Actions

Work Header

Mengamankan Bahagia

Summary:

Karena semua tahu bahwa Lovino, dengan kesinisan khas dan sikapnya yang selalu bodoh amat pada dunia, adalah pembunuh suasana menyenangkan nomor satu di mana pun ia berada.

Notes:

Hetalia: Axis Powers (c) Hidekaz Himaruya.
Honorable mention:
• The Geography of Genius: A Search for the World's Most Creative Places from Ancient Athens to Silicon Valley (c) Eric Weiner.
• i could write my magnum opus or i could simply go to bed (c) Savannah Brown.
Penulis tidak mengambil keuntungan materiil dari penulisan fanfiksi ini.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

And I do want to make everything good,

but,

I also just want to make it, you know?

—Savannah Brown

 

Sebetulnya, dari dulu Nesia selalu begitu. 

Lovino hanya terlambat menyadarinya. Kesadaran itu membuatnya terbangun dari lamunan dan mendapati bahwa ia satu-satunya yang tidak tertawa dalam meja bundar ketika takhanya ada Nesia, tapi juga Feliciano, Arthur, Kiku, Alfred, dan segelintir personalia negara-negara lainnya, yang mampir ke Indonesia untuk menyemarakkan rangkaian konferensi G20. Ivan juga tidak tertawa sih, tapi itu beda urusan. Nesia tengah menenggak habis wedang uwuh pesanannya, dan mengusap mulut dengan serbet, bersiap pergi.

“Tapi,” sela Lovino, tahu bahwa apa yang ia katakan akan membunuh sisa-sisa tawa dalam penjuru warung kopi di pengujung malam itu, “percuma menikmatinya kan, toh dia akan mati. Semua manusia akan mati.”

Tawa yang pada awalnya semerbak dalam ruangan, yang lahir karena Nesia mendeskripsikan pacar barunya lebih ganteng dari Willem, berhenti.

Ah.

Puluhan tahun sebelum ini, pada awal pasca-Perang Dunia Kedua, setiap kali Lovino dan mulutnya yang berbisa kembali membuat suasana keruh selama Antonio absen, sebagian besar yang hadir dalam peristiwa tersebut akan mengontak personalia Spanyol itu untuk memarahi cara mendidik Antonio yang mendiamkan kebiasaan Lovino yang demikian ("Tuh, inilah kenapa isu parenting genting banget akhir-akhir ini," demikian omelan Arthur yang terus bergema, sungguh tidak introspeksi diri). Hanya saja, saking seringnya hal ini terulang, lama-lama mereka memaklumi, dengan kesimpulan ya-Lovino-memang-gini-bocahnya.

Ya, Lovino memang gini, bocahnya. Sinis, negatif, skeptis, pesimis. Bertabiat buruk. Kalau siapa pun bisa mendapat sekeping sen hanya dengan mengeluh, dipastikan Lovino telah menjadi miliarder.

Lovino selalu tidak peduli, jadi merupakan hal yang mudah untuk mengabaikan sekitar, tapi satu hal yang pasti, Nesia memandanginya. Seperti ada yang ingin dikatakan, seperti ada yang tertahan, hanya saja detik (atau selamanya?) berlalu, dan Nesia hanya mengedikkan bahu. Hanya tertawa. Berdiri. “Kalau soal itu sih,” ujarnya, “hanya karena manusia sejauh ini selalu mati, bukan berarti semua manusia pasti akan mati.”

Hanya karena manusia sejauh ini selalu mati, bukan berarti semua manusia pasti akan mati, katanya! Sejujurnya, itu kata-kata tergoblok yang pernah Lovino dengar sampai ia tidak tahu harus berkomentar apa. Ia kehilangan kata-kata, tapi Nesia sudah memalingkan muka, dan ketika Lovino berpikir mungkin itu kata-kata terakhir sebelum berlalu, gadis itu berkata lagi, “Ya kan, Arthur?”

Oh, kata-kata itu bukan ditujukan  untuknya. Perhatian teralihkan. Lovino menoleh sebagaimana yang lainnya, dan yang terlihat di ekspresi Arthur adalah senyuman tulus penuh rasa bangga—semua tahu itu hanya muncul untuk Nesia. Lovino hanya bisa terperangah. Jadi, Arthur yang mengajarkan itu?

Setelahnya Nesia melambaikan tangan, tapi suasana yang mendadak sunyi dan ganjil itu (terima kasih, Lovino) membuat hanya Arthur yang membalasnya, lalu ketika Nesia telah jauh dari jangkauan pendengaran, semua menoleh horor ke arah Lovino seperti mau membunuhnya. Alfred bahkan sudah melayangkan tatapan itu ketika Nesia belum menghilang; gadis itu masih bicara ke resepsionis di kasir bahwa deretan meja yang direservasi atas namanya masih belum akan bubar. Lovino sengaja tidak memandangnya, ia menatap Arthur, menunggu pemuda itu ikut-ikutan melayangkan sorotan padanya seperti yang lain. Barulah ketika hal itu terjadi, ia bertanya, “Itu dari kamu?”

“Dari sebuah buku,” jawab Arthur, “lupa judulnya. Banyak hal yang dibahas tapi itu ada di bagian sejarah diciptakannya obat bius di Edinburgh, Skotlandia. Di antara banyaknya informasi yang ada di dalamnya, yang membekas di ingatannya adalah kalimat itu.”

“Hanya karena manusia sejauh ini selalu mati, bukan berarti semua manusia pasti akan mati,” gumam Francis. Tatapannya ke arah Lovino, tetapi sepertinya yang ia pandang nun jauh di mana. Ia menghela napas dan tersenyum. “Nesia banget.”

Iyakah? Lovino tidak tahu. Tetapi mereka saling bertukar pandang dan mengangguk, dan hanya jeda beberapa saat, pembicaraan berganti ke hal lain—jadi sepertinya, mereka membenarkan kata-kata personifikasi Prancis ini. Lovino, seperti biasa, kembali melamun. Hanya saja, berbeda dengan sebelumnya yang mengosongkan benak, kali ini isi pikirannya dipenuhi oleh peristiwa tadi. Peristiwa bahwa Nesia berpamitan karena perlu melakukan rekapitulasi hasil prakonferensi tadi siang, bahwa Nesia bilang kalau sekalipun meja di warung kopi ini direservasi atas namanya tetapi silakan tetap di sini sampai nanti waktu tutup, dan bahwa Nesia mengabari kalau pacarnya ulang tahun.

Ya, Nesia punya pacar manusia. Yang benar saja. Sudah abad ke-21 dan masih ada personifikasi negara yang punya pacar manusia! Duh. Lovino sama sekali tidak habis pikir. Sampai pada usia berapa sih, para manusia ini? Memangnya mereka mau menghabiskan waktu bersama apabila tahu bahwa pertumbuhan usia personifikasi negara tidak sama seperti manusia? Lagi pula, kalaupun mau, bukankah mereka hanya bisa mati pada akhirnya? Manusia datang dan pergi, kan? Lalu, kenapa masih ada personifikasi negara yang—dengan semua kenyataan itu—masih menggantungkan kebahagiaan dengan menjalin relasi dengan mereka? Mana bisa didapatkan kebahagiaan dari hal yang sementara seperti itu?

Pertanyaan itu takpernah ada jawabannya apabila Lovino cari-cari sendiri. Ia masih menjalani hari-harinya dengan biasa, tetapi acap kali memori tersebut terlintas lagi, maka ia akan kesal lagi, akan marah lagi, akan menggerundel lagi. Dan siapa pun itu yang ada di sampingnya, mereka hanya akan mencibir mendengar keluh kesahnya dan berkata pada intinya, “Nesia memang begitu orangnya.” Begitukah?

Jadi, sebetulnya, sejak dulu Nesia selalu begitu. Ia hanya terlambat menyadarinya.

Prakonferensi G20 terus berlangsung dengan linimasa yang berbuntut panjang hingga pertengahan November, sehingga beberapa negara memutuskan untuk sering-sering pulang, menyelesaikan urusan yang membutuhkan kehadiran mereka. Matthew pergi, Feliciano pergi, tapi apa pun yang terjadi, sejak kedatangannya di Indonesia, Lovino terus menetap. Ia memang menjarak dari prakonferensi-prakonferensi yang serba berpolitik, berputar-putar, dan mementingkan kapital, tetapi alih-alih kembali ke Italia untuk melakukan yang bisa dilakukan, Lovino hanya jalan-jalan mengelilingi Indonesia. Ke Riau. Ke NTT. Ke Yogyakarta. 

Ada banyak sekali kedai kopi di Yogyakarta. 

Seingat Lovino, ketika ia pertama kali mampir puluhan tahun lalu—hanya iseng jalan-jalan sehabis bosan di Jakarta usai peresmian gedung Kedutaan Besar Italia di Menteng, Jakarta Pusat—sama sekali belum ada kedai kopi yang begitu ramai, terang, dan menjadi tempat tongkrongan berjam-jam oleh anak-anak muda. Yogyakarta yang Lovino kenal di tahun 1950-an hanyalah kota dengan jalanan yang selalu sepi setelah jam delapan malam, kios-kios buku dan majalah yang dipadati pelajar-pelajar untuk menumpang baca, dan papan-papan berjejer di depan kantor-kantor surat kabar yang dikerumuni orang untuk menyimak berita gratisan. Kini, kota itu begitu riuh, panas, dan begitu hidup

Begitu hidup. Jauh berbeda dengannya. Dan sangat mirip dengan Nesia.

Di ujung susuran Jalan Malioboro, Lovino mendapati sebuah kafe di seberang simpang empat, cukup gelap, bersembunyi di balik megahnya gedung kantor pos dan bank yang mentereng di kanan-kirinya. Ia memasuki kafe itu, memesan satu cangkir red velvet panas, menyambar satu buku yang menarik perhatian, dan duduk. 

The Geography of Genius. Menarik. Tapi, sekalipun judul dan gambar sampulnya memang bagus, yang menarik perhatian Lovino adalah sticky note yang menyembul di salah satu halaman—hal yang jarang ditemukannya pada buku-buku yang ditaruh di tempat umum untuk dibaca publik, setidaknya di Italia. “Dan, nggak boleh tahu, main tempel sembarangan, memangnya dipikir ini bukunya dia sendiri, apa?” gerundel Lovino, langsung membuka halaman yang ditempeli sticky note untuk ia lepas. Apabila yang melakukannya adalah pelanggan kedai sama sepertinya, maka tidak seharusnya sticky note ini bertahan lebih lama lagi—

…orang Skotlandia yang cerdas juga menciptakan cara untuk mengakalinya. David Hume, memelopori aliran filsafat yang dikenal sebagai empirisme, menyampaikan pernyataan terkenal bahwa keliru jika kita mengasumsikan semua manusia pasti mati hanya karena sampai sekarang semua manusia selalu mati. Benar saja, ketika…

Lho. 

Lovino terpaku membaca bagian itu. Kalimat yang mengingatkannya kepada—

“Oh, kamu menemukanku.”

Ia mengangkat kepala. 

Nesia di hadapannya, di pundak gadis itu tersampir tas selempang, kedua tangannya memegang laptop yang sudah dinyalakan. Bola mata Lovino melebar. Mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, mereka hanya bertemu berdua, di tempat yang ternyata, ternyata, entah bagaimana bisa, sering Nesia kunjungi, dibuktikan dengan buku yang di dalamnya terdapat kalimat yang “Nesia banget” justru ditemukan di sini. Entahlah ini kebetulan yang mana, apakah keajaiban atau kesialan. 

“Aku paling suka ke kafe ini,” sahut Nesia, menjelaskan tanpa ditanya. “Pertama kali ke sini dengan Arthur sehabis dia jalan-jalan mengitari keraton. Dan, iya, buku itu adalah buku yang kutipannya kusitasi di warung kopi waktu itu.”

Lovino menatap laptop di tangan Nesia. “Kamu mau menyimak prakonferensi online?”

Tanpa minta izin, Nesia duduk di hadapannya dan menaruh laptop di atas meja. “Download rekamannya doang, sih, terus habis itu balik lagi. Nanti kalau disangkutin pakai wifi hotel, takutnya ada kenapa-kenapa.”

“Sampai harus ke Jogja?” tanya Lovino, entah kenapa ia terus mengejar dengan pertanyaan. Digesernya cangkir red velvet pesanannya agar berjarak dengan laptop Nesia, jaga-jaga kalau takutnya tumpah membasahi laptop.

Nesia tertawa. Ia tidak menatapnya, kedua mata fokus menatap layar dan mengklik-klik sesuatu dengan touchpad-nya, tetapi masih bisa mengikuti percakapan yang diminta oleh Lovino. “Nggak, nggak. Aku sekalian ketemu pacarku. Si manusia ini asalnya kan, dari Jogja, ya. Nah, kalau mau ke Jakarta, bakar duit banget, tuh. Jadi—”

Manusia. “Kenapa kamu sengaja bikin dirimu nggak bahagia?”

Diam. 

Lagi-lagi. Lovino membatin. Lagi-lagi ia merusak suasana. 

Tapi ia tidak dapat menahannya. Ia membalikkan buku yang terbuka di tangannya, memastikan kepada Nesia bahwa yang sedang ia baca adalah halaman yang ditandai oleh Nesia, yang di dalamnya berisi kalimat yang Nesia ucapkan beberapa minggu lalu, di warung kopi, pada saat tengah malam saat semua di sana. “Kalimat ini adalah kalimat tergoblok yang pernah kudengar,” tukasnya, dan selanjutnya adalah cercaan yang seperti rentetan peron kereta api, “kita yang paling tahu apa yang akan dilakukan manusia kepada kita, yaitu pergi. Kalau suatu saat akan mati juga, apakah kamu bakal cari manusia lain untuk dipacari lagi, lalu sakit hati lagi karena ditinggal mati juga? Kenapa sengaja bikin dirimu nggak bahagia?”

Nesia menutup laptop, entah apakah sudah dimatikan dulu atau betul-betul langsung membantingnya, Lovino tidak tahu. Kini, tidak ada pandangan yang menghalangi keduanya, dan Nesia berkata sambil menatapnya lurus-lurus, sorotan penuh arti dan kejujuran, “Aku bahagia.”

“Tapi kan, nanti kalau—”

“Kamu bahagia?”

Lovino terdiam. Tercekat, bahkan.

Lovino, apakah kamu bahagia? Melakukan ini?

“Tebakanmu salah total. Yang betul adalah sebaliknya,” lanjut Nesia lagi. “Aku nggak menyayangi mereka dan sengaja bikin diriku nggak bahagia. Justru, aku memilih bahagia dengan menyayangi mereka. Aku tahu kalau manusia akan mati, tapi kalimat dalam buku ini seperti menguatkanku, dan aku membutuhkan rasa dikuatkan seperti yang kuperoleh di buku itu, bahwa hanya karena sejauh ini manusia selalu mati, bukan berarti mereka pasti mati. Mungkin bagimu ini goblok, mungkin bagimu ini sia-sia, mungkin bagimu ini nggak bermanfaat, tapi kalau aku bahagia, kenapa nggak?”

Sebelah tangan Nesia terjulur, mengambil buku The Geography of Genius di tangan Lovino. Ia membaca buku itu sebentar, dan senyum terulas di wajahnya. Lalu, mereka berpandangan lagi. “Lovino,” ujar Nesia. Ia menutup buku tersebut, menaruhnya di atas meja, dan membuka laptop. “Jangan sedikit-sedikit membenci sesuatu. Oke? Satu-satunya penghalangmu menuju rasa bahagia adalah dirimu sendiri.”

Setelah kalimat itu terucap, Nesia menatap ke layar laptopnya kembali, dan keduanya tidak melanjutkan pembicaraan lagi. Lovino masih memandangi Nesia, ia masih bertahan dalam peristiwa itu dan melamunkannya, sebagaimana ia melamunkan peristiwa di warung kopi beberapa minggu lalu, atau peristiwa-peristiwa lainnya yang selalu menetap, dan selalu ia biarkan menetap pula. Nesia tidak memandanginya, sama sekali, hingga sisa-sisa penghabisan cahaya mentari sore. Nesia telah melanjutkan langkah, maju, tidak membiarkan dirinya berlarut-larut pada sesuatu hal yang telah berlalu.

Kesadaran itu menggugahnya seperti sentakan, bahwa, bahwa, selama ini ia sendirilah yang sengaja membuat dirinya tidak bahagia.

Maka, Lovino memalingkan wajah ke arah jendela, menatap ke luar, kendaraan melintas pintas, orang-orang berlalu lalang, suara klakson dan riuh rendah pedagang bersahut-sahutan, dan, ah, batin Lovino, melakukan kilas balik atas kalimat yang ia dengar tadi, mungkin ia butuh untuk menyimpannya sebagai pengingat yang paling ia butuhkan hingga seumur hidupnya.

Ah, Nesia banget.

Notes:

Selamat ulang tahun Mbil! Fun fact, aku bikin ini tiga kali. Pertama ketika sepanjang perjalanan berangkat ke Solo dari Stasiun Lempuyangan, kedua ketika sepanjang perjalanan pulang ke Yogyarta dari Stasiun Solo Balapan, dan ketiga adalah di rumah dengan proper dan kesadaran bahwa ngetik pakai HP di kereta sambil berdiri itu bukan ide yang bagus. /KRIK

Ini pertama kali aku bikin Lovino setelah sekian lama, satu-satunya yang masih kuingat adalah kejutekannya HAHA, jadi kalau ada yang nggak tepat, ingatanku yang bermasalah. XD Selamat ulang tahun, ya! Semoga kamu masih mau membaca ini walaupun sudah lama nggak berkecimpung lagi di fanfiksi. Harusnya aku bisa kasih kamu yang lebih berguna (dan berbentuk barang kali ya), kayak yang dulu pernah kita lakukan sama Nana pas masa-masanya migrasi sejenak ke fandom lain. Tapi, aku akhirnya kasih tulisan—satu-satunya hal yang aku paling bisa. XD Mudah-mudahan kamu suka!

Hampir mirip kayak pesan yang tertanam di fanfiksi ini, semoga di hari ulang tahunmu, kamu berbahagia. ✿

Series this work belongs to: