Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2020-12-08
Words:
7,162
Chapters:
1/1
Comments:
12
Kudos:
99
Bookmarks:
6
Hits:
994

Infinitely You

Summary:

Berstatus sepasang kekasih dengan rekan kerja—dan dipaksa menghadapi satu sama lain secara profesional sebagai atasan-bawahan di kantor—adalah sebuah tembok tinggi yang sulit untuk diruntuhkan.

Sesungguhnya, terkadang ujian kesabaran Seokjin dalam menghadapi Yoongi berlebihan untuk kesehatan mentalnya. Pun tetap, ia menjanjikan selamanya.

Notes:

disclaimer: this is a work of fiction. the characters herein are based on real people (the members of BTS) and i do not own any of them.

i made it in time phew
i offer you my second #yoonjinbingo (prompt: pancake) + #yjholiday20 #day4 (prompt: party) entry. damn i really am a deadliners.

ini sekuel dari Professionalism? Next! tapi bisa dibaca terpisah. tbh aku cuma males bikin setting dan back-story karakter baru.. hehe

Work Text:

Jika setahun lalu Kim Seokjin tidak mau mempertimbangkan komitmen akan hubungan romansa (dan berujung mendapatkan seorang kekasih beberapa bulan kemudian), maka tahun ini ia memutuskan untuk tidak mendeklarasikan apapun demi menghindari senjata makan tuan.

Setahun belakangan, hidupnya berjalan baik-baik saja. Ia tidak akan menyebutnya luar biasa, pun mengatakan banyak tertimpa sial. Satu tahun ini berjalan cukup menyenangkan dan meletihkan di saat bersamaan. Hidupnya tidak berjalan semonoton tahun-tahun sebelumnya dan fakta itu lebih dari cukup untuk membuatnya merasa bergerak maju alih-alih menetap di satu tempat.

Terima kasih pada kehadiran Min Yoongi; kepala divisi yang menaungi departemen pimpinannya, merangkap kekasih jalan delapan bulan.

Bagi Seokjin, Yoongi bukanlah sosok pasangan yang dulu ia khayalkan. Yoongi tidak menjadi tempatnya bergantung di tiap saat, tidak pula selalu meluangkan waktu di akhir pekan untuk menghabiskan waktu bersama, atau memberinya dukungan penuh akan tiap pilihan hidupnya.

Namun Seokjin tidak membenci fakta itu, ia justru menyukurinya. Mungkin itu yang terjadi ketika umur bertambah diikuti pemikiran yang semakin dewasa. Sekarang Seokjin menyadari betapa konyol ekspektasinya akan pasangan ketika dulu masih remaja.

Ternyata ia tidak membutuhkan seseorang yang membuatnya merasa nyaman untuk sering meminta pertolongan tanpa sungkan; ia butuh seseorang yang membuatnya ingin menjadi lebih mandiri meski menyadari adanya uluran tangan yang siap memberi bantuan.

Ia tidak butuh kekasih yang mengutamakannya setiap saat; ia butuh sosok yang sesekali memberinya waktu luang untuk menikmati waktu sendiri atau bersama teman-teman. Memiliki pasangan tidak berarti harus selalu bersama.

Terakhir, ia tidak membutuhkan seseorang untuk mengatakan ia mengambil keputusan yang benar meski menyadari bahwa ia salah mengambil langkah; ia butuh seseorang untuk memberinya koreksi dan berusaha menunjukkan arah yang benar.

Bersama Yoongi membuatnya sadar bahwa hubungan mereka sama sekali berbeda dengan pacaran semasa sekolah juga kuliah. Seokjin merasa hubungan ini mendukungnya untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

…Itu sisi positifnya.

Pada akhirnya, terlepas dari hubungan sehat dan minim masalah berat di antara mereka, berstatus sepasang kekasih dengan rekan kerja—dan dipaksa menghadapi satu sama lain secara profesional sebagai atasan-bawahan di kantor—adalah sebuah tembok tinggi yang hingga sekarang sulit untuk mereka runtuhkan.

“Aku minta pertanggungjawabanmu untuk campaign ini,” ucap Yoongi setelah melemparkan laporan acara yang beberapa jam lalu Seokjin berikan—menimbulkan bunyi benturan ketika mendarat tepat di atas meja kerjanya. “Kau hampir tidak menyentuh KPI meski mendapatkan waktu persiapan lebih lama dari biasa.”

Seokjin sempat menganggap dirinya adalah seorang perfeksionis, tapi pemikiran itu raib setelah mengenal Yoongi. Lelaki itu sangat sulit merasa puas, bahkan nyaris tidak pernah memberi pujian pada siapa pun termasuk diri sendiri.

“Pertanggungjawaban apa yang kau bicarakan? Aku berhasil memenuhi KPI yang ditetapkan,” ia membalas defensif. “Waktu persiapannya memang lebih lama, tapi campaign itu bukan satu-satunya yang kupegang. Jika aku memfokuskan diri sepenuhnya di sana, aku akan merusak proses campaign lainnya.”

“Jadi menurutmu sekedar menyentuh KPI sudah cukup?” tanya Yoongi dengan nada meremehkan yang telah Seokjin hafal luar kepala.

“Bukankah memang untuk itu KPI ada?”

Suara pintu yang diketuk menginterupsi perdebatan mereka sejurus kemudian.

Jeon Jungkook, mantan anak magang yang kini telah diangkat menjadi pegawai tetap di dalam divisi Seokjin, membuka pintu setelah mendengar izin dari dalam. Seokjin melihat pemuda itu mengerjap gugup dan enggan masuk, sepenuhnya menyadari hawa gelap yang menguasai ruangan.

“Aku hanya ingin memberi tahu Seokjin-hyung ditunggu oleh general manajer di ruangannya,” ucap Jungkook tanpa berani bergerak dari posisinya di depan pintu. “Kalian sepertinya harus… ehem, menunda perdebatan kalian sesaat.”

Yoongi hanya menghela napas kasar, mengibaskan tangannya tak acuh sebagai gestur memerintahkan Seokjin untuk keluar. Tanpa menunggu lebih lama, Seokjin mengambil langkah dan mengajak Jungkook kembali ke meja mereka.

“Kalian bertengkar lagi, Hyung?” tanya sang Jeon layaknya belum terbiasa mendapati Yoongi dan Seokjin bersitegang. “Apa kalian baik-baik saja?”

Jimin yang mendengar pertanyaan itu mewakilkan Seokjin dengan menjawab, “Mereka akan baik-baik saja,” pandangan matanya tetap fokus pada layar seolah hidupnya bergantung di sana. “Tidak seperti ini pertama kali mereka bertengkar.”

“Kami tidak bertengkar,” ucap Seokjin tak terima. “Ada perbedaan besar antara bertengkar dan berdebat demi mempertahankan harga diri.”

“Kau masih bisa menyebut harga diri di saat kau berusaha membunuhnya lewat tatapan mata pada siang hari, tapi berlutut di hadapannya pada malam hari?”

“Kadang dia yang berlutut, asal kau tahu,” Seokjin menjawab terlampau cepat akibat emosi masih menguasai, lalu menyesalinya dalam sepersekian detik. “Anggap aku tidak pernah mengatakan itu.”

Berdeham canggung, Jungkook menyetujui. “Dengan senang hati.”

Sebelum beranjak pergi menuju ruangan sang general manajer, Seokjin beralih pada Jimin. “Mulai sekarang pastikan kita selalu mencapai target minimal lima persen di atas KPI.”

“Lima persen?” Pernyataan itu menyebabkan Jimin mengalihkan pandangan dari proposal kerjasama yang sedang ia baca. “Untuk apa kita memiliki KPI kalau tetap harus memaksakan diri melampaui target sebesar itu?”

“Jangan tanya aku,” jari telunjuk Seokjin mengarah pada di mana letak ruangan Yoongi berada. “Tanya saja pada kepala divisimu.”

“Kekasihmu gila,” tandas Jimin tanpa dosa.

“Memang,” Seokjin membenarkan. “Tolong ingatkan aku kenapa aku mau menjalin hubungan dengannya.”

Tanpa menunggu Jimin mengingatkannya secara literal—ia tahu temannya itu akan melakukannya dengan suka rela—Seokjin memutar tubuh dan berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas, menerka-nerka apa yang ingin general manajer kantornya bicarakan.

Alih-alih bermain tebak-tebakan dengan diri sendiri terlalu lama, Seokjin berakhir teringat akan campaign terakhir yang departemennya kerjakan. Ia berusaha meneliti di mana letak kekurangan campaign tersebut hingga tidak mendapatkan hasil maksimal. Di atas siapa pun, ia adalah yang paling tahu bahwa sekedar cukup bukanlah pencapaian besar.

Sebagai atasan, tak jarang Yoongi menyebabkannya naik darah akibat cara bicara gamblang tanpa belas kasihan. Adalah hal bagus bahwa Yoongi tidak membuat pengecualian pada dirinya, tapi terkadang Seokjin tetap sulit menerima kenyataan bahwa sosok yang membuatnya merasa emosi di banyak kesempatan tak lain merupakan kekasihnya seorang.

Yoongi tidak pernah berbasa-basi jika menyangkut pekerjaan. Setahun berada di bawah arahan lelaki itu menyadarkan Seokjin bahwa Yoongi tidak pernah bermaksud merendahkan terlepas dari mulutnya yang kasar. Jika cukup besar hati untuk mendengarkan dan mengintropeksi diri dari kesalahan atau kekurangan yang Yoongi tunjukkan, maka hasil kerja ke depannya dipastikan berkembang pesat.

Sayangnya tidak semua orang memiliki mental baja. Seokjin sendiri masih kerap tersulut emosi seperti yang terjadi beberapa menit sebelumnya, meski selalu berakhir meluangkan waktu untuk berpikir ketika telah merasa lebih tenang. Yoongi memiliki gaya nyentriknya sendiri dalam bekerja dan Seokjin belum dapat menentukan apakah ia menyukai atau membenci cara sang atasan.

Ketika pintu lift terbuka di lantai yang menjadi tujuannya, handphone-nya bergetar pertanda adanya panggilan masuk. Seokjin hanya ingin mengecek nama yang tertera di layar dan menelepon kembali nanti usai jam kerja—namun menemukan ibunya adalah pelaku panggilan menyebabkannya menepi ke salah satu sudut ruangan untuk mengangkat saat itu juga.

“Ma, ada apa? Aku sedang di kantor sekarang. Apa? Jangan berca—besok malam? Akan kuusahakan.”

 

 

Seokjin telah merapikan meja kerjanya dan menggunakan mantel di saat melewati pintu ruangan Yoongi yang tertutup rapat dengan lampu masih menyala, pertanda sang pemilik ruangan masih berada di dalam. Ia menghela napas, membuang jauh ego seperti kesepakatan awal mereka ketika memutuskan untuk menjalin hubungan.

(“Kita berada di divisi yang sama, kau adalah atasanku dan jabatan kita menuntut untuk sering bertatap muka. Kau yakin hubungan kita tidak akan merusak profesionalitas ketika kerja?”

Tangan Seokjin sedang memainkan surai Yoongi yang berada di atas pahanya. Akhir pekan itu mereka habiskan untuk bermalas-malasan seharian. Tidak ada satu pun di antara keduanya yang benar-benar fokus menonton apa yang layar kaca tayangkan—Yoongi memejamkan kedua mata dengan paha Seokjin sebagai bantal, sebelah tangan Seokjin memainkan handphone yang telah menjadi pusat perhatiannya dua jam belakangan.

“Aku tidak akan mencampur urusan pribadiku dengan pekerjaan,” ucap Yoongi dengan suara kental akan kantuk berat. “Bahkan jika itu untukmu.”

Sebelum Seokjin berhasil menyentilkan jari di atas dahi kekasihnya, Yoongi menangkap tangan itu dengan cekatan. “Kalimat yang bijak dari seseorang yang mengajakku ke kamar mandi bersama seminggu lalu.”

Yoongi mendengus dan tertawa. “Itu di jam istirahat,” kilahnya tanpa dosa. “Maksudku, aku akan tetap memperlakukanmu seperti sebelumnya. Menegurmu ketika salah dan memberikanmu jumlah pekerjaan sesuai porsinya. Tidak ada perlakuan khusus atau apapun.

“Jadi kuharap kau bisa bertahan dan jangan sampai… sakit hati? Aku tahu aku tidak terlalu pandai berkata manis. Caraku memberi kritik lebih sering terdengar seperti ajakan berkelahi. Tapi kalau kau bisa berjanji untuk meninggalkan apa yang terjadi di kantor ketika kita sedang berdua sebagai sepasang kekasih, kurasa tidak akan ada masalah.”

Senyum Seokjin merekah mendengar kejujuran itu. Salah satu hal yang ia sukai tentang Yoongi adalah bagaimana sang Min tidak hanya jujur dalam memberi masukan seputar pekerjaan, namun juga sebagai teman dan pasangan.

“Menurutku itu layak untuk dicoba,” ia membiarkan Yoongi menggenggam tangannya. “Kalau suatu hari aku merajuk, itu artinya kau benar-benar kelewatan.”

“Aku yang kelewatan,” Yoongi membuka sebelah mata. “Atau mentalmu yang lemah?”

Aku lemah jika itu menyangkut tentangmu, jawab Seokjin dalam hatinya. Ia memilih untuk berdiri tanpa peringatan, berakhir menyebabkan kepala Yoongi jatuh di atas sofa dan menimbulkan erangan tertahan. “Aku lapar.”)

Mengetuk pintu dengan perlahan, Seokjin menjulurkan kepalanya ke dalam ruangan dan menemukan Yoongi masih sibuk dengan kertas berserakan di atas meja. “Yoongi? Kau bawa mobil hari ini?”

Yoongi mengangkat wajahnya dari berkas yang sedang ia kerjakan, menggeleng lugu sebelum balas bertanya, “Kau bawa?”

Seokjin mempersilakan diri untuk masuk, menutup pintu dan mendudukkan diri di atas sofa. Jam kerja telah usai yang berarti kini ia berada di sana sebagai seorang kekasih, bukannya rekan kerja. “Aku akan menunggu di sini. Selesaikan pekerjaanmu,” ia berkata. “Salju hari ini cukup lebat. Aku akan mengantarmu pulang.”

“Kalau begitu aku akan membawa pekerjaanku ke rumah,” ujar Yoongi seraya merapikan seluruh berkas di permukaan meja dan memasukkannya ke dalam tas. Tidak sampai lima menit, ia telah berdiri di depan Seokjin dan mengulurkan tangan. “Ayo.”

Tertawa melihat sikap Yoongi yang seratus delapan puluh derajat berbeda, Seokjin meraih tangan itu dan bangkit dari duduknya—meninggalkan kecupan singkat di pelipis kekasihnya sebelum melepaskan genggaman. “Kau tahu aku tidak suka PDA.”

“Mm, aku suka,” Yoongi tidak berusaha untuk kembali meraih tangannya, menghargai preferensi Seokjin karena ketika nanti setelah berada di dalam mobil, ia dapat menggenggam tangan itu sepuasnya. “Berikan kunci mobilmu. Aku yang akan menyetir.”

Setelah menggunakan sabuk pengaman, Seokjin melirik Yoongi dan mengambil waktu untuk menimbang mengatakan sesuatu yang memenuhi benaknya sejak siang. Bahkan setelah mobil melaju, ia belum berhasil mengambil keputusan yang dianggap tepat.

Jalanan malam itu dihiasi tumpukan salju di mana-mana—tiap kendaraan berusaha meminimalkan laju agar tidak tergelincir dan berujung pada kecelakaan merugikan. Seokjin menyalakan pemanas untuk mencegah tubuhnya yang lemah terhadap suhu rendah berakhir terkapar akibat demam.

Ia baru saja hendak menyambungkan bluetooth dengan radio mobilnya di saat Yoongi bersuara, “Apa yang kau pikirkan?”

“Intuisimu mengerikan,” responnya tanpa berusaha mengelak. Yoongi meraih sebelah tangannya dan mendapatkan apa yang tertunda di gedung kantor sebelumnya; dua tangan saling menggenggam.

“Aku dapat bertahan hidup hingga sekarang semata karena intuisiku yang tajam,” gurau yang beberapa bulan lebih muda. “Jadi, ada apa?”

Seokjin menghela napas, tanpa sadar mengeratkan genggaman tangannya seraya mengatakan, “Ibuku meneleponku tadi siang.”

“Lalu?”

“Tunggu. Urutannya salah,” ia berusaha membenarkan prioritas informasi yang perlu dibicarakan. “General manajer menawariku promosi untuk menjadi Kepala Divisi Sales.”

“Posisi yang menyebalkan,” tanggapan Yoongi menyebabkannya tertawa. Jika ia memilih untuk menerima jabatan itu, besar kemungkinan mereka akan lebih sering bersitegang daripada sekarang. Lebih sengit pula. “Tapi itu posisi yang bagus untuk perkembangan karirmu. Selamat, Seokjin. Kau pantas mendapatkannya.”

“Rasanya aneh mendengarmu memujiku jika itu menyangkut pekerjaan,” gumam Seokjin seraya dengan sengaja mengabaikan lirikan sebal yang Yoongi lemparkan. “Tapi rasanya tidak buruk. Terima kasih, Bos.”

Mengerlingkan mata, Yoongi melakukan tindakan bertolak belakang dari gestur jengahnya. Ia mengecup punggung tangan Seokjin, masih dengan pandangan lurus pada jalanan. Meski delapan bulan telah berlalu, Seokjin masih belum dapat merasa terbiasa dengan afeksi yang lelaki itu berikan. Seketika wajahnya terasa panas meski suhu cuaca jelas-jelas dingin bukan kepalang.

“Tadi kau bilang ibumu menelepon,” Yoongi berusaha mengingatkan.

“Ah, iya. Ibuku,” Seokjin kembali teringat satu hal lain yang perlu dibahas. “Aku diminta untuk kembali ke perusahaan ayahku.”

Yoongi tidak langsung memberi respon meski lampu merah menyala dan memberinya waktu untuk menolehkan kepala. Mulut lelaki itu terbuka, namun Seokjin tak kunjung mendengar suara keluar dari sana.

Bahkan ketika lampu merah berakhir dan mengharuskan mobil yang mereka kendarai kembali melaju di tengah jalanan ramai Seoul, Yoongi tetap memilih untuk bungkam.

“Yoongi?” panggil Seokjin pelan. Reaksi ini sama sekali di luar dugaannya. “Kau mendengarku, ‘kan?”

Berusaha membasahi tenggorokannya yang kering dengan berdeham, Yoongi mengangguk sebagai tanggapan. “Jawaban apa yang kau berikan?”

“Belum ada. Besok aku akan makan malam bersama orang tuaku untuk membahasnya,” ia menjawab dengan nada lelah. “Aku pikir hari ini tidak akan datang. Setidaknya hingga lima tahun ke depan.”

Kali ini giliran Yoongi yang mengeratkan genggaman. “Aku berusaha untuk menekan sisi kekanakkanku ketika mendengar kau mendapatkan promosi. Kita tidak akan lagi bekerja di lantai yang sama dan aku menganggapnya sebagai mimpi buruk karena itu berarti kita akan jarang bertemu,” Yoongi menghela napas dan melanjutkan, “Tapi… kau kembali ke perusahaan ayahmu adalah mimpi buruk yang seribu kali lipat lebih buruk.”

Menyandarkan kepalanya pada pundak Yoongi, Seokjin tersenyum kecil. “Ini tidak seperti dirimu. Aku kira kau akan senang memiliki lebih banyak jarak denganku.”

Usai memarkirkan kendaraan di basement tempatnya tinggal, Yoongi melepaskan sabuk pengaman dan mengubah posisi duduknya untuk menghadap Seokjin. “Seokjin, aku memang memberimu ruang sesekali. Tapi bukan berarti aku tidak ingin terus berada di dekatmu dua puluh empat per tujuh,” jelasnya di tengah temaram lampu lapangan parkir. “Dulu kau selalu menekankan bahwa kau bukanlah tipe berkomitmen. Aku tidak ingin membuatmu merasa jenuh, apalagi terkekang. Jika kau menganggap upayaku untuk bersikap dewasa adalah—”

Dalam satu gerakan, Seokjin meraih tengkuk Yoongi dan mendorong lelaki itu untuk meniadakan distansi di antara mereka. Mengadu bibir dengan pagutan lamban selama sesaat.

“Aku tahu,” Seokjin dapat merasakan hembusan napas Yoongi ketika ia menarik diri dan menciptakan jarak tipis di antara wajah mereka. “Maaf membuatmu merasa harus menjelaskannya secara verbal padaku. Aku tahu, Yoongi. Aku paham. Terima kasih untuk pengertianmu.”

Yoongi menempelkan dahinya pada milik sang kekasih, memejamkan mata seraya menyelami kehangatan sentuhan yang tak pernah gagal memberikan nyaman. “Apapun keputusanmu… kau akan memberitahuku lebih dulu, ‘kan?”

Mengangguk menyetujui, Seokjin membalas, “Kau adalah konselor pribadiku. Tentu saja aku akan memberitahumu lebih dulu dari siapa pun.”

Yoongi melepaskan sabuk pengaman Seokjin yang masih terpasang aman, meraih tasnya di kursi belakang sebelum berkata, “Apapun pilihanmu, kali ini lakukan untuk dirimu sendiri, bukan untuk memuaskan orang lain. Termasuk aku.”

Seokjin teringat hari di mana Yoongi dulu sempat memberikan nasihat yang sama untuk pertama kali. Saat itu hubungan mereka tak lebih daripada friends with benefit—namun di saat yang sama Seokjin juga berhasil membuka mata berkat orang asing yang tidak ia kenal cukup baik.

Memiliki Yoongi untuk terus mengingatkannya mengambil jalan yang benar, baik sebelum hingga kini menjadi sepasang kekasih, Seokjin tidak akan pernah berhenti bersyukur pada Tuhan akan keberuntungannya mengenal sang tambatan hati.

“Boleh aku menginap malam ini?”

Kecupan singkat mendarat di bibir Seokjin sebagai jawaban. “Kukira kau tidak akan pernah menawarkan diri jika aku tidak meminta.”

 

 

Melepaskan mantel beserta syal yang ia gunakan dan memberikannya pada pelayan restoran, Seokjin kemudian menduduki meja yang terlah direservasi oleh orang tuanya. Jika ia boleh memilih, ia lebih merindukan masakan rumah daripada harus menyantap hidangan restoran. Untung saja ia memiliki motto pantang menolak rezeki, terutama mengisi perut secara gratis.

Tadi malam ia telah mendiskusikan segalanya bersama Yoongi. Mereka nyaris terlambat pagi tadi dikarenakan berbincang hingga larut, berbaring berhadapan di atas kasur, tidak melakukan apapun selain mengeluarkan isi hati dan pikiran, juga memejamkan mata setelah mengucapkan sayang. Dadanya terasa hangat ketika terbangun dan menemukan wajah Yoongi yang masih terlelap.

Menginap di malam kerja adalah hal yang jarang mereka lakukan, pun bercakap dari hati ke hati seperti semalam. Setelahnya Seokjin menyadari bahwa hubungan mereka didominasi oleh intuisi dan spekulasi; tidak sepenuhnya salah, tapi tak ayal memiliki risiko salah paham yang tinggi. Ke depannya, mereka berjanji untuk lebih sering berkomunikasi.

Yoongi bukan satu-satunya yang harus mengalah dan memahami dalam hubungan mereka. Seokjin tahu selama ini ia melakukan hal sama, tapi ia juga tahu ia harus berusaha lebih keras akibat sikapnya yang cenderung skeptis terhadap hubungan romansa.

Seandainya sikap Yoongi di kantor semanis di saat mereka hanya berdua.

“Seokjin? Mama kira belum sampai,” sapa seseorang seraya menyentuh pundaknya. Seokjin memamerkan senyum ketika mendapati wajah sang ibu, lalu berdiri untuk memberikan pelukan singkat pada kedua orang tuanya.

Ia tidak sering pulang ke rumah setelah memutuskan untuk hidup seorang diri, anehnya tidak merasa terlalu akrab untuk menghabiskan banyak waktu bersama keluarga. Ayahnya selalu sibuk, sedangkan ibunya berusaha semaksimal mungkin untuk menemani sang suami. Seokjin berusaha memahami sejak kecil; ia bukannya tidak dicintai, hanya saja beberapa hal memang lebih penting daripada dirinya untuk diurusi.

Usai memesan makanan, ia membuka obrolan dikarenakan tak ingin berada di sana terlalu lama. “Jadi… kenapa tiba-tiba Mama mengatakan itu di telepon?”

Itu yang dimaksud adalah harapan untuknya segera meneruskan titel sang ayah.

Sebagai anak dari direktur utama perusahan keluarga turun-temurun, Seokjin tentu sadar ia tidak banyak memiliki pilihan dalam hidupnya. Ayahnya tidak melarang ketika beberapa tahun lalu ia memutuskan untuk keluar perusahaan dengan dalih mencari pengalaman di perusahaan orang, tapi ia tahu cepat atau lambat, ia harus kembali ke tempat di mana ia seharusnya berada.

“Papa rasa sudah saatnya Papa pensiun,” ayahnya mengambil alih memberi jawaban. “Pengalamanmu bekerja juga sudah cukup. Kalau kau bisa meneruskan perusahaan lebih cepat, kenapa tidak?”

Seokjin menahan napas. “Apakah aku memiliki suara di sini? Atau ini adalah permintaan berkedok perintah final?”

Sang ibu meraih tangannya, tersenyum penuh rasa bersalah dan menggelengkan kepala. “Maaf jika kemarin Mama terdengar seperti memaksa. Tapi tidak, Seokjin. Kau boleh mengeluarkan pendapatmu di sini,” ucap wanita itu dengan lembut. “Tapi kau juga harus tahu bahwa jika tidak sekarang, suatu saat nanti kau tetap harus menerimanya.”

Dua hari ini ia habiskan terlalu banyak untuk bertukar pikiran. Untuk seseorang yang tidak terlalu gemar menggunakan kata-kata, Seokjin dapat merasakan rahangnya mulai pegal. Tapi jika tidak sekarang, ia tidak tahu kapan lagi orang tuanya akan bersikap cukup besar hati untuk mengalah dan meminjamkan telinga.

“Aku pasti meneruskan pekerjaan Papa. Tapi tidak sekarang,” ia berucap tegas. “Beri aku tiga atau empat tahun lagi. Posisiku di kantor masih sekedar kepala departemen dan aku baru saja mendapatkan promosi kemarin. Aku ingin mendapatkan pengalaman lebih banyak sebagai kepala divisi. Tiga atau empat tahun lagi, aku akan kembali ke perusahaan Papa sebagai orang yang lebih layak memegang jabatan yang Papa tinggalkan.”

Ia tahu ibunya dapat merasakan tangannya yang bergetar—takut akan penolakan dan bentakan tak terima. Namun hari ini Seokjin tidak akan mengalah. Tidak ketika akhirnya ia melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, tanpa mempertimbangkan orang lain dan mutlak untuk kepuasan dan perkembangannya menjadi sosok yang lebih pantas.

“Aku harap Papa dan Mama dapat menerima dan mendukung keputusanku,” ucapnya final dan menundukkan kepala penuh hormat, beserta harap.

 

 

Dengan kaki terus menghentak pelan di atas lantai ruangan, Seokjin memperhatikan Yoongi membulak-balik proposal yang baru saja ia berikan. Sejak Yoongi menjadi kepala divisinya, terdapat dua hal yang selalu menimbulkan cemas luar biasa di sepanjang karirnya, melebihi khawatir yang menyergap dulu pada saat peliharaannya melahirkan: penyerahan proposal dan penyerahan laporan.

Ketika Yoongi menghela napas dan membuka kacamata, Seokjin tahu hari ini adalah hari lain di mana kata puas adalah sebuah kata yang memiliki probabilitas nol besar di hadapan sang atasan.

“Kalau kau pikir kau dapat membuat proposal gegabah karena ini adalah campaign terakhirmu sebelum pindah divisi dan mendapatkan promosi, maka kau salah besar,” lelaki itu menyipitkan mata. “Aku yakin kau bahkan tidak memeriksa proposal ini sebelum menyerahkannya padaku.”

Seokjin seratus persen memeriksanya lebih dulu. Dengan teknik memindai. Pekerjaannya yang lain masih menumpuk dikarenakan akhir tahun dan ia tidak memiliki cukup banyak waktu untuk secara detail mengecek proposal yang Jimin kerjakan.

“Kau melewatkan—”

“Jimin yang mengerjakan proposal itu.”

“Jimin melewatkan bagian mengenai target engagement dan kau seharusnya menyadari itu jika benar-benar telah memeriksa proposal ini sebelum aku.”

Mungkin teknik memindai memang hanya boleh digunakan pada kamus dan Park Jimin harus menraktirnya makan siang karena membiarkannya dipermalukan untuk ke sekian kali. Di depan atasan merangkap kekasihnya sendiri.

“Aku akan meminta Jimin memperbaikinya,” ucap Seokjin mengakui kesalahan yang tidak dapat diganggu gugat. “Kali ini aku juga akan benar-benar memeriksa proposal itu sebelum menyerahkannya padamu.”

Yoongi memijat keningnya, menghela napas kasar sebelum kembali beralih pada layar monitor. Kantung mata tampak jelas di bawah mata lelaki itu dan meski merasa keki, Seokjin tetap tak dapat menghalau prihatin.

Ia kembali ke mejanya, kemudian memukulkan proposal di tangannya pada kepala Jimin. Umpatan penghuni meja tepat di sebelahnya itu diabaikannya terang-terangan. “Untuk ke ratusan kalinya, kau membuatku menanggung omelan akibat keteledoranmu.”

Mengelus kepalanya yang berdenyut, Jimin menjulurkan lidah. Gerutuan Seokjin yang berbunyi, kenapa sih kau selalu memintaku menyerahkan proposalmu di saat kau bisa menyerahkannya sendiri? ia jawab dengan, “Karena kupikir Yoongi akan bersikap sedikit, secuil, sebesar butir debu, lebih lembut jika berurusan denganmu. Ternyata aku salah besar.”

Seokjin memutar bola mata dan melipat kedua tangan di depan dada. “Bukankah sudah terlambat delapan bulan untuk menyadari itu?”

“Tapi kau tidak pernah menolak,” Jimin menyeringai menggoda. “Jadi aku mengambil kesimpulan; satu, kau adalah masokis dan diam-diam merasa girang tiap Yoongi memarahimu. Dua, kau melakukannya karena ingin melihat wajahnya meski hanya untuk sesaat. Walaupun itu berarti kau harus menyiapkan mental sekeras baja.”

Telinga Seokjin yang merah padam lebih dari cukup sebagai jawaban. Jimin rasa tebakannya yang kedua tepat sasaran. “Tapi hari ini mood-mu tampak cukup baik untuk seseorang yang baru saja keluar dari kandang singa. Apakah kau baru saja mendapatkan omelan plus plus?”

Seokjin mengabaikan pertanyaan itu dan berkata, “Revisi proposal itu sekarang.”

Mereka telah kembali menekuni pekerjaan masing-masing ketika Jungkook kembali dengan langkah tergesa—langsung menghampiri meja Seokjin alih-alih duduk di kursi miliknya. “Hyung! Kau mendapatkan promosi?”

Pertanyaan itu menyebabkan Seokjin menggaruk tengkuknya salah tingkah. Seminggu belakangan benar-benar berjalan cepat akibat deadline yang mereka kejar hingga membuatnya lupa memberi tahu informasi itu pada Jimin dan Jungkook yang notabene dua orang terdekatnya.

“Kau tahu dari mana?” Ia justru bertanya. “Aku bermaksud memberi tahu kalian tapi lupa dikarenakan minggu neraka ini.”

Dengan wajah terluka, Jimin melompat dari kursinya dan mengguncang kursi Seokjin nyaris sekuat tenaga. “Kenapa kau tega sekali padaku?! Kau akan meninggalkanku di sini dan membiarkanku menghadapi bos kejam kita sendirian?!”

“Benar sekali. Sendirian,” Jungkook memamerkan senyuman lebar. “Karena aku baru saja ditawari untuk pindah ke divisi Seokjin-hyung dimulai dari promosi resminya bulan depan.”

“Ini tidak adil!”

“Hidup memang tidak adil,” suara itu menyebabkan ketiga orang tersebut menolehkan kepala. Seokjin mendapati Yoongi tengah berjalan menuju mejanya, mengundang Jungkook menduduk kecil dan Jimin semakin bersungut tak terima. “Makan siang bersamaku hari ini?”

Jimin terpelongo mendengar tawaran itu. “Kau baru saja memarahinya dan sekarang mengajaknya makan bersama?”

“Ini jam makan siang.”

“Apa hubungannya?”

“Di luar jam kerja, Seokjin adalah kekasihku. Aku hanya perlu bersikap profesional selama jam kerja. Jika dia melakukan kesalahan meski itu adalah kesalahanmu,” Yoongi beralih pada Jungkook. “Atau kesalahanmu, maka aku akan menegurnya. Simpel.”

Merasakan Jimin menyikut lengannya, Jungkook melirik rekan departemennya penasaran. “Ada yang tidak beres dari hubungan mereka,” bisik Jimin menyebabkannya meringis karena tak berani membenarkan.

Seokjin hanya dapat mendengus memperhatikan interaksi rekan-rekan kerjanya. Meski mengaku tidak menyukai PDA, baru kali ini ia merasa begitu ingin memeluk Yoongi saat itu juga, di tengah-tengah lantai di mana begitu banyak orang berlalu-lalang.

Sebagai gantinya, ia menangkupkan satu tangan pada wajah Yoongi—tidak sampai tiga detik, lalu meraih syal yang tersampir di atas kursi dan mengajak Jimin juga Jungkook untuk ikut makan bersama.

Tentu Yoongi mengabaikan kelakuan Jimin yang mencontoh orang ingin memuntahkan isi perut akibat gestur yang Seokjin tunjukkan. “Tapi aku ingin makan berdua denganmu.”

“Kita bisa makan berdua nanti malam,” balas Seokjin sebelum merangkul Jungkook dan mulai melangkah menuju di mana lift berada.

“Lihat. Dia tidak pernah merangkulku di tempat umum tapi selalu merangkul Jungkook tiap mereka berjalan bersebelahan,” keluh Yoongi pada Jimin yang langsung berwajah masam.

“Hubunganku, Jungkook, dan Seokjin-hyung lebih dalam daripada hubungan kalian yang seumur jagung,” tandas Jimin kekanakkan. Tapi setelahnya, ia menambahkan, “Lagipula itu artinya dia menganggapmu spesial. Dia melakukan skinship dengan mudah padaku dan Jungkook, sedangkan sulit baginya melakukan itu padamu karena, well, eksistensimu lebih dari sahabat atau rekan kerja.”

Mendengar jawaban itu, Yoongi menggedikkan bahu. “Tentu saja aku spesial.”

“Sialan,” umpat Jimin yang dalam sekejap menyesal telah memberi dukungan moral.

Seokjin menceritakan perihal promosinya di sela makan siang. Ia juga memberi tahu Jimin dan Jungkook mengenai permintaan ayahnya untuk kembali ke perusahaan keluarga, juga jawaban yang ia dapatkan ketika meminta waktu sedikit lebih lama untuk memupuk pengalaman.

Ayahnya menerima keputusannya meski tidak berhasil menutupi kecewa. Di saat yang sama, ayahnya juga mengaku bangga karena ia berani mengambil keputusan dengan latar belakang yang matang. Ibunya meminta maaf untuk ekspektasi tinggi yang pasti terasa berat untuknya—Seokjin berhasil menjawab bahwa dulu ia memang merasa begitu terbeban, tertekan akibat orang di sekitarnya kerap meremehkan.

Dirinya yang dulu akan memilih kabur tiap dihadangkan pembahasan seputar latar belakang keluarganya. Seokjin yang dulu bahkan pindah dari kantor keluarganya akibat lelah mendengar rekan-rekan kerjanya membicarakan di belakang. Tentang ia yang merupakan calon penerus direktur perusahaan, sehingga ia tidak perlu bekerja segiat orang-orang lainnya. Tentang seluruh pencapaian yang dianggap hasil manipulasi dan diraih hanya karena kuasa sang ayah.

Namun terima kasih pada seseorang, sekarang ia sudah menjadi pribadi yang lebih kuat. Seokjin sedikit merasa malu ketika kelepasan berkata di depan orang tuanya, untuk pertama kali mengakui telah memiliki sosok spesial dalam hidupnya.

“Apakah kau akan segera mengenalkan orang itu pada kami?”

“Nanti, jika waktunya sudah tepat.”

Jimin masih berusaha memohon pada Jungkook untuk tinggal di departemen mereka ketika yang paling muda berinisiatif, “Hyung. Ayo buat pesta kecil-kecilan untuk merayakan promosimu.”

Usulan itu menarik minat Jimin dan membuat lelaki itu lupa akan bayangan penderitaan ditinggal seorang diri di departemen mereka sekarang. “Kenapa pesta kecil? Kita harus merayakannya besar-besaran!”

“Kau tahu Seokjin-hyung tidak pernah nyaman tiap menghadiri acara ramai,” Jungkook menyuarakan pendapat tepat sasaran. Seokjin tersenyum menyadari perhatian yang teman-temannya berikan. “Kita bisa melakukannya seperti acara di apartemenmu dan Tae-hyung dulu.”

Membicarakan pesta membuatnya teringat akan awal mula hubungannya bersama Yoongi. Jika Jimin dan Jungkook tidak memaksanya menghadiri acara kantor di salah satu Jumat malam setahun lalu, mungkin hubungan mereka sekarang tak lebih dari atasan-bawahan yang hanya berinteraksi di dalam gedung kantor demi membahas pekerjaan.

Adalah kebetulan ketika hari itu, sebagai sesama karyawan yang jarang menghadiri acara kantor, ia dan Yoongi memutuskan untuk hadir dengan alasan serupa; tidak enak menolak ajakan rekan kerja.

(Seokjin sedang berdiri di depan pintu kamar mandi khusus laki-laki, menunggui Jungkook yang tengah menyelesaikan urusan mengeluarkan isi perut akibat terlalu banyak meminum alkohol, ketika Yoongi keluar dari tempat yang sama. Mereka bertukar senyum kecil dan Seokjin pikir Yoongi akan kembali ke mejanya begitu saja.

Di luar dugaan, Yoongi memang berjalan melewatinya namun berubah pikiran dan membalikkan badan, menghampirinya untuk berbasa-basi dengan bertanya, “Apa yang kau lakukan di luar kamar mandi?”

Intern departemenku sedang muntah di dalam,” ia menjawab kasual diiringi tawa. “Aku tahu kau pasti aneh melihatku repot-repot mengurusi anak orang, tapi aku memiliki spot lembut untuknya. Mungkin dikarenakan umurnya sama dengan adik sepupu kesayanganku di Jeju.”

Yoongi mendengung ringan sebagai respon, lalu ikut menyandarkan tubuhnya di tembok, tepat di sebelah Seokjin yang melirik penasaran akibat ulahnya. Sebelum sempat melemparkan tanya, lelaki itu mendahului dengan, “Aku tidak terlalu suka berada di sana, jadi biarkan aku di sini menemanimu sebentar.”

Senyum Seokjin terulas lembut, sepenuhnya paham akan rasa tidak nyaman yang dimaksudkan karena sejujurnya ia juga memanfaatkan momen ini untuk menghindar. Acara kantor lebih sering membuatnya resah alih-alih segar usai mati-matian berusaha mencapai target kerja tiap harinya.

“Lalu kenapa kau ada di sini?”

“Sama sepertimu, mungkin.”

Teringat apa yang sebelumnya Jimin katakan mengenai dirinya dan Min Yoongi sebagai dua orang yang paling jarang menghadiri acara bebas kantor, Seokjin menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang menaruh perhatian pada sang atasan. Seperti ia merasakan kehadiran Yoongi adalah anomali di antara puluhan orang dalam restoran bar yang kantor mereka sewa, lelaki itu pun merasakan hal sama tentang dirinya.

“Dalam hal bersosialisasi, kurasa kita serupa,” respon Seokjin sebelum mengalihkan pembicaraan ke topik berbeda. Mereka membicarakan segelintir hal di luar pekerjaan; percakapan pertama mereka sebagai kenalan alih-alih rekan kerja.

Pada satu titik tertentu, Yoongi berujung mengeluhkan kimchi basi yang sempat restoran hidangkan. Keningnya berkerut serius di saat mengatakan, “Aku tahu kimchi adalah makanan fermentasi yang berartikan pada hakikatnya, makanan itu memang basi. Tapi ‘kan tidak secara literal.”

Mungkin efek alkohol mulai menendang masuk, karenanya Seokjin juga membiarkan diri terbawa obrolan dan berkomentar, “Pajeon yang kumakan juga tidak enak. Aku merasa memakan minyak alih-alih panekuk seafood.”

Setengah jam berlalu begitu saja—bahkan ia melupakan eksistensi Jungkook yang tak kunjung kembali menunjukkan batang hidung di depannya. Ketika menyadari sang anak magang dipastikan kehilangan kesadaran di dalam kamar mandi, Seokjin meminta izin untuk meninggalkan Yoongi agar dapat mengurus Jungkook dengan leluasa.

“Kau akan mengantar anak itu pulang setelah ini?”

“Tidak, aku akan meminta Jimin mengantarnya,” Seokjin menjawab seraya menahan diri untuk bertanya, memangnya kenapa?

Tanpa takut terdengar terlalu blak-blakan, Yoongi mengajaknya untuk melanjutkan minum bersama usai urusan mengasuhnya terselesaikan, lalu mengakhiri tawaran itu dengan, “Dan mungkin, kalau kau berminat, apartemenku terbuka lebar malam ini.”

Sampai sekarang Seokjin masih tidak mengerti mengapa ia menerima ajakan itu. Yoongi memang tampan, namun jelas-jelas bukan tipenya. Percakapan mereka memang menyenangkan, namun banyak orang lain yang dipastikan dapat membangun obrolan serupa.

Maka Seokjin mengambil kesimpulan bahwa alkohol ikut campur tangan dalam keputusannya (ia sama sekali tidak mabuk, begitu pun Yoongi. Itu hanya alasan).

Dari seseorang yang enggan memiliki jenis hubungan apapun—terutama yang melanggar etika—di tempat kerja, Seokjin jatuh terjun bebas melanggar prinsipnya akibat interaksi singkat bersama si kepala divisi baru. Bahkan mmulai hubungan di luar pekerjaan dengan status paling tidak etis yang pernah ada: friends with benefit.

Terkadang Seokjin merasa harus berterima kasih pada Jungkook, atau malah menyumpahi mantan anak magang itu sepenuh hati.)

Tapi siapa yang tahu malam itu akan berujung pada hari ini; Yoongi berada dalam genggamannya, menjadikan hari-hari monokrom yang dijalaninya berubah warna-warni?

“Boleh saja. Di apartemenku minggu depan?”

Jimin menerima usulan itu dan berjanji akan membuat pesta kecil mereka berjalan meriah, bermaksud mengundang cukup tiga teman lain yang tentunya familiar dengan empunya acara. Seokjin hanya dapat merasa gemas ketika mendapati Jimin dan Jungkook membahas kado apa yang harus mereka belikan.

Di sebelahnya, Seokjin sadar Yoongi tengah memandanginya dengan senyuman. Ia menolehkan kepala untuk membalas tatapan si pemilik surai gelap, tanpa gerakan mulut juga suara berusaha menyampaikan, tanpamu aku tidak akan pernah merasa sebahagia ini. Terima kasih.

Jika ia dapat membaca tatapan Yoongi yang mengatakan, aku tidak melakukan apapun. Kau mencapai semua ini berkat usahamu sendiri, Seokjin akan dengan senang hati menganggapnya omong kosong berkedok rendah hati belaka.

 

 

Selama hubungan mereka resmi berubah menjadi pasangan romansa, Seokjin dan Yoongi benar-benar jarang bertengkar.

Tiap sebuah masalah muncul, keduanya hanya membutuhkan beberapa jam untuk mencari jalan keluar dan memanfaatkan kesempatan itu agar dapat memahami satu sama lain lebih dalam. Mereka cukup dewasa untuk mengerti bahwa berbicara adalah kunci penting dalam sebuah hubungan.

Kali ini sedikit berbeda.

Mungkin dikarenakan tekanan pekerjaan yang sedang berada di puncaknya. Mungkin dikarenakan perasaan yang dipendam dengan harapan akan sirna seiring waktu berjalan. Mungkin dikarenakan mereka sama-sama lelah dan ego mengambil alih sepenuhnya.

Hari itu bukan pertama kali Yoongi melemparkan berkas yang ia berikan, tapi hari itu adalah pertama kali ia mendengar Yoongi meninggikan suara dan membentaknya.

Seokjin tidak melakukan atau mengatakan apapun selain meninggalkan ruangan sang atasan, berjalan cepat untuk kembali ke mejanya, menyelesaikan pekerjaan setekun mungkin dan langsung pulang ketika akhir jam kerja tiba.

Pikirannya sudah cukup kalut tanpa Yoongi bersikap semena-mena. Seokjin berusaha memahami bahwa kekasihnya itu tengah mengalami masa sulit yang sama—kantung mata dan tubuh yang semakin kurus adalah bukti nyata bahwa belakangan Yoongi bekerja terlalu giat. Tapi Seokjin tidak dapat menerima Yoongi melampiaskan emosi padanya seolah ia adalah sebuah samsak tempat menampung beban mental.

[yoongi]
Aku tidak bermaksud membentakmu. Maaf.

[yoongi]
Aku tahu kali ini aku kelewatan.

[yoongi]
Jangan mengabaikanku terlalu lama.

[yoongi]
Seokjin… aku minta maaf.

[yoongi]
Aku akan memberikanmu waktu untuk sendiri sementara.

Panggilan dan pesan Yoongi ia abaikan sepenuhnya. Seokjin bersyukur karena kekasihnya itu tidak memaksakan diri untuk mengunjungi apartemennya dan mengajak bicara malam itu juga. Yoongi benar-benar memahami sifatnya, juga tendensinya untuk membutuhkan waktu mendinginkan kepala.

Pada malam itu, Seokjin berusaha memikirkan alasan Yoongi bersikap begitu keras dan sensitif seminggu belakangan. Ia merasa ada sesuatu yang ia lewatkan, sesuatu selain pekerjaan yang mendorong Yoongi untuk bersikap sedemikian rupa.

Bahkan di saat amarah masih menguasainya, ia tidak dapat berhenti memikirkan Yoongi seorang. Seokjin rasa ia sudah tak lagi dapat disebut skeptis perihal masalah percintaan.

Tiba-tiba ingatannya berputar pada ungkapan perasaan sang kekasih ketika mereka pulang bersama beberapa minggu lalu—tentang Yoongi yang berusaha menekan sisi kekanakkan karena harus menghadapi jarak di antara mereka, bagaimana Yoongi berusaha memberinya ruang terlepas dari hasrat untuk menghabiskan sang kala bersama tiap saat.

Besok adalah hari di mana pesta perayaan promosinya. Seminggu setelahnya, Seokjin akan resmi menjadi penghuni lantai berbeda.

Rasa bersalah menyelimutinya dengan cepat.

Seokjin bukannya tidak memiliki rasa khawatir dan gundah yang sama. Jarak adalah apa yang tidak pernah mereka hadapi selama ini. Mungkin terdengar berlebihan, namun baginya dan Yoongi yang terbiasa berbagi lantai kerja yang sama, menghuni lantai yang berbeda berartikan segalanya.

Mereka tentu harus membiasakan diri dengan itu semua. Toh Seokjin tidak akan bekerja di perusahaan yang sama dengan Yoongi selamanya. Tapi sebuah perubahan, terutama yang mendadak, pasti menimbulkan efek dan perasaan tidak menyenangkan.

Maka setelah berhasil memahami alasan dari sikap Yoongi meski belum sepenuhnya memaafkan, Seokjin memutuskan untuk bersikap lunak. Melakukan kesalahan adalah naluri manusia yang tidak dapat terelakkan. Ia juga terlalu merindukan wajah menyebalkan Yoongi untuk bersikap keras kepala lebih lama.

Mengunjungi apartemen Yoongi esok harinya, ia menekan password dan mempersilakan diri untuk masuk meski sebelumnya belum memberi kabar. Suara kencang alunan musik dari pengeras suara menyambutnya tepat setelah pintu terbuka.

Ia menemukan Yoongi berdiri di dalam dapur memunggunginya—belum menyadari kehadirannya berkat volume lagu memekakkan telinga. Beruntung dinding di sana dirancang kedap suara karena jika tidak, Yoongi dipastikan memiliki antrean protes di depan pintu unit apartemennya.

Harum adonan menyerbak memenuhi ruangan. Seokjin memasuki dapur dan mendapati beberapa panekuk gagal di atas meja bar. Tawa kecil secara spontan ia lakukan akibat tidak memahami rencana apa yang Yoongi miliki di balik usahanya menggoreng panekuk di Sabtu siang.

Memeluk tubuh Yoongi dari belakang, Seokjin bertanya, “Ada apa dengan panekuk?”

“Astaga,” gumam Yoongi setelah berhasil mengendalikan diri akibat keterkejutan yang mendera. “Aku hampir saja memukulkan penggorengan ini ke wajahmu.”

“Tidak masalah. Selama kau bertanggung jawab dan menjadi kekasihku selamanya,” Seokjin menyusupkan wajahnya pada perpotongan leher yang beberapa senti lebih pendek. “Karena kalau wajahku cacat, tidak akan ada lagi orang yang mau menjadikanku pasangan.”

“Hati-hati dengan ucapanmu,” ucap Yoongi dengan seringai lebar. “Atau aku akan benar-benar memukulkan penggorengan ini ke wajahmu agar kau terikat denganku selamanya.”

Dengan cekatan menjauhkan diri, Seokjin menatap ngeri kekasihnya. “Selera humormu menyeramkan.”

Yoongi tertawa, mematikan kompor dan memeluk Seokjin dari depan. “Aku merindukanmu,” bisiknya penuh penyesalan. “Maafkan aku.”

Dibalasnya pelukan itu cukup erat. “Aku akan memaafkanmu jika kau memberi tahu untuk apa kau menggoreng panekuk sebanyak itu,” balas Seokjin seraya melirik setumpuk panekuk sukses dan semangkuk adonan yang masih bersisa. “Kau bahkan tidak terlalu menyukai makanan manis.”

“Aku ingin membuatkanmu kue sebagai permintaan maaf, juga sebagai hadiah promosimu,” Yoongi meraih handphone-nya dan mengecilkan volume lagu yang keluar dari pengeras suara. “Tapi ternyata memanggang kue tidak semudah yang kubayangkan. Aku menyerah dan memutuskan untuk membuat kue menggunakan tumpukan panekuk.”

“Kreativitasmu tinggi sekali,” ujar Seokjin antara menyindir dan merasa kagum. Ia membuka rak dan mengambil botol sirup maple, menuangkannya ke atas salah satu panekuk dan memasukkanya ke dalam mulut. “Permintaan maaf diterima.”

Ekspresi lega di wajah Yoongi terpampang terlalu jelas. Seokjin dapat melihat penyesalan yang tersirat dari sorot mata yang ditujukan padanya. “Yoongi, dengar—”

“Aku akan terus berusaha untuk bersikap lebih dewasa dalam hubungan ini,” potong Yoongi tanpa membiarkan Seokjin menyelesaikan kalimatnya. “Kejadian kemarin takkan terulang lagi. Aku gagal memisahkan pekerjaan dan emosi pribadi. Tidak seharusnya itu terjadi, dan tidak seharusnya aku merasakan ragu karena jarak kecil yang menunggu kita dalam satu minggu. Bertahanlah sebentar lagi dan aku akan menjadi sosok yang dapat kau andalkan sepenuhnya.”

Tanpa sadar menahan napas, Seokjin menemukan tenggorokannya tercekat. Ia berusaha menemukan suaranya agar dapat mengatakan bahwa ia tidak ingin Yoongi menderita dikarenakan harus terus selalu menyesuaikan diri dengan dirinya. Seokjin juga tidak cukup dewasa (atau dalam kasus ini, peka) dalam menghadapi emosi yang Yoongi rasakan.

“Kau tidak perlu selalu bersikap dewasa,” akhirnya ia dapat berkata. “Kau juga tidak perlu menjadi sosok yang selalu dapat kuandalkan. Aku ingin kau menjalani hubungan ini tanpa berpikir terlalu banyak. Aku ingin melihat sisi kekanakkanmu, meributkan hal kecil bersama, bersikap gegabah dan melakukan kesalahan. Aku menginginkan semuanya, Yoongi. Sisi baik dan burukmu. Melihat tawa juga sedihmu. Jadi tolong, jangan menahan diri.”

Tampak kehabisan kata, Yoongi berakhir menggeleng pelan. Ia meraih belakang kepala Seokjin, sedikit menjinjitkan kaki untuk mengecup bibir sang kekasih setelah berbisik, “Kau benar-benar egois.”

Ciuman itu disambut Seokjin dengan suka cita, menunjukkan representasi rasa yang jauh lebih dalam dari bayangan. Di antara tarikan napas tiap bibir yang bertemu, Seokjin menemukan dirinya hanyut oleh manifestasi afeksi yang tak pernah gagal membuat dadanya terasa penuh.

“Ayo selesaikan gunung kue panekukmu, membeli makanan dan kembali ke apartemenku,” ajak Seokjin meski belum rela melepaskan diri dari sentuhan yang membuatnya merasa menjadi orang paling dicintai di dunia. “Aku tidak mau Jimin sampai lebih dulu dan terpaksa memberikannya password apartemenku.”

“Sekali lagi,” rengekan Yoongi mengundangnya untuk tertawa.

“Kau memiliki seluruh waktuku, Yoongi,” Seokjin mengedipkan sebelah mata. “Kecuali hari ini.”

 

 

“Selamat atas promosimu, Seokjin-hyung!”

Menyambut pelukan lebar Hoseok dan berterima kasih, Seokjin mengajak pemuda itu untuk masuk dan bergabung dengan lima orang lain di ruang tengah apartemennya. Pesta kecil yang Jimin dan Jungkook janjikan ternyata hanya mencakup jumlah orang, bukan skala memberantaki tempat tinggalnya.

Setelah menyantap makan malam, menggelar camilan, alkohol, dan soda, Seokjin menemukan dirinya duduk dengan kepala menyandar pada bahu kekasihnya. Ia sepenuhnya terhibur mendapati Jimin, Taehyung, dan Jungkook memperdebatkan siapa yang paling jago dalam meracik minuman.

“Biar kutebak,” ujar Yoongi mengalihkan perhatiannya. “Kau pasti sedang memikirkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan apartemenmu.”

“Salah. Aku sedang memikirkan bahwa di antara mereka, pilihanku jatuh pada Jimin sebagai peracik minuman terbaik,” Seokjin menghela napas teringat bentuk apartemennya saat ini. Bak cuci piring penuh oleh peralatan makan bekas pakai, sampah camilan memenuhi meja makan, konfeti dan remah gorengan menghiasi karpet ruangan. “Tapi yang itu juga.”

Hyung, aku mendengarmu! Bisa-bisanya kau membela midget ini!” seru Taehyung tak terima.

“Siapa yang kau sebut midget?!”

Jungkook dengan lugu menawarkan diri untuk menjawab, “Siapa lagi jika bukan kau, Hyung?”

Keramaian di apartemennya sama sekali tidak buruk. Seokjin menyukai suasana hangat ini dan terkejut karena menemukan dirinya ingin mempertahankan kebisingan teman-temannya lebih lama. Biasanya, suasana ramai hanya membuatnya merasa lelah meski tanpa melakukan apa-apa.

“Aku akan membereskan apartemenmu,” tawar Yoongi di luar ekspektasinya. “Sebagai gantinya, bagaimana jika kau pindah dan tinggal bersamaku?”

Seokjin bangkit dan beranjak menuju dapur untuk mengambil air mineral. “Mm. Mungkin dua atau tiga tahun lagi, itu juga kalau kita masih bersama.”

“Apakah aku mendengar penolakan?” tanya Hoseok mengundang yang lain terbahak geli, namun tak berani mengatai lebih jauh karena yang bersangkutan telah melemparkan tatapan setajam belati.

Kembali dengan sepiring besar penuh panekuk, Seokjin meletakkan piring itu di tengah mereka bertujuh. “Tema permainan di pesta malam ini adalah panekuk,” deklarasinya menarik perhatian seluruh pasang mata. “Kita akan bermain UNO dan yang kalah harus menghabiskan semua panekuk di piring ini.”

“Kau menyebutnya tema,” Namjoon berkata kalem. “Aku menyebutnya hukuman.”

“Hukuman yang kau maksud adalah hasil jerih payahku untuk meminta maaf,” sungut Yoongi kesal. Ia memang membuat terlalu banyak adonan layaknya porsi memberi makan tujuh orang tiga hari berturut-turut lamanya.

“Yang penting rasanya enak,” Seokjin menjatuhkan Yoongi setelah memberikan pujian dengan melanjutkan, “Walaupun jumlahnya tidak masuk akal.”

Di luar kantor, kini Yoongi menyadari bahwa Seokjin adalah pihak yang lebih sering bersikap semena-mena.

 

 

Setelah dua putaran permainan di mana Seokjin kalah di babak pertama dan Yoongi menyusul di babak kedua, keduanya hanya dapat terperangah dan menerima olokan yang teman-teman mereka berikan.

Well… semua panekuk itu memang Yoongi buat untukku. Aku yang salah karena menolak untuk menghabiskannya sendirian,” Seokjin berusaha lapang dada. Ia memeluk Yoongi yang merengut dan mengucapkan maaf di sela tawa, lalu bangkit dan merapikan bungkus makanan yang berserakan.

Hoseok dan Jungkook menawarkan diri untuk membantu, namun ia bersikeras memaksa dua orang itu untuk melanjutkan permainan yang dalam sekejap berubah menjadi truth or dare. Seokjin sengaja mulai bebersih lebih awal dikarenakan ingin menghindari permainan itu—sebut saja ia payah, tapi mempermalukan diri di depan kekasihnya ketika mendapat dare kurang ajar sama sekali bukan gayanya.

Ketika sedang mengikat plastik penuh sampah di dalam dapur, ia menemukan Yoongi menyusulnya dengan beberapa gelas plastik bekas pakai di kedua tangan.

“Kau tidak perlu membantuku, aku ingin kau ikut menikmati waktu bersama yang lain.”

“Permainan itu menyiksaku,” tandas Yoongi dengan wajah serius yang Seokjin anggap menggemaskan. Ia tahu Yoongi tidak benar-benar merasa demikian. Atau mungkin lelaki itu memang berkata apa adanya.

“Kalau begitu kau bisa mencuci sebagian piring sambil menungguku menyapu daerah sekitar meja makan,” Seokjin tersenyum manis dengan sepasang mata mengerjap penuh harap.

“Aku bilang aku hanya akan membantumu kalau kau mau tinggal bersamaku sebagai gantinya,” terlepas dari protesnya, Yoongi tetap mengambil celemek dan menggunakan sarung tangan, kemudian menyalakan keran. “Bagaimana bisa aku tetap menurutimu setelah mendapat penolakan di depan banyak orang?”

“Karena kau mencintaiku?” tanya Seokjin setengah bercanda. Ia mengabaikan pipinya yang dipastikan bersemu ketika mendengar Yoongi menjawab, kau benar.

“Aku tidak masalah kau menunda ide untuk tinggal bersama sampai dua atau tiga tahun ke depan,” Yoongi tidak menolehkan kepala dikarenakan fokus pada cucian di tangannya. “Tapi aku tidak terima embel-embel jika kita masih bersama. Suka atau tidak, kau terperangkap bersamaku bahkan di akhirat.”

“Seram,” respon Seokjin dengan kedua sudut bibir terangkat sumringah. Sisi posesif Yoongi selalu membuatnya merasa berkali lipat lebih berharga di mata sang kekasih merangkap rekan kerja.

Ia ikut menggunakan sarung tangan karet khusus untuk mencuci piring, lalu menghampiri Yoongi dan memasukkan tangannya ke dalam genangan air. Seokjin tak pernah tahu sebelumnya bahwa kegiatan mencuci peralatan makan bersama dapat terasa begitu mendebarkan akibat aura domestik yang teramat kental.

Mereka kembali ke ruang tengah setelah menyelesaikan seluruh cucian dan merapikan dapur ke sedia kala, mencuri satu-dua kecupan di antaranya. Namjoon dan Hoseok sedang memilih film dari akun Netflix Seokjin yang menyambung di layar televisi, menyisakan satu sofa di sayap kanan untuk sang tuan rumah.

Membiarkan Yoongi merangkulnya seraya berbagi satu sofa sempit bersama, Seokjin yang notabene merupakan sosok nomor dua paling tinggi di ruangan itu justru tampak mungil akibat meringkuk memeluk kedua lutut, menyandarkan punggung juga kepala pada dada bidang yang beberapa bulan lebih muda.

Ketika film dimulai, Yoongi mengecup puncak kepalanya sebelum berkata, “Sekali lagi, selamat untuk promosinya, Seokjin. Aku sangat dan selalu bangga padamu.”

Ucapan tulus itu menyebabkan Seokjin sesak akibat bahagia membuncah di dalam dada. Ia membisikkan terima kasih, mendongakkan kepala karena tahu Yoongi memahami apa yang ia inginkan bahkan tanpa perlu disuarakan.

Bibir mereka bertemu untuk ke sekian kalinya malam itu, namun Seokjin masih merasa jauh dari kata bosan. Ia justru ingin memposisikan bibirnya di atas milik Yoongi lebih sering terlepas dari di mana mereka berada—tanpa mempedulikan situasi juga kondisi, apalagi pendapat orang-orang di sekitar.

“PDA is a no no,” Taehyung tiba-tiba memberi peringatan.

Saling bertukar pandang, Seokjin dan Yoongi kemudian tertawa lepas.

Bersama orang-orang ini, Seokjin tahu ia akhirnya menemukan zona nyaman yang selalu ia dambakan.

Bersama Yoongi, Seokjin tahu ia akan selalu berhasil melewati rintangan yang menanti di masa depan. Beriringan, juga selamanya.