Work Text:
Link sedang berjalan ke arah reruntuhan saat ia menemukan sebuah peti yang berisi—lagi dan lagi—sepasang celana kain. Ia lalu mengambil beberapa langkah mundur, sebelum berlari menyusuri padang savana yang begitu luas. Ia menghampiri puing-puing reruntuhan dan memanjat setiap anak tangganya. Dari atas reruntuhan itu, Link bisa melihat beberapa monster sedang berjalan di antara dinamit-dinamit warna merah, mengitari sebuah api unggun di mana sebongkah daging sedang dimasak.
Hari ini ia tidak sedang ingin bertarung, jadi ia hanya menjatuhkan sebuah batu raksasa ke tanah yang kemudian memicu rangkaian ledakan dari dinamit itu dan membunuh monster-monster di dekat api unggun. Link lompat ke bawah dan menghampiri bongkahan daging steak yang masih utuh.
“Hah! Steak!” Jeongguk terkekeh. Kedua jemarinya masih mengontrol gerakan Link melalui konsol Nontendo Switch-nya dengan lihai dan penuh konsentrasi, meskipun guncangan demi guncangan sedikit mengganggu laju kereta.
Di lain sisi, ia sadar bahwa iris tajam Min Yoongi seperti sedang mencoba melubangi kepalanya dengan laser tak kasat mata, namun ia terlalu terbenam di dalam Legend of Zelda untuk memedulikan sang Slytherin berambut putih itu.
“Kau tahu, ‘kan, kalau ketahuan membawa barang Muggle ke Hogwarts bisa membuatmu dikeluarkan?” komentar Yoongi.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar, Jeongguk mendengung dan menjawab dengan acuh tak acuh, “Kalau ketahuan. Lagipula, membawa Switch ke sekolah bukan tindak kriminal tingkat tinggi seperti membuat kultus pemuja Pangeran Kegelapan.”
Sejenak keheningan melanda keduanya di dalam kompartemen di Hogwarts Express yang sedang melaju menuju Skotlandia. Hanya suara gesekan roda kereta ke rel beserta kepulan asap dari lokomotif yang samar-samar terdengar di antara mereka.
“Omong-omong, Hyung,” Jeongguk kembali bersuara setelah beberapa menit. Matanya masih tertuju pada layer Switch, namun ia tak bisa menahan diri untuk tidak sedikit menyeringai licik. “Aku melihat ponsel pintar yang kau simpan di saku kopermu. Aku juga lihat kau masih memasang foto Jimin sebagai lockscreen.”
Yoongi menendang lutut Jeongguk hingga membuat tubuh sang Gryffindor secara refleks tersentak ke depan. Dengan kesal, Jeongguk membalas tendangan ke betis Yoongi. Namun, Yoongi adalah sebuah personifikasi dari sebongkah batu, sehingga seganas apa Jeongguk menyerangnya, ia tidak bergerak sedikit pun. Mereka hampir bergulat dengan serius ketika tiba-tiba kereta berguncang dan keduanya jatuh terjerembab dengan keras ke sofa di hadapan mereka, membuat Nintendo Switch kesayangan Jeongguk terbang keluar pintu kompartemen.
“ELIZABETH!!” Jeongguk berteriak. Kedua matanya membelalak dalam ketakutan saat melihat Switch miliknya tergeletak di depan pintu kompartemen dengan ujung layar yang retak. “Hyung! Kau jahat sekali!”
Yoongi tersenyum miring dan membenarkan posisi duduknya.
Sang Gryffindor berambut arang itu merutuk dalam hati. Beranjak menuju pintu kompartemen, dengan tangan yang terulur dan kepala yang mencuat keluar dari pintu, ia hendak mengambil Switch-nya saat matanya menangkap dua sosok manusia yang berjalan di ujung lorong kereta. Saat itulah ia merasa tangannya mendadak terasa panas, namun keringat mengucur di sekujur tubuh terasa dingin. Detak jantungnya mengencang seperti derap kaki kuda pacuan yang sedang berlari, dan dengan spontan ia menarik dirinya kembali ke dalam kompartemen dan membanting pintu dengan sangat keras, membuat Yoongi terkaget dan mengutuknya dengan kata kasar.
“Tentu saja! Demi Merlin, aku sangat lapar!”
“Kamu, sih, nggak mau makan dulu sebelum kereta berangkat. Padahal choco croissant di kafe baru dekat King’s Cross sangat enak, Taetae.”
Terdengar suara percakapan samar dari luar kompartemen. Saat itulah Jeongguk tersadar dua murid dengan dasi kuning-hitam yang berada di lorong sudah sangat dekat. Ia cepat-cepat mengambil tongkat sihir miliknya dari dalam tas ransel dan membuka pintu kompartemen, mengucap “Accio!”, sebelum kembali membanting pintu dan—entah atas dasar apa atau alasan apa—bersembunyi di balik jubah Min Yoongi.
Setidaknya, Yoongi membantu membetulkan Elizabeth dengan mantra Oculus Reparo setelahnya.
*-*-*-*-*
Jeon Jeongguk hampir tidak pernah bisa berkonsentrasi di kelas Herbologi. Pertama, kelas Herbologi membuatnya mempertanyakan eksistensi herba sebagai makhluk hidup—mereka lebih sering bertindak seperti Pokemon daripada tumbuhan pada umumnya. Kedua, pengajar untuk kelas Herbologi tahun keempatnya adalah Profesor Neville Longbottom, seorang mantan auror berpengalaman—ia terkenal sangat pandai dan berpengetahuan luas, juga merupakan seorang pahlawan dari masa perang Hogwarts—namun ia sangat ceroboh dan kaku. Untuk itulah ia merekrut seorang asisten untuk membantunya mengajar di kelas. Ketiga, sang asisten tidak lain dan tidak bukan adalah Kim Taehyung, seorang murid tahun kelima dari asrama Hufflepuff, alias bintang berpendar yang memancarkan aura yang membuat semua mata terfokus padanya, dan menyilaukan hati muda dan rapuh Jeon Jeongguk.
Dan, Kim Taehyung dengan pipi menggemaskan dan rambut kokoa halusnya, berdiri di ujung lain rumah kaca dan memeluk sebuah Bouncing Bulb di dada dengan riang, sementara sang Pokemon berwarna ungu itu terang-terangan terlihat sangat senang berada di dekapannya. Di dekatnya, Profesor Longbottom menjelaskan bagaimana mereka harus memindahkan Bouncing Bulb dari satu pot ke pot yang lain.
Terlihat seperti pekerjaan yang mudah, pikir Jeongguk sembari menggigit bagian dalam pipinya. Ia mengambil salah satu Bouncing Bulb dari pot lama dan hendak menanamnya ke pot yang baru ketika ia melihat Taehyung berjalan menghampiri Ty Simpkins—teman seangkatan dan seasrama Jeongguk—dan membantu Simpkins menangani Bouncing Bulb di potnya dengan sangat ramah. Jeongguk merasa kesal karena ia sendiri yang memutuskan untuk berdiri terlalu jauh dari sang asisten. Jika saja ia berani berdiri dekat dengan seniornya itu, mungkin saat ini ia bisa bertanya bagaimana cara menangani herba ungu aneh yang tiba-tiba berteriak padanya ini—
Jeongguk tidak sengaja mencubit salah satu batang sang herba, membuat herba tersebut memekik dengan sangat lantang dan melompat dari potnya, lalu menampar Jeongguk dengan sangat keras di pipi.
PLAK!!
“OWW!!”
Seluruh kelas tertawa.
Namun, beberapa dari mereka—termasuk Simpkins—pada akhirnya juga ditampar oleh Bouncing Bulb karena, seperti kata Profesor Longbottom, mereka terlalu berisik. Sedikit banyak, Jeongguk merasa puas melihat karma yang langsung memukul teman-teman sekelasnya di wajah. Di sisi lain, saat ia mencuri pandang ke arah Taehyung yang sedang terkekeh dengan sangat manis, lengkap dengan senyuman lebarnya yang khas dan berbentuk hati, ia berpikir ia rela untuk melakukan hal sekonyol apapun—seperti ditampar ratusan kali oleh Bouncing Bulb—demi menyenangkan hati sang Hufflepuff bersurai kokoa itu.
*-*-*-*-*
Jeongguk tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya-tanya dalam hati bagaimana rasanya dan apa jadinya jika seandainya ia merupakan seorang murid yang keren dan populer di Hogwarts. Mungkin saat ini ia berada di udara dan melemparkan bola Quaffle ke dalam gawang Ravenclaw. Mungkin ia menjadi seorang Chaser yang dipuja-puja saat pertandingan selesai dan seluruh tim kembali menapakkan kaki ke tanah dengan kemenangan di genggaman tangan. Mungkin, hanya mungkin, ia akan berada di pinggir lapangan Quidditch dan bukan di tribun penonton sendirian, memiliki hak istimewa untuk berlari ke arah Taehyung dengan tangan terbuka dan memeluknya erat, dan memutar tubuh mereka tiga ratus enam pulih derajat dalam kegembiraan selayaknya sepasang kekasih di K-Drama.
Seperti yang saat ini Jung Hoseok lakukan di bawah sana. Meskipun secara teknis Hoseok bukan kekasih Taehyung.
Tapi Jeongguk seharusnya tidak punya hak untuk merasa cemburu. Jeongguk hanyalah bocah ingusan tahun keempat yang kurus dan pendek (ia hanya setinggi Park Jimin saat itu), dengan model rambut seperti batok kelapa. Ia tidak setampan atau sekekar Chris Hemsworth, dan selalu tenggelam dalam sifat pemalunya yang seperti kerak pada wajan yang gosong. Sedangkan Taehyung, ia merupakan murid keturunan darah murni dari keluarga terpandang yang sudah populer sejak awal. Selain sangat tampan, ia juga lucu dan menggemaskan, dan karakternya yang sangat baik layaknya malaikat dan kemampuan bersosialisasinya yang tinggi membuatnya memiliki banyak sekali teman. Dan mantan pacar.
Mungkin suatu saat, ia akan bisa menjadi keren dan mengambil hati Kim Taehyung.
Ya, suatu saat.
Bukan saat ini.
Saat ini, Jeongguk beranjak dari kursi tribun dan menyeret dirinya sendiri kea rah asrama Slytherin. Ia ingin merampas ponsel pintar milik Yoongi dan secara maraton menonton anime Ano Hana, karena ia sedang dalam mood untuk menangisi kehidupannya yang menyedihkan.
*-*-*-*-*
Secara resmi, tahun keempat adalah tahun yang menjadi momok untuk hati Jeon Jeongguk yang malang. Saat ia mengambil kelas elektif Ramalan untuk menambah jumlah kredit di penghujung musim panas tahun lalu, ia benar-benar tidak akan menyangka akan berada di kelas yang sama dengan Kim Taehyung. Hal itu sama saja dengan ia menandatangani perjanjian untuk bertemu dengan Taehyung dua kali dalam sepekan; di kelas Herbologi dan kelas Ramalan. Sayangnya, itu tidak berarti apa pun karena interaksi di antara keduanya masih di bawah garis nol.
Jeongguk menghela napas panjang. Di bawah bayangan dan dari kejauhan, matanya tertuju pada Kim Taehyung yang sedang mengernyitkan dahi, sembari berbisik-bisik dengan Haruka Shimazaki, teman wanita seasramanya, sambil menunjukkan isi cangkir teh satu sama lain. Wajah seriusya terlihat sangat lucu, gumam Jeongguk dalam hati. Ia melihat Profesor Trelawney datang menghampiri kedua murid Hufflepuff tahun kelima itu, lalu mengambil cangkir milik Taehyung yang dipegang oleh Shimazaki, dan semua orang terkesiap waspada.
Semua orang tahu bahwa Profesor Sybill Trelawney lebih suka mengabarkan ramalan buruk pada murid-muridnya, entah itu tentang kematian orang terdekat atau bahkan musibah berat yang akan menimpa diri mereka sendiri. Pada umumnya, keesksentrikan beliau terlihat seperti tidak menyisakan belas kasihan, dan terkesan psikotik. Namun hari itu, setelah melihat sisa daun teh di cangkir milik Taehyung, Profesor Trelawney mengangkat wajahnya dan memandang Taehyung dengan mata yang berbinar seolah kagum dan penuh kelegaan, membuat murid-murid lain bertanya-tanya mengapa beliau bertindak begitu di luar karakter.
“Tuan Kim, Anda mendapatkan angsa di dalam cangkir Anda,” ujar sang profesor.
Sontak murid-murid di kelas riuh dan berbisik satu sama lain. Beberapa murid bahkan cepat-cepat membuka buku panduan mereka untuk mengonfirmasi arti simbol angsa di dalam cangkir. Namun Jeonggguk, yang sudah membaca buku panduan jauh ke belakang, tahu persis apa arti dari simbol tersebut meski seluruh atensinya tetap terpaku pada Taehyung.
Angsa, sebuah simbol kesetiaan dan cinta abadi.
“Apakah Anda memiliki seseorang yang sedang Anda pikirkan?” tanya Profesor Trelawney.
“Mungkin,” aku Taehyung singkat sembari mengerlingkan mata. Terlihat dengan jelas wajahnya merona merah.
Kelas mendadak ramai. Siul-siul menggoda mulai terdengar bersautan.
Namun, di tengah keramaian, tak ada seorang pun yang sadar bahwa Taehyung sedang melirik ke arah dinding di ujung kelas di mana Jeongguk duduk nyaris tersembunyi di bawah tirai. Tak ada yang menyadari sang Hufflepuff melirik ke satu arah dari ujung matanya. Dan, Jeongguk, dengan hati kecil rapuhnya yang malang, menjadi satu-satunya yang menyadarinya saat kedua pasang bola mata mereka bertemu dan saling mengunci. Tak ada yang menyadari hal itu selain Jeongguk, karena atensi sang Gryffindor yang sedari awal terpaku pada Taehyung.
Jantung Jeongguk yang malang berdegup sangat kencang seperti ingin meledak. Wajahnya terasa sangat panas dan telinganya seolah berasap. Cepat-cepat ia memalingkan muka dan menelan gumpalan rasa malu.
Bisa jadi mereka bertatap mata tanpa disengaja, kan?
Bukan berarti orang yang sedang dipikirkan Taehyung adalah dirinya, kan?
Ha. Haha.
*-*-*-*-*
Salah satu lokasi yang paling aman untuk Jeongguk memainkan Nintendo Switch-nya adalah di menara Owlery. Selain cukup jauh dari kastil, tidak banyak orang yang suka pergi ke menara yang bau kotoran burung itu, apalagi di akhir pekan di penghujung musim dingin, di mana murid-murid Hogwarts lebih senang menghabiskan waktu di Hogsmaede. Jika keberuntungan dari Dewa-Dewi Burung Hantu terus berada di pihaknya, maka sampai lulus pun ia tidak akan ketahuan oleh Profesor McGonagall telah menyelundupkan barang-barang Muggle ke Hogwarts. Setidaknya, pengalamannya kabur ke menara Owlery selama tiga tahun terakhir ini meyakinkannya demikian.
Lagipula, Jeongguk hanya perlu duduk di bawah pagar balkoni sambil mengucap beberapa mantra untuk menghangatkan suhu tubuh dan sedikit melemahkan indra penciumannya. Jika ia ketahuan oleh salah satu profesor, dia bisa saja mengarahkan jari telunjuknya ke penyelundup teknologi Muggle yang lain, Min Yoongi. Gampang.
Dengan sepasang earphone yang terselip di kedua lubang telinga dan terhubung ke iPod yang berada di sakunya, sembari mendengarkan Fantastic Baby, jemari Jeongguk lihai mengontrol konsol Switch dan menggerakkan mobil Mario di game Mario Kart. Ia menenggelamkan diri dalam konsentrasi untuk mendapatkan koin-koin tambahan sebanyak mungkin untuk menang. Namun, saat ia berhasil disalip oleh karakter Princess Peach, ia mengerang dan mengadahkan kepalanya dengan spontan.
Sayangnya, mungkin sebaiknya ia tidak melakukan hal itu.
Karena saat ia mengadah, tepat di hadapannya, Kim Taehyung sudah duduk meringkuk memeluk lutut. Sang Hufflepuff tersenyum dengan lebar dan secerah sinar matahari di musim panas dan Jeongguk tersentak kaget.
Bloody Hell!
Taehyung tertawa.
Oh, namun ia terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Dan, seandainya mereka saling mengenal, Jeongguk ingin sekali merentangkan tangannya dan mencubit pipi yang kemerahan karena dingin itu. Atau mungkin, mungkin, menciumnya di bibir.
Sial, Jeongguk merutuk dalam hati. Ternyata sebetulnya mereka tidak benar-benar saling mengenal.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Taehyung.
“Bersembunyi dari Mr. Filch,” Jeongguk meringis, tak tahu harus menjawab apa. Taehyung mengangguk dan terlihat puas dengan jawabannya, dan tidak terlihat seperti hendak menghakiminya karena bersembunyi dengan benda Muggle di tangan. “Kau sendiri sedang apa?”
“Aku baru saja mengirimkan surat untuk Jin-hyung—kakakku—yang bekerja di Kementerian,” ujar Taehyung sembari menunjuk ke arah pintu masuk Owlery di balik punggungnya. “Lewat kantor pos penuh kotoran burung hantu. Omong-omong, itu apa?”
Jeongguk terdiam beberapa saat. Lalu, ia berdeham dan membenarkan posisi duduk sebelum melepaskan earphone dari telinganya dan menjawab,
“Switch.”
Kedua mata Taehyung membesar karena penasaran dan irisnya memancarkan cahaya kerlipan yang indah—mungkin hanya imajinasi Jeongguk, tapi siapa yang peduli. Sang Hufflepuff kemudian mendudukkan diri dengan nyaman di hadapan Jeongguk. Kedua pasang lutut mereka hampir bersentuhan, membuat otak Jeongguk mendadak kusut dan wajahnya terasa panas.
“Switch?” Taehyung sedikit mengernyitkan dahi, namun sinaran di matanya tidak pernah padam.
“Ya. Nintendo Switch. Aku menamainya Elizabeth.”
Taehyung terkekeh.
“Bolehkan aku lihat?”
Tanpa berbicara, Jeongguk menyodorkan Switch kesayangannya itu ke arah Taehyung, yang dengan gembira menerimanya dan membolak-balikkan benda persegi itu dengan jari-jarinya yang lentik. Saat itu, tak ada lagi hal yang ada di pikiran Jeongguk selain betapa Taehyung terlihat begitu menawan. Sangat tidak sehat untuk jantungnya yang malang.
“Ini benda apa?” tanya sang senior dengan antusias. “Bagaimana dia bekerja?”
Jeongguk berdeham, dalam diam berusaha menenangkan diri.
“Ini game konsol, untuk bermain game.” Ya, jelas, lah. Jeongguk merutuki dirinya sendiri yang bodoh dan tidak pandai merangkai kata. “Aku punya beberapa game di dalamnya, kau mau coba?”
“Boleh?”
“Tentu.” Jeongguk mengambil kembali Switch-nya dan terkekeh melihat Taehyung bertepuk tangan dengan senang. Sang Hufflepuff berambut kokoa itu kemudian beranjak dan berpindah duduk ke samping Jeongguk. “Game apa yang paling mudah?”
“Zelda sepertinya terlalu sulit. Pokemon? Bagaimana dengan Mario Kart?”
Taehyung mengangkat kedua alisnya, memandang ke dalam mata Jeongguk seperti menunggu sebuah konfirmasi. Namun sampai beberapa saat kemudian, Jeongguk yang terpatung berkedip tak mengerti.
“Bisa sedikit lebih spesifik, Jeongguk?”
“O—oh!” Dengan gugup, Jeongguk berdeham dan mulai menjelaskan, “Mario Kart adalah game balapan dengan karakter dari Super Mario Bros™. Balapan, seperti adu cepat saat pelajaran Dasar-dasar Terbang tapi menggunakan mobil balap, bukan sapu terbang. Begini cara mainnya.”
Taehyung dengan penuh konsentrasi memperhatikan bagaimana Jeongguk memainkan Mario Kart di layar Nintendo Switch miliknya itu dengan lihai. Ia mengangguk setiap kali Jeongguk menambahkan detail-detail tertentu seperti cara menampah poin dan menggunakan booster untuk menambah kecepatan mobil. Jeongguk menyerahkan Switch-nya kembali ke Taehyung dan membiarkan kakak angkatannya itu mengeksplorasi dan bermain game dengannya. Matanya tak pernah pernah lepas dari indahnya profil samping Taehyung yang sedang bermain dengan penuh konsentrasi. Tanpa sadar, sebuah senyuman merekah di bibir sang Gryffindor. Berada di samping Taehyung terasa sangat menyenangkan.
Namun, saat itulah Jeongguk membelalak kaget. Ia baru menyadari bahwa Taehyung baru saja memanggil nama depannya. Ya, bukan nama keluarga, tapi nama depannya.
“Kau tahu namaku?” tanya Jeongguk dengan pelan, hampir menyerupai bisikan. Ia tahu ia bukan murid yang menonjol dan terkenal di Hogwarts. Bahkan, bisa dibilang ia hanya murid dari asrama Gryffindor yang biasa-biasa saja, dengan nilai kumulatif yang biasa-biasa saja, dan keberadaan yang biasa-biasa saja. Ia hanya punya dua orang teman di Hogwarts. Bagaimana bisa murid populer seperti Kim Taehyung mengenalnya?
Taehyung tidak langsung menjawab. Ia tetap menunduk beberapa saat sambil memainkan Mario Kart, menyembunyikan raut wajah di balik poni kokoanya seolah sedang memikirkan sesuatu, membuat jantung Jeongguk seperti ingin melompat keluar dari tenggorokan karena terlalu gugup. Lalu, Taehyung mengadahkan kepalanya dan, seperti déjà vu, kedua mata mereka bertemu dan saling mengunci.
“Tentu saja. Kita sekelas di kelas elektif Ramalan, kan? Kamu juga ada di kelas Profesor Longbottom. Aku sering membantu beliau mencatat presensi,” ujarnya sembari memperlihatkan senyumnya yang berbentuk hati. Saat Jeongguk tidak bereaksi, senyum Taehyung jatuh dan bibirnya mengerut. “Jangan bilang kau tidak tahu siapa namaku.”
Jeongguk yakin saat ini wajah dan telinganya sangat merah padam karena rasa malu yang luar biasa. Panik, dengan keras ia menggelengkan kepala untuk meyakinkan Taehyung bahwa ia tahu namanya. Tentu saja! Bagaimana dia bisa sebodoh ini? Tentu saja Taehyung tahu namanya karena mereka berbagi ruang kelas yang sama dua kali dalam seminggu.
Tidak mungkin tidak, kan?
Tidak ada yang spesial dari itu…
kan?
Setidaknya, setelah insiden memalukan itu, Jeongguk bisa menghabiskan waktu bersama dengan Taehyung hingga mendekati jam malam. Mereka bergantian memainkan Switch, dan Jeongguk menunjukkan artis-artis populer di dunia Muggle melalui iPod miliknya. Setelah beberapa kali mendengarkan musik dari berbagai benua dan berbagi earphone dengan Jeongguk, Taehyung berkata bahwa ia sangat menyukai musik-musik Bigbang. Hal itu membuat Jeongguk merasa sangat bahagia.
Namun, ia merutuki dirinya sendiri karena telah jatuh hati pada Kim Taehyung yang, dilihat dengan teleskop di ruang Astronomi pun, tidak akan mungkin membalas perasaannya.
*-*-*-*-*
Jeongguk tengkurap di atas kasur dan mengerang, membenamkan wajahnya di salah satu bantal milik Yoongi di asrama Slytherin. Namun ia segera melemparkan bantal itu ke lantai setelah tanpa sengaja membayangkan kemungkinan bahwa sang hyung pernah bercumbu dengan Park Jimin di atas bantal yang malang itu. Dengan kesal, ia mengerang lebih keras sembari menyepakkan kakinya ke atas kasur.
“Kalau ingin meratap seperti Erumpent di musim kawin, jangan lakukan di sini! Kau ‘kan punya asramamu sendiri!” pekik Jimin sembari memukuli kaki Jeongguk dengan buku catatan miliknya. “Hyung, dia kenapa, sih?”
Yoongi mengangkat bahu, membenarkan posisi duduknya untuk bersandar pada salah satu tiang di ujung matras bunk bed miliknya.
“Sepertinya akhir-akhir ini dia menjadi lebih sering mengobrol dengan Kim. Tapi bukannya membuat ia senang, sepertinya malah mengganggu kejiwaannya.”
“Haaaahh!”
“Jeongguk!” Jimin menarik bahu Jeongguk untuk membaringkannya.
“Kau tahu? Hari ini aku mengobrol dengan Taehyungie-hyung, di Lorong,” ujar Jeongguk pelan. Matanya yang kosong menatap kosong pada langit-langit bunk bed.
Semenjak pertemuan mereka di Owlery musim dingin lalu, ia dan Taehyung selalu bertukar sapa setiap kali berpapasan, baik di dalam maupun di luar kelas. Tak jarang Taehyung menghampirinya di kelas Herbologi, dan tak jarang pula saat mereka bertemu di lorong utara kastil, mereka akan berhenti untuk mengobrol ringan. Mereka pun sering bertemu di Owlery untuk berbagi waktu bermain Nintendo dan mendengarkan musik-musik Top 40s bersama-sama; sebuah progres yang sangat disyukuri oleh Jeongguk. Hanya saja, sepertinya mengembangkan level pertemanan mereka menjadi sesuatu yang lebih tampak jauh lebih sulit daripada kelihatannya.
“Kami membicarakan tentang Mario Kart, lalu dia bercerita tentang kafe baru di Diagon Alley. Seru sekali. Tapi kemudian teman-temannya datang dan aku sadar mereka semua terlihat keren; Lendeborg? Kapten Quidditch Hufflepuff. Yamada dan Chalamet? Mereka seperti cowok paling tampan di Hogwarts saat ini. Kim Namjoon?! Prefek dan Head Boy Ravenclaw paling keren sepanjang sejarah! Bagaimana aku bisa bersaing dengan mereka?”
Hening.
Lalu, Jimin memecahkan keheningan dengan menghela napas.
“Jeonggukie, kamu tahu kan yang perlu kamu lakukan hanya bicara dengan Taetae?” tanyanya.
Jeongguk diam tak menjawab. Dalam hati, ia merasa iri pada Jimin yang bisa memanggil Taehyung dengan nama kecilnya yang lucu dengan leluasa, hanya karena mereka teman seangkatan.
“Gguk—”
“Tapi aku tidak keren dan tidak tahu cara berbicara dengannya!” ucapnya cepat-cepat. “Aku hanya keturunan Muggle yang suka main game dan menonton anime—”
“Panjangkan saja rambutmu,” potong Yoongi dengan nada acuh tak acuh. Namun matanya yang tajam menatap Jeongguk dengan serius. “Atau masuk tim Quidditch Gryffindor. Bukankah kau dulu suka bermain basket dan taekwondo? Sedikit perubahan mungkin akan memberimu dorongan.”
“Tapi olahraga Muggle tidak memerlukan sapu untuk terbang, Hyung! Aku tidak tahu cara terbang dengan sapu!”
Yoongi mengecap. Ia melipat kedua lengannya di depan dada dan berkata, “Sejak kapan kau seloyo ini, Bocah?” Hening. “Jeongguk yang kutahu sangat kompetitif dan tidak mudah menyerah. Dia akan mencari jalan.” Kembali hening. “Yang penting ‘kan tetap menjadi dirimu sendiri. Kau tidak seburuk yang kau kira, Gguk.”
Dengan bibir yang sedikit dimanyunkan dan perasaan yang campur aduk, Jeongguk kembali berguling dan berbaring tengkurap. Dalam hati ia berharap kasur Yoongi bisa menelannya hidup-hidup.
*-*-*-*-*
“Hobi-Hyung,”
Jung Hoseok, yang sedang duduk di sofa dan mengobrol dengan Rebecca Gomez dan Arata Mackenyu dengan penuh semangat dan berapi-api, sontak menoleh ke belakang. Ia mendapati Jeongguk berdiri tak jauh darinya, dengan kepala yang nyaris menunduk sembari memainkan jemarinya dengan gelisah, dan kedua mata yang hampir tertutup oleh poni. Hoseok segera beranjak dari sofa di ruang rekreasi asrama Gryffindor dan mendekatinya.
“Jeongguk-ah!” sapa Hoseok, tersenyum lebar, dan merentangkan tangan untuk memeluk Jeongguk. Dengan canggung Jeongguk membalas pelukan sang senior. Saat mereka melepas pelukan itu, Hoseok bertanya, “Ada apa? Apakah kau membutuhkan sesuatu?”
“Se—sebenarnya ada yang ingin kutanyakan. Ini tentang Quidditch.”
“Oh!” Entah mengapa, binar di mata Hoseok semakin terlihat terang. “Ada yang bisa kubantu? Kau ingin mengobrol dengan tim yang lain?”
“Tidak,” Jeongguk berdeham gugup. “Hyung saja cukup.”
Kemudian, Hoseok dengan sigap membimbing Jeongguk ke sisi lain ruang rekreasi yang tidak ramai oleh murid-murid Gryffindor yang lain. Mereka duduk di sofa malas yang paralel satu sama lain.
Jeongguk merasa sangat gugup karena tak tahu apakah ia mengambil keputusan yang benar. Ia telah memikirkan hal ini sejak seminggu yang lalu, saat keluar dari asrama Slytherin setelah mendapatkan pep talk dari Yoongi dan Jimin mengenai kisah cintanya yang menyedihkan. Selama seminggu ia mendengarkan Lost Stars setiap malam tanpa jeda seperti orang gila. Ia tak ingin melakukan apa pun tentang perasaannya yang mungkin tak terbalas itu, namun senyum indah Taehyung dan suara manisnya setiap memanggil nama Jeongguk membuatnya sangat risau. Dan, Jeongguk tidak bisa menahan diri untuk tidak membayangkan bagaimana bentuk kehidupannya di masa depan jika ia bisa bersama dengan Taehyung.
Ya, tujuan utamanya menemui kapten Quidditch tim Gryffindor itu, tak lain dan tak bukan, setidaknya, adalah untuk mencoba mengambil hati sang Hufflepuff. Tapi tentu saja Hoseok tidak perlu mengetahui detailnya.
“Bagaimana cara terbang yang baik, Hyung?”
Hoseok menaikkan alisnya, namun senyum hangatnya tidak pudar. “Kau tertarik menggunakan sapu terbang?”
“Ya,” Jeongguk mengangguk. “Sebenarnya, aku ingin ikut tryout untuk perekrutan tim, Hyung. Tapi aku tidak berpengalaman terbang, dan tidak punya sapu.”
“Kau ingin bergabung dengan tim Quidditch??” tanya Hoseok setengah berteriak. Jeongguk tidak mengerti mengapa Hoseok terlihat begitu gembira mendengarnya. “Akhirnya! Tentu saja! Terbang dengan sapu tidak sulit, kok. Aku yakin kau bisa dengan mudah menguasainya, Jeonggukie. Kau sangat potensial! Oh, dan kau bisa menggunakan sapu cadanganku!”
Jeongguk terkekeh. Ia tak dapat mengelak bahwa sedikit pujian dari Hoseok telah menaikkan sedikit percaya dirinya.
*-*-*-*-*
“Aku—aku akan mengikuti tryout sebelum liburan musim semi.”
“Benarkah? Wow!” Taehyung tersenyum dengan sangat lebar hingga kedua matanya membentuk sabit, sembari menepuk tangannya dua kali. “Kamu pasti akan berhasil, Gukkie. Kamu sangat berbakat dalam hal apa pun, sungguh!”
“Hahaha,” Jeongguk tertawa gugup. “Ma—maukah kau datang menonton?”
Mata Taehyung membesar dan berbinar.
Demi Merlin, dia sangat lucu!
“Boleh?”
“Tentu saja!” jawab Jeongguk cepat-cepat. “Ada yang ingin kubicarakan denganmu setelah tryout selesai. Jadi, datanglah ke lapangan Quidditch.”
“Aku pasti datang, Gukkie. Setidaknya untuk menyemangatimu.”
Jeongguk merasa sangat lega mendengarnya.
“Terima kasih, Hyung.”
Jeongguk menggenggam Firebolt seri MMXII yang ia pinjam dari Hoseok di tangan kanannya dengan gugup. Sebentar lagi adalah giliran kelompoknya untuk terbang, namun saat ini, kedua telapak tangannya terasa sangat dingin meskipun suhu udara musim semi telah sedikit menghangat. Ia menoleh ke arah tribun dan melihat Taehyung duduk di sana sembari mengobrol dengan ramah dengan beberapa murid Gryffindor yang datang untuk menonton jalannya tryout. Jeongguk kemudian melihat Taehyung mengangkat tangan dan melambai ke arahnya. Namun sebelum sempat membalas, namanya dipanggil untuk bersiap terbang.
Aturan tryout cukup mudah. Dalam satu batch, delapan orang yang dibagi menjadi dua tim akan beradu untuk menangkap Snitch dan menghindari serangan bukan hanya dua, tapi empat bola Bludger. Setelah batas waktu tertentu atau salah satu dari mereka mendapatkan Snitch, tryout akan berhenti dan dilanjutkan dengan batch yang lain. Posisi dalam tim untuk calon yang lolos seleksi akan diumumkan setelah perundingan antara pelatih dan para pemain senior.
Jung Hoseok meniup peluit, dan, bersama dengan anggota batch-nya yang lain, Jeongguk terbang ke langit dengan sapunya. Meskipun awalnya masih terasa sulit untuk mengontrol sapunya, Jeongguk terbang cukup tinggi hingga kulitnya bisa merasakan hawa dingin di atmosfer, dengan tujuan agar bisa dengan mudah melihat keberadaan bola Snitch. Ia lalu terbang turun berlawanan dengan arah angin dan terus mencari keberadaan sang bola emas dengan penuh konsentrasi.
Hari itu, Jeongguk bertekad untuk menang. Jika ia menang, maka ia akan mengamankan posisi di tim Quidditch Gryffindor.
Lalu, ia akan menyatakan perasaannya pada Taehyung.
Ya, demi Taehyung.
Demi Taehyung, dan demi diriku sendiri.
Saat itulah, bola Snitch tiba-tiba muncul di hadapannya dan membuat matanya juling secara spontan. Tersentak kaget membuat ia kehilangan beberapa momen untuk menangkap bola emas itu. Namun, dengan tekat yang keras, Jeongguk mengejar bola Snitch itu dengan sigap. Sayangnya, beberapa saat kemudian, hampir semua calon anggota yang lain menyadari bahwa ia sedang mengejar bola Snitch. Dan tryout menjadi semakin memanas dan menjadi brutal karena mereka saling berkejaran satu sama lain.
Beberapa calon anggota dengan sengaja menubrukkan dirinya ke arah Jeongguk, membuat Jeongguk oleng dan menjauh dari bola Snitch. Jeongguk berusaha mengejar. Saat bola Snitch terbang ke bawah, Jeongguk, yang menjadi orang pertama menyadarinya, segera menukikkan sapunya dan terbang landai. Ia hampir terkena serangan bola Bludger namun berhasil menghindar, menyebabkan bola besi berwarna biru itu menabrak calon pemain lainnya.
Jeongguk, yang lagi-lagi kehilangan jejak Snitch, menyadari bahwa pemain lain sedang mengejarnya, kemudian terbang dengan gesit ke atas seolah ia sedang memainkan game konsol. Sang bola kembali menghilang dari pandangan dan calon pemain lainnya menyebar mencari. Namun, Jeongguk memiliki indra penglihatan yang cukup tajam. Ia melihat bola emas itu terbang sangat tinggi, dan ia bersikeras mengejarnya dengan tangan yang terus menjulur ke depan. Ia bisa merasakan adrenalinnya meninggi, dan keringat penuh konsentrasi bercucuran dari dahinya.
Sedikit lagi.
Sedikit lagi!
Jeongguk meraih bola Snitch dan mengepalkan tangan.
Namun bola Snitch itu melesat keluar dari celah jemarinya.
Saat itulah ia ditubruk dengan kekuatan penuh oleh salah satu calon pemain gundul yang bertubuh dua kali lebih besar darinya. Ia berusaha menyeimbangkan sapunya, namun, belum sampai ia bisa kembali memegang kendali, ia kembali mendapatkan tubrukan dengan kecepatan yang lebih keras. Kali ini oleh bola Bludger, yang kemudian juga merusak sapu terbang Hoseok berkeping-keping.
Jantung Jeongguk berdetak sangat kencang saat ia menyadari ia jatuh bebas dari ketinggian tiga ratus meter dengan kepala mengarah ke tanah. Ia mendapatkan serangan panik, dadanya terasa sesak, dan napasnya menjadi tak karuan. Ia yakin ia tidak akan selamat karena terjatuh dari ketinggian yang ekstrem, dan tidak ada seorang pun yang sepertinya menyadarinya untuk segera datang menolong.
Di lain sisi, ia ingin selamat, agar ia bisa meminta maaf kepada Taehyung …
Kesadaran Jeongguk semakin memudar saat ia semakin dekat dengan lapisan bumi. Ia tidak tahu bahwa kecelakaannya membuat keributan di bawah sana. Ia tidak tahu bagaimana wajah panik Taehyung saat melihat dirinya terjatuh. Namun ia sempat mendengar sebuah suara serak yang berombak namun familier meneriakkan mantra Aresto Momentum dengan sangat keras sebelum semuanya menghilang dan hanya menyisakan warna hitam pekat.
*-*-*-*-*
Wajah damai Taehyung yang manis adalah pemandangan pertama yang dilihat oleh Jeongguk saat kedua matanya terbuka. Kulit emas sang Hufflepuff memantulkan cahaya perak pucat sang rembulan, dan debu-debu kecil yang menari-nari di atas rambut warna kokoa membuatnya seolah keluar dari film-film Walt Disney. Jeongguk selalu mengetahui bahwa Taehyung memiliki bulu mata yang panjang, namun ia tak pernah melihatnya dari jarak sedekat ini.
Sungguh, saat itu Taehyung terlihat sangat, sangat cantik.
Jeongguk menggerakkan tangannya dan mengelus pipi Taehyung dengan jemari telunjuk.
Apakah aku sudah berada di Surga?
“Gukkie?”
Sontak, Jeongguk menarik kembali tangannya dari wajah Taehyung. Ia memikirkan apakah harus berpura-pura tidur atau tidak, namun semuanya terlambat saat kedua pasang bola mata mereka bertemu.
“Gukkie! Demi Merlin, aku sangat khawatir!” Taehyung beranjak berdiri dan menjatuhkan dirinya ke dada Jeongguk, memeluknya erat. Ia kemudian membantu Jeongguk mengatur tinggi matras agar sang Gryffindor dapat duduk dengan nyaman.
Jeongguk merasa mengalami sedikit disorientasi.
“Tae—aku tidak mati, ya?”
“Hampir!” Taehyung menarik dirinya untuk kembali duduk di kursi di samping matras Jeongguk. Saat itulah Jeongguk sadar bahwa ia sedang berada di rumah sakit Hogwarts di tengah malam. Madam Pomfrey tak terlihat sedang berjaga, dan Taehyung adalah satu-satunya makhluk hidup yang menemaninya di bangsal. Jam malam pasti sudah jauh berlalu, dan Taehyung mungkin telah kabur dari asramanya untuk berada di sini. “Aku sangat khawatir aku rasa aku bisa gila! Jangan jatuh lagi, Gukkie! Berjanjilah padaku!”
Jeongguk terdiam. Ia memandang jari kelingking yang disodorkan oleh Taehyung, namun merenungkan apakah ia harus mengaitkan kelingkingnya atau tidak. Memorinya tentang tryout siang itu dan bagaimana ia hampir menggenggam bola Snitch di tangannya sebelum terjatuh dari ketinggian terus memutar di kepala. Lalu ia mengadah dan menatap mata Taehyung.
“Bagaimana hasilnya?
“Gguk—”
“Bagaimana dengan tryout-nya, Tae?”
Taehyung menghela napas. Melihat raut masam di wajahnya, Jeongguk tahu ia sedang memikirkan hal yang tidak menyenangkan.
“Hobi-hyung mengatakan ia tidak bisa merekrutmu tahun ini. Tapi menurutnya, untuk penerbang pemula, potensimu sangat luar biasa.”
Gagal.
Kedua bahu Jeongguk merosot. Ia memandang ke langit-langit rumah sakit yang berada jauh di atas sana. Alasan ia mengikuti tryout adalah agar ia merasa pantas mengambil hati Taehyung. Kini, saat ia tahu ia gagal, ia merasa seperti kejatuhan reruntuhan langit-langit. Tanpa statusnya sebagai anggota tim Quidditch, ia bukanlah siapa-siapa. Ia hanya seorang Jeongguk kecil yang tidak berarti dan tidak berada di level yang sama dengan Kim Taehyung.
“Gukkie?”
“...”
“Bicaralah.” Kedua tangan Taehyung mengulur dan mendekap tangan kanan Jeongguk, memberinya penentraman hati.
“Aku,” Jeongguk kembali mengalihkan pandangannya ke arah Taehyung, “tidak bisa. Aku sudah gagal.”
“Hei, jangan seperti itu. Masih ada tahun depan untuk mencoba lagi—”
“Kau tidak paham, Taehyung. Aku gagal. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menyatakan perasaanku kalau aku berhasil masuk ke tim tapi aku gagal!”
Jeongguk membelalakkan mata saat menyadari apa yang baru saja ia katakan dari mulutnya. Rasa lelah membuatnya memuntahkan semua kata-kata itu tanpa terfiltrasi, membuatnya merasa mual dan ingin muntah. Taehyung terlihat kaget, dan itu membuat sang Gryffindor semakin tenggelam dalam rasa malu. Ia telah secara sah menghancurkan segalanya.
Namun kemudian, Taehyung beranjak dari kursi dan mendudukkan diri di pinggiran matras. Tak sedetik pun sang Hufflepuff melepaskan tangan Jeongguk dari genggamannya. Jeongguk merasakan pancaran hangat dari genggaman tangan itu ke sekujur tubuhnya—sebuah perasaan yang menyenangkan.
“Kau bilang ada yang ingin kau bicarakan setelah tryout?” Taehyung memandang lurus ke bola mata Jeongguk dengan tatapan yang hangat, dan Jeongguk mengangguk kecil. “Apakah itu ada hubungannya dengan pernyataan perasaanmu?”
“Benar.” Jeongguk kembali mengangguk.
“Ke siapa?”
Hening.
Jeongguk melihat pancaran rona merah menghiasi kedua pipi Taehyung, dan itu cukup memberikan keberanian untuknya untuk melanjutkan apa pun yang tengah terjadi di antara mereka.
“Kamu,” ucapnya lirih. Que sera, sera—apa pun yang terjadi, terjadilah. Tak ada lagi jalan kembali untuk Jeongguk setelah ini. Untuk itu, ia mengatakan apapun yang ada di benaknya saat itu, “Aku suka padamu, Taehyung. Suka sekali. Sudah dari dulu, entah kapan. Mungkin sejak aku melihatmu di Great Hall di tahun keduaku. Atau saat aku melihatmu di kereta. Lalu kita bertemu di kelas. Lalu kita berteman. Kau membuatku merasa paling bahagia saat kita bersama, dan aku berada di ambang ketidakbisaanku menjadi hanya sekedar temanmu. Tapi aku hanyalah murid biasa, tidak sepertimu yang cerah bersinar dan luar biasa dilihat dari sisi mana pun.”
Kembali hening. Taehyung kemudian menarik kedua tangannya dari tangan Jeongguk dan membuat Jeongguk merasa kecewa. Sang Gryffindor mau tak mau menyiapkan diri untuk menerima kenyataan pahit bahwa Taehyung tidak membalas perasaannya. Ia menyiapkan diri untuk menghadapi hal terburul yang mungkin akan dihadapinya—
“Bodoh,” balas Taehyung, sebelum menggeser tubuhnya dan duduk lebih dekat dengan Jeongguk. Suaranya sedikit bergetar, namun tetap terdengar manis. “Kau tidak perlu melakukan hal ekstrem seperti masuk ke tim Quidditch setelah satu bulan latihan terbang atau jatuh dari langit hanya untuk mengatakan kau menyukaiku, Jeongguk. Andai pun kau ingin menjadi bagian dari tim, pastikan karena itu yang memang kau mau. Bukan untukku.”
Jeongguk terdiam.
“Aku juga menyukaimu, kau tahu? Aku selalu memperhatikanmu di kelas Herbologi dan kelas Ramalan.” Senyum manis Taehyung kian merekah. Jeongguk mencoba mencari bintik kebohongan di iris mata Taehyung, namun yang ia temukan hanyalah kemurnian. “Bahkan di luar kelas, aku selalu melihatmu. Kau tidak sebiasa yang kau pikirkan, Jeonggukie. Kau luar biasa.”
Jeongguk tak tahu ia harus bereaksi seperti apa. Ia sedikit menggeser posisi duduknya dan terkekeh penuh kelegaan. Tubuhnya terasa sangat ringan seperti semua beban telah terangkat dari bahu.
“Apakah ini artinya kau mau berkencan denganku?”
“Asal kau berjanji untuk tidak jatuh dari langit lagi.” Taehyung kembali menyodorkan jari kelingkingnya. Namun ia kembali menariknya saat Jeongguk hendak mengaitkan kelingking mereka dan berkata, “Dan janji untuk memintaku menjadi pacarmu setelah semua proses kencan selesai.”
“Aku hanya akan jatuh padamu, Tae.” Keduanya tertawa dan saling mengaitkan jari kelingking. “Aku janji.”
Jeongguk meminta Taehyung untuk tinggal dengannya di rumah sakit karena Mr. Filch bisa saja menemukannya berkeliaran di lorong jika ia bersikeras kembali ke asrama Hufflepuff. Mereka saling berbincang dan berbagi tawa, mendiskusikan benda-benda Muggle apa saja yang mungkin bisa diselundupkan oleh Jeongguk setelah liburan musim panas. Jeongguk berjanji untuk membawakan laptop miliknya dan mengimingi sang Hufflepuff dengan janji untuk menonton Guardians of the Gualaxy bersama-sama.
Malam itu, Jeongguk tertidur dengan Taehyung dalam dekapannya, dan dunia terasa damai.
*-*-*-*-*
“Jadi, apa yang kau lakukan di London selama musim panas menuju tahun ketujuhmu, Taetae?” tanya Shimazaki.
Seperti layaknya murid-murid lain yang meramaikan halaman utara kastil, Taehyung dan kedua teman asramanya duduk di atas pagar beton dan berjemur di bawah sinar matahari terakhir di musim gugur di awal tahun ajaran baru. Taehyung sangat menyukai halaman itu, karena, meskipun sering ramai dipenuhi oleh murid-murid Hogwarts yang lain, entah mengapa tempat itu selalu terasa menyenangkan untuknya.
“Tidak banyak. Hanya pergi menonton beberapa film Marvel di bioskop dan mencoba kuliner Muggle dari beberapa penjuru dunia di festival kuliner saja,” jawabnya dengan nada riang dan senyum berbentuk hati yang mengembang di wajah. Terlahir di keluarga darah murni, ia tak pernah berhubungan langsung dengan dunia Muggle sejak ia dilahirkan. Namun, sejak mengenal Jeongguk, kedua matanya perlahan terbuka, dan ia sangat menikmatinya.
“Kau coba jajanan pasar dari Jepang, tidak?”
“Ya! Aku sangat suka taiyaki rasa kacang merah!” Taehyung terkekeh.
“Bagaimana dengan orang tua Jeon? Apakah mereka baik padamu? Kudengar mereka membuka restoran Barbeque khas Korea di Soho?” Kini giliran Chalamet yang bertanya.
Taehyung terkekeh mendengar petanyaan itu. Tentu, keluarga Jeon, meskipun seperti sebuah keluarga Muggle pada umumnya, sangat ramah terhadapnya. Restoran Barbeque milik mereka cukup ramai diminati dan menjadi salah satu tujuan utama orang-orang yang datang ke Soho, dan Taehyung telah beberapa kali mampir untuk menikmati hidangan khas Korea yang terasa seperti rumah. Ia bahkan bisa dengan mudah menjalin hubungan erat dengan Mrs. Jeon lewat hobi mereka berkebun (rumah Jeongguk adalah sebuah flat namun mereka memiliki halaman kecil yang manis dan penuh bunga di atap). Di sisi lain, Taehyung sangat mengingat betapa Jeongguk sangat mensucikan seluruh koleksi boneka-boneka figur di kamarnya, terutama figur Iron Man yang sama tinggi dengan tongkat sihirnya, dan figur mini karakter utama My Hero Academia.
Saat itulah Taehyung mendengar bisikan-bisikan di balik punggungnya.
“Kau lihat senior Jeon, kan?”
“Demi Merlin, dia sangat tampan!”
“Aku melihat performanya di final pertandingan Quidditch musim lalu! Dia mendapatkan Snitch hanya tiga puluh menit setelah pertandingan dimulai! Dia sangat keren!”
“Andai saja dia sedang tidak punya pacar, aku ingin mendekatinya, sungguh.”
“Tapi pacarnya sudah tahun ketujuh, kan? Itu artinya—”
Taehyung menghela napas panjang. Setiap kali mendengarkan pembicaraan mengenai Jeongguk, ia merasakan kepercayaan dirinya sedikit menurun. Tentu, ia dan Jeongguk tidak sedikit pun menutupi hubungan asmara yang telah mereka jalin selama lebih dari dua tahun terakhir. Namun, hal itu tidak menjamin bahwa semua murid di Hogwarts mengetahui perihal keduanya, atau bahkan percaya bahwa mereka berpacaran sama sekali (beberapa percaya hubungan keduanya hanya isapan jempol belaka, terutama sejak Jeongguk mencapai masa pubertasnya). Kini, ketika ia menginjakkan kaki di tahun ketujuh dan Jeongguk sedang dalam puncak kejayaannya sebagai murid emas tahun keenam di Hogwarts, Taehyung tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya pada dirinya sendiri apakah Jeongguk akan tetap bersamanya sampai ia lulus nanti dan seterusnya.
Tapi Jeongguk sudah berjanji padamu, kan?
Ya, selama ini Jeongguk tidak pernah mengingkari janjinya.
Kedua murid perempuan yang sedari tadi membicarakan Jeongguk itu memasuki halaman dan mendudukkan diri di bawah pohon. Mereka wanita-wanita Kaukasian yang sangat cantik dan jauh lebih muda daripada Taehyung. Saat keduanya tengah sibuk berbisik setelah melongo melihat keberadaan Taehyung di sana, saat itu pulalah, entah atas dasar apa atau kebetulan macam apa, Jeongguk berjalan memasuki halaman utara dari pintu pagar arah sebaliknya dan membuat keadaan mendadak hening.
Jeon Jeongguk, dengan dasi merah-emas dan rambut arang pekatnya yang panjang dan berkilauan yang dibelah tengah dan sedikit berombak. Jeon Jeongguk, dengan sosoknya yang tinggi dan tegap, berbahu bidang, dan lengan yang berotot, berjalan dengan gagah dan penuh percaya diri memasuki halaman kastil utara. Jeon Jeongguk, yang hanya menoleh sesaat dan tersenyum ketika murid-murid lain mencoba menarik atensinya, namun tak menggubris saat mereka mengejarnya. Jeon Jeongguk, dengan kedua bola mata yang hanya tertuju ke arah di mana Kim Taehyung berada seolah hanya ada Taehyung di sana.
Benar, ia sungguh sangat tampan.
Wajah Taehyung dibuat merona oleh pikirannya sendiri.
“Baby!” Dengan suara yang lebih berat jika dibandingkan dengan dirinya dua tahun lalu, Jeongguk menghampiri Taehyung dengan tangan terbuka.
Sambil tertawa kecil, Taehyung beranjak berdiri untuk menyambut kehadiran kekasihnya itu. Kini, mereka berdiri sama tinggi, dan Taehyung bisa dengan mudah memandang lurus ke mata gelap Jeongguk yang jujur dan berkilauan. Namun, ia tetap tidak mempersiapkan diri saat tiba-tiba Jeongguk mendorong tubuhnya ke depan, mengunci sang Hufflepuff dalam dekapan, dan mempertemukan bibir mereka dengan sedikit tenaga.
Meskipun demikian, Taehyung tetap tersenyum dan membalas ciuman manis Jeongguk, sembari melingkarkan lengannya di leher sang Seeker Gryffindor untuk menyeimbangkan diri dan menghapuskan jarak imajiner di antara mereka. Biarlah semua orang melihat afeksi publik yang diberikan Jeongguk padanya, karena Jeongguk terlihat sangat menikatinya.
Setidaknya, hal itu juga berhasil mengembalikan kepercayaan diri Taehyung ke permukaan.
“Kau sudah makan? Mau makan?” tanya Jeongguk setengah berbisik, sembari sedikit menarik kepalanya ke belakang, namun tak pernah melepaskan kedua lengannya dari pinggang Taehyung.
Taehyung menggeleng.
“Mau makan sekarang? Kau bawa Elizabeth?”
“Kau bawa Henry?”
“Yep.”
“Mario Kart setelah makan siang?”
“Kau pasti kalah, Jeon.”
“Mau bertaruh untuk bokongmu yang bulat, lucu, dan menggemaskan ini?” dengan nada rendah, Jeongguk berbisik, memperlihatkan seringainya yang licik namun menggoda.
“Jeonggukie!” protes Taehyung, sembari memukul dada Jeongguk dengan cukup bertenaga—meski sia-sia, karena tubuh Jeongguk kini telah berubah menjadi sekeras batu.
Meskipun sedikit kesal dengan innuendo yang muncul tiba-tiba itu, Taehyung tetap merasa sangat bahagia. Ia tertawa saat Jeongguk mengecup pipinya dengan basah dan mengaitkan jemari mereka, lalu menuntunnya ke arah Great Hall. Dari kesetiaan dan rasa cinta yang dalam yang tanpa henti selalu ditunjukkan oleh Jeongguk padanya bahkan sebelum mereka bersama, Taehyung merasa optimis bahwa Jeongguk adalah angsa di dalam cangkir teh yang diramalkan Profesor Trelawney beberapa tahun yang lalu.
SELESAI
