Chapter Text
Jika ditanya mengenai ‘apa definisi rumah bagimu?’ Mingyu akan menjawabnya dengan kata tergantung.
Untuk seorang anak rantau, definisi rumah untuknya tentu saja Surabaya. Jalan Dharmo dimana rumah kedua orangtuanya berada dan ia bertumbuh besar di dalamnya. Surabaya dengan berjuta kenangan masa mudanya, ketika SD, SMP kemudian SMA sebelum akhirnya memutuskan menjadi anak rantau di kota Bandung.
Kata mereka yang pernah bertandang ke kotanya, Surabaya itu sangat panas. Jauh lebih panas dari kota dengan titik lintas khatulistiwa yang berada di pulau seberang. Tapi bagi Mingyu, Surabaya dengan kerlip di setiap sudut kotanya akan selalu menjadi angin sejuk yang menyambutnya pulang.
Untuk seorang budak korporat, definisi rumah adalah meja kerjanya. Sebagai seorang lulusan jurusan arsitek terbaik di Indonesia dan menjadi salah satu karyawan di Firma arsitektur terbesar di Indonesia beban kerja yang diterimanya tentu tidak ringan. Menjadi karyawan baru dalam status pengawasan, memulai hubungan baru dan bekerja sama dengan co-workernya, mengerti dan menapaki tangga hierarki korporasi yang terkadang masih saja membuatnya pusing.
Tidak banyak printilan atau hiasan yang menandakan secara jelas tentang mejanya, tapi setidaknya di meja itu selalu ada mug hitam bertulisan ‘have a nice day’ dan pigura kecil berisi potret dirinya dan kedua orang tuanya, sebuah ruang kecil miliknya. Setidaknya dari sekian banyak distraksi, meja kerjanya adalah safe havennya.
Untuk seorang Kim Mingyu, definisi rumah adalah Jeon Wonwoo. Bukan, Jeon Wonwoo bukanlah kekasihnya. Jeon Wonwoo adalah salah senior beda fakultas pada masa kuliahnya dulu. Tidak bohong, di awal perkenalannya Mingyu sempat menaruh hati pada seniornya tersebut tapi usut punya usut Wonwoo saat itu sudah tidak berstatus Single.
Mingyu yang hatinya bahkan belum sempat berbunga sudah harus angkat kaki duluan dari keinginannya untuk memiliki hubungan lebih dengan seniornya itu.
Perkenalan singkat antar keduanya di sore hari itu membawanya dalam sebuah hubungan persahabatan erat denggan seniornya tersebut. Tidak terhitung berapa banyak malam yang dihabiskan seniornya tersebut di kamar kosnya hanya untuk sekedar ngobrol, atau momen dimana Wonwoo dengan rela begadang membantu Mingyu membuat maket untuk tugas akhirnya.
Pun ketika keduanya telah memasuki fase kerja dan intensitas komunikasi antar keduanya menjadi berkurang, obrolan ringan via fitur reply instragam stories, atau sekedar catch up di Anomali Coffee Setiabudi One yang menjadi titik tengah antar kantornya dan Wonwoo selalu terasa seperti kembali pulang baginya.
Sepuluh tahun mengenalnya, bersama Wonwoo itu nyaman dan hal itu tidak pernah berubah bagi Mingyu.
Malam itu ia sedang makan malam di kedai ramen favoritnya di bilangan Radio Dalam bersama Seungcheol ketika kemudian seniornya tersebut bercerita tentang rencananya dan kekasihnya untuk pindah ke apartemen yang telah mereka beli bersama dalam waktu dekat.
“Oh gitu? Gue pikir lo udah tinggal bareng sama kak Han malah, bang” tanya Mingyu sambil menyuap seiris daging panggang ke mulutnya.
“Tadinya mau 3 bulan lalu waktu kerjaan interiornya udah beres, cuma Han gak tega ninggal Wonu sendiri”
“Ooh, apartemen mereka two-bedroom ya soalnya?”
“Iya, mahal kan kalo dia harus bayar sendiri, udah gitu lo tau Han kaya apa protektifnya ke Wonu.”
“Gak kaget sih kak Han” jawab Mingyu terkekeh.
“Apartemen lo masih yang di daerah Menteng situ, Gyu?”
“Iya bang, daerah situ doang yang masuk budget gue”
Seungcheol terdiam kemudian mata lebarnya itu berbinar dan dengan tiba tiba menepuk pundak Mingyu keras.
“Eh lo pindah aja ke Apartemen Wonu, Gyu!! Jeonghan dari kemarin galau ngelepas itu apartemen. Wonu bilang mau cari roommate biar ringan bayar sewanya, tapi Jeonghan galau terus takut roomatenya nanti aneh aneh”
Mingyu terdiam mendengar ucapan Seungcheol barusan.
“Gak papa emang?”
“Ya gak papa lah Gyu, kalo elo pasti Jeonghan setuju. Lagian kantor lo kan di Sudirman situ, deketan dari Thamrin kemana mana lah daripada Pramuka.”
“Iya sih, bisa hemat di transport juga.” Jawabnya sambil menyeruput kuah terakhir dari ramennya.
Mingyu memang tidak begitu puas dengan apartemennya saat ini. Alasan utamanya adalah lokasinya yang cukup jauh dari kantornya saat ini, belum lagi biaya mahal yang harus ia keluarkan untuk biaya sewa tidak termasuk di dalamnya biaya listrik, wi-fi dan parkir. Ditambah charge extra yang harus ia keluarkan karena menyewa via broker membuat apartemennya saat ini tidak nyaman untuk ditinggali.
Hanya saja kondisi Mingyu yang baru saja menapaki tangga karir budak korporat membuatnya tidak punya banyak pilihan dalam hal kemudahan memilih tempat tinggal. Tawaran Seungcheol datang seperti durian jatuh untuknya.
Tanggal 15 Januari, dua minggu setelah percakapan di kedai ramen itu Mingyu pun akhirnya pindah ke apartemen Jeonghan dulu dan secara resmi menjadi teman sekamar bagi Wonwoo. Tidak butuh waktu lama bagi Wonwoo untuk setuju menerima Mingyu sebagai Roomatenya. Mereka kenal baik satu sama lain, Wonwoo tahu Mingyu adalah pribadi yang bersih dan yang terpenting, Mingyu tahu batasan.
Jeonghan pun bisa meninggalkan apartemen lamanya itu dengan perasaan lega.
Hari itu adalah hari Sabtu dan Wonwoo pun bisa membantu Mingyu untuk memindahkan barang barang dari apartemen lamanya.
Dengan adanya Wonwo proses perpindahan pun menjadi lebih cepat, sejak pagi berberes dan memindahkan barang tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul 16.38 sore ketika box terakhir berhasil mereka pindahkan dari mobil Mingyu di basement menuju kamar mereka di lantai 18.
“Udah kan ya Gyu? Ini box terakhir?” tanya Wonwoo sambil meletakan box kecil berisi peralatan kopi berwarna hitam di kitchen counternya.
“Iya Won, duh sorry ya malah lo jadi angkut angkut” jawab Mingyu yang masih memindahkan beberapa box besar menuju kamar di sebelah kiri, kamar Jeonghan dulu yang kini merupakan kamarnya.
“Santai kali Gyu, malah gue yang makasih” jawab Wonwoo menyenderkan badannya di daun pintu. “gue nyaman banget sama apartemen ini soalnya”
“Paham sih, itungannya murah emang apartemen ini untuk ukuran daerah Thamrin.”
“Yakan?” balas Wonwoo dengan senyum, “Pokonya kalo butuh apa apa hubungin gue ya Gyu”
“Siappp..” balas Mingyu sambil mengusak puncak rambut Wonwoo.
Rutinitas pun dengan cepat terbentuk.
Mingyu selalu bangun lebih telat daripada Wonwoo, ketika Wonwoo mandi Mingyu yang baru bangun akan langsung memanaskan air di ketel besi miliknya dan menyeduh kopi, ketika Wonwoo selesai mandi Mingyu akan bergantian masuk ke kamar mandi dan Wonwoo bergantian akan menyeduh kopi dari air yang dipanaskan oleh Mingyu tadi.
Pagi selalu dimulai dengan segelas kopi bagi mereka berdua.
Kantor Wonwoo yang berada di daerah Kuningan membuat wonwoo selalu lebih dahulu meninggalkan Mingyu yang akhirnya selalu bertugas untuk memastikan kompor mati, semua lampu mati dan mengunci pintu. Wonwoo pun selalu pulang lebih cepat dari Mingyu, ia kemudian akan memesan dua porsi makan malam yang kemudian akan datang tepat ketika Mingyu pulang dan membawanya naik. Kemudian mereka akan makan malam bersama sebelum kemudian kembali ke kamar masing masing.
Rutinitas baru ini menyenangkan bagi Mingyu maupun Wonwoo. Mingyu yang extrovert, senang dengan adanya presensi Wonwoo di setiap pagi dan malam harinya dan Wonwoo yang pada dasarnya introvert, senang dengan Mingyu yang selalu tahu kapan Wonwoo ingin sendiri.
Seperti malam itu dimana Mingyu yang baru saja kena marah kliennya karena ada salah paham dengan rekannya dalam proyek yang sedang ia kerjakan, berharap dapat segera pulang ke rumah dan dapat segera makan malam dengan obrolan ringan bersama Wonwoo seperti biasanya.
Gelak tawa dari penonton acara Talk Show Amerika langsung terdengar begitu Mingyu membuka pintu depan apartemen. Pemandangan yang menyambutnya pulang justru berupa Wonwoo yang tengah meringkuk dalam dekapan selimutnya di depan TV 50 inch yang berada di ruang tengah apartemennya. Seluruh ruangan gelap kecuali dari cahaya yang keluar dari TV besar di ruang tengah tersebut.
Mingyu mendekat ke arah buntalan besar di sofa yang tengah menyembunyikan roommatenya.
“Won?” tanyanya perlahan yang kemudian tidak berbalas.
Wonwoo sedang ingin sendiri rupanya.
Tanpa banyak bicara ia pun segera masuk ke kamarnya untuk mengganti bajunya, keluar hanya untuk membersihkan diri dan memilih makan Mie instan di kamarnya.
Kejadian Wonwoo sedang ingin sendiri pun terjadi lagi kurang lebih 10 bulan setelah kejadian pertama.
Tidak seperti biasanya Mingyu terbangun di dua pertiga malam karena rasa haus yang parah. Gelas di sisi nakasnya pun malam itu tidak terisi seperti biasanya. Mingyu bangun menuju dapur untuk mengisi gelasnya. Ia tahu Wonwoo sedang ingin sendiri maka ia membuka pintu perlahan.
Ketika ia keluar dari kamarnya, Wonwoo yang sedang duduk termenung menoleh ke arahnya sebelum kemudian kembali menatap TV besar dihadapannya. Setelah selesai mengisi gelasnya dan meminumnya sampai habis, Mingyu pun mengambil posisi duduk disebelah Wonwoo, mungkin Wonwoo sudah sedikit tenang dan mau diajak bicara.
“Kenapa Won?”
Yang ditanya masih dengan pandangan kosongnya menatap TV, tapi ia menjawab.
“Gyu, inget adek gue gak?
“Hyunjin? Di Jerman bukan lagi kuliah?”
“Iya kalo kuliah, hobinya dia kan bikin masalah terus” jawab Wonwoo masih dengan tatapan kosong.
“Hyunjin kenapa emang Won?” tanya Mingyu lembut.
“Hamil..”
.....
“Gak tau bapaknya siapa katanya..”
Holy shit.
“Shit Won”
“Too much drunk situation yang dia bahkan gak bisa inget dan bokap gue udah telanjur ngamuk adek gue bisa kaya gitu..”
“Terus gimana?”
“Kata adek gue mau di gugurin.”
Fuck.
“Oh fuck…”
“Fucking hell gak sih, Gyu? Anak itu bahkan gak punya dosa apa apa..”
Jujur Mingyu sudah kehabisan kata kata yang dapat ia ungkapkan.
Situasi ini terlalu fucked up untuk otak standarnya cerna. Wonwoo memang pernah bercerita bagaimana adiknya itu punya hobi membuat pusing kedua orangtuanya bahkan sampai memaksakan diri bersekolah ke luar negeri demi menentang keputusan orang tuanya yang ingin agar adiknya melanjutkan kuliah kedokteran.
“Anak itu gak punya dosa apa apa Gyu, tapi dia udah harus nerima kenyataan kalo gak ada yang mau nerima dia di dunia ini…” perlahan bulir air mata mengalir menuruni pipi Wonwoo yang masih termenung kosong.
“Dia gak akan punya kesempatan untuk merasakan lelahnya sekolah, bahagianya punya temen, keselnya ditanyain keluarga waktu lebaran, Gyu.. anak itu gak akan pernah ngerasain hidup hanya karena orang tuanya segitu tidak bertanggung jawabnya.. dan gue sebagai omnya gak punya kemampuan apa apa untuk mencegah itu…”
“Makanya lo sedih, Won?”
“Gue gak suka ngerasa powerless, Gyu..”
“Lo maunya gimana emang?”
“Gue cuma mau jadi kakak yang bertanggung jawab buat adek gue, Gyu. Gue.. gue cuma mau ngelakuin yang terbaik untuk mereka semua..” jawab Wonwoo lemah.
Saat itu Mingyu tersadar apa keputusan yang tengah secara gamang Wonwoo coba ambil. Dan ia tahu keputusan itu pasti akan melibatkan dirinya, rutinitas mereka dan mungkin (pasti) komitmen dari mereka. Ia tahu Wonwoo adalah orang yang bertanggung jawab dan ia tahu Wonwoo pasti akan melakukan apa saja yang terbaik untuk situasi pelik ini.
Mingyu tahu Wonwoo butuh dorongan keyakinan darinya, maka dorongan itu ia berikan.
“Yaudah ayo!” jawab Mingyu tegas. Harus tegas karena kalau tidak dia pasti akan meragu.
“Ayo apa?” tanya Wonwoo menoleh padanya dengan wajahnya yang basah air mata dan rambutnya yang berantakan ke segala arah.
“Ayo bawa anak adek lo kesini. Ayo kita rawat bareng Won.”
Kata Hyunjin Namanya Hansol.
Bayi kecil yang terlalu diam untuk anak ukuran 5 bulan di mata Mingyu. Anak setengah kaukasian dengan mata besar berbinar yang selalu menatap takjub ke arah Mingyu tiap kali Mingyu menggendongnya untuk memberinya susu formula. Wonwoo dan Mingyu pada akhirnya berakhir mengurus anak dari adik Wonwoo tersebut setelah mendapat penolakan keras dari ayahnya. Beruntung Ibu Wonwoo berhasil meyakinkan ayahnya dan 4 bulan setelah kelahirannya, Hansol pun dibawa ibunya dari Jerman ke Indonesia.
Bulan bulan awal kedatangan Hansol di apartemen mereka ibu Wonwoo masih sering bolak balik Yogyakarta-Jakarta untuk mengurus cucunya itu. Orang tua Mingyu di Surabaya bahkan masih belum tau apa apa tentang Hansol dan keputusan Mingyu untuk menjadi ayah angkat tidak resminya. Setelah Hansol berumur 7 bulan dan melihat kesiapan Wonwoo dan Mingyu dalam mengurus cucunya tersebut, baru frekuensi kedatangannya ibu Wonwoo pun menurun.
Wonwoo memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai editor di salah satu media cetak terbesar Indonesia dan memilih menjadi contributor berita lepas suatu media online luar negeri agar dapat lebih banyak bekerja di rumah dan mengurus Hansol. Nominal yang diberikan memang tidak sebesar pekerjaannya dahulu tapi kurensi dollar yang digunakan untuk membayar semua kontribusinya membuat jumlah gajinya yang dahulu dan sekarang tidak terlalu berbeda, ditambah sekarang ia lebih leluasa mengatur waktunya.
Sementara itu Mingyu dengan performa pekerjaannya yang selalu diatas awan dan hubungaanya yang baik dengan atasan. Membuatnya dengan cepat menapaki tangga karir di perusahaanya. Kurang lebih 3 bulan sejak kedatangan Hansol, Mingyu sudah berubah title menjadi Senior Architect dan menjadi Supervisor bagi para juniornya. Kedatangan Hansol ke dalam kehidupannya membawa kesegaran dalam keseharianya yang penuh dengan rutinitas.
Mingyu tidak bisa bohong ketika mengatakan dirinya selalu menanti saat saat pulang karena selalu ada Wonwoo dan Hansol yang menantinya dirumah.
Cerita tentang dua orang roommate yang kemudian berubah menjadi dua sosok co-parenting figure seorang anak kecil tidak melulu berisi hal hal menggemaskan. Banyak adjustment yang harus dilakukan Wonwoo dan Mingyu agar apartemennya layak digunakan untuk membesarkan Hansol.
Perubahan pertama datang dari sudut, iya literally sudut sudut tajam apartemen kini membulat dengan ujung karet warna warni yang Wonwoo beli melalui aplikasi e-commerce untuk mencegah adanya resiko hantaman. Segala perabot bersifat kaca dikeluarkan dari dalam rumah, yang berarti vas bunga tinggi kebanggan Wonwoo mau tidak mau harus ia hibahkan kepada Jeonghan yang sejak mereka tinggal bersama dulu sangat menyukai vas bunga itu.
Ruang tengah yang dahulu hanya berisi berisi sofa besar beludru berwarna krem dengan TV 50 Inch di depannya kini harus rela ditambah beberapa box bening berisi peralatan dan mainan Hansol yang dengan segaja diletakan ruang tengah untuk kemudahan akses. Serakan mainan dan warna warni kincringan mainan kini jadi pemandangan biasa ruang tengah.
Apa yang tadinya bersudut dan tajam, hitam putih dan abu kini menjadi segala sesuatu yang manis, pastel dan melunak.
Mingyu dan Wonwoo sejak awal langsung menciptakan aturan bagi keduanya. Yang paling penting adalah tidak boleh ada kata kata kasar di dalam rumah, tiga kata umpatan maksimal dalam sehari dan empat dimaafkan jika hari itu sangat buruk.
Mingyu akan menyiapkan susu Hansol dan sarapan untuk mereka sementara Wonwoo bertugas memandikan Hansol dan mengganti popoknya. Tugas bermain dibagi rata, Wonwoo akan menemani Hansol dari pagi hingga sore hari, sore dan malam hari Mingyu akan bergantian menemai Hansol dan Wonwoo akan mulai bekerja. Mereka akan bergantian tidur bersama Hansol dan sebisa mungkin menyempatkan waktu untuk sarapan dan makan malam bersama.
“Anak ini beneran gak suka brokoli ya?” tanya Mingyu malam itu yang tengah menyuapi Hansol di kursi tingginya pada sesi makan malam mereka.
“Suka Gyu asal di campur sama chicken stock, tadi udah lo campur belom di blenderannya?”
“Eh harus ya? Kirain daging ayam doang cukup biar ada rasa gitu..”
“Gak doyan anaknya Mingyu kalo gak dikuahin mah..”
“Pantesan ini daritadi gak abis abis malah dimainin doang” ujar Mingyu yang tengah berusaha mengambil sendok plastik berwarna biru laut yang tengah diketuk ketukan Hansol di kursi tingginya. Anak berusia 10 bulan itu sedang senang senangnya menggengam rupanya.
Wonwoo yang sedari tadi makan sambil mengetik di Macbook miliknya itu pun akhirnya menoleh dan mengusap gumpalan hijau di sudut bibir Hansol, kemudian mengicipnya.
“Gak enak Gyu, pantesan anaknya gak doyan..” jawabnya terkekeh.
Yang tertuduh hanya mampu mengangkat tangan tanda menyerah. “Nyerah Won bikin MPASI gue, gak bakat jadi chef buat bayi kayanya”
“Aneh lo, masak biasa enak, bubur bayi malah gagal hahaha”
“Ya gimana bubur bayi gabisa pake MSG sih..”
“Yakali Gyuuuu..” mata Wonwoo terbelalak dengan jawaban teman sekamarnya itu.
“Kalo kita yang micinan mulu mah gak masalah ini bayi ya Tuhan, gue sama lo bego gak papa, anak kita jangan” jawabnya sambil kembali mengarahkan pandangannya ke laptop dan melanjutkan pekerjaanya.
Anak kita. Dan Mingyu pun tidak bisa menghilangkan kata sederhana itu dari otaknya sepanjang malam.
“Gyu, tadi gue baca di artikel Kejora katanya anak umur segini baiknya udah bisa tidur sendiri jadi nanti gedenya bisa mandiri.”
Mingyu yang saat itu baru selesai mencuci piring dan tengah merenggangkan badan sambil menonton tayangan Youtube Kids di TV besar mereka menoleh ke arah teman sekamarnya itu. Anak usia 12 bulan yang mereka bicarakan tengah asik tertidur di sofa setelah habis melahap nasi tim campur kuah Bakso Lapangan Tembak yang Mingyu bawa setelah kerja tadi.
Malam Sabtu dan malam Minggu adalah hari cheating dimana mereka boleh memasan makanan dari luar dan Hansol pun boleh ikut mencicipinya.
“Beneran? Nanti kalo Hansol nangis gimana?”
“Katanya pasang CCTV aja gitu Gyu, jadi tetep bisa di kontrol kalo ada situasi urgent gitu.”
“Hmm gitu ya, kita harus beli crib dong kalo gitu?”
“Iya, trus gue udah liat liat nih tadi. Coba liat deh” ujarnya sambil mengarahkan handphonenya dan menunjukan daftar loved dari crib yang sekiranya akan cocok digunakan untuk Hansol. Yang ditunjukan mengerenyit, terlihat tanda tidak setuju muncul di dahinya.
“Kita beli langsung aja Won, biar sekalian bisa cek kualitasnya. Rencana dipake sampe dia gede kan?”
“Sampai 3 tahun sih katanya pake crib, ternyata kaya kita selama ini tidur sekasur sama bayi itu gak baik Gyu.”
“Gitu ya? Padahal ini bayi anteng banget, empuk juga buat gue pelukin kaya bantal tiap tidur”
“Heh! pantesan dia bau iler tiap tidur sama lo, taunya lo peluk sampe kaya gitu”
“Yakali, bau surga itu” balas Mingyu kesal. “Yaudah besok kita ke GI deh beli crib, sekalian ajak Hansol jalan jalan”
Dan begitulah awal cerita bagaimana Hansol akhirnya merasakan suasana mall di Indonesia. Memang sejak awal kedatangannya di apartemen mereka, tujuan jalan jalan Mingyu dan Wonwoo bersama Hansol hanya berputar di sekitar taman apartemen, taman Menteng atau sekalian The Breeze BSD dimana ada ruang udara terbuka. Terlalu takutdengan lalu lalang orang dan sifat Hansol yang pendiam membuat mereka khawatir anaknya akan panik jika bertemu dengan orang banyak.
Ternyata perkiraan Mingyu dan Wonwoo meleset. Hansol terlihat antusias melihat kerumunan orang yang lalu lalang di mall siang itu. Tangan kecilnya mengepal dan membuka seakan menyapa pada petugas keamaan yang berjaga di tiap sudut lift mall dan pekikan kecil “Aa!” tidak berhenti keluar dari mulutnya setiap kali melihat kilauan lampu dari etalase toko yang mereka lewati. Ternyata hansol menikmati momen jalan jalan mereka di mall hari itu.
Ada momen yang sempat membuat Mingyu agak awkward hari itu. Selesai membeli crib yang mereka inginkan di Mothercare dan Hansol terduduk lelah di strollernya setelah puas berteriak teriak melihat kerlip lampu di Carniville, Mingyu memutuskan sudah waktunya mereka makan siang dan The Grand Duck King menjadi destinasi tempat makan siang mereka hari itu.
Mingyu tidak tahu entah darimana rasa ingin melindungi itu muncul ketika memperhatikan Wonwoo yang dengan lembut meniup sup kepiting untuk kemudian disuapkan perlahan ke Hansol yang dengan lahap memakannya. Rasa yang tidak pernah sebegitu kuatnya sampai ia pun tak sadar ada yang memanggilnya.
“Gyu” dan tangan itu menepuk pundaknya.
Mingyu menoleh dan di hadapannya muncul seorang perempuan yang dulu sekali pernah mengisi hatinya, “Chae..” jawabnya.
“Ya ampun udah berapa lama, kemana aja kamu?” balas perempuan berambut hitam panjang dengan senyum merekah.
“Hahaha ya disini aja lah, kerja, makan, pulang, ngumpulin uang. Lo apa kabar Chae?”
“Baik dong. Terakhir kita ketemu waktu wisuda ya?”
“Iya” balas Mingyu.
Waktu lo mutusin gue waktu itu. balasnya lagi dalam hati.
“Sama siapa Gyu?” tanyanya.
“Eh iya, kenalin ini Wonwoo”, Mingyu menggerakan sedikit badannya agar Chaeyeon dan Wonwoo bisa bersalaman. Wonwoo yang sedari tadi memperhatikan interaksi itu hanya tersenyum tipis sebelum kemudian mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Belum sempat Chaeyeon bertanya tentang siapa yang duduk di kursi tinggi itu Mingyu sudah terlebih dahulu mengenalkannya.
Mingyu menggendong anak manis yang sedari tadi duduk nyaman di kursi tingginya dan sambil tersenyum tulus dengan bangga berkata, “Trus ini Hansol, anak gue sama Wonwoo..”
Seakan akan memang Hansol anaknya sendiri, bukan anak dari adik teman sekamarnya.
Perjalanan pulang dari Grand Indonesia ke apartemennya tidak terlalu jauh, hanya saja jalan keluar dari parkiran menuju jalan utama yang entah kenapa selalu macet itu membuat mobilnya masih tertahan di area mall.
“Gyu, itu tadi mantan lo bukan sih?”
“Iya, yang anak Unpad itu Won.”
“Yang lo susah banget Move on nya itu ya?”
Seperti panah yang menghujam jantung kalau kata Tompi. Pertanyaan yang memang tepat sasaran. Pas ke jantung Mingyu dan membuatnya melenguh lemah.
“Hahaha lumayan, tapi sekarang udah aman kok.”
“Beneran?” Mingyu menegok dan menemukan Wonwoo menatapnya dengan mata membulat yang selalu muncul setiap kali ia khawatir.
“Iya Won, gue udah gak peduli lagi sih sama urusan percintaan.”
Mobil akhirnya berhasil keluar dari jalan utama yang tersendat itu, sedikit melaju sebelum akhirnya kembali berhenti di belokan masuk menuju apartemen mereka.
“Tapi Gyu, kalo nanti lo udah nemu yang cocok dan emang mau serius gak papa loh” ucap Wonwoo yang masih menatapnya.
“Trus ninggalin lo sama Hansol gitu aja gitu?”
“Hahaha ya engga, bilang aja. Nanti gue bisa cari apartemen lain yang lebih murah dan mungkin deket sama sekolahnya Hansol nanti” tangannya masih tidak berhenti mengelus rambut anak kecil yang sedang tertidur dipelukan nya itu.
“Lagian ada nyokap, gue bisa balik ke Jogja, atau sewa nanny nanti.” Jawabnya.
“Balik ke Jogja trus ninggalin gue gitu?” balas Mingyu yang kini berganti menatap lawan bicaranya itu. Mobil melaju perlahan ke area basement.
“Ya kan lo butuh kerja, bawahan lo butuh lo, atasan lo butuh lo disini, karir lo kan bagus disini Gyu, yakali gue ke Jogja bawa bawa lo”
“Emang gue gak butuh lo sama Hansol, Won?”
Yang ditanya hanya terdiam, “Nanti kalo lo udah ada istri kan gak butuh gue sama Hansol, Gyu..”, jawabnya dengan suara memelan.
“Kan kalo Won, ribet amat sih mikirin yang masih di depan.” jawabnya yang entah kenapa terdengar perih.
Akhirnya ada spot kosong di slot parkir khusus apartemen mereka. Mingyu pun memajukan sedikit mobilnya sebelum kemudian memundurkan mobilnya perlahan.
Mobil pun terparkir sempurna.
“Buat gue, ada lo sama Hansol aja udah cukup Won.” Ucapnya sambil menatap mata teman sekamar yang duduk di sebelahnya.
“Bahagia gue saat ini cukup dengan adanya elo dan Hansol di hidup gue.”
