Chapter Text
lee jinhyuk tumbuh dan besar selayaknya manusia pada umumnya.
lahir sebagai anak sulung dari keluarga bahagia dengan orang tua yang sangat mencintainya, dan adik laki-laki yang menjadikannya panutan. studinya sesuai rencana. kebaikannya yang tidak ada akhir dan sifat yang supel membuatnya mudah disukai banyak orang. temannya tak bisa dihitung, terus bertambah dari sekolah dasar sampai sekarang saat ia sudah masuk tingkat akhir perguruan tinggi.
lee jinhyuk, seperti orang-orang lain, pun lahir dengan kata-kata yang tergores di pergelangan tangan kirinya. tanda soulmate -nya, terang dan hitam seakan baru ditulis dengan tinta yang masih belum mengering. kata-kata yang akan ia dengar dari pasangan jiwanya nanti, saat mereka pertama bertemu.
kamu tinggi banget.
hampir dua puluh dua tahun kata-kata itu tergores, dan masih belum berubah menjadi putih, untungnya. pasangan jiwanya masih hidup, masih sehat, dan mungkin juga menunggu hadir jinhyuk dalam hidupnya, seperti jinhyuk padanya.
tidak jarang jinhyuk berandai tentang ucapannya yang terpatri di kulit pasangan jiwanya. siapa di antara mereka berdua yang akan pertama berbicara? apakah komentar tentang tinggi badannya itu merupakan respon kepada kata-katanya, atau sekedar eksklamasi yang akan dibalas olehnya?
apakah ia, seperti jinhyuk, gemar menyusuri kata-kata itu dengan jarinya untuk menenangkan diri di saat kalut?
imaji akan kedua orangtuanya, yang merupakan pasangan jiwa, melekat dengan jelas di memori jinhyuk. bagaimana mereka saling mencintai dengan intensitas yang tinggi tanpa pernah terkikis. cara mereka menyelesaikan kalimat satu sama lain tanpa perlu saling melihat, betapa lembut mereka saat saling berdiskusi. ada rasa hormat dan pengertian yang mengiringi kebersamaan mereka.
bagi jinhyuk, kisah cinta ayah dan ibunya adalah sesuatu yang ia inginkan.
jadi jinhyuk menunggu, untuk kebahagiaan itu. tanpa bergeming. meskipun banyak temannya yang bilang tidak apa bila dia bersama dengan yang lain selagi menunggu. toh kemungkinan bertemu dengan pasangan jiwa tidak seratus persen, banyak kisah tragis tentang insan-insan yang kehilangan hidupnya sebelum lengkap hatinya. tapi untuk apa mencoba dengan yang lain saat ia tahu ada yang ideal baginya di luar sana? menunggu untuk ia temui, berharap akan kata-katanya.
tidak pernah sekalipun lee jinhyuk berpikir untuk membagi hatinya dengan orang lain selain pasangan jiwanya.
-
jinhyuk mendudukkan dirinya di atas satu kardus besar, nafasnya sedikit terengah. di tangannya ada sebotol air mineral yang isinya langsung ditenggak hingga habis setengah. pandangannya menyapu satu ruangan tempat ia berada sekarang, sebuah gudang berisi tumpukan kardus dan buku, beserta perangkat-perangkat alat tulis yang jenisnya terlalu banyak untuk disebut satu-satu.
sudah tiga bulan sejak jinhyuk bekerja sambilan di toko buku dekat kampusnya yang setiap hari rasanya selalu ramai didatangi pengunjung, utamanya mahasiswa yang memang mendominasi daerah itu. jadwal mata kuliah di tahun terakhirnya ini renggang, dan saat teman dekatnya menawarkan kesempatan untuk mencari pendapatan, tanpa ragu ia ambil.
meskipun pekerjaannya yah, kurang lebih jadi tukang angkut.
“hyuk, kalau udah mau selesai nanti bawa keluar stok novel choi byungchan ya,” ujar seungyoun, sahabat dekatnya sekaligus anak pemilik toko buku tempatnya bekerja sekarang. “sekalian nanti lu yang atur di rak deh, jam empat shift lu beres kan?”
jinhyuk mengangguk, meletakkan botol airnya yang sekarang sudah kosong di lantai. pria itu meregangkan badannya sebelum bergerak menuju satu kardus berisi buku yang dipinta seungyoun, novel yang baru sampai di toko hari ini.
berjalan keluar gudang sambil membawa setumpuk buku sudah menjadi keahlian yang mau tidak mau ia sempurnakan selama bekerja di toko buku ini. kakinya yang panjang dengan lincah berjalan menghindari orang-orang yang berlalu lalang, tanpa lupa menyunggingkan senyum. customer service , bisik suara ibu seungyoun yang pada hari pertamanya bekerja mengingatkan dirinya akan dua kata itu tanpa terkecuali.
setelah meletakkan buku-buku yang ia bawa di tempatnya, jinhyuk merapikan rak-rak yang ada di sekelilingnya. mengembalikan buku yang diletakkan secara asal kembali ke tempatnya, mengambil beberapa yang sudah terbuka dari segel untuk dikembalikan ke gudang, dan juga memastikan tidak ada yang stoknya hampir kosong.
tenggelam dalam pekerjaannya, jinhyuk sedikit tersentak ketika tersadar ada pelanggan yang berdiri tidak jauh darinya. seorang pria yang sedang membaca sinopsis novel yang tadi baru saja jinhyuk keluarkan dari gudang sambil menyenandungkan pelan lagu yang berkumandang dari speaker toko.
jinhyuk tanpa sadar memperhatikan pria itu. wajahnya tidak familiar, yang artinya mungkin baru pertama kali datang ke toko buku itu. bahkan dari posisinya yang sedang berjongkok di lantai, jinhyuk sadar kalau pria itu perawakannya kecil. mungkin bila jinhyuk berdiri dia bisa dengan mudah melihat puncak kepalanya, yang ditutupi surai halus berwarna kecoklatan. matanya dibingkai oleh kacamata bulat yang sedikit turun, tertahan oleh batang hidungnya yang tinggi.
bahkan dari profilnya saja, jinhyuk sudah tahu kalau pria itu luar biasa cantik.
mungkin sadar kalau sedang diperhatikan, pria itu pun menengok ke arah jinhyuk. matanya mengerjap, senandungnya berhenti. mereka bertatapan, dan harusnya jinhyuk dengan sigap menawarkan bantuan. tapi pada saat itu semua protokol yang dijelaskan oleh seungyoun dalam melayani pelanggan serasa menguap dari kepalanya.
kemudian pria itu pun tersenyum sambil sedikit menundukkan kepala, sebelum berbalik pergi dengan sebuah novel di tangannya.
jantung jinhyuk berdegup kencang.
-
pria itu datang lagi, seminggu kemudian.
kali ini, jinhyuk sadar akan kehadirannya sejak ia menjejakkan kaki ke dalam toko, karena ia sedang berdiri tidak jauh dari pintu, merapikan barisan majalah yang terpajang. pria itu tidak menoleh ke arahnya, berjalan lurus ke arah area novel, sama seperti minggu lalu.
jujur, jinhyuk sedikit kaget. dia tidak menyangka akan bertemu dengan pria itu lagi, terlebih setelah satu minggu penuh dirinya berharap lalu dipupuskan di akhir hari.
selama seminggu itu pula, jinhyuk berspekulasi. mungkin lelaki itu hanya sekedar lewat di daerah ini hari itu, dan kebetulan menemukan toko buku yang bisa membantunya menghabiskan waktu. biasanya, pelanggan seperti itu tidak akan datang lagi. jadi jinhyuk pun, tidak berharap lagi.
tapi pria itu datang lagi.
masih sama, cantiknya. magis keberadaannya di dunia jinhyuk, yang tidak pernah merasa penasaran yang sebegitu besarnya kepada seseorang. yang tidak pernah merasa jantungnya berlari karena melihat seulas senyum.
hari itu, seperti minggu kemarin, pria itu tidak berlama-lama di sana. dia membeli satu buku, dan berjalan ke arah pintu. tapi kali ini, dia sadar akan kehadiran jinhyuk. mata mereka bertemu lagi, dan sekejap jinhyuk bisa melihat binernya sedikit membesar karena kaget. senyum pria itu datang lebih cepat kali ini, bersama dengan tunduk kepala yang sama.
hari itu, jinhyuk balas senyumannya, sebelum pria itu berjalan melewati pintu.
(masih sama juga, jinhyuk yang hanya bisa memandang sampai pria itu menghilang dari pandangannya. tapi setidaknya kali ini, ia tidak hanya termangu).
-
sejak hari itu pria itu selalu datang di hari yang sama, dan seiring waktu interaksi mereka pun bertambah.
interaksi tanpa kata, karena tidak ada satupun dari mereka yang bergerak untuk berbicara dengan satu sama lain.
tatap mereka makin lama, dan senyum mereka semakin lebar saat saling melihat. pria itu pun menghabiskan waktu lebih panjang di toko buku, dan semakin banyak ekspresi yang bisa jinhyuk lihat di wajahnya. bahkan di satu okasi, jinhyuk bisa melihat rona merah mekar di pipi pria itu, kala jinhyuk tanpa sengaja melihatnya bersusah payah mengambil buku yang terletak agak tinggi.
manis sekali.
semakin sering ia lihat pria itu, harap jinhyuk makin melambung tinggi. malamnya kini dihabisi dengan menatap kalimat yang tertulis di pergelangan tangannya, membayangkan tiga kata itu keluar dari bibir mungil berulas senyum yang membuat jantungnya berdegup.
puncak kepala pria itu hanya mencapai telinganya, jadi tidak aneh kalau ia mengomentari tentang tinggi jinhyuk yang memang di atas rata-rata, bukan?
tidak aneh pula kan, kalau jinhyuk menaruh harapan kalau laki-laki itu adalah pasangan jiwanya. karena bagaimana mungkin, seorang lee jinhyuk yang tidak pernah merasakan ketertarikan kepada siapapun, bisa dibuat seperti ini?
lee jinhyuk yang sekarang menutup malamnya dengan senyum dan antisipasi akan datangnya hari rabu, seperti remaja yang baru jatuh cinta.
-
“cowok lu belum dateng?” tanya seungyoun yang sedang berjaga di kasir berdua dengan jinhyuk. senyum usilnya merekah melihat jinhyuk yang sedari tadi bergerak gelisah.
“siapa cowok gua,” balas jinhyuk meskipun hanya setengah hati. sore itu sepi, dan biasanya jinhyuk akan lebih menikmati karena dirinya tidak akan sesibuk biasanya. tapi hari ini rabu, dan pria yang ditunggunya belum juga muncul meskipun jarum jam sudah mendekati pukul empat sore. di dua bulan semenjak mereka pertama bertemu, dia tidak pernah datang lebih larut dari berakhirnya shift jinhyuk.
“kecil, pakai kacamata-”
“itu bukannya pacar lu?”
“-dateng tiap hari rabu, suka ke bagian novel, terus kalau udah mulai senyum ke arah lu kayak enggak bisa berhenti,” lanjut seungyoun seakan jinhyuk tidak pernah menginterupsi. “masa lupa, sama cowok yang lu taksir?”
“mana ada gua nak-”
seungyoun membekap mulut jinhyuk. “hei anak muda, dengarkan yang lebih berpengalaman. you are head over heels in love .”
jinhyuk menampik tangan seungyoun tanpa membalas perkataannya. disangkal pun percuma, saat dia jelas-jelas terusik seperti ini. sahabatnya itu hanya terkekeh pelan dan menarik jinhyuk mendekatinya dengan tangannya yang sigap melingkari bahu jinhyuk. “udah berapa bulan sih memang, pedekate lucu kalian ini?”
“hampir tiga bulan,” jawab jinhyuk, pandangannya kembali ke jam dinding yang tiap pergerakan detiknya seakan melemparkan olokan.
seungyoun bersiul pelan. “terus belum ngomong sama sekali?” saat jinhyuk menjawab dengan gelengan kepala, siulannya makin kencang. “tahan juga lu.”
jinhyuk menatap sahabatnya, dahinya mengernyit. “maksudnya?”
“memang lu enggak mau tau dia soulmate lu atau bukan?”
“mau lah,” jawab jinhyuk cepat, karena percuma juga bohong. seungyoun adalah salah satu orang yang tahu seberapa ia menjaga dirinya hanya untuk pasangan jiwanya. lagipula, kenyataan kalau setiap malam dia membayangkan tiga kata di pergelangan tangannya diucapkan oleh pria manis yang belum ia ketahui namanya itu terlalu gamblang untuk disangkal.
“terus?”
“belum siap aja,” lanjut jinhyuk pelan. bertemu dengan pria itu setiap minggunya adalah titik tertinggi di hidup jinhyuk akhir-akhir ini, meski singkat waktunya. layaknya manusia dan zona nyaman, jinhyuk pun merasa kalau apa yang mereka jalani ini belum siap untuk diusik. masih terbuai dengan tatapan hangat dan senyuman kecil, disertai rona merah di pipi yang semakin lama semakin meningkat frekuensi munculnya.
belum siap pula untuk tahu, kalau hal-hal itu ternyata bukan sesuatu yang bisa ia pegang selamanya.
seungyoun mengetuk kepala jinhyuk pelan, memecahkan lamunannya. “hyuk, hari ini dia belum dateng aja lu udah ketar ketir. lu butuh berapa lama lagi, sampai lu siap? sampai suatu hari cowok itu enggak dateng lagi, terus lu cuma bisa nyesel?”
perkataan seungyoun mengundang jinhyuk untuk membayangkan kalau suatu hari, pria itu tidak berjalan melewati pintu toko di hari rabu. tidak lagi memegang dua novel berbeda di tangannya, membaca sinopsis keduanya dengan serius sampai akhirnya salah satu diletakkan kembali di rak.
dadanya berdenyut.
“lu tuh bakal kehilangan semua kesempatan yang enggak lu ambil, tau gak? siapa tau dia memang soulmate lu? sampai salah satu dari kalian akhirnya ngomong duluan, enggak ada yang tau, hyuk,” ujar seungyoun, menggebu-gebu, tanpa mempedulikan beberapa pelanggan yang melihat ke arah mereka.
enggak akan ada yang tahu .
“iya ya, percuma kalau gua enggak gerak,” kata jinhyuk akhirnya dengan mantap. keputusannya sudah bulat. “kalau cowok itu dateng hari ini, gua akan ajak dia ngomong.”
dan seakan terpanggil dengan kata-katanya, dia datang .
dengan langkah yang terlihat tergesa, pria hari rabunya itu menghambur masuk ke dalam toko. wajahnya yang biasa selalu terlihat tenang hari ini sedikit terusik, matanya bergerak cepat ke semua penjuru sampai terhenti di meja kasir. ada kelegaan yang terpancar dari binernya saat tatapnya berhenti di sosok jinhyuk.
melihat itu jinhyuk pun yakin, kalau bukan hanya dia yang merasa.
kakinya bergerak sebelum ia sadari, karena di otaknya hanya ada diadatangdiadatangdiadatang yang tak kunjung berhenti. langkahnya pasti, sampai ia berhenti di depan pria mungil itu, yang sekarang terlihat sangat bingung. mungkin karena hari ini jinhyuk tidak bergerak sesuai alur mereka biasanya.
tapi pria itulah yang pertama kali mengulurkan tangannya, yang langsung disambut oleh jinhyuk. belum ada yang bicara di antara mereka berdua, menikmati senyuman yang terlihat lebih indah di jarak yang lebih dekat dari sebelumnya.
lalu pria itu pun membuka bibirnya mendahului jinhyuk.
“kamu…”
tinggi banget .
“...lama banget, ya?”
kata-katanya diucapkan sambil tertawa kecil.
suara tawa yang merdu itu mungkin akan dinikmati jinhyuk, bila saja ia tidak baru merasakan dunianya runtuh.
