Actions

Work Header

Biarlah Api Abadi Itu Padam

Summary:

Dalam diri Samatoki sebuah api abadi.

Notes:

Hypnosis Microphone © King Record, Idea Factory, dan Otomate.
Saya tidak mengambil keuntungan dari penulisan fanfiksi ini.

Selamat ulang tahun, Nail.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Samatoki ingat babak dalam film-film heroik yang ia tonton. Ia ingat aksi tokoh utama yang babak belur, dibawa ke rumah sakit, dan masih menyimpan kekuatan untuk menghajar semua orang dalam ruangan dan kabur melalui jendela dengan cara memecahkan kacanya. Ia juga ingat aksi tokoh utama yang tertabrak mobil, lalu ia masih punya siasat untuk pura-pura pingsan agar dikira gegar otak, dan melarikan diri di tengah kelengahan petugas yang akan membawanya masuk ke dalam ambulans. Mereka semua orang-orang hebat, sudah babak belur masih bisa bergerak. Samatoki senang membayangkan kalau ia sehebat mereka, dan ia sendiri sejujurnya selalu, selalu, mendambakan datangnya kekuatan luar biasa dalam dirinya, berkobar dan membakar, di saat-saat terakhir ketika ia paling membutuhkan kekuatan itu.

“Tapi kekuatan itu nggak datang juga,” gumam Samatoki.

“Kamu bilang sesuatu?”

“Ya, tapi aku bicara sendiri.”

Dokter yang merawatnya, Jakurai namanya, hanya manggut-manggut dan kembali berkutat pada alat yang rasa-rasanya sering digunakan oleh para arkeolog pencari harta karun—alat yang bisa mendeteksi apakah ada tulang-belulang tertanam di dasar bebatuan atau tidak—bedanya adalah alih-alih digenggam seorang arkeolog, alat itu ada di tangan seorang dokter, dan dataran kering yang menjadi objek pencarian adalah pergelangan tangan kanan bagian atas. Pergelangan tangan kanannya.

Selama alat itu bergerak-gerak naik-turun dari bahu ke sikunya, Samatoki merasakan sensasi yang dingin dan lengket, seolah-olah kulitnya ditempel dengan agar-agar; rupanya alat itu meninggalkan jejak jelly, serupa bekicot.

“Walaupun membuka mata saja pasti sudah setengah mati, coba lihat layar.”

Sebetulnya, Samatoki tidak ingin ada yang mengetahui bahwa dirinya membuka mata saja rasanya sudah setengah mati, tetapi kalau memang haruslah ada satu orang yang tahu, maka dokter yang merawatnya pun tidak hina-hina amat untuk masuk hitungan. Jadi Samatoki tidak membantah, ia membuka mata walaupun berat, menatap lampu ruangan yang berwarna putih, lalu mengarahkan kedua mata pada layar yang terpampang di hadapannya.

“Ini tulangmu. Patah kan? Bisa lihat?”

Samatoki melihat gambar tulang dalam warna hitam-hijau (apakah itu tulang pergelangan tangan kanannya?) dan di tulang tersebut ada garis zig-zag yang seolah-olah memangkasnya jadi dua (apakah itu keretakan yang dimaksud?). Ia tidak sepenuhnya mengerti, tetapi ia pura-pura mengerti saja: dianggukkannya kepala.

Alat dalam genggaman Jakurai yang sejak tadi menempel pada pergelangan tangan Samatoki pun terangkat. Ia menganggukkan kepala, seperti seorang guru matematika yang manggut-manggut dengan jawaban hasil perkalian kelipatan dua dari seorang anak jebolan olimpiade yang memang sudah sepantasnya mengetahui hal tersebut.

Samatoki kembali memejamkan mata. Tulangnya patah rupanya. Mungkin para tokoh utama dalam film tontonannya tidak sampai mengalami patah tulang, itu sebabnya mereka bisa kabur dengan memecahkan kaca jendela atau kepikiran untuk pura-pura gegar otak. Jadi, wajar baginya untuk tergolek lemas di atas tempat tidur rumah sakit, begitu rapuh, lemah, dan tanpa daya.

Jakurai melepaskan sarung tangannya, mencuci tangan, dan mengelap-lap tangannya yang basah dengan jas laboratorium yang ia kenakan. “Saya ke luar dulu karena ada pasien lain. Bakal banyak pasien sore ini. Teman-temanmu semua pula,” katanya, kemudian geleng-geleng kepala. Ditekannya bel untuk memanggil perawat. Ia keluar ruangan sambil tetap menggerundel layaknya seorang anak tertua kebebanan kehidupan finansial seribu adiknya. “Dasar mahasiswa.”

Samatoki mendengar umpatan yang terakhir itu, dan ia tersentak, seolah-olah label mahasiswa yang memang melekat padanya sanggup melemparnya kembali ke satu-dua jam lalu, ketika ia dan beberapa mahasiswa lainnya nekat tidak kabur ketika motor-motor polisi menerjang mereka. Ia ingat tersambar setang motor, terlempar ke trotoar, dan seorang polisi menariknya berdiri.

Kelihatannya polisi itu melihat identitas anggota pers mahasiswa yang terkalung di lehernya, karena itulah Samatoki dimintai ponselnya kalau-kalau ia punya data dan bukti rekaman yang mencemarkan nama polisi, Samatoki mendengar teriakan, “Mana ponselmu?” begitu keras, terlalu keras, agaknya kalau saja lebih tinggi sedikit lagi frekuensinya maka Samatoki bisa terbunuh karena teriakan polisi di telinga. (Hei, mungkin itu akan bagus jadi judul berita: Brutal, Polisi Tewaskan Anggota Persma Setelah Merampas HP-nya.)

Hingga detik ini ia terbaring dengan tangan kanan patah di ranjang rumah sakit, Samatoki masih tidak tahu mana yang lebih buruk: mendapati dirinya menolak ponselnya dirampas dan berakhir tangannya dipelintir, ataukah dibawa bersama teman-temannya ke kantor polisi untuk entah-akan-diapakan. Tapi, kalau ia ditahan dengan teman-temannya, walau disiksa pun Samatoki yakin dirinya takkan takluk. Ia bersama teman-temannya. Teman-teman yang tidak ia kenal tentu saja, tetapi kesemuanya mahasiswa, mereka membawa tuntutan dan mimpi yang sama, dan di situlah Samatoki memilih percaya sehidup semati seludah sedarah pada mereka. Ia yakin kalau teman-temannya yang selamat akan menjangkau LBH untuk membantu memperjuangkan hak dan keselamatan para mahasiswa yang ditahan. Samatoki tidak akan sendirian. Berbeda dengan sekarang.

Kesedihan ternyata juga kekuatan. Samatoki merasa apa yang ia tunggu—kekuatan yang biasanya muncul dalam tokoh-tokoh utama di film heroik—mulai datang merayapi kakinya. Ia menyibak selimut, ia bangkit, kedua kakinya mendarat di lantai—

“Yak, kerja bagus, silakan berbaring lagi, Samatoki.”

Samatoki menengadah. Seseorang lagi masuk, kali ini mengenakan jas berwarna biru. Ia bahkan tidak menatapnya ketika mengatakan hal itu, melainkan sedang membenahi sarung tangannya. Seolah-olah ada kedua mata di pucuk kepala, yang melihat Samatoki berusaha kabur. “Saya Ichiro, dokter residen yang akan mengurus hasil rontgen untuk tangan kananmu. Berbaringlah lagi.”

Dokter residen rupanya. Pantas kelihatannya seperti sebaya. Kalau boleh jujur, dia tidak terlihat pandai melakukan apa yang dia kerjakan. Penampilan luarnya biasa-biasa saja, tampak selalu menerima kemalangan yang mungkin bukan disebabkan oleh dirinya sendiri. Dokter residen ini tampaknya seperti tipe orang yang kena pelet salah sasaran, yang biasanya dikarenakan target asli kiriman pelet itu ternyata adalah seseorang super syar’i yang rajin salat dan mengaji. (Kalau Samatoki mengatakannya terang-terangan, kayaknya ia akan disetrum.)

Mungkin umurnya pun tidak begitu jauh, mengingat Samatoki adalah seorang mahasiswa semester sepuh (disebut sepuh karena saking tuanya, alias tidak lulus-lulus) dan seorang dokter residen haruslah mahasiswa yang lulus tepat waktu jurusan kedokteran. Samatoki menghela napas meremehkan, merasa setara. “Belum lama membuang titel mahasiswa, kamu sudah tidak punya nyala api seterang dulu?”

Ichiro berhenti berjalan ketika jarak keduanya sudah sedekat dua kotak lantai. “Nggak pernah kumiliki hal seperti itu,” jawabnya, terdengar dingin, entah karena suhu ruangan atau memang nadanya demikian, tanpa bertanya apa yang dimaksud. “Mohon maaf, tapi kamu perlu berbaring dulu. Saya bacakan hasil rontgen dan akan memberi tahu kapan waktunya pemasangan gips untuk tangan kananmu. Kamu harus terus istirahat di tempat tidur biar keretakannya nggak makin parah.”

Samatoki diam. Rasa-rasanya, sekalipun dengan keadaan tangannya hancur ia mampu mematahkan hidung Si Bekas Mahasiswa di hadapannya ini (entah sejak kapan, ia membenci semua orang dewasa karena mereka pernah mahasiswa dan mempunyai nyala api seterang dirinya dan memilih memadamkannya), tetapi yang dia katakan masuk akal. Ia tak mungkin keluar rumah sakit dengan tangan patah. Jangankan mengacungkan spanduk kata-kata makian tinggi-tinggi, mengangkat tangan untuk ancang-ancang berlari saja tidak bisa. Ia naik ke atas ranjang dan berbaring lagi. Dibenahkannya selimut dengan satu tangan agar menutupi tubuhnya.

“Kenapa pakai baju hitam-hitam, apakah disengaja?” Ichiro bertanya basa-basi, mengutak-atik komputer.

“Sengaja,” jawab Samatoki pendek. Memang dresscode-nya begitu.

Setelah itu, tidak ada percakapan.

Samatoki menatap langit-langit ruangan. Lukanya terasa perih lagi dan ia memejamkan mata, berpikir bahwa dengan melakukannya maka sakitnya menjadi berkurang. Tapi—dasar mahasiswa—umpatan dokter Jakurai terdengar lagi dan mata Samatoki membuka. Digeritkannya gigi. Memangnya KENAPA dengan mahasiswa? Mahasiswa yang berjuang di garis depan untuk merebut hak-hak yang terampas, kenapa yang disumpah-serapahi mahasiswa? Padahal para mahasiswa ini yang maju untuk kesejahteraan semua kelas yang tertindas. Ya termasuk para dokter itu! Dokter kan, kelas pekerja juga. Cuma lebih mewah saja. Memangnya posisinya dia tidak rentan? Kalau misalnya semua orang satu negara tahu-tahu jatuh sakit karena virus atau apalah, lalu dokter dituntut untuk gantian ada di lini depan, mengobati semua orang sementara gajinya belum turun karena perekonomian negara terdampak, bagaimana? Siapa yang akan membantu menuntut negara kalau bukan mahasiswa? Malah menyalahkan mahasiswa. Malah menyerapahi mahasiswa. Kenapa bukan—

“Dasar polisi!” rutuk Samatoki.

“Ya, ya, memang dasar polisi.”

Samatoki menoleh. Tidak menyangka akan ditanggapi. Ichiro sendiri sedang menatap layar komputer dan kedua tangan bergerak-gerak cepat di atas keyboard, jadi Samatoki sebetulnya tidak yakin apakah tanggapan itu sungguh-sungguh atau hanya karena serta-merta mengiyakan lebih mudah dibandingkan menyampaikan ketidaksetujuan. Samatoki begitu terkejut hingga kemarahannya lenyap. Ia diam. Memilih senyap.

“Operasinya akan dilakukan besok jam tujuh pagi.”

“Operasi? Kan, cuma tangan dibuntelin gips?”

Pertanyaan itu—yang mungkin kelewat bodoh—akhirnya membuat si dokter residen menatap Samatoki. Keduanya bertatapan dan Samatoki merasa bahwa ekspresi Ichiro seperti campuran antara ingin tertawa dan bersimpati padanya—kalau seekor ayam bisa bicara pada orang yang akan menyembelihnya, mungkin itulah ekspresi penyembelih pada seekor ayam di tangan: keduanya tertawa-tawa, “Akan ada makanan hari ini!” dan si penyembelih akan berekspresi seperti Ichiro sekarang, ingin tertawa sekaligus kasihan, dia tertawa karena bisa makan dan dia kasihan karena si ayam tertawa dalam ketidaktahuan bahwa makanan hari ini adalah kematian baginya.

Layar menampilkan tulangnya yang retak, yang tadi sudah Samatoki lihat bersama dengan dokter Jakurai. Samatoki menatap layar. Ichiro menjelaskan seperti mahasiswa menayangkan presentasi yang dibuat sehari semalam. “Ketika operasi, nanti tanganmu akan dibuka. Tulangmu yang patah ini harus dipasangi pen.”

“Pen?”

“Pen itu … hmm.” Ichiro menjeda, berusaha untuk mundur beberapa saat untuk mencapai pemahaman yang sama. “Kamu tahu nggak, pertolongan pertama pada tangan yang patah? Kita harus mencari dua bilah kayu, diapit di tangan yang patah, lalu diikat dengan tali. Tujuannya sebagai semacam penyangga, agar tangannya tetap lurus.”

Samatoki berpikir sejenak. Mungkin kayak hotdog. Sosis diapit oleh dua belahan roti. Tidak sulit membayangkannya. Ia mengangguk.

“Nah, pen itu seperti itu. Dia penyangga. Bedanya, dia dari logam, lebih kecil, dan dipasang tepat di antara kedua tulang yang patah. Untuk memasangnya di tulangmu, kita perlu membelahnya, memasangnya, lalu menjahitnya. Kamu akan dibius untuk pemasangan pen di dalam tanganmu. Itulah operasi. Jam tujuh pagi.”

Ternyata tangan patah bukan persoalan biasa.

Samatoki diam, setengah merenung. Ia pikir, gips bukanlah hal yang serumit itu.

“Hei, mahasiswa.”

Samatoki menggeser pandangannya, kembali menatap Ichiro. Kali ini, Ichiro yang lebih dulu menatapnya. Mahasiswa, katanya. Kalau dipikir-pikir, tadi begitu masuk ruangan, dokter residen itu langsung memanggil namanya kan? Kenapa kali ini ia dipanggil dengan nama mahasiswa?

“Apa.” Samatoki menimpali enggan.

Ichiro mendekat, lalu tanpa bisa Samatoki melawan, ia melingkarkan gelang pasien ke pergelangan tangannya. Di gelang pasien itu tertempel identitasnya: nama lengkap, tanggal lahir, dan nomor rekam medis rumah sakit. “Aku pernah jadi mahasiswa,” ujarnya, seperti bicara sendiri, “aku juga pernah lihat demo-demo di jalanan. Tapi karena praktikumku selalu dimulai sore sampai larut malam, aku nggak pernah bisa bergabung. Aku cuma bisa memandang dari jauh, dan nggak bisa mendekat karena api kalian semua terlalu silau. Dan aku juga harus fokus dengan mimpiku menjadi dokter spesialis, jadi nggak ada waktu untuk terlibat begituan—”

Begituan?” Samatoki mengulangi dengan menyentak.

“Iya, begituan,” jawab Ichiro, tetap tenang. “Terlibat dalam massa yang terus-menerus menyeru untuk keadilan. Memastikan suara-suara yang dibungkam terdengar. Dalam kesatuan, semangat bergerak bersolidaritas, tanpa pernah berhenti. Begituan yang seperti itu, yang sungguh mulia dan tulus. Berbeda dengan orang-orang yang sengaja melepaskan diri, mementingkan hidupnya sendiri.” Lalu seulas senyum terbentuk, sebentar sekali, kalau Samatoki berkedip maka ia pasti melewatkannya. “Dasar dokter. Ya kan?”

Kata-kata itu membuat Samatoki merasa bahwa kekuatannya kali ini datang lagi, kekuatan untuk kabur dan lanjut bergabung dalam barisan, seperti tokoh-tokoh utama dalam film heroik yang ia ketahui. Tapi kalau ia melakukannya, entah hanya berapa jam yang ia punya untuk bertahan, sebelum dikembalikan ke rumah sakit lagi.

Maka untuk sekarang, yang penting baginya adalah mengikuti jejak dokter residen di hadapannya: mementingkan hidup sendiri. Berusaha sembuh, melalui operasi, dan memikirkan jangka panjang langkah-langkah perjuangan sehingga ia bisa tergabung dalam gerakan mahasiswa tidak untuk beberapa jam saja, tetapi hingga aksi-aksi yang berikutnya, berikutnya, berikutnya lagi.

Terdengar suara riuh di kejauhan.

“Aku tahu kamu sangat ingin melihatnya, dan kamu ingin secepat mungkin kembali menjadi bagian dari mereka, berpihak pada datangnya kemenangan,” ujar Ichiro. Ia merogoh kantung labnya dan mengeluarkan pemantik api, menyalakannya. Api kecil ada di tengah-tengah mereka berdua. “Tapi untuk nasibmu beberapa hari ke depan, padamkan apimu dulu dan berpihaklah padaku, Samatoki.”

“Dan apa yang bisa dilakukan seorang pasien untuk menunjukkan bahwa ia berada di pihak dokternya?” tanya Samatoki, ia berusaha tidak membuat nada suaranya sinis tetapi agaknya gagal. Api bergoyang selama ia bicara, tetapi tidak padam. Bersama Samatoki, api itu menunggu jawaban.

“Bertekad ingin hidup,” jawab Ichiro.

Samatoki tersenyum.

Ditiupnya api itu.

Api itu padam, tetapi semangatnya tetap abadi dan menyala-nyala, sebab ia hanya menjedanya untuk sebentar saja, meminta waktu untuk sejenak mementingkan dirinya, mementingkan kesembuhannya sendiri. Padamnya api menerangi suatu ruang dalam dirinya yang selama ini gelap, Samatoki merasa hatinya menghangat.

Notes:

Hai Nail, tahu nggak? Fanfiksi ini kutulis di Ms Word dengan file berjudul “nail ultah hari ini, mantep banget”. Yap, aku telat mempersiapkan kejutan soalnya aku sibuque (alesan), dan aku kira aku bisa bikin fanfiksi dalam sehari, tapi ternyata nggak bisa. D: Dan akhirnya molor terus sampai tanggal ini. Tolong tetap terimalah, dan yang penting tolong tetaplah kaget /G

Selamat ulang tahun ya! Kamu nggak nulis Kazuha sih (iya kan ya, belum kan?) jadinya aku nggak ada referensi dan cuma SamaIchi yang ada di kepalaku. D: Tapi untungnya kamu nulis Roman Semusim jadi aku pikir kalau aku ngasih hadiah SamaIchi, anda tetap bakal senang! XD

Semoga terus sehat. Jaga diri baik-baik. Ayo, walaupun jauh, kita harus tetap terhubung ya! Aku ada untuk jadi tempatmu berbagi cerita. Semoga terus beruntung (konteksnya soal gacha di Genshin) dan apa pun yang sedang dikerjakan bisa dilalui dengan lancar. Semoga panjang umur ya, jangan sakit! Dan semoga senang dengan hadiah ini!

Series this work belongs to: