Work Text:
Ia selalu mendapatkan mimpi yang sama. Mimpi dimana ia berada di pelukan seorang pria tampan berambut putih dengan sepasang mata biru seindah permata yang basah oleh air mata. Mimpi dimana ia merasa badannya remuk dan sakit tak karuan, dimana hanya ada warna merah yang memenuhi pandangannya yang memburam.
“Kita akan bertemu lagi. Kita pasti akan bertemu lagi, dan saat kita kembali bersama, aku berjanji akan selalu bersamamu, melindungimu.”
Mimpi itu selalu datang padanya, setiap malam, tanpa henti. Hingga pada akhirnya mimpi itu membawa kotak memori berisi kehidupannya di masa lampau. Kehidupannya sebagai wadah dari King of Curse bernama Sukuna, kehidupannya yang berakhir di tangan seseorang yang ia cintai lebih dari apapun.
“Gojou Satoru, Gojou-sensei,” bisiknya suatu malam, ketika kepingan memori memenuhi benaknya.
Yuuji akhirnya terlahir kembali. Ia akhirnya terlahir kembali dengan memorinya akan kehidupan lalu—meski terlambat. Ia terlahir kembali, dengan nama yang sama meski marganya tak lagi Itadori.
Ia terlahir kembali, namun fisiknya tak lagi sama dengan ia yang dulu.
Rambutnya tak lagi model undercut dengan warna merah muda, rambutnya kini berwarna coklat gelap. Matanya tak lagi berwarna madu, matanya senada dengan rambutnya.
Yuuji berbeda. Terlalu berbeda dengan dirinya yang dulu.
Bagaimana jika saat ia bertemu dengan Satoru, pria itu tidak mengenalinya? Bagaimana jika Satoru menolak untuk bersama dengan dirinya karena ia bukanlah Yuuji?
Meski orang bilang jika sudah berjodoh, walaupun raganya berubah seperti apapun, mereka pasti bisa mengenali belahan jiwanya. Tapi Yuuji takut. Ia takut Satoru tak mengenalinya. Penampilannya saat ini begitu berbeda dengan dirinya yang dulu.
Berbekal pemikiran tersebut, Yuuji nekat mengganti potongan rambutnya. Ia menggantinya dengan model undercut dan mewarnainya dengan warna merah muda meski harus diomeli oleh ayah dan saudara kembarnya—Sukuna, yang sialnya pada kehidupannya kali ini terlahir sebagai saudara kembarnya. Ia membeli lensa kontak dengan warna coklat madu—tak mirip dengan matanya yang dulu, tapi apa boleh buat, daripada tidak sama sekali. Untung saja ia sudah duduk di bangku perguruan tinggi, berpenampilan nyentrik seperti ini pun tak terlalu memancing masalah.
Ia tersenyum menatap cermin, puas melihat usahanya yang membuahkan hasil. Ia kembali menjadi Itadori Yuuji, sosok di masa lalu, sosok yang lekat dengan Gojou Satoru.
“Sensei, kuharap kita segera bertemu. Aku merindukanmu,” bisiknya pada angin malam yang berhembus di antara celah jendela, membawa kata rindu sekaligus lantunan doa untuk segera bertemu dengan sang terkasih.
Satoru menatap pantulan dirinya pada cermin, tangannya menyentuh akar rambutnya yang sudah berwarna hitam. Ia menghela nafas, sudah saatnya ia kembali ke salon dan mewarnai kembali akarnya dengan warna putih.
Ia mengabaikan orang-orang yang mempertanyakan keputusannya untuk mewarnai rambutnya dengan warna seputih salju disaat ia terlahir dengan rambut hitam legam. Ia tak butuh komentar orang-orang itu, ia hanya peduli pada satu orang, yangmana orang tersebut hanya mengenal sosok Satoru dengan rambut seputih salju, bukan hitam legam seperti arang.
Ia juga menggunakan kontak lensa berwarna biru—meski tak ada yang seindah biru yang itu, tapi sudahlah. Orang-orang kembali mencemoohnya, apalagi rekan-rekan kerjanya, mengatakan bahwa dirinya ingin berpenampilan seperti orang eropa dengan mata biru mereka.
Tidak. Satoru tidak terobsesi untuk berpenampilan seperti apa yang dikatakan orang-orang. Ia hanya ingin berpenampilan seperti dirinya yang dulu, seperti Gojou Satoru yang dikenal oleh Itadori Yuuji di masa lalu.
Gojou Satoru dengan rambut seputih salju, netra sebiru permata dan badan jangkung, bukan Satoru dengan rambut dan mata sekelam langit malam. Beruntung tinggi badannya di masa ini dan masa lalu tidak terlalu berbeda.
Ia tak peduli apa kata orang, ia hanya peduli pada Yuuji. Ia tak ingin pemuda kesayangannya itu kesulitan menemukannya karena ia terlahir dengan penampilan yang berbeda.
Ia tak keberatan harus bolak-balik ke salon untuk mewarnai rambutnya. Tak juga keberatan matanya harus memakai lensa terus menerus, asalkan Yuuji bisa mengenalinya, maka ia dengan sukarela akan terus melakukannya.
“Yuuji, kuharap kita bisa bertemu di kehidupan ini.”
Hari ini hujan mengguyur kota Tokyo. Yuuji sebenarnya sudah membawa payung, hanya saja payungya berakhir mengenaskan di tangan saudara kembarnya, payung miliknya rusak terhempas angin ketika Sukuna meminjamnya untuk pergi ke gedung rektorat. Alhasil, Yuuji—juga Sukuna, harus rela hujan-hujanan dari area gedung fakultasnya hingga ke halte bus.
Yuuji menulikan telinganya dari Sukuna yang mengomel mengapa hujan tak kunjung reda. Ia sibuk mengusap rambutnya yang basah, tubuhnya sedikit menggigil karena hoodie yang ia kenakan basah kuyup.
“Lepas hoodiemu dan pakai punyaku. Aku tidak mau diomeli ibu kalau anak kesayangannya demam,” omel Sukuna sambil melemparkan hoodie hitam yang tersimpan rapi dalam tasnya.
Yuuji merengut, namun ia menuruti perkataan sang kakak. Ia melepaskan hoodienya dan menggantinya dengan milik Sukuna. Tangannya menarik lengan hoodie tersebut, menutupi tangannya yang sudah memucat. Ia dan Sukuna memang saudara kembar, tapi entah kenapa Sukuna tumbuh lebih besar darinya, membuat ukuran pakaiannya dan sang kakak berbeda.
Yuuji memilih untuk duduk di ujung bangku halte, menghindar dari kerumunan orang yang datang untuk berteduh. Ia memangku dagunya, matanya menatap rintik hujan dari celah badan orang-orang yang berdiri di depannya.
Hingga matanya terkunci pada sosok pria yang baru saja datang untuk berteduh. Pria jangkung dalam setelan jas hitam, dimana rambut putihnya basah oleh air hujan. Ia menatapnya lekat, hingga mata mereka tak sengaja bertemu pandang.
Yuuji membulatkan matanya. Meski biru itu tak sama dengan yang ada di ingatannya, ia sangat mengenal pandangan itu. Pandangan milik seseorang yang begitu berarti untuknya—milik Gojou Satoru.
Belahan jiwanya.
“Yuuji?”
Yuuji mengerjapkan matanya, ia tak sadar pria yang sedari tadi ia amati kini berdiri di depannya. Mata pria itu menatapnya lekat, dengan lelehan air di sudut mata—ia tak tahu apakah itu air mata atau hanyalah air hujan. Pria itu memanggil namanya, memanggilnya dengan suara yang terlampau ia ingat.
“Gojou-sensei?”
Tak menunggu jawaban, Yuuji merasakan tubuhnya tenggelam dalam pelukan pria itu. Pelukan hangat yang terlampau ia rindukan. Pelukan dari sosok yang tiap malam mengunjungi mimpinya.
Ia membalas pelukan pria itu, memeluknya erat. Ia menangis terisak, bibirnya mengucap nama sang terkasih seakan tak ada lagi hari esok. Ia semakin terisak ketika merasakan kecupan lembut pada pelipisnya.
“Yuuji. Yuuji, aku menemukanmu.”
"Sensei—hiks, Gojou-sensei."
Mereka berdua larut dalam hangatnya pelukan, saling melepas rindu dengan menikmati kehangatan dari sang pasangan, mengabaikan keadaan dimana mereka berdua berpelukan penuh haru di tengah-tengah kerumunan orang yang sedang berteduh dari rintik hujan. Adegan mengharukan itu sayangnya harus berhenti ketika Yuuji merasakan tarikan pada kerah hoodienya. Mata basahnya menatap tajam Sukuna—pelaku yang mengganggu momen berharganya.
“Hei Pak Tua mesum, enak saja kau peluk-peluk adikku sampai menangis begini. Minta dipukul?” galak Sukuna. Yuuji menghela nafas, ia lupa kalau Sukuna sedikit overprotektif.
“Sukuna, hentikan. Aku mengenalnya.”
“Kau mengenal Pak Tua ini?” tanya Sukuna, jarinya menunjuk Satoru yang masih menatap lekat kearah Yuuji.
Yuuji mengangguk, ia membuka mulutnya, namun kembali tutup mulut ketika ingin memanggil pria di hadapannya itu. Apakah ia masih menyandang nama Gojou? Atau haruskah ia memanggilnya… Satoru?
Satoru?
Seolah menangkap kegelisahan Yuuji, Satoru mengedipkan matanya, ia mengeja namanya ketika Sukuna lengah mengalihkan pandang darinya selama beberapa detik.
"Sa-to-ru."
"Jadi?" Sukuna kembali bertanya, ia menatap galak Yuuji dan Satoru, membuat Satoru menahan tawanya.
Yuuji tersenyum kecil, “Aku mengenal Satoru-san, kami teman lama yang sudah lama tak bertemu jadi… begitulah.”
Meski sudah dijelaskan, Sukuna memilih untuk tetap tak percaya. Teman lama? Yang benar saja? Sukuna mengenal semua teman-teman Yuuji sejak taman kanak-kanak dan ia tak pernah sekalipun bertemu dengan pria berambut putih itu, tidak pernah sekalipun. Ia menatap sinis ke arah Satoru dan menarik Yuuji menjauhi pria itu ketika bus mereka telah sampai.
Untungnya, Yuuji berhasil menerima kartu nama yang diselipkan oleh Satoru di tangannya.
Tak apa. Mereka mungkin tak bisa melepas rindu saat ini juga, tapi keduanya berjanji dalam hati untuk kembali bertemu secepatnya.
Setidaknya mereka dipertemukan kembali di kehidupan ini.
Tak butuh waktu lama bagi Satoru dan Yuuji untuk berada di posisi ini, menonton film di apartemen milik Satoru dengan Yuuji yang berada di pangkuan pria itu. Mereka akhirnya kembali bersama—kali ini dengan status sebagai sepasang kekasih yang melekat, meski Satoru harus mati-matian menyakinkan Sukuna dan ayahnya Yuuji. Satoru tak menyangka jika di kehidupan ini Yuuji begitu disayangi oleh keluarganya, bahkan oleh Sukuna—sekali lagi, Sukuna!
“Sukuna sangat menyayangimu, ya,” celetuk Satoru tiba-tiba, teringat insiden dimana Sukuna menutup pintu kediaman sang kekasih ketika ia datang untuk mengajak Yuuji berkencan. Ia tertawa kecil ketika mengingat bagaimana jengkelnya Sukuna ketika ibu si kembar begitu menyukainya.
Di kehidupan manapun, pesonanya memang tak pernah pudar.
Yuuji mendecakkan lidahnya, “Dia menyebalkan.”
Satoru terkekeh, ia kemudian mengusap gemas rambut merah muda Yuuji, “Walaupun kalian kembar, tapi kalian berbeda. Maksudku—“
“Oh, ini?” Yuuji menyentuh rambutnya sendiri, kemudian ia tersenyum ke arah Satoru, “Aku mengecat rambutku. Rambut asliku berwarna coklat, aku juga memakai lensa untuk menutupi mataku yang juga berwarna coklat. Aku takut jika penampilanku yang itu membuatmu kesulitan menemukanku.”
Mendengarnya, Satoru tak bisa menahan tawa, “Oh Yuuji~ Kau tahu? Aku juga melakukan hal yang sama sepertimu. Lihat, rambutku aslinya berwarna hitam, dan mataku juga menggunakan lensa.”
Yuuji menangkup pipi Satoru, ibu jarinya mengusap bagian bawah mata biru itu, “Aku tahu kok. Birunya tidak seindah yang dulu.”
“Hm? Tapi aku tetap tampan ‘kan?”
“Tentu! Satoru-san tetap yang paling tampan!”
Satoru tertawa mendengarnya, ia pun mengecup bibir Yuuji, menghujaninya dengan kata cinta.
“Aku mencintaimu, Yuuji. Terima kasih sudah mau menungguku,” bisik Satoru, sebelum kembali mengecup bibir merah itu sekali lagi.
Di kehidupan ini, aku berjanji akan menjagamu, mencintaimu dengan seluruh hatiku, menua bersama hingga hanya maut yang bisa memisahkan kita kembali.
