Actions

Work Header

Diagram Pohon

Summary:

Setiap hari aku belajar untuk saling bersinggungan.

Notes:

The Promised Neverland © Kaiu Shirai
(tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan fanfiksi ini).

Didedikasikan untuk:
#RayEmmaWeek2020

Day V: Soulmates/School

Work Text:

Suatu siang setelah belajar probabilitas untuk bab Matematika, Emma membawa kertas kosong dan satu pulpen. Dua benda itu langsung dititipkan kepada Ray. Entah sebuah penurunan atau peningkatan ketika Emma hanya bermain satu ronde.

"Sekarang kau akan mengataiku inovatif."

Emma mulai membuat satu judul besar. Jika Aku Tidak Tinggal di Grace Field.

Cabang pertama memuat kasur empuk. Cabang kedua makanan dan minuman lezat. Cabang ketiga tertulis pakaian putih. Berikutnya tentang nomor identitas. Tes harian. Permainan kejar-kejaran. Di cabang paling akhir tertulis Mama dan saudara. Semua kategori memiliki andaian positif-negatif serta apakah jika Emma bukan di Grace Field, semua hal tersebut akan bertambah baik atau lebih agak bagus.

"Kau mencoba mengubah penggunaan diagram pohon yang biasa digunakan untuk analisis bisnis," komentar Ray.

"Aku bisa membayangkan lebih jauh jika salah satu dari saudara kita yang diadopsi mengirim surat."

Ray tidak lagi membaca deretan kata pada buku.

"Dari mereka yang tidak mengirim laporan tentang hidup di luar panti juga bisa menjadi bahan hipotesis."

Emma menyentak pulpen. "Brilian. Alasan tidak datangnya sepucuk surat bisa disebabkan kesenangan yang membuat lupa, atau mungkin … orangtua asuh mereka tidak mungkin berlaku kasar, 'kan?"

"Tulis saja. Berisik."


Suatu malam di bawah padang pasir, pejaman mata tidak berhasil membuatnya lelap. Di atas nakas ada botol air, pulpen, dan buku perencanaan yang sudah bolak-balik dibuka. Setelah lembar halaman penuh tinta, terselip satu halaman bagian kiri yang hanya terdapat bercak pena dari halaman di baliknya.

Di bagian kanan tergambar kepala Ray yang diringkus kepompong tidur. Emma mengingat wajah ini ia lukis ketika bergantian berjaga pada malam hari. Dahi hingga hidung bagian kanan Ray tertutup rambut. Saat tangan Emma terulur untuk menyingkap, kelopak mata laki-laki itu perlahan terangkat.

Diagram pohon difungsikan pada salah satu strategi. Emma mengingat momen di hari lalu. Penanya mulai menari untuk membentuk perhitungan setipe. Tapi judul yang tertulis adalah Jika Aku Tidak Pernah Bertemu Ray. Satu nama. Satu kata. Satu suku kata. Simpel sekali.


"Mengapa senyum-senyum begitu?"

Emma membawakan kue ringan untuk Ray saja.

"Begini, Tuan." Emma merapikan duduk. "Saya menggambar pohon tadi malam. Menghasilkan kesimpulan bahwa hidup saya akan sangat defisit tanpa seorang Ray."

Ray terkekeh angkuh. "Masa kau baru menyadarinya?"

"OK. Kau wajib membersamaiku di setiap kesempatan."

"Aku bukan jantung."

"Kalau begitu kau harus menjadi radar yang mengetahui koordinat dinamis tubuh dan jiwaku."

Ray mencomot satu lempeng kue. Dia berdiri dan mengusir ahoge dengan telunjuk.

"Kau yang punya antenanya, untuk informasi."


Sejak ia tahu sedang hidup, iblis sudah menjadi nyata untuknya. Ia tidak lagi menganggap penampakan-penampakan seperti di buku horor perpustakaan sebagai hal gaib. Namun satu kejadian yang mungkin berlangsung kurang dari sepuluh detik selalu ia pertanyakan.

Ray menemukan figur samping belakang Emma hendak mengetuk pintu kamarnya.

Ia ingin. Ingin sekali bertanya se-defisit apa hidup perempuan itu dua tahun terakhir.

Kemudian diurungkannya niat itu. Hidup Emma pasti jauh lebih baik dalam dua tahun terakhir.

Series this work belongs to: