Work Text:
i
Sejak kecil, aku melihat cinta berwarna keruh.
Kini, aku, melihatmu, seperti bertaruh.
Apa kau dan aku
akan jadi sama seperti itu?
“Truth or dare.”
“Truth,” jawab Ichiro.
“Apakah kamu bisa mencintai seseorang sekalipun dia laki-laki?” tanya Samatoki.
Kalau pertanyaan itu terdengar kurang bodoh bagimu, Ichiro dengan senang hati memberikan informasi bahwasanya mereka berdua sudah berpacaran. Jadi, ya, memang bodoh, sebab Samatoki menanyakan itu pada pacarnya sendiri, dan keduanya sudah melalui tahap-tahap klise dalam percintaan yang mula-mula malu-malu-mau hingga mau-mau-mau, jadi buat apa harus dikonfirmasi? Kalau mau dikaitkan dengan kejadian yang berlangsung sekarang, itu kayak seorang jurnalis bertanya pada salah satu demonstran di sepanjang Malioboro, “Apakah Anda bisa menyuarakan ketidaksepakatan Anda melalui aksi massa di jalanan?” Lha, ini kan yang sedang mereka lakukan sekarang. Piye sih.
Ichiro menjawabnya setelah membiarkan Samatoki menunggu tiga belas hitungan, “Kalau aku menyayangi seseorang, Samatoki, maka aku nggak peduli apakah dia perempuan atau laki-laki”—ah, baguslah, batin Samatoki, lalu—“ataupun tua-muda, nggak punya ikatan darah atau punya, makhluk atau benda, nyata maupun enggak”—hei, hei, hei—“hidup ataupun mati.”
Perincian yang terakhir menyisakan keheningan ganjil, rasanya seperti angin berkekuatan besar dihempaskan ke Bumi, menyapu permukaan yang ditimpanya menjadi bersih licin sebagaimana bom atom mencipta ledakan besar bagaikan setitik kecil yang terlihat dari langit, lalu menghilang.
Samatoki tertegun. “Apakah—”
“Jatah truth kan, hanya dipakai sekali, Samatoki.” Ichiro menyela, lalu tersenyum melihat Samatoki kicep seketika. Ia bertopang dagu, menolehkan kepala, melihat jalan raya dari tempat keduanya duduk. Ada opsi outdoor di kafe yang mereka sambangi, dan sekalipun malam itu begitu dingin—wajar, sudah bulan Oktober, masuk musim hujan—keduanya nekat memilih outdoor karena ruang dalam kafe padat pengunjung; cukup padat hingga beberapa di antaranya menduduki meja-kursi yang ditandai larangan duduk.
Di meja yang memisahkan mereka terbentang buku paket sejarah dan matematika. Mereka sudah sepakat untuk ikut aksi dengan seragam putih abu-abu seolah baru pulang dari sekolah, padahal kelas online pun mereka bolos. Atau setidaknya itu yang dilakukan Ichiro karena ia sungguhan menyalakan mode pesawat di ponselnya dan absen sepanjang hari, berbeda dengan Samatoki yang masih pakai earphone untuk menyimak suara guru yang menerangkan materi. Sepanjang jalan dari Bundaran UGM Ichiro berkali-kali bertanya apakah Samatoki bisa menghafalkan lagu “Darah Juang” sambil mengerjakan soal fungsi komposisi, tetapi ternyata yang Samatoki tunggu adalah saat namanya dipanggil untuk presensi, karena ia akan menyalakan kamera dan pamer bahwa dirinya sedang ikut aksi massa menyimak konferensi pers di Tugu Pal Putih, bego betul, untung sayang.
Untungnya Samatoki menurut untuk dipinta undur diri dari aksi saat mendengar kabar salah satu bangunan terbakar menjelang matahari terbenam. Ichiro mengajaknya cari makan. Ia sebenarnya diam-diam agak cemas kalau salah satu dari mereka ketangkap aparat—terutama Samatoki yang tampangnya kayak bisa bertindak makar kapan saja—sekalipun hukum lebih longgar bagi mereka yang secara usia dianggap belum dewasa. Tetapi provokator ada di mana-mana, dan akses informasi bagi mereka yang masih SMA cukup minim dibandingkan mahasiswa, apalagi mereka tidak ikut konsolidasi juga, bisa dibilang tidak tahu apa-apa. Dan bisa apa dua bocah doyan karaokean ini kalau terlibat gentok-gentokan? Bisa melawan sedikit-sedikit sih, tapi, ya, gitu.
Sepanjang aksi, jalanan ditutup dan macet di mana-mana, tetapi mereka tidak mempermasalahkannya karena mereka kan, bukan bagian dari pengendara. Akses jalan dibuka lagi saat malam. Kalau tidak lewat jalan Malioboro, barangkali tidak sadar kalau siang tadi ada aksi, lengkap dengan semburan gas air mata kedaluwarsa dan kobaran api. Jogja di malam hari masih ramai, tidak berubah; Ichiro masih memandang. Jalan raya di tepi kafe adalah bagian dari simpang empat, jadi alih-alih kendaraan melintas-pintas, justru yang dipandangnya adalah deru mesin berkejaran antara antrean panjang kendaraan, menunggu lampu hijau.
Ichiro kembali memandang Samatoki, ia sedang mengucek mata, dan Ichiro spontan menjangkau untuk menarik tangannya. “Hush, jangan ucek mata!” desisnya. Ia mencomot selembar tisu yang juga ada di atas meja, memosisikan tisunya pada tangan Samatoki. “Samatoki belum cuci tangan pakai sabun sejak tadi, mana tahu ada apa-apa.”
“Habis mataku tahu-tahu kerasa perih lagi, karena gas air mata tadi.” Samatoki membela diri.
“Ya, pakai tisu kan, bisa.”
Saat Samatoki mengelap matanya dengan tisu dan sadar Ichiro memandanginya, ia merasa seperti anak kecil dan Ichiro seperti seorang abang—situasi yang kadang-kadang muncul dalam sesekali, tetapi tentu ia tetap ogah mengakuinya. Kadang sikap Ichiro terasa sangat emong, mungkin karena dia anak pertama. Hei, Samatoki, kamu juga anak pertama. Oke, mungkin karena Ichiro punya dua adik. Samatoki mengerutkan kening sendiri kenapa pikirannya justru kayak cari-cari pembenaran bagaimana bisa ia berhak dimanja.
“Kenapa?” Ichiro tahu-tahu bertanya, mungkin karena melihat perubahan pada air mukanya.
“Apakah kamu cinta aku?”
Ichiro tertawa. “Itu pasti pertanyaan yang mau Samatoki tanyakan tadi.”
Samatoki tidak menjawab. Pertanyaan tadi entah kenapa terlontar begitu saja, dan memang benar, itu adalah pertanyaan yang tadi mau ia tanyakan. Tetapi ia bisa saja tidak kembali membahasnya, toh topik pembicaraan sudah beralih pada matanya yang terasa perih, dan ia bisa menjawab tanya Ichiro dengan menyuarakan apa yang dipikirkannya barusan tentang ia merasa diemong.
“Aku sayang Samatoki, kok.”
“Tapi,” sela Samatoki, begitu cepat seperti jawaban Ichiro sudah ia duga, dan begitu keduanya bertatapan, Samatoki berpaling, giliran dia yang memandang antrean mobil di jalan. Kata-kata yang mau ia ucapkan tertahan di ujung lidah, tapi itu kan, “sayang”. Bukan cinta. Kenapa Ichiro tidak pernah mau bilang “cinta”?
ii
Mencintai
bukan perkara kebal
hujan serapah dan makian.
Ichiro pernah bangun dengan air mata.
Ia memimpikan potongan kehidupan yang sangat berbeda dibandingkan kesehariannya di sini, tetapi kehidupan di mimpi itu pakai sudut pandang dia, jadilah pasti itu tetap menceritakan tentangnya, entah dalam pesan seperti apa. Di sana ia dikelilingi ucapan-ucapan penuh benci yang mengiris dan membakarnya, dan ada kalanya ia dikelilingi senyum dan tawa, tetapi tetap saja itu mengiris dan membakarnya. Apa yang ia jalani di sana seperti sebuah keterpaksaan yang mau senang mau sedih tetap menguras energi baginya.
Dan ucapan-ucapan dalam mimpi ia terima dengan suara Samatoki.
“Hei, belum waktunya kamu bangun,” sela Samatoki, ada sebatang rokok terselip di sudut mulutnya, pandangan mata masih fokus menatap layar, tangannya menekan mouse berkali-kali—klik-klik-klik-klik-klik—hal yang juga akan Ichiro lakukan kalau serangan musuh datang dan timnya perlu menumpas mereka; klik kiri mouse adalah cara agar tembakan di tangan pemainmu bisa diletuskan.
Keduanya pakai seragam putih-biru, waktu itu tahun terakhir mereka SMP. Tatanan dunia setahun lalu masihlah dunia yang tak mengenal ambil jarak aman antarorang, ketika mereka bisa menghabiskan waktu di warnet sampai pagi buta, mencoba satu demi satu game yang diulas oleh YouTuber favorit mereka. Setahun kemudian saat ada pandemi global, warnet ini tidak buka 24 jam dan tidak pula memperbolehkan bilik diisi oleh lebih dari satu orang.
Perihal pembagian ruang dalam bilik, Samatoki menguasai jarak sepanjang layar komputer hingga CPU dan speaker di kanan-kiri, sementara Ichiro terpaksa meringkuk di sudut, menekuk kaki, memeluk lutut, memakai headphone satunya yang disediakan dalam bilik agar bisa tidur. Keduanya gonta-ganti bermain per satu jam sebagai pengingat untuk tidak kebablasan lupa merenggangkan tubuh atau mengerjapkan mata, dan Ichiro tidak bisa seperti Samatoki yang mempergunakan waktu satu jam jeda untuk merokok di luar atau malah lanjut main game di ponsel—serius, Samatoki?
Ichiro mengusap wajah, dan air mata—tapi Samatoki takperlu tahu. Ia melepas headphone dan ada lagu yang makin jelas terdengar di telinga, lagu yang diputar ke penjuru warnet. Ia tidak tahu lagu apa, tetapi nadanya menghentak-hentak dan termasuk bising untuk penggambaran suasana Jalan Kaliurang dini hari, mungkin itu mempengaruhi mimpinya. Ia menurunkan kaki dan menatap Samatoki. Asap rokok membubung, dan bagian warnet yang mereka masuki memang bagian bebas rokok, jadi hampir semuanya merokok di sini. Mungkin itu juga mempengaruhi mimpinya.
Ia berdiri.
“Ke mana?” tanya Samatoki, tanpa menatap.
“Hmm. Toilet. Sambil cari angin,” jawab Ichiro.
Ia tidak ke toilet. Ia hanya keluar dari bangunan warnet, ke lahan parkir. Ichiro berdiri di tengah-tengah lapangan seperti seseorang kehilangan motor di posisi tempat ia terakhir kali memarkirkannya, dan sekalipun ia sempat bertatapan dengan penjaga parkir yang seketika awas karena mengira dia akan pulang, Ichiro tidak memberi sinyal berarti—seperti menggelengkan kepala atau melambai-lambaikan tangan tanda, “Saya belum akan pulang kok, Pak, cuma cari angin”—dan menengadahkan kepala.
Kalau ada bintang, pasti bagus. Kamu tidak bisa mengharapkan bintang terlihat di tengah kota. Ichiro menghitung bulan—“Satu,” bisiknya—dan heran sendiri mengapa demikian. Bulan memang akan selalu satu, buat apa dihitung. Kamu ketularan bodohnya Samatoki.
Di malam itu, mereka sudah pacaran.
Mereka sudah pacaran sejak akhir kelas 2 SMP, setelah dimulainya pentas seni kebudayaan pasca-UAS. Berbeda dengan kelasnya yang sebegitu membosankan karena hanya mementaskan pertunjukan seruling dan pianika—mereka tidak mau ambil repot tersita harinya karena harus latihan, jadi salah seorang dari teman sekelasnya usul agar yang dipentaskan adalah yang diujikan untuk pelajaran Musik, kan hitung-hitung sekalian belajar, dan semua sepakat, baiklah—kelas Samatoki mementaskan pertunjukan teater.
Selain karena entah bagaimana kelas Samatoki diisi orang-orang hebat semua—ada Ketua OSIS, Ketua MPK, ada perempuan paling cantik di angkatan, murid yang rangking pertama paralel, pertukaran pelajar dari Singapura, atlet basket yang dielu-elukan saat JRBL, ada Samatoki—pentasnya memang sungguhan bagus. Mereka mementaskan “Judul Belum Ditentukan”, pilihan yang brilian karena latarnya hanya satu: di kamar rumah sakit. Tokoh utamanya mengalami amnesia dan dia dikunjungi oleh satu per satu orang yang menceritakan tentang dirinya, dan masing-masing dari mereka memberikan informasi yang benar-benar lain sehingga si tokoh utama kebingungan yang mana dia sebenarnya.
Apa yang dilakukan Samatoki di atas panggung menarik perhatian. Dia bukanlah pemeran dalam cerita, dia hanya muncul sekali lalu lenyap, tetapi kesan yang ditinggalkan luar biasa membekas, topik pembicaraan yang masih melekat hingga hari penerimaan rapor: Samatoki bernyanyi. Ia bernyanyi rap, tepatnya.
Dan suaranya ternyata oke.
Dalam lagu rap yang dinyanyikan Samatoki, terselip kata-kata takpantas yang kalau diucapkan di luar konteks pementasan pasti dia bisa digeret ke ruang BK, dan itulah yang membuat sebagian siswa yang menonton bersorak dan tertawa—mudah untuk menebak kalau yang membuat si bocah tengil itu sudi main peran adalah karena ia boleh sumpah serapah sesukanya tanpa kena proses administrasi sekolah. Ichiro juga menonton, dan Ichiro juga tertawa, tetapi ketika Samatoki bicara kasar yang membuat tawa teman-temannya makin keras, ia justru tidak bereaksi sama.
Ia tidak tahu Samatoki seperti itu.
“Aku nggak tahu Samatoki seperti itu.” Ichiro menyuarakannya.
“Mungkin cuma kamu yang nggak tahu,” jawab Samatoki. Saat itu sudah sore, keduanya bersandar pada dinding kantin, semua meja-kursi penuh dan toh yang mereka beli hanya minuman dalam plastik, jadi tidak pakai kursi tidak apa-apa. “Mana mau aku bicara kasar denganmu. Tapi tadi tuh rasanya loss banget, bisa nyumpah-nyumpah dan rasanya legal.” Samatoki tertawa, jelas tidak menyadari kalau Ichiro mengangkat topik pembicaraan itu bukan agar keduanya bisa tertawa bersama.
Ichiro memandang es teh dalam plastik, pertanyaan yang diucapkan berikut kelewat lirih, “Kenapa?” tanyanya, seperti bersalah karena baru sadar Samatoki menahan diri selama bersamanya.
“Kamu pengin aku jawab apa, pertanyaanmu itu? Kamu nggak mau kalau aku tiba-tiba teriak, ‘Karena aku cinta kamu,’ sekarang juga, kan?”
Ichiro tertawa. “Nggak, jangan.”
Samatoki ikut tertawa, lalu menyeruput es nutrisari pesanannya. “Kamu perlu selalu ingat kalau pacarmu ini bisa lupa dan membahayakan dirinya sendiri dalam hukuman sosial atau pengucilan sampai mati, tahu.”
Kalimat Samatoki itu begitu manis. Saat itu, Ichiro tersenyum. Dan Ichiro masih terus tersenyum kalau sesekali mengingatnya. Samatoki yang dikenal orang lain memang slengean dan sumpah-serapah sesukanya, tetapi Samatoki padanya tidak pernah bicara kasar, atau memperlakukannya dengan kasar, setidaknya sampai sekarang.
Hanya saja, kenapa ia bermimpi Samatoki memberikan ucapan-ucapan benci yang mengiris dan membakarnya? Ichiro bertanya-tanya, dan jawabannya masih belum ia temukan sampai ia memutuskan untuk kembali ke biliknya, dan dalam perjalanan ke biliknya ia mendengar suara yang sangat mirip dengan Samatoki, berseru dengan keki seperti refleks, “Aish, kampret, berengsek!”
Seruan itu memberinya tamparan seolah kepada Ichirolah kata-kata itu ditujukan.
Ia meneruskan langkah ke bilik, berpikir bahwa saat ia muncul maka Samatoki akan sadar apa yang barusan ia teriakkan dan bertanya agak panik, “Apakah tadi kamu mendengar apa yang aku bilang?” tetapi itu tidak terjadi, Samatoki masih meneruskan main saat Ichiro masuk, seolah tidak ada apa-apa, dan karena Samatoki sangat tidak jago menutupi perasaan, maka tidak ada apa-apa artinya adalah tidak ada apa-apa. Samatoki bukan menahan diri untuk tidak misuh selama ada Ichiro, Samatoki hanya praktis jadi tidak bisa mengatakannya saja. Seperti tombol on dan off dalam sakelar. Seolah-olah lupa kalau apabila sedang kesal atau marah, sederet kosakata untuk memaki itu bisa jadi pilihan.
Samatoki melepas headset yang melingkari kepalanya, memakaikan pada Ichiro. “Giliranmu main, terus balik, yuk.”
Ichiro menyuarakannya. “Ngomong-ngomong, tadi kamu misuh.”
“Oh, yaaaa? Kapan?”
“Waktu aku nggak ada. Aku mendengarnya pas balik ke sini.”
Raut kaget Samatoki lenyap berganti lega. Ia berdiri dan menyingkir dari posisi duduknya agar bisa ditempati Ichiro, lalu tangannya menjangkau pintu bilik, hendak keluar. “Kukira aku ngomong kasar padamu. Tapi kalau gitu, nggak jadi persoalan, kan?” tanya Samatoki balik, begitu enteng dan tanpa beban, pada dasarnya Samatoki saat SMP memanglah sebagaimana bocah SMP, dan sekalipun Ichiro juga ada di angkatan yang sama, kalau menyangkut perasaan maka timpanglah mereka, entah apakah itu baik atau buruk artinya.
Ichiro memberi senyum.
Kalimat Samatoki yang itu juga terdengar begitu manis.
Samatoki pergi membawa asbak dan bungkus rokoknya, meninggalkan Ichiro dalam bilik untuk main game, menjadikan kata-kata yang ingin diucapkan Ichiro tidak tersampaikan: bahwasanya, bahwasanya, Samatoki, seharusnya aku nggak boleh senang dengan kesan aku seperti dispesialkan, ketika “spesial” itu sebenarnya hanyalah perlakuan yang memang sepantasnya didapat dalam relasi antarmanusia. Apa daya, Ichiro saat SMP memanglah sebagaimana bocah SMP, dan terutama, saat itu, mereka masih anak kecil di mata dunia.
iii
Aku sudah tahu
dari awal.
Rasa takut masih
kugenggam nyaman.
Samatoki tidak perlu mengingat begitu keras—selain karena ia tidak bisa diajak berpikir, pada dasarnya perihal yang satu ini ia memang tidak perlu mengingat begitu keras—bahwa Ichiro tidak pernah mengatakan dia “cinta” padanya. Kenapa, ya. Dan entahlah apa yang Samatoki maksud dengan “kenapa”, apakah kenapa itu bisa terjadi demikian ataukah kenapa selama ini ia tidak pernah mempermasalahkannya?
“Kenapa, Samatoki kan, selama ini nggak pernah mempermasalahkannya?”
Tuh, kan.
Keduanya duduk di sebuah kursi panjang menunggu bus antarkota datang. Di bangunan kecil tempat agen bus langganan yang akan dipesan Samatoki apabila sudah waktunya untuk kembali ke kampus, mereka menunggu bus trayek Jogja-Bandung datang, agar Samatoki bisa mencapai kota tempatnya kuliah di hari Minggu, dan ia punya waktu beberapa jam menyiapkan kuliah pagi Seninnya. Ichiro datang untuk mengantar. Padahal semester belum berakhir, tetapi Samatoki sudah pulang-pergi tiga kali. Kayaknya uang jajan bulanannya disisihkan agar bisa balik ke Jogja, antara bodoh dan Samatoki sekali.
“Samatoki,” panggil Ichiro, dia menoleh, tetapi Samatoki yang ada di sampingnya hanya memandang lurus-lurus ke halaman parkir yang menyisakan motor Ichiro seorang—calon penumpang bus yang juga menunggu di kursi-kursi panjang lainnya kebanyakan diantar oleh jasa ojek online dan ditinggal begitu saja. Mungkin Samatoki sedang menghitung jumlah kendaraan makanya tidak bisa menatap Ichiro balik—“Satu,” dan sudah, seperti saat Ichiro menghitung jumlah bulan dalam malam—dan Ichiro tidak mempermasalahkannya. “Apakah Samatoki tahu rasa sedih?”
“Tahu,” jawab Samatoki. Pelan. Lirih.
“Kalau rasa marah?”
“Tahu.” Ekspresi Samatoki berubah, sekalipun Ichiro hanya bisa melihat setengah wajahnya, tetapi ia tahu bahwa Samatoki seperti membuat kerutan di kening, hal yang di luar kendali apabila seseorang dengan tiba-tiba menyuruhmu mengingat emosi marah, maka emosi itu akan tampak ke permukaan. Samatoki masih menatap lurus ke depan dan Ichiro masih menatap Samatoki.
“Kalau rasa cinta?”
Samatoki tersenyum dan senyumnya sampai ke mata, matanya ikut tersenyum seperti mengingat saat-saat yang paling menyenangkan dan patut dikenang, dan jawaban, “Tahu,” yang meluncur keluar begitu yakin, dan lembut tanpa tahu malu, dan respons maupun air muka seperti itu tidak disangka-sangka Ichiro yang ia justru membeku seolah kehangatan yang terpancar dari suara itu, yang telah menyebar dan menebar hingga puncak tiang listrik dan lampu jalan, justru gagal merasukinya, terpental dan tertolak dan memberi rasa sakit seperti siraman air dingin. Ah.
Menyebalkan. Curang.
Ichiro berpaling karena mendadak terasa silau. “Aku nggak tahu.”
Diam.
“Oh ….” Begitu saja tanggapan Samatoki. Kaku. Dia mungkin terlalu bodoh untuk ini.
“Tapi,” lanjut Ichiro, dia tersenyum, dan senyuman itu seperti terbawa pada suaranya, karena Samatoki akhirnya menoleh—oh, ternyata inilah yang membuat Samatoki tidak mau menoleh, sebab sejak ia mulai menanyakan kenapa Ichiro tidak pernah bilang “cinta”, barangkali Samatoki menganggap bahwa suasana dan ekspresinya begitu sendu dan sedih dan suram, dan sebagaimana Ichiro berpaling pada Samatoki yang terlalu gemilang maka Samatoki akan berpaling apabila pancaran Ichiro begitu gelap gulita—dan berbeda dengan Samatoki, Ichiro tidak menghindar, ia menatap balik, masih dengan senyum, “aku tahu rasa sayang.”
Itu ekspresi yang sama seperti Samatoki diminta memanggil rasa cinta.
Samatoki tertegun dan dalam pikirannya muncul kilasan-kilasan apa yang telah mereka lalui, saat SMA mereka isi dengan kelas online yang sering bolos dan ditinggal pergi dan bikin banyak sekali materi perlu mereka kejar saat tes masuk kampus, atau saat pengumuman hasil NEM SMP mereka isi dengan main game di warnet sampai pagi, atau saat hari ia menyatakan perasaan dengan bilang, “Aku cinta kamu,” lalu dibalas, “Aku sayang Samatoki juga,” dan Samatoki mengajak pacaran yang ditanggapi dengan kekehan, dan anggukan, dan, “Apa boleh buat.”
Kalau perasaannya tersampaikan, bukankah kata apa pun sebagai deskripsi itu tidak jadi soal? Kenapa pula ia mempermasalahkannya?
“Sepertinya di situ batasku, maaf, ya?” Ichiro bertanya, masih dengan senyum, tetapi Samatoki tahu bahwa Ichiro tidak betul-betul minta maaf, karena toh Ichiro tidak tampak menyesalinya. Sekalipun keduanya telah bersama dalam hitungan tahun, pada banyak hal soal perasaan atau ikatan manusia luput dibahas—selain karena Samatoki tidak mengira itu perlu, Ichiro menganggap soal itu sepantasnya dia lalui sendiri—dan Samatoki tidak patut untuk mempertanyakan putusan Ichiro soal dirinya sendiri yang ditetapkan tanpa pertimbangannya terutama karena ia tidak ada di sana.
“Kamu akan mencintaiku dengan caramu?” tanya Samatoki.
“Sebagaimana kamu dengan caramu”—yang bisa mematikan sakelar sumpah serapah dan menganggap itu hal yang spesial karenanya, yang bisa mengumbar kata cinta hingga kalau diwujudkan dalam tetesan air maka ember sebagai wadah pun bisa meluap karenanya, yang bisa menerima bagaimana Ichiro punya batasan pada afeksi romantis tanpa memaksakan keingintahuan pada masa lalunya mengenai rasa takut dan pandangannya yang keruh pada urusan cinta-percintaan—“aku sayang Samatoki, sangat sayang, dan sampai situ saja yang aku bisa utarakan.”
Samatoki menyukainya. Samatoki menyukai kejujuran dalam malam ini.
“Apa boleh buat, bego.”
“Hei!”
Keduanya tertawa.
Aku punya harapan untuk kita.
Walau tak terdengar masuk akal,
tapi kita punya kita.***
