Work Text:
Tidur bisa menjadi dua emosi yang berbeda untuknya. Ketika kelopak mata tertutup dan ia ada di dunia perbatasan, di situlah ia merasa hidup. Oleh suara-suara yang memanggilnya 'Emma'. Siapa Emma? Apakah itu adalah namanya? Mengapa terasa begitu penting?
Lelap kadang membuatnya takut. Namun ia seperti sudah berkawan lama dengan perasaan itu. Lalu mungkin, seharusnya ia tidak perlu merasakan itu lagi. Sesuatu menggerayapi dirinya setiap menatap nanar kalung yang ingatannya tentang benda itu juga direnggut.
Kadang tidak sesederhana suara. Muka-muka tanpa wajah hadir silih berganti. Menghantui seperti arwah tidak tenang. Apakah wajah-wajah itu memang gusar? Matanya menjeblak terbuka di tengah mimpi. Kalungnya masih bersamanya. Tidak ada yang dijumpai lagi selain desir salju yang berkecamuk. Lalu dia, menekan tangan lebih dalam di atas alis.
Seiring hari berlalu dan makanan-minuman hangat mengisi perut, sel-sel dalam tubuhnya membantu mengobati rasa. Ia telah kehilangan masa lalu, namun masih ada masa depan yang dekat untuk diraih. Maka bersama tumbuhnya bunga musim semi pertama di halaman rumah penolongnya, ia memutuskan untuk berhenti menoleh ke belakang. Menemukan rumah-rumah, manusia-manusia, dan mencoba berinteraksi lewat jual-beli.
Di salah satu kedai, ia mendengar (tentang kuping yang tidak lagi sepasang juga mulai tidak ia pertanyakan) fenomena masif tiga bulan lalu. Tentang anak-anak dan wanita-wanita dewasa yang muncul berkelompok. Out of nowhere. Dengan angka-angka yang terlihat seperti kode menempel di tubuh. Ia terpana, kemudian ingat pesan Kakek Tua tentang jadwal kereta.
Pencarian ditarik sementara untuk pemeriksaan dan pemberian identitas di dunia manusia. Ray berkaca dan mendapati kantung di bawah mata. Tidak pernah sehitam itu. Maka pada suatu pagi musim semi, Ray menepuk pundak Norman. Dia butuh pergi. Museum Louvre dan Sagrada Familia tersisih ke belakang. Dia butuh sepi.
Gerbong terakhir menuju tempat paling sunyi mendekapnya dalam sepi bersama penumpang yang tidak berniat membangun konversasi.
Selalu ada tujuan dari sebuah perjalanan. Ray meyakininya dari ratusan buku yang terpaksa ia lahap. Ray tidak suka belajar. Ray tidak suka membaca. Mungkin ini waktunya dia melakukan sebuah darmawisata.
Kereta ini membawanya kepada suatu bekas medan perang terakhir. Tidak ada persiapan tentang penginapan dan Ray tidak membawa teknologi dunia manusia. Ia berpikir dengan melihat sisa-sisa pertempuran serta memanjatkan doa bisa meringankan bebannya.
Ray terus menjejak kaki di kawasan yang hanya ada pohon besar dan bangunan kosong. Dengan bermodal map, dia terus menelusuri makam para veteran. Pada sebuah titik dia menengadah dan mendapati jalur bintang menerangi paku-paku besar yang tertancap tidak teratur. Kawat-kawat pembatas terabaikan bersama dengan peringatan yang hampir tenggelam.
Setiap yang berada enam kaki di bawah kakinya, pasti pernah punya sebuah keluarga. Bersama-sama menghadapi kejam dunia pada dekade-dekade krisis. Ray mengangkat tangan dan mulai berbisik.
Veteran Tua menggendong seorang remaja awal di punggungnya. Anak gadis yang hidup bersamanya beberapa bulan terakhir diberikan instruksi untuk menyediakan selimut dan kompres.
"Dia terlihat seperti sudah sakit sejak beberapa hari lalu."
Tubuh pelancong muda itu diletakkan di atas sofa dekat perapian. Sang remaja perempuan menyampir selimut sampai menutupi leher. Lampu minyak temaram berpendar. Ia mengambil kompres, menyingkap rambut pemuda itu dan tangannya langsung bergetar. Bayangan itu datang lagi kepadanya. Bibir pemuda ini adalah yang paling sering bergumam ke arahnya. Tiba-tiba kepalanya pusing dan Veteran Tua mempersilakannya kembali ke kamar.
Dua jam kemudian Ray bangun dalam keadaan kaget. Dia seharusnya terbangun di tengah dingin malam. Perapian masih membakar kayu yang sudah rapuh. Bajunya tidak berkurang satu lapis pun dan kain yang sudah dingin jatuh dari dahi. Ray pikir sungguhan Emma yang menempelkannya. Mimpi indah atau menyemai harapan palsu, Ray tidak tahu.
Ray mulai menyusuri lantai pemilik rumah. Pada sebuah bagian dinding di atas laci besar, beragam memori dibekukan. Beberapa terbingkai kayu dan lainnya hanya ditusuk paku payung. Ray mulai berspekulasi ia telah mendoakan beberapa dari mereka. Juga kepala rusa yang tanduknya mencuat hampir menyentuh atap.
Bersama lilin kecil Ray menaiki tangga. Suara gaduh penuh gelisah berinterferensi dari celah daun pintu di sampingnya. Ray menjeblak begitu saja. Begitu familier. Lilin kecil hampir membakar jika Ray tidak cepat menghampiri meja.
"Emma! Emma!"
Selimut kotak-kotak tinggal menutupi setengah badannya.
"Huh?"
Ray tidak bisa lebih terbelalak mendapati leher perempuan ini bersih tanpa 63194.
"Siapa…."
Yang terjadi kemudian adalah Ray sudah merengkuh Emma dalam dekapan kokoh namun juga penuh getaran.
"Syukurlah. Syukurlah."
Tangan lawannya mulai bergerak dengan mata memburam. Laki-laki ini ada di dalam mimpinya. Memanggil-manggil dirinya. Begitu lembut, begitu hangat, tapi menyakitkan karena sekeras apapun ia mengingat, tangannya tidak sanggup balas menggapai.
Ray gampang menemukan korelasi perjanjian dengan penempatan soliter pada Emma.
Kalau diri Emma tidak bisa dijadikan bayaran karena permainan kata, memang licik mengambil memori yang menjadikan seseorang tersebut berjuang. Mengorbankan satu untuk ribuan memang lebih surplus, tapi ketika memikirkan itu, dada Ray seperti dihimpit batu besar.
Benda-benda Emma masih eksis dengan manipulasi pada kenangan-kenangan bersyarat. Pakaian dari dunia mimpi buruk, busur panah, perkamen-perkamen, kalung Musika, bahkan polaroid yang diberikan Ray.
"Kau melihat siluet baju di sebelahmu?"
Ia paham bahwa seharusnya ia mengenal sosok di sisinya yang terpatri di dalam foto.
"Dan kau pasti mengerti, ada orang lain pula yang mengambil gambar itu."
Mata hijau perempuan itu kehilangan binarnya. Ray beranjak setelah pamit dan berterima kasih pada Veteran Tua.
"Aku akan kembali." Ray memandangi Emma. "Tidak masalah bagiku jika seorang Emma mengucapkan 'aku pulang' meski harus menunggu sampai tertidur panjang."
