Work Text:
Sejak usul keluar dari bibirnya pada ungkap pendapat konferensi, Ray sudah menyiapkan diri jika ia yang ditunjuk bertugas. Keluar ruangan langsung menelepon Norman, membeli tiket pesawat, dan menyusun perlengkapan. Perjalanan sejauh belasan ribu kilometer memakan waktu hampir satu hari.
Dia mandiri beranjak dari bandara ke tempat tujuan. Norman berdeham. "Senang bertemu lagi denganmu, Sobat. Aku kangen ngoprek elektronik bersama." Tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya dan Norman serta karyawan di meja penerima tamu. "Kuperkenalkan ilmuwan yang akan mendampingimu selagi bekerja."
Sepucuk ahoge mencuat, "Emma?"
Badan Ray ditabrak kemudian. Norman tergelak.
"Mengapa bisa kau muncul tiba-tiba di sini? Seingatku kau seharusnya sedang berada di—"
"Ya, sengaja. Biar surprise gitu."
"Oh, begitu?"
Kejutan Emma nampaknya berhasil.
"Sedang bertugas apa jauh-jauh ke sini? Hm, waw, Ray, kau semakin ganteng deh. Curang!"
"Emma, Ray baru sampai." Norman menunjuk koper hitam yang mereka sama-sama yakin didominasi alat fotografi. "Setidaknya biarkan ia masuk ke kamar dulu."
Pipi Emma menggembung. Dia bisa tiba-tiba menjadi anak kecil jika hadir di antara dua manusia ini. "Ray masih kuat untuk dikejar-kejar singa." Kakinya mulai mengincar kaki sahabat hitam. Putih lebih diacuhkan Hitam daripada si Oranye.
"Terima kasih atas sambutan hangat dan," Ray melirik ke belakang, "kejutannya. Aku akan mulai produktif besok pagi."
Ray diantar ke kamar yang, mengapa harus bersebelahan dengan kamar Emma?
Ritme pada ketukan pintu tidak pernah menjadi lebih cepat karena detik berikutnya pintu sudah dibuka tanpa izin persetujuan. Mari anggap Ray yang sengaja tidak mengunci pintu adalah tanda bahwa ia mengharap Emma bertamu.
"Aku kagum kau bisa melakukan prosedur mengetuk."
Emma menyambangi satu buku catatan berpanjang kurang dari dua jengkal dan memiliki lebar satu jengkal berwarna cokelat tua. "Tumben bukumu sedikit. Biasanya seabrek." Dia hanya berbasa-basi sebenarnya.
Ray mengangkat batang telepon pintar. "Semuanya ada di sini." Dan mungkin ujung telunjuknya bisa menunjuk ke dalam kepala.
"Coba jelaskan padaku prospek kerja proyekmu selama di sini." Emma mendorong udara di depan mulut rekannya yang akan berbicara. "Bukankah kau berjanji akan memberiku peta langit untuk pertemuan, hm, sekarang."
Dengusan sengaja dikeluarkan sebagai respons siapa pun tahu pihak yang bersalah. Apel dalam segel styrofoam diserahkan sebagai bahan gencatan senjata. Berkas daring sampai di perangkat Emma. Ray membuka catatan luring. Mulai berdiskusi.
Bersama Emma yang terlihat kelebihan adrenalin sedang Ray lebih memanfaatkan lelahnya untuk berpikir, selalu menyenangkan untuk bekerjasama. Emma dan Norman adalah dua rekan paling kooperatif di kalangan usia sebayanya. Lebih tua, ada Yugo dan Isabella. Phil adalah junior kebanggaan.
Suasana malam yang tidak jauh dari rumah-rumah hewan, secara periodik terdengar lengkingan, dengkuran, dan suara-suara yang berbeda dari malamnya metropolitan.
Ray mulai berspekulasi bahwa mungkin Emma ingin menjadi jerapah. Sejak balita hingga sekolah menengah atas, perempuan itu selalu berceloteh bahwa ia ingin entitas jerapah sebagai sahabatnya. Bisa meraih atau mengambil barang-barang yang punya energi potensial besar. Tugas itu entah bagaimana Ray lakukan. Ketika kerja kelompok di perpustakaan sedang Emma lama menghilang, Ray menemukan jari-jari kaki Emma turut berjinjit mendukung tangan kanannya menggapai buku incaran. Di sampingnya jelas sekali ada tangga khusus. Apakah Emma menunggu seekor jerapah datang? Mengambilkannya buku lalu mengajaknya bermain di atas punggung? Tulang belakang Emma malah bertemu dada Ray. Eksistensi penolongnya sungguhan bukan jerapah dan bukannya mengajak bermain, malah membanting sang buku ke kepalanya.
Pagi ini, sedetik bangun dari tidur, Emma bertingkah layaknya bayi jerapah yang baru lahir. Singkat berdandan untuk dirinya sendiri, sibuk menggedor pintu tetangga, kok dikunci? Ray sudah di atas mobil jip terbuka menyusun tripod. Jemari melakukan pengaturan pada kamera. Terlihat begitu mudah seperti mengetik pesan. Emma meloncat ke kursi pengendara. Kacamata hitam diturunkan sebagai salam kepada Norman. Sang pengendara memacu gas sambil menantang angin dan langsung mendapat peringatan kalau kamera sedang merekam.
"Sori, sori. Anggap tidak sengaja." atau sebut saja, sebuah spontanitas yang mendarah daging.
Jip mendekati pintu masuk yang dikawal pohon akasia. Ray menginstruksi untuk akselerasi negatif pada velositas mobil lalu mengarahkan kameranya ke papan nama beserta logo. Binatang pertama yang mereka temukan adalah kawanan singa rebahan di dahan-dahan pohon. Beberapa ada yang leluasa di atas rumput. Ada pula yang mencakar batang pohon.
Roda terus melaju. Sabana sejauh mata memandang. Di beberapa kesempatan Emma memekik heboh akan tingkah lucu hewan-hewan ganas. Well, bagaimana pun seekor hewan paling buas pun tidak sudi anaknya tersakiti.
Bantaran sungai memperlihatkan banyak kuda nil yang silih berendam dan beranjak. Rerumputan hijau kering mengerubungi satu pohon botak.
"Percepat, Emma."
Sang sopir semangat sekali tentang ini.
"Stop," dan di antara rumput dan pohon berdaun yang lebih banyak, terdapat kumpulan jerapah.
Emma hampir-hampir berlari ke arah wujud asli dari tumpukan boneka masa kecilnya. Ray mulai menyetel drone. Jadi ada sopir jip dan pilot di sini.
"Proyek kantormu terkait seri edukasi untuk anak-anak, hal apa yang membawamu kepada jerapah?"
"Terlintas saja di kepalaku setelah melihat video satu jerapah dikerubungi lima singa."
Hijau pada dua iris itu menampakkan kesegaran dari gersang sabana. "Video yang dipublikasi via Twitter itu, ya? Aku juga lihat." Lewat korelasi media yang akun Ray merahkan hati.
"Kalau dipikirkan lagi jerapah memang cocok untuk belajar, terkhusus daya tarik bagi anak kecil," terdengar seperti kode rangkap sindiran, "ditambah efek dari citra warna jerapah itu sendiri yang," Ray menoleh pada Emma yang menatapnya polos, "ceria."
"Wah, haha, aku setuju. Aku merasa diriku sendiri mirip hewan unik itu." Oh iya. Dulu Emma pernah memakai onesie jerapah di acara pesta piyama.
Drone terbang di atas tipe angola. Dia mencari bagian makanan favorit.
Harapan Ray menangkap leucistic adalah sama dengan menyaksikan bioluminesensi di Maldives. Salah satu artikel membuat twist psikologi pada pembaca. Pada awal diceritakan pantai putih malam hari yang dijejaki bintang. Kelap-kelip laut penuh biru. Cahaya dimana-mana. Sebagai penutup, pembaca diingatkan untuk tidak mengharapkan pemandangan langka itu kala berkunjung. Datanglah ke Maldives untuk pantai, laut, dan desir angin.
Ray melakukan trik fotografi rangkap videografi. Betapa kompleks manusia itu. Tidak ada satu orang pun sempurna, tapi manusia itu seperti paket komplet. Dia bisa mengingat detail informasi beragam buku. Masakannya lezat. Terampil menyusun artikel. Terlepas tipe introver, dia mudah sekali bergaul dengan caranya sendiri.
"Kau ingin aku mulai menjelaskan sesuatu?"
"Tolong."
Kondisi seperti ini terasa selalu dekat. Emma menghampiri Ray yang terlalu lama membaca buku; Ray bertingkah seolah terdistraksi; sering Norman hadir sebagai penengah. Ray tiba-tiba memikirkan percakapan ia dan Emma di atas rerumputan bertahun-tahun lalu. Perkara gelisah langsung ditembak. Sering kali, Ray terlihat lebih mengerti Emma daripada perempuan itu terhadap dirinya sendiri. Memang paket komplet. Hiburan terbaik yang Emma dapatkan saat itu adalah sebuah tangan di atas kepalanya.
Tetap di dalam jip, bekal makan siang dibuka. Ada panggilan dari Mama Isabella.
"Iya, Ma."
Masih pagi latar belakang pelaku inisiatif.
"Ray, sudah berencana membuat pilihan? Kemarin sore ada yang datang ke rumah lagi, lho."
"Ma, aku sedang memikirkan itu." Untuk pengalihan, "Sekarang aku bersama anak kesayanganmu."
Emma langsung mengambil alih alat telekomunikasi. Exited berbincang kepada wanita yang ia anggap ibunya sendiri.
Lensa masih memerangkap jerapah. Sebelum ditarik ke pangkuan, drone sempat menjauhi jerapah jantan dan jerapah betina di satu pohon demi status konservasi. Buku catatan luring ada di samping sang pemilik. Emma izin membuka-buka selagi Ray mencoba mensejajarkan kamera untuk menangkap kaki-kaki zebra.
Ketika sampai di catatan target, kata menikah diperlakukan sebagai anulir. Emma mengangkat alis. Menghubungkan bakat paket komplet, ingatan pernyataan-pernyataan untuk Ray di masa sekolah, dan perkataan Isabella di awal komunikasi, hadir sebuah kesimpulan. Laki-laki berambut hitam itu memilih sendiri untuk masih tunggal.
Hewan-hewan bubar. Langit memusat menjadi abu.
"Hari ini selesai." Buku catatan dikembalikan. "Aku yang akan menyetir pulang."
Emma tidak susah menukar kursi. Alat fotografi sudah dikemas aman. Gemuruh mulai terdengar. Jip melaju cepat dengan tetap memperhatikan jika binatang menyeberang. Tetes belum turun, tapi Ray sudah melempar rompinya ke kepala Emma.
"Berpegangan sekaligus tolong jaga peralatanku."
Mereka sampai tepat waktu di pelataran inap.
Satu minggu yang lalu Ray sendirian berdiri di bandara. Norman dihampiri urusan dadakan, tersisalah Emma. MEL tertera di karcis penerbangan.
"Siapa tahu lolos dari daftar."
Ray menerima syal musim dingin yang disodorkan padanya.
"Terima kasih." Kakinya belum juga beranjak. "Emma, setelah ini kau ada di mana?"
"Dua minggu lagi aku menetap di rumah."
Pas dengan jadwal Ray.
"Aku tidak lupa soal peta bintang, tapi mungkin aku bisa melakukan suatu hal lain."
Pengeras suara tidak memberikan waktu lebih lama dari ini. Ray tidak yakin dengan ritme pompa jantungnya sekarang. Emma tidak boleh dengar, jadi dia meletakkan tangannya di kepala Emma yang untungnya, tidak setinggi jerapah.
