Work Text:
Pakaian putih dengan mode yang dipakai Don dan Gilda tidak pernah terbayang akan menjadi kenyataan di depan mata mereka. Dulu, pertunjukan macam itu hanya mereka jumpai di dalam buku-buku senja, atau hanya jadi perbincangan selintas di tengah canda. Semacam, impian ketika orangtua adopsi menjemput. Mama tidak pernah berterus terang tentang hubungan yang bukan sekadar saudara. Dunia yang mereka injak pada November 2047 memperkenalkan lebih jauh kepada hubungan yang mengantarkan kepada janji sakral. Ada pernyataan sesama veteran dan ada yang menjalin tangan dengan pribumi.
Ray menjumpai Emma setelah beberapa langkah keluar dari ruang seorang konglomerat pemilik gedung sewa. Jas hitamnya masih rapi dan bahu gaun Emma dijatuhi rambut. Sejak usianya sembilan belas tiga tahun lalu, telah banyak orangtua pejabat yang menyodorkan proposal resmi. Entah karena kriteria pribadi untuk seorang pemuda yang dididik sempurna ketika dunia runtuh atau karena permintaan malu-malu dari nona muda.
Dagu berelevasi dan Ray langsung bisa membaca. Alat gerak aktif pada tangan ia ayun untuk membungkus tangan Emma (yang langsung tersentak) dan membawanya ke aula.
"Perempuan setelah Mama, bagiku, tidak pernah selain dirimu."
Hiburan sama yang memuaskan ketika sampai di dunia manusia adalah buku. Meski perpustakaan hancur dan ratusan ribu buku tenggelam dan terbakar, penerbit terus melahirkan banyak kertas dan setelah pembatas benua menjadi begitu tipis, buku-buku lama mulai diterbitkan kembali. Bumi dengan satu negara masih tidak ada apa-apanya dibanding milyaran tata surya.
Drone dari baris paling atas rak membawakan Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta. Sejak tadi kerlip hijaunya bolak-balik ke kanan dimana Ray konsisten menatap buku, sesekali menyesuaikan isi dengan video.
"Silakan duduk di sebelahku."
Ray meletakkan gadget di samping sofa, masih memegang buku, dan ia selalu berhasil membaca Emma. "Katakan apa yang mengganggumu." Meski Ray bisa mengungkapkan itu oleh dirinya sendiri.
Emma menyerah dan kaget terhadap jarak yang ia ciptakan begitu duduk di sofa yang sama.
"Soal yang kemarin itu … kau … sungguhan, maksudku…."
"Aku tidak bercanda."
"Tapi kau tidak pernah bilang kalau kau menyukaiku!"
Curang sekali saat pipi Emma merah padam sedang Ray berbakat bersikap santai.
"Bukankah yang kemarin termasuk pernyataan?"
"Kalimat itu masih ambigu."
Kalau bantal tidak jauh, benda itu sudah Emma manfaatkan untuk menutup setengah muka. Buku yang dipangkunya terlalu mungil.
"Ketika aku penuh pertimbangan menyerahkanmu kepada Yuugo?"
"Aku bahkan tidak tahu apa yang kau katakan."
"Aku langsung menyuapimu bubur saat siuman."
"Kau melarangku bergerak seperti melarang anak kecil hujan-hujanan."
Ray menutup buku. "Buatlah pilihanmu sendiri. Aku akan berada di sisimu. Apapun jalan yang kau ambil, aku mempercayai keputusanmu," diembuskannya sehelai napas, "karena, melampaui hal yang mustahil adalah keahlianmu."
Waktu berjalan seolah melakukan dilatasi relatif. Mata mereka bertemu pandang.
"Kalau bagimu masih kurang, aku menyebut diriku bodoh karena melonggarkan penjagaan setiba di dunia ini."
Emma menunduk kemudian menyeka pipinya. "Ray yang lebih sering mengataiku bodoh."
Ray berdiri membawa pergi buku dan gadget.
"Datang padaku ketika kau sudah memutuskan."
... Apakah … yang satu itu juga termasuk pernyataan?
