Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of Lost & Found
Stats:
Published:
2020-12-20
Words:
3,624
Chapters:
1/1
Comments:
9
Kudos:
58
Bookmarks:
1
Hits:
723

Eccedentesiast

Summary:

Eccedentesiast (.n) means is someone who hides their pain behind a smile.

Yuuji selalu melihat senyuman Sensei. Menurut Yuuji, ada yang aneh dari senyuman itu, tapi mungkin ia salah. Sensei 'kan menggunakan penutup mata? Seharusnya Yuuji tak bisa membaca perasaannya, bukan?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Jujutsu Kaisen by Gege Akutami

Eccedentesiast by cyancosmic

No profit gain on this fanfiction.

Warn : heavy modified canon, contain spoiler (Shibuya arc)

 

Enjoy!


                Awalnya ia pikir ia salah lihat. Ia sampai mondar-mandir dan mengeceknya dua kali. Tidak. Ia tidak salah. Anak yang duduk di pinggir jalan dengan pakaian compang camping ini memang anak yang ia kenal.

                Dilihat dari kondisinya, anak ini sepertinya sudah berada di jalanan cukup lama. Tidak ada satupun jejak yang tertinggal dari kenangan yang ia miliki tentang anak itu. Petunjuk satu-satunya hanya rambut perak yang kini sangat kusam hingga hampir keabu-abuan dan mata itu. Mata sewarna aquamarine yang jauh lebih cemerlang dibanding pantulan langit pada lautan. Mata yang membuatnya mengenali identitas anak ini.

                Menghela napas, ia pun merogoh kantung yang ia bawa. Diambilnya beberapa buah kentang yang tadinya ia simpan untuk makan malam dan disodorkannya. Ia ingin memberi makanan lain yang lebih sesuai untuk status sang anak, namun hanya itu yang ada padanya saat ini. Semoga saja anak itu tidak tersinggung dan mau memakan—

                Oh, sepertinya ia tidak perlu khawatir. Anak itu menerima pemberiannya dengan rakus. Kentang yang ia berikan memang sudah dingin dan tidak hangat lagi. Tapi anak itu memakannya dengan lahap seolah benda itu akan segera lenyap bila ia tidak melakukannya. Sebagai akibatnya, ia pun terbatuk saking cepatnya anak itu makan.

                Menatap prihatin, diulurkannya kantung minuman yang ia bawa. Sama seperti makanan, minuman yang ia beri pun dihabiskan dengan cepat. Setelah kenyang makan dan minum, barulah anak itu menatapnya. Mata sewarna langit itu memandangnya dengan waspada juga curiga.

                Tentu saja ia paham mengapa anak itu menatapnya waspada. Tanpa banyak bicara, diambilnya kantung airnya dari anak itu. Ia pun bangkit berdiri dan segera berlalu. Ia tak mau anak itu merasa tak nyaman dengan kehadiran orang-orang sepertinya.

                 Tanpa ambil pusing, ia pun segera beranjak. Tak menyadari bahwa sepasang mata berwarna biru itu kini mengikutinya tanpa suara.

.

.

.

                “Yuuji!”

                Suara panggilan itu membuat Itadori Yuuji membuka mata. Ia mengusap sedikit liur yang menetes di bibir dengan punggung tangan sebelum berbalik. Ketika menyadari siapa yang datang, matanya membulat dengan panik. “S-s-sensei? Kau sudah kembali?”

Tersenyum, pria berambut putih keperakan yang selalu mengenakan penutup mata itu berjalan mendekat. Dengan kedua tangan di kantung seragam Jujutsu, pria itu pun berkata, “Waktunya pelajaran ekstrakulikuler!”

Dengan dahi berkerut bingung, Yuuji mengulangi ucapannya dengan pertanyaan retorik. Namun yang ditanya sekali lagi hanya menunjukkan cengirannya. Menyadari bahwa pria itu tak akan mau menunggu lama, Yuuji pun segera beranjak dari sofa. Ditinggalkannya boneka beruang yang sebelumnya ia peluk dan mengikuti pria itu.

“Ikut ke mana—“ Belum selesai ia bertanya, Gojo-sensei sudah menarik kaus yang ia kenakan. Lalu dalam sekejap mata, pemandangan di sekelilingnya tahu-tahu berubah. Yuuji bahkan tidak tahu harus berkata apa ketika menyadari bahwa mereka telah berpindah tempat.

“Maaf, maaf, aku sedang mengajari anak ini,” ujar Sensei pada seseorang atau sesuatu di depannya. Dengan kepala seperti gunung berisi lahar meleleh dan kulit cokelat sewarna tanah, Yuuji bisa menyimpulkan sendiri bahwa sejenis kutukan-lah yang ada di hadapannya saat ini. “Dan kupikir sekarang saat yang bagus untuk menunjukkannya.”

Tentu saja kutukan itu memandangnya heran. Yuuji pun demikian. Ia sempat berpikir mungkin ia dibutuhkan untuk membantu Sensei di sini. Tapi sepertinya ia salah. Bahkan Sensei malah berkata ia tidak butuh bantuan Yuuji atau apapun. Bukan karena apa, tapi lebih karena kutukan yang ada di hadapannya lemah.

Mendengar itu, Yuuji pun merinding. Lemah katanya? Padahal kutukan di hadapannya ini jauh lebih kuat dari lawan-lawan yang pernah Yuuji hadapi. Bahkan Yuuji sendiri tak dapat menghentikan gemetar yang ia rasakan. Ia ingin melarikan diri.

Saat ia berpikir demikian, satu tangan disentuhkan di atas kepalanya. Tangan itu membuat gemetar yang ia rasakan menghilang. Terlebih ketika mendengar si pemilik tangan berkata, “Jangan takut! Selama kau berada di dekatku, kau akan baik-baik saja.”

Ucapan itu membuat Yuuji tertegun sejenak. Ia menatap Sensei sebelum berkata, “Ya...?”

Sekali lagi Sensei tersenyum. Tangannya diangkat dari kepala Yuuji. Kepalanya kembali tertuju pada musuh di hadapannya. Musuh di hadapannya membuat domain hingga pemandangan Yuuji kembali berubah. Udara panas mulai ia rasakan dan seluruh tubuhnya meneriakkan tanda bahaya. Tapi berbeda dengan sebelumnya, ia tidak merasa takut.

Ia menoleh pada Sensei, dan saat itulah ia melihatnya.

Mata biru yang sangat cemerlang. Siapapun yang menatapnya pasti takkan mampu melupakannya. Yuuji pun demikian.

Tapi anehnya Yuuji tidak bisa mengingat, di mana ia pernah melihatnya?

.

.

.

Gojo-sensei memiliki mata biru yang sangat indah. Tapi seringkali ia menutupinya dengan penutup mata atau kacamata hitam yang super pekat. Yuuji paham, mungkin mata Sensei merupakan sumber kekuatan sekaligus kelemahannya. Karena itu Sensei harus menutupinya dari serangan musuh. Begitulah setidaknya yang ia pikirkan.

“Yuuji?”

Suara Sensei menyadarkannya dari lamunan. Tergagap, Yuuji pun menjawabnya. Selain Sensei ada seorang pria yang seperti pekerja kantoran berdiri di hadapannya dan orang itu mengerutkan alis. Tampak tak senang karena Yuuji sepertinya tak serius menanggapi kasus yang tengah dijelaskan. Namun Yuuji tak cemas soal itu, Yuuji lebih panik saat mendengar ucapan Sensei.

“Ada yang aneh di wajahku?” Sensei kembali bertanya. “Sedari tadi kau menatapku terus.”

Pekerja kantoran yang dipanggil Nanami itu melemparkan tatapan ‘kau bercanda, ya?’ pada gurunya. Tapi Senseinya hanya mengibaskan tangan dan lagi-lagi ia tersenyum. Pada Yuuji ia berkata, “Ya? Yuuji? Betul tidak? Ada sesuatu yang aneh di wajahku? Atau ada yang ingin kau bicarakan sebelum kujelaskan kasusnya?”

Buru-buru Yuuji menggerakkan tangan dan menggelengkan kepala, mengatakan bahwa tidak ada apa-apa. Tidak ada yang aneh di wajah Sensei, juga tidak ada yang bisa dibantu. Pada keduanya, ia mengatakan bahwa ia tengah melamun dan mungkin secara tak sadar tatapannya terpaku pada Gojo-sensei.

Saat ia mengatakannya, Gojo-sensei terdiam. Butuh beberapa saat hingga akhirnya seulas senyum kembali mampir di wajahnya. Senyum yang membuat Yuuji mengerutkan alis, merasa tak yakin dengan dirinya sendiri.

Aneh.

Kenapa ia merasa bahwa Sensei tak sedang tersenyum saat itu? Padahal ia jelas-jelas melihat lengkungan itu di wajah Sensei.

.

.

.

Setelah menjadi Jujutsu Sorcerer, teman yang dimiliki Yuuji hanya sebatas orang-orang yang mengerti mengenai kutukan. Sangat jarang orang yang dapat diajaknya mengobrol hal-hal normal. Bertamu ke rumah teman, membicarakan film di dekat sungai, seperti sudah lama sekali berlalu. Hingga ia bertemu dengan Yoshino Junpei.

Untuk sesaat, ia sempat merasakan kembali hidup yang normal. Ia bertamu dan bertemu dengan ibu Junpei. Mereka juga makan malam bersama dan membicarkan bermacam-macam hal. Andai saja mereka bertukar nomor telepon saat itu, mungkin mereka bisa menjadi teman dekat.

Tapi, takdir berkata lain. Kehidupan normalnya sudah berakhir. Saat ini ia adalah seorang sorcerer dan orang-orang di sekitarnya adalah orang yang berhubungan dengan kutukan. Tak sepantasnya ia mengharapkan untuk hidup di dunia yang normal seperti sebelumnya. Tapi sedikit saja, bila masih bisa ia ingin berharap.

Andai Ibunya Junpei tak terbunuh. Andai Junpei tidak menebarkan kutukan pada teman-temannya di sekolah. Andai Mahito tidak mengubah jiwa Junpei. Andai Junpei tidak pernah bertemu Mahito. Andai—

Ia menangis. Menangis karena tidak bisa menyelamatkan Junpei. Menangis karena ia tidak berdaya melakukannya. Ia menyesali karena ia bahkan sampai meminta bantuan Sukuna yang ditolak mentah-mentah oleh sang raja kutukan. Semua karena ia sangat lemah.

Ia pun menceritakannya pada Sensei. Betapa ia ingin menjadi lebih kuat, untuk dapat menyelamatkan orang yang ingin ia selamatkan. Menjadi kuat, sehingga ia tidak perlu mengandalkan belas kasihan orang lain. Terlebih mengandalkan belas kasihan dari kutukan. Ia yakin Sensei mengerti perasaannya.

Tapi anehnya Sensei malah berkata, “Menjadi kuat saja tidak cukup, Yuuji.”

Ucapan Sensei membuat Yuuji menoleh padanya. Gojo-sensei adalah sorcerer terkuat. Semua sorcerer tahu itu. Tapi bahkan Sensei sendiri berkata bahwa kekuatan saja belum cukup. Lalu ia harus bagaimana?

Tanpa menjawab, Sensei hanya mengacak-acak rambutnya pelan dan memberinya senyum. Senyum yang lagi-lagi membuat Yuuji mengerutkan dahi.

Tentu saja ia tidak bisa melihat mata Sensei karena penutup mata itu. Tapi entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa Sensei sangat sedih saat memandangnya.

Aneh ‘kan?

.

.

.

Sudah ia katakan bahwa ia tidak bisa membawanya, tapi anak itu bersikeras. Menghela napas, ia pun berkata, “Dengar! Perjalanan yang kutempuh ini berbahaya. Kau bisa saja kehilangan nyawa. Karena itu, aku tidak bisa membawamu.”

“Kehilangan nyawa? Seperti mati kelaparan?” Anak itu kembali bertanya.

“Tidak,” jawabnya, “Lebih mengerikan dari itu. Kau bisa saja mati terbunuh dengan isi perut tercerai-berai. Kau tidak mau seperti itu’kan?”

Ia berharap ucapannya dapat menakuti anak itu, tapi ia salah sangka. Bukannya ketakutan, anak itu malah tertawa. Melihatnya tertawa, membuatnya bingung. Ia khawatir anak ini terbentur sesuatu di kepala dan malah menjadi gila.

“Apanya yang mengerikan? Bukankah cara mati seperti itu lebih cepat daripada mati kelaparan?” Anak itu bertanya padanya. “Mati seperti itu lebih baik dibanding mati kelaparan di jalan.”

Sekali ini, ia hanya bisa tertegun. Usia anak ini mungkin tak lebih dari sembilan atau sepuluh tahun, tapi berbeda sekali cara pikirnya dengan anak-anak lain. Ia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana anak itu mendapatkan pengajaran selama ini.

Meski demikian, ia akhirnya berlutut. Menyamakan tingginya dengan anak itu, ia pun berkata, “Kau bisa mengatakan demikian karena kau tidak tahu betapa seramnya mati seperti itu. Aku ini seorang sorcerer, kematian-kematian seperti itu adalah takdir untuk sorcerer sepertiku. Tapi kau tidak demikian. Kau—“

Tunggu! Anak ini juga seorang sorcerer. Atau tadinya seperti itu. Tapi bagaimana ia dapat mengatakannya? Keluarga anak ini sudah musnah beberapa tahun lalu dan sang anak yang harusnya sudah meninggal dalam peristiwa itu justru ia temukan di jalan beberapa hari yang lalu. Apabila hal ini tersebar, baik kutukan maupun klan yang memiliki dendam pada keluarganya akan kembali mengincar anak ini. Membawa anak ini hanya akan mempermudah mereka menemukannya. Tapi, bagaimana menjelaskannya pada anak sekecil ini?

Pastinya anak ini hanya akan menganggap semua itu hanya alasan agar ia tidak membawanya. Jadi ia pun berkata, “Bersamaku hanya akan membuatmu diincar. Hidupmu tidak akan tenang bila kau ikut denganku.”

Anak itu menatapnya dan berkata, “Aku tidak peduli.”

Menghela napas, ia memejamkan mata sembari memijit dahi. Ia mengerti. Hidup di jalan seorang diri juga akan membuat anak ini terbunuh cepat atau lambat. Membiarkan anak itu tetap di jalan dan kelaparan, lalu pada akhirnya tetap diincar membuatnya mempertimbangkan kemungkinan untuk membawa anak itu.

Setelah menarik napas, akhirnya ia kembali berkata, “Aku tidak bisa melindungimu dari kematian semacam itu. Apa kau yakin mau ikut denganku?”

Kedua manik berwarna biru cemerlang itu membelalak lebar, membuatnya terpesona. Lalu anak itu tersenyum dan ia berkata, “Ya. Aku yakin. Aku akan ikut denganmu.”

.

.

.

“Kenapa kau?” Fushiguro bertanya padanya yang tengah memijat-mijat dahi sembari mengernyit. “Sakit kepala?”

“Tidak,” jawab Yuuji cepat. “Hanya lelah dan bermimpi aneh-aneh jadinya.”

Terkadang sahabat terbaik adalah sahabat yang paling gemar menasehati, bukan bersimpati. Mungkin itu sebabnya Fushiguro berkata, “Makanya jangan kebanyakan baca komik!”

Mendengus, Yuuji menjawab bahwa membaca komik adalah hobinya dan apapun yang Fushiguro katakan takkan mengubah rutinitasnya. Tentu saja hal itu dijawab dengan ‘Aku tak peduli’ khas Fushiguro dan membuat Yuuji tertawa. Memang Fushiguro tetaplah Fushiguro.

Bahkan karena ini Fushiguro, maka Yuuji dapat berkata, “Apa kau pernah memimpikan orang lain, Fushiguro? Misalnya aku, Kugisaki atau Gojo-sensei?”

Fushiguro mengerutkan alis. “Pertanyaan macam apa itu?”

Yuuji hanya tertawa mendengar tanggapannya. “Aku ingin tahu. Soalnya akhir-akhir ini aku memimpikan seseorang, tapi aku tidak yakin. Aku tidak mengenal orang itu.”

                Kerutan pun muncul di dahi Fushiguro. Lalu ia berkata, “Pernah.”

                Jawabannya membuat Yuuji tertarik. Ia pun iseng bertanya mimpi seperti apa yang sahabatnya itu lihat? Apakah sahabatnya pun memimpikan hal yang sama sepertinya?

                “Mimpi kita dan Nobara berjalan-jalan di Shibuya,” ujar Fushiguro singkat. “Mimpi buruk di mana kau dan aku membawa barang-barang belanjaannya.”

                Sekali lagi Yuuji hanya tertawa dan menggoda Fushiguro. Memang setelah kejuaraan Kyoto, Nobara semakin sering mengajak mereka berbelanja dan menjadi trauma sendiri untuk Fushiguro. Untuk beberapa saat Yuuji menertawakan sahabatnya itu sebelum pikirannya kembali beralih pada mimpinya.

                Ia tidak mengerti mengapa ia sering sekali memimpikan anak yang ciri-cirinya seperti Gojo-sensei.

.

.

.

                Bau amis darah memenuhi penciumannya. Potongan-potongan tubuh berserakan di mana-mana. Kemanapun ia memandang, hanya ada warna hitam. Hitam dan pekat.

                Seseorang memanggilnya dan ia pun menoleh. Di sampingnya, orang dengan rambut putih dan mata biru cemerlang membentuk sebuah segel dengan jarinya. Orang itu mengucapkan sesuatu padanya tapi ia tidak bisa mendengar.

                Waktunya sempit. Hanya dalam sepersekian detik, ia menyadari ancaman yang tak jauh dari keduanya. Ancaman yang membuatnya sangat takut dan gentar. Bila ia bergerak, nyawanya akan langsung lenyap saat itu juga. Ia tahu itu, tapi ia tidak punya pilihan lain.

                Ia memang bukan sorcerer yang kuat. Tapi ia tahu cara mengutuk seseorang. Dan saat ini ia tidak punya pilihan. Untuk menyelamatkan nyawa orang itu, hanya ini caranya.

                Tangannya membentuk segel dan ia menggumamkan mantra. Suaranya membuat mata sebiru langit menatapnya tak percaya. Ketika ia selesai, ia membuka mata dan sesuatu menghujam jantungnya. Ia hanya dapat tersenyum sebelum gravitasi menariknya jatuh.

                Ia paham kalau orang itu marah padanya, karena itu ia mencoba menggumamkan permohonan maaf dengan suara yang serupa bisikan. Ia terus mengulanginya walau ia yakin orang itu takkan memaafkannya. Kutukan untuk hidup abadi bukan sesuatu yang diharapkan orang itu. Tapi pilihan apa yang ia punya untuk melindunginya?

                Sekali lagi ia mencoba mengucapkan maaf, tapi orang itu menggeleng. Ketika orang itu mengangkat kepala, ia pun semakin bingung.

                Tidak ada kemarahan pada diri orang itu.

                Yang ada hanya kesedihan. Kesedihan yang amat dalam. Kesedihan yang mungkin akan ditanggungnya dalam keabadian.

                Dan sekali lagi yang dapat ia katakan hanya,

                ‘Maaf.’

.

.

.

                Mimpi itu membuatnya terbangun lagi dengan keringat dingin dan airmata. Ia menatap langit-langit dan keremangan di kamarnya. Diusapnya airmata dari pipi sebelum bangkit dan turun dari ranjang.

                Dari jendela, ia bisa melihat bulan masih tinggi di langit. Masih ada beberapa jam sebelum ia dan rekannya kembali beranjak untuk menjalankan misi. Tapi anehnya, ia tidak tergoda untuk kembali berbaring dan memejamkan mata.

                Membuka pintu, ia pun menyusuri koridor asrama. Berjalan tak tentu arah, hingga mencapai pelataran. Untuk sesaat ia diam di sana dan berjongkok. Membenamkan kepalanya di antara kedua tangan dan memejamkan mata.

                Sejak menyelesaikan kasus Yasohachi bersama kedua rekannya, mimpi-mimpinya berubah. Ia tak lagi memimpikan anak kecil bermata biru yang mirip dengan Gojo-sensei. Sebagai gantinya, ada orang lain di sampingnya. Orang yang lebih tinggi darinya dan memiliki mata sebiru langit.

                Hanya saja mimpinya selalu sama. Ia selalu dikelilingi bau darah yang membuatnya mual. Tapi yang lebih membuatnya takut untuk tidur adalah ekspresi itu. Ekspresi yang ditunjukkan orang itu saat menatapnya lebih menakutkan dibanding situasi apapun yang ia hadapi. Ekspresi itu membuatnya ingin melakukan sesuatu, apa saja, asal bisa menghapusnya dari wajah orang itu.

                Tapi bagaimana caranya? Sekalipun ia bertekad untuk mengubah jalan cerita di mimpinya, ia selalu berakhir dengan adegan yang sama. Seolah-olah, itu bukan mimpi. Seolah-olah itu kenyataan yang pernah ia jalani sebelumnya. Hanya ia tak yakin pernah mengalaminya.

                Menghela napas, ia mengangkat kepala. Betapa terkejutnya ketika ia menyadari ada seseorang yang tengah berdiri di hadapan dan menunduk menatapnya. Ia nyaris terjungkal ke belakang bila tangannya tak ditangkap. Dengan canggung, ia pun bangkit berdiri seraya berkata, “G-Gojo-sensei. Selamat malam!”

                “Selamat malam, Yuuji,” balasnya. Yuuji memerhatikan bagaimana sang guru kembali membuat lengkungan di wajah. “Kenapa kau di luar asrama selarut ini? Tidak bisa tidur?”

                Sembari tertawa, ia berkata bahwa ia hanya mencari angin dan tidak bisa tidur karena baru membaca sebuah komik. Ia pun mencoba mundur satu langkah dan berbalik. Tak ingin melanjutkan percakapan. Ia tak ingin membuat khawatir Sensei.

                Sensei tak curiga. Setidaknya ia pikir begitu. Sampai Sensei berkata, “Komiknya... seru ya?”

                Yuuji kembali menoleh. Tak yakin apakah ia salah dengar.

                Lagi-lagi pria berambut putih itu tersenyum dan senyumnya sangat berbeda dengan yang disaksikan Yuuji sebelumnya. Ini senyuman yang itu. Senyuman yang membuat Yuuji merasa aneh saat melihatnya. Membuat tenggorokannya tak nyaman seolah tengah menelan sesuatu yang salah.

                “I-itu..”

                Masih sambil tersenyum Gojo-sensei melipat kedua tangannya di depan dada dan menunduk menatapnya, “Habis, Yuuji sampai tak bisa tidur. Pasti komiknya seru sekali ‘kan?”

                Yuuji meringis. Ia ingin kembali berbohong dan berkata bahwa komik yang ia baca memang sangat seru hingga membuatnya sulit untuk tidur. Tapi setiap kali ia melihat senyum itu, entah kenapa ia malah tergoda untuk melakukan sebaliknya. Apalagi belakangan ini. Setelah ia melihat ekspresi yang selalu membuatnya terjaga hingga beberapa malam. Pada akhirnya ia justru membuka mulut untuk bercerita.

                “Aku...,” ujarnya akhirnya, “bermimpi.”

                Sensei mengulangi perkataannya. Tak mengerti, pastinya.

                “Sejak dari Yasohachi, aneh sekali,” ia berusaha tertawa tapi anehnya ia tak merasa ada sesuatu yang lucu. “Aku bermimpi menyelamatkan seseorang, tapi untuk menyelamatkannya aku malah memberinya kutukan. Haha.”

                Gojo-sensei tidak tertawa. Ia tetap melipat kedua tangannya di depan dada. Pria itu menyimak dalam diam.

“Selalu seperti itu. Waktu di Yasohachi juga, aku ingin menyelamatkan orang, tapi mereka terbunuh karena aku menelan jari-jari Sukuna.” Ia berkata sambil memainkan jemarinya. “Waktu menelan jari Sukuna juga, kupikir aku bisa menyelamatkan Fushiguro, tapi ternyata aku malah membuat bencana.”

Tak ada suara. Ia tak yakin apakah Gojo-sensei masih mendengarkan. Sebagai seorang sorcerer terkuat yang dapat dengan mudah mengalahkan semua kutukan semudah membalikkan telapak tangan, pastinya keluh kesahnya sangat mengganggu. Tidak, lebih dari itu, ia mungkin merasa salah karena sudah memberikan pilihan untuk hidup lebih lama pada Yuuji. Karena pada akhirnya, kutukan yang membunuh manusia-manusia itu bangkit karena Yuuji.

“Mungkin..,” ujarnya sembari tertunduk, “seharusnya aku mati saja.”

Keheningan yang datang setelah kata-katanya membuatnya tak nyaman. Ia pun kembali tertawa canggung sembari memainkan jemarinya menyentuh pipi. Dengan cepat ia berusaha meyakinkan Sensei untuk melupakan semua yang ia katakan dan buru-buru berbalik. Ketika ia sudah hendak mengambil langkah seribu, suara Sensei kembali menyadarkannya.

“....”

Yuuji mengerutkan dahi dan menoleh. Suara Sensei sangat pelan. Ia tak yakin mendengar kata-kata Sensei dengan benar. Berbalik, ia pun ingin mengonfirmasinya. Apa sebenarnya yang Sensei katakan padanya?

Tapi yang didapatnya hanya senyuman itu.

.

.

.

Ia mengerutkan dahi. Tak yakin dengan kata-kata Sensei. Kata-kata itu terus terngiang di benaknya hingga lagi-lagi ia kehilangan konsentrasi. Bahkan Mei-san harus mengingatkannya berulang kali bahwa ia harus fokus. Kali ini mereka tidak bisa main-main.

Sejumlah orang terperangkap di Shibuya dan mereka semua meneriakkan hal yang sama. Gojo Satoru. Itu yang mereka inginkan. Bagi para Jujutsu sudah jelas bahwa ini perangkap. Tapi mereka tidak punya pilihan lain. Terlebih di saat banyaknya manusia yang terjebak di dalamnya dan menjadi insiden berskala nasional.

Untuk itulah mereka bergerak terpisah hingga Yuuji mendengar sesuatu dari alat komunikasi miliknya. Awalnya ia kira alat komunikasinya disadap musuh, tapi setelah mendengar penjelasan akhirnya ia mengerti. Meski berita yang dibawakan membuatnya mematung di tempat.

‘Gojo Satoru disegel’, itu katanya. Berita itu membuat pikirannya buntu. Ia tak tahu harus berbuat apa.

Di sampingnya, Mei-san lebih berkepala dingin. Setelah menyarankan beberapa strategi, mereka pun berpisah. Tanpa berpikir panjang, Yuuji langsung menggerakkan kakinya, memaksanya bergerak menjalankan rencana. Apapun untuk membebaskan Sensei.

Ia tidak tahu kenapa ia begitu bersikeras. Ia tidak tahu kenapa ia setuju untuk memanggil Nanamin juga Fushiguro dan mengabarkan berita ini pada mereka untuk mendapatkan tambahan bantuan. Ia juga tidak tahu kenapa ia melawan kutukan tingkat tinggi seperti Choso, bahkan membiarkan Sukuna mengambil alih kesadarannya. Di tangannya beberapa orang terbunuh, begitu juga dengan orang yang mengulurkan tangan padanya. Akal sehatnya benar-benar berada pada batasnya.

Tapi ia terus berlari. Ia terus merangsek maju. Nanamin bilang, Gojo-sensei adalah harapan terakhir bagi para Jujutsu Sorcerer. Bila ia disegel, maka semua kutukan yang sebelumnya tersembunyi akan bangkit dan itu akan menimbulkan masalah bagi dunia Jujutsu. Tapi Yuuji tak yakin itu sebabnya.

Ia ingin menyelamatkan orang lain. Tapi itu juga bukan alasannya. Buktinya, ia bisa menyelamatkan banyak orang selain Sensei saat ini. Namun ia tetap memprioritaskan Gojo-sensei dibanding nyawa orang-orang di sekitarnya. Kenapa? Ia tidak tahu. Tidak mengerti. Tapi... hanya orang itu saja yang keselamatannya memenuhi seluruh benaknya saat ini.

Tangannya menyentuh kotak yang terjatuh hingga membuat lubang di pelataran jalur Fukutoshin. Dari ekspresi musuhnya, ia tahu bahwa kotak itu pastilah kotak yang digunakan untuk menyegel Gojo-sensei dan Sensei pasti masih berada di dalamnya. Karena itu tanpa pikir panjang, ia pun mengambil kotak itu dan mencoba membawanya kabur. Tindakan yang sudah jelas akan langsung dihadang oleh musuhnya.

Terjatuh. Kotak terlepas dari tangannya. Ia mencoba mengulurkan tangan sebelum serangan kembali mengarah padanya. Serangan musuh membuatnya tak dapat bergerak, seluruh tubuhnya lumpuh. Telinganya berdenging dan darah menghalangi penglihatannya. Di tengah kesadarannya yang mulai menipis, ia malah teringat akan perkataan Sensei di malam sebelumnya.

“Kalau kau ingin mati, lalu aku harus bagaimana?”

Lucu sekali. Percakapan itu baru terjadi beberapa hari yang lalu, tapi begitu cepat doanya dikabulkan. Betapa cepatnya kematian menariknya, sebelum ia sempat memikirkan jawaban atas pertanyaan Sensei.

Tapi bukannya menjawab, benaknya malah dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan. Kenapa Sensei menanyakan hal itu? Sensei adalah orang terakhir yang akan terganggu bila ia terbunuh. Yuuji adalah kutukan sementara Sensei adalah pembasmi kutukan. Bahkan Sensei pun menangguhkan eksekusinya karena ia berguna untuk menemukan jari-jari Sukuna yang hilang.

Mungkin. Mungkin Sensei akan baik-baik saja bila ia tidak ada. Sensei bahkan tidak akan merasa sedih. Ia tetap akan pergi menjalankan misi dan kembali dengan oleh-oleh untuk dirinya sendiri. Seiring berjalannya waktu, mungkin Sensei akan lupa pada seseorang yang bernama Itadori Yuuji.

Ia mencoba tertawa saat memikirkan kemungkinan itu. Namun entah mengapa tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Sekalipun lengkungan sudah terbentuk, pada akhirnya ia malah mengalirkan air mata.

Kenapa? Kenapa begini sakit rasanya? Kenapa ia tidak bisa tertawa? Bukankah itu hal yang bagus karena Sensei baik-baik saja? Bukankah itu yang ia harapkan saat ini? Tapi kenapa ia malah menangis? Kenapa ia malah bersedih sekalipun wajahnya membentuk senyuman?

Ah.

Mungkin inilah yang Sensei lakukan saat itu. Tersenyum, meski terasa pedih. Tapi, apa gerangan yang membuat Sensei sedih?

Tepat saat ia memikirkan itu, terdengar bunyi retakan. Sekali, dua kali, hingga ia menyadari bahwa kotak yang berada di tangan musuhnya lah yang mulai retak. Tepat saat itu, musuhnya pun terkejut dan hendak melakukan sesuatu untuk menyegel kotak itu. Tapi semuanya terlambat dan kotak itu pun meledak melontarkan isinya.

Yuuji sendiri masih sempat menyaksikan kotak itu meledak berkeping-keping. Ia hendak mengucapkan sesuatu, tapi mulutnya pun penuh dengan darah. Terbatuk, ia mengangkat kepala dan menemukan seseorang berada di dekatnya. Untuk sesaat ia pun tertegun.

Kenapa ekspresi Gojo-sensei sama persis dengan orang yang ada dalam mimpinya? Bagaimana mungkin—?

Ia tidak bisa berkata-kata dan kesadaran perlahan mulai menarik dirinya. Tapi sebelum itu, ia masih dapat menangkap kata-kata Sensei yang memanggil namanya di sela-sela kesadarannya.

“Aku harus bagaimana,” ujarnya, “Yuuji?”

.

.

.

(fin.)

Notes:

Holla! Cyan kembali XD. Masih dengan pair yang sama. Dalam sekejap, pair ini bikin saya gak bisa berhenti mikir. Maka itu, setelah menyelesaikan manganya seupdate yang saya bisa, langsung saya buat sequelnya XD
Dan ehem, saya belum baca sampai tuntas Shibuya arc, dan nggak tahu bagaimana akhirnya, so, sekali lagi saya ingatkan bahwa ini modified canon. Jadi please, jangan dijadikan patokan.
Aniway, selamat menikmati dan semoga terhibur XD
Salam,
Cyan.

Series this work belongs to: