Work Text:
Pengkhianatan, ironinya, dilakukan oleh orang terdekat. Seharusnya Ray paham setelah melihat aplikasi pada cerita James dan Peter dari keluarga Ratri. Ray baru tahu kalau pengkhianatan bisa bersinonim dengan pengorbanan. Dan tujuan dari sebuah khianat tidak selalu beradjektiva minus.
"Aku bermimpi Peter Pan, kemudian Alice."
Di samping, ada Emma yang sudah melek kemudian Ray mendapati dirinya lega. Angin ribut menderu di luar. Mereka tidur di kamar loteng yang langitnya segitiga. Ray memencet tombol pada telekendali. Bagian atap yang menghadap mereka tersingkap gordennya. Pemandangan mendung membentang menembus kaca yang dikelilingi karet EPDM. Dari satelit, orang-orang bisa mengira kaca sebagai panel surya.
Second star to the right and straight on 'til morning.
Langit gelap tanpa bintang. Ray lega tidak menemukan jalan menuju Neverland.
Ray menarik selimut dan membelakangi Emma. "Tidurlah. Hari Senin kita masih bekerja."
Udara sudah lebih hangat sejak musim dingin berakhir dua minggu lalu. Emma menyiapkan teh untuk Ray dan Ray memasak roti bakar untuk Emma. Tidak mungkin Ray lupa percakapan sekilas tadi malam dan hubungannya dengan baris all the world is made of faith, and trust, and pixie dust.
Emma memotong bagian tengah tempat menebalnya selai. Sayangnya terpental ke bawah bingkai jendela.
"Kau diamkan saja? Nanti keburu dikerubungi semut."
Emma mengulang potongan dan hempasan. Ray juga melihat genangan teh di samping cangkir.
"Mengapa tidak berpikiran sengaja supaya dimakan semut?"
Ray memandangi Emma. "Oke."
All children, except one, grow up.
Kalimat pembuka dari novel dongeng Peter Pan karya J.M. Barrie. Pernah ada yang membahas inspirasi dari karya yang membuatnya mendunia adalah kakak laki-lakinya. Seorang anak yang tidak lagi tumbuh. Bisa disandingkan dengan lelucon Jerman tentang awet muda ketika Rhein teraduk limbah.
Member dari Grace Field, Glory Bell, Grand Valley, Goodwill Ridge, serta segala 'peternakan' punya neverland versi terpisah dari neverland-nya Wendy. Anak-anak di sana hanya tumbuh sampai empat, enam, dan paling lama dua belas tahun.
Makanan manis dah teh mengingatkan Emma tentang mimpi tadi malam. Ia menoleh ke luar jendela, berharap muncul kelinci putih yang sempat ia temukan pada musim dingin. Ray bersyukur tidak ada jalur menuju Wonderland.
"Akan menyenangkan sekali jika kita bisa berpetualang di Neverland dan Wonderland," ujar Emma.
"Jangan konyol," bantah Ray, "dua tempat itu sering dianggap sebagai dunia impian padahal jelas sekali tokoh di dalamnya hampir tertimpa malapetaka."
Emma cengengesan terhadap respons perbedaan sudut pandang. "Dunia manusia memang destinasi terbaik."
"Lalu kita terbangun tanpa kamu."
Emma mengakali mimik.
"Ayolah, Ray, itu hampir sepuluh tahun lalu."
Ia hendak merayu, namun tertolong ketukan pintu.
Norman dan Phil datang pertama. Ray tersenyum di balik cangkir. Dia tidak peduli pada sejuta land-land yang katanya idaman itu. Selama ia bangun dan mendapati Emma di sisinya, itu semua yang membuatnya bertahan hidup.
