Actions

Work Header

Bloom

Summary:

Enam setengah tahun yang lalu, Sukuna tiba di Tokyo.
Enam setengah tahun yang lalu, musim semi datang menghampirinya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

Enam setengah tahun yang lalu, Sukuna untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di kota Tokyo.

Merantau dari pinggiran menuju ibukota demi memenuhi panggilan kerja, ia memilih apartemen terdekat dari kantor barunya. Sukuna tidak ingin ambil pusing apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang dapat menghambat datang ke tempat kerja. Maka, meskipun harus membayar biaya sewa yang sedikit lebih mahal dari kamar apartemen biasa karena terletak di pusat kota, ia mengambilnya begitu saja tanpa ragu sedetik pun.

Kepercayaan diri bahwa ia akan cepat naik jabatan benar-benar tinggi. Untung saja kemampuannya memang mumpuni.

Hari itu merupakan salah satu dari hari-hari pertama di musim semi.

Sukuna baru saja tiba di Tokyo dan mendapat kunci apartemen. Ia segera berberes-beres, tak ingin merasakan lelah yang berarti untuk sehari sebelum masuk kerja. Seharian ia berkeliaran dari sudut ke sudut menata barang-barangnya. Beberapa kali ia melirik pintu tetangga sebelah ketika membantu jasa pindahan membawa kardus-kardus. Tampak begitu sunyi dan sama sekali tak ada yang keluar ataupun masuk.

Ia sempat mendapat informasi bahwa yang tinggal di sebelahnya hanyalah seorang kakek tua. Diam-diam hal itu membuatnya agak senang; setidaknya akan lebih baik daripada diisi keluarga atau nenek-nenek bawel karena Sukuna teramat benci suara bising.

Tapi kenapa seorang kakek mau tinggal di pusat ibukota yang ramai begini?

Dua hari berlalu, tanpa terasa nanti malam sudah akan memasuki hari Senin.

Seisi rumah sudah rapi karena barang yang ia miliki tidak pula begitu banyak. Sukuna membuka pintu menuju balkonnya, kemudian ia memantik api dan menghidupkan sebatang rokok. Siku bertumpu pada besi pagar balkon sembari dirinya memandangi taman kecil di bawah sana, ia mulai mengamati lingkungan sekitar.

Terdengar suara pintu geser dibuka.

Iris marunnya melirik sedikit, mengira bahwa yang akan keluar adalah kakek tua dengan nampan teh dan bau obat-obatan tradisional.

Sayang sekali.

Yang menyambutnya malah seorang bocah berkepala merah jambu dengan sekeranjang cucian di tangan kiri.

Anak tersebut turut pula menyadari keberadaannya dan menoleh menghadap Sukuna. Marun dan hazel mereka saling bertemu, lalu terjadi kecanggungan yang tak dapat dielakkan.

Sukuna kemudian berpura-pura tidak tahu dan kembali mematai halaman di bawah.

Sialan; batinnya menggerutu, aku sudah ditipu, apanya yang kakek-kakek?

Akan lebih baik jika ia tidak berurusan dengan siapapun di kota ini kecuali dengan kolega atau bosnya. Sukuna hanya ingin mencari uang dengan tenang, tidak ingin repot menjalin hubungan-hubungan yang tak penting dan mengumbar empati-empati busuk dengan dalih kasih sayang dalam bertetangga. Tetapi usai bertukar pandang dengan anak tadi, entah kenapa firasat buruk merasuk ke dalam dirinya.

“Paman tetangga baru kami ya?”

Betul ‘kan.

Mendengar suaranya saja sudah membuat jengkel. Rusak sudah angan-angan yang lalu.

Sukuna acuh tak acuh. Ia mengisap asap rokok dalam-dalam, mengabaikan sepenuh hati. Lalu terdengar suara langkah kaki mendekati sisi balkonnya.

“Paman! Salam kenal ya, aku Itadori Yuuji!”

Bocah yang tidak peka. Serius. Apa tato-tato yang tercetak di tangan Sukuna yang mengenakan kaos lengan pendek itu tidak terlihat menyeramkan?

“Halooo—paman namanya siapa?”

Paman, ia bahkan belum seperempat abad.

“Paman!”

“Berisik—“

Begitu Sukuna menolehkan kepala dan hendak menyemprot dengan makian, ia menemukan Yuuji yang berjinjit di atas besi pagar balkonnya yang bersisian dengan Sukuna. Tangan bertumpu pada besi yang berada di atas dan kaki menginjak bagian bawah. Kedua matanya berbinar, besar dan silau.

Sekilas Sukuna merasakan kaget.

“Nama paman, siapa?”

Apa-apaan bocah ini?!

Sukuna mengeluarkan decakan malas. Ia mematikan ujung rokok yang masih tersisa separuh di besi balkon, kemudian dilempar sekenanya kepada tempat sampah di dekat pintu. Yuuji yang tidak menyerah terus menghujani Sukuna dengan sahut-sahutan pertanyaan mengenai namanya, tetapi ia tidak peduli dan mulai berbalik arah, berjalan menuju pintu.

“Pa-ma-n!” Yuuji membuat toa dengan kedua tangan yang membentuk huruf ‘o’ di depan mulut. “Jawab aku dong!”

Jika ini anime atau manga, mungkin kepala Sukuna sudah dipenuhi perempatan urat.

“Paman!”

“Sukuna!”

BRAK!

Pintu geser menuju balkon ditutup dengan kasar. Lelaki tersebut menghelakan napas penat dan menyandarkan punggung pada pintu kaca tersebut. Suara Yuuji terdengar sayup-sayup (tetapi ia tahu kalau anak itu mengucapkan ‘salam kenal, Sukuna-san!’ atau sejenisnya). Lalu hening. Mungkin Yuuji telah sibuk menjemur baju.

Sial.

Keceplosan.

Seratus persen, adalah persentase kemungkinan bahwa hidupnya di Tokyo tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.

 

***

 

“Sukuna-san, selamat malam!”

Aduh.

Pukul setengah delapan petang, Sukuna sedang turun ke bawah untuk membuang sampah. Tidak disangka bocah merah jambu itu akan menghampirinya dengan seragam sekolah yang masih lengkap dan juga masih menyandang tas ransel isi buku-buku pelajaran. Dan meskipun Sukuna tidak berbalik badan, ia tahu persis bahwa Yuuji sedang nyengir lebar di belakang sana. “Akhirnya aku bertemu lagi dengan Sukuna-san.”

Tentu saja, Sukuna memutar kedua mata, ia sengaja berangkat kerja lebih pagi dan pulang tepat waktu agar tidak berpapasan dengan Yuuji. Sekarang, kenapa anak itu malah baru pulang sekolah selarut ini?

“Sukuna-san nggak penasaran kenapa aku masih pakai seragam?”

Lelaki itu berjalan cepat-cepat meninggalkan tempat sampah. Ia masuk ke dalam gedung apartemen, diikuti Yuuji yang mengekori seperti anak anjing. Kaki-kakinya membuat langkah-langkah yang lebar hingga tiba di depan pintu kamarnya.

“Aku baru pulang dari kerja kelompok lho, Sukuna-san.”

Ya terus?!

“Sukuna—“

Kesabarannya mulai terkikis.

“Kau,” ia berdeham sekali, merasa agak enggan, “kelas berapa?”

Untuk pertama kalinya Yuuji terdiam. Tampak sedikit terkejut karena Sukuna akhirnya melontar pertanyaan.

“Aku?” Yuuji menunjuk dirinya sendiri, wajahnya tampak cerah, kepalanya sedikit menengadah untuk menemui marun milik Sukuna. Perbedaan tinggi mereka terlihat sangat jelas. “Aku kelas dua SMP!”

Sukuna memasukkan sandi kunci apartemennya dengan cepat, bergumam sebagai jawaban dan mengabaikan Yuuji yang masih terdiam memerhatikannya. Ternyata benar, ia hanya mengira-ngira apakah bocah itu akan puas jika akhirnya Sukuna menunjukkan sedikit ketertarikan. Tahu begitu dari awal saja ia lakukan ini.

Ia baru saja akan menutup pintu sebelum mendengar sebaris kalimat tidak terduga dari Yuuji.

“Ke depannya kita bertetangga dengan baik ya, Sukuna-san!”

Kemudian terdengar langkah kaki menjauh.

Sukuna mendengus. Pintu telah terkunci.

Tetangga, ya.

 

***

 

Masih di musim yang sama, pada suatu pagi di hari Minggu seseorang membunyikan belnya.

Sukuna awalnya menolak untuk menanggapi, karena telah menebak siapa yang berada di depan pintu. Namun setelah lima menit berselang, suara ‘ding-dong’ yang timbul dari bel sama sekali tidak memiliki niatan untuk pudar dan menghilang.

Langkahnya berdebum, tubuh masih mengenakan piyama tidur. Seandainya ini bukan suatu hal yang penting, ia bersumpah akan menghantam tamu tidak diundang ini dengan bogem mentah.

“Sukuna-san!” Suara yang familiar menyapanya begitu pintu terbuka. “Ah, baru bangun tidur ya?”

“Dan kau baru saja menghancurkan pagiku.”

“Hehe.”

Hehe kepalamu.

Iris marunnya mulai terbuka ketika mendapati aroma manis datang dari Yuuji. Setoples kue kering tampak berada di dalam genggaman kedua tangannya.

Ternyata tentang ini.

“Aku barusan membuat kue dengan kakek,” Yuuji menyodorkan toplesnya, ia tersenyum lebar, “karena kebanyakan, jadi lebihnya untuk Sukuna-san saja!”

Lelaki tersebut menerima toples kecil milik Yuuji. Ia membawanya ke depan mata, memutar dan mematai tumpukan kue yang dibuat dengan baik itu.

Selanjutnya, Sukuna mencibir dengan nada malas. “Aku nggak makan makanan manis.”

“Ei~ itu kue yang gulanya sedikit kok, menurutku rasanya lebih dekat ke gurih! Kakek juga nggak suka makanan manis.” Yuuji menyanggah, “dimakan ya! Harus!”

Sukuna hanya memutar mata. Ia baru saja akan menutup pintu ketika Yuuji menyembulkan kepala di celah pintunya dan menahan daun kayu itu tertutup lebih lanjut. “Maksudku dimakan sekarang ya! Di depanku! Aku tahu Sukuna-san pasti bakal membuang kue itu setoples-toplesnya!”

“Sudah kubilang aku nggak makan makanan manis!”

“Satu saja! Dimakan! Cepat makan!”

Ia mengembuskan napas dengan kasar. Sukuna mendorong pintunya lebih kuat untuk menutup, lalu detik selanjutnya terjadi perang kecil antara ia dan seorang bocah SMP dalam usaha tutup-buka pintu. Keduanya menatap dengan sengit.

Sejujurnya Sukuna cukup heran dengan kekuatan Yuuji yang ternyata hampir mampu menyainginya.

“Sukuna-san!”

“Bocah tengik ini—!”

“Selama belum dimakan, aku nggak bakal pulang!”

BLETAK!

“Aduh!”

Yuuji meringis usai mendapat jitakan yang cukup kuat tepat pada dahinya. Ia mundur secara refleks, dan detik yang amat singkat itu digunakan oleh Sukuna untuk membanting pintu dan menguncinya rapat-rapat. Terdengar seruan kesal dan rengekan. Lagi, ia mengembuskan napas.

“Jangan buang kuenya! Kalau dibuang, tengah malam nanti jendela Sukuna-san bakal kugedor!”

“… memangnya kau Spiderman?!”

Semenit, dua menit, hingga sepuluh menit kemudian, akhirnya seru-seruan yang melengking itu hilang setelah terdengar suara satu gedoran yang kuat pada pintu (Yuuji meninjunya). Untung saja engsel pintu itu tak lepas atau ia harus menggelontorkan uang untuk membayar ganti rugi.

Sukuna menatap toples kecil yang dipenuhi kue kering buatan bocah tersebut sebelum meletakkannya di atas meja makan. Bersebelahan dengan secangkir kopi yang sudah mulai dingin karena perdebatan tak penting mereka.

Mungkin kopi pahit akan menutupi rasa kue kering itu sepenuhnya.

Mungkin.

Atau ia benar-benar akan membuang kue itu beserta toplesnya ke tempat sampah.

 

***

 

Hari-hari musim semi pertama Sukuna di Tokyo sudah sering dipenuhi keributan.

Dan biangnya, selalu saja, bocah SMP yang bertempat tinggal tepat di kamar sebelah.

Mulai dari sapaan singkat, saling berbagi makanan antartetangga, hingga terkadang Yuuji yang masuk ke dalam apartemennya begitu ia lengah dan lupa menutup pintu ketika bocah itu mengantar apapun yang bisa ia bagikan. Lama-kelamaan Sukuna dibuat penat olehnya dan ia pun memutuskan untuk mengikuti aliran yang telah berbelok dari angan pertamanya.

Yuuji terus berkeliaran di sekitar, seolah-olah Sukuna adalah matahari yang redup. Ia samasekali tidak paham tentang apa hal menarik dari dirinya yang hanya dapat dilihat oleh bocah itu.

Kemudian beberapa bulan berlalu dan musim panas nyaris tiba.

Malam itu, Sukuna sedang turun untuk membuang sampah. Mengenakan celana pendek santai dan jaket warna hitam. Ia menepukkan tangan usai meletakkan kantong sampah, pandangan mengedar. Bahkan saat malam pun jalanan kota ini tetap ramai.

Sukuna akan masuk ke dalam gedung sebelum Kakek Itadori hampir menabraknya karena berjalan dengan tergesa-gesa saat datang dari arah yang berlawanan.

“Sukuna?” Orang tua itu menatap, kilat cemas terlihat cukup jelas pada wajah keriputnya. “Benar Sukuna ‘kan? Apa aku bisa minta tolong padamu untuk memanggilkan taksi? Mataku agak buruk kalau untuk melihat malam-malam.”

Menyusahkan. “Ah, ya. Kurasa.”

“Untunglah. Ayo mendekat ke jalan!”

Sukuna mengekor dengan langkah-langkah enggan. Ia berdiri dengan Kakek Itadori di pinggir jalan raya, menunggui taksi. Sesekali lelaki tua tersebut tampak mengecek ponsel bututnya dengan tatapan khawatir.

Memangnya ada apa?

“Mau ke mana malam-malam begini?” Ia membuang harga dirinya karena rasa penasaran.

“Rumah sakit.”

Oh. “Janji dengan dokter?”

“Bukan,” Kakek Itadori memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, “Yuuji dan temannya ditabrak mobil.”

“Oh—tunggu, apa?”

Sukuna menolehkan kepala. Kalimat terakhir terasa seperti petir yang menyambar. Ia dapat melihat orang tua itu mengambil dan menghelakan napas dengan gusar, “mereka ditabrak pengemudi mabuk saat pulang kerja kelompok.”

Kedua iris marunnya kembali mematai jalan raya, mencari keberadaan taksi yang mungkin saja akan lewat. Sesuatu tiba-tiba berdentum berulang kali dengan kencang di balik dadanya.

Yuuji ditabrak mobil?

Perasaan apa ini?

Beberapa menit berikutnya, sebuah taksi menepi setelah dipanggil oleh keduanya. Kakek Itadori hampir menutup pintu dengan penuh, jika tidak dihalangi oleh tangan besar Sukuna yang menarik pintu mobil agar kembali terbuka.

Ia sendiri tidak mengerti kenapa harus melakukan ini.

“Aku ikut.”

 

**

 

Jam telah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam ketika keduanya tiba di rumah sakit.

Keduanya berjalan tergesa memasuki gedung (Sukuna agaknya tidak menyadari hal ini). Bertanya perihal posisi kepada resepionis, kemudian segera menuju lokasi terkait. Dari kejauhan, tampak pucuk merah jambu yang tengah menunduk di kursi tunggu koridor. Wajahnya tampak muram. Kakek Itadori menghampirinya dengan tergopoh, “Yuuji! Astaga, kau baik-baik saja ‘kan?!”

Yuuji hanya memberi satu anggukan.

Lalu airmatanya tumpah.

“Apa lukamu parah?” Orang tua itu menatap beberapa bagian tangan dan kaki Yuuji yang telah dibalut perban ataupun sekadar diberi obat merah.

“Aku … hanya lecet.” Suaranya bergetar. “T-tapi Fushiguro … Fushiguro kakinya p-patah terlindas mobil karena menyelamatkanku …”

Ia menangis. Sukuna hanya dapat diam di belakang sana. Itu merupakan kali pertama Yuuji menunjukkan emosi negatif di hadapannya.

Entahlah apakah ia harus bersimpati atau tertawa.

Kakek Itadori menghelakan napas, “Sukuna, tolong temani Yuuji sebentar. Aku akan bicara dengan ayah temannya.” Kemudian ia berlalu.

Sukuna mengusap tengkuk dengan canggung. Ia mendudukkan diri pada kursi di sebelah Yuuji yang masih betah terisak. Tubuh bergetar dan bahu naik-turun, airmatanya terus mengalir seolah-olah menjadi muara sungai. Suaranya serak, “Sukuna-san … Fushiguro sekarang pasti membenciku …”

“Untuk apa?”

“Gara-gara aku …” Yuuji mengusap pipi, kata-kata terus tersendat oleh isakan, “gara-gara aku nggak sigap menghindar, kakinya jadi patah …”

“Hei,”

Anak itu mendongak dengan lesu, ia dan Sukuna saling bertatapan dalam diam selama beberapa detik ke depan.

“Ia sendiri yang ingin melindungimu. Jika bocah Fushiguro itu menyalahkanmu atas kejadian ini, dia yang gila karena sudah melempar kesalahannya pada orang lain.”

Yuuji terdiam. Ia meneguk ludahnya sekali lalu kembali menunduk. Sukuna menutup mulutnya sendiri secara imajiner, barusan itu dia mengatakan apa? Benar-benar di luar karakternya.

Lelaki tersebut samar berjengit begitu merasakan hangat menyampir pada lengan bagian atasnya. Yuuji bersandar, menenggelamkan wajah pada lengan Sukuna sembari mengirup aroma jaketnya dan menyelesaikan tangis.

Tangan-tangan Yuuji yang dibalut perban dan plester luka menarik fabrik pada lengan Sukuna seperti tarikan kucing. Berpegangan. Mencari keamanan.

Sukuna menghelakan satu napas.

Ah.

Kali ini saja.

 

*****

 

 

Notes:

halo! ketemu lagi! sebenernya saya nggak terbiasa ngetik genre begini, jadi semoga memuaskan ya hehe

fanfik ini rencananya mau dijadikan oneshoot sebagai prekuel cerita sebelumnya (Next Door), eh ternyata kayaknya terlalu kepanjangan kalo mau merangkum kejadian selama enam tahun dalam oneshoot ... jadi ini bakal bersambung!

sekali lagi, jangan bosen-bosen ya ketemu saya. karena saya mau melestarikan sukuita bahasa! *wink*

Series this work belongs to: