Work Text:
livre bookstore, catford, london.
25 september 2020, 10:12 am
denting bel tanda pintu didorong terbuka bergema di telinga pemuda yang sedang duduk tenang menunggu pelanggan pagi hari itu.
ia tersenyum, menyambut figur tinggi berkacamata dengan rambut yang dinaikkan ke atas serta mengenakan sweater abu-abu dilapisi mantel coklat tua. alih-alih berujar “selamat datang di livre, ” pemuda itu berdiri sejenak, lalu duduk kembali.
ini, sebenarnya adalah rutinitas yang biasa ia lakukan setiap hari. menemukan orang baru, wajah baru, dan cerita dibalik kedatangan mereka ke catford, salah satu distrik yang menepi dari kesibukan westminster. livre adalah sebuah toko buku independen yang sudah berdiri hampir 30 tahun, tepat bila dikatakan eksistensinya seperti turun-temurun. tapi pemuda yang tadi—yang memiliki hak penuh atas kepemilikan livre—menerima mandat tersebut bukan karena obligasi dari orang tuanya, melainkan kesukaannya terhadap buku dan membaca itu sendiri.
orang biasa memanggilnya win. ada cerita lucu dibalik namanya yang unik jika dibandingkan dengan pria british pada umumnya, cerita yang menurutnya sendiri sedikit konyol dan agak mengundang tawa kalau diungkit kembali. maka win lebih senang jika orang lain tidak menanyainya, kecuali ia sendiri yang berniat untuk membahasnya sebagai lelucon perkenalan.
entah apa yang menarik perhatian dari figur tinggi berkacamata yang menjadi satu-satunya kostumer pagi itu. win sendiri—agaknya masih bertanya-tanya, mengapa matanya enggan berhenti memperhatikan laki-laki yang kini berjalan ke salah satu rak buku-buku fiksi, mengamatinya dengan seksama, menarik satu untuk membacanya sejenak, lalu meletakkannya lagi.
“what kind of book are you looking for?”
win akhirnya memberanikan diri dan menyapa lebih dulu, membuat si-penarik-perhatian menoleh ke arahnya. “just a simple one. anything is fine with me right now. i just wanna read some funny stories,” jawabnya tersenyum singkat, mengalihkan pandangan ke arah deretan buku lagi.
win sedikit mengernyit, menyadari aksennya yang berbeda. jelas kalau si-penarik-perhatian bukan berasal dari daerah sini.
“kalau aku boleh memberi saran, buku august murphy berjudul crazy vampire,” win berceletuk lagi.
“crazy vampire, huh? tentang apa ceritanya?” tanggapannya terdengar antusias.
“perebutan cinta antara vampir. agak mirip harry potter, karena ada sihir juga di dalamnya. murphy menggabungkan semua elemen itu dalam satu buku dan mengemasnya jadi cerita yang…” win terdiam sesaat, mencari adjektiva yang tepat untuk mendeskripsikan buku yang sedang mereka bahas.
“konyol?” sahut lawan bicaranya sambil tertawa ringan.
“yeah, konyol,” win tergelak sebelum melanjutkan kalimatnya lagi, “tapi bukannya itu yang kamu maksud dengan ‘funny story’ ? aku pikir crazy vampire adalah buku yang tepat.”
win lalu berjalan ke salah satu rak di dekat jendela, meraih sebuah buku bergambar darah dan kelelawar bertuliskan ‘crazy vampire’ yang dicetak dengan huruf besar-besar. tak lama, ia menghampiri si-penarik-perhatian. “in case you’re interested,” ucapnya menyodorkan buku itu dengan senyum lebar.
“well, i’ll definitely read this crazy-vampire-thing,” si-penarik-perhatian menerimanya sambil menyeringai. “tapi buku ini juga kelihatan menarik,” lanjutnya menunjuk pada salah satu buku yang win tahu jelas bukan karya sembarangan.
“anderson lee is a great writer,” ujar win menyetujui. “aku sudah baca hampir seluruh bukunya.”
“oh, ya? kalau begitu, apa kamu punya saran?” ia bertanya lagi seraya menghela seulas senyuman.
“kamu bisa coba yang ini, ‘keberuntungan terburuk’.” win merunduk untuk mengambil salah satu buku di baris paling bawah.
“judulnya agak menyedihkan.”
“baca saja dulu, aku jamin kamu akan menyukainya.” win menyerahkan buku berwarna kuning berlukiskan beberapa bunga matahari kepada si-penarik-perhatian yang dengan senang menerimanya.
“baiklah, kalau kamu bilang begitu,” balasnya mengangguk. “apa ada lagi penulis yang…” sejenak, nada suaranya terdengar ragu. setelah menghela nafas, laki-laki itu melanjutkan, “yang menurutmu karyanya menarik?”
win membawa pikirannya berkelana pada ratusan buku yang pernah ia baca supaya bisa disarankan kepada si-penarik-perhatian. “karya bright carson, ‘the search for happiness’ adalah salah satu kisah terbaik yang pernah aku baca.”
si-penarik-perhatian mengerjap, matanya pun melebar. “bright carson?”
“kamu nggak tau?” win balas bertanya. “dia adalah salah satu penulis new york times best seller. well, he’s very mysterious though, people never get to know his face.”
“tau, tentu saja aku tau,” ada senyum samar saat ia mengatakannya. nada bicaranya juga terdengar sendu. si-penarik-perhatian memalingkan wajah ke arah buku yang ada di tangannya untuk berujar lagi. “aku akan membeli dua buku ini,” lanjutnya—kali ini dengan timbre yang lebih punya keyakinan.
win mengangguk, setelah itu melangkahkan kaki menuju meja kasir tempatnya duduk tadi, menunggu si-penarik-perhatian tiba di hadapannya untuk membayar buku yang ia beli.
begitu proses bayar membayar selesai, win memberikan struk pembelian kepadanya. mereka saling memandang selama beberapa saat, dan win tidak dapat menahan dirinya untuk menanyakan satu hal yang sejak awal mengusik pikirannya. “you’re not from here, right?”
si-penarik-perhatian menerima secarik kertas yang disodorkan sambil tersenyum miring—seolah sudah memperkirakan bahwa pertanyaan itu akan terucap cepat atau lambat. “seems obvious, huh?”
“american?”
“new york, exactly,” tukasnya cepat.
win kemudian berujar agak keheranan, “lalu apa yang membawamu ke london?” cepat-cepat win menggeleng, “ralat, maksudku catford. aku jarang menemukan turis datang ke catford.”
“biar kutebak, turis biasanya datang ke westminster, kan?” ia menyeringai lagi.
“benar. alasannya begini, ‘you’ve never been in london if you’ve never been in westminster and seen the splendor of big ben’. sudah kesana?” celoteh win panjang lebar, dua tangannya bersedekap tanda pembicaraan ini membuatnya bersemangat.
“belum, sayangnya,” si-penarik-perhatian mendesah pelan. “aku sendirian di kota ini, sudah seminggu,” wajahnya berubah murung.
denting bel tanda pintu dibuka berbunyi untuk yang kedua kali, pertanda kedatangan pelanggan baru. win melirik sejenak, menemukan seorang perempuan paruh baya berjalan ke arah rak travel book.
“what are you doing, then?” tanya win setelah kembali menatap si-penarik-perhatian.
“just looking for some fresh air.”
“you don’t get fresh air in new york?” seloroh win dengan senyum jenaka, membuat laki-laki itu tak kuasa menahan tawa.
“bukan begitu maksudnya,” ia terkekeh pelan. “yah, sebut saja aku sedang jalan-jalan. sayangnya sendirian, dan aku belum punya rencana perjalanan yang matang.”
win memiringkan kepalanya sembari mengerutkan dahi, lalu berujar dengan hati-hati, “anggap pernyataanku ini konyol, tapi kamu terdengar seperti sedang melarikan diri,” tanpa sengaja, ia malah menebak-nebak.
alih-alih menanggapi, si-penarik-perhatian hanya tersenyum, dan keduanya mengisi detik yang berlalu dalam hening dan mata yang saling memandang. entah apa yang membuat si-penarik-perhatian belum juga beranjak, padahal urusannya tentu sudah bisa dikatakan selesai. entah juga apa yang membuat win merasa bahwa lebih baik—setelah obrolan panjang ini—ia menanyakan satu hal paling mendasar dari awal pertemuan.
“oh, ya, kita belum berkenalan,” win memecah diam seraya mengulurkan tangan. “win maclaren.”
si-penarik-perhatian tertegun, sorot matanya terlihat kebingungan walau hanya sesaat. ia mengerjap sebelum menjabat tangan win dengan balas mengukir senyuman—mengambil beberapa detik untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya sungguh sederhana. “just call me blake,” katanya seraya menggerakkan tangannya yang masih terulur.
“baiklah, blake.” win terpaksa memotong obrolan mereka karena kostumer yang tadi tiba-tiba muncul untuk membayar buku pilihannya.
lucunya, si-penarik-perhatian—yang ternyata bernama blake—dengan sabar menunggu hingga kostumer itu pergi dan meninggalkan mereka berdua, seakan ada sesuatu yang menahannya.
setelah memastikan bahwa tidak ada orang lain kecuali mereka, blake memulai obrolan lagi, “thank you, for the crazy-vampire-thing.”
“jangan khawatir, aku punya daftar buku paling konyol lainnya kalau kamu mau,” jawab win sambil tertawa kecil, jelas karena ia menghabiskan lebih dari separuh harinya untuk membaca buku apapun demi melewati hari-hari di livre.
blake memandangnya tulus, “it’s really nice to talk to you, maclaren.”
“oh, call me win would sound better.” win tersenyum lebar, mengundang blake untuk balas tersenyum seolah lengkungan manis di wajahnya adalah wabah menyenangkan yang menular dengan mudahnya.
“pleasure to meet you, win.”
“pleasure to meet you too.”
sesi perkenalan mereka diakhiri dengan anggukan kepala blake, menutup percakapan lewat langkah menuju pintu yang sebentar lagi akan memisahkan pertemuan tak disengaja ini. maka tepat, sebelum blake mendorong pintu itu—dan sebelum bunyi bel tanda pintu dibuka berbunyi lagi—blake berputar ke arah win, melihatnya untuk terakhir kali.
“7 pm,” kata win tanpa diduga-duga, “my bookstore is closed at 7 pm.” ia menatap blake lurus-lurus, memberi makna tersirat di balik kata-katanya barusan.
mendengar itu, blake menyunggingkan senyum yang membuatnya pantas akan titel si-penarik-perhatian—sebuah senyum yang ditujukan untuk win, yang cukup untuk menggambarkan bahwa pertemuan mereka hari ini tidak akan berakhir begitu saja.
livre bookstore, catford, london.
25 september 2020, 07:00 pm
win memutar papan yang tergantung di pintu livre untuk mengubah tulisan open menjadi close.
ia berjalan ke salah satu ruangan yang sedikit lebih ke dalam, duduk sebentar lalu meminum beberapa teguk air sebelum meninggalkan livre dan pulang ke flat tempatnya beristirahat. ia membuka ponselnya, memutar lagu sejenak alih-alih bergegas pulang. kebiasaan mengundur waktu karena jika sudah tiba, win tidak punya begitu banyak rutinitas lain selain makan, menonton, mengerjakan beberapa esai dan materi yang secara sukarela ia bagi pada anak-anak yatim piatu.
win melirik jam yang tersemat di tangannya—sudah pukul tujuh lewat sepuluh. atas hal itu, ia berdiri dan merenggut sebuah jaket denim usang yang tergantung di samping lemari, mengenakannya, kemudian menyadari bahwa langit yang mulai gelap perlahan menjadikan dingin di musim gugur ini terasa nyata. sebelum benar-benar angkat kaki, win memadamkan lampu, memastikan bahwa tidak ada saklar yang menyala, lalu melangkah dan mengunci pintu livre.
tepat, saat ia berbalik, win menemukan figur tinggi yang familiar menanti dirinya.
“aku barusan melihat patung kucing di seberang jalan.”
“hai, blake,” win menjawab pernyataan lucunya dengan wajah yang berseri—tidak menyangka bahwa blake benar-benar datang dan mengerti arti pesan tersiratnya.
“hai, win.” blake menyeruput minuman yang sejak tadi ada di tangannya.
“kucing? maksudmu catford cat?” tanya win terkekeh geli.
blake mengangguk, “jadi itu alasan kenapa daerah ini dinamakan catford?” celetuknya agak heran, tapi agak kagum juga.
“aku bukan ahli sejarah tapi anggap saja begitu,” win menatap blake sementara mengamati bagaimana laki-laki itu masih mengenakan pakaian yang sama, dan rambutnya yang tadi pagi tersusun rapi kini mulai acak-acakan. namun, tetap saja, ada sesuatu dibalik figurnya yang membuat win merasa bahwa blake ‘menarik perhatian’. “jadi, turis, kemana aja kamu hari ini?”
blake tergelak ringan, kemudian menjawab pertanyaan jenaka itu. “aku sudah membaca sepuluh halaman pertama crazy vampire.”
keduanya berjalan beriringan meninggalkan livre. “bagaimana?” kata win bersemangat, sungguh ingin tahu.
“this might sound like a serious insult but i’m not gonna lie about how i wanna vomit after reading the first page,” pernyataan blake seketika membuat win terbahak sampai harus menghentikan langkah, tepat di bawah pohon maple yang menaungi mereka berdua.
“tapi jujur, bukankah hal itu yang membuat bukunya menarik? gimana rasanya cerita yang nggak masuk akal dipaksa untuk jadi masuk akal.”
“aku nggak bilang bukunya gak menarik, kan?” balas blake tersenyum, mengamati rona wajah win berbinar senang tatkala obrolan aneh mereka terasa seperti dua orang yang sudah lama saling mengenal. ya, setidaknya blake merasa demikian.
“terus, selain baca crazy vampire dan melihat catford cat, kamu kemana lagi?”
“hmm, aku makan pizza di catford market sebelum ke hotel tadi siang. setelah itu istirahat, dan sekarang bertemu denganmu lagi.”
win menggelengkan kepala dan menyeringai, “that’s a terrible choice,” ia menatap blake sesaat seolah memiliki satu ide di kepalanya.
“punya saran yang lebih baik?” adalah pertanyaan dari blake yang ditunggu-tunggu oleh win.
“let’s get something much better than pizza.”
the hummingbird bakery, 155a wardour st., london.
25 september 2020, 08:19 pm
“so, a cupcake is better than a slice of pizza, huh?”
blake duduk di hadapan win setelah keduanya selesai memesan dua cangkir kopi dan beberapa potong cupcake.
“aku lebih suka menyebutnya muffin,” seloroh win dengan senyum penuh arti.
“memangnya sama?” blake mengernyit.
“sama,” win berkata yakin.
“jelaskan padaku apa persamaannya,” tukas blake yang siap mendengar dengan sorot mata menantang.
tapi win tanpa ragu berujar, “mau dengar jawaban ilmiah atau jawaban menurutku saja?”
blake menghela nafas, seolah berpikir. “oke, aku pilih jawabanmu,” lanjutnya memangku kepala di atas satu tangan, memusatkan perhatiannya.
“they're both baked in a cup. tapi muffin lebih lembut dan nikmat jika dibandingkan dengan cupcakes,” win membenarkan posisi duduknya supaya bisa menatap blake lebih serius. “nggak, begini. muffin itu krispi, tapi juga lembut dan manis. rasanya seperti mendapatkan beberapa rasa dalam satu gigitan. makanya aku selalu menanamkan ide kalau sedang makan cupcakes, artinya aku sedang makan muffin. cause i wanna feel the same sensation.”
blake mendongak untuk menerima cupcake—yang disebut win muffin—yang baru tiba dari pelayan the hummingbird bakery. ia meraihnya, kemudian memutar muffin itu sembari memandang win usil, “aku mau tau gimana rasanya ‘mendapatkan beberapa rasa dalam satu gigitan’ menurutmu.”
win menaikkan satu alisnya seolah menerima tantangan, “you should try.”
blake tertawa kecil, lalu menggigit muffin rasa coklat dengan krim vanila dan stroberi di atasnya. ia mengunyahnya perlahan dan rona wajahnya mulai berubah beberapa tingkat lebih cerah.
“gimana?” selidik win menunggu tanggapan.
“okay, i gotta admit that this cupcake…”
“muffin,” potong win cepat, membuat blake tak kuasa menahan senyuman.
“wait, muffin…” mulutnya penuh saat ia berbicara, “is really soft and sweet.”
win mengangguk-angguk puas.
“tapi nggak kayak ‘mendapatkan beberapa rasa dalam satu gigitan’ juga,” bantah blake yang enggan mengakui kalau muffin itu bisa membuatnya mendapat sensasi yang disebutkan.
“baiklah, kamu benar, aku hanya melebih-lebihkan,” win tergelak, memamerkan gigi-giginya yang tersusun rapi.
keduanya menikmati muffin itu bersama, duduk di sudut kedai berdinding kaca yang mengizinkan mereka menyaksikan hiruk-pikuk pinggir jalan. london di malam hari masih sama—sibuk akan pemandangan orang lalu lalang, kendaraan yang melintas silih berganti, serta keramaian yang tiada habisnya.
“tell me what you are doing here alone in london,” win membuka pembicaraan untuk menanyakan satu hal paling krusial. menurut win, agak aneh jika mendengar seseorang datang jauh-jauh dari new york, sendirian, tanpa rencana perjalanan yang matang, berada di london namun begitu saja hinggap di catford dan secara acak bertemu dengannya.
“i’m a writer,” blake menatap win lurus-lurus. “aku kesini sebenarnya untuk mencari inspirasi menulis. aku sudah dua tahun kena writer’s block.”
“oh, so you’re writer,” win berdecak kagum. “have you published your writing? jangan-jangan aku pernah membaca buku karanganmu.”
“yes i have…” ia menghela napas, lalu air mukanya berubah kikuk, “tapi aku nggak yakin kamu pernah baca. bukunya hanya diterbitkan di new york… kayaknya. nggak sampai ke inggris.”
win mematut dua tangan di atas meja, “hmm, baiklah. lalu, kamu bilang writer’s block ?”
blake mengangguk sebentar kemudian menyeruput kopi pesanannya.
“bahasa awamnya, kamu nggak bisa lanjut menulis karena kehabisan ide? makanya kesini untuk mencari inspirasi?” tanya win memastikan.
“yeah, tepatnya seperti berusaha berpikir tapi otakmu mentok. that’s why i said ‘i’m looking for some fresh air’ to you this morning.”
win mengunyah muffinnya lagi, “and how can you find some fresh air in london?”
blake menggenggam cangkir yang ada di hadapannya dan berujar, “i was thinking about strolling around london. jalan-jalan, liat pemandangan, duduk di kursi taman sambil menulis. agak konyol, tapi begitu ide sederhananya.”
“sendiri? atau kamu punya teman disini?” win menarik rambutnya ke belakang, dan raut wajah blake menunjukkan kalau ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang baru win lontarkan. “jangan bilang kamu benar-benar sendiri?”
“aku akan mengaku,” blake tertawa renyah, “i’m alone, completely. sudah hampir seminggu aku disini tanpa melakukan apa-apa selain jalan-jalan di beberapa tempat nggak populer. aku berniat memulai ‘solo trip’ dadakan ini besok.”
“mau kemana?” tanya win penasaran, matanya membulat antusias.
“big ben,” blake menjawab dengan yakin, wajahnya jadi cerah lagi.
“basic,” adalah sebuah pernyataan yang mengundang tawa buat blake.
“kan kamu yang bilang, ‘you’ve never been in london if you’ve never seen the splendor of big ben’. aku sedang menuruti saranmu,” tukasnya defensif.
“aku nggak bilang pilihanmu salah, kok,” win menggelengkan kepala lalu tertawa kecil, “setelah itu? kemana lagi?”
“belum kepikiran,” blake menyandarkan bahunya ke kursi dengan wajah frustasi.
“kamu butuh tour guide,” sahut win menyimpulkan.
“hm, aku juga mikir begitu,” gumam blake seraya meletakkan cangkir kopinya di atas meja. tak lama, muncul ide di benaknya. blake menatap win selama beberapa saat, meyakinkan diri untuk berkata, “mau jadi tour guide-ku?”
win mengerlingkan mata seakan tidak percaya dengan tawaran barusan. tapi dalam hati, win merasa kasihan juga, berada di kota semegah london tanpa seorang teman untuk diajak bicara. sayangnya, menjadi tour guide untuk laki-laki ‘asing’ yang baru ditemui beberapa jam yang lalu sangat tidak menjamin bahwa yang ada di hadapannya ini bukan seorang kriminal.
tak mendapat jawaban, blake tertawa kecil, “itu pertanyaan bodoh, maafkan aku. aku mengerti kalau kamu nggak mau. harusnya aku cukup berterima kasih karena sudah diajak makan muffin disini,” ucapnya mengibaskan tangan, berharap win melupakan pertanyaannya yang terkesan sembrono.
tapi blake melihat ada senyum di bibir win perlahan mengembang.
“ayo,” senyumnya bersinar secerah mentari, senyum yang membuat blake tidak bisa mengendalikan jantungnya yang berdebar lebih cepat dari sebelumnya. “aku akan menjadi tour guide -mu.”
“kamu beneran nggak keberatan?”
win menggeleng pasti, “ayo besok kita ke big ben.” lagi-lagi, senyum secerah mentari itu.
blake mungkin tidak menyadari ini—tidak menyadari mengapa ia tanpa ragu kembali ke livre pukul tujuh untuk menemui sosok yang baru dikenalnya tadi pagi kemudian membicarakan cerita tentang vampir konyol yang punya kekuatan sihir.
mungkin, mungkin saja, karena ia ingin kembali menyaksikan senyum itu.
“aku nggak tau gimana harus berterima kasih,” blake menggigit muffinnya lagi setelah beberapa saat terdiam.
“bayarin aku muffin ini,” win tergelak dengan wajah tengil.
“gampang kalo cuma itu,” blake ikut tertawa sementara bergegas mengeluarkan dompet dari celana denimnya.
“hey, nggak-nggak, aku bercanda,” seloroh win menggestur dua tangan di depan dada, “lagi pula aku juga nggak punya kegiatan yang lebih menarik selain menjaga livre. makanya ide jadi tour guide kedengaran menyenangkan.”
“oh, iya, livre.” blake membetulkan posisi kacamata yang bertengger di hidungnya sebelum berujar lagi. “kalau begitu, jam berapa kita harus bertemu?”
win berpikir sebentar, “jam setengah delapan di westminster bridge. langsung bertemu disana bagaimana? aku nggak punya day-off selain hari kamis.”
“i’ll see you there tomorrow,” blake menjawab dengan timbre penuh keyakinan. ia membuka tas dan menyobek secarik kertas untuk menuliskan sesuatu. “ini nomor ponselku,” ujar blake lalu menyerahkannya.
win tersenyum menatap blake lurus-lurus, “let’s go around london.”
satu hal lain yang baru blake sadari malam itu. selain punya senyum secerah mentari, win punya senyum selembut muffin—yang membuat blake tak bosan-bosan memandanginya. mungkin juga ada sesuatu di matanya yang teduh dengan iris hazel itu.
tapi yang pasti, blake tidak sabar menanti esok hari.
westminster, london.
26 september 2020, 08:19 pm
langit malam itu seolah memantulkan cahaya dari gedung-gedung tinggi nan megah kota london. maka melihat keindahan ini membuat blake ingat mengapa ia memilih london menjadi kota tempatnya ‘melarikan diri’. benjamin—sahabatnya sejak masa kuliah—adalah alasannya. ia yang mengatakan bahwa banyak hal yang bisa terjadi saat seseorang mengunjungi kota penuh kejutan ini.
“jadi aku sudah bisa dikatakan mengunjungi london sekarang?” blake berkata sembari menyandarkan dua tangannya di jembatan westminster untuk memandangi laju air sungai thames mengalir tenang di tengah riuh jalanan paling sibuk ibukota inggris.
“seenggaknya itu yang pasti akan orang tanyakan kalau tau kamu baru pulang dari london,” sahut win jenaka sebelum ikut bersandar bersamanya.
sunyi sesaat di antara mereka membuat win menyadari bahwa ia jarang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan seperti ini.
“tell me, win, what do you do besides working in livre?” blake mengalihkan wajah untuk menatap win lekat.
“nggak ada yang menarik,” win mengedikkan bahu, tapi blake menunggunya karena yakin laki-laki itu akan meneruskan ceritanya. “biasanya hari kamis aku pergi ke orphans in need di lewisham, mengajar dan meminjamkan beberapa buku buat anak-anak yatim. makanya kamis adalah hari libur livre. aku punya ibu dan kakak yang sudah menikah. ayahku sudah meninggal, dan mantan pacarku memutuskanku karena dia pikir pacaran dengan pemilik toko buku nggak cukup menjanjikan buat masa depan.”
“hold on,” blake memutar badan kemudian tertawa, mengambil beberapa detik untuk dapat mencerna baik-baik cerita win barusan. “that’s a whole lot story for a simple question.”
win terkekeh, sadar bahwa dirinya kelewatan, “maafkan aku.”
“what is ‘orphans in need’? an orphanage?” tanya blake penasaran.
“iya, panti asuhan di lewisham, nggak jauh dari catford. aku jadi volunteer disana, biasanya bawa beberapa buku dari livre untuk dipinjamkan, membuatkan mereka cerita, mengajar membaca, hal-hal sederhana saja.”
“itu jauh lebih baik dari kata sederhana,” blake memandang win seolah sedang terpesona. “justru kedengarannya sangat menyenangkan. aku juga suka menghabiskan waktu dengan anak-anak.”
“aku bisa mengajakmu kesana kalau kamu mau,” kata win melirik blake yang berdiri di sampingnya.
“i’d be delighted to go,” blake menyetujui, kemudian mendongak untuk mengagumi cahaya ungu dari london eye terpantul indah pada pertunjukan langit yang menaungi mereka. diam sejenak, blake berkata lagi, “kamu sudah lama bekerja di livre?”
“aku nggak bekerja di livre. i’m… actually the owner.” kata-kata win membuat blake memiringkan kepala. “livre adalah toko turun-temurun punya kakekku. karena aku suka membaca, dan aku suka wangi buku-buku baru, aku dengan sukarela meneruskan usaha itu.”
“aku setuju soal wangi buku baru,” blake tertawa kecil.
“the smell of a new book is one of the greatest inventions,” win menyeringai puas.
“lalu, soal mantan pacarmu? dia benar-benar memutuskan hubungan kalian hanya gara-gara kamu punya toko buku?” selidik blake hati-hati, mengingat ini adalah topik sensitif untuk dibicarakan. tapi win dengan santai menanggapinya,
“alasannya begitu, tapi siapa yang tau kalau dia punya perempuan lain.”
“maksudmu?” kening blake berkerut bingung.
“mantan pacarku laku-laki,” jelas win menyeringai, yang dijawab blake dengan anggukan kepala tanda ia mengerti. “kamu? punya pacar di new york?”
mendengar itu, blake yang sejak tadi berdiri menghadap win memutar badan untuk menyandar di tepi jembatan, pandangannya menerawang. “i have a fiancee.” nada suaranya menghilang diiringi hembusan angin malam—nada suara yang terdengar seperti kecewa.
“that’s great,” ujar win tulus. “so you’re getting married?”
“i don’t know,” blake mendongak ke arah langit lagi, “i don’t know if marrying her is the right choice for me.”
win hanya diam, menunggu blake melanjutkan kalimatnya.
“aku sudah pacaran dua tahun dengannya. dia gadis yang baik, dan aku mengagumi sifatnya yang pekerja keras. tapi belakangan ini, aku nggak tau apa alasanku akan menikahinya.” blake tersenyum miring, “dia… gila bekerja. buatnya, pekerjaan adalah yang nomor satu.”
“is that a bad thing?” tanya win pelan.
“iya, buatku, ” blake menarik nafasnya dalam-dalam. “the worst thing is, i couldn’t find her helpful enough even just to make me smile. aku tertekan karena sudah berkali-kali ditagih penerbit meneruskan tulisanku, padahal aku sedang kena writer’s block, which is absolutely inevitable,” ia mendesah frustasi. “that’s why i’m running away to london, that’s why i chose to come here instead of staying behind the desk in new york and talking to her.”
“aku mengerti…” win menepuk bahu blake untuk meredam emosinya.
hening, karena blake terdiam dan win tidak punya kapasitas apa-apa selain menjadi pendengar yang baik buatnya.
tak lama, blake memecah sunyinya, “maaf, aku malah melampiaskan ini padamu,” ujarnya tersenyum sedih.
“feeling much better?”
“much better,” akhirnya blake tertawa.
tiba-tiba, win teringat sesuatu. “ayo, ikut denganku,” ia menarik tangan blake dengan raut wajah sumringah.
“kemana?” tanya blake bingung, tapi senyum selembut muffin yang mengembang di bibir win malam itu cukup untuk membuat blake yakin bahwa pemuda yang kini menggenggam tangannya akan membawa mereka menuju tempat menakjubkan.
tanpa ragu, win menjawabnya, “just trust me.”
london eye, westminster, london.
10:00 pm
“ini gila,” blake terperangah dengan pemandangan london yang terlihat luar biasa magisnya dari atas london eye.
“i told you, this will worth the wait,” balas win mengingat bagaimana blake awalnya ragu menaiki satu-satunya roda pengamatan terbesar di dunia.
“aku nggak nyangka big ben akan terlihat sebagus itu dari sini,” ia lagi-lagi berdecak kagum. “tadi waktu kita di westminster bridge, rasanya big ben hanya seperti menara biasa.”
“london eye wouldn’t be called london eye if everything you see from here isn’t magically turned into something much more captivating,” tutur win dengan logat british-nya yang menawan, seolah ia baru saja berhasil menjadi pemandu wisata paling sukses abad ini.
blake dapat menyaksikan semuanya dari ketinggian itu, bagaimana london dan segala hiruk-pikuknya dikemas apik menjadi satu pertunjukan yang bisa dinikmati dalam kapsul london eye. sudah lama ia tidak merasakan hal ini, merasakan euforia yang membuatnya seolah berada di langit ketujuh saking bahagianya.
blake mengalihkan pandangan untuk memusatkan perhatian pada pemuda yang mengizinkannya menuai sukacita malam itu, “thank you, win. for taking me here tonight.”
win yang sedari tadi melihat ke depan akhirnya balas memandang blake, menatap mata coklat terang milik laki-laki itu. “that’s what i’m here for,” katanya ringan seraya mengedikkan bahu, memamerkan senyumnya yang selembut muffin.
“it’s been a while since the last time i feel like this,” blake menghela nafasnya lega.
“what do you feel now? ” selidik win penuh jenaka.
“beyond happy,” blake balas tersenyum ke arahnya, sadar kalau ia tidak bisa menahan lengkung di bibirnya terbentuk acap kali mereka bertemu.
win terdiam sejenak, seolah memikirkan sesuatu. tak lama, ia berujar lagi, “kalau aku boleh bilang sesuatu tentang hubunganmu dengan tunanganmu, aku ingin bilang begini...”
“hm?” blake bergumam menunggu win melanjutkan kalimatnya.
mata win yang teduh menatap blake lurus-lurus, “this is the way love should make you feel, blake. love should make you feel this happy.”
trafalgar square, london.
30 september 2020, 08:21 pm
namanya alun-alun trafalgar.
alun-alun di charing cross london ini dibangun untuk mengenang pertempuran trafalgar. ada monumen yang memuat patung tokoh bersejarah inggris di tengah-tengahnya, air mancur nan biru, juga burung-burung merpati yang hinggap ke daratan lalu terbang ketika ada yang mendekat. segala hal menakjubkan itu menjadi satu hamparan nan mempesona dari kacamata blake yang lebih familiar dengan kesibukan kota new york.
“apakah musim gugur di new york terasa sedingin di london?” adalah pertanyaan yang terlontar dari bibir win saat mereka duduk berdua di salah satu kursi taman kayu disana.
“kayaknya disini lebih dingin,” jawab blake sembari mengeratkan mantel hitam yang melapisi tubuhnya.
“but you made the right choice, visiting london in autumn.”
blake mengangguk bangga, “kata ben london memang paling indah jika dikunjungi saat musim gugur.”
“ben?” sahut win cepat, menyadari nama itu tak pernah disebut sebelumnya.
“benjamin, dia sahabatku di new york. dia yang menyarankanku untuk melarikan diri kesini,” lanjut blake mengeluarkan sebuah buku bersampul kulit dan sebuah pulpen. ia membuka bukunya untuk menulis beberapa kalimat sebelum win berujar lagi.
“kamu sadar nggak kamu baru saja mengakui kalau perjalananmu ke london untuk melarikan diri?” komentar win setelah blake memandangnya.
“sadar,” blake tertawa renyah, “tapi serius, aku jadi lebih bisa menulis dengan baik sekarang.”
mata win jadi berseri, “really? that's very good news.” win lalu menatap blake dengan wajah ingin tahu, “can i read them?”
blake melirik bukunya sesaat, menimbang apakah tulisannya layak untuk diperlihatkan pada win. menurut blake, tulisan di bukunya lebih terlihat seperti corat-coret. soalnya, setelah kembali ke hotel, blake terbiasa langsung menuangkannya di laptop dengan beberapa diksi yang diperbaiki.
“ini masih berantakan,” blake membalik beberapa halaman, mencari bagian yang menurutnya ‘paling bagus’ untuk ditunjukkan. “tulisan final-nya ada di laptop.”
“aku nggak keberatan baca yang masih berantakan, kok,” win mengedikkan bahunya ringan, masih bergeming.
akhirnya, blake berhenti pada salah satu bagian paling romantis di bukunya, membacanya cepat lalu menyerahkannya pada win.
“tentang apa ceritanya?” tanya win sebelum memulai kalimat pertama di halaman itu.
“seorang solo traveler, ke london.”
“sounds like you,” win menyeringai usil, lalu mulai membacanya.
blake menunggu win sambil melihat pemandangan alun-alun trafalgar yang sungguh cantik di hadapannya. ada beberapa anak berlari-larian, bermain gelembung sabun yang berterbangan indah seraya memantulkan cahaya dari galeri nasional dan lampu-lampu taman. ramai, tapi tempat mereka duduk berdua—di bawah pohon maple yang daun-daun coklatnya kadang gugur—cukup memberi ruang dari keriuhan itu.
“blake, this is insane,” adalah reaksi pertama yang win keluarkan setelah selesai membaca tulisan blake.
“what?”
“your writing,” win menyerahkan blake buku itu dengan wajah kelewat kagum, “it’s astoundingly beautiful. tulisanmu bagus banget.”
“thank you,” ujar blake sementara membetulkan posisi kacamata yang bertengger di hidungnya alih-alih tersipu.
“aku yakin versi yang ada di laptop lebih bagus dari yang di buku,” win menyandarkan bahunya di kursi.
“kapan-kapan akan aku perlihatkan padamu,” blake tersenyum. “hmm, kalau kamu mau,” ralatnya kemudian.
“tentu saja aku mau, aku suka membaca. buku apapun bisa kubaca,” win tergelak, tapi ia berkata jujur, “makanya aku bisa memberimu saran buku paling konyol, si crazy vampire. but your writing is good. it’s really good.”
“why are you so surprised? ” tanya blake dengan senyum tengil.
“i don’t know that you can put them into words that beautifully,” win berujar dalam timbre setulus-tulusnya. “you’re a great writer, blake.”
mendengar itu, blake merasa bahwa ada sebagian dirinya yang seolah terbangun dari tidur yang panjang—sebagian dirinya yang merasa luar biasa bahagia mendengar sebuah pujian yang sebenarnya sering ia dengar. tapi cara win menyampaikannya, bagaimana suara laki-laki itu menggema di telinganya, membuat blake merasa bahwa pilihannya untuk pergi ke london seorang diri adalah keputusan paling tepat.
“what are you doing tomorrow?” tentu karena blake ingin bertemu dengan win lagi esok hari.
“i’m going to lewisham,” kata win, senyumnya melebar.
“oh, ke orphans in need? benar nggak?” blake mengubah posisi duduknya dari menyandar untuk bisa menatap win lurus-lurus.
“iya, panti asuhan yang pernah aku ceritakan. mau ikut?” tawar win kepadanya, sebuah tawaran yang sejak tadi blake tunggu-tunggu.
“i’d be honoured,” blake menyunggingkan senyum seraya memasukkan bukunya ke dalam tas selempang yang selalu ia bawa-bawa. “jam berapa aku harus kesana?”
“jam sepuluh pagi. datang saja ke livre, kita pergi bersama,” ujar win tanpa ragu, satu tangannya membenarkan syal yang ia kenakan karena dingin malam itu mulai menusuk sampai ke tulang.
blake mengangguk setuju.
setelah itu, keduanya membiarkan hening menyelimuti karena larut dalam pikiran masing-masing. kalau win, asik mengamati beberapa merpati di sebelah air mancur berterbangan tatkala ada yang mendekat, sesekali juga mendongak ke atas untuk melihat langit dan pohon maple yang rindang. kalau blake, mungkin sedang berpikir tentang apa yang akan terjadi esok hari. bertemu dengan win membuatnya tak sabar untuk menghitung detik, tak sabar berganti hari untuk menemukan kejutan dan keindahan lain di tiap sisi kota london. ia tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan laki-laki yang kini duduk di sampingnya, bukan hanya atas jasanya sebagai pemandu wisata dadakan, tapi mutlak karena kehadiran win membantu blake bisa menulis dan menemukan jati dirinya lagi.
“aku bakalan terdengar nggak sabaran dengan mengatakan ini,” ujar blake akhirnya memecah diam, memancing win untuk menoleh ke arahnya. “but i can’t wait for tomorrow.”
win menghela seulas senyum secerah mentarinya lagi, hatinya berdebar lebih cepat—walau mungkin ia tidak menyadarinya. tak lama, win bergumam dua kata yang membuat jantung blake memacu debar yang sama,
“me too.”
orphans in need, greatorex st., london.
1 oktober 2020, 10:29 am
setiap hari kamis—yaitu hari libur livre, win selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi panti asuhan di daerah lewisham.
anak-anak kecil berlarian menyambut kedatangannya yang membawa satu keranjang buku-buku baru. dengan cepat, mereka merayap untuk memeluk win dengan wajah berbinar-binar, seolah kehadiran laki-laki itu memang sudah dinanti-nanti.
“mr. maclaren, you came!” seru salah satu anak berambut pirang dengan iris mata sebiru lautan. win mendekap bocah itu setelah meletakkan keranjangnya, membelai rambutnya penuh perhatian.
“ali, have you finished reading the book you chose last week?” tanya win mengusap pipinya pelan, menyebabkan wajah ali berubah kikuk karena jawabannya pasti belum.
“aku lupa kalau aku pinjam buku minggu lalu,” ia terkekeh sembari mengusap-usap lehernya, wajahnya lucu bukan main. “tapi aku mau pinjam buku baru hari ini.”
“baiklah,” win mengangguk sementara duduk di salah satu kursi yang terletak tak jauh dari mereka.
orphans in need adalah salah satu panti asuhan yang ada di kota london, menampung ratusan anak terlantar dengan berbagai macam latar belakang. ada yang ditinggal orang tuanya, yang tidak mampu bersekolah, bahkan pencari suaka. win senang berada disini, senang menghadiahi mereka cerita, meminjamkan buku atau memberikannya secara cuma-cuma—karena mungkin, hanya itu satu-satunya bentuk kepedulian yang bisa ia tunjukkan sebagai seorang pemilik livre.
“mr. maclaren, kamu belum mengenalkan temanmu pada kami,” ujar si rambut merah setengah berteriak setelah mereka menepi di sudut ruangan.
blake ikut duduk di samping win setelah sejak tadi berdiri.
“blake, perkenalkan dirimu,” kata win menyenggol bahu blake dengan bahunya jenaka.
“hello, everyone, i’m blake,” blake mengangkat satu tangan canggung, tapi anak-anak itu mendengarkannya dengan penuh atensi. “i’m from new york, and i’m your mr. maclaren's new friend.”
salah satu gadis kecil menghampiri blake untuk menjabat tangannya, “it’s really nice to meet you, mr. blake.”
win melirik ke arah blake sambil mengangkat bahu menghumorinya, menggestur supaya blake cepat-cepat menyambut hangat uluran tangan kecil itu. blake lalu berkata, “it’s really nice to meet you too. what’s your name?”
“erica,” jawabnya seraya duduk bersila, diikuti anak-anak yang lain.
kali ini, yang berambut hitam mengangkat tangan, “mr. blake, what are doing here in london?”
blake memalsukan gumam seakan sedang berpikir, meletakkan satu tangan di bawah dagu supaya terlihat sedang benar-benar mencari alasan yang tepat. “i was looking for my muse.” blake tersenyum usil.
“muse? what is muse?” yang paling kecil berceletuk dari jauh.
“muse is…” blake menatap win sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, “the one who is a source of artistic inspiration.” anehnya, blake enggan melepaskan tatapannya begitu saja.
“so you’re an artist?” celoteh anak itu lagi, wajahnya benar-benar menerka.
“i’m a writer.” blake mengalihkan wajah untuk menjelaskan kepada kerumunan yang sedang memperhatikannya.
“mr. maclaren is a writer too!” seloroh erica menunjuk win dengan girang.
“no, erica, i just write for fun. while mr. blake here…” win menengadahkan tangan ke arah blake, “he’s a professional writer. he has published his own book in new york,” lanjut win tersenyum bangga.
mereka bercerita lagi, tentang banyak hal. setelah sesi perkenalan, win membacakan sebuah kisah yang ditulisnya sendiri, mirip seperti mendongeng. blake tidak pernah tahu bahwa adegan seorang dermawan membacakan cerita kepada anak yatim piatu bisa disaksikannya secara nyata hari ini, tidak tahu juga mengapa hatinya merasa luar biasa bahagia manakala senyum win mengembang tiap kali anak-anak itu memberi reaksi di luar dugaan. tak bosan-bosannya, blake memandangi win lekat.
“mr. blake, stop looking at mr. maclaren like that,” gadis bernama alex tiba-tiba berseru setelah win selesai menyampaikan ciptaannya, tak kuasa menggoda laki-laki yang kini malah pura-pura tidak tahu.
“i’m sorry, alex, i can’t stop adoring mr. maclaren.” jawab blake mengulum senyuman, yang seketika membuat anak-anak itu meledek blake untuk bilang bahwa mungkin saja ia sedang naksir mr. maclaren. atas alasan yang sama, win mencubit lengan blake pelan.
“mr. maclaren has a secret admirer,” kata erica nyengir, matanya mengerling tengil. win menggeleng sambil menyeringai alih-alih menyangkalnya.
tak lama, ada yang punya usul. “let’s play a game!” kali ini, kevin yang angkat tangan—disambut antusias oleh teman-temannya.
“ayo!” win berdiri, padahal tidak punya petunjuk tentang game apa yang akan mereka mainkan.
kevin menepuk-nepuk lututnya sebelum berkata dengan riang, “nama permainannya, cari teman kemudian peluk!” kevin mulai menjelaskan setelah seluruh temannya berdiri, “jadi, nanti aku akan bernyanyi. lalu, kalau tiba-tiba aku bilang, ‘cari lima teman!’, kalian harus cepat-cepat memeluk empat orang terdekat dengan kalian.”
blake mengangguk mengerti, “okay, got it,” ia mengangkat jempol, diiringi tawa kecil win—karena tampaknya blake yang lebih bersemangat untuk mengikuti permainan ini.
kevin mulai bernyanyi saat teman-temannya sudah siap, dan mereka berkeliling membentuk lingkaran sambil bergandengan tangan. kevin berada di tengah, menyenandungkan lagu ‘you are my sunshine’. win dan blake sesekali saling melirik, mengamati bagaimana semuanya mulai terbahak dengan wajah panik menunggu kevin menyebut angka rahasia.
“you are my sunshine, my only sunshine. you make me happy when skies are gray…” kevin mencapai puncak lagu dengan nada melenceng—lucu dan menyenangkan untuk didengar pada saat yang bersamaan. “you’ll never know dear, how much i love you… please don't take my sunshine away,” kevin menghentikan nyanyiannya sebelum memberi aba-aba.
“cari tiga teman!” sergahnya cepat, membuat gandengan win, blake dan anak-anak lain seketika terlepas.
blake memeluk win, mendekap laki-laki itu sementara seorang bocah bernama justin memeluk kakinya yang panjang.
mereka semua melompat-lompat kegirangan, tapi win justru merasakan jantungnya berdebar tak karuan. blake begitu dekat, hingga win takut kalau-kalau blake bisa merasakan perasaannya itu. tatkala anak-anak orphans in need sibuk tertawa riang, blake dan win saling menatap dalam keadaan saling mendekap.
“how long are you going to hug me?” win memecah diam di antara mereka, wajahnya mulai bersemu merah.
“until kevin told us to stop,” blake tersenyum penuh jenaka, “but i don’t think he’ll tell us to stop. what should we do?” kata-katanya seolah menyiratkan bahwa ia sendiri mungkin enggan melepaskan pelukannya. soalnya, jika diperhatikan, anak-anak yang lain—bahkan justin yang tadi memeluk kaki blake—sudah siap bergandengan tangan lagi untuk memulai ronde kedua.
blake dan win bertahan dalam posisi itu sampai kevin menyadarkan mereka lewat satu kalimat mengejutkan,
“mr. blake, i think you’re falling in love with mr. maclaren!”
bus stop, adler st., london.
12:21 pm
angin musim gugur bertiup sepoi saat blake dan win berdiri di bawah halte bus siang itu—sebelum akhirnya berpisah setelah bermain, bersenda gurau, dan blake bercerita tentang new york kepada anak-anak yatim piatu di oprhans in need.
satu hari yang luar biasa menyenangkan—buat blake terutama. ia merapatkan mantel yang dikenakannya, sesekali memandangi bagaimana daun maple kecoklatan jatuh dengan indahnya. new york tidak pernah terasa seindah ini—pikir blake, seolah ia menikmati begitu banyak perasaan baru sejak menginjakkan kaki di london, atau tepatnya setelah bertemu win.
hembusan angin menerpa wajahnya saat kepalanya terteleng untuk menatap win lurus-lurus, “today was really fun, win,” kata blake tulus.
“kayaknya kamu cepat akrab sama anak-anak,” win menghela senyum kekaguman. “ali sampai nangis waktu kamu mau pulang.”
“aku selalu suka main sama anak kecil,” blake bersedekap dengan tatapan menerawang, “kayaknya udah lama aku nggak ngerasa kayak gini.”
“kamu mengatakan hal yang sama lagi,” sela win setelah ingat bahwa blake pernah mengatakan hal itu sebelumnya, “bagaimana memangnya perasaanmu yang sekarang?” selidik win ingin tahu.
“lebih dari sekedar ‘beyond happy’,” blake menghembuskan nafas panjang seolah ia sedang menimbang kata-kata yang ingin diucapkan selanjutnya, “i’m just, really glad to meet you here, win . aku nggak tau bakal jadi apa hari-hariku di london kalau nggak bertemu kamu.”
bus yang mereka tunggu belum juga tiba, padahal keduanya sudah berdiri hampir sepuluh menit.
“what do you mean with ‘looking for my muse’? things that you said to erica earlier,” tanya win alih-alih menjawab pernyataan blake yang agak membuat perasaannya jungkir balik.
“sama saja dengan mencari inspirasi. tapi muse punya makna inspirasi yang lebih spesifik,” jelas blake menatap ke dalam mata win dalam jarak yang cukup dekat.
baik blake maupun win mungkin sama-sama mulai menyadari bahwa ada satu perasaan yang berbeda tiap kali mereka bertemu, bagaimana gemuruh di dada win tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh laki-laki yang kini masih memandangnya. tapi mungkin—karena tahu bahwa ini hanyalah pertemuan antara dua manusia yang tidak akan berlangsung lama, keduanya enggan melabeli perasaan itu sebagai sesuatu yang layak diberi nama. takut—mungkin juga, karena posisinya yang tidak tepat. blake yang sudah bertunangan, dan win hanyalah orang yang secara beruntung ditemuinya di ibukota inggris ini.
“have you found it? your muse?”
tapi mungkin juga, blake lebih berani untuk menghindari kenyataan itu. lebih berani untuk melabeli apa yang kini dirasakannya—sebagaimana tatapan mata blake mulai membawa wajahnya mendekat ke arah win.
win bergeming, enggan menarik diri. ia justru menghitung detik.
“i’ve found it,” timbre suara blake begitu rendah, sampai-sampai terdengar seperti berbisik. blake memang sedang melarikan diri, tapi apakah win juga akan melarikan diri saat ini?
manakala jarak di antara mereka semakin menghilang, win memejamkan mata.
“tin! tin!”
suara klakson bus mengejutkan dua insan itu. win mundur satu langkah sementara blake memalingkan muka sambil menggaruk tengkuknya canggung.
keduanya melihat bus itu mendekat, saling diam karena tidak punya begitu banyak keberanian untuk kembali berbicara setelah kejadian barusan. bus bodoh , gumam blake dalam hati.
“this is your bus, blake,” kata win saat bus itu berhenti dengan sempurna.
“thank you, win. today has been a really good day,” blake berujar sebelum beranjak naik, seolah enggan berpisah dengan win walau supir bus sudah melotot menunggunya. “i’ll see you again?”
win mengangguk dengan pasti, “see you again.”
blake melambaikan tangan, lalu menaiki bus itu. meninggalkan win yang kini sendirian di halte, berpikir dalam hati—mungkin sudah saatnya ia mengakui satu hal paling terlarang, ia jatuh cinta.
hotel room, london.
3 oktober 2020, 06:00 pm
“fucking finally.”
dua kata itu menerjang gendang telinga blake bahkan sebelum ia sempat berkata “halo”. blake menyeringai, menyadari bahwa empunya suara di ujung sana pasti sedang kesal bukan kepalang. blake menempelkan ponselnya ke telinga, menyapa sahabatnya itu.
“what is it, benjamin? do you miss me?” kata blake tertawa penuh jenaka.
“rindu pantatmu,” ujar ben ketus, tentu karena ia sudah berulang kali menelepon tapi tak kunjung diangkat. “how’s london? i thought you were dying. you didn’t pick up my call nor answer my text.”
blake berdiri menghadap kaca jendela besar di sudut kamar hotelnya, memandangi orang lalu-lalang di sepanjang trotoar dan mobil-mobil berseliweran di jalan raya. “i know you called. i’m sorry, i’m just… having so much great time that i don’t even dare to think about new york and everyone in the city.”
ben—yang sangat mengenal sahabatnya, tak bisa menahan diri untuk menanyakan satu hal yang paling membuat timbre suara blake berbeda. “let me guess, you met someone.”
blake masih memandang ke luar jendela, kali ini, dengan tatapan yang tidak bisa dideskripsikan. ia memilih untuk diam alih-alih menanggapi pernyataan ben. maka dari itu, ben melanjutkan, “jade menanyaimu terus, by the way.”
“aku tau, dia selalu menelepon.”
“terus kamu nggak angkat, kan?”
blake menyeringai sambil berkata jujur, “aku nggak tau harus membicarakan apa dengannya.”
“but she’s your fiancee,” adalah fakta yang harus diingatkan oleh ben karena segala ide melarikan diri ini bukan berarti ia akan lepas dari kehidupan new york seutuhnya. dalam artian, blake pasti akan kembali dan menghadapi semua hal yang tertunda, cepat atau lambat.
blake menghembuskan napas panjang, bahunya melesak. “i’ll talk to her later.”
“when will you go back?” ujar ben mengalihkan pembicaraan tak nyaman mereka.
“i don’t know, maybe until i finish my story,” blake memutar kepala untuk melihat laptopnya di atas meja yang masih menyala.
“good luck, then. you know i’ll always have your back,” ben berujar tulus.
“i’ll bring you something good from london,” blake tertawa menghumori alih-alih menjawab dengan sentimen.
“hey, that’s clearly not what i meant,” ben ikut tergelak sementara ia menanti waktu untuk bertanya lagi. “jadi, apa aku benar?”
“tentang apa?”
“about you meeting somebody in london,” sebagai sahabat, ben tentu paham bagaimana perasaan blake terhadap jade—tunangan sekaligus kekasih yang sudah dua tahun dipacarinya. ben tahu jelas mengapa jade juga menjadi salah satu alasan blake meninggalkan new york demi menghirup udara london.
bukannya berkata jujur, blake malah tersenyum, lalu menjawab,
“i’ll tell you everything once i’m back in new york.”
hyde park, london.
7 oktober 2020, 07:11 pm.
bulan oktober, langit nan teduh, dan hamparan dedaunan yang berubah warna menjadi kuning-oranye adalah alasan mengapa london paling indah dikunjungi saat musim gugur. win duduk di rerumputan hyde park—salah satu taman paling menakjubkan di ibukota inggris.
pukul tujuh masih bisa dikatakan sore, karena langit belum terlalu gelap dan matahari masih mengintip untuk meradiasikan cahayanya.
“why don’t we sit on the bench?” adalah pertanyaan pertama yang keluar dari bibir blake sebelum ikut duduk bersama win.
“because people don’t sit on the bench in hyde park,” win menghela seulas senyum sebelum meralat ucapannya, “well, at least according to me.”
blake mengangguk-anggukkan kepala, karena mungkin pernyataan itu ada benarnya. beberapa orang memang lebih memilih untuk tinggal beralaskan rerumputan, ada juga yang khusus membawa tikar. tapi rasanya jauh lebih menyenangkan duduk seperti ini, di sekitaran diana fountain yang cantiknya luar biasa. romantis—entah mengapa.
lucunya, blake dan win yang kini duduk berduaan di tengah hyde park cuma bisa saling diam—larut dalam pikiran masing-masing. kalau blake, masih kepikiran ujaran sahabatnya empat hari yang lalu, sebuah peringatan yang mungkin ingin ia kubur jauh-jauh. tapi blake mungkin hanya ingin mengikuti kata hatinya untuk saat ini.
“jam berapa taman ini tutupnya?” tanya blake memecah keheningan.
“jam dua belas, kayaknya. aku nggak pernah kesini lebih dari jam delapan, soalnya langit sudah terlalu gelap… rasanya jadi kayak di hutan,” jelas win panjang lebar.
blake menatap win yang sedang mendongak mengagumi langit, kemudian berujar, “there’s something i wanna ask you.”
“what?” tanya win tanpa balas memandang.
blake menyeringai, “jangan tersinggung tapi,” ia menghela nafas takut-takut, “kenapa namamu win? waktu pertama kali dengar, aku langsung berpikir ‘win’ nama yang unik. it’s a very rare name for an english man. ”
win tertawa ringan, seolah tahu bahwa pertanyaan ini pasti suatu saat akan terlontar dari bibir blake. “ada cerita lucu, sebenarnya,” win menatap blake lurus-lurus. “hari itu—waktu aku lahir, ayahku menang lotere. makanya aku diberi nama win. lalu adikku diberi nama champion. kalau adikku nggak tau alasannya kenapa,” win terkekeh geli dengan ceritanya sendiri.
mendengar itu, blake mengulum senyuman.
“hey, kamu boleh tertawa,” kata win menepuk bahu blake pelan dengan tangan kanannya. “ayahku memang konyol. tapi setidaknya nama tengahku bagus.”
“oh, ya?” sebelah alis blake terangkat.
“win alexander maclaren,” kata win dengan wajah bangga.
“menurutku win juga nama yang bagus,” blake menyunggingkan senyumnya, tapi win hanya memutar bola mata alih-alih mengucapkan terima kasih karena baru saja dipuji.
mereka membicarakan banyak hal setelah itu. mulai dari blake yang awalnya mau jadi vegetarian lalu gagal karena tak mampu menahan godaan bacon, hingga win yang pernah hampir terbang ke new york natal tahun lalu. waktu sungguh terasa singkat jika dihabiskan dengan orang yang tepat.
blake memandang sekeliling, menangkap sepasang kekasih sedang berbaring di rerumputan untuk menatap langit. tak lama, ia menoleh ke arah win lagi, “what does it feel like, lying on the grass at hyde park?”
“coba saja,” win tersenyum penuh jenaka, lalu membaringkan tubuhnya.
tawa blake lepas karena tak menyangka idenya akan diterima secepat itu, tapi sorot mata win seolah mengisyaratkan supaya blake ikut berbaring di sampingnya. lantas mereka merebahkan diri bersama, melihat semburat oranye yang timbul di awan perlahan mulai menggelap.
“i used to lay out beneath the stars when i was a kid,” kata blake pelan, memutar kembali kenangan masa kecilnya yang terasa menyenangkan bahkan hanya untuk diingat.
“the starry night sky will forever look beautiful. too bad we came here at noon,” win tergelak, menyesali taman hyde yang sulit dinikmati saat malam hari kecuali jika sedang ada festival. tapi hanya dengan memandangi hamparan langit luas—bersama blake—ia sudah lebih dari sekedar bahagia. “so how does it feel? lying on the grass at hyde park?”
kepala blake terteleng untuk menatap win lurus-lurus, kemudian tersenyum, “feels like a schoolboy waiting for sunday,” ia menghela nafas sejenak, tanpa sedikitpun melepas tatapannya, “the sky is getting dark, but i don’t want to go, like i wanna stay here forever.”
“me either,” win membalas senyuman blake, sebelum melihat ke atas lagi.
keduanya mengagumi pemandangan itu tanpa bosan-bosannya.
“doubt thou the stars are fire, doubt that the sun doth move,” blake bergumam, membayangkan seolah-olah ada ribuan bintang sedang menaungi mereka.
“doubt truth to be a liar, but never doubt i love,” win menyambung sastra ciptaan shakespeare yang baru saja blake ucapkan—puisi tentang ophelia yang meragukan beberapa kebenaran abadi, namun hamlet tak mengizinkan ophelia untuk meragukan cintanya.
win memalingkan wajah untuk menatap blake, begitu pula blake yang tanpa enggan melepas keindahan langit, memusatkan perhatiannya pada laki-laki itu. maka dua insan yang sedang saling memandang ini tak kuasa untuk sama-sama menahan perasaannya—perasaan yang sejak awal tak mau mereka labeli karena takut hal itu hanya akan membuat segala sesuatu menjadi rumit.
tapi hari ini—hari ini saja—keduanya memilih untuk melepaskan segala kendali diri. blake mengikis jarak di antara mereka, tanpa ragu mencium bibir win seolah ia sudah lama menantikan momen ini. win membalas ciumannya pelan, perlahan mendaratkan jemarinya untuk membingkai rahang laki-laki itu.
manakala blake merenggut leher win untuk memperdalam ciumannya, win menarik diri. ia melepaskan ciuman itu, menyisakan dua pasang mata yang masih terpejam. keduanya menahan nafas, seakan meredam kuat-kuat perasaan yang ada di puncak. ciuman itu mungkin hanya bertahan beberapa detik saja, tetapi blake masih bisa merasakan bagaimana manis dan lembut bibir win membekas di bibirnya.
tak lama, win membiarkan dirinya menatap ke arah blake sejenak, lalu berdoa dalam hati supaya blake tidak menyadari kata hatinya.
win menolehkan kepala sebelum beranjak dari posisi berbaring, “we should go,” timbre suaranya terdengar canggung.
blake ikut duduk di samping win, seperti ingin mengucapkan sesuatu—namun tertahan. pada akhirnya, blake berdiri mendahului win. “you’re right, we should go.”
blake tahu, mungkin perasaannya kepada win perlahan berubah. sejak hari pertama mereka bertemu, sejak blake melihat senyum win yang secerah mentari, atau sejak win membuatnya merasakan begitu banyak hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya selama berada di london. figurnya itu berhasil membuat blake jatuh tanpa disadari—seolah blake menemukan muse -nya.
win melangkah setelah mereka saling menatap lagi selama sepersekian detik, kemudian blake memilih untuk berjalan di belakangnya. ia menghela nafas dalam-dalam, lalu bergumam dalam hati,
“what did i just do?”
livre bookstore, catford, london.
9 oktober 2020, 11:15 am
sudah dua hari semenjak ciuman tak terduga itu, namun blake maupun win belum saling berbicara lagi.
biasanya, blake menelepon win setelah tiba di hotel, membicarakan progres novel yang sedang ia kerjakan, atau sekedar bertanya tentang destinasi mereka esok hari. sayangnya, win merasa reaksi spontannya yang balas mencium blake malam itu adalah satu tindakan yang salah. tidak seharusnya ia balas mencium blake—karena ini akan terasa seperti menginvestasikan perasaan terhadap sesuatu yang tidak mungkin.
karena dirinya bersama blake terdengar seperti dua hal yang tidak mungkin.
“ting!” bel tanda pintu dibuka terdengar, membuat win seketika mendongak dari tempat duduknya.
“welcome to livre,” sahut win cepat, sesaat kemudian menyadari siapa figur yang kini sedang melangkah mendekatinya.
“hai,” figur itu adalah blake. “how are you?” sebuah pertanyaan retoris dan lebih terdengar seperti basa-basi, tapi mungkin hanya itu usaha yang bisa blake lakukan untuk mengawali pembicaraan mereka.
“great,” win tersenyum singkat, untungnya livre sedang sepi dan hanya ada mereka berdua disana.
keduanya terdiam sejenak, saling memandang dalam perasaan canggung bukan kepalang. setelah menghela nafas panjang, blake berkata, “aku akan kembali ke new york.”
kata-kata itu menimbulkan raut kecewa yang samar di wajah win, jadi win memilih untuk memalsukan sebuah senyuman, “that’s good. does that mean you’ve finished your writing?”
blake menaikkan bahunya ringan, “yeah, thanks to you, win. i won’t be able to do it without your help.”
win menggeleng sambil tersenyum, “i did nothing, but i’m glad if i could help.”
blake menunduk sebentar, berpikir matang-matang atas apa yang akan diucapkannya saat itu. “i’m sincerely sorry for what happened that night, win.” ia berujar dengan tulus.
maka jawab yang win berikan hanya sebuah anggukan. ia sendiri tidak tahu harus bagaimana. perasaannya tidak bisa dibohongi—sebagaimana jatuh hati pada blake adalah hal yang tak dapat terhindarkan. tapi ia tahu, jatuh hati pada blake juga satu kesalahan.
“can we go somewhere, tonight?” tanya blake memberanikan diri.
win mengusap-usap lehernya kikuk, “kayaknya aku nggak bisa kemana-mana malam ini. aku ada janji.” saat mengatakan itu, win berdoa dalam hati supaya blake tidak sadar ia sedang berbohong.
“aku akan pergi ke potters field park malam ini,” ujar blake, ekspresi wajahnya tak dapat diartikan, “i’ll be there at seven.”
win tidak menjawab.
“i’ll wait for you.” blake menatap win lurus-lurus, seakan mengisyaratkan bahwa pertemuan mereka malam nanti mungkin akan menjadi yang terakhir kali. ia menyunggingkan senyum dan melangkah pergi, meninggalkan livre, dan win yang tercenung sendirian.
potters field park, london.
9 oktober 2020, 09:15 pm
orang-orang biasa datang ke potters field park untuk melihat tower bridge dari jauh. malam hari terutama—karena pemandangannya akan menjanjikan lebih dari sekedar estetika yang sempurna. kapal-kapal yang berlalu-lalang di sungai thames, pelita yang apik menghiasi tower bridge, serta air yang mengalir tenang di sepanjang jalan ini.
tapi win justru berlari. sudah hampir 15 menit ia berada di sana, tak kunjung menemukan sosok yang ia cari. benar, win terlambat. ia begitu banyak menghabiskan waktu berpikir sementara hari ini bisa saja menjadi satu-satunya kesempatan buatnya melihat blake sebelum laki-laki itu benar-benar pergi.
bahkan win belum sempat mengucapkan selamat tinggal, belum sempat mengatakan bahwa ia yang harusnya minta maaf karena bersikap seperti pengecut.
win menyandarkan bahunya di tepian tembok yang menaungi potters field park untuk melihat ke arah sungai thames, berpikir apa yang seharusnya ia lakukan sekarang.
lalu satu ingatan terbersit di benaknya.
blake’s hotel, london.
09:35 pm
win berlari menuju resepsionis dengan nafas terengah.
win ingat blake pernah bercerita saat mereka mengunjungi china town kalau ia menginap di hotel ini. win sudah beberapa kali menghubungi ponsel laki-laki itu, tapi sayang telepon itu tak juga tersambung. lantas win tidak punya pilihan lain kecuali menanyai resepsionis apakah ada seseorang yang menginap atas nama blake.
satu hal lain yang baru disadarinya sekarang, ia bahkan belum tahu siapa nama belakang blake.
“permisi,” win menyapa seorang resepsionis yang sedang menutup gagang telepon, “apakah di hotel ini ada yang menginap atas nama blake?” tanya win ragu-ragu. aku pasti terlihat seperti orang bodoh —pikirnya.
“nama lengkapnya?” tanya sang resepsionis sembari melihat ke arah daftar nama orang-orang yang menginap disana.
win meringis bingung, “just… blake.”
resepsionis itu menggeleng setelah selesai membaca daftar namanya, “mohon maaf, tidak ada yang menginap atas nama blake disini.” ia menggeleng dengan raut prihatin.
win mengetukkan jarinya di atas meja sambil berpikir, tapi ia sadar, ia mungkin tidak punya pilihan lain. “thank you,” kata win pada akhirnya, memutar badan dengan wajah putus asa.
tapi tepat, benar-benar tepat saat ia memalingkan wajah, blake keluar dari lift yang berada tak jauh dari sana.
“blake!” ucap win cepat, tapi blake tidak menyahut meski sudah dipanggil berulang kali. buru-buru, win mengejarnya.
langkah blake yang tergesa terhenti saat win menghampirinya. “win…” jawabnya dengan wajah panik, ia menatap win sebentar, kemudian melihat ke sekeliling—seolah ada yang sedang dicari.
“i’m sorry i didn’t come, i went there but i was too late, that’s why i come here, ” win berujar dalam napas pendek-pendek.
“win, i’m…”
belum sempat blake melanjutkan, win berujar lagi, “aku nggak tau kapan kita akan ketemu lagi. kamu bilang kamu akan kembali ke new york, jadi aku pikir aku harus menemuimu. aku…”
tiba-tiba, ada satu suara asing mendekat ke arah mereka berdua, “babe!” seorang perempuan cantik dengan mantel merah maroon menghampiri blake dan tanpa ragu memeluknya. “i’ve missed you.”
blake tidak membalas pelukan gadis itu, melainkan memandang ke arah win seolah ia ingin menjelaskan banyak hal, tapi tak bisa. hati win seketika mencelos, rasanya seperti baru saja dihempaskan saat berpikir mungkin ia punya sedikit harapan untuk memberi tahu blake setidaknya ia senang mengenal laki-laki itu tanpa harus membalas perasaannya.
tapi pemandangan ini, jauh lebih menyakitkan.
“who’s this?” tanya gadis itu setelah melepaskan diri, menunjuk win sambil tersenyum lebar.
blake memandang win ragu, terdiam sejenak sebelum berujar, “this is…”
“hello, i’m win.” win menjawab cepat seraya mengulurkan tangan, memalsukan seulas senyuman.
lawan bicaranya menjabat tangan win sementara menggandeng lengan blake dan berkata, “hi, i’m jade. his fiancee.” jade mengangkat wajah untuk menatap tunangannya, “aku baru tau kamu punya temen di london.”
blake tidak menjawab jade, hanya terus memandangi win dengan perasaan bersalah. jade berbicara pada blake lagi untuk memecah hening di antara mereka, “maaf ya aku kesini nggak bilang dulu. biar kejutan. lagian kamu ditelepon nggak diangkat terus, sih,” tawanya yang renyah justru terdengar canggung.
win menatap blake sesaat, tahu bahwa sejak awal, apa yang terjadi di antara mereka hanyalah perasaan yang fana. maka seharusnya win bisa lebih awal menekan perasaannya kuat-kuat, tidak dengan mudah jatuh kepada orang yang baru dikenalnya begitu saja—karena bersama blake sama jauhnya seperti menyatukan new york dan london. atas alasan itu juga, win memalsukan senyumnya lagi. tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengatakan,
“well, i think i have to go then,” win tergelak ringan, mundur beberapa langkah sebelum blake menarik tangannya cepat.
“win, can we talk for a moment?” tapi win tidak punya keinginan lain kecuali segera angkat kaki dari situ.
win melepaskan genggaman blake dan tersenyum singkat, “i… have to go now. i need to pick up my mom,” sekali lagi, ia berbohong. “good luck with your novel,” lanjut win menatap lurus ke dalam mata blake, dengan tulus mengucapkan kalimatnya.
“win, i’m sorry…”
jade yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa bertanya-tanya, tak mengerti apa yang sedang terjadi. dan untuk yang terakhir kali, win melirik blake sekilas, sebelum benar-benar melangkah pergi.
“good bye.”
london eye, westminster, london.
10 oktober 2020, 08:10 pm
“oh my god, this is awesome!” seru jade riang dari dalam kapsul london eye ketika mencapai puncak. ia berdiri di samping blake yang kini melihat seluruh pemandangan kota dengan tatapan kosong. sekosong hatinya.
“are you okay?” tanya jade karena sejak kemarin—tepatnya sejak kedatangannya ke london, blake tidak begitu banyak bicara. “babe, are you listening to me?”
blake masih diam, seolah ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya. maka jade mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah tunangannya seraya berkata, “what are you thinking, bright carson ?”
ya, jade memanggil blake dengan nama aslinya. bright carson, new york times best selling author yang melarikan diri ke london setelah dua tahun mengalami writer’s block dan berhenti menulis. dan penyamarannya menjadi blake, adalah upaya untuknya bisa menjadi diri sendiri, tanpa dipandang win dengan titel yang tersemat di bahunya. satu-satunya hal yang tidak akan pernah ia sesali karena win adalah orang yang membuatnya berhasil menulis lagi.
“bright!” jade memanggil untuk yang ketiga kali.
“sorry, what did you just say?” tanya bright memandang jade yang kini mendengus sebal.
“are you still mad at me?” jade berkata dengan wajah murung, “maafin aku kesini nggak ngabarin kamu dulu. we… barely talked. udah hampir satu bulan kita diem-dieman.”
“how did you know i was in london?” ucap bright dengan wajah datar.
jade menghembuskan nafas pelan, “your mom. i called your mom last week. i asked ben but he wouldn’t say a word.” ia merengkuh lengan bright untuk menggandeng tangannya, “aku harap kamu ngerti seberapa penting ngejalanin usaha orang tuaku di new york. mungkin kita memang jadi nggak bisa sering bareng karena aku sibuk, but that’s what makes me happy, bright. working makes me happy.”
bright melihat langit azure kota london dengan pandangan menerawang. entah mengapa, perasaannya hampa.
(“this is the way love should make you feel, blake. love should make you feel this happy.”)
tiba-tiba, bright seolah mendengar kembali suara win dalam kepalanya.
bright mungkin disini bersama jade, gadis yang dipacarinya selama dua tahun, tunangan yang sebentar lagi akan dinikahinya. sayangnya, bright bahkan tidak mampu memastikan apakah dirinya dengan tulus mencintai jade, apakah selama ini ia bertahan atas dasar cinta, atau hanya karena mereka sudah terlalu lama bersama hingga bright tak tega untuk meninggalkannya.
mereka berada di london eye, dengan hamparan pemandangan kota london yang lebih dari sekedar indah, pemandangan yang tak jauh berbeda seperti saat bright melihatnya dengan win malam itu.
tapi bright tidak merasakan bahagia yang sama.
livre, catford, london.
11 oktober 2020, 11:21 am
win mendongak setelah sekian lama menunduk untuk membaca buku yang ia ambil secara acak siang hari itu. selama bertahun-tahun hidup di london, mungkin win tidak pernah menyadari bahwa kota ini sangat indah jika dinilai dari sudut pandang yang berbeda—sudut pandang yang sama saat ia bersama blake. lucu memang, tentang perasaan. bagaimana jatuh hati ternyata bisa terjadi begitu mudahnya.
“ting!” denting bel livre berbunyi tanda kedatangan kostumer untuk yang kesekian kalinya.
saat pintu terbuka, win melihat figur tinggi berkacamata yang dua minggu lalu datang ke tokonya, figur yang dengan susah payah ingin ia lupakan jauh-jauh dari dalam benaknya. bright berdiri di ambang pintu, menarik nafas sejenak sebelum melangkah mendekat untuk menemui win.
“hai,” sapa bright dengan senyum canggung, tapi sorot matanya sarat akan kesedihan.
“hai,” balas win seraya berdiri untuk menghampiri laki-laki itu alih-alih bertahan di balik meja kasir. “kamu belum balik ke new york?” win bersusah payah untuk menahan debaran di jantungnya. tidak—tidak boleh. perasaan ini harus ia lepaskan.
“pesawatnya berangkat besok pagi,” bright menatap win dengan mata coklat terangnya yang bersinar cerah.
win tersenyum—senyumnya yang seterang mentari dan selembut muffin, senyum yang membuat blake merasakan hal yang tak pernah dirasakannya sebelum ini.
“hati-hati di jalan,” ujar win tulus. “where’s jade?” tanyanya setelah sadar bahwa laki-laki itu datang sendirian.
“she’s buying some flowers across the street, and i tell her i wanna meet you before we go back to new york.”
win menjawab pernyataan blake dengan sebuah anggukan. sesaat hanya ada hening, seakan keduanya sama-sama sedang mencari kata yang tepat untuk menyampaikan salam perpisahan—karena ini mungkin akan menjadi kali terakhir mereka bertemu. tapi bright tanpa ragu memberanikan diri untuk berkata,
“thank you, win, for everything.” ia berkata dalam nada yang setulus-tulusnya. “i could never spend those wonderful days without you.”
waktu memang berlalu dengan cepat ketika dihabiskan dengan begitu banyak hal menyenangkan—setidaknya itulah yang dipahami bright setelah kebersamaannya dengan win. ia menyadari bahwa menghabiskan waktu bersama win adalah saat-saat paling menyenangkan baginya. bersama win, bright mendapati dirinya tertawa lepas, menemukan hal-hal baru yang lebih dari sekedar membahagiakan. ia berhasil menjadi dirinya sendiri dan menikmati begitu banyak hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. win mengizinkannya untuk menemukan apa yang selama ini hilang, seperti kepingan puzzle yang diciptakan untuk melengkapi hatinya yang hampa. juga bersama win, bright bisa melupakan masa-masa buruknya serta masa depan—walaupun hanya sejenak—untuk menikmati masa yang mereka lalui sekarang.
“i hope you’ve found what you need. good luck with your novel.” win memandang bright, senyum di bibirnya perlahan memudar.
“i will never forget every day i spent in london,” gumam bright pelan, mengambil sedikit lagi keberanian di dalam dirinya untuk berucap jujur. “i was genuinely happy, win. aku bahkan nggak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu.”
atas alasan yang sama, win mengulurkan tangan, membuang rasa takut untuk meminta bright melakukan satu hal, “keep your promise,” win menatap bright lurus-lurus, “the promise that you’ll never forget everyday you spent in london.”
keduanya saling menjabat tangan, dan untuk terakhir kali, bright merekam senyum laki-laki itu,
“i promise.”
bright’s apartment, new york city.
11 november 2020, 03:21 pm
“i brought you a congratulatory gift.”
bright menatap sekotak cupcakes yang disodorkan ke depan wajahnya siang itu. benjamin pelakunya. “thanks, but why cupcakes?” ia tertawa geli atas kado pilihan sahabatnya yang tidak biasa.
“because you need sugar. you look awful, man,” kata ben sambil mengambil sepotong cupcake berselimut krim coklat. “try this. i picked the best one in town,” ujarnya sambil tertawa, mendorong kue itu sampai hampir mengenai hidung bright.
“alright-alright,” sahut bright cepat, kemudian menggigit cupcake itu.
( “aku lebih suka menyebutnya muffin.”)
(“muffin itu krispi, tapi juga lembut dan manis. rasanya seperti mendapatkan beberapa rasa dalam satu gigitan.”)
tiba-tiba, suara win terngiang-ngiang di kepalanya. “this isn’t cupcake, this is muffin.”
“what do you mean?” tanya ben heran, keningnya mengernyit.
bright mengalihkan pandangan dari kotak cupcakes dan menatap wajah ben datar, “nothing, you wouldn’t understand.”
mendengar itu, ben menarik kursi di hadapan bright untuk bisa berbicara empat mata, “ini pasti ada hubungannya dengan win.”
tak ada jawaban dari bibir bright. benar, bright sudah menceritakan pertemuannya dengan win di london pada ben. begitu juga tentang perasaannya.
“i can’t stop thinking about him,” akhirnya bright berkata jujur, ia lalu mendesah putus asa.
“aku sudah lama ingin mengatakan hal ini,” kata ben bersedekap, timbre suaranya yang berat mengisyaratkan bahwa dirinya bersungguh-sungguh atas apa yang akan diucapkan. “i was married, once. and it was doomed.”
bright membeku, menunggu ben melanjutkan kalimatnya.
“you know why megan and i got divorced.” ben memutar kembali saat dimana ia harus bercerai setelah menikah selama satu tahun dengan megan—teman masa kecilnya. “aku menikahinya karena takut merasa bersalah meninggalkannya setelah lima tahun berpacaran. padahal aku tau, perasaanku pada megan mungkin sudah hilang jauh sebelum itu.”
sesaat bright hanya diam, tidak tahu harus berkata apa. matanya kembali memandang ke luar jendela apartemennya.
“aku mengatakan ini bukan karena aku nggak setuju kamu menikah sama jade. but i’m your best friend, i know you,” ben menghembuskan nafasnya panjang lalu berujar dengan tulus, “i don’t want you to experience the same thing, bright. if you think that you love him, go for him. follow your heart,” kata-kata ben barusan seolah menyentakkan bright untuk kembali dari lamunannya.
“because if you don’t, you will regret it for the rest of your life.”
the town hall, new york.
11 februari 2021, 7:00 pm
“jadi apa alasan buku anda diberi judul ‘muffin in london’?” ujar seseorang wartawan berkacamata perak yang hadir di acara launching buku ke-lima bright carson sore itu.
ada bright yang sedang duduk di atas panggung the town hall bersama seorang moderator di sebelahnya. bright tersenyum lebar, kemudian menjawab, “karena inspirasinya datang dari kue muffin dan london. two completely different things, but it’s real.”
bunyi wartawan yang mencatat dan memotret terdengar riuh beberapa saat, sebelum tergelincir menjadi hening lagi.
“next question,” kata sang moderator, disambut puluhan orang yang dengan cepat mengangkat tangan. “the guardian, please.”
“pada halaman dedikasi, anda menyebut nama seseorang, muffin, dan kota london. apakah anda berkenan untuk menceritakan kisah dibalik pesan tersebut?” perempuan berbaju kuning dari majalah the guardian bersiap mendengar jawaban bright dengan buku catatannya.
“it’s actually a very long story, i could make a whole new novel telling you about it,” kata bright usil, seketika mengundang tawa orang-orang disana. tak lama, ia menghela seulas senyum, seolah pikirannya dibawa berkelana untuk mengulang hari-hari terbaiknya di london.
“i dedicated this book to him, the one who owned that name. he has a smile as sweet as muffin, as bright as the sun.” bright terdiam sejenak—mengenang senyum win sekali lagi, “and he… is the reason why i can write again. he allowed me to feel what i’ve been losing all this time.”
bright mengakhiri penjelasannya dengan mengulum senyuman. bahkan hanya dengan mengingat laki-laki itu, hatinya merasa lebih dari bahagia. wartawan lain bertanya lagi sebelum sesi tanya jawab ditutup.
“katanya akan diadakan launching buku juga di london bulan ini, apakah itu berarti, sebentar lagi anda akan pergi ke london?”
tanpa ragu, bright tersenyum penuh arti, kemudian menjawab,
“definitely.”
livre, catford, london.
21 februari 2021, 10:00 am
pagi itu, win duduk sendirian di livre, toko buku yang sudah bertahun-tahun menjadi tempatnya membunuh waktu sambil melakukan kegiatan yang sejak lama disukainya.
win tidak akan pernah menyesali keputusannya meneruskan usaha livre, sebagaimana hal itu juga yang mengizinkan win berbagi dengan orang lain, anak-anak orphans in need, bertemu wajah baru setiap hari… serta mengantarnya untuk mengenal blake.
hampir lima bulan lamanya sejak kali pertama pertemuan mereka, dan tiap kali denting bel tanda pintu dibuka terdengar, win masih menaruh beribu harapan bahwa ia akan menemukan blake—figur tinggi dengan rambut yang dinaikkan ke atas, kacamata berbingkai hitam, dan mata coklat terang yang menantinya di ambang pintu yang sama.
win menoleh untuk melihat pemandangan di luar jendela, dan kenangan yang berkelebat dalam benaknya sama sekali tak terasa usang. kenangan tentang blake, si-penarik-perhatian yang berhasil membuatnya jatuh tanpa diduga-duga. memori saat mereka berdua berdiri di bawah big ben dan cahaya westminster bridge, atau london eye dimana blake mengatakan bahwa ia sudah lama tidak merasa sebahagia malam itu. masih jelas bagaimana mereka tertawa riang bersama anak-anak orphan in needs, bersenda gurau sambil bermain game yang berakhir dengan blake memeluk win erat. juga bus bodoh yang tiba-tiba membunyikan klakson saat blake hendak mengecup bibirnya.
bagian terbaiknya, sebuah ciuman manis yang mereka bagi di bawah semburat oranye langit sore hyde park. win masih bisa merasakan bagaimana manis bibir blake membekas di bibirnya. jika bisa, ia ingin sekali melupakan kenyataan bahwa semua itu hanya mimpi indah yang terjadi untuk sesaat saja. tapi sebaliknya, keindahannya lah yang menjadikan mimpi itu tak dapat terlupakan.
“ting!” bel tanda pintu dibuka berbunyi setelah sekian lama hening.
seorang anak kecil masuk sambil membawa sebuah kotak biru muda dan berjalan ke arah win. ia tersenyum lebar, setengah berlari seolah sedang membawa kejutan.
“william, what are doing here?” tanya win saat bocah itu tiba di hadapannya. tentu win kenal, william adalah anak penjual bunga dari toko seberang.
“i have a present for you, mr. maclaren,” william menyodorkan kotak yang sejak tadi ditentengnya. “please open it, now.”
tiba-tiba ia menepuk dahinya dan tertawa, “oh, no. i’m sorry, i mean, please open it after i go.”
“who is this from?” win berjongkok supaya bisa berbicara dengan william dalam level yang sejajar, menerima kotak biru muda dengan pita yang tersemat apik di atasnya.
“he said it’s a secret,” william menggeleng, kemudian berlari-lari kecil ke arah pintu. namun sebelum pergi, ia berkata lagi, “he will give you a flower!” william tergelak lalu pintu livre berdebum pelan.
win tersenyum sambil menggelengkan kepala. lucu sekali, pikirnya. ia mengguncang hadiah misterius itu alih-alih langsung membukanya, seperti sedang menerka-nerka. akhirnya, win kalah dengan rasa penasaran. win membuka kotak itu, dahinya mengernyit tatkala menemukan sebuah buku di dalamnya.
muffin in london by bright carson.
buku itu masih baru, masih dibungkus plastik dengan sampul pemandangan kota london. win tidak mengerti mengapa william memberinya paket ini. tapi pertanyaan paling penting adalah, siapa pengirimnya?
win mengangkat wajah untuk melihat ke depan, seolah memikirkan berbagai kemungkinan. muffin… in london?
win melangkahkan kaki perlahan kemudian duduk di kursi, membuka buku itu dengan hati bertanya-tanya. setelah membaca judul di lembar pertama, win terperanjat, tak percaya atas apa yang tertulis di halaman kedua,
For Win, who said cupcakes are muffins, who has a smile as delicate as a muffin. You’re the one who let me see each beauty in London. You are the answer to my search for happiness.
I will keep my promise.
— Blake.
“ting!”
tepat pada saat itu, pintu livre terbuka, dan blake—yaitu bright carson—berdiri disana sambil menggenggam sebuket bunga mawar putih, tersenyum dengan mata coklat terangnya.
win memandang bright yang melangkah masuk sebelum perlahan beranjak, sementara keduanya sama-sama saling mendekat. waktu seolah berhenti di detik itu, seolah dunia berhenti berputar untuk menyaksikan pertemuan mereka kembali setelah sekian lama memendam kerinduan.
“so blake is bright carson?” ujar win manakala jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa sentimeter saja, merasakan debar di jantungnya semakin cepat ketika bright menatap ke dalam matanya.
bright menyerahkan bunga yang dibawanya kepada win, lalu berujar, “i don’t think that i’ve properly introduced myself,” ia mengulurkan tangan untuk menjabat win seraya tersenyum, “i’m bright carson.”
win menghela seulas senyum, balas menjabat tangan bright dengan bahagia yang tidak bisa digambarkan, “ win maclaren.”
ada hening yang tercipta, seakan masih sama-sama tak percaya bahwa mereka akan berjumpa lagi di kota yang magis ini.
win mengerjap, “what are you doing here?” katanya dengan raut keheranan, tapi senyum selembut muffin masih enggan hilang dari wajahnya.
“menepati janjiku."
bright menarik nafas dalam-dalam, karena apa yang akan dikatakannya setelah ini adalah tujuan kedatangannya yang sebenarnya. alasan mengapa ia datang jauh-jauh dari new york ke london, alasan dirinya ingin win jadi orang pertama yang tahu perasaannya.
“i’ve broken up with jade,” lanjut bright lagi, “i think that’s the only way to understand that… we don’t actually love each other.”
win memandang bright lurus-lurus, membiarkan laki-laki itu melanjutkan kalimatnya.
“and i came all the way from new york to see you, win. that’s the only thing i have in mind when i knew i was going to london.” bright mengambil satu langkah mendekat, menghapus jarak di antara mereka.
“i know that this might sound insane,” lanjutnya tersenyum lebar, sama sekali tidak berupaya untuk menahan hatinya, “but leaving new york will be a pleasure, as long as i know you’re waiting for me on the other side,” bright menarik satu tangan win ke dalam genggamannya.
“what are you saying?” win bergumam, timbre suaranya begitu rendah hingga nyaris seperti berbisik.
“i’m saying that i am madly, deeply, truly, passionately in love with you. ”
bright meletakkan telapaknya di pipi laki-laki itu, membelai ujung bibir win dengan ibu jari, seolah ia telah menunggu jutaan detik lamanya untuk tiba pada momen ini. manakala win menyunggingkan sebuah senyuman, bright tahu, win juga merasakan hal yang sama.
bright mendekatkan wajah, dan dua obsidiannya bergulir turun dari mata win ke bibirnya, mendaratkan sebuah ciuman yang terasa manis dan magis di saat yang bersamaan. karena bagi bright, mencintai win terasa seperti menemukan kepingan kebahagiaan yang telah lama hilang dari hidupnya.
bibir mereka bertaut, dan jemari bright dengan apik membingkai rahang win sementara laki-laki itu melingkarkan dua tangan di bahunya, memperdalam afeksi mereka.
win berbisik di bibir bright saat ciuman mereka terputus, “you should buy william a chocolate after this,” katanya penuh jenaka, disambut kecupan singkat dari bright.
“he can ask me anything he wants,” bright tertawa kecil, membelai bibir win, lalu mulai menciumnya lagi.
tapi win menarik dirinya sesaat, “are you serious about living in london?”
“if you want me to,” jawab bright tanpa beban, seakan ia rela menukar apa saja asal bisa terus bersama laki-laki yang kini mendekapnya.
“never mind,” win tersenyum dengan senyuman selembut muffin dan secerah mentarinya. ia menatap bright lurus-lurus, berbisik di antara ciuman mereka sebelum ujarannya dibungkam dengan bibir bright lagi,
“we’ve got better things to do now.”
