Work Text:
Jujutsu Kaisen by Gege Akutami
Saudade by cyancosmic
No profit gain on this fanfiction. Dedicated for event #GoyuuForBulolGojo
Warn : heavy modified canon, don't expect the exact same storyline :P
Enjoy!
Sisa-sisa kehangatan sudah hampir lenyap dari tangan yang disentuhkan pada rambutnya yang seputih salju. Berkas kemerahan meninggalkan jejak, mengotorinya. Namun ia tak peduli. Ia justru mendekatkan kepalanya pada tubuh yang beranjak kehilangan nyawanya.
“Satoru...,” panggil pemilik tangan itu.
Menggenggam erat tangan itu ia berkata, “Jangan bicara lagi! Jangan bicara apa-apa lagi!”
“Ma... af,”
Ia memejamkan mata. Merengkuh si pemilik tubuh. Satu tangannya mencengkeram erat ujung-ujung kimono yang dikenakan orang itu. Ketakutan menggerayanginya begitu menyadari bahwa orang yang ada di pelukannya akan segera pergi.
“Maafkan—.”
Tak bisa. Ia tak ingin melakukannya. Ia tak butuh kata ‘maaf’. Yang ia butuhkan hanya kehadiran orang itu. Ia tak butuh yang lainnya.
Ketika orang itu tak lagi bicara, barulah ia mengangkat kepala. Mata birunya yang jernih memantulkan bayangan orang itu, merekam peristiwa yang takkan bisa ia lupakan seumur hidupnya. Ditutupnya mata orang itu dan ia pun menjerit memanggil namanya. Berulang kali hingga hanya desahan semata yang tertinggal.
“Tora-san.”
.
.
.
Seribu tahun yang lalu, seorang sorcerer bernama Ryounen Sukuna dikalahkan oleh seluruh sorcerer pada zamannya. Tak ada yang tahu bagaimana tubuhnya hanya menyisakan dua puluh potong jari yang tak dapat dihancurkan. Pun tak ada yang mengetahui ke mana jemari tersebut tersebar.
Namun takdir terkadang senang bercanda.
Tak pernah terpikirkan di benak Satoru bahwa akan datang hari di mana seorang anak remaja akan menelan bulat-bulat jemari yang kisut dan menjijikan itu. Menyentuh obyek kutukan itu saja berpotensi terbunuh oleh kutukan lain yang terpancing oleh kekuatannya, apalagi menelannya. Benda itu merupakan racun mematikan yang tak ada penawarnya. Tapi ini, bukan hanya masih hidup, anak ini bahkan dapat berintegrasi dengan roh Sukuna.
Atau begitulah katanya hingga Satoru melihat sosoknya dengan jelas.
Rambut merah muda yang dipotong pendek juga bola mata yang sewarna hazel diarahkan padanya, menatap dengan ekspresi tak terbaca. Kedua mata tambahan muncul di pipinya. Bukan anak itu yang tengah menatapnya, Satoru tahu. Tapi melihat sosok itu di hadapannya, membuat napas Satoru tercekat.
Tangannya diarahkan pada Satoru, melayangkan serangan yang membuat Fushiguro babak belur. Satoru tetap bergeming. Selama beberapa saat ia tetap diam menatap sosok itu. Saat Fushiguro memanggilnya barulah ia bergerak.
“Tora-san?”
Mata kecokelatan itu menyipit. Tentu saja, anak itu tak dapat mendengarnya. Suaranya justru didengar oleh sang raja kutukan. Menatap Satoru, sang raja berkata, “Kau—“
Menggelengkan kepala, Satoru pun kembali fokus. Ia kembali tersenyum. Setelah menitipkan oleh-oleh yang sebelumnya ia beli pada Fushiguro, ia pun menghampiri sang wadah Sukuna. Masih dengan senyuman di wajah ia pun berkata, “Kuberi waktu sepuluh detik.”
“Ha? Sepuluh detik?” Sukuna berkata dengan arogan, seperti selayaknya. “Apa yang bisa kau lakukan selama sepuluh detik?”
“Hm?” Satoru kembali berkata, “Aku kuat lho!”
Sukuna tertawa sementara Satoru tetap tersenyum. Melihat reaksi Satoru, sang raja kutukan pun mulai geram. Tanpa banyak bicara, ia mulai menyerang. Satu tangannya hendak mencabik Satoru, namun yang diincar justru lenyap entah ke mana. Sesaat kemudian, ia justru berhadapan dengan orang lain, sementara yang ia incar duduk dengan santai di punggungnya.
Satu tangannya kembali menyerang berusaha menangkap penyihir yang katanya ‘terkuat’ itu. Tapi seberapa keras pun upayanya, ia tak pernah berhasil mendapatkan sang penyihir. Hanya ada sekelebat warna putih sebelum sosok itu lenyap seperti asap. Terus berlanjut hingga sang penyihir kembali mengingatkan, “Sudah sepuluh detik!”
Dan saat itulah kesadarannya terdorong, digantikan dengan kesadaran anak itu. Kekuatannya ditekan dan ia pun menyingkir. Membiarkan anak itu mengambil alih tubuh dan berhadapan dengan penyihir yang katanya ‘terkuat’.
“Oh?” Anak itu berkata sambil menatap kedua tangannya. “Aku sudah kembali.”
Fushiguro terbelalak, tak percaya bahwa semudah itu sang pemilik mengembalikan kesadarannya. Kedua tangannya tetap membentuk segel, waspada bila sosok di hadapannya kembali menyerang tiba-tiba.
“Dia sulit sekali diatur,” ujar sang pemilik tubuh sambil mengetuk-ngetuk kepalanya. “Merepotkan.”
Berlawanan dengan Fushiguro, sang guru malah dengan santainya mendekat. Dengan kedua tangan bertengger nyaman di kantung jaket, ia pun berkata, “Begitukah? Sulit ya?”
“Ya,” jawab anak itu dengan kedua mata tertuju padanya. Alisnya berkerut, reaksi yang wajar ketika seseorang melihat dirinya menutup kedua matanya. “Ano—“
“Satoru. Gojo Satoru,” ujarnya ramah. “Dan kau adalah—?”
“Yuuji,” jawabnya. “Itadori Yuuji.”
“Yuu...ji,” ulangnya. Nadanya sempat membuat anak itu kembali menaikkan alis. Hanya saja dengan cepat Satoru mengubahnya menjadi nada ceria. Dengan senyum di wajah dan satu tangan terangkat, Satoru pun berkata, “Selamat tidur, Yuuji!”
Saat jemarinya menyentuh dahi, kesadaran anak itu pun menghilang. Dengan sigap, tangannya menangkap anak itu. Seulas senyum tersungging di wajah saat ia meyakinkan Fushiguro bahwa segalanya baik-baik saja. Membuat anak muridnya berbalik dan menghela napas.
Tanpa menyadari tangan Satoru yang mengeratkan pegangannya pada tubuh Itadori Yuuji. Mencengkeramnya begitu erat seolah anak itu akan lenyap bila ia tak melakukannya.
.
.
.
Orang itu tak berniat untuk memungutnya, Satoru tahu. Tapi pilihan apa yang ia punya? Seorang anak kecil, sendirian, di jalanan kota Edo seribu tahun yang lalu. Terlunta-lunta mengharapkan belas kasihan hingga seseorang mengulurkan tangan padanya. Hanya segelintir belas kasihan dan Satoru pun memutuskan untuk mengikutinya.
Tentu saja, orang itu berulang kali mengusirnya. Pengelana yang tak punya tujuan itu bilang bahwa perjalanannya berbahaya dan ia tak mau membawa anak kecil bersamanya. Hanya saja Satoru bersikeras. Satoru kecil lebih takut mati kelaparan dibanding mati terbunuh.
Menghela napas, orang itu pun menyerah. Ia membiarkan Satoru mengikutinya. Terkadang orang itu akan mengajarinya macam-macam hal seperti membaca, menulis, berhitung juga hal-hal lain. Satoru tak peduli sebetulnya, tapi orang itu sangat sabar dan bahkan memujinya bila ia berhasil melakukan sesuatu. Pujiannya membuat Satoru tergoda untuk melakukan lebih dan lebih. Hingga akhirnya orang itu menyadari bakat Satoru yang lain.
Sorcerer, Itu sebutannya bagi orang-orang sepertinya. Mereka memiliki kekuatan untuk melawan kutukan dan fenomena spiritual yang tak bisa dijelaskan secara logis. Orang yang memungutnya adalah salah satu sorcerer. Seorang sorcerer biasa-biasa saja yang ia panggil dengan sebutan Tora-san.
.
.
.
Begitu ia kembali ke markas, hal yang pertama dilakukannya adalah mengeluarkan kutukan dari tubuh inang. Dibawanya anak itu ke ruangan yang dipenuhi dengan kertas-kertas mantra, juga lentera untuk menekan kekuatan spiritual. Ia berusaha melemahkan kekuatan roh yang bersemayam di dalam tubuh anak itu dan memaksanya keluar.
Tapi nyatanya hal itu tak mudah dilakukan. Tak seperti kerasukan, roh Sukuna menjadi satu dengan roh Yuuji sendiri. Keduanya berbagi tempat dalam satu tubuh dan menjadi satu individu. Memisahkannya hanya berarti satu hal dan cara itu bukanlah cara yang ia kehendaki.
Tangannya terkepal memukul dinding, meninggalkan lubang menganga. Menunduk, menatap anak yang terikat di tengah, ia pun memejamkan mata.
Ingatan akan tangan yang berlumuran darah disentuhkan pada kepalanya masih terasa seperti hari kemarin. Ia sudah mengecapnya selama seribu tahun dan takkan sudi bila harus menyaksikannya lagi kali ini.
“Pikir,” gumamnya sembari menyentuhkan rambut seputih saljunya pada rambut yang berwarna merah muda. “Ayo pikirkan caranya!”
.
.
.
“Kenapa seragamku lain dari yang lain?” Yuuji berkata sambil menunjuk seragamnya yang mengenakan hoodie berwarna merah, begitu pula di bagian kaki. “Kenapa berbeda dengan milik Fushiguro?”
“Gojo-sensei yang bertanggung jawab soal desainnya,” jawab pemuda itu dengan malas. “Kau tanyakan saja padanya.”
“Sensei?” Manik cokelat terarah padanya, menatap bingung.
Beruntung tak ada yang dapat melihat matanya dari balik kain hitam yang pekat. Tak ada yang tahu betapa ironisnya mendengar orang itu memanggilnya ‘Sensei’. Dirinya yang terbiasa memanggil orang itu dengan sebutan ‘Sensei’ kini membuat orang itu memanggilnya demikian.
Meski demikian, ia menelan semuanya. Senyum kembali tersungging di bibir dan ia berkata, “Manis ‘kan? Yuuji lebih cocok dengan hoodie!”
“Begitu?” Yuuji berkata sambil menarik hoodie merahnya. Ia membiarkan hoodie itu menutupi rambutnya yang berwarna merah muda. Lalu ia berkata, “Lumayan juga. Terima kasih, Gojo-sensei!”
Satoru mengangguk, kembali dengan garis lengkung yang tak pernah lenyap dari bibir. Berkat penutup mata, tak ada yang tahu apa yang sebenarnya ia lihat maupun perasaan yang sebenarnya. Semuanya tersembunyi.
Bersama-sama ketiganya mencapai distrik yang disebut Roppongi. Beralasan untuk memberikan tes pada Kugisaki, ia bersandar di sebuah tembok bersama Fushiguro. Meski demikian, alasan sebenarnya adalah untuk mengatakan pada Yuuji hal yang penting. Hal yang mungkin dapat menyelamatkan nyawa Yuuji.
“Tidak boleh mengandalkan Sukuna, ya, Yuuji?” Satoru berkata sambil menyunggingkan senyum dan nadanya yang kekanakan. Ia juga memberikan sebuah pisau pada Yuuji dan berkata, “Pakai ini saja!”
Yuuji tak banyak bertanya. Mungkin ia sendiri sadar betapa berbahayanya roh yang berada di dalam dirinya. Ia menerima pisau itu tanpa membantah dan mencoba mengayunkannya. Dengan segera, pemuda itu dapat segera beradaptasi dengan senjata barunya. Setelah mengucapkan terima kasih singkat, pemuda itu pun masuk mengikuti Kugisaki.
“Sensei,” panggil Fushiguro. “Biarkan aku juga ikut!”
Masih sambil tersenyum, Satoru hanya berkata. “Tidak boleh! Megumi belum boleh memaksakan diri!”
“Aku—“
Satoru menggelengkan kepala sambil tersenyum. Meski demikian, pandangannya tertuju ke pintu di mana Yuuji dan Kugisaki terakhir muncul. Tangannya terkepal sementara matanya memicing.
Para petinggi Jujutsu menginginkan agar Itadori Yuuji dimusnahkan secepatnya. Para pengecut yang ketakutan akan kebangkitan Sukuna ingin segera melenyapkan sumber masalah begitu saja. Mereka semua tak peduli pada nyawa Itadori Yuuji. Mereka hanya ingin agar Ryoumen Sukuna tak pernah bangkit. Berbeda dengan Satoru.
Satoru tak peduli bila Sukuna harus bangkit. Kalau hal itu dapat memperpanjang nyawa Itadori Yuuji, ia akan melakukannya. Ia sama sekali tak khawatir dengan Ryounen Sukuna. Seribu tahun yang lalu ia pernah mengalahkannya dan ia akan melakukannya sekali lagi bila perlu.
Tapi masalahnya, Sukuna menyandera hal yang paling penting baginya saat ini. Dan sang raja kutukan tahu, seberapa besar artinya hal itu bagi Gojo Satoru.
.
.
.
“Hei!” Sukuna berkata pada Fushiguro. “Aku menyandera anak ini.”
Fushiguro membelalakan matanya tatkala ia melihat pemuda berambut merah muda itu mengeluarkan jantungnya sendiri. Tentunya, bukan Yuuji-lah yang bicara saat itu. Terlebih saat ia melihat tato yang melingkari tangan, diiringi dengan sifat agresif yang satunya. Sangat mudah membedakan Yuuji dengan Sukuna yang memang terang-terangan menunjukkan diri.
Tapi masalahnya, bila Fushiguro sengaja memanggil Yuuji, maka Yuuji akan kehilangan nyawanya. Karena itulah ia mencoba mengulur waktu, berupaya agar Sukuna menyembuhkan atau menumbuhkan kembali jantung Yuuji. Walaupun usahanya tak sepenuhnya berhasil. Sukuna mengayunkannya ke sana ke mari seperti boneka yang rusak. Ia yang sekarang bahkan tak berdaya melawan tiga jemari Sukuna.
Di kala Fushiguro hendak menyerah, saat itulah Yuuji muncul. Walau ia tahu bahwa dirinya akan kehilangan nyawa, tetap saja Yuuji memilih kembali. Membuat Fushiguro tertunduk, menyadari kelemahan dirinya.
Memalukan. Bagaimana ia harus menghadapi Gojo-sensei nanti? Padahal Sensei sudah berpesan padanya untuk mengawasi Yuuji. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.
Justru dia dan Kugisaki yang diawasi oleh Yuuji dengan mempertaruhkan nyawa.
.
.
.
“Hei, Yuuji! Bagaimana kalau membuat perjanjian denganku?”
Yuuji mencibir mendengarnya. Ia menatap pemuda yang memiliki rupa identik dan terlihat nyaman mengenakan kimono putihnya. Memicingkan mata ia berkata, “Ha! Ternyata kau juga khawatir kehilangan tubuh inangmu ‘kan?”
Mendengarnya, Sukuna tertawa. Ia berkata, “Bukan itu.”
“Banyak alasan,” balas Yuuji.
Sukuna balas menatap remaja berambut merah muda di hadapannya. Ia menatap anak itu dan berkata, “Serius? Kau tidak sadar? Sama sekali?”
Sekali lagi pemuda berambut merah muda itu hanya menatapnya bingung. Ekspresinya membuat Sukuna sampai mengerjap mata beberapa kali. Satu tangan menumpu dagu sementara Sukuna menimbang-nimbang. Apakah ia perlu mengatakannya?
Apakah ia perlu mengatakan pada anak ini bahwa Gojo Satoru itu muridnya di masa lampau? Atau mengatakan bahwa dirinya merupakan kelemahan terbesar Gojo Satoru? Atau mengatakan bahwa ia memang sengaja mengeluarkan jantungnya untuk mengingatkan Gojo Satoru agar tidak macam-macam dengannya?
“Oi? Perjanjiannya bagaimana?” Suara Yuuji akhirnya mengembalikan kesadarannya. “Kesepakatan apa yang hendak kita buat?”
Mengerjap pelan, seringai menyebar di wajah Sakuna. “Oh, itu—“
.
.
.
Satoru menundukkan kepalanya. Kedua tangannya memijat-mijat dahi. Ia tak menyangka bahwa para petinggi sengaja memanfaatkan absennya untuk mengirim murid-muridnya menangani salah satu kasus khusus. Sudah jelas apa maksud para petinggi itu dengan mengirimkan anak muridnya dan bukan anak kelas tiga yang sudah lebih kompeten.
Para petinggi itu berniat melenyapkan wadah Sukuna, hanya itu alasannya. Lebih baik lagi bila murid-muridnya dapat sekalian disapu bersih. Dengan demikian, Gojo Satoru tak akan berkutik. Mereka berpikir, ia takkan dapat memberontak melawan para petinggi bila hanya sendirian.
Namun mereka semua salah besar. Saat ini yang ada di pikirannya adalah bagaimana menghancurkan para petinggi itu. Bagaimana melenyapkan mereka semua, bagaimana menyapu bersih Jujutsu Academy maupun Jujutsu Association dalam sekali serangan dan mana yang perlu ia habisi terlebih dahulu.
Ia bahkan nyaris tak mendengar ketika Shoko datang dan menyapanya. Barulah ketika wanita itu membuka kain putih yang menutupi tubuh Yuuji, kepalanya terangkat. Ia membiarkan Shoko mengoceh macam-macam dan hanya menanggapi seadanya.
“Aku tahu kau pasti sangat ingin menghabisi para petinggi itu, Satoru,” ujar Shoko tiba-tiba. “Tapi berhati-hatilah dengan mereka. Mungkin ini semacam perangkap untukmu.”
Ia pun tertawa sinis. Suaranya membuat Shoko memicingkan mata menatapnya. Andai Shoko tahu bahwa Satoru sama sekali tak peduli. Perangkap atau apapun itu tak ada yang membuatnya takut.
Apa yang harus ia takuti? Kematian? Hidupnya sendiri sudah terlalu panjang. Seribu tahun terlalu lama untuknya. Kalau itu kematian, ia akan menyambutnya dengan senang hati. Kematian adalah hadiah untuknya.
Justru apa yang mereka lakukan jauh lebih menakutkan untuknya. Memaksanya menyadari betapa tak berdayanya dia. Menyadari bahwa gelar terkuat pun takkan mampu menyelamatkan orang yang penting baginya. Belum ada satu bulan, Tora-san sudah kembali direnggut darinya. Takdir memang kejam, bukan?
Seribu tahun lamanya ia menunggu dan sekarang ia kembali dihadapkan dengan tubuhnya yang dingin. Apakah takdir hendak memintanya menunggu seribu tahun lagi hanya untuk bertemu Tora-san? Kalau benar demikian, ia tak yakin akan sanggup melakukannya. Menyerahkan nyawanya terdengar lebih mudah dilakukan dibanding harus menunggu selama seribu tahun.
Tepat saat itu, sosok di belakang Shoko tahu-tahu bangun. Mengangkat tubuh, ia membuat Kiyotaka sampai ternganga melihatnya. Bahkan Satoru sampai tak bisa berkata-kata. Terlebih saat kedua iris mereka saling bertemu pandang.
“Sensei...,” panggilnya lirih saat mereka bertatapan.
Untuk sesaat, Satoru tetap tertegun. Matanya merekam kebangkitan sosok itu. Meyakini bahwa ini bukan sekedar mimpi atau halusinasinya semata. Memastikan bahwa ini bukan tipuan matanya. Memastikan bahwa orang yang ia kasihi benar-benar telah bangkit dari kematian.
“Yuuji...” Ia mendekat selangkah demi selangkah. Berusaha menjaga langkahnya agar tetap tenang.
Tak ada yang menyadari afeksi yang jelas dari suaranya, bahkan Yuuji sendiri lebih fokus untuk memandangi sekitarnya. Hingga akhirnya Kiyotaka memberikan jasnya untuk menutupi tubuh Yuuji. Di bagian dada, Satoru memerhatikan bekas luka cabikan yang mulai menutup sebelum mengarahkan pandangan pada senyuman Yuuji.
Senyuman yang hangat mencairkan es batu di lidah Satoru. Membuatnya ikut menyunggingkan senyum yang sama. Pada pemuda itu ia berkata, “Kau bangun tepat waktu, Yuuji!”
Yuuji mengangkat alis, mempertanyakan maksudnya. Begitu juga dengan Shoko dan Kiyotaka.
Namun lagi-lagi Satoru hanya tersenyum. Pada mereka ia hanya berkata bahwa Yuuji tepat waktu untuk mengikuti kejuaraan Kyoto. Ia beralasan bahwa kemunculannya di sana akan menjadi shock therapy yang bagus untuk para petinggi, yang tentu saja diterima dengan mudah oleh kedua rekannya. Padahal bukan itu alasan sebenarnya.
Sedikit terlambat saja, Satoru mungkin sudah beranjak menghancurkan Jujutsu Association. Sesaat lagi, ia yang merupakan sorcerer terkuat, akan mengulang tragedi yang terjadi seribu tahun lalu. Tragedi yang sama dengan yang terjadi pada Ryounen Sukuna.
Syukurlah. Setidaknya, ia tidak berakhir seperti itu.
.
.
.
“Kelak kau akan mengerti,” ujar Sukuna kala itu. “Kenapa aku melakukan ini!”
Satoru tidak mengerti. Ia tak paham mengapa Sukuna yang merupakan penyihir terhebat bisa berubah menjadi penjahat terbesar dalam sekejap. Satoru tak mengerti mengapa Sukuna harus melawan seluruh para penyihir lain, bahkan harus merenggut nyawa orang yang penting baginya.
Tapi sekarang, Satoru akhirnya paham.
Ia pun akan melenyapkan para petinggi itu bila Yuuji terbunuh. Persetan dengan para sorcerer yang tak bersalah. Hanya karena mereka ketakutan, bukan berarti mereka berhak melenyapkan hal yang paling berharga baginya. Terlebih mereka berani mengusiknya, yang disebut-sebut sebagai sorcerer terkuat. Tentu saja ia tidak bisa tinggal diam.
“Oh, Sensei?”
Satoru menoleh. Di atas sofa, Yuuji tampak serasi dengan boneka beruang yang dipinjamkan Masa. Dengan keripik dan kaleng cola berserakan di atas meja, Yuuji benar-benar seperti remaja lelaki pada umumnya. Membuat Satoru geleng-geleng karena ia masih berupaya mencari sosok Tora-san pada diri anak itu.
“Bagaimana filmnya?” Satoru bertanya sementara ia berjalan santai dan mengambil tempat di sofa. Duduk di samping Yuuji yang pandangan matanya kembali tertuju pada film yang ia tonton. “Sudah sampai mana menontonnya?”
“Membosankan, tapi yang sebelumnya lumayan bagus,” jawab Yuuji, tak sadar bahwa Satoru justru tengah mengamatinya dibanding layar televisi. Ia menoleh pada Satoru dan kembali berkata, “Tapi Sensei, apa menonton film benar-benar bisa meningkatkan kekuatanku? Aku tak merasa lebih hebat dari sebelumnya?”
Sekali lagi Satoru tertawa. Memang, ia berniat untuk melatih teknik Jujutsu Yuuji yang belum terasah. Tapi di satu pihak, ia pun tak ingin melepaskan Yuuji.
Setelah apa yang dilakukan para petinggi sebelumnya, jelas lebih aman bagi Satoru untuk menyekap anak itu di dalam apartemennya dengan dalih ‘melatih kemampuan’, bukan? Dengan demikian tak ada yang bisa menyakitinya lagi. Tak ada yang akan merenggutnya dari Satoru. Ia aman di sini.
Tapi ia tahu, ia takkan dapat selamanya menyembunyikan Yuuji. Cepat atau lambat, para petinggi itu akan tahu. Cepat atau lambat, Sukuna akan sadar dan membuat kekacauan. Tapi dibanding itu semua, ia takut Yuuji menyadari maksudnya dan melarikan diri darinya. Itu jauh lebih mengerikan untuknya.
Karena itulah Satoru berkata, “Tentu, dulu pun aku berlatih sepertimu, hingga jadi sehebat sekarang.”
“Benarkah?” Yuuji menatapnya ragu. Pandangannya berpindah pada boneka beruang yang terlelap dengan dahi yang dikerutkan.
Satoru tidak menjawab. Sekali lagi ia hanya tersenyum. Tentu saja, itu tidak mungkin. Tapi toh yang bersangkutan takkan tahu ‘kan?
Meski demikian, pandangannya terus terpaku pada Yuuji. Menatapnya lama, ia pun kembali berkata, “Yuuji!”
“Hm?”
“Sebelumnya,” ujar Satoru sambil menatapnya tajam, “apa yang membuat Sukuna kembali menumbuhkan jantungmu? Kalian membuat perjanjian?”
Kedua manik hazel Yuuji menatapnya sebelum kembali memutar bola mata. Ia berkata, “Sepertinya kami memang membuat perjanjian, tapi aku sendiri tak yakin.”
Mata Satoru menyipit. Ia tahu bahwa Sukuna sengaja membuat Yuuji melupakan perjanjian yang telah ia buat. Agar orang lain, atau agar dirinya tak tahu apa yang dijanjikan Yuuji pada Sukuna.
“Begitu,” ucap Satoru pada akhirnya. Tahu tak ada gunanya menanyai Yuuji lebih lanjut. Ia harusnya bertanya pada sumber kutukan itu sendiri. Sebagai gantinya, ia menepuk-nepuk pundak Yuuji dan berkata, “Tak apa, teruslah berlatih.”
Yuuji memiringkan kepalanya. Ia memang hendak meneruskan latihannya. Karena itu ia bergumam ‘Aku tahu’ sebelum kembali berkonsentrasi pada film dan boneka di tangannya.
Sementara itu dari balik penutup mata, Satoru menatapnya. Diam dan tenang.
Sangat banyak. Sangat banyak orang yang hendak merenggut hal yang paling berharga baginya dan menjadi yang terkuat saja tidaklah cukup. Ia tak tahu apa yang diinginkan Ryounen Sukuna di dalam tubuh Yuuji dan para petinggi sudah jelas hendak melenyapkannya. Hanya satu hal yang sudah jelas harus ia lakukan.
‘Kali ini, biarkan aku melindungimu dengan benar.’
.
.
.
(fin?)
