Work Text:
Petang hari jatuh pada langit Tokyo, meredupkan awan dan menurunkan bintang. Anak-anak sekolah yang menghadiri klub bergegas pulang, pun para karyawan kantor mulai mengepak barang. Ramai jalanan dengan kaki yang berderap-derap, menuju peristirahatan malam ini. Menunggu hari sibuk lainnya.
Tidak terkecuali lelaki berwajah sangar yang tanpa disangka masuk ke dalam jajaran karyawan teladan itu.
Pukul tujuh, ia akhirnya tiba di depan pintu apartemennya. Binar marun melirik-lirik pintu sebelah. Jemarinya yang berkuteks hitam menekan-nekan sandi kunci masuk. Lalu, hal pertama yang ia jumpai adalah riuh televisi dan kaki jenjang yang terkulai menggantung dari lengan sofa. Ia mengusap wajah, bukannya menjeritkan maling atau penyusup. Lagi.
Sosok yang menjadi biang kejadian dengan santai menggulir-gulir jemari, menyimak sosial media dan mengabaikan media kotak bersuara di seberang sofa. Ia abai pula mengenai kakinya yang dijajakan dengan bebas setelah melewati batas celana karet pendek warna hitam, dan juga perutnya yang terbentuk matang dielus dan ditepuk-tepuk, menyibak jaket kuning yang dikenakan. Matanya bergerak dari layar ponsel, lalu bertanya seolah ia yang punya rumah, “sudah pulang?”
Kejengkelan mengaliri darah.
Pegawai kantoran itu duduk tepat di atas perut sang pemuda yang terbuka, berlanjut suara rintihan kasar dan umpatan kebun binatang. Ia cuek. “Lagi, kau kira ini rumahmu? Seenaknya keluar masuk macam nggak berdosa.”
“Aduh, aduh, sesama tetangga harus saling berkunjung, kan?”
“Ini bukan berkunjung, ini namanya maling, bocah.”
Ia berdiri begitu merasakan perut yang di bawahnya bergerak-gerak, tertawa. Bocah kuliahan bernama Itadori Yuuji itu akhirnya meluruskan duduk, diikuti yang memiliki rumah juga duduk di sampingnya. “Sukuna, jangan galak-galak, nanti nggak ada yang mau denganmu.”
“Bicaranya seperti yang punya pacar saja.”
“Jadi kamu nggak mau dianggap?”
Sukuna memutar mata, “harusnya aku yang bilang, kau yang nggak menganggapku pacar dan terus main-main dengan orang-orang kampusmu itu.”
“Hehe, habisnya nggak mungkin aku nolak ditraktir makanan mahal sama dosen kondang.”
Detik berikutnya, Yuuji nyaris mati dibekap dengan bantal sofa.
Keduanya saling tindih. Sukuna yang berada di atas mengurungnya dan mengendus-endus tengkuknya, yang dibalas jambakan kuat pada rambutnya yang dipakaikan pomade. Yuuji mengerang sebal, kaki-kakinya menendang punggung Sukuna yang begitu kokoh. Padahal tinggi dan berat badan mereka hampir sama dengan Sukuna yang menjulang lebih tinggi hanya beberapa centi, mengapa perbandingannya begitu berbeda?
“Stop—stop, baumu kayak om-om! Mandi sana!” Yuuji mendorongnya sekuat tenaga, tak ada hasil.
“Loh, aku memang om-om tuh?”
“Argh! Jijik banget, lepas!”
Sukuna tergelak lebar-lebar. Ia bangkit usai memberi satu kecupan singkat pada bibir Yuuji yang manyun, mengusak-usak rambut pendeknya selagi anak itu menendangi pinggang Sukuna. Satu kesadaran merasuk dalam otaknya begitu ia menjilat bibir yang terasa agak aneh. “Kok manis?”
Ia menoleh, Yuuji telah duduk bersila, mengusap bekas kecupan Sukuna yang kurangajar. “Temanku memakaikan lip gloss, atau lip tint, atau apalah. Sepertinya lupa kuhapus.”
“Oh.”
Lelaki itu beranjak mendekat lagi, memberi ciuman yang kedua.
“Apa sih, mesum!” Yuuji melotot dan mendorongnya kuat-kuat, dibalas tertawaan yang begitu nyaring, mengalahkan volume suara televisi. “Nggak lucu! Cepat mandi!”
“Ya, ya. Aku lapar, masakkan sesuatu.”
Sukuna berdiri dari duduknya, ia meregangkan tubuh untuk beberapa saat. Iris merah menyala miliknya melirik kepada Yuuji yang sudah kembali sibuk dengan ponsel.
Ia menundukkan badan.
Cup!
“SUKUNA ORANG GILA!”
***
Kaki-kaki terbalut celana pendek dan masih terlihat lembab itu berjalan keluar dari kamar mandi. Sukuna mengusap rambutnya yang berair dengan sebuah handuk putih; kemudian ia menangkap punggung yang ditutupi fabrik kuning dalam pandangnya. Ia tersenyum tipis, melangkah perlahan-lahan menghampiri. Belum sampai kepada tujuan, pemuda tersebut telah duluan menusuknya dengan lirikan tajam.
“Nggak usah macam-macam.” sentak Yuuji, merasakan kehadiran lelaki tersebut di belakang tubuhnya. Tangan sibuk meracik bumbu, apron merah muda terikat di tubuh.
Sukuna mendengus, merengkuh tubuhnya dari belakang. Ia meletakkan dagu di atas bahu Yuuji yang cukup lebar, “masak apa?”
“Mau aku masak apapun, memangnya kamu boleh protes?”
“Cih.”
Yuuji memutar mata dengan malas. Kemudian ia mengaduk sup panas di dalam panci, sepenuhnya mengabaikan Sukuna yang asyik bermain dengan kantong depan apronnya, seperti anak kecil.
Sukuna bersiul pendek, lalu ia menangkup pipi Yuuji dan kembali mengecup bibirnya.
Perempatan imajiner muncul.
BLETAK!
“Wah, gila! Bocah ini benaran memukulku pakai sendok sayur?!” serunya tidak terima. Sukuna melepas rengkuhannya dan berjalan mundur beberapa langkah, mengaduh sakit kepala.
“Dan setelah ini aku akan memukulmu dengan wajan! Pakai bajumu dan duduk dengan tenang!”
Ia mendengus keras-keras, setelah itu kembali mengaduk sup dengan perasaan dongkol. Yuuji melirik Sukuna yang menggerutu di sepanjang jalannya menuju kamar, akan mengambil piyama. Satu helaan napas melewati bibirnya.
Dasar bayi besar!
***
Sesi makan malam berlangsung dengan damai, minus kejadian nyaris saling lempar piring begitu Sukuna secara tiba-tiba membicarakan hal porno di atas meja makan.
Yuuji gatal ingin menggosok mulut lelaki besar itu dengan sikat kloset.
Lalu kini, di sinilah mereka, duduk berdua di atas sofa dan menonton drama anak muda di televisi. Sesekali terdengar gelak kecil atau perbincangan singkat. Sukuna memegang sekaleng bir di tangan kirinya, sedang yang kanan dibiarkan untuk menjadi sandaran surai merah jambu Yuuji. Hari semakin larut.
Sukuna menelan satu tegukan alkohol yang terakhir, sebelum melempar kaleng kosong ke dalam tempat sampah di ujung ruangan. Sudut matanya menangkap raut wajah Yuuji yang berseri karena lelucon di televisi, tanpa sadar membuatnya ikut melengkung senyum tipis. Ia mendekatkan wajahnya.
Satu alis terangkat begitu Yuuji menyadari wajah mereka yang begitu dekat, “apa lagi?”
“Cium aku.”
“… nggak mau.”
“Bocah ini benar-benar—“
Sukuna mendorongnya hingga jatuh rebah di atas sofa, ia menatap manik cokelat muda milik Yuuji dalam-dalam sebelum membawanya ke dalam ciuman yang kesekian kali pada hari ini. Pemuda itu tidak menolak, untuk kali ini. Kedua tangannya memegangi sisi-sisi wajah Sukuna dan matanya terpejam. Ia dapat merasakan jemari kasar mengusap pipi kanannya, kemudian berlanjut menjadi tangan yang memiringkan wajahnya agar lebih nyaman.
Beberapa saat kemudian, adegan tersebut terhenti. Keduanya saling menatap.
“Kenapa kau manja sekali hari ini?” Yuuji menyisir helai rambut Sukuna seiring tengkuknya diendus dan dikecupi. Ia hanya diam dan menggumam pelan.
“Serius, kalau kau tidak jawab, aku pukul kepalamu.”
“Bibirmu cantik.”
Pemuda itu terdiam.
Bibir?
“Ah, itu ya!” Yuuji berseru tiba-tiba, ia terkekeh, “karena kosmetik itu ternyata, haha. Ada-ada saja.”
Sukuna mengangkat kepalanya, sejajar di atas Yuuji. Keduanya saling pandang dengan suasana yang berbeda. Tangan-tangan besarnya membentuk sebuah kurungan di kiri dan kanan wajah Yuuji yang berada di bawahnya.
Oh.
Oh.
Yuuji meneguk ludahnya dengan gugup.
“Separuhnya.” Sukuna kembali bermain dengan lehernya, kali ini memberikan gigitan-gigitan kecil.
“S-separuhnya lagi … apa?”
Lelaki tersebut merekah senyum yang paling tidak ingin dilihat oleh Yuuji. Ia berbisik dengan nada rendah, bersamaan dengan tangannya yang perlahan bergerak kepada bagian-bagian tubuh di balik jaket kuning Yuuji yang membuatnya tampak seperti anak ayam.
“Menurutmu?”
******
“Itadori!”
Tangan dilambaikan, memberi isyarat mendekat. Yuuji berlari dengan sedikit tergopoh menghampiri dua kawannya yang telah berdiri di gerbang kampus, baru saja menyelesaikan kelasnya. “Maaf agak lama!”
Gadis berhelai coklat pendek di hadapannya berkacak pinggang, meneliti. Keduanya matanya menyipit mematai wajah Yuuji yang balas menatapnya dengan pandangan heran, diikuti kawannya yang satu lagi ikut memberi pandangan aneh terhadap sang gadis.
“Hm, aku kira hari ini kau bakal pakai.” Nobara mencebik, “belum beli ya? Sekalian saja aku ikut nanti.”
“Hah? Pakai apa?”
Alis gadis itu terangkat begitu mendengar nada pertanyaan yang seolah-olah merasa asing tentang topik kali ini, “semalam kau chat aku menanyakan merek kosmetik bibir yang bagus kan?”
“Eh?”
“Eh? Kok malah ‘eh’?”
Yuuji mengerutkan dahinya, mengingat kejadian-kejadian semalam. Ia merogoh kantong celana dan menemuka benda elektronik berbentuk persegi panjang itu, menghidupkannya dan membuka aplikasi chatting. Jemarinya menggulir hingga tiba pada ruang obrolannya dengan Nobara yang sudah agak tertimbun sebab pesan-pesan dari orang lain pada hari ini.
Ia mengernyit, membaca waktu pengiriman pesan terakhir dengan saksama.
“Jam segini aku sudah tid—“
Sebuah nama melintas.
“Astaga!” Yuuji berseru lumayan kencang,menyebabkan kedua kawannya terkejut. “Ah—hari ini aku tidak ikut minum dulu ya, dah Kugisaki, dah Fushiguro!”
Ia berlari keluar dari area kampus menuju apartemennya yang untung saja tidak terlalu jauh. Sumpah serapah keluar beberapa kali dari mulutnya. Begitu sampai pada lantai tiga, Yuuji segera memasukkan sandi dan menemui kakeknya yang sedang memakai sandal dengan peralatan pancing di kedua tangan, “sudah pulang? Kukira kau mau minum-minum.”
“Tidak, tidak jadi.” Yuuji melepas sepatu merahnya dengan tergesa, “apa tadi ada paket mencurigakan?”
“Paket?” Kakek Itadori mendengung pelan sebelum menjawab, “ah, ya. Tadi Sukuna datang saat jam makan siang kantornya sambil membawa kardus kecil. Katanya untukmu.”
Sialan.
“Di mana kardus itu?”
“Aku letakkan di atas kasurmu.”
Kakinya berderap, melesat menuju kamar tidur. Yuuji menghidupkan lampu, lalu berdiri di hadapan kotak hadiah misterius yang tergeletak di atas tempat tidurnya itu. Ia menghelakan napas. Tepat sebelum tangannya terulur untuk membuka, ponselnya mengeluarkan notifikasi.
Sukuna.
Aku tidak tahu mana yang bagus, jadi kubeli semua. Pakai satu sebelum mengunjungiku nanti sore.
Yuuji menepuk dahi, bibirnya menyampirkan senyum kesal.
Benar-benar!
“SUKUNAAAAAA!”
