Actions

Work Header

Lost Stars

Summary:

satu tahun semenjak tragedi yang menghanguskan harapan dan joker yang kehilangan arti bertahan tetap mencoba bangkit menjadi bintang yang tak pernah hilang di langit malam. sebuah pengakuan diutarakan dari dia ke margaretha dan dari magaretha ke dia : kenyataan tersurat bahwa perempuan itulah yang juga memegang kunci kesialannya. di saat yang bersamaan, william ellis; seseorang yang tak (belum) dikenalnya muncul dengan mengerahkan segenap upaya buat menolongnya, meski joker yang tak pernah menganggap ada apapun di antara mereka bersikukuh meraih peruntungan itu untuk yang kedua kalinya. / “Aku hanya ingin bertemu denganmu, Senior. Sudah dari lama aku memperhatikanmu.”

JokWill, Joker x William Ellis, the Smiley Face & the Forward
setting : HighSchool!AU, #Daisy

Chapter 1: When I Close the Door

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

“Sedang menghafal naskahmu, Senior?”

Konsentrasi tentulah penting dilakukan menjelang hari pengadaan seleksi, Joker tak berniat mengubah atensi ketika sayup panggilan yang mengarah itu menganggu ketenangannya dalam mengingat dialognya sama sekali. Lelaki berambut merah sebahu dengan luka menggaris di mata kiri itu menengadah; awalnya tak menyadari bahwa dia yang dimaksud oleh penyapa berhubung bangku taman tempatnya duduk pun tak cuma dia yang berpenghuni— di sekitarnya, banyak orang yang berlalu lalang dan Joker pikir dia tidak salah jika dia mengabaikan seruan pada satu dan dua seruan pertama. Kala langkah seseorang dengan nada berat itu menghasilkan bayangan yang menghalangi dari apa yang daritadi menjadi pusat konsentrasi, Joker barulah mengkonfirmasi laki-laki itu memang memintanya berpaling sedari tadi.

“Maaf?” Sebelah alis Joker terangkat, seragam persis serupa tapi dasi dan badge yang kentara berbeda warna. Mereka tidak dalam tingkat kelas yang sama, Joker segera menyadarinya dan laki-laki berkulit coklat manis itu berputar untuk mengisi ruang kosong di samping tubuhnya : bangku panjang itu kini resmi menjadi milik mereka berdua.

“Fokus sekali. Padahal aku memanggilmu daritadi.” Laki-laki itu menjaga sopan santun dengan tetap tak memperpendek jarak di antaranya; ditebak berstatus sebagai junior satu tingkat di bawah Joker : lalu dia menarik garis senyum dengan sebelah alis mengernyit. “Namamu Joker, kan; Senior?”

Ah, tentu. Kalau begitu, sekurang-kurangnya lelaki ini mengenalnya dan lantas menjadikan itu sebagai alasannya buat bersambut sapa. “Ada masalah?” Pertanyaan mengarah soal Joker yang secara tak langsung mengusirnya, bukan urusannya kalau Joker memilih untuk melakukan hal yang menurutnya lebih baik atau tidak. Setelah diganggu dan permulaan percakapan menunjukkan ketidaktahuan diri, tentunya Joker sukses dibuat mendelik. Sedangkan, Joker yang sengaja melewatkan jam makan siangnya untuk menghafal naskah tidak berkeinginan diganggu sama sekali. “Kau anak kelas 2, bukan? Jangan menggangguku,”

Rambut merah tersibak, kuncir yang kemudian dilepas karena dia enggan lagi beralih untuk menetap pada posisi serupa bersama laki-laki itu. Joker mengamit buku naskahnya, melangkah pergi meninggalkan sang junior : jika dia tidak mengenyahkan diri dengan segera lenyap dan tak menghalanginya lagi, maka Joker yang mengalah dengan tak berminat untuk berurusan kembali.

“Ah! Panggil aku William. William Ellis. Rockie dari klub rugby.” Ancaman nyatanya tidak didengarkan : Joker makin kesal karena dia malah mengambil langkah untuk mengikutinya dari belakang. “Klub teater sangat menarik, ya. Kudengar ada agenda setiap tahun untuk memilih kandidat pemberian beasiswa universitas pada anggota kelas 3 klub teater sekolah kita?”

“Lalu, kenapa?” Yang lebih senior spontan meresponnya dengan nada begitu ketus. Dia tahu. Tidak ada orang yang benar-benar suci selain oleh mereka datang untuk memanfaatkannya dalam mendapatkan posisi. Dulu dia pernah menjabat sebagai seseorang yang punya nama di kub teater : anak kelas 1 dan 2 biasanya menghampiri untuk meminta keringanan dan hal-hal penunjang penting yang ironinya pun, sulit diperjuangkan lagi seumur hidup buat dia dapatkan. “Kalau kau ingin mendapatkan beasiswanya juga, silakan melakukan persiapan untuk tahun depan dengan mendaftarkan diri ke klub drama dan menghubungi Sergey.”

Joker sensitif mengenai  ini. Sebagai seseorang yang sekarang berada kelas 3 : menjadi keinginan terbesarnya untuk memenangkan kompetisi tersebut. Untuk apa dia berlama-lama membaca naskahnya hingga detik ini; untuk apa dia merelakan banyak waktunya hanya untuk mereka ulang terus sesuatu yang sebetulnya bisa dengan mudah dia kuasai— walau matanya jadi perih pun; segalanya kembali untuk peran utama sebagai pintu pengantar masa depan yang cuma-cuma diberikan kepada orang berbakat tersebut. Dengan menunjukkan kebolehannya di panggung; seseorang akan tampil lebih menarik dan jadi pusat perhatian, bukan? Selain itu, (oleh perasaan pribadinya sendiri) karena di tempat yang sama juga ada

“Aku kemari bukan untuk mendaftar di klub teater.”

“….?”

“Aku hanya ingin bertemu denganmu, Senior. Sudah dari lama aku memperhatikanmu.”

Joker baru satu kali itu menghentikan langkahnya; berbalik menghadiahkannya afeksi, pada laki-laki yang bermonolog pada jarak tak lebih 5 meter di balik punggungnya. William menghadapnya dengan terdiam, netra berpendar; tetapi tak berani pula kedua kedua belah matanya mencoba untuk membalas rasa keterkejutan seniornya. Kata ‘memperhatikan’ itu tentunya menjadi pertanyaan yang membingungkan lagi tak bisa dijawab, Joker ingin mendengar pencerahan lebih lanjut dari belah bibirnya. “Kau tidak ingat apapun … saat pertama kali kita bertemu?”

“Tidak, memangnya kenapa?”

( Tetapi, yang keluar dari pengakuan Joker adalah pernyataan pilu yang mempertanyakan pada William apakah mereka pernah benar-benar mengenal di suatu masa yang tak diketahui. Jangankan, kalau pun memang nyatanya adalah yang tersebut sebelum ini, mengapa Joker tak pernah … mengingatnya sama sekali? )

William tertawa nelangsa meresponnya, terbahak-bahak sendiri. Pasti otak orang ini sudah dipenuhi oleh hafalan teks drama, sehingga tak ada lagi ruang untuk sekadar menyadari sebab William untuk memaksakan diri mendekati. “Bukannya kau yang menyelamatkanku, Senior?”

Joker tidak mengerti. Separuh dirinya; rasa simpatinya terhadap orang lain sudah terlanjur hangus bersamaan lidah api yang menghapus nama dan membawa tanda luka batin yang terpatri. Tidak ada lagi. Joker telah menutup pintu hati di mana kesempatan siapapun untuk meraih tangannya, tidak lagi tersisa dan dia tak peduli pada pencapaian mereka yang berupaya untuk mengejar langkahnya. Tidak ada lagi. Tidak ada lagi selain perempuan itu. Satu tahun berlalu, ketika laki-laki itu akhirnya

“Aku tidak paham maksudmu, Ellis. Aku tidak pernah—”

“Tidak mengapa. Aku mengerti,”

Senyum menenangkan. Hangat. William tak mengulurkan tangan untuk membuat maksud itu lebih tersampaikan, tetapi dasar hatinya mengatakan— sesuatu yang tersisa, masih berbekas pada nuraninya sendiri. “Ngomong-ngomong, aku harus pergi. Sampai jumpa!”

William Ellis pergi meninggalkannya begitu saja dengan makna yang Joker sendiri tak mengerti apa. Ada sesuatu dari pria itu yang membuatnya tak pula mencoba menutup mata : menggali ingatan yang terkubur pada dasar jurang ego dan memori atas kesalahanpahamannya saja. Tak pernah Joker ingat lagi apa  yang pernah terjadi dalam hidupnya : nyatanya panas api itu telah membakar seluruh harga dan kepercayaan dirinya. []

Notes:

Identity V © NetEase

.

Day05 : When I Close the Door
[ Joker & William Ellis ]

HighSchool!AU;
5th February 2021, 07:57 PM