Work Text:
Sebetulnya, Sabito sudah menduga bahwa pertengkaran terhebat mereka ini akan ia bayar mahal. Tetapi, sekalipun ia sudah menebak-nebak apa yang kira-kira bakal terjadi—baik yang disengaja oleh Giyuu seperti tidak dibuatkan bekal, atau karma instan dari semesta seperti saldo e-money-nya habis sehingga ia bakal ketinggalan kereta—Sabito tidak menyangka kalau tagihannya sudah muncul semenjak tarikan napas pertama di pagi hari: bangun kesiangan.
Ia menegakkan tubuhnya setelah membuka mata. Diedarkannya pandangan ke sekitaran ruangan: udara yang pengap, ini keanehan pertama, sebab walaupun tetap ada aroma campuran sampah dan polusi, kesejukan angin dini hari harusnya masih ada. Lalu, keributan di luar, ini keanehan kedua. Suara klakson, pedagang ikan, teriakan-teriakan mengumpat, lalu ada klakson lagi yang panjang dan keras memekakkan telinga—ini semua memang akan Sabito terima, tetapi harusnya bukan ia dengar saat ia masih di atas kasur, melainkan di tepi jalan setelah turun dari stasiun, dalam perjalanan ke kantor.
Gawat, ia kesiangan.
Awalnya, Sabito tidak mau mempercayainya. Baru saat melihat pantulan terik matahari di keramik-keramik kamar karena jendela yang terbuka itulah, perlahan-lahan kesadaran memenuhi kepalanya, membuatnya pusing. Oke, sekarang sudah siang. Ia kesiangan. Sabito memalingkan wajah ke sisi kamar yang lain, menyambar ponsel di meja samping tempat tidur.
Satu miscall. Dari teman kantornya. Praktis ia geser notifikasi itu agar menghilang.
Notifikasi berikutnya adalah pesan dari seorang rekan kerja di bidang SDM. Sabito membaca ulang pesan itu sekaligus mengumpulkan suaranya, “’Kamu cuti apa? Kalau iya, jangan lupa di-upload surat persetujuan cutinya. Kalau enggak, nanti kuseting alpa, lho.’ Gawat, gawat banget! Mampus, mampus!” Sebelah tangannya yang tidak memegang ponsel terangkat untuk menjambak rambutnya sendiri. Matilah ia.
Seharusnya hanya ada ponsel saja di atas meja. Tetapi ada robekan kertas asal-asalan, dan tanpa perlu mengambil robekan kertas itu, Sabito sudah bisa membacanya, sekaligus mengenali pemilik tulisannya.
Bangun.
Seketika, ingatan melayang pada kejadian semalam. Nada yang kesal, suara yang tinggi, hati yang dongkol, dan badan yang terempas ke kasur. Perdebatan tidak penting yang mencatat rekor sebagai pertengkaran terhebat mereka—dikatakan “cetak rekor” semata-mata karena baru kali ini Sabito dan Giyuu menutup hari masih dengan konflik yang belum selesai.
Keduanya biasanya sudah berdamai sebelum tidur. Seberapa besarnya pertengkaran mereka, kalau belum bermaafan, rasanya sulit untuk bisa terlelap … tapi, semalam bisa. Sabito sampai lupa apakah ia sempat merenungi sesuatu atau langsung pulas-pulas saja. Entahlah kenapa. Mungkin karena sama-sama capek—atau sama-sama ingin melihat saja, bagaimana jadinya kalau dicoba.
Ternyata, inilah harganya. Satu hari alpa, yang jelas-jelas akan memangkas cuti tahunannya.
Sabito beranjak dari kasur, berjalan keluar dari kamar. Langkahnya berdentam. “Oi!” serunya sambil membanting pintu, tahu bahwa wujud Giyuu akan bisa terlihat dari tempatnya berdiri. Dari pintu kamar, semua area di kamar apartemen sempit mereka tertangkap pada mata: dapur, ruang makan, kamar mandi, ruang televisi, hingga pintu keluar. Dan di situlah Giyuu, sedang duduk di sofa dalam ruang televisi, membaca koran dua hari lalu—mereka hanya langganan surat kabar hari Minggu.
Giyuu bahkan tidak menoleh kepadanya. Satu-satunya respons yang ia lakukan hanyalah membalik surat kabar dalam genggaman—kalau itu masih bisa disebut respons, ya.
Sabito berjalan ke arahnya. “Nota di atas meja itu apa?” tanyanya, amarah semalam muncul lagi.
Halaman surat kabar dibalik lagi.
“Giyuu.”
“Apa.”
“Nggak lucu. Nggak gitu cara mainnya, hei,” ujar Sabito, mengerutkan kening, kesal bukan main. “Kalau kamu masih dendam soal semalam, nggak usah dimasakin atau dibikinkan bekal, aku nggak papa. Tapi jangan terus diam saja kalau aku belum bangun-bangun dan belum siap-siap ke kantor. Aku jadi harus skip kerja ini. Bakal merepotkan temanmu lagi kalau disuruh bikin surat keterangan sakit.”
Giyuu menatapnya dari balik surat kabar, tanpa mengangkat kepala. “Aku bangunin kamu, kok. Kukasih nota tulisannya bangun.”
“Orang macam apa yang bisa bangun kalau cara banguninnya kayak gitu?”
“Salah terus aku.”
Sabito diam.
Kemarin, mereka bertengkar. Apabila ditelusuri, pertengkaran itu dimulai pada pagi harinya, ketika Sabito menyadari menjelang ia berangkat ke kantor, bahwa Giyuu ternyata membuatkan bekal makan siang untuknya. Saat itu, Sabito berkata, “Aku kan, sudah bilang, minggu lalu, kalau ada kawan kerja syukuran karena anaknya menikah. Akan ada katering pas jam makan siang kantor, jadi nggak perlu dibuatkan bekal. Sudah kubilangin ke kamu.”
Setelahnya, Giyuu tidak membalas apa-apa. Ia sudah menyodorkan bekal yang terbungkus rapi dalam balutan kain, dan akhirnya ditarik kembali tangannya, hendak membatalkan niatanya memberikan bekal.
Sabito merebutnya. “Nggak jadi deh. Nanti pas makanan prasmanan, aku dikit saja, ambilnya. Lalu mau kumakan bekalmu.” Demikian katanya. Bekal pun berpindah tangan. Sabito memasukkan bekal itu ke dalam tasnya, dan bekal itu masih ada di sana hingga malam hari setelah Sabito tiba di rumah. Ia lupa kalau bawa bekal. Dari pagi, kantornya mengadakan rapat sehngga ia lupa sama sekali dengan bekal di dalam tas. Setelah rapat selesai, ia tidak sempat kembali ke meja kerjanya, melainkan justru terbawa arus dengan rekan-rekan kerjanya yang dari ruang rapat langsung menuju kantin. Alhasil, ia lupa sama sekali.
Giyuu yang mengingatkannya ketika mereka mau tidur. “Kotak bekalnya mana?” Ia bertanya. Biasanya, setelah selesai kerja, Sabito akan mengeluarkan kotak bekal untuk dicuci dan ia isi kembali keesokan paginya.
Barulah saat itu Sabito teringat, dan, karena lelah dan tidak mau salah sendirian, ia membalikkan keadaan dengan mengatakan sesuatu seperti (ia sudah tidak ingat persisnya, maklum malam, maklum pengin cepat tidur), “Kan, aku yang sudah bilang kalau bakal ada prasmanan sehingga nggak perlu bekal. Tapi karena kamu udah bikin, jadi aku bawa. Tapi sebenarnya ya, memang nggak perlu.”
Giyuu diam. Sabito sudah keburu masuk ke kamar dan tidur.
Lalu, datanglah pagi.
Lalu, datanglah kata-kata ini, Salah terus aku.
Sebetulnya, Giyuu tidak salah, sih. Tapi, ya, salah juga, sih. Kan, Sabito sudah bilang minggu lalu kalau tidak perlu dibuatkan bekal. Jadi, salahnya dia lupa. Dan salahnya dia juga kalau cuma diam saja begitu, kan jadinya ia kasihan, lalu tetap dibawa bekalnya untuk menjaga perasaan. Tapi, harusnya salahnya Sabito karena sudah seperti itu pun, malah bekalnya tidak jadi dimakan.
Sebetulnya, Giyuu tidak salah juga karena tidak membangunkan Sabito yang kesiangan. Lagi pula sudah dikasih nota tulisannya bangun. Mungkin Giyuu hanya bisa pakai cara itu, karena berpikir bahwa Sabito masih tidak mau bicara padanya. Tapi, aduuuuh, ia kan, jadi terpaksa absen kerja. Coba kalau ia dibangunkan, jadinya kan, tidak perlu harus telat dan dicari oleh orang-orang kantor. Giyuu harusnya juga tahu betapa pentingnya urusan masuk kantor ini bagi Sabito, bagi mereka berdua. Masa ini salah dia karena tidak bangun pagi? Ya, harusnya salahnya dia.
Ada banyak hal berkecamuk di kepala Sabito, siapa salah siapa, siapa pantas menyalahkan siapa. Tetapi satu nama tergantikan nama lain, bertumpuk dengan nama lain, Sabito, Giyuu, Sabito, Giyuu, hingga akhirnya ia tidak bisa memutuskan.
Entah pada hitungan detik keberapa, ia mengerjapkan mata, dan menyadari bahwa Giyuu memandanginya, masih memandanginya, di balik surat kabar. Dari sorot mata itu, Sabito tahu, bahwa kelebatan pergantian nama siapa-salah-siapa juga sedang berseteru di dalam kepalanya. Dan, pada satu titik, keduanya tahu, itu tidak penting lagi.
Sabito menghela napas panjang, dan Giyuu melakukan hal yang sama.
Ia tersenyum, dan senyumannya berbalas.
Oh. Baikan, nih?
Sabito mencoba memikirkan kata-kata untuk memecah keheningan.
Giyuu melipat surat kabarnya, lalu berdiri.
“Uhm,” gumam Sabito, agak ragu-ragu, tapi diucapkannya juga, “prahara rumah tangga?”
Di hadapannya, Giyuu tertawa kecil. “Prahara rumah tangga,” ucapnya, tersenyum lembut. “Kubuatkan teh, ya.”
Rasanya, ada beban yang begitu besar, lepas dari kedua bahu Sabito. Ia tersenyum lega, mengikuti langkah lawan bicaranya menuju dapur. “Giyuu, urusan surat keterangan sakit …”
“Aman.”
“Hah?”
“Tinggal kamu scan dan kasih ke HRD.”
“Kamu … cuma pengin aku libur kerja, ya?”
