kembali mengerucut. "Katamu akan menginap di rumah sakit?"

"Rencana awal begitu. Tapi kelihatannya Hyeong tidak apa-apa, jadi mungkin aku tidak perlu berkunjung?" Yoongi mengatakannya untuk menggoda Seokjin yang spontan memukul bahu Yoongi dengan main-main. Keduanya lalu tertawa.

Yoongi berdiri untuk mengambil sesuatu dari loker yang ada di sebelah lemari berkas. Mengeluarkan sebuah kotak dari kardus dan menyerahkannya pada Seokjin.

"Dari Namjoon, barangnya langsung diantarkan oleh sekuriti tadi. Sepertinya dia sudah beli dari lama tapi belum sempat diserahkan padamu ya, Hyeong?"

Seokjin mengangguk pelan menjawab pertanyaan Yoongi, lalu dengan segera membuka kardus itu. Menemukan dua buah botol bervolum sekitar dua ratus lima puluh mililiter. Tulisan aromatheraphy tercetak dengan huruf hias cantik di label botol beserta informasi mengenai cairan apa yang ada di dalam botol. Wangi khas lavender seketika menguar saat Seokjin menyobek segel pada tutup botol. 

"Wanginya enak."

"Baguslah kalau begitu. Aku dulu bahkan malah tidak bisa mencium wangi aromaterapi, Hyeong. Saat mengandung si kembar."

Seokjin mengalih pandang pada Yoongi. "Eh?"

Mata Yoongi menyipit, Seokjin tahu di balik masker Yoongi tengah tersenyum manis. "Si kembar paling sensitif sama wewangian. Mereka rewel sekali, cuma mau wangi parfumnya Hoseok. Selain itu aku mual dan muntah terus. Makanan juga pilih-pilih. Kurasa itu salah satu sebab Taetae benar-benar pemilih. Untungnya Chimchim tidak seekstrim Taetae."

"Wah... Aku ingat waktu itu kita makan bareng, kita pesan lobster tapi ujung-ujungnya Hobi yang kamu suruh menghabiskan semua lobsternya."

Keduanya kembali tertawa. "Nah itu, Hyeong! Sampai sekarang Hobi suka merinding duluan kalau melewati stand lobster di supermarket."

Seokjin kembali terbahak. "Bukannya dia masih suka lobster?"

"Masih sih. Tapi dia benci melihat tumpukan lobster. Bisa kau bayangkan itu, Hyeong?"

Seokjin bergeleng. "Aku bahkan tidak mampu membayangkannya. Bagaimana kok bisa suka lobster tapi tidak sudi melihat lobsternya?"

"Ya begitulah. Ibu dan Dawon-noona sampai menggelengkan kepala."

"Oh ya, bagaimana kabar si kembar?"

Ekspresi Yoongi menyendu, Seokjin dapat menangkapnya dari mata Yoongi yang memancarkan kerinduan. "Sudah seminggu ini mereka bersama Dawon-noona di rumah ayah serta ibu. Aku dan Hobi punya risiko terbesar untuk menjadi carrier virus. Jadi, sampai wabah ini berakhir si kembar di sana dulu. Aku memang negatif, tapi aku takut Jin-hyeong. Bersamaku bahkan tidak menjamin si kembar tidak akan terinfeksi. Untungnya mereka mengerti. Kami saling bertukar rindu lewat telepon, video call, semuanya. Meski tak puas, setidaknya bisa mengobati kangen. Hobi juga begitu. Awalnya berat, Hyeong. Tapi demi kesehatan anak-anak, kami terpaksa mengambil keputusan ini. Chimchim dan Taetae menangis terus untuk dua hari pertama, aku benar-benar berhutang pada Ibu, Ayah dan Dawon-noona."

"Yoongi, yang kuat ya?!"

Yoongi menarik senyum mendengar dukungan Seokjin padanya. "Terima kasih, Hyeong. Jin-hyeong juga... Aku tahu masa awal kehamilan ini pasti berat, tapi kuharap Hyeong mau bertahan dan tetap semangat. Ada aku yang bisa membantumu di sini."

Seokjin juga tersenyum. "Tentu. Terima kasih, Yoongi. Aku bersyukur Baby tidak terlalu rewel. Hanya saja kalau sudah kangen Namjoon dia selalu berulah. Namjoon juga jadi agak sulit dihubungi karena sibuk. Aku mengerti, sangat mengerti. Lagipula Namjoon sedang mempertaruhkan segalanya demi melawan pandemi ini. Tapi...," Seokjin menunduk, tangannya membelai perutnya pelan, "Aku tahu ini egois, tapi aku ingin Namjoon ada di sisiku juga."

"Itu tidak egois, Hyeong. Aku mengerti perasaanmu."

Keduanya membiarkan hening menjeda segalanya. Seokjin menarik napas dan menghembuskamnya perlahan. 

"Kau tahu, Yoongi-ya? Sekarang aku selalu memakai pakaian Namjoon di rumah. Habisnya aku kangen. Jadi aku pakai saja kemejanya." Seokjin tertawa mengingat ulahnya. Yoongi pun ikut terkekeh.

"Itu juga terjadi padaku kok Hyeong. Ya, wajar saja sih."

"Aku harap semua ini cepat berakhir."

"Aku juga mengharapkan hal yang sama."

"Eh iya, Yoongi, kamu sudah makan belum?"

"Hm? Sudah sih, kenapa Hyeong?"

"Aku tadi menyiapkan makanan untuk kalian. Tapi masih di mobil. Sebentar aku ambilkan."

"Kita ambil bersama saja, Hyeong."

"Ah, benar, aku membawa sekitar seratus porsi. Kupikir lebih baik untuk membagikan sedikit buat kalian."

"Baiklah, ayo kutemani. Biar Hyeong bisa cepat pulang dan beristirahat."

"Uh, aku masih ingin mengobrol denganmu. Aku kangen, Yoongi-ya."

Yoongi mendelik. "Tidak. Jangan di sini lama-lama, Jin-hyeong. Aku mengerti Hyeong masih kangen, tapi di sini tidak baik untuk kesehatanmu. Tidak. Sebagai doktermu, aku melarangmu. Nah ayo, dengarkan aku dan kita harus bergegas."

"Yoongi pelit."

"Iya, aku tahu. Aku tahu. Ah, jangan lupakan obat anti-mual dan vitaminmu, Hyeong." Yoongi menarik Seokjin berdiri. Ia meletakkan botol aromaterapi ke dalam kardus, mengikatnya kembali dan menaruhnya ke dalam pelukan Seokjin, sebelum kembali menyeret Seokjin keluar ruangannya. Mereka mengambil jaket dan barang Seokjin yang dititipkan sekaligus obat dan vitamin Seokjin, lalu bergegas menuju ke area parkir ditemani beberapa petugas sekuriti yang dimintai tolong oleh Yoongi.

Seokjin membagi kotak-kotak makanan yang disiapkannya dalam beberapa kardus agar mudah diangkat dan dibawa. Kardus khusus berisi tiga porsi makanan dibawa Yoongi, sementara sisanya dibawa oleh petugas sekuriti untuk dibagikan kepada petugas medis di beberapa bangsal, termasuk bangsal isolasi. Namun khusus bagian Namjoon dan Hoseok akan diberikan langsung oleh Yoongi. Yoongi benar-benar menunggui Seokjin untuk masuk ke dalam mobil. Membuat Seokjin tak memiliki pilihan lain untuk pulang, setelah niatnya berbagi makanan untuk para tenaga medis di rumah sakit terpenuhi.  Petugas sekuriti mengucapkan terima kasih kepada Seokjin. Ketiganya bertahan dulu di tempat parkir sementara dua orang lainnya sudah mulai membagikan kotak makanan itu kepada petugas medis di tiap bangsal.

Segera begitu mobil Seokjin menjauh dari pelataran parkir, Yoongi dan dua petugas sekuriti yang tinggal pun melaksanakan tugas untuk membagikan makanan-makanan itu. Yoongi sendiri ikut membantu membagikan kotak-kotak makanan itu setelah menyimpan miliknya dan milik Namjoon serta Hoseok. Ia mengirim pesan agar keduanya bisa menemuinya di area penghubung bangsal isolasi dengan gedung utama.

Namjoon terkejut saat Hoseok menyeretnya begitu ia selesai bertugas dan sudah membersihkan diri. Namun rasa bahagia terpancar begitu mendapati Yoongi di area luar melambaikan tangan. Hoseok bercerita singkat bahwa Seokjin datang dan membawakan makanan untuk mereka. Sayang mereka tidak bisa makan bersama-sama. Yoongi hanya boleh menyerahkan kotak-kotak makanan itu dan memberi tahukan Namjoon soal pemeriksaan Seokjin yang tidak memiliki masalah apa pun. Lalu harus segera kembali ke ruangannya untuk mencegah area steril terkontaminasi. Hoseok hanya mampu bertukar senyum dan sapa dengan Yoongi. Menahan diri agar tidak memeluk dan mencium Yoongi. Tapi isyarat untuk melalukan video call segera disetujui. Maka mereka kembali ke bangsal masing-masing dan makan bersama melalui video call.

Seusai makan, Namjoon dan Hoseok memiliki waktu bebas. Mereka kembali ke ruang peristirahatan sementara yang disiapkan pihak rumah sakit untuk dokter dan tenaga medis yang memilih untuk tinggal sementara di rumah sakit. Hoseok menelepon keluarganya, lalu bersama Yoongi melakukan video call bersama buah hati dan keluarga mereka.

Namjoon pun demikian. Menghubungi kembali kesayangannya melalui video call, yang saat ini sudah berada di tempat tidur, merebahkan diri seraya memeluk Koya dan RJ, boneka koala biru dan alpaka putih yang menjadi kesayangan Seokjin. 

["Namjoonie!"]

Namjoon tersenyum, lesung pipinya ikut muncul. "Aku dengar dari Yoongi-hyeong, kamu memasak banyak dan membagikan makanan di RS, Hyeong."

Namjoon dapat melihat Seokjin yang tersenyum simpul. ["Iya, habisnya cuma itu yang bisa kulakukan untuk kalian. Bagaimana rasanya? Aku sengaja memilihkan menu makanan kesukaanmu, lho!"]

Namjoon dibuat tertawa dengan tingkah suaminya itu. "Enak. Enak sekali. Hoseok sampai minta tambah nasi dari kantin. Katanya sudah lama tidak makan masakanmu, Hyeong. Kangen. Ah, ya ... Aku juga, jadi tambah kangen."

Seokjin menampilkan raut sendu di sana. ["Aku akan masak lagi besok. Mau dimasakin apalagi?"]

Namjoon menggeleng. "Tidak, tidak. Jin-hyeong tidak boleh kecapekan. Ingat sarannya Yoongi-hyeong, ya Hyeong. Seminggu sekali deh, boleh Hyeong masakin kami. Bagaimana? Hyeong juga masih harus kerja kan di rumah? Aku tidak mau Hyeong dan Baby kecapekan. Kumohon, Jin-hyeong mau mengerti."

["Tapi aku tidak keberatan kok."]

"Hyeong, aku sangat mengerti. Karena itu ya, cukup satu minggu sekali. Baby juga ikut kerja kan? Nanti kalian lelah bagaimana? Aku sungguh tidak ingin kalian kenapa-kenapa."

["Baiklah kalau begitu."]

"Terima kasih sudah mau mendengarkanku, Jin-hyeong."

Seokjin mengangguk sembari menguap lebar, sebelah tangannya yang tidak memeluk Koya ditutupkan ke depan mulutnya. 

"Jinseokku sepertinya kelelahan ya?" 

Seokjin bergeleng tapi masih menguap beberapa kali. Sudut-sudut matanya meneteskan air. Tanda bahwa Seokjin memang sudah mengantuk tapi masih belum ingin tidur. Memaksa untuk tidak jatuh tidur dulu sebenarnya. Jika sudah begini maka  Namjoonlah yang harus meninabobokan Seokjin, agar Seokjin dapat tidur siang dengan nyaman sebentar. Hari ini Seokjin sudah sangat bekerja keras. Menyiapkan seratus porsi makanan bukanlah perkara mudah meski Seokjin tampaknya senang-senang saja. 

"Bagaimana Baby? Apa kabarnya setelah diperiksa Paman Yoonginya?"

["Baik sekali. Baby sehat, Appa. Kata Yoongi, dia sudah sebesar buah kiwi. Apa kita akan memanggilnya Kiwi?"]

Namjoon tergelak. "Aku lebih memilih untuk memanggilnya 'Baby', Sayang. Tapi kalau Hyeong suka, tidak masalah.,"

["Aku jadi ingat ada jenis burung juga yang bernama Kiwi ya? Hmm... Tidak jadi deh. Panggil Baby saja ya?"]

"Baiklah, sementara dia belum keluar, dia akan tetap dipanggil 'Baby'."

"[Namjoon... Apa.... Apa kamu sudah menentukan nama buat Baby nanti?"] Seokjin berbaring menyamping, ponsel bergerak acak, menampilkan video yang sedikit memburam saat kamera ponsel digerak-gerakan Seokjin mengikuti dirinya yang berbaring dengan mata sayu, membuat fokus kameranya goyah.

Namjoon tersenyum. Agaknya Seokjin sudah mulai menyerah pada kantuknya. Itu lebih baik daripada memaksakan diri untuk terjaga sementara dirinya sudah lelah. 

"Aku telah memikirkan beberapa nama, Hyeong. Tapi aku ingin kita memikirkannya bersama-sama nanti. Hyeong juga berhak memberikan nama."

["Baiklah kalau begitu. Tapi namanya yang bagus ya?"]

"Pasti. Aku sudah menyiapkan beberapa nama yang mungkin akan Hyeong sukai."

["Aku jadi tidak sabar menunggunya lahir. Aku ingin segera memeluknya, Namjoon."]

Namjoon mengangguk. "Aku juga, Hyeong. Aku juga. Tapi kita harus bersabar. Hyeong sudah tidak mual-mual lagi?"

Seokjin menggeleng lemah. ["Baby maunya banyak sekali. Sebentar-sebentar makan, ngemil. Tapi Yoongi bilang berat badanku masih wajar."]

Namjoon terkekeh. "Sepertinya Baby nanti akan mirip sekali dengan Hyeong."

["Apa maksudmu, Namjoon?! Mau mengataiku dan bayiku rakus begitu?"]

"Astaga, tidak. Sungguh bukan begitu, Hyeong. Maksudku, Baby punya selera makan yang bagus seperti Hyeong. Bukannya itu berita bagus? Dia akan tumbuh dengan baik karena nutrisi dan gizi yang diperlukan dalam tumbuh kembangnya terpenuhi dengan baik. Aku benar tidak?"

Seokjin mengangguk sembari menggosok matanya. 

"Hyeong, istirahat saja."

Seokjin bergeleng. ["Masih kangen."]

"Baiklah. Apa Hyeong sudah memakai aromaterapi yang kuberikan?"

Seokjin menguap sekali lagi sebelum mengangguk. Semakin erat memeluk Koya dan RJ, matanya semakin menyipit sesekali melebar seperti terkejut. Seokjin sudah sangat mengantuk.

["Namjoonie... menyanyi untukku?"]

"Baiklah...."

Maka Namjoon mulai bersenandung, menyanyikan sebuah lagu untuk Seokjin. Seokjin hanya mampu bertahan satu menit pertama, sebelum kelopak matanya menutup sempurna dan gelap mengantarnya pada alam mimpi.

Namjoon menyelesaikan nyanyiannya lalu mengecup Seokjin yang tertidur dari layar ponsel. Kangen. Rindu. Namjoon menarik napas. Satu harapan yang sama kembali dipanjatkan. Mari lakukan sesuatu yang terbaik, yang kita bisa untuk meringankan beban orang lain. Semoga badai ini lekas berlalu. 

"Selamat istirahat, Jinseok, Baby."

End

Notes:

Thank you for reading!
Jika menemukan kesalahan dalam bentuk apa pun mohon koreksi dan sarannya. Terima kasih, sampai jumpa lagi!

Rexa, signing out~