Work Text:
Dalam 7 tahunnya menjabat sebagai CEO dari BCV Corp., Bright Vachirawit mempunyai reputasi yang cukup bagus di antara para pengusaha lainnya. Meskipun tidak memiliki latar belakang sebagai pebisnis maupun pengalaman dalam menjalankan usaha, Bright telah berhasil membuktikan kepada banyak orang jika ia mampu membangun kembali perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut, dan membuat namanya masuk ke dalam jajaran pengusaha terkaya di dunia dan menjadi salah satu yang termuda.
Tentu saja hal itu menyebabkan Bright mendapatkan sorotan lebih dari dunia, ditambah dengan paras dan proporsi tubuhnya yang sempurna bak selebriti membuat banyak orang semakin menaruh perhatian lebih padanya. Senyuman manisnya selalu berhasil membuat siapa saja yang melihat jatuh hati, maka tidak jarang jika majalah yang memuat di sampul akan langsung habis terjual dalam hitungan menit.
Akan tetapi, di balik semua itu ada sebuah rahasia kecil mengenai CEO muda kita ini.
Sebuah rahasia kecil yang mungkin saja sudah diketahui oleh banyak orang, yaitu mengenai kebiasaan buruk Bright yang senang menghamburkan uangnya untuk hal-hal tidak penting, seperti menyewa kapal pesiar yang kemudian digunakan untuk merayakan pesta besar-besaran, atau seperti menghabiskan malam bersama dengan para model dan selebriti yang namanya sedang melambung tinggi.
Sudah beberapa kali namanya masuk ke dalam tabloid skandal, dan sudah beberapa kali pula Bright harus mengeluarkan uang lebih untuk menutup mulut para paparazi yang terus mengikuti kemanapun ia pergi atau wartawan yang senang sekali menulis berita miring mengenainya.
Anehnya meskipun sudah beberapa kali terkena skandal, kinerja perusahaannya tidak pernah turun bahkan nilai saham BCV Enterprise terus meningkat tiap harinya, seakan orang-orang menutup mata mereka dan tidak memperdulikan skandal tersebut.
Hal itu tentunya membuat Bright semakin menjadi, CEO muda kita ini jadi lebih sering menghabiskan waktunya dengan berpesta di klub malam dibandingkan duduk di meja kerjanya dan menyelesaikan pekerjaannya sebagai pemimpin dari perusahaan. CEO muda kita ini jadi lebih sering mengabaikan kewajibannya dan terlalu sering memenuhi tiap lubang yang ia temui.
Dari sekian banyak orang yang ada, tidak ada satupun yang cukup berani untuk menegurnya, termasuk kerabat terdekat hingga sahabatnya sendiri. Atau mungkin lebih tepatnya mereka sudah lelah memberikan nasehat pada Bright yang keras kepala itu, pada Bright yang mempunyai motto hidup bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengatur kehidupannya kecuali dirinya sendiri.
Tidak ada yang cukup berani, hingga akhirnya Bright bertemu dengan asisten pribadi barunya.
Tidak ada yang cukup berani, hingga akhirnya Bright bertemu dengan Win Metawin.
Satu-satunya orang yang berani mengatakan tidak pada permintaannya.
Satu-satunya orang yang berani menegurnya ketika salah.
.
.
.
"Good morning, Sir."
Adalah sapaan yang Bright terima saat ia sedang bersusah payah memasang dasi pada lehernya, sama sekali tidak menantikan kedatangan siapa-siapa di rumahnya, terutama sosok laki-laki yang tidak pernah ditemuinya. Maka jangan salahkan dirinya yang hampir berteriak setelah menemukan Win Metawin berdiri di tengah-tengah ruang tamunya dengan senyum lebar yang hadir di wajah.
“Who are—”
“Win Metawin, your personal assistant.”
“My — what?"
“Personal assistant, Sir,” ulang Win, suaranya kali ini terdengar lebih kencang, “orang yang akan mengatur seluruh jadwal Anda—”
“I know what personal assistant is,” Bright memotong cepat-cepat, “ngapain kamu kesini?”
Bright ingat betul jika Jumat kemarin ia baru memecat asisten pribadinya setelah membuat kemejanya berlubang karena salah memilih binatu. Tidak mungkin kan dalam waktu dua hari sudah ada seseorang yang mengisi kembali lowongan tersebut, kecuali—
“Nona Alice yang menyuruh saya kesini.” jawab Win, masih tersenyum.
Alice adalah sekretaris Bright, satu-satunya orang yang mampu bertahan untuk bekerja di bawah pimpinan Bright, satu-satunya orang yang terbiasa menghadapi tingkah lakunya. Selain membantu dalam urusan pekerjaannya, Alice juga menjadi orang yang Bright percaya untuk mencarikannya asisten pribadi.
Biasanya Alice akan mengirimkan terlebih dahulu tiga kandidat terbaik kepadanya dan menyuruh Bright untuk memilih satu orang yang akan menjadi asisten pribadi barunya.
Tetapi sepertinya kali ini ada yang berbeda, Alice sudah lebih dulu menunjuk orang untuk menjadi asistennya tanpa mendengarkan pendapat dari Bright sendiri.
“Nona Alice sudah memberitahukan banyak hal tentang Anda kepada saya.” celetuk Win kemudian mengambil beberapa langkah maju, mendekati Bright yang spontan mengambil langkah mundur hingga tubuhnya menabrak dinding.
Win mengangkat kedua tangannya dan membuat Bright tersentak kaget, CEO muda itu hendak menampik tangan itu namun niatnya ia urungkan waktu Win meraih dasi yang belum terpasang dengan benar itu, “Termasuk tentang Anda yang tidak bisa memasang dasi dengan benar.” tambah Win sambil memasangkan dasi biru yang melilit di kerah Bright dalam gerakan cepat.
✯✯✯
1.
Dalam 7 tahunnya menjabat sebagai CEO dari BCV Corp., Bright Vachirawit tidak pernah sekalipun memiliki asisten pribadi laki-laki. Alice selama ini selalu menyuruhnya untuk memilih dari tiga kandidat perempuan, tidak pernah ada laki-laki.
Rasa heran pun hadir dalam benaknya ketika sekretaris kesayangannya itu main menunjuk Win Metawin, yang merupakan seorang laki-laki, sebagai asisten pribadinya tanpa mendengar pendapatnya terlebih dahulu.
“Because I know him well sampai saya yakin kalau Win cocok jadi asisten Anda.” Merupakan jawaban yang Bright terima dari Alice waktu ia menanyakan alasannya memilih Win.
Bright ingin sekali membantah ucapan Alice namun sekretarisnya itu lebih dulu memohon kepadanya untuk jangan menambah pekerjaannya dengan mencarikannya asisten baru lagi.
“Okay, I will give him a chance,” kata Bright, akhirnya mengalah karena ia memang telah membuat Alice kerepotan akhir-akhir ini, “only for two months.”
Dan setelah beberapa hari menghabiskan hari bersama dengan Win, Bright agak sedikit malu untuk mengakui bahwa apa yang Alice katakan itu tidak sepenuhnya salah.
Bright merupakan orang yang paling tidak senang diatur dan akan marah jika kemauannya tidak dituruti. Sedangkan Win merupakan asisten yang selalu menyusun jadwalnya mulai dari ia membuka kedua mata hingga terlelap lagi, dan sejauh ini ia sudah sering sekali menolak bahkan mengabaikan perintah yang Bright berikan.
Seperti saat itu, keduanya tengah dalam perjalanan menuju kantor di hari Senin yang sibuk, Bright duduk di belakang dengan Win di sampingnya sedang sibuk mengotak-atik iPad-nya.
Bright biasanya selalu berangkat ke kantor dengan menyetir mobilnya sendiri, namun sejak memiliki Win sebagai asistennya, Bright selalu berangkat dengan diantar menggunakan supir atau kadang Win sendiri yang menyetir untuknya. Hal yang sama juga berlaku ketika ia pulang dari kantor, tidak pernah menyetir sendiri, selalu menjadi penumpang yang duduk di belakang.
“Setelah makan siang saya mau pergi menemui kedua teman saya.” celetuk Bright waktu mobil yang mereka tumpangi sedang berhenti di lampu merah.
Biasanya Bright tidak pernah memberitahu urusan pribadinya ini kepada asisten pribadinya, akan tetapi Win selalu menyuruhnya untuk memberitahukan segala rencana pribadi yang ingin ia lakukan pada hari itu, agar memastikan bahwa tidak ada jadwalnya yang bentrok.
Win tidak langsung membalas, laki-laki itu masih terlihat sibuk memeriksa sesuatu di iPad -nya dan hampir membuat atasannya kesal karena sudah diabaikan, "No,” jawab Win pada akhirnya, mengalihkan pandangannya pada Bright sembari memberikan senyum manisnya, “I'm sorry but you need to attend a meeting at 2 p.m.”
Kening Bright berkerut kesal, sama sekali tidak menduga bahwa Win akan melarangnya, bahwa asisten barunya itu akan melarangnya, “Postpone—”
“I'm afraid we can’t, Sir, ” Win dengan cepat memotong, “meeting ini sudah diundur dari bulan lalu dan kita tidak bisa mengundurnya lagi hanya karena Anda ingin bertemu dengan teman-teman Anda, yang bisa Anda temui nanti setelah jam kerja selesai.”
Bright menutup bibirnya, menatap asistennya itu yang masih saja memamerkan senyumnya, ia lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela dengan tangan yang terkepal.
.
.
.
“Hey, Bright!” Suara Mike yang lantang terdengar menggema di ruangannya, laki-laki itu masuk ke dalam kantornya diikuti dengan Gun di belakangnya. Bright yang baru saja menyelesaikan rapatnya itu tentu saja terkejut melihat kedatangan dua temannya.
CEO muda itu segera menghampiri kedua temannya, memberikan pelukan singkat sambil tertawa bahagia, “Sorry tadi gue nggak bisa datang karena ada meeting.” Ia meminta maaf.
“That’s okay,” Gun, yang sudah lebih dulu mempersilakan dirinya untuk duduk di sofa abu-abu yang ada di ruangan Bright, menyahut, “We know a CEO like you must be very busy with tons of works and meetings, harusnya kita juga tanya dulu lo sibuk apa nggak bukannya malah main ajak lo buat ketemu.”
Mike yang masih berdiri di dekat Bright menepuk pundak kawannya, “Sorry yah, besok-besok kita bakalan tanya lo lagi sibuk atau nggak sebelum bikin rencana buat ketemu,” ucap Mike, memberikan cengiran lebar khasnya yang langsung dibalas senyuman oleh Bright, “ayo sekarang kita makan, tadi gue sama Gun mampir buat beli beef noodle.”
Mendengar ucapan kedua temannya membuat Bright merasa lega, senang karena ia mempunyai teman yang paham dan mengerti kondisinya. CEO muda itu pun melepaskan dasinya dan menggulung lengan kemejanya hingga siku sambil mengambil posisi duduk di depan Gun, tidak lupa mengucapkan terima kasih pada dua temannya.
“By the way,” Gun tiba-tiba berceletuk di tengah menikmati makanannya, “lo kok nggak bilang kalau punya asisten baru?”
“Eh iya!” Mike menepuk lengan Bright kencang, membuat sang empunya meringis kesakitan, “Tumben banget asisten lo cowok, biasanya juga cewek. Mana cakep banget lagi.”
Bright, yang sedang mengusap lengannya, kebingungan, “Asisten gue? Lo ketemu sama dia?”
Pasalnya ia terakhir kali melihat Win tadi sebelum rapat dan mereka belum bertemu lagi hingga saat ini, Bright sempat mencarinya tadi begitu keluar dari ruangan karena ia ingin menyuruh asistennya itu untuk membelikannya kopi.
“Tadi gue sama Mike sempat ketemu sama dia di lift, awalnya Mike iseng ngajak Metawin kenalan tapi begitu tahu kalau ternyata dia asisten lo Mike langsung mundur.” ucap Gun, menceritakan kejadian lucu yang baru saja dialaminya tadi.
Sebelah alis Bright terangkat mendengar pernyataan temannya, “Emangnya kenapa kalau Metawin asisten gue?”
“Itu artinya dia bakalan sibuk banget ngurusin bayi besar kayak lo, pasti nggak bakalan punya waktu buat yang namanya pacaran, deh.” jelas Mike, tampaknya sedikit sedih mengetahui fakta bahwa ia harus mundur sebelum mulai berperang.
“Kata siapa? Alice buktinya masih sempat punya pacar kok walaupun dia sibuk kerja jadi sekretaris gue,” bantah Bright, sebenarnya sedikit tidak terima karena sudah dipanggil ‘bayi besar’ oleh Mike, “lo jangan langsung mundur gini dong, bukan gaya lo banget.”
Raut wajah Mike seketika berubah menjadi cerah, “Jadi gue dapet restu dari lo, nih?”
Bright tertawa, ia menelan makanan yang dikunyahnya, “Restu apa sih? Metawin itu cuma asisten gue, masalah percintaan dia sama sekali nggak masuk ke ranah gue.”
“Tuh, Mike! Gue bilang juga apa, deketin aja sih,” tutur Gun, memberi semangat pada temannya, “nggak ada salahnya buat coba dulu, siapa tahu kalian emang jodoh kan?”
Lagi-lagi suara tawa keluar dari mulut Bright, “Gue setuju sama Gun, lagian umur lo ini emang udah saatnya buat nikah bukan?”
“Heh, kita seumuran, yah.” Mike menyenggol Bright, tidak terima dengan ucapannya.
“Oh iya, kadang gue lupa kalau kita ini seumuran,” Bright tertawa lagi sebelum memasukan satu suapan daging ke dalam mulutnya, “lagian kok lo bisa sih naksir sama asisten gue? Cinta pada pandangan pertama nih ceritanya?”
Mike menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ada rona merah di pipinya, sedangkan Gun di depannya malah tertawa. Bright yang tidak tahu apa-apa pun kebingungan, namun di satu sisi ia ikut tertawa melihat reaksi yang Mike berikan.
“Kenapa sih? Gue ketinggalan apa?”
“Jadi tadi tuh Mike ditelpon sama Metawin, dia ngasih tahu ke kita berdua kalau siang ini lo sibuk dan nggak bisa buat ketemu sama kita,” Gun mulai bercerita, “dan bodohnya teman lo ini malah diam aja di tempatnya, bukannya jawab atau apa, sampai buat Metawin kebingungan.”
“Suara dia indah banget, bro,” celetuk Mike, “gue sampai speechless waktu dengarnya.”
“Apalagi waktu dengar secara langsung pas di lift tadi, yah?” goda Gun sebelum tertawa, “Lo mesti liat deh muka dia kayak apa pas tahu wujud dari pemilik suara Metawin, kayak anak remaja yang lagi kasmaran.”
“Tunggu,” Bright memotong kedua temannya yang sedang bertengkar itu, “Metawin tadi nelpon lo? Bilang kalau gue nggak bisa ketemu sama kalian berdua?”
Dengan kompak, Mike dan Gun menganggukkan kepalanya.
“Iya, ini pertama kalinya gue ditelpon sama asisten lo. Awalnya agak ragu buat angkat secara nomornya nggak gue kenal, tapi akhirnya gue angkat dan sama sekali nggak nyesel karena bisa dengar suara seindah itu, bro.” Mike terkekeh.
“Tadi tuh yang dia juga minta kita buat datang kesini,” Gun menambahkan, “katanya kalau kita punya waktu luang boleh datang ke kantor buat ketemu sama lo.”
“Dia yang juga nyuruh buat beliin lo makan loh.”
“Iya, jadi sebenarnya kita tuh beli makanan itu pakai duit yang dikasih sama Metawin—yang kayaknya duit lo juga, yah?”
Bright pun tidak menjawab, laki-laki itu malah terdiam setelah mengetahui yang sebenarnya.
Untuk apa Win menghubungi Mike? Bahkan sampai meminta Mike dan Gun untuk datang menemuinya di kantor?
“...hanya karena Anda ingin bertemu dengan teman-teman Anda, yang bisa Anda temui nanti setelah jam kerja selesai.”
Oh.
Iyakah…?
✯✯✯
2.
“I’m going home,” kata Bright saat melihat Win masuk ke dalam ruangannya membawa dua setelan, satu berwarna biru dan satu lagi berwarna coklat tua, “apapun yang ada di tangan kamu itu, taruh saja di atas meja. Besok bakalan saya coba.”
CEO muda itu lalu berjalan cepat melewati Win, tidak lupa menepuk pundak asistennya itu, “Oh ya, sama sekalian saya minta tolong untuk beli makanan Ame, yah? Kalau bisa merknya sama seperti yang kemarin kamu beli itu, soalnya bulu dia jadi kelihatan lebih tebal after you change her food,” ia menepuk pundak Win sekali lagi, “I’m going now.”
Namun sebelum Bright dapat benar-benar pergi dari ruangannya, Win sudah bergerak lebih cepat dengan menggenggam lengannya erat menggunakan tangannya yang kosong, menahan Bright untuk tidak pergi.
Asistennya itu lalu melirik pada jam dinding yang ada di ruangannya sebelum beralih menatapnya, tidak lupa memberikan senyum manis andalannya, “I’m sorry, Sir. Tapi kedua setelan ini harus segera Anda coba, jika ukurannya tidak pas maka akan saya bawa kembali ke butik besok pagi sebelum saya bawa ke binatu untuk dicuci.”
“Saya bisa—”
“No, besok Anda akan sangat sibuk karena ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan.” potong Win, seakan sudah mengetahui apa yang akan Bright ucapkan.
Bright berdecak, ia melonggarkan dasinya dengan satu tangan, “Saya masih bisa coba mereka besok sebelum rapat dimulai, just put them—”
“That’s exactly what you said to Ms. Alice two days ago about the document she wanted you to check,” Win memotong lagi, senyum di wajahnya semakin lebar, "you also said the same thing to me last week when I asked you to check the email from Mr. Weerayut, Sir. Tapi faktanya? Anda tidak sempat memeriksa dokumen itu sehingga Nona Alice harus memeriksanya sendiri dan Tuan Weerayut tidak pernah mendapatkan kabar dari Anda mengenai setelan yang sudah dipesan ini, sehingga mau tidak mau saya harus membawanya sendiri dari butik untuk Anda periksa secara langsung. This won’t happen if you can follow your own words.”
CEO muda itu terdiam, lalu mengalihkan pandangannya dan menghembuskan nafas panjang. Ia tidak bisa mengelak karena apa yang Win ucapkan barusan adalah benar. Sudah beberapa kali Bright mengabaikan perintah sekretaris dan asistennya ini, menyebabkan pekerjaannya menjadi sedikit terteter.
“Lagipula ini masih pukul 4 sore,” tambah Win ketika atasannya itu tidak kunjung memberikan balasan, “biasanya Anda pulang pukul 5 sore kecuali jika ada perubahan jadwal mendadak, yang tentu saja harus dikonfirmasi melalui saya terlebih dahulu—orang yang menyusun jadwal Anda.”
Bright hendak menyahut waktu ponsel di sakunya berdering, binar kebahagian langsung tampak di wajahnya ketika melihat nama yang tertera pada layar, “I have to meet someone this evening, you said I can do anything I want if I finished all my works,” Bright menunjuk pada mejanya yang bersih dari segala dokumen yang biasanya menumpuk di sana, “dan saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan saya hari ini, that means I can go now, right?" tanya Bright, ujung mulutnya sedikit terangkat.
Sedangkan Win?
Kali ini giliran asistennya itu yang diam menatapnya, Bright tidak bisa menangkap dengan jelas maksud dari tatapan itu, tetapi ia tahu betul jika sore ini yang memegang predikat pemenang adalah dirinya, apalagi setelah Win melepaskan genggaman tangannya dari lengan Bright.
“Kalau mau kamu bisa bawa setelan ini ke rumah saya, nanti malam akan saya coba begitu sampai di rumah.” lanjut Bright, mengusulkan sebuah ide yang ia yakini tidak akan Win terima.
Bright menepuk pundak Win, “You don’t have to drive me home today, I already called Mr. Pond to come pick me up so no need to worry.” ucapnya sebelum keluar dari ruangan dengan hati senang, senang karena akhirnya ia bisa mengalahkan asistennya.
.
.
.
Bright seharusnya sadar bahwa ia tidak bisa meragukan tekad bulat yang dimiliki oleh Win Metawin, ia seharusnya sadar bahwa Win Metawin pasti akan menerima tawarannya.
Ia seharusnya sadar bahwa Win Metawin pasti akan datang ke rumahnya, menunggunya pulang sambil duduk di ruang tamu dengan Ame tertidur di atas pangkuannya, mendengkur pulas sekali. Membuat seluruh rencana Bright untuk menghilangkan rasa stresnya dari pekerjaan dengan bermalam bersama wanita yang baru ia temui tadi.
Setelah kembali dari mengantarkan wanita itu ke lobi, Bright mencoba untuk menahan dirinya agar tidak memarahi asistennya itu karena ini semua adalah salahnya. Ia memasuki rumahnya dengan wajah tertekuk, matanya menatap Win yang sudah berdiri dengan satu setelan di tangannya, menunggunya untuk mendekat.
“Ini buat apa?” tanya Bright saat ia sedang mengenakan jas warna birunya.
“For the charity event you’re going to attend this Saturday.” jawab Win yang tengah membantu Bright mengenakan jasnya, lalu beralih untuk membenarkan kerah kemeja atasannya itu.
“And the brown one?”
“It’s for Ms. Hoorne’s networking party, Sir.”
“Oh? When’s that?”
Win tidak segera menjawab, laki-laki itu malah menatap Bright dengan tatapan tidak percaya sebelum menggelengkan kepalanya dan tertawa, “You really don’t know anything about your schedule, huh?”
Awalnya Bright agak terkejut mendengar Win yang berbicara padanya dengan santai, namun bukannya merasa marah ia justru ikut tertawa. CEO muda itu mengedikkan bahunya, “Sudah ada kamu yang akan atur dan ingatkan, jadi saya nggak pernah pusingin apalagi sampai hafalin jadwal saya sendiri.”
“Oh, that’s true,” Win tertawa lagi sebelum ia bertanya, “ini setelannya sudah pas kan? Tidak perlu ada yang diubah lagi?”
Bright menggeleng, mencoba menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa ia sudah merasa nyaman dengan setelannya, “Nope.”
Keduanya lalu terdiam, Bright sibuk melepaskan setelannya yang juga dibantu oleh Win.
“I’m sorry,” ucap Win tiba-tiba ketika Bright tengah mengenakan setelan coklat mudanya, “you didn’t tell me it was a date, saya nggak akan datang kalau ternyata Anda sedang kencan.”
Bright tertawa pelan, “It’s okay.”
“No, it’s not,” Win menggelengkan kepalanya, “saya akan pesan meja paling bagus di Berkeley hari Jumat nanti sebagai ucapan permintaan maaf, Anda bisa mengajak wanita—”
“No need to, Metawin,” sela Bright, “she’s just a fling, I’m not that serious with her.”
“Oh,” Win mengerjapkan matanya beberapa kali begitu menyadari apa yang Bright maksud, “maaf, saya tidak bermaksud untuk mengacaukan rencana Anda.”
“I said it’s okay,” ulang Bright, menekan ucapannya, “saya bisa cari yang lain kok.”
“So it’s true, huh?”
“Apanya yang benar?”
“Rumor,” Win menggeleng, “ternyata rumor tentang Anda itu memang benar.”
“What rumour?” tanya CEO muda itu, sebelah alisnya terangkat.
“About you being a player.”
“I’m not a player,” Bright tertawa lagi, “saya nggak pernah berkencan dengan dua orang dalam waktu bersamaan, saya juga nggak pernah memainkan perasaan orang—I only slept with them. It’s not my fault kalau ada yang sampai jatuh hati, karena memang dari awal saya sudah menjelaskan keinginan saya kepada mereka kok.”
“So, friend with benefits?”
“No, just one night stand.”
Tidak seharusnya Bright memberitahukan hal ini kepada Win Metawin, orang yang baru saja menjadi asisten pribadinya satu bulan yang lalu, orang yang bisa saja diam-diam memberitahu informasi mengenai dirinya kepada wartawan. Akan tetapi Bright tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menceritakan segala tentang dirinya kepada Win, karena jauh di dalam hatinya ia telah menaruh kepercayaan yang besar kepada asisten barunya ini.
✯✯✯
3.
“What do you mean by no?” tanya Bright, setengah berteriak dan setengah berbisik.
Pagi itu, ia dan Win tengah berada di dalam lift dikelilingi oleh pegawai lainnya. Mereka terpaksa harus menaiki lift umum karena lift khusus untuk CEO sedang dalam perbaikan dan kemungkinan akan selesai besok.
Seluruh pasang mata sejak tadi tertuju pada keduanya, karena faktanya menemukan sosok Bright Vachirawit berkeliaran di kantor merupakan suatu hal yang sangat jarang terjadi. CEO muda itu selalu mengurung diri di ruangannya atau hanya berkeliaran di lantai atas, lantai khusus untuk dirinya dan beberapa pegawai dengan jabatan tinggi lainnya.
Bright memberikan tatapan tidak percaya pada Win yang sedang sibuk menyusun jadwalnya untuk minggu depan di iPad yang asistennya selalu bawa kemana saja ia pergi, berharap bahwa telinganya salah menangkap jawaban yang barusan Win lontarkan.
Asistennya itu menghembuskan nafasnya, ia memasukan iPad-nya ke dalam tas lalu menoleh ke arah Bright yang masih menatapnya dengan tajam.
“I’m sorry, Sir. But you can’t just throw a big party to celebrate the anniversary of this company.” sahut Win, menjelaskan jawabannya.
“But it’s the tradition here!” Bright masih tidak mau menyerah, sama sekali tidak memperdulikan tatapan para pegawai di sekelilingnya, “Setiap tahun kita selalu adain pesta untuk merayakan ulang tahun kantor.”
“Saya tahu,” Win, yang sudah menyadari bahwa sejak tadi keberadaan mereka menjadi tontonan untuk orang sekitar, berusaha menjawab dalam suara pelan, “kita masih bisa adakan pesta kecil dan mengundang penyanyi seperti tahun lalu, bedanya tahun ini tidak diadakan di kapal pesiar.”
“Terus kita bakal adain pestanya di mana?”
“Mungkin bisa coba di taman belakang—“
“Taman? Gimana kalau nanti ada hujan?”
“Oke, mungkin bisa coba auditorium—“
“It’s too small, Metawin. Saya nggak yakin auditorium kantor bakalan cukup untuk menampung semua pegawai perusahaan ini.”
Hembusan nafas kembali Win keluarkan, “Fine, kita sewa convention hall dekat sini. Saya usahakan untuk menyewa yang bisa menampung banyak orang sekaligus.”
“That’s better,” Bright mengangguk setuju, “lalu sisa dananya mau dipakai buat apa? Untuk undang artis yang banyak kah?”
“Nope,” Win menggelengkan kepalanya, “kita hanya akan undang dua penyanyi saja. Sisa uangnya akan disalurkan ke tempat penggalangan dana.”
“You—what?”
Sang asisten mencengkram ujung jasnya, memberikan kedipan mata seraya tersenyum manis, “Just trust me.”
Bright tidak tahu bahwa mempercayakan acara besar seperti ulang tahun perusahaannya kepada Win Metawin, orang yang baru ia temui beberapa minggu lalu, adalah hal yang tepat.
.
.
.
Tepat pada hari acara ulang tahun perusahaan dilaksanakan, Bright akhirnya sadar bahwa tidak seharusnya ia meragukan kemampuan asistennya.
Acara berlangsung dengan lancar, dari awal hingga akhir tidak ada kekacauan yang terjadi, semua tamu yang datang bersenang-senang termasuk dengan dirinya yang sibuk berbincang dengan para investor perusahaan yang turut diundang untuk datang.
Bright mendapatkan banyak komentar bagus dari mereka, banyak yang mengatakan bahwa mereka suka dengan pesta kecil ini dan tidak kalah menyenangkan dengan pesta besar yang diadakan tahun lalu di atas kapal pesiar. CEO muda itu juga bisa melihat banyak pegawainya yang terlihat bersemangat sekali ketika penyanyi yang mereka undang tengah membawakan lagunya di panggung.
Win yang sejak tadi berdiri mengekori kemanapun Bright pergi juga merasa puas dengan hasil usahanya selama beberapa minggu terakhir ini, ia juga mendapatkan banyak pujian dari para tamu.
Acara malam itu diakhiri dengan Bright yang menyumbangkan sebagian uangnya untuk child foundation dan sebagian lagi untuk kegiatan amal lainnya. Untuk pertama kalinya Bright Vachirawit menggunakan uangnya untuk membantu mereka yang lebih membutuhkan.
Ada rasa senang yang tumbuh di dadanya ketika melihat Win dari kejauhan memberikan tepuk tangan meriah padanya, senyum di wajahnya semakin mengembang saat dua ibu jari diberikan oleh asistennya itu, seakan bangga dengan apa yang dilakukannya.
Tapi, tidak butuh waktu lama untuk senyum itu luntur, tidak butuh banyak alasan yang bisa membuat senyum lebar itu menghilang dari wajahnya, hanya wajah bahagia Win Metawin ketika bertemu dengan Mike sudah cukup membuat air mukanya menjadi keruh.
✯✯✯
3.5
“Metawin.” panggil Bright pada asistennya yang terlihat sedang asyik sendiri dengan ponselnya.
Melihat Win sibuk dengan gadget-nya tentu bukanlah pemandangan yang asing untuk Bright, asistennya ini selalu berkutat dengan iPad yang dibawanya kemanapun ia pergi, bahkan sampai ke toilet sekalipun.
Namun melihat Win sibuk berkutat dengan ponselnya membuat rasa aneh hinggap di dadanya, ditambah senyum malu-malu yang sejak tadi tidak pernah luntur dari wajah asistennya itu.
“Metawin,” panggil Bright sekali lagi, kali ini lebih kencang dari sebelumnya dan tentu membuat sang pemilik nama langsung menoleh, “jadwal saya untuk hari ini apa? Kamu belum kasih tahu.”
“Oh, right!” Win buru-buru mengeluarkan iPad-nya dari dalam tas, “Pagi ini Anda akan ada meeting bersama dengan bagian HR dan dilanjut dengan pertemuan penting bersama Tuan Adulkittiporn, setelah itu Nona Alice akan menjelaskan beberapa laporan perusahaan yang akan menjadi bahan untuk rapat hari Rabu nanti.”
Bright menganggukkan kepalanya, ia mengalihkan pandangannya sekilas keluar jendela mobil seraya mencatat jadwalnya di kepala, lalu melirik kembali pada asistennya yang sudah sibuk lagi dengan ponselnya, kali ini Bright bisa melihat rona merah hadir di pipinya.
“Metawin.” panggilnya yang lagi-lagi tidak digubris oleh asistennya, membuat rasa penasaran pun hadir di dalam dirinya karena sebelumnya Win tidak pernah mengabaikannya seperti ini, panggilan Bright akan selalu disahut sesibuk apapun dia.
Bright pelan-pelan menggeserkan badannya, berusaha melihat apa yang sudah membuat Win kehilangan fokus di pagi hari seperti ini. Kedua matanya membulat waktu menyadari bahwa sejak tadi Win tengah bertukar pesan dengan Mike, bahwa teman dekatnya sendiri lah yang menjadi penyebab dari senyum malu-malu dan rona merah menghiasi wajah asistennya.
“Metawin,” Bright kembali memanggil nama asistennya dan untungnya kali ini ia langsung mendapatkan atensi dari laki-laki itu, “who are you talking to? Saya dari tadi sudah panggil kamu, tapi kamunya terlalu sibuk sampai nggak dengar.”
Menyadari kesalahan yang diperbuatnya, Win buru-buru menyimpan ponselnya ke dalam tas, “I’m sorry, Sir. I promise it won’t happen again.” katanya meminta maaf, binar bahagia di wajahnya pun luntur, membuat ada rasa aneh tumbuh di dalam dada Bright begitu mengetahui bahwa ia adalah alasan di balik hilangnya senyum itu.
“It’s okay,” sang CEO mengalihkan pandangannya lagi pada jendela mobil, “saya mau mampir ke kafe dulu sebelum kita ke kantor.”
“Kafe? Untuk apa?” Win bertanya, bingung. Tidak biasanya Bright meminta mereka untuk mampir dulu ke suatu tempat.
“I need my coffee,” jawabnya menarik nafas dalam-dalam sebelum ia buang dengan kasar, “hari ini bakalan sibuk banget dan saya butuh kopi sebelum memulai semua itu.”
Asistennya melirik pada arloji di lengannya, menggigit bibir bawahnya saat menyadari bahwa mereka akan terlambat jika harus mampir ke kafe dulu, “I’m sorry, Sir. Tapi kurang dari 30 menit Anda harus segera menghadiri rapat dengan bagian HR dan kita akan terlambat jika harus mampir ke kafe dulu.”
Bright mendengus, “I don’t care, I need my coffee.”
Semenjak menjadi asisten pribadi CEO dari BCV Corp., untuk pertama kalinya Win Metawin merasa kebingungan menghadapi tingkah laku atasannya yang keras kepala itu. Biasanya ia akan menolak keinginan aneh yang Bright pinta dan memberikan alternatif lain, tetapi kali ini Win merasa kurang enak untuk mengucapkan tidak apalagi setelah tadi secara tidak sengaja ia sudah mengabaikan laki-laki itu.
“Bagaimana jika nanti saat jam makan siang—” Win mencoba untuk membujuk namun sebelum ia dapat menyelesaikan ucapannya, Bright sudah lebih dulu mengirimkan tatapan tajam padanya.
Kali ini giliran Win yang menghembuskan nafasnya, laki-laki itu terdiam selama beberapa detik, mencoba mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Ia lalu merapikan barang-barangnya dan menepuk pundak sang supir yang selama ini hanya menjadi pendengar setia pertengkaran Bright dan Win di pagi atau sore hari.
“Can you please drop me off di perempatan depan nanti?” pintanya pada Tuan Pond.
Bright yang mendengar itu tentu saja terkejut, “Where are you going?”
Win memutar bola matanya malas, “Gonna buy coffee for this big baby.”
“I’m not a baby,” bantah Bright, “alone? Kenapa kita nggak bareng-bareng aja belinya?”
“Because you have a meeting to attend, Sir,” jawab Win bersamaan dengan mobil yang mereka tumpangi itu berhenti, tanpa membuang banyak waktu lagi Win segera turun, “saya akan coba untuk sampai di kantor sebelum rapatnya dimulai. Iced americano, right?”
Bright yang sedang mencoba untuk memproses semuanya hanya mengangguk, matanya mengekori Win yang sempat memberikan senyum manisnya sebelum menutup pintu dan berlari menuju kafe terdekat.
.
.
.
Bright harus benar-benar berhenti meremehkan asistennya pribadinya.
Tepat lima menit sebelum rapat dimulai, Win Metawin muncul dari balik pintu ruangannya lengkap dengan bibir yang membentuk senyum manis, datang bersama segelas kopi di tangan serta sebuah bungkusan coklat misterius.
“One iced americano,” laki-laki itu meletakan gelas kopinya dan bungkusan coklat itu di atas meja Bright, “and one pain au chocolat for Mr. Chivaaree.”
Bright menatap bungkusan yang ternyata berisikan roti, lalu sekilas menatap ke arah Win sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada bungkusan coklat itu, “But I didn’t—”
“Anggap saja sebagai ucapan permintaan maaf saya karena sudah menghiraukan Anda tadi sekaligus ucapan semangat untuk menjalani pekerjaan Anda hari ini.”
Mendengar alasan yang diberikan, Bright tertawa, “Thanks, tapi kayaknya satu nggak cukup.”
“Oh, tenang! Mulai hari ini saya akan selalu beli kopi dan roti untuk Anda,” ucap Win, memberitahu rencana yang baru saja dicetuskannya tadi, “tapi tenang! Agar kejadian hari ini nggak terulang lagi, saya akan beli kopi dan rotinya sebelum pergi menjemput Anda.”
Bright pun tidak terkejut ketika besok paginya Win datang ke apartemennya dengan segelas kopi dan roti yang masih hangat. Ia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menerimanya dengan sedikit rasa senang yang hadir di hatinya.
✯✯✯
4.
Ada yang aneh.
Biasanya sebelum pukul 7 pagi Win sudah datang ke apartemennya lengkap dengan senyum manis dan tepat pada pukul 7 mereka akan turun bersama, menghampiri mobilnya yang sudah menunggu di lobi.
Tapi tidak untuk hari ini.
Bright tidak kunjung melihat batang hidung asistennya, ia menunggu di ruang tamu bersama Ame yang sedang asyik bermain dengan mainan baru yang merupakan hadiah dari Win. Ada rasa khawatir yang perlahan menyelimutinya, Bright sudah mencoba menghubungi Win namun tidak kunjung mendapatkan balasan, bahkan pesannya pun tidak dibaca dan itu aneh karena Win pasti selalu membaca pesannya mau sesibuk apapun dirinya.
Ia juga sudah mencoba menghubungi supirnya, tapi yang ia terima malah suara operator wanita yang mengatakan bahwa nomor yang ia hubungi sedang sibuk.
Akhirnya setelah berusaha menghapus segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi, Bright memutuskan untuk turun ke lobi sambil mencoba untuk terus menjangkau asistennya.
Jam menunjukan pukul 7 lewat 20 menit ketika Bright menemukan Win tengah berlari ke arahnya, penampilannya terlihat berantakan dengan kemeja tidak dimasukkan dan dasi yang longgar. Tidak hanya penampilan tidak biasa Win yang membuat Bright kebingungan, namun hilangnya keberadaan mobil yang biasa datang bersama Win untuk menjemputnya juga menjadi hal yang Bright pertanyakan sejak 20 menit yang lalu.
“Where have you been?” tanya Bright, tangannya otomatis meraih Win yang tengah mengatur nafasnya, memegang lengan asistennya. Dari dekat ia bisa melihat seberapa berantakan rambut Win dan bagaimana kedua kakinya bergetar hebat, sampai membuatnya yakin bila Win akan langsung jatuh ke tanah begitu Bright melepaskan genggamannya.
Tidak tega, Bright pun mengantar Win untuk duduk pada salah satu sofa yang disediakan di lobi apartemennya. Ia hendak menyuruh seseorang untuk mengambilkan minum ketika tangan Win menahannya, gelengan kepala diberikan oleh asistennya dan pada detik itulah Bright melihat keberadaan luka kecil yang sejak tadi tersembunyi di balik poni Win.
“Hey, what happened?” Bright berjongkok di hadapan Win, tangannya menangkup wajah laki-laki itu untuk memeriksa secara seksama luka kecil yang menghiasi keningnya, rasa khawatir yang semula datang secara bertubi-tubi perlahan berkurang setelah Bright memastikan bahwa tidak ada memar atau luka kecil lain yang hadir di wajah asistennya itu.
Win baru saja ingin membuka mulutnya ketika suara televisi terdengar menggema, ada seorang reporter tengah membawakan berita mengenai kecelakaan beruntun yang baru saja terjadi. Bright menyipitkan kedua matanya, reporter itu berdiri di depan jejeran toko yang entah kenapa terasa familiar baginya. Ia menahan nafasnya saat kamera menyorot sebuah mobil sedan yang setengah hancur, mobil sedan yang selalu ditumpanginya.
“I’m sorry about your car,” Win akhirnya membuka mulutnya, terdengar lemah dan penuh rasa takut, “saya tadi duduk di depan dan kita lagi nunggu lampu merah waktu tiba-tiba dari arah belakang ada—”
Bright buru-buru membawa Win ke dalam pelukannya, merangkulnya erat dan tangannya bergerak untuk mengusap punggung yang bergetar itu. Tidak butuh waktu lama untuk akhirnya ada tangis yang pecah. “It’s okay, at least you’re safe now.”
Win menggelengkan kepalanya, “Mr. Pond is at the hospital right now, kepalanya luka parah dan tadi saya juga lihat tangan beliau—”
“Hey, hey,” Bright kembali menangkup wajah asistennya, entah kenapa hatinya berdenyut nyeri saat melihat jejak air mata yang membasahi pipi Win, “Tuan Pond itu orang yang kuat kok, beliau memang udah berumur tapi jiwa dan tenaganya masih setara dengan remaja jaman sekarang,” ujar Bright sambil menyeka air mata Win dengan ibu jarinya, “he’ll be okay, trust me.”
Win pun terdiam dan menatap atasannya, membawa dirinya tenggelam pada manik hitam yang membuat rasa hangat perlahan menyelimuti dadanya. Pada detik itu juga Win memutuskan untuk menaruh kepercayaannya kepada laki-laki yang selama dua bulan terakhir ini telah memenuhi harinya.
Setelah tangis Win mereda, Bright mengajak asistennya itu pergi ke rumah sakit untuk mengobati lukanya tapi Win menolak karena ia tidak mau membuat Bright terlambat datang ke kantor. Jika Bright adalah orang yang keras kepala, maka Win adalah orang yang jauh lebih keras kepala apalagi jika sudah menyangkut soal pekerjaan Bright.
Bright yang sudah lelah untuk melawan itu mengalah, keduanya pun berakhir pergi ke kantor dengan menaiki taksi, tapi tidak sebelum Bright mengobati luka Win dengan first aid kit.
.
.
.
Bright benar, Tuan Pond berhasil melewati masa-masa krisisnya dan kini beliau sudah bisa tersenyum lagi seperti biasanya, membuat Win merasa lega saat mendengar tawa pecah Tuan Pond ketika ia datang ke rumah sakit untuk menjenguk. Namun bukan berarti setelah itu Tuan Pond bisa langsung kembali bekerja, beliau harus beristirahat dulu selama beberapa minggu.
Alice sempat menawarkan Bright untuk mencari supir baru, akan tetapi CEO muda itu menolak dan lebih memilih untuk membawa mobilnya sendiri. Tiap pagi seperti biasa Win akan datang ke rumah Bright dan setelah itu mereka akan berangkat bersama, kadang Win yang duduk di kursi pengemudi jika Bright sedang merasa lelah.
Hingga suatu hari kesialan menimpa mereka—atau lebih tepatnya Bright.
Baik Bright dan Win sama-sama lupa untuk mampir ke pom bensin, keduanya terlalu lelah sampai tidak menyadari jika bensin di mobil hampir habis. Sekarang dengan mobil yang tidak dapat digunakan, tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali mencari alternatif transportasi, ada beberapa opsi yang bisa mereka pilih.
“No! Are you crazy?” tanya Win, setengah berteriak. Ia buru-buru merebut ponsel Bright dari tangan sang pemilik, “Kita nggak akan berangkat ke kantor pakai helikopter!”
“Why not?” Bright berusaha mengambil ponselnya dari genggaman Win, “Kurang dari setengah jam saya akan ada pertemuan dengan para investor, mereka orang penting dan kita nggak boleh telat!”
“I know! Saya tahu mereka orang penting,” Win menggigit bibirnya, ia melihat ke sekeliling sambil memikirkan cara lain, “What about—”
“No, kita nggak akan sampai ke kantor tempat waktu kalau naik taksi, look—” Bright menunjuk ke arah jalan raya yang ramai, penuh dengan kendaraan dari roda dua dan lebih, “macet parah! Lagi ada perbaikan di tempat lain, makanya hari ini jalanan lebih ramai dari biasanya.”
“Yaudah kalau gitu naik—”
“Bus juga nggak bisa, liat tuh banyak bus yang ikutan stuck di jalan.”
Hembusan nafas Win keluarkan, “Yaudah, berarti cuma ada satu cara.”
“And what’s that?”
.
.
.
Beberapa menit kemudian Bright menemukan dirinya berdiri di antara lautan manusia yang memenuhi gerbong MRT yang ia naiki, di hadapannya ada sang asisten yang bersandar di samping pintu.
“Tasnya ditaruh di depan, terus peluk erat gini.” Win memberitahu, laki-laki itu memberikan contoh pada atasannya dengan memeluk tasnya erat di depan dada, yang tentu saja langsung diikuti oleh Bright.
Walaupun sebagian wajah Win tertutup oleh masker, Bright yakin jika saat ini ada sebuah senyum manis yang tersembunyi di balik kain itu. Ia bisa melihatnya dari bagaimana sepasang mata itu berkerut membentuk bulan sabit.
“What’s so funny?” tanya Bright pada akhirnya, sebelah alisnya terangkat, “why are you laughing?”
Bukannya menjawab Win malah tertawa, laki-laki itu menutup mata dengan kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya ketika atasannya kembali bertanya.
“It’s nothing!” elak Win, setengah berbisik karena orang-orang di sekitar mereka mulai memberikan tatapan aneh. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, mengatur suara tawanya hingga akhirnya berhenti.
“Nggak nyangka saya bisa bawa salah satu pengusaha terkaya di dunia untuk naik MRT,” ungkap Win, “I thought you’re gonna say no, tapi Anda ternyata malah setuju dengan ide saya.”
Bright mengerjapkan matanya beberapa kali, detik itu juga ia menyadari bahwa ada suatu kebiasaan baru yang muncul di dalam dirinya setelah bertemu dengan Win.
“It was because I’ve never said no.” Bright bergumam, mengeluarkan apa yang ada di dalam kepalanya tanpa berpikir dua kali.
“What did you just say?” Win memiringkan kepalanya, tidak cukup menangkap apa yang barusan Bright ucapkan akibat suara pemberitahuan dari speaker yang mengatakan bahwa sebentar lagi mereka akan tiba di stasiun selanjutnya.
Sadar dari lamunannya, Bright segera menggelengkan kepalanya dan berdeham, “Nothing, I said nothing.”
Merasa bersyukur dengan keputusannya untuk mengenakan masker yang Win pinjamkan, karena kini ia dapat menutupi rona merah yang hadir di pipinya.
“Saya pernah naik MRT kok sebelumnya,” Ia pun mencoba mengalihkan topik, “waktu sekolah saya selalu naik MRT, selalu desak-desakan kayak gini karena berangkat bareng sama orang mau ke kantor.”
“Serius?” Win bertanya seakan tidak percaya, kedua matanya membulat sempurna, “Saya kira Anda kalau ke sekolah selalu diantar dengan supir.”
Bright mendengus, “I’m not spoiled.”
Tidak ada balasan yang diberikan dari lawan bicaranya, hanya tatapan mata yang tiap detiknya membuat Bright semakin risih karena ia paham arti dari raut wajah itu.
“Really?” tanyanya, tidak percaya.
Win pun mengangguk, “Really.”
“But, I never—” Bright awalnya ingin mengelak akan tetapi ia urungkan niatnya saat melihat Win memberikan tatapan mata yang sama, kali ini ditambah dengan sebelah alis yang terangkat.
CEO muda itu menghembuskan nafasnya pelan, “I’m sorry.”
“Apa tadi? Saya nggak bisa dengar.”
“I’m sorry for—” Ia berhenti sejenak untuk menelan ludahnya, “sorry I was a burden for you.”
Gelengan kuat Win berikan, “You aren’t and will never be a burden for me, Sir.” balasnya, dan Bright tahu dari binar yang menghiasi manik hitam di hadapannya bahwa laki-laki itu mengucapkannya dengan tulus.
Keduanya lalu terdiam, tenggelam dalam kesunyian yang mereka sendiri ciptakan di tengah keramaian, tenggelam dalam tatapan masing-masing.
Win lah yang pertama kali memecahkan keheningan itu, mengalihkan pandangannya pada luar jendela, “Taksi,” celetuknya sebelum kembali menatap Bright, “kita nanti pulang naik taksi.”
“Loh, kenapa?” tanya sang CEO muda.
“It’s not safe for you—saya baru sadar,” ujar Win, “nggak seharusnya saya bawa Anda untuk naik MRT seperti ini, gimana kalau nanti orang-orang mengenali Anda?”
“I’m not famous.” Bright mendengus.
“Oh ya, terus jadwal pemotretan untuk sampul majalah itu apa?”
Bright memutar bola matanya malas, “Okay, I might be famous but—”
“Punya pengikut sebanyak hampir 2 juta di Instagram itu bukan terkenal yah namanya?”
“Oke, nanti pulang naik taksi.”
✯✯✯
5.
“Sekarang udah bulan Desember,” celetuk Alice, matanya mengikuti setiap gerakan Bright yang sedang sibuk membaca laporan terbaru dari bagian logistik, “minggu kedua bulan Desember.”
Bright bergumam, “Really? Cepat juga, yah.”
“Apa tahun ini kita nggak bakal ngadain pesta ulang tahun?” Alice bertanya, bingung karena biasanya Bright sudah menyuruhnya untuk menyewakan ruangan berkapasitas besar atau mencarikan penyanyi yang bisa mereka undang untuk acara akhir tahun mereka.
“Pesta ulang tahun seperti tahun kemarin maksudnya?” Bright balik bertanya, mengalihkan pandangannya sejenak dari kertas-kertas di atas mejanya.
Alice mengangguk.
“Nope, ” jawabnya, “Metawin ajak saya untuk merayakan natal sekaligus pesta ulang tahun saya bersama dengan anak-anak dari panti asuhan.”
“Oh—wait, he what?” tanya Alice, sedikit berteriak.
Siapa sangka, jika dalam 7 tahunnya menjabat sebagai sekretaris dari Bright Vachirawit, Alice menyaksikan secara langsung bagaimana atasannya itu lebih memilih untuk menghabiskan akhir tahunnya bersama dengan anak-anak dari panti asuhan dibandingkan dengan berpesta di kapal pesiar seperti tahun lalu?
“Metawin mengajak saya buat rayain ulang tahun sekaligus natal nanti sama anak-anak dari panti asuhan,” Bright mengulang, matanya masih fokus membaca kata demi kata yang tercetak di atas lembaran kertas, “kemarin dia udah ajak saya untuk survei ke tempatnya langsung dan saya pun setuju. Tahun ini saya terlalu banyak menghamburkan uang untuk hal-hal tidak penting, jadi setidaknya kali ini saya ingin memberikannya kepada mereka yang lebih butuh.”
Alice mengedipkan matanya, sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Empat kali.
Hingga akhirnya ia sadar bahwa atasannya kini telah berubah.
Bahwa ia sama sekali tidak bermimpi, bahwa ini semua nyata.
Sang sekretaris lalu bertepuk tangan, cukup keras sampai membuat Bright terkejut.
“Kamu kenapa? Ngapain tepuk tangan?” Bright menatap sekretarisnya bingung.
“Did you hear yourself?” Alice malah balik bertanya, ia berjalan mendekat ke arah Bright, “you said you want to give your money to others!”
“You’re right, I did say that,” Bright mengan ggukkan kepalanya pelan, masih tidak paham dengan reaksi berlebihan yang Alice berikan, “Metawin kemarin marah-marah waktu saya bilang mau adakan pesta besar-besaran pas akhir tahun nanti, he said I can use my money for something better.”
“Metawin said that? ”
“Yeah,” Bright mengangguk lagi, akhirnya menandatangani dokumen yang baru saja diperiksanya itu, “and I decided to follow his words.”
“Seorang Bright Vachirawit mengikuti perkataan orang lain?” Dengan sebelah alis yang terangkat, Alice bertanya.
“Yup,‘cause why not?” Bright mengedikkan bahunya, lalu mengembalikan dokumen tadi kepada Alice yang sepertinya masih terkejut dengan informasi yang baru saja diterima.
Ini pertama kalinya.
Dalam 7 tahunnya bekerja di bawah pimpinan Bright Vachirawit, ini adalah pertama kalinya Alice melihat atasannya mendengarkan bahkan sampai mengikuti pendapat orang lain.
Dan semua itu bisa terjadi karena Win Metawin.
Selama ini Alice hanya memperhatikan dari kejauhan, ia tidak pernah berani menginterupsi apapun yang sedang terjadi di antara Bright dan Win. Namun dari kejauhan Alice bisa melihat semuanya, ia bisa melihat bagaimana Win selalu mengatakan tidak pada setiap permintaan aneh yang Bright ajukan. Alice juga bisa melihat bagaimana Bright selalu meminta pendapat dari Win mengenai banyak hal, mulai dari urusan pekerjaan sampai hal pribadi sekalipun. Alice juga bisa melihat bagaimana keduanya selalu tertawa bersama, bagaimana kerutan kesal di wajah Bright setelah rapat selalu hilang setelah bertemu dengan Win yang datang membawakan segelas kopi.
Alice bisa melihat dengan jelas bagaimana Win mengubah Bright sedikit demi sedikit.
“You like him, don’t you?”
Sebuah kesimpulan yang akhirnya berani Alice ambil setelah dua bulan ini menjadi seorang pengamat.
“Who?”
Atasannya itu malah balik bertanya tapi dari gerak-geriknya yang langsung mengalihkan pandangan membuat Alice yakin jika Bright tahu siapa yang ia maksud.
“Metawin—you like him, right?”
Meskipun gelengan kuat Bright berikan sebagai jawaban, Alice tahu bila telinga yang memerah dan juga tangan yang tak henti memainkan pulpen itu sudah cukup menjadi jawaban bahwa tebakannya itu benar.
.
.
.
“You have to move fast , kalau nggak Metawin keburu direbut sama orang lain.”
Adalah yang Alice katakan kemarin padanya sebelum pergi meninggalkan ruangan dan Bright sejak tadi tidak bisa berhenti memikirkannya.
Kenapa?
Tentu karena apa yang sekretarisnya itu bilang benar.
“Saya boleh muter lagu nggak?”
Pertanyaan yang Win ajukan itu membuat Bright tersadar dari lamunannya, ia langsung berusaha memfokuskan dirinya pada jalan raya di hadapannya. Pagi ini adalah bagiannya untuk duduk di kursi pengemudi, Bright harus tetap fokus karena jika tidak keselamatan mereka berdua akan terancam.
Bright melirik sekilas pada Win yang sedang memberikan tatapan penuh mohon, sebuah anggukan kepala kemudian ia berikan, “Sure.”
Tidak lama kemudian suara musik terdengar dari speaker mobilnya.
“Daniel Caesar?” tanya Bright begitu menyadari pemilik dari suara yang kini menggema di mobilnya.
“Yup! I really love his songs, especially this one—We Found Love.”
Oh?
Love, huh?
“Metawin,” panggil Bright, keringat mulai membasahi tangannya yang sedang memegang setir mobil itu, sebuah kebiasaan aneh yang selalu terjadi tiap kali ia merasa gugup, "can I ask you something?”
“Boleh.” jawab Win yang tengah fokus pada iPad-nya.
“It might sounds really weird,” Bright menjilat bagian bawah bibirnya, “you don’t have to answer it if you’re feeling—”
“Sir,” Win memotong, ia melihat ke arah Bright yang sudah lebih dulu menatapnya, mereka kini sedang berhenti di lampu merah, “you’re rambling.”
Rona merah kemudian hadir di pipi atasannya dan Win yang menyaksikan itu tentu saja terkejut, ini pertama kalinya ia menemukan atasannya terlihat malu. Selama ini Bright selalu dikenal dengan sifat percaya dirinya yang tinggi, tidak pernah merasa gugup meskipun hendak menghadiri pertemuan penting bersama para pengusaha lain.
“I know,” Bright menarik nafasnya dalam, berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak begitu cepat, “I’m sorry.”
“It’s okay,” balas Win, tidak lupa memberikan senyum manisnya, “what’s it? Anda mau tanya apa tadi?”
“Apa kamu lagi suka sama seseorang?”
Win mengerjapkan matanya beberapa kali, masih berusaha mencerna pertanyaan yang barusan Bright lontarkan. Akan tetapi kesunyian itu membuat Bright menjadi panik, ia mengalihkan pandangannya dari Win dan memacu mobilnya ketika lampu berubah menjadi hijau.
“I’m sorry, you don’t have to—”
“Kelihatan, yah?”
“What?” Bright malah bertanya balik, melirik ke arah asistennya, “apanya yang kelihatan?”
“Nevermind! ” jawab Win buru-buru, kembali memfokuskan diri pada iPad-nya, “maybe—that’s my answer, maybe.”
“Maybe? What do you mean?”
“Artinya mungkin saja saya lagi suka sama seseorang, mungkin saja tidak.”
“I’ll take that as a yes.”
“Up to you, Sir.”
“Is it Mike?”
Mendengar nama yang tidak asing itu membuat Win langsung memutar kepalanya, menatap ke arah Bright yang masih melihat ke jalanan, “Mike? Your friend?”
Dan anggukan pelan pun diberikan oleh atasannya.
Win lagi-lagi tidak langsung menjawab, ia malah sibuk memandangi laki-laki di sampingnya itu, memperhatikan gerak-geriknya. Ia yakin sekali jika saat ini Bright sedang merasa gugup.
Cute.
"No,” balas Win dan ia tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tersenyum waktu melihat tubuh Bright menjadi lebih rileks, seperti semua beban yang menimpanya terangkat, “dia cuma teman.”
“Oh, teman.”
“Yap, teman,” Win tersenyum lebar sekali sampai pipinya terasa sakit, “I like someone else.”
Mendengar itu Bright reflek mengalihkan pandangannya, “What? Who?”
“Eyes on the road, Sir! ” peringat Win sebelum ia tertawa.
“Kamu suka sama siapa? Do I know them?”
“Him,” ujar Win, mengoreksi, “you know him very well.”
“Oh, really? Apa dia laki-laki yang baik?”
“Awalnya saya kira dia laki-laki yang paling menyebalkan karena suka berbuat seenaknya, suka minta hal yang aneh-aneh juga,” jawab Win, menggelengkan kepalanya sambil tertawa seakan sedang mengenang sesuatu, “tapi akhirnya saya sadar kalau dia itu orang yang baik. Dia seorang pekerja keras yang selalu mendengarkan masukan atau pendapat orang lain mengenai bisnisnya, bahkan pendapat saya pun yang belum pernah terjun langsung ke dunia bisnis juga dia dengar.”
“Oh.”
Rona merah di wajah Bright semakin kentara, jelas sekali jika ia tahu siapa laki-laki yang Win bicarakan.
Kesunyian pun menyelimuti mereka, tidak ada yang bersuara kecuali suara pendingin dan juga lagu Daniel Caesar yang terdengar dari speaker mobil.
Bright menggerakkan jarinya, mengetuk setir kemudi sesuai dengan irama musik sambil sesekali menggumamkan lagunya. Ia terlihat senang, rasa gugup sudah digantikan dengan kebahagiaan yang memuncak di dalam dadanya.
“Metawin.” Bright memanggil, memecah kesunyian yang ada.
Sang pemilik nama tentu saja menoleh, “Ya?”
“Can you call Alice?”
“Right now? What’s wrong?”
“I need her to file a workplace safety incident report—"
“What!?” Win terkejut, ia buru-buru mengambil ponselnya. “Wait a minute!”
“—cause I just fell for you.” lanjut Bright sebelum tertawa.
“You did not!” Win langsung memukul lengan atasannya itu, “Jangan bikin saya panik!”
“You have to see your face!” ucap Bright di sela tawanya, “It was so funny.”
“I thought you’re being serious!”
“Oh, I am! I’m serious,” sang CEO muda menarik nafasnya dalam, ia mengambil kesempatan untuk menatap asistennya kala mobilnya kembali berhenti di lampu merah, “ I do like you, Metawin. ”
Win terdiam, matanya bertemu dengan milik Bright yang memandangnya lembut. Ada rasa hangat yang menyelimuti hatinya, perlahan menyebar luas hingga ke sekujur tubuhnya. Ia bisa merasakan pipinya ikut menghangat di bawah tatapan atasannya.
“Okay,” Sudah tidak kuat lagi, Win akhirnya mengalah, ia mengalihkan pandangannya ke iPad di pangkuannya, “Now move on, we have a nice meeting in about an hour from now. I need you to drive faster so we can have more time to prepare.”
“Wait!” Bright meraih tangan Win, membuat sang empunya langsung memberikan tatapan terkejut, “will you be my boyfriend, Metawin?”
“No.” tolak Win, ia sampai menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa yang terancam keluar begitu menyaksikan raut wajah Bright berubah menjadi sendu.
“Oh,” Bright melepaskan tangan Win, suaranya terdengar lirih seperti baru saja dihempaskan dari langit ketujuh, “alright.”
Sudah tidak dapat menahan rasa gemasnya lagi, Win pun mendekatkan tubuhnya dan meninggalkan sebuah kecupan di pipi Bright.
“You have to take me on a date first, Sir.”
“W-What?” Bright memegang pipinya, matanya yang terbuka lebar itu menatap Win penuh rasa tidak percaya.
“Eyes on the road, Sir.” Win membalas sembari tersenyum manis sekali.
Senyum manis yang sejak awal selalu berhasil membuat Bright terpana.
✯✯✯
+1
Bright baru keluar dari ruangan meeting bersama dengan Alice saat menemukan Win berdiri tidak jauh dari pintu, segelas kopi dan sebuah bingkisan coklat ada di genggamannya.
“Go get your lover boy.” bisik Alice, menepuk pundaknya kuat sebelum pergi meninggalkan mereka berdua menuju ke ruangannya.
Win yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa, sedangkan Bright yang masih belum bisa melupakan kejadian tadi pagi terlihat kikuk, ia sejak tadi tidak bisa berhenti menggaruk tengkuknya.
“Hey,” sapa Win, menyerahkan gelas kopi itu kepada atasannya, “one iced americano for you.”
Bright menerima kopi tersebut dan mengucapkan terima kasih lalu tersenyum kecil. Keduanya kemudian berjalan beriringan ke arah lift dengan Bright yang sekali-kali mencuri pandang ke arah asistennya.
Win yang tentu saja menyadari itu pura-pura tidak tahu, ia malah memilih untuk mengotak-atik iPad-nya seperti biasa.
“Jadi habis ini saya ada jadwal apa? Kamu tadi pagi cuma kasih tahu saya soal rapat ini.” Bright akhirnya membuka suara.
“Because you don’t have any,” jawab Win sambil menunjukan iPad-nya yang biasanya penuh dengan catatan kini terlihat kosong, “jadwal Anda hari ini hanya meeting barusan.”
“Sungguh?”
“Yup, you can go home now and enjoy your long weekend if you want,” beritahu Win, ia memberikan bungkusan coklat tadi kepada Bright, “anggap saja ini sebagai hadiah kecil dari saya karena selama beberapa minggu terakhir ini Anda sudah bekerja keras. You deserve some rest, Sir.”
Istirahat?
Sudah lama sekali Bright tidak mendengar kata-kata itu. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali dirinya mendapatkan kesempatan untuk beristirahat, mungkin beberapa bulan yang lalu? Ketika Win masih belum menjadi asistennya.
Ketika Bright terlalu sering menghabiskan waktunya untuk bermain ketimbang bekerja, ketika Bright selalu menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang, ketika Bright Vachirawit belum bertemu dengan Win Metawin.
“Metawin.” panggil Bright, memberhentikan langkah kakinya.
“Yes, Sir?” Win yang juga ikut berhenti melangkah itu memberikan tatapan bingung.
“Can I take you on a date?"
Win mengedipkan matanya.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
“What?”
Bright menghembuskan nafasnya sebelum bibirnya mengulas sebuah senyum, “A date, I want to take you on a date.”
“Oh, when?”
“Is that a yes?”
“Maybe.” Win mengedikkan bahunya.
CEO muda itu terkekeh, "Right now, if you’re free.”
“I am free.”
“Cool,” Bright tersenyum semakin lebar, “so, date?”
Tidak butuh waktu lama untuk sebuah anggukan kecil ia terima dari Win sebagai jawaban.
“Yes, date.”
