Work Text:
Bangunan megah berkubah di samping taman istana dibangun atas perintah Yang Mulia Kaisar unntuk Tuan Putri Athanasia de Alger Obelia. Ketika hampir seluruh kompleks istana berdiri tanpa ksatria, bangunan yang hanya dipenuhi buku dijaga dua pengawal. Jika tingkah laku menjadi metafora dari bibir, maka Claude de Alger Obelia merupakan salah satu bibir yang cerewet.
Latar sore perpustakaan selalu diguyur cahaya emas yang datang dari arah barat. Masa bodoh dengan rambut perak maupun rambut hitam. Athanasia lebih memikirkan bagaimana mengembalikan memori ke dalam kepala rambut kuning.
Dengan satu buku di pangkuan dan tiga lainnya di atas meja, Athanasia berselonjor kaki sembari berpikir. Ayahnya memang lupa, tapi segala hal yang Claude lakukan seolah membongkar bilik-bilik lain. Semacam, jika sebuah kasus skala besar terjadi, sebenarnya kasus itu sedang mengungkapkan poin kelemahan suatu sistem. Bukan seperti yang disalahpahami indra.
Sofa singgel berwarna putih menjadi sandaran laki-laki yang wajah bagian atasnya tertutup rambut. Athanasia melonjak dan berteriak. Lucas sudah berdiri di sampingnya menghadang.
"Tetap di tempatmu, Tuan Putri."
Tidak ada tanda-tanda berbahaya yang ditangkap Lucas.
Ray merasa sedang bermimpi bukan di dunia manusia. Tidak di dunia iblis juga. Yang ia jumpai ketika bangun di dalam mimpinya ini adalah mata merah menatap penuh interogasi. Di sampingnya ada perempuan berambut kuning dan berpakaian terlalu indah. Melihat tempat ini sebagai destinasi bunga tidur, menunjukkan kalau perpustakaan sudah menjadi tempurung baginya. Agak silau dengan pancaran cahaya di kemilau sore.
"Dia bukan berasal dari dunia ini."
Athanasia bertanya lewat tatap.
"Kelihatannya dia berasal dari dunia kehidupan keduamu."
"Sungguh? Apa dia ini reinkarnasi?"
"Tidak." Lucas menyingkap rambut tamu tanpa undangan. "Dia masih hidup. Hanya sedang tersesat."
Perkara ini Lucas sampaikan kepada Kaisar Claude yang tiba cepat di perpustakaan. Tampak menyadari ketidakselarasan di dalam istananya. Sangat mungkin karena merasakan pergolakan aneh di sekitar putrinya.
Paham situasi, Claude memberikan izin dan memerintah untuk menyajikan kue dan teh. Ahli setingkat Matahari Obelia cakap menentukan situasi sang tamu.
"Jangan berlama-lama di sini."
Athanasia menyungging senyum. "Ayah juga beristirahatlah sejenak."
Ray langsung paham kalau di dunia mimpinya ini, ia terjebak di dalam kompleks istana. Mudah mengidentifikasi siapa rajanya dan siapa perempuan itu. Terlihat seperti gadis usia 14 sampai 15—mungkin sama sepertinya—tapi memiliki pembawaan orang dewasa.
Tulisan pada buku maupun judul buku tidak Ray pahami bahasanya. Hebatnya ia mengerti cara melafalkan lisan tanpa miskomukasi.
"Namamu tadi … Ray?" Athanasia berdeham. "Aku Athanasia de Alger Obelia. Putri dari Kerajaan Obelia." Menunjuk mitranya, "Dia adalah Lucas. Penyihir kerajaan sekaligus tabib pribadiku."
"Lucas penyihir muda terhebat paling tampan." Kue di meja asal dicomot.
Bagus. Ray masuk ke dunia fantasi.
"Abaikan dia." Satu rak kue cokelat dijauhkan dari gapaian orang narsis.
"Saat ini mungkin kamu sedang bingung, tapi kami akan semaksimal mungkin membantu."
Ray menanggapi sesuai keadaannya. Membaca buku pun sia-sia karena tidak tahu abjad. Jadi dia hanya berterima kasih dan menyesap teh. Astaga. Kualitas istana memang beda.
"Apakah … ada masalah besar yang sedang kau hadapi?"
Ray melihat refleksinya di atas air teh yang tenang. Matanya memang tidak sememukau berlian biru yang ditunjukkan Kaisar maupun Tuan Putri. Namun tetap saja bukan mata sehat yang dilihatnya.
Memang sekacau itu.
"Apakah ada cara untuk mengembalikan ingatan?"
Bodoh sekali. Padahal Ray yang paling paham tentang perjanjian.
Lucas mempersembahkan Athanasia. "Silakan, Ahli."
Mudah bantal sofa meleset dari sasaran.
Seharusnya Tuan Putri tidak begini di hadapan tamu. Dasar Lucas! Sayangnya menghilangkan memori termasuk ke dalam sihir gelap.
"Orang terdekatmu hilang ingatan tentang kalian?"
Ray menelan ludahnya. "Dia adalah orang yang penting bagiku. Bagi banyak orang."
Athanasia tidak yakin tentang alasan ia dipertemukan dengan luka setipe. Pancaran mata itu mengisyaratkan tentang eksistensi paling esensial. Jika sosok amnesia itu benar-benar orang paling dekat dengannya, maka, betapa begitu mengiris.
Teh milik Tuan Putri memantulkan proses menarik napas.
Bukankah Athanasia juga begini? Kondisi Kaisar dirahasiakan. Claude sempat bertingkah kejam kepadanya di depan banyak orang. Mengusirnya. Hampir membunuhnya. Kemudian mencarinya. Mengupaya banyak cara. Menyangkal hubungan darah padahal bertingkah sebaliknya. Memintanya tinggal. Menanti ucapan selamat pagi. Tidak risi dalam bercanda. Mengantisipasi lokasi rekreasi.
Athanasia menuangkan teh untuk si pemuda malang.
"Memang nyata tentang mereka yang raib memori akan kita." Ray memerhatikan saksama. "Percayalah padaku bahwa dengan hilangnya ingatan tidak akan mengubah siapa mereka untuk kita. Sebaliknya pun. Kita akan tetap penting untuk mereka."
Cahaya yang menembus kaca perlahan menjingga. "Apalagi jika amnesia itu didapatkan karena menyelamatkan kita."
Ray tersenyum dari balik cangkir. Ia paham dari banyaknya buku di samping Tuan Putri. Jumlah yang satu frekuensi dengan yang dibacanya dari berbagai sumber lembaga edukasi. Sungguh magis lukanya diobati lewat mimpi.
"Terima kasih."
Kue yang ia makan manis dan lembut. Teh kerajaan membuat bunga bermekaran di dalam mulutnya. Mendengar kalimat penghibur dari Tuan Putri Kerajaan Obelia membuat pundaknya terasa ringan. Kelopak mata memejam damai.
Emma menarik selimut yang hendak ia letakkan di atas bahu Ray.
"Aku pikir kau ketiduran lagi di sini. Mau kembali ke kamar?"
Perpustakaan yang ditempatinya saat ini bukan lagi yang diterangi kemilau sore. Hanya dua lampu yang bersinar di atasnya lantaran hari sudah malam. Mungkin larut.
"Apa kau sudah makan? Aku tidak melihatmu di aula makan tadi. Ini, aku menyisakan untukmu."
Selagi Emma membuka kotak makan, Ray merapikan buku-buku kedokteran dan pembahasan saraf. Dia bisa membacanya. Bukan abjad dari dunia fantasi dalam mimpi. Agak telat menutupi mengingat Emma datang ketika ia tidur.
"Apa sebelumnya kau memang tahu aku ada di sini?"
Pipi Emma memerah. "Semua orang juga tahu kalau ketiduran sudah menjadi kebiasaan burukmu."
Ray tersenyum tipis mengambil sendok. Menu malam ini tetap lezat meski bukan gaya istana.
"Kau memang ahli ketiduran di perpustakaan sejak dulu, ya?"
"Aku tidak berniat membuatmu menganggapku sebagai kutu buku."
Emma bersandar di rak yang sama. Selimut ia bentangkan menutupi pahanya dan paha Ray.
"Selimut ini bisa kotor."
"Aku tahu makanmu rapi."
Ray lanjut menyendok.
"Posisi ini membantu." Emma menekuk lutut. "Mereka bilang, aku selalu bersebelahan denganmu di setiap jam makan."
"Emma."
Mata mereka bersirobok. Iris hijau itu memang tidak sefantastis permata biru genetika anggota kerajaan di dalam mimpi. Namun mata itu pernah melebar karena takut. Melebar karena bersemangat. Menyipit menerima cahaya. Tergenang air mata untuk pengorbanan.
"Kita sungguh tidak masalah dengan dirimu yang sekarang."
Emma meremas selimut.
"Dalam mimpiku, Ray yang paling sering hadir. Dari situ saja aku tahu kalau kita memang sangat dekat."
Kotak makan sudah tidak Ray pegangi.
"Kau takut perasaanku tidak lagi sama karena kau berubah?"
Ray menutup kotak makan. Perempuan di sebelahnya memang benar Emma yang ia kenal.
Selimut yang menutupi pahanya ia singkap ke badan Emma.
"Kalau kau yang ingatannya direnggut pun tetap menganggapku dan yang lain penting, apalagi kita yang utuh memori akan dirimu."
Apalagi aku.
"Norman bilang ingatanmu di luar kenormalan."
"Dengan segala ingatan di kepalaku, perasaanku tetap tidak berubah."
Emma menyentuh baju bagian lengan Ray.
"Bantu aku menciptakan momen yang bisa kuingat."
Ray mengangguk. Optimis yang ditunjukkan Emma setelah mendengar untaian kata dari Ray membuktikan perkataan Tuan Putri Obelia.
