Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-01-20
Words:
590
Chapters:
1/1
Kudos:
22
Hits:
464

again.

Summary:

Sudah berapa lama ia terjebak di sini sampai kehampaan dari Abyss merupakan gaung yang familiar baginya?

Entah. Diluc tidak tahu.

Notes:

Aku perlu tambahan konten angst Luckae berbahasa Indonesia jadi aku ngetik sendiri. Aku sayang mereka berdua karena mereka menang juara satu ship yang angst-nya berpotensial paling pedih menurutku. Anyway, read on your own risk and enjoy.

Work Text:

Lagi-lagi ia mati.

Netra rubi yang kian menggelap samar melihat kekosongan kala tubuh bagian atasnya jatuh setelah terlempar jauh ke belakang.

Pengelihatannya memburam, sebelum kembali yang dilihatnya hanya kegelapan.

Sungguh, kematian hanya bagian dari kesehariannya sekarang.

Ketika ia membuka matanya lagi, ia dihadapkan dengan suasana yang sudah ditinggalkannya. Kedai Angel's Share yang hangat, berbanding terbalik dengan dinginnya Abyss yang selalu terasa mencekam.

Ia mendengar tawa dari pengunjung yang minum bersama, mendengar lantunan lira familiar yang dimainkan seorang penyair yang pakaiannya bernada hijau.

Dirinya menoleh, tatap sewarna senja miliknya jatuh ke sesosok berambut langit malam yang tengah duduk di bar, bercakap dengan wanita yang berprofesi sebagai penjaga perpustakaan Mondstadt.

Ia kelihatan lelah, dengan kantung mata gelap dan bahunya yang merosot - sungguh berbeda dengan Kapten Ksatria Favonius yang berada di ingatannya.

Dirinya ingin menggapai, ingin sekali barangkali hanya menanyakan kabar dan berbincang.

Namun ia tau tidak akan sampai. Ia tau dirinya tidak nyata, tau bahwa kesempatan melihat yang terjadi di tempat yang sudah ia tinggalkan hanya berupa pengingat semata.

Pengingat alasannya setelah ini harus berjalan lagi, harus tetap hidup kemudian kembali mati. 

Ujiannya belum selesai, entah sampai kapan ia harus menapak menuju ketidaktentuan.

"Apa kau sudah mendapat kabar tentangnya?"

Sebuah pertanyaan bernada khawatir diutarakan sang penjaga perpustakaan.

"Tidak." Sebuah senyum kecut, perangai kehilangan di wajah sang Kapten membuat jantungnya yang seharusnya tidak lagi berdetak terasa dicabik-cabik. "Tidak ada kabar ia dimana, seperti keberadaan Tuan Diluc mengilang begitu saja. Aku yakin ini berbeda dari ketika ia tiba-tiba pergi setelah kepergian ayahnya."

Diluc Ragnvindr - apa nama itu masih memiliki arti baginya?

Tidak, sepertinya. Ia hanya hadir sebagai seonggok tubuh dari jiwa 'Diluc Ragnvindr' yang sudah lama mati kala dulu ia menukar dirinya demi bintangnya, hanya hidup demi mempertahankan sumpahnya.

Roh bersurai merah itu mengedarkan pandang, mengerjap kala tatapnya bertemu sepasang lentera berwarna toska yang menatap lurus ke arahnya seakan bisa melihatnya.

Diluc tidak kaget kalau sang mantan Archon benar-benar bisa melihatnya, kalau ia mengartikan dengan benar tatap sendu sang penguasa angin.

Ia tahu.

Hanya dewanya, Barbatos - Venti? - yang tahu ia dimana sekarang, yang tau apa yang sebenarnya terjadi padanya.

Diluc berterima kasih kepada sang penyair karena ia tutup mulut.

Ia merasa dirinya ditarik, dan tahu sudah waktunya ia kembali lagi. Mengangguk singkat kepada satu-satunya orang yang bisa melihatnya, Diluc kembali lagi terjatuh - tersungkur dalam kegelapan tiada akhir.

Ketika ia membuka matanya sekali lagi, yang ia lihat hanya tanah berwarna putih keperakan di bawahnya dan ruang hampa di hadapannya.

Ia dalam posisi duduk, menatap ke arah monster raksasa yang tadinya membunuhnya - monster yang entah bagaimana ceritanya berhasil ia buat cacat.

Sepasang mata kucing berwarna magenta menatapnya seakan justru dirinyalah yang monster di antara mereka.

Tidak salah, tidak benar juga.

Sudah berapa lama ia terjebak di sini sampai kehampaan dari Abyss merupakan gaung yang familiar baginya?

Entah. Diluc tidak tahu. Ia berdiri, kakinya yang tanpa alas menapak lagi ke permukaan yang dinginnya menusuk di bawahnya.

Ia memanggil pedangnya, seonggok Claymore berkarat yang sudah menemaninya sampai sejauh ini. Berat, benar-benar tidak berguna, tapi satu-satunya yang ia punya.

Berapa kali lagi ia harus mati melawan yang satu ini, ya?

Entahlah, Diluc tidak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah Kaeya yang hidup, Kaeya yang masih bisa tersenyum dan tertawa lagi, dan Kaeya yang tidak berdiri di gerbang kematian dalam pelukannya.

Diluc sadar ia kini hidup dalam mimpi terburuk manusia, namun ia tidak peduli.

Tidak masalah dirinya harus mati, hidup lagi untuk bertarung, kemudian mati lagi berkali-kali asalkan mimpi buruknya tidak terjadi lagi.

Asalkan Kaeya yang berlumur darah dengan dada kiri yang berlubang tidak tersenyum kepadanya lagi untuk mengucapkan terima kasih.