Work Text:
Ray mudah mengetahui bagaimana sistem reproduksi di Dunia Iblis bekerja. Hal itu dapat diperkirakan dengan kenyataan tidak ada seorang pun laki-laki dewasa yang mereka lihat. Mereka lahir dari sebuah out of wedlock. Ribuan tahun. Berapa banyak anak yang lahir tanpa tahu darah siapa yang mengalir di selang-selang nadinya. Maka pastinya, ketika probabilitas yang teramat kecil menemukan benang merahnya, Isabella tidak begitu mengerti dengan perasaannya sendiri.
Pengetahuan itu membuat Ray merasa … apakah itu sebuah keistimewaan? Tentu saja. Satu dari jutaan. Atau milyar?
Di dunia manusia, frasa anak yang dikandung di luar ikatan pernikahan selalu jadi bahan gunjing. Selain meneruskan genetika, seorang anak bisa mewarisi konotasi rupanya. Ray jadi memimpikan hal lain di dunia yang berkali-kali rusak.
2051. 17 tahun. Ray dan Emma mengunjungi Kakek yang bersikukuh menetap di daerah terlarang. Dia hidup bersama keluarganya dan juga akan mati di tempat yang sama. Norman sedang mengurusi rapat dengan petinggi PBB. Semuanya sangat menyayangkan tidak bisa turut mengkompani.
Ray memperhatikan Emma yang sesekali meloncat setelah turun dari kereta. Berapa kali pun diamati, meski dengan kekosongan memori, ini tetap Emma. Selalu Emma.
Awalnya Ray memilih untuk memperhatikan dari belakang. Dia sudah jauh lebih banyak mendominasi kebersamaan berdua Emma dua tahun pada masa pelarian. Maka dengan permulaan baru, ia membiarkan Emma membentuk memori dengan yang lain. Tapi terkadang, Ray menangkap iris hijau itu memandang ke arahnya. Hanya ia balas dengan senyum tipis. Kemudian melenggang keluar ruangan. Tahu-tahu ia dipanggil oleh suara yang dalam mimpi pun terus hadir.
"Aku berjalan dengan anak kecil usia lima tahun." Ray mencoba guyon lama.
Emma berbalik dan meninju main-main. "Siapa pun juga menyuarakan bahwa kau, aku, dan Norman lahir di tahun yang sama."
Pondok itu berdiri sendirian berlatar deret cemara dan baris pegunungan. Emma gesit menaiki tangga dan berbelok mengetuk pintu. Mereka disambut madu dan pie. Ray memasak makan siang untuk tiga orang.
Kedatangan mereka berfungsi sebagai penolong kesendirian. Selagi Emma menawarkan diri untuk menggerus salju di halaman, Kakek dan Ray duduk berseberangan sambil lanjut menyesap teh.
Ray menunjukkan antusiasme menyimak cerita tentang komunitas yang dulu hidup di sini. Mereka bertemu. Saling jatuh cinta. Hidup di bawah atap yang sama. Mengelap senapan. Memanggang roti. Dikaruniai seorang anak. Ray tersenyum mendengarnya. Seorang anak yang lahir dari pasangan sempurna.
"Apa yang kalian rencanakan setelah lulus tahun ini?"
Mengingat Grace Field telah mempelajari materi sekolah menengah atas di awal kepala satu, studi setiba di Dunia Manusia hanya berfungsi sebagai bentuk formalitas. Biar tidak ada kesenjangan antara mereka dan pribumi.
"Kita akan kuliah."
Kakek tua mengembangkan kumisnya. "Aku senang mendengarnya."
Ray melirik beragam potret yang menempel di dinding. Seorang pria. Seorang wanita. Mengapit bahu malaikat kecil yang senyumnya bertahan sampai hari ini. Di dalam figura itu. Apa iya, Ray bisa berpose seperti itu suatu hari nanti?
Kakek hanya duduk sebentar di dekat perapian selesai makan malam. Jadwal tidurnya ada di awal gelap. Piring terakhir diletakkan di dalam rak. Tidak ada tanda-tanda ahoge.
Ray menemukan Emma duduk di tangga teras. Ray mendapati dirinya turut bergabung di tingkat yang sama. Bahunya hampir bersentuhan.
"Kau dan aku pernah perang lempar bola salju."
Emma terkekeh terhadap kenangan yang lemah di otaknya. "Siapa yang menang?"
"Aku selalu berhasil menghindari seranganmu."
Bulir salju membasahi gundukan di tanah. Ray menghangatkan bagian atas bibir dengan mengembus napas. "Aku tidak menerima tantangan balik."
Tawa menyambutnya.
"Kau tahu, Ray, terlepas profesi apapun yang kulakukan selepas kuliah nanti, aku ingin menjadi Mama."
Iris hijau itu bertemu hitam yang melebar.
"Aku ingin menikah, lalu mengandung dan membesarkan anak. Dengan penghasilanku nanti, aku ingin menjadi donatur panti asuhan. Anak-anak di sana, meski tidak tahu siapa orangtua mereka, berhak bahagia bersama saudaranya. Akan lebih menyenangkan jika ada makanan lezat dan kasur empuk."
Ray membiarkan tangannya bergerak impulsif menyapu kepala Emma.
Salju turun membasahi kayu. Salahkah jika Emma merasa hangat?
"Aku juga." Ada sebuah tarikan dari kedua belah pipi. "Sebelum kau mengatakannya pun, aku juga punya mimpi untuk membangun sebuah keluarga."
Mereka datang sebagai keluarga. Kalau ingin membentuk keluarga, apa harus putus hubungan dulu?
