Work Text:
Terdengar suara berderak-derak—pintu berteralis besi terbuka kasar. Neve masih tidak bergerak, ia tetap memosisikan diri bersandar pada tembok di tepi ruangan, duduk kaki bertekuk lutut, dengan jemarinya ia membuat gambar melingkar-lingkar sia-sia pada kedua lututnya. Ia takmau repot-repot mengangkat kepala untuk memastikan siapa berdiri di sisi yang berlawanan, sebab siapa pun itu, pastilah bukan seseorang yang datang untuk menyelamatkannya.
“Nih, kami bawa temanmu!”
“Lho, dia masih hidup?” Neve menyela dingin. Ia mengangkat kepala, menatap lekat-lekat sipir penjara yang sempat terperanjat mendengar balasannya yang kurang ajar. Di antara keduanya, Julian sempoyongan, kedua tangan dan kaki terikat, muka bonyok habis ditonjok mati-matian, air menetes-netes dari rambutnya yang basah. Sipir tersebut melepas genggamannya pada tali yang membelit Julian, dan pemuda itu roboh di permukaan. Neve menyaksikannya melalui setatapan mata yang dilayangkan tanpa arti.
Pintu ditutup. Dikunci. Diberi gembok. Neve memandang, lalu diamatinya sekeliling. Hanya ruangan tertutup berukuran tiga kali tiga meter, tidak mungkin ada keajaiban seperti tahu-tahu mereka menemukan lubang jalan keluar rahasia. Setelah suara langkah kaki sipir terdengar semakin lirih, ia membuat suara mendesis dari mulutnya. “Sssh. Jul. Juuul. Nggak mati, kan?”
Julian dengan ogah-ogahan mengubah posisi tengkurapnya menjadi berbaring miring. Neve hanya melihat sekilas ketika kedua mata mereka berserobok. Alis Julian menonjol satu, pasti bengkak habis dapat bogem mentah. “Jelas aman, dong. Satu ronde lagi juga nggak masalah, mah. Ini nggak sakit sama sekali.”
“Ih, bohong besar. Harga dirimu terlalu tinggi untuk mengakui penderitaan, ya?”
“Dari tadi bercandanya jelek banget, Nev. Kamu bete, ya? Santai, dong.”
Santai. Kepala Neve berkedik mendengar kata itu. Seluruh dunia bisa serentak meneriakinya untuk santai, dan ia tetap takkan bisa melakukannya. Ia berhenti membuat lingkaran-lingkaran di kedua lututnya dan tidak membalas apa-apa. Julian mengubah posisinya menjadi telentang. Dengan kedua tangan dan kaki terikat, ia tidak dapat membuat pergerakan banyak-banyak. Untuk sesaat, keduanya tidak ada yang bicara.
“Kalau kita mati—”
“Eit, eitttt, stop. Neve, kita nggak akan mati. Nggak di sini.”
Neve menjeda. “Oke, baik.” Ia mengalah, mulai lagi. “Kalau aku mati—”
“Eiiiihhh. Euy. Stop. Kamu juga nggak akan mati di sini.”
“Oke, kalau kita bisa keluar dari sini dengan selamat …”
Julian diam. Menunggu.
Neve menghela napas. “Nggak mungkin, sih.”
“Neve. Please.”
Percakapan di antara keduanya tidak berubah, masih saling berbalas cepat, masih dibingkai dengan adu mulut antara persona Neve yang serbacemas tanpa henti, melawan Julian yang kepribadiannya jadi perwujudan sikap semeleh ala orang Jawa di segala situasi. Perbedaannya adalah, alih-alih percakapan tersebut berlangsung dalam bisikan ketika mereka berdua sedang menyusup masuk ke markas yang menjadi sasaran penyelidikan atau ketika mereka berdua sedang berlari-larian dalam pengejaran, kini mereka melangsungkannya di ruang tertutup nan sempit, habis ditangkap dan dihajar, hanya bisa menunggu semesta menentukan nasib.
“Coba kalau tadi kita ambil tangga naik—”
“Udah, udah.” Dengan segenap tenaganya, Julian menegakkan tubuh. Lama-kelamaan punggungnya dingin juga akibat berlama-lama menempel lantai penjara. Tangannya diikat di belakang, kakinya terjulur tanpa bisa digerakkan leluasa, tetapi ia berusaha memutar tubuhnya agar bisa berhadap-hadapan dengan Neve. “Pikirin aja yang sekarang perlu kita hadapi.”
Neve menyerah ditatap lama-lama. Ia sengaja menjeda untuk menyimak suara napasnya sendiri. “Kalau gitu, mari pikirkan ini. Siapa di antara kita yang mau lebih dulu ambil celah untuk membunuh yang lainnya apabila ada kesempatan?”
“Neve.” Julian hampir saja akan membentaknya, tetapi ia menahan diri. Selain karena mereka berdua sedang dalam posisi yang tidak aman dan rawan mengundang perhatian sipir penjara, Julian juga tahu bahwa meneriaki Neve dan menyuruhnya diam bukanlah ide bagus. Maka ia hanya merendahkan suaranya, berharap dapat meningkatkan intensitas. Ia menghela napas, menatap Neve dengan serius. “Sumpah, Neve, kalau kedua tanganku nggak terikat, aku bakal melakukannya sekarang.”
Oke, itu lucu. Neve tersenyum.
Dibandingkan saat ini, Julian lebih rewel dan lebih pemarah. Biasanya, apabila mereka dalam hari-hari biasa membicarakan rencana misi selanjutnya, hanya butuh waktu paling lama lima menit setelah mereka berdua sudah saling ucap selamat tidur untuk kemudian Neve akan menggedor kamarnya atau menelepon dari seberang ruangan. Dan, hanya butuh waktu paling lama lima menit pula setelah Neve menyebutkan berbagai alasan ia tiba-tiba perlu memanggil Julian, yakni membahas worst-case scenario yang baru saja terpikirkan, untuk kemudian Julian memotongnya, menyelanya, menyuruhnya segera tidur.
Neve lebih suka Julian yang ini, yang membolehkannya mengoceh apa saja segala ketakutan dan kekhawatirannya. Tentu, Julian masih memotong kalimatnya apabila Neve kelewatan, tetapi itu semua diucapkan tanpa ada kesan marah yang terselip keluar—mungkin karena meninjau situasi mereka yang betul-betul tampak seperti tidak ada lagi harapan. Keduanya menyusup, keduanya terlihat, keduanya terkejar, keduanya tertangkap, dan sudah. Pilihan jadi agen rahasia yang jatuh ke tangan musuh adalah antara mati atau berkhianat.
Kalau harus seperti itu situasi yang perlu dikondisikan demi menghadirkan Julian yang takpernah marah dan mengeluh, itu harga yang terlalu mahal. Neve lebih memilih keduanya bertengkar atas sifat-sifat mereka yang sungguh bertolak belakang, sepanjang waktu, selamanya kalau perlu, agar tidak terjerat dalam pengalaman ini lagi.
“Neve.”
Neve berkedip dua kali dengan cepat. Julian memanggilnya. “Mhm.”
“Neveeee.”
“Apaaaaa.”
“Keluar, yuk.”
Neve mendelik. “Kamu pikir ini lagi jam istirahat siang di agensi dan kamu manggil ngajak makan soto, gitu?”
“Tapi, kamu mau nggak?”
“Mau makan soto, maksudnya?”
“Mau kuajak keluar, ke mana pun itu.”
“Kayaknya dampak dari dipukuli sekujur tubuh baru kamu rasain sekarang, ya. Mana tahu coba, ditonjok bisa bikin sinting?” Neve menjulurkan tangan, menggenggam sejumput rambut Julian. Memang masih basah air dingin. Dengan jemarinya yang terapit, ia menggosok-gosokkan rambut itu untuk mengecek seberapa basahnya. “Ini kamu disiram doang, kan ya, nggak direndam juga?”
“Kalau aku sampai direndam, fix aku mati betulan, sih.” Julian mengangkat bahu, mengatakannya sedemikian enteng. “Jadi gimana, mau keluar nggak?”
“Ih.” Neve kesal karena didesak. Ia sebetulnya merasa tidak nyaman karena tidak tahu arah pembicaraannya, tetapi kalau mengalihkan topik, itu bukan strategi yang efektif karena kini keduanya sedang berada di dalam penjara, alias tidak benar-benar sedang melakukan sesuatu yang membuat Julian bisa terseret dan lupa topik pembicaraan awal. “Mau wis. Ini dengan catatan kalau kita bisa sela—”
“Bisa.”
Neve terperangah. Apa-apaan? Ia ingin memprotes, tetapi Julian kembali memutar posisi duduk, jadi membelakanginya, menunjukkan kedua tangannya yang terikat. Tanpa meminta apa-apa, Neve melepaskan ikatan tali yang membebat kedua tangan Julian, dan begitu untaian tali terlepas, kedua tangan Julian membuka—dan barulah Neve melihat, di dalamnya ada sebuah kunci. Kunci-kunci yang banyak teruntai satu sama lain dalam satu gantungan besar.
“Ini—” Neve bersuara, tapi diam. Ternyata ini arah pembicaraan Julian yang mengajaknya keluar; ia baru mengerti sekarang. Kemudian, kini, ia ingin bertanya ini kunci apa saja, tetapi satu hal yang pasti, apakah satu dari sekian kunci ini dapat membuka gembok yang memenjarakan keduanya?
Dengan satu gerakan kasar, Julian menyepakkan ikatan tali di kedua kakinya, lalu bangkit berdiri. “Ayo, keluar.”
Neve masih terpaku, tapi cepat-cepat ia menemukan suaranya. “Sinting, heh. Rencananya gimana?”
“Rencananya ya, cari jalan keluar dari sinilah.”
“Tapi—”
“Nggak ada tapi-tapian.”
“Bentar—”
“Nggak, nggak pakai sebentar juga.” Julian sudah keburu melangkah mencapai pintu penjara, dan ia mencoba memasukkan satu per satu kunci yang ada di tangannya. Pada percobaan kunci yang ketiga, lubang pada gembok dapat terputar, gembok terlepas, pintu terbuka. Tapi, ia tidak segera melangkah keluar.
“Ada, ada alarmnya nanti.” Neve bersuara di belakangnya. Ia tahu bahwa Julian punya kekhawatiran apabila ada deteksi tubuh melampaui garis batas antara penjara dan lorong koridor, maka alarm akan berbunyi. “Kamu udah nyimpan kuncinya sejak tadi, ya?”
“Baru pas dibawa ke sini sambil sempoyongan itu. Kunci-kunci ini punya sipir yang tadi itu, lho. Aku ambruk saking sakit hatinya kamu tanya kenapa aku masih hidup.”
“Alaaaaay.” Neve menyentak punggung Julian. Julian terdorong ke depan, melewati pintu, alarm berbunyi. Neve turut serta keluar, menyalip Julian, dan lebih dulu mengambil langkah lari. “Lewat sini.”
Tanpa banyak tanya, Julian menyusul di belakangnya. Sayup-sayup, Neve mulai mendengar suara ribut banyak orang dan derap kaki mendekati mereka. Semakin lama semakin keras. Alarm yang terus-menerus berbunyi nyaring membuatnya harus bicara dengan berteriak. “Jul!”
“Apa!” Julian tersengal membalasnya. Keduanya menaiki tangga dua-dua.
“Aku! Sayang! Kamu!”
Sekalipun Neve berada di depan, ia tahu bahwa Julian tersenyum mendengar kata-katanya. Takbutuh beberapa lama, pernyataan itu mendapatkan balasan, “Aku jugaaa!”
Neve di tengah-tengah napasnya yang tersengal, tersenyum. “Seenggaknya kalau nanti kita mati, aku udah—”
“Berisikkkk, Neveee!”
Neve tertawa.
Ya, seperti itulah. Di tengah-tengah kejaran, dalam upaya mencuri napas di sela-sela kesempatan sempit yang bisa diambil, mereka tetap saling bercakap-cakap dan bertengkar sebagaimana biasanya. Adu mulut, lempar sarkasme, saling sinis. Tapi, mereka bersama, mereka hadir, dua orang. Dan selama persyaratan kehadiran dua orang itu terpenuhi, maka kapan pun di mana pun hanyalah hari-hari normal di antara keduanya.
