Actions

Work Header

Melepas Kebebasan

Summary:

Eropa, 1944. Kehidupan empat individu yang berkelindan di tengah Perang Dunia Kedua. Dua di antaranya takpunya kesempatan untuk bebas dari beban-beban mereka, sehingga mereka memperjuangkan kebebasan bagi dua lainnya, yang berpikir bahwa kebebasan adalah sesuatu yang mereka takpernah punya.

Notes:

Seri Maze Runner (c) James Dashner.
Hetalia: Axis Powers (c) Hidekaz Himaruya.
Penulis tidak mengambil keuntungan dari penulisan fanfiksi ini.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Di tengah Perang Dunia Kedua, 1944

 

ACT 0

(Ludwig bertelanjang kaki, menyusuri pasir pantai yang basah. Ia melangkah mengikuti bekas jejak telapak kaki yang telah tercetak sepanjang susuran bibir laut. Cetakan kaki-kakinya masih tersisa, sekalipun sudah hampir terhapus. Lebih seperti tempelan saja dibandingkan bekas kaki seseorang. Orang itu pasti sudah lama tiba di sini, pikir Ludwig. Dipikir-pikir lagi, malam ini ia butuh waktu lama untuk tidur, yang artinya makin lama pula jiwanya mencapai “selingan”.

Persis setelah membatin demikian, kedua mata Ludwig menangkap keberadaan seseorang, kira-kira sepuluh langkah lagi jauhnya, sedang menggambar sesuatu dengan ranting entah ia dapat dari mana. Dipercepatnya langkah tanpa menekuri bekas jejak telapak kaki lagi.

“Menggambar kapal?” terka Ludwig sebelum ia sempat melihatnya.

Lawan bicaranya belum menjawab sampai Ludwig memastikannya sendiri. Betul, pemuda itu menggambar kapal. Bukan kapal selam, kapal perompak, atau kapal induk. Hanya kapal layar biasa. Kapal nelayan. Ludwig tidak tahu apa arti dari gambar itu—sebuah kapal yang tidak akan dibutuhkan dalam masa perang seperti sekarang—tetapi ia tidak bertanya.

“Tentu saja.” Pemuda itu menjawab dengan sangat terlambat. “Aku bukanlah kamu yang ke mana-mana menggambar swastika, dasar narsistik egois.”

Ludwig tidak tersinggung. Hanya Arthur yang ia perbolehkan mengatainya sebegitu sinis.)

 

ACT I

London, Inggris Raya

Divisi N. Butuh suplai. Makanan. Senjata. Agen. Titik mendarat di Groningen. Salam.

Dibaca ratusan kali pun tidak akan ada bedanya. Arthur menghela napas, memandangi salinan pesan itu lekat-lekat. Ia menengadahkan kepala, memandang balik pemuda dengan nampan berisi teh di kedua tangannya. Pada saat-saat seperti ini, ketika pendapat dan kehadirannya tidak lagi mendapat perhatian dari para atasan dan penyusun strategi perang, rasanya lega masih ada bocah yang memastikan dirinya tidak ketinggalan informasi.

“Baik sekali kamu, beralasan mengantarkan teh di kantorku untuk memberikan salinan telegram ini,” ujar Arthur, merasa perlu untuk mengawali pembicaraan dengan celetukan.

Wajah pemuda itu sedikit memerah. “Soalnya, dilihat dari mana pun, tetap saja terasa ganjil,” balas si pemuda. “Semua agen rahasia di Inggris diminta untuk mengirimkan pesan dengan ejaan dan grammar yang berantakan. Kita semua tahu itu. Bahkan, aku yang bukan agen lapangan pun juga tahu.”

Arthur menganggukkan kepala. “Bawa kemari tehnya.” Setelah ia mengatakan itu, si pemuda mendekat dan meletakkan teh di atas meja Arthur. Sebelah tangan Arthur terjulur untuk meraih cangkir, dan mereguknya sekali-dua kali, lalu meletakkannya kembali pada tatakan. Selama itu, pandangan Arthur tidak terlepas pada lembaran di tangan yang satunya lagi.

Pesan ini rapi. Terlalu rapi. Apabila hanya satu agen yang melakukannya, mungkin ia bisa menganggapnya angin lalu dan percaya bahwa hal itu adalah sebuah kesalahan. Mungkin, agen itu luput untuk memberikan kesalahan ejaan dan tata bahasa karena perlu mengirimkan pesan dengan buru-buru. Akan tetapi, sejauh ini, seluruh agen rahasia yang dikirim oleh Divisi N melakukan “kesalahan” itu. Mencurigakan.

“Hanya dari Divisi N saja?” tanya Arthur. Divisi N, N untuk Netherlands, adalah divisi yang mengirimkan suplai makanan dan senjata ke Belanda, sekaligus menjaga komunikasi dengan agen-agen rahasia Inggris yang dikirimkan ke sana.

“Sejauh ini, sepertinya iya,” jawab pemuda itu. Kedua matanya berserobok dengan mata Arthur—membuatnya cepat-cepat menundukkan kepala. “Dan nggak ada yang percaya padaku.”

“Aku percaya.”

Pemuda itu menengadahkan kepala. Arthur mengamatinya. Masih muda. Mungkin usianya awal 20-an. Bocah yang cukup cekatan dalam pekerjaannya, lamban dalam membuat keputusan, mahir membuat teh, dan mahasiswa jurusan kriptografi yang kemampuan akademiknya biasa-biasa saja. Sudah dua kali melakukan tes kecakapan sebagai agen lapangan, tetapi dua-duanya tidak lulus.

“Tapi …,” sahut pemuda itu, sepertinya tersentuh karena Arthur membelanya, hanya saja merasa perlu untuk tetap menyela, “walaupun dugaanku ini dipercaya olehmu, itu tetap membuatku nggak bisa melakukan apa pun.”

“Kamu memang nggak bisa,” ujar Arthur, “tapi, kita bisa. Newt, apakah kamu tahu aku ini siapa?”

Pemuda itu, Newt, tergagap. Kentara apabila ia tidak siap dengan pertanyaan itu. Di sisi lain, Arthur malah menikmati ekspresi bingung si pemuda. Ia berani bertaruh bahwa tidak ada seorang pun di gedung ini yang mengetahui jati dirinya sebenarnya.

“Eh … perwakilan dari anggota kerajaan?” tebak Newt. “Tidak ada yang tahu kenapa kamu di sini. Tidak ada yang tahu juga kenapa bisa-bisanya ada ruang kantor tersendiri untukmu di gedung ini. Tapi, Perdana Menteri bersikeras agar kamu disegani, tanpa memberikan alasannya … dan dari pengamatanku, nggak ada atasan yang mau repot-repot menghormatimu … jadi, kusimpulkan kamu dari anggota kerajaan, soalnya itulah sikap kami kepada mereka; hanya menghormati di depan kamera saja.”

Arthur tidak bisa menahan senyumnya. Diam-diam, ia sepakat apabila hasil tes menyatakan Newt tidak lulus uji kecakapan agen lapangan. Semakin bocah ini panik, maka justru semakin banyak informasi yang ia beberkan. Tapi, justru itulah yang membuat Newt cocok diserahi sebuah pekerjaan yang akhir-akhir ini dipikirkannya.

“Newt, cobalah lulus sebagai agen lapangan,” kata Arthur. “Kalau sudah lulus, kamu akan kutempatkan di Divisi N. Ada pekerjaan yang harus kamu lakukan.”

Newt membuka mulut, seperti akan memprotes, tetapi akhirnya diam. Ia mengangguk dan pamit pergi. Arthur menatap pintu yang tertutup itu selama beberapa saat, sambil menyimak suara ketukan di meja yang dibuat oleh jemarinya sendiri. Setelah ini, ia perlu bicara pada Ludwig.

 

ACT II

(Ludwig membuka mata dan mendecih kesal. Sekelilingnya lembap. Terdengar suara hujan sayup-sayup; sepertinya hujan deras, tetapi tidak sederas itu untuk dapat menembus kanopi hutan.

Ya, ia di hutan. Kalau begitu, artinya ia harus segera mencari jalan keluar untuk ke pantai, lalu berharap ada Arthur di sana, sebab hanya pantai yang mempertemukan mereka. Itu pun hanya bisa terjadi apabila Arthur punya keinginan untuk melabuhkan kapalnya di pelabuhan. Ludwig menoleh ke kanan-kiri, menunggu dipandu oleh naluri.

Toleh kanan. Intuisinya tidak mengatakan apa pun. Bahkan, intuisinya justru menyuruhnya untuk menoleh ke kiri—dan Ludwig melakukan itu: ia tolehkan kepala ke kiri, melihat seseorang terhuyung-huyung berjalan dengan tangan berpegang pada batang pohon—itu Arthur.

“Arthur!”

Begitu ia berteriak, kelebatan bayangan itu dilihatnya jatuh terduduk. Terdengar suara gedebuk keras—Ludwig tidak bisa membedakan apakah itu bunyi di telinganya atau berbarengan dengan detak jantungnya seperti berdentam menggetarkan nyawanya—ia berlari, mendekat, napas memburu, kakinya beberapa kali tersangkut akar pohon, tetapi Ludwig tidak jatuh. Bukan saatnya untuk jatuh.

“Hei!” Sapaan itu sudah sangat ingin ia lontarkan—betapa perjalanan berlari mendekati Arthur tadi terasa seperti selamanya. Ludwig menepuk pundak Arthur. Basah. Berarti, memang hujan. “Kamu nggak papa? Apakah—”

“Aku nggak papa,” jawab Arthur. Ia ngos-ngosan, membuat Ludwig sadar kalau dirinya juga terengah-engah. “Ini bukan luka atau apa, Ludwig. Aku hanya capek, mencarimu ke sana kemari. Jadi ketika aku dengar kamu memanggilku, aku langsung duduk, karena aku tahu kalau kamu akan lari mendekat. Selingan sialan.”

Ludwig tidak tahu harus berkata apa, tapi, “Oh.” Hanya itu yang bisa ia katakan.

Karena Arthur tidak juga mengganti posisi duduknya, maka Ludwig ikut duduk di hadapannya. Ditunggunya hingga Arthur selesai mengatur napas selagi dirinya juga melakukan hal yang sama.

Selingan. Begitulah mereka menamai momen ini.

Sekali dalam beberapa malam, mereka akan dipertemukan dalam mimpi yang sama. Mereka memutuskan untuk menyebutnya “selingan”, sebab—sesuai namanya—kejadian ini tak dinyana hanyalah sebuah selingan dalam kehidupan mereka yang penuh huruhara. Seolah-olah dunia nyata menculik mereka berdua dari keributan perang untuk beberapa saat, menempatkan keduanya dalam adegan selingan; sekadar untuk bernapas. Selingan. Tanpa peristiwa, tanpa kejadian istimewa.)

 

ACT III

Berlin, Jerman

Terdengar suara ketukan di pintu. Ludwig menyahut, “Masuk,” dan begitu muncul seorang pemuda yang biasanya memberikan kabar soal agen-agen rahasia Inggris yang tertangkap, Ludwig menghela napas, tahu soal apa yang kira-kira akan dikatakannya.

“Ludwig, hari ini …”

Ludwig berdiri dari kursinya. “Jawab antara ‘ya’ dan ‘tidak’, Thomas,” potongnya, nadanya campuran dari kesal dan terburu-buru, seolah-olah pemuda yang baru saja masuk ruangannya ini hendak melaporkan kabar soal kalahnya Jerman dalam pertempuran. “Makanan-makanan yang disuplai dari London ke Groningen sudah diamankan?”

Pemuda itu, Thomas, terdiam sejenak. “Ya, sudah.”

Ludwig mengambil jalan memutari meja agar bisa berjalan melintasi ruangan. “Pesawat penyuplai makanannya sudah ditembak jatuh?”

“Ya, sudah juga.”

Ludwig berjalan mondar-mandir. “Lalu, kita sudah mengirimkan laporan palsu lewat saluran komunikasi Divisi N yang kita bajak, mengabarkan kalau makanan sudah sampai dan distribusikan ke para agen rahasia di Inggris dan pergerakan bawah tanah anti-Jerman di Belanda, dan kita menunggu suplai senjata dan agen tambahan?”

Thomas meringis. Pertanyaan yang diajukan Ludwig sangat spesifik. “Ya, itu juga sudah.”

“Mereka sudah memberi balasan, dan sejauh ini tidak ada tanda-tanda kecurigaan dari mereka?”

“Itu juga iya.”

Ludwig berhenti berjalan, lalu menatap ke arah Thomas. Pemuda di hadapannya ini hanyalah mahasiswa biasa yang menekuni bidang kimia. Bukan agen lapangan, jadi sebetulnya tidak perlu sampai tahu informasi perihal prestasi Jerman membajak saluran komunikasi Divisi N segala. Tetapi karena Thomas juga bertugas untuk menjadi perantara pesan antara situasi luar kepada Ludwig, tentu ia mau tidak mau terpaksa mempelajarinya.

“Aku nggak yakin apakah kamu tahu soal ini, Thomas, tapi, sudah berapa agen rahasia Inggris di Belanda yang ditangkap?”

“Oh, aku tahu,” sahut Thomas. “Karena angkanya bagus, jadi bahkan para peneliti obat-obatan di laboratorium tahu semua. Jumlahnya genap lima puluh.”

Ludwig mondar-mandir lagi. Ada lima puluh agen rahasia Inggris ditangkap, ditambah suplai makanan, senjata, hingga obat-obatan—beraneka macam bubuk, racun, dan cairan mematikan yang sedang diteliti oleh Thomas dan teman-temannya dalam laboratorium mereka. Bersamaan dengan itu, Jerman telah dengan gemilang membajak saluran komunikasi dan mengirimkan pesan-pesan palsu kepada Inggris. Hal itu terus berlangsung selama dua tahun.

“Dua tahun, Thomas.” Ludwig berhenti berjalan. Ia membentuk angka dua dengan jarinya, dan mengamatinya seperti sedang terpekur pada teka-teki silang yang rumit. “Selama dua tahun, kita telah menyapu bersih agen rahasia Inggris di Belanda dan secara lancar melakukan komunikasi dengan mereka. Kita minta agen baru, dikasih. Kita minta makanan, kita minta senjata, kita minta obat-obatan, semuanya dikasih.”

Thomas diam saja, meringis sendiri. Selama dua tahun, Ludwig suka sekali meracau di topik ini. Selama dua menit, ia akan meracau soal betapa gobloknya orang-orang Inggris yang terlalu angkuh dan pongah untuk menyadari bahwa saluran komunikasi mereka dibajak, dan pada dua menit berikutnya, ia akan ragu-ragu pada racauannya sendiri dan menjadi waspada apakah ini jebakan dari Inggris.

“Masa sih mereka sebodoh ini, Thomas? Mana mungkin, kan? Apakah ini strategi mereka?”

Tuh, kan. “Ludwig, selama dua tahun ini, kamu sudah menduga kalau ini jebakan,” ujar Thomas. “Dan selama dua tahun pula, mereka teperdaya dan terus berupaya menyambung komunikasi dengan Divisi N. Jelas-jelas ini bukan jebakan, mereka hanya semata-mata lengah saja.”

Ludwig bersedekap. Ia menatap kedua sepatunya, memikirkan kemungkinan itu. Dipejamkannya mata dan menganggukkan kepala. Ia memikirkan sebuah pekerjaan untuk diberikan pada bocah di hadapannya ini, tetapi sekarang belum waktunya untuk mengatakannya. “Baiklah, terima kasih untuk informasinya, Thomas, kamu boleh pergi. Aku mungkin akan butuh bantuanmu nanti.”

Dengan masih memejamkan mata, Ludwig mendengarkan bunyi pintu dibuka dan ditutup. Thomas sudah pergi. Ludwig menyimak suara napasnya sendiri. Setelah ini, ia perlu bicara pada Arthur.

 

ACT IV

(Hanya ada tiga area besar dalam selingan: hutan, laut, dan pantai. Hutan adalah teritorial Ludwig—pertama kali ia dijerembapkan dalam dunia ini, ia dibuat familier dengan bau tanah dan angin basah. Laut adalah teritorial Arthur—ia mendapati dirinya sendiri tahu-tahu sedang berlayar dalam kapal, seketika disambut dengan beraneka insiden, mulai dari sedang menerjang badai hingga hampir menabrak batu karang.

Pantai adalah yang mempertemukan keduanya. Sekalipun demikian, begitu sukar untuk dapat mencapai pantai ketika mereka tidak tahu tepatnya mereka di mana; Ludwig bisa jadi berada di kedalaman hutan tanpa bisa mendengar suara debur ombak, pun Arthur bisa ditempatkan di tengah-tengah laut ketika matanya takbisa menemukan titik terang keberadaan pulau.

Suasananya bisa sedang berangin, bisa hujan deras, bahkan bisa gelap malam. Hanya saja, pada saat itu, keduanya seperti punya satu tujuan, dan semesta mendukung mereka. Cuacanya cerah, Ludwig mampu menemukan tempat keluar dari hutan dengan baik, dan begitu ia mencapai pantai, kapal Arthur baru saja berlabuh.

Ludwig menghampiri kapal Arthur, dan dilihatnya juga Arthur turun dengan langkah kakinya yang cepat—terkesan tegas dan begitu tegap, tetapi Ludwig tahu bahwa ia sedang tergesa-gesa, sama sepertinya. Ada banyak hal yang ingin Ludwig katakan dalam kepala, tetapi begitu mereka telah memasuki jangkauan pendengaran masing-masing, seketika lidahnya kelu.

Akhirnya, Arthur yang berkata lebih dahulu, “Aku bukan bodoh. Aku tahu saluran komunikasi Divisi N sudah dibajak olehmu.”

Ludwig mengangkat alis. Ia teringat Thomas, lalu tersenyum, karena dirinya benar. Inggris tidak pernah lengah—setidaknya, sekalipun bisa jadi Inggris lengah, tetapi tidak pernah Arthur. Kepercayaannya pada Arthur ternyata tidak mengkhianatinya; ia begitu menghormati Arthur hingga sangat yakin bahwa Arthur takkan sebodoh itu. “Aku tahu,” katanya.

Jawaban itu membuat Arthur yang gantian mengangkat alis, dan ikut membalas senyum itu. Ia mengangkat bahu. “Sayangnya, identitasku tidak diketahui oleh para atasan organisasi. Apa boleh buat. Aku jadi tidak punya kuasa meyakinkan mereka.”

Ludwig menganggukkan kepala. Masuk akal. Sepanjang perang ratusan tahun yang mereka lalui, ada kecenderungan bahwa para personifikasi negara tidak membeberkan wujud mereka pada orang-orang tinggal dalam ruangan; entah operator radio, organisasi penyuplai agen rahasia, atau peneliti di laboratorium. Kebanyakan orang yang mengetahui kenyataan soal personifikasi negara adalah mereka-mereka yang terlibat langsung dalam perang: jenderal, kapten, atau bahkan anggota satuan tempur.

Ia yang mula-mula tergagap dan lidahnya kelu jadi menemukan suaranya. Dipandanginya Arthur dengan serius, dan diajukannya sebuah pertanyaan yang takkan Ludwig tawarkan apabila percakapan ini berlangsung di dunia nyata, Mau kubantu?)

 

ACT V

Groningen, Belanda

Newt menaut-nautkan jemarinya untuk menjaga agar napas tenang terkontrol. Suara dengung RAF, Royal Air Force, pesawat angkatan udara Inggris yang sedang ia naiki ini, terdengar menderu-deru di telinganya. Beberapa waktu lalu, Divisi N telah mengirimkan makanan dan senjata ke Groningen, dan kini akan mengirimkan agen. Agen tersebut adalah dirinya. Ia akhirnya bisa lulus agen lapangan setelah tes kali ketiga. Susah juga. Akhirnya ia bisa dengan percaya diri mengatakan kapabilitas menembaknya jitu dan kemampuan bahasa Jermannya jago.

Dari jendela pesawat, Newt mengenali struktur kota Groningen yang terletak ribuan kaki jauhnya. Sebentar lagi ia mendarat, lalu mati. Newt menggeritkan giginya, menahan diri agar tidak gemetaran. Ia satu-satunya anggota organisasi yang percaya bahwa lima puluh agen rahasia yang diterjunkan ke Belanda semuanya sudah mati, dan apakah ia betul-betul akan mati begitu saja? Kabarnya, Arthur akan memberinya pekerjaan untuk dilakukan, tetapi, Arthur di mana?

Degung RAF makin keras ketika seharusnya mereka sudah melambatkan laju dan mendarat. Newt mengerutkan kening. Lamunannya terjeda. Tunggu dulu, ia mau dibawa ke mana?

“Newt.”

Ada panggilan. Newt menengadahkan kepala. Bola matanya melebar ketika menyadari siapa pilot yang mengendalikan pesawat ini. “Arthur?” serunya heran campur takjub. Mulai ada pertanyaan dalam benaknya. Siapa sebetulnya manusia ini? Newt tidak pernah tahu bahwa Arthur bisa mengemudikan pesawat. Ada pertanyaan-pertanyaan lain berkejaran, tetapi bukan saatnya berfokus pada rumusan masalah itu untuk sekarang.

“Ya, ini aku,” sahut Arthur tenang. “Dengar baik-baik. Akan kuberikan pekerjaan untukmu, sesuai yang kujanjikan. Kamu nggak akan kuturunkan di Groningen. Kamu nggak pengin langsung mati, kan?”

Newt terlampau syok untuk bisa membalas langsung kata-kata itu, jadi ia tidak mengatakan apa-apa. Pesawat terus melaju, dan Arthur melanjutkan kalimatnya. “Ada transaksi rahasia antara Inggris dan Jerman. Jerman sepakat untuk berterus terang kepada Inggris kalau mereka telah berhasil membajak saluran komunikasi Divisi N.”

Informasi itu begitu mencengangkan hingga Newt ternganga. “Hah?”

“Ya. Fantastis, kan?” Arthur tertawa. Padahal itu bukan hal yang harusnya ditertawakan. “Jerman mau mengabaikan keuntungan besar-besaran yang mereka dapat dari pembajakan dua tahun ini, dan bersedia menulis surat berisi fakta bahwa selama ini agen-agen rahasia Inggris di Belanda selalu berhasil mereka tangkap.”

Newt tidak dapat langsung menjawab.

“Tapi, tentu saja transaksinya besar.” Tiba-tiba nada bicara Arthur berubah.

Rasanya Newt tidak ingin mengetahuinya. “Apa?” tanyanya hati-hati.

Dengung RAF perlahan-lahan berkurang. Arthur melambatkan laju pesawatnya. “Mereka minta seorang agen jenius Jerman, yang ditawan Inggris dalam Perang Britania, dikembalikan.”

“Oke ….” Newt berusaha menyerap satu demi satu fakta, sekalipun dengan lambat-lambat. “Lalu, apakah kita akan menjemput agen jenius itu? Apakah tempat pendaratan kita sekarang adalah tempat di mana Inggris menawannya?”

Pesawat berhenti. Pintu terbuka. Arthur membalikkan badannya, untuk terakhir kalinya menatap Newt. Senyum bermain-main di wajah, dan melanjutkan pembicaraan dengan kalimat yang paling mengada-ngada yang pernah Newt dengar seumur hidupnya, “Bukan. Kita mendarat di Steenwijk, tempat transaksi pengembalian agen itu. Dan kita nggak membawa agen yang disepakati. Sebagai gantinya, kamu menyamar jadi agen itu.”

Newt terpaku. Tunggu dulu. Tunggu dulu. Apa?

“Sekarang, turun!”

Ia turun dari pesawat dengan langkah perlahan selamban kura-kura. Otaknya masih belum berfungsi. RAF yang ditumpanginya seketika kembali mengangkasa, meninggalkannya sendirian dengan seluruh rencana yang musnah berkeping-keping. Instruksi soal apa-apa yang harus dia lakukan pascamendarat di Groningen musnah sudah, tergantikan dengan instruksi baru yang tidak keruan sintingnya.

Apaaaaaaa?

 

ACT VI

(Kali ini, Arthur tidak turun dari kapalnya. Alih-alih menghampiri Ludwig yang sudah menunggu di dermaga, Arthur justru menurunkan papan bidang miring dari kapal, seperti meminta Ludwig menaikinya—dan itulah yang ia lakukan. Begitu kedua kaki Ludwig menapak di geladak, kapal kembali berlayar. Ludwig mengerutkan kening.

“Mau ke mana?” tanya Ludwig.

“Menyusuri laut,” jawab Arthur sekenanya. “Kita harus bersantai. Biar tidurnya nyenyak.”

Ludwig tidak membantah. Ia tahu yang dimaksud oleh Arthur. Malam terakhir saat keduanya bertemu di selingan, mereka berdua membicarakan soal transaksi rahasia antara Inggris-Jerman, perihal pertukaran antara agen rahasia Jerman dan informasi pembajakan saluran komunikasi Divisi N kepada Inggris, dan perbincangan serius itu mengakibatkan Ludwig sakit kepala dalam bangunnya. Bahkan tubuhnya linglung dan suaranya serak sepanjang hari.

Diedarkannya pandangan. Sebelah tangannya berpegangan pada pinggiran kapal. Cuaca mendung. Ombak di kejauhan seperti makin mengganas saja rasanya. Tapi, di ujung sana memang awan sangat tebal, berbeda dengan awan yang menaungi keduanya, jadi asalkan Arthur tidak melayarkan kapalnya jauh-jauh, tidak ada masalah. Ludwig setengah melamun saat berkata, “Aku ingin seperti Bumi.”

Ia memutar ulang suaranya dalam kepala, dan kebingungan sendiri. Diliriknya Arthur yang sedang memunggunginya, memandangi laut dari buritan. Untuk sesaat, pemuda itu tidak tampak bereaksi, jadi Ludwig pikir Arthur tidak mendengarnya. Diarahkannya lagi pandangan pada laut.

“Aku juga,” sahut Arthur.

Ludwig menoleh. Kini, Arthur menatapnya. “Karena terus berputar,” lanjut Arthur.

Tatapan Arthur seperti menguncinya; membuatnya tidak dapat—atau tidak boleh—berpaling ke arah lain. Maka Ludwig menyuarakan apa yang ada di kepalanya, “Dan tidak peduli.” Ludwig mendengar suaranya sendiri seperti gumaman.

“Tidak peduli dengan kaya-miskinnya negara.”

Ada yang berdesir di hati Ludwig saat mendengar Arthur mengatakannya, pun saat ia melanjutkannya pula dengan pemikiran yang membebankannya, “Atau menang-kalahnya perang.”

Arthur tidak menambahkan lagi. Ludwig juga berharap obrolan saling lempar keduanya berhenti di situ saja. Keduanya membagi senyum, dan kembali sibuk menyimak suara angin, mengirup aroma laut. Keduanya kerasan dalam dunia serbasementara ini; tidak mau pergi, tidak mau terbangun, tidak mau kembali pada urusan-urusan dunia dan perulangan sejarah. Tidak mau; keduanya tidak pernah mau, sebetulnya.)

 

//membebas

aku ingin seperti bumi. selalu
berputar. tidak peduli
kaya-miskinnya negara,
menang-kalahnya perang, atau
menjadi-tidaknya kita.

aku ingin tidak peduli.
bodoh amat, negara:
apakah kamu tidak bisa hidup
tanpaku, keputusan-keputusan
pentingmu bergantung pada
langkah-langkah kecilku, atau
hatimu tersayat-sayat oleh
kata-kataku.

aku ingin aku hanya aku.
membebas, menjadi terpisah,
selalu sendiri, selalu satu, dan tidak
menginginkanmu.

 

ACT V

Steenwijk, Belanda

THOMAS

Thomas menyaksikan pesawat angkatan udara Inggris mula-mula mendarat, menurunkan seseorang, lalu kembali terbang. Dieratkannya genggaman pada map cokelat yang sejak tadi dibawanya. Seseorang yang habis diturunkan itu pastilah agen jenius Jerman yang ditunggu-tunggu oleh Ludwig. Ingat apa tadi kata Ludwig? “Tegakkan badan, Thomas, buatlah ia percaya kalau yang menyambutnya adalah agen Jerman yang sama. Sampai saatnya tiba, berpura-puralah menjadi agen Jerman.”

Maka Thomas menghampirinya. Mengadang, lebih tepatnya. Ia tahu-tahu muncul dari balik tiang sampai-sampai si agen jenius terlompat saking kagetnya, membuat Thomas ikutan kaget juga.

“Kamu ….” Sosok itu berkata, tapi terhenti di tengah-tengah.

Thomas mengangguk. “Aku diutus oleh Jerman ke sini. Instruksinya adalah aku menjemputmu dan mengajakmu ke suatu tempat yang sudah ditentukan.”

Lawan bicaranya terdiam sesaat. Thomas memperhatikan warna wajah pemuda itu mulai muncul kembali setelah sejak tadi pucat pasi, seolah-olah darah yang mengalir berhenti begitu mencapai leher. Usia mereka sepertinya sepantaran. Pemuda itu menarik napas panjang, dan menganggukkan kepala. “Panggil aku Newt,” ujarnya dengan bahasa Jerman yang fasih.

Thomas mengangguk. Ia sendiri tidak tahu nama si agen, dan tidak mau repot-repot pula memastikan. Ia tahu bahwa agen bisa mengubah namanya sesuai kepentingan mereka, dan sekalipun ia juga punya kewenangan itu, ia tidak mau repot-repot melakukannya juga. “Thomas,” balasnya.

“Oke, Tommy, kamu akan membawaku ke mana?”

Tommy, katanya! Thomas mengangkat kedua alisnya, sedikit terguncang, entah kenapa merasa terintimidasi dengan lawan bicara yang seenak jidat memberi nama panggilan untuknya. Biar bagaimanapun juga, yang ada di hadapannya adalah agen sungguhan sementara dia adalah agen abal-abal, jadi bukan hal yang mengherankan apabila seluruh persendian tubuhnya merasa kaku, kecil, dan kalah.

Ia menyamarkan keterkejutannya dengan batuk-batuk beberapa saat, lalu menyesuaikan diri dengan cepat. “Ada tempat makan di dekat sini. Aku bawa dokumen dalam map untuk ditunjukkan, dan di sana juga ada seseorang yang akan bertemu.”

Mungkin hanya perasaannya, tetapi Thomas merasa air muka pemuda di hadapannya ini, Newt, kembali memucat. Tetapi ia berusaha keras agar tampak tenang. “Kamu tahu dokumen apa itu dan siapa yang akan menemui kita?”

“Sama sekali nggak.” Thomas menjawab jujur. Daripada menerima pertanyaan-pertanyaan susah yang sangat mungkin takdapat ia jawab lainnya, dipercepatnya langkah; ia sengaja jalan di depan agar memperlebar jarak keduanya.

 

NEWT

Kalau boleh terus terang, sebetulnya Newt ketakutan setengah mati. Sosok yang berjalan di depannya ini—yang langkah kakinya mantap dan tegas ini—tentulah agen rahasia sungguhan, berbeda dengannya yang hanyalah agen abal-abal. Ia tidak peduli manusia bernama Thomas ini akan membawanya ke mana, sebab kepalanya penuh oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan menyambutnya setelah ini. Cepat atau lambat ia pasti ketahuan.

Paling tidak, ia harus menunggu sampai Jerman memenuhi janjinya untuk memberikan informasi pada organisasi bahwa saluran komunikasi Divisi N telah mereka bajak. Apabila hal itu sudah dilakukan, terserah nasib apa yang akan menimpanya. Newt sudah merasa lega bahwa keberadaannya bisa berguna. Selama bertahun-tahun sejak meletusnya perang, ia bersikeras memberikan citra kalau ia jago kriptografi, tetapi semua itu demi tidak bergabung dalam satuan tempur. Sungguh memalukan dan pengecut.

Keduanya sampai di sebuah tempat makan yang sepi. Tidak ada siapa pun di situ. Pelayan yang menyambut mereka adalah seorang pemuda jenjang, rambutnya pirang menyala dengan jabrik menyembul keluar, jabrik yang kaku habis diminyaki, seperti tanduk. Newt memandangi pelayan itu dan rupanya tatapannya berbalas—memberinya sensasi horor dan menciut, seperti tubuhnya mengecil dengan sendirinya.

Begitu keduanya duduk, Newt taktahan lagi. Ia harus cepat-cepat menenangkan diri dengan memperoleh informasi kapan ia perlu berusaha menipu identitasnya. “Sebelum kamu bicara, jawab aku dulu,” ujarnya, mengubah suaranya menjadi setegas yang ia bisa. “Kapan Jerman akan melunasi transaksinya?”

Ditatapnya Thomas. Pemuda itu menatapnya lurus-lurus. Terkejut dan tidak siap. Ia bahkan bengong, perlu mengerjapkan mata dengan cepat seperti berusaha agar tetap sadar. “Eh, apa?”

Newt mulai merasa ada yang aneh, tetapi diabaikannya kecurigaan itu. “Transaksi ini. Pertukaran antara aku dan sebuah informasi berharga. Kamu perlu mengabarkan kedatanganku pada Jerman, agar mereka bisa mengirim pesan pada Inggris sesuai perjanjian yang telah disepakati—”

“Berhenti di situ. Maafkan aku,” potong Thomas tiba-tiba. Diangkatnya kedua tangan. Wajahnya tegang dan air mukanya pucat, seperti darah hanya mengalir hingga leher saja.

Newt terpaku. Ada apa?

Tetapi, sebelum ia bertanya, Thomas sudah mengusap kepalanya, mengelap keringat dingin yang mendadak membanjiri kening. “Aku … oke, sesungguhnya aku bukan agen Jerman. Aku hanya mahasiswa kimia, yang beralasan ingin berkontribusi di laboratorium saja agar tidak perlu pergi perang, dan kini aku diperintahkan Ludwig untuk menemanimu membaca dokumen dalam map dan bertemu dengan seseorang. Hanya itu. Aku sama sekali nggak mengerti yang kamu bicarakan.”

Keduanya tidak ada yang bersuara.

Newt berkedip. Dua kali. Ia seperti melihat dirinya, yang beleber tak keruan apabila panik. Apabila suasananya lebih ringan dan tidak mengancam nyawa, pastilah ia tertawa. Namun … wow. Plot twist. Ia tidak menyangka ini.

“Kamu nggak mau mengatakan sesuatu?”

Thomas sudah bersuara lagi. Newt taktahu apa yang ia pikirkan, tetapi hanya ada satu kenyataan dalam pikiran yang takmungkin bisa dibendung lagi—apabila ia tidak mengaku sekarang, maka takkan ada momen penguakan jati diri yang berkemungkinan besar untuk damai lebih dari ini, “Aku bukanlah agen tawanan yang kalian maksud, sebetulnya.”

 

ACT VI

(Kali pertama Ludwig melihat Thomas adalah dari kejauhan. Pemuda itu sedang mondar-mandir ke sana kemari di kampus, mencari dosen untuk dimintai tolong membuatkan surat rekomendasi mengenai kepiawaiannya dalam bidang kimia. Waktu itu, Ludwig menganggapnya angin lalu, seperti gedebuk bongkah kayu di dalam hutan yang tak memberi perubahan apa pun.

Namun, ketika keluhan-keluhan gagalnya eksperimen terus berdatangan di tahun-tahun pertama perang, Ludwig tahu bahwa ia harusnya memperhatikan peristiwa sepintas itu lebih besar. Saat ia menyuarakannya sendiri dengan memanggil Thomas dalam ruangan, akhirnya kecurigaan itu terbukti; bahwa ia hanyalah mahasiswa kimia biasa-biasa saja, prestasi dan penelitian yang sempat ia raih dan publikasikan itu takkan bisa dia miliki tanpa fasilitas dan pengawasan kampus. Semata-mata ia memunculkan citra ahli kimia agar tidak perlu berpartisipasi dalam satuan tempur.

Ludwig selalu memikirkan itu, sesekali, atau beberapa kali. Ia ingin memberikan solusi agar Thomas bisa keluar dari laboratorium, atau setidaknya melanjutkan studinya yang tertunda—sebab pemuda itu walaupun payah tapi sepertinya mau belajar, terbukti makin bertambahnya tahun maka laporan gagalnya eksperimen berkurang—di tempat yang mau membantunya berkembang tanpa memandangnya sebagai aset perang.

Keinginan itu berangsur-angsur dapat terwujud dalam transaksi rahasia yang dibuatnya bersama Arthur. Thomas dipekerjakan sebagai agen abal-abal dari Jerman agar bisa dikirim ke Belanda. Agen yang ditawan oleh Inggris itu tentu bisa mencari cara mengontaknya sendiri tanpa bantuan Thomas. Dengan begitu, maka Thomas dapat memulai lembaran baru di Belanda; ia bisa belajar, ia bisa bekerja, ia bisa mencari penghidupan di tempat yang lebih banyak kesempatan terbuka baginya.

“Apakah agen yang kaukirim untuk menjemput agen yang kutawan dalam Pertempuran Britania bukan agen sungguhan?” Tahu-tahu, tanpa tedeng aling-aling, Arthur bertanya padanya ketika mereka berpapasan dalam selingan.

Ludwig tidak sempat memikirkan kebohongan, dan ia pun takmau menipu Arthur. “Kamu pasti melihat dia dari RAF yang kamu piloti,” keluh Ludwig, mengakui kejelian Arthur dalam membaca pembawaan seorang agen rahasia. Ia sendiri sudah membayangkan kalau Thomas akan bersembunyi di balik tiang atau pohon alih-alih memajang badannya selayaknya profesional. “Iya. Aku ingin dia bebas.”

Arthur tidak memberi tanggapan. “Hmmmm.” Ia hanya menggumam.

Ada yang aneh dari gumaman itu. Ludwig mendongak. Ratusan tahun ia mengenal Arthur, ia tahu bahwa pemuda itu sedang menahan senyum. Jangan-jangan … “Tunggu,” sela Ludwig, mulai was-was, “kamu nggak mengirim agen tawanan sungguhan ke Steenwijk, ya?”

Arthur tidak menjawab, tetapi ada senyum yang dengan cepat terbentuk, apabila Ludwig berkedip maka ia pasti melewatkannya.

“Hei!” seru Ludwig. Sialan. Dasar licik! Ia mencipratkan air laut sekuat tenaga ke muka Arthur. Keduanya sedang membasahi sepatu dan celana mereka dengan memasuki teritori laut. Permukaan air setinggi lutut mereka. Arthur tertawa dan mencoba berlari menjauh, tetapi tentu saja langkah kakinya berat karena air. Ludwig menyerangnya dengan cipratan air bertubi-tubi. “Kurang ajar! Aku sudah kirim surat ke London, Arthur!”

Teriakan-teriakan itu penuh makian, tetapi Ludwig melakukannya dengan ringan dan tanpa rasa marah. Jauh di dasar hatinya, ia percaya diri bahwa Arthur memang akan melakukan itu. Memang mirip, pikir Ludwig. Mereka berdua sungguh mirip.)

 

ACT VII

London, Inggris

Setibanya Arthur dalam gedung, ketegangan senyatanya dapat ia rasakan. Ia berusaha memasang tampang serius, menanyakan apakah ada yang terjadi, kemudian untuk belasan menit menuruti kepanikan dengan mondar-mandir menghampiri satu per satu atasan. Setelah selesai memberi solusi—untuk pertama kali sarannya didengar—akhirnya ada waktu bagi Arthur memasuki ruang kerja, dengan salinan surat dari Jerman di tangannya.

 

Yang terhormat,
Para pekerja operator di SOE (Special Operations Executive)
di London.

Kami tahu bahwa selama ini kalian mempunyai urusan di Belanda yang sebisa mungkin tidak ingin diketahui oleh kami. Oleh karena itu, kami pikir ini tidak adil untuk menyembunyikan fakta dari kalian, bahwa kami—secara sukses dan berkepanjangan—telah turut campur dalam operasi ini bersama dengan agen-agen yang kalian kirim.

Tapi, tidak ada masalah. Kapan pun kalian hendak membalas budi kami, yakinlah bahwa kalian akan mendapatkan pelayanan sebaik mungkin dari kami. Sebaik kami melayani suplai agen, makanan, dan persenjataan yang kalian kirim sebelumnya.

Sampai bertemu.

 

Arthur menyeringai. Pesan yang begitu kurang ajar dan angkuh. “Sialan,” ujar Arthur, bicara sendiri dengan senyum tak terhapus dari wajahnya. Pantas saja menggegerkan satu gedung. “Kerja bagus, Ludwig.” Dengan begitu, maka perusahaannya akan melakukan evaluasi besar-besaran terhadap kode komunikasi para agen selama ini. Baguslah.

Dilipatnya kembali surat itu, dimasukkannya ke dalam laci meja. Menyebalkan, tentu, tetapi bagi Arthur, hanya Ludwiglah yang ia izinkan untuk bicara sebegitu sinis. Kalau mereka dipertemukan lagi dalam selingan, rasanya Arthur ingin menyiram Ludwig dengan seember air laut bau ikan.

 

ACT VIII

(Arthur sering mendengar suara hela napas yang panjang. Helaan napas itu terdengar sebelum terdengar suara ketukan di pintu ruangannya, dan ada lagi ketika seseorang baru saja keluar dan pintu baru saja tertutup. Newt selalu menghela napas panjang sebelum dan sesudah memasuki ruangannya.

Awalnya, Arthur tidak peduli. Banyak hal yang harus ia pikirkan, strategi untuk disusun, pertempuran untuk dimenangi, dibandingkan mempertanyakan helaan napas bocah kriptografi yang gagal lulus uji kecakapan agen lapangan dua kali. Hanya saja, semenjak ia selalu terjerembap dalam selingan ini, ia jadi mengisi waktu tidurnya dengan memikirkan hal-hal kecil yang remeh-temeh. Seperti perihal kenapa dan bagaimana.

Bagaimana mengakhiri semuanya? Bagaimana perang bisa ia menangkan, atau bagaimana cara melenyapkan kebencian ini sama sekali? Bagaimana cara mengetahui apa yang akan terjadi ke depannya? Kenapa Newt selalu menghela napas panjang sebelum dan sesudah memasuki ruang kerjanya?

Lama-kelamaan, Arthur jadi mengamati. Kadang menahannya sedikit lebih lama di ruangan agar bisa punya kesempatan mengamati lebih lekat. Waktu yang ia butuhkan sebetulnya lebih diperuntukkan baginya untuk tidak terus-menerus menyangkal, sebab jawabannya sudah ada dan terbaca sejak awal, Arthur hanya takmau serta-merta mengakuinya: bahwa Newt ingin bebas. Keluar dari sini. Ke dunia tanpa perang, tanpa urusan-urusan menyita masa depan.

Sama sepertinya, sebetulnya. Ia juga ingin keluar dari sini.

“Hoi!”

Arthur mengangkat kepala. Ludwig sudah tiba di pantai lebih dulu, meneriakinya yang masih berlayar di tepi laut. Dilambaikannya tangan, dan dibentangkannya layar lain yang sebelumnya masih tergulung—memanfaatkan angin laut agar lebih cepat sampai ke daratan. Ironis sekali, bahwa perang membuatnya menjadi akrab dengan Ludwig. Personifikasi negara yang sama sepertinya, yang barangkali ingin keluar dan membebas juga.

Arthur selamanya tahu bahwa ia takkan bisa terbebas dari rantai yang membelenggu dirinya dan negaranya. Sama seperti Ludwig. Ini sudah takdir mereka. Dan daripada mengeluhkan bahwa mengharapkan kebebasan bagi dirinya adalah harapan yang sia-sia, sebaiknya lakukan saja apa yang ia bisa. Mengabulkan harapan seseorang yang peluangnya lebih besar dari dirinya.

Ia yakin bahwa alasan Ludwig mengirim Thomas sama dengan alasannya memberi perintah pada Newt. Keduanya tidak bebas, dan takkan pernah bebas, tetapi mereka bisa melepaskan kebebasan itu untuk seseorang.)

 

ACT IX

Steenwijk, Belanda

Thomas menyerahkan mapnya. “Aku kaget, tapi, sebetulnya nggak begitu kaget,” ucap Thomas, susunan kalimatnya berantakan hingga Newt mengerutkan kening, meskipun terhibur dengan itu, membuatnya lebih rileks. Caranya bertutur seperti anak kecil yang tidak peduli apakah akan menyinggung lawan bicara atau tidak. “Seseorang yang mengirimku bilang begini, ‘Sampai saatnya tiba, berpura-puralah jadi agen Jerman.’”

“Sampai saatnya tiba?”

Thomas mengangguk. “Dan sekarang saatnya,” ujarnya. Ia membuka map cokelat di tangan dan mengeluarkan satu-satunya lembaran dokumen di dalamnya. Di dalam dokumen itu hanya ada sebaris kalimat dengan tulisan besar-besar.

KAMI DI SINI.

Newt mengambil kertas itu. Dikerutkannya kening. Apa maksudnya? Kepada siapa pesan itu ditujukan?

“Yang dimaksud adalah aku.”

Suara itu bukan berasal dari mulut Newt maupun Thomas, tetapi seseorang yang tahu-tahu menghampiri mereka. Keduanya menoleh. Bola mata Newt melebar. Orang itu adalah pelayan dengan rambut jabrik berwarna pirang menyala yang tadi menyambut mereka. Ternyata dia juga bagian dari jalinan percakapan ini.

Willem—personifikasi Belanda yang berkedok pelayan—berdeham. “Panggil aku Willem. Aku membawa sebuah informasi, mohon didengarkan baik-baik,” ujarnya, diam-diam ingin merutuki Arthur dan Ludwig yang memberinya tugas merepotkan. “Dengar. Mereka berdua sudah tahu kalau kalian itu agen abal-abal. Dari awal, mereka tidak mau memberikan misi ini. Itu semua adalah alasan terselubung untuk membebaskan kalian dari negara yang membelenggu kalian.”

Untuk sesaat, belum ada yang bicara.

“Bebas …?” ulang Thomas.

Newt tahu ke mana konteks pembicaraan ini. “Jadi, kami setelah ini bebas? Kalau kami akan bekerja, bersekolah, atau tinggal di sini, itu sebebas kami? Tanpa ada pertanggungjawaban kepada negara untuk …?”

“Persis seperti itu,” jawab Willem, lega karena penjelasannya mudah dimengerti. “Kalian mungkin menganggapku pelayan saja, tapi aku bisa menjamin apa pun yang kalian mau, selama kalian tidak memaksakan diri untuk melawan keadaan sekarang. Belanda sedang di bawah kekuasaan Jerman, memang, tetapi selebihnya, itu saja. Kalian bisa bekerja di sini. Menabung hingga punya uang cukup untuk bersekolah. Itu keinginan mereka untuk kalian.”

Keinginan mereka. Mereka … Arthur dan Ludwig?

“Kamu kenal Arthur?” tanya Newt, mengerutkan kening.

“Atau Ludwig?” sambar Thomas.

Willem menggaruk dagunya. “Hmm. Bagaimana, ya, menjawabnya.” Ia kebingungan sesaat, lalu membayangkan Arthur dan Ludwig. Senyum geli terbentuk di wajah Willem. Aneh sekali. Padahal ia tidak dekat dengan keduanya, tetapi entah kenapa mereka mampu memberinya kekuatan.

Berita-berita yang berseliweran mengenai pertempuran Inggris dan Jerman ini—sekalipun tidak sopan dan terkesan tidak berempati—selalu membuat Willem tersenyum-senyum. Ada-ada saja, Inggris dan Jerman ini. Willem akan mendengar kabar soal keduanya di radio, dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja. Sudah lima tahun berlalu sejak meletusnya Perang Dunia Kedua, tapi mereka ini takpernah bosan-bosannya bertengkar.

“Ya, aku kenal mereka,” jawab Willem. Pembawaannya yang semula canggung kini berubah menjadi enteng dan kalem. “Aku juga yakin kalau inilah yang mereka inginkan untuk kalian.”

Newt dan Thomas berpandangan. Lalu mengarahkan pandangan mereka kembali pada isi surat dalam genggaman. Takbisa dipercaya. Rasanya baru beberapa saat yang lalu keduanya menjalani rutinitas menyesakkan, di tengah perang tak berkesudahan, sementara masa depan mengkhawatirkan dan takjelas hulu-hilirnya. Kini mereka diberi kesempatan untuk bebas, melepaskan diri dari negara mereka, menjadi merdeka.

“Aku nggak tahu cara merumuskannya ke dalam sebuah pertanyaan, sih, tapi …,” sahut Newt, menjeda sebentar, dan menyambung lagi dengan nada ragu, “apakah mereka bukan orang biasa?”

Willem tidak kuasa menahan tawanya, sehingga ia terpaksa tersenyum. “Pendek kata begini,” jawabnya, saat itu juga ia menemukan perumpamaan yang menarik, “mereka adalah orang yang sangat penting, kalian juga menyadari itu, kan?”

Tanpa saling memastikan lebih dulu jawaban masing-masing, keduanya berkata bersamaan, “Ya,” dengan sama tegasnya. Ya, Arthur dan Ludwig adalah orang penting. Entah dalam hal apa, tetapi mereka merasakannya.

Ada deham sedikit dari Willem sebelum melanjutkan lagi. “Ya, keberadaan mereka begitu penting hingga membuat mereka takdapat bebas dari urusan-urusan yang takkalah pentingnya: masa depan negara, politik-pemerintahan, hingga keberlangsungan kehidupan masyarakat.”

Kali ini, Newt dan Thomas berpandangan. Masa depan negara? Keberlangsungan hidup masyarakat? Urusan-urusan itu terlampau jauh dan takterjangkau dari otak kecil mereka yang hanya mengeluhkan perihal soal kriptografi rumit atau eksperimen kimia yang terus-menerus gagal.

“Menurutku pribadi,” sela Willem lagi, “mereka sangat ingin bebas, tetapi sekalipun keinginan itu lebih kuat daripada kalian, mereka nggak bisa melakukannya.” Mereka sangat penting bagi dunia ini hingga takbisa meninggalkannya, ia melanjutkan dalam hati. “Karena mereka sendiri nggak bisa membebaskan diri, akhirnya mereka memberikan kebebasan itu kepada kalian.”

Keduanya membisu.

Willem merasa sudah cukup baginya bicara, jadi ia mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya. Kartu itu diterimanya atas nama Arthur dan Ludwig kira-kira beberapa hari lalu. Ia selalu membawanya ke mana-mana karena tahu bahwa akan ada saatnya kartu ini dibutuhkan, dan rupanya sekaranglah waktunya. “Ini pesan dari mereka kepada kalian. Kalau sudah siap wawancara kerja, panggil saja aku, ya.”

Setelahnya, ia meletakkan kartu itu dan berlalu.

Newt dan Thomas berbagi pandang sebentar, lalu memberi anggukan seperti aba-aba bagi satu sama lain, dan membaca tulisan dalam kartu itu.

Dalam hidup yang sementara ini, abadilah. Tanpa penyesalan. Salam, Inggris dan Jerman.

 

ACT X

(Arthur mengencangkan tali tambang pada ranting pohon. Keduanya berada dalam hutan di dunia selingan. Tali tambang itu ia ambil dari kapal. Ia menuruni pohon, menatap puas pada dua ayunan berjejer hasil karyanya. Ludwig mengangguk-anggukkan kepala dengan ogah-ogahan, seolah-olah berkata, “Lumayan, tidak buruk,” dan mulai menggunakan salah satu ayunan itu.

Arthur menyusul di sebelahnya. Keduanya berayun seperti anak kecil, tanpa obrolan, menikmati angin dan bau tanah. Sekalipun tidak hujan, Arthur merasa bahwa aroma hutan mengingatkannya pada petrikor. Mungkin karena lembap, dan tanahnya selalu basah.

“Kita …,” ucap Ludwig, kemudian diam sesaat, kesulitan menemukan kata-kata yang pas. Bagaimanapun juga, apa yang keduanya lakukan ini melenceng dari banyak segi penilaian: dari logika strategi perang, dari karakteristik keduanya, dari prioritas yang harusnya dilakukan oleh masing-masing dari mereka. Semuanya melenceng. “Kita jadi seperti makcomblang, ya?”

Arthur tertawa. Di antara banyaknya percakapan yang bisa dimulai oleh Ludwig, ia justru memulai dengan pertanyaan itu. “Mungkin,” jawabnya ringan, ia berayun sekuat tenaga. “Tapi, kupikir peran ini tidak buruk juga. Kalau perannya lebih serius dari ini, Ludwig, buat apa dunia ini kita namakan ‘selingan’?”

Ludwig tersenyum.

“Aku mau melakukannya lagi,” ucap mereka berdua. Keduanya tersentak sendiri menyadari mereka mengatakannya bersamaan, menghentikan laju ayunan mereka, lalu saling memandang. Mereka membagi senyum. Lanjut berayun lagi, menikmati keabadian dalam dunia yang sementara ini. Tatapan mata mereka tadi seperti telah menyambung percakapan yang tidak keduanya suarakan.

Tanpa penyesalan?

Tanpa penyesalan.)

Notes:

Referensi historikal:

Pada Perang Dunia Kedua, melalui Operation North Pole atau Englandspiel (England Game), Jerman membajak saluran komunikasi Special Operation Executive (SOE), tepatnya saluran komunikasi Section N (di fanfiksi ini disebut "Divisi N") di mana mereka sukses menangkap hampir seluruh agen-agen dan persenjataan yang dikirim Inggris kepada Belanda. Sebanyak 50 agen terbunuh dalam operasi ini. Englandspiel berjalan dengan gemilang selama dua tahun lamanya, yakni 1942 hingga 1944.

Sebagaimana dalam fanfiksi saya, pada akhirnya Inggris mengetahui informasi ini karena Jerman ngasih tahu HAHAHA. XD Surat yang dikirimkan oleh Ludwig pada ACT VII adalah terjemahan kasar dari isi pesan Letnan Kolonel Hermann Joseph Giskes, pemimpin operasi Englandspiel itu sendiri, kepada SOE. Pesan yang sinis dan memuaskan, sangat pantas ditujukan kepada Inggris yang bisa-bisanya abai kalau pesan dari agen rahasia harus menyertakan ejaan yang salah. Mereka nggak ngeh kalau komunikasi selama 2 tahun dilakukan dengan Jerman, bukan dengan agen rahasia mereka. TvT

Notes untuk Nana:

selamat ulang tahun nana! XD maaf telat banget, banget, banget. parah sih ini XD tapi, sebelumnya, aku mau cerita dulu! jadi, fanfiksi ini tuh (ide dan waktu mulai penulisannya) udah ada sejak november 2020. bahkan sudah 4.9k kata :,) tapi ... terus aku ragu-ragu apakah nana masih di maze runner atau nggak ... soalnya waktu itu sudah ada kny juga kan. jadi kita semacam hype-nya di kny ... akhirnya fanfik ini tertimbun fanfik-fanfik lain untuk waktu yang sangat lama :,)

kapan aku berniat nyelesaiinnya? aku berniat nyelesaiin pas aku nggak sengaja baca tweet-nya nana yang pergi ke arsip maze runner dan bilang, "selalu kembali ke sini." waktu aku baca itu, aku langsung kaget dan mikir, "YA AMPUN. NANA MASIH DI MAZE RUNNER, SAUDARA-SAUDARA! QAQ" lalu aku langsung ngebut kelarin fanfik ini XD dan pas aku ke profilnya nana buat cari referensi, ternyata nana apdet maze runner banyak di pseuds satunya ya. nggak ngeh jadinya ;---; /ALESAN

oke, walaupun sangat SANGAT terlambat, selamat ulang tahun ya nana. semoga bisa berdamai dengan apa pun kesedihan yang dilalui ya. aku seneng banget karena kita terus berkawan sampai sekarang. mudah-mudahan kerjaan dan keseharian dilancarkan dan dimudahkan. semoga senang dengan fanfik ini ya! <3

Series this work belongs to: