Work Text:
Jatuh cinta? Apa itu?
Bagi Bakugou Katsuki, jatuh cinta merupakan sebuah hal bodoh. Sesuatu yang nggak ada gunanya. Jatuh cinta membuatmu bahagia? Omong kosong, cuih, yang ada cinta-cintaan membuat manusia jadi makin goblok. Kaminari Denki dan Kirishima Eijirou adalah bukti konkret. Sekte bulol seperti mereka sangat menjijikkan dan membuat Bakugou mual. Untung teman satu geng.
Selain itu, bagaimana Bakugou bisa merasakan cinta? Toh, dia dikelilingi makhluk-makhluk pemicu darah tinggi. Bukan cinta yang datang, malahan amarah yang meledak-ledak.
Terutama dia. Manusia zaman Mesolitikum itu.
Bakugou melirik ke belakang, di mana orang yang dimaksud sedang berkacak pinggang—membawa buku di tangannya dan sedang menceramahi Kirishima, Kaminari, serta Sero disana.
“Tod, anjir lah, gue lagi bokek!” Sero menunjukkan dompetnya yang kosong melompong. “Nih, Tod! Kosong! Debu aja insecure saking bersihnya dompet gue!”
“Nggak bisa. Kalian bertiga udah nunggak uang kas empat bulan. Dua bulan lagi pentas seni, saya mau bilang apa ke Pak Aizawa?!”
Kaminari berlutut, “Oh, Todo-sama, kasihanilah kami makhluk yang berdosa ini. Hambamu ini tidak beruang, hambamu ini masih ngutang lima ribu, hambamu ini miskin sama!”
Giliran Kirishima, “Bener, Tod. Bahkan gue aja bingung gimana nanti buat modal ngapel Mina entar malem, plis ya Tod besok—”
Sero dan Kaminari melotot.
“Oh, Todo-sama,” Kirishima ikut memohon bersama Kaminari, “Kasihanilah kami.”
Bakugou meringis ketika masing-masing kepala tiga temannya itu dipukul dengan buku kas yang dipegang Todoroki.
“Pokoknya saya tunggu sampe nanti malem. Saya nggak peduli mau gimana kalian nganternya, besok saya mau setor!”
“ELAH TOD???”
Todoroki Shouto. Musuh bebuyutannya. Orang nomor satu dalam daftar death note-nya.
Mampus, uangnya hanya cukup untuk makan siang dan pulang sekolah. Dia belum memalak orang hari ini. Bakugou memutuskan untuk keluar kelas segera—sebelum seseorang menarik kerah bajunya.
“Pagi yang cerah, Bakugou. Mau ke mana? Saya boleh ikut?”
Todoroki fucking Shouto, liat aja. Suatu saat nanti ia akan menonjok wajah songong itu.
Todoroki adalah makhluk paling aneh yang pernah ia kenal. Pertama, hanya dia satu-satunya remaja 17 tahun yang berbicara dengan sebutan 'saya-kamu'. Kedua, dia sangat kolot (Bakugou menyebutnya 'manusia zaman Mesolitikum'). Ketiga, dia sama sekali tidak takut dengan Bakugou yang notabenenya adalah preman sekolah sekaligus orang paling mengerikan sesekolah. Bahkan Todoroki pernah menjewernya di hadapan anak-anak kelas lain, sehingga ia sering dipanggil Todo-sama atau Lord Todoroki. Hell. Menyebalkan.
Sialan, Bakugou mendesis. Gara-gara dipaksa bayar uang kas, uangnya habis. Bakugou terpaksa melewatkan jam siang dan pulang dengan jalan kaki. Pria itu mengacak rambutnya emosi, sepertinya habis ini ia akan minta uang yang banyak pada ibunya. Dia tidak mau berurusan dengan Todoroki. Tidak mau lagi.
“Meow,”
“Hah.”
Bakugou memperhatikan sekeliling gang. Tidak ada apa-apa. Dia malah salah fokus ke penampakan Indojuni beberapa meter di belakangnya, di mana dari dalam ada seorang staf yang sedang menyantap ramen.
Double kill. Perutnya disko.
BODO AMAT. Bakugou menghentakkan kakinya menjauh.
“Meow...,”
Kali ini suaranya jelas. Pria itu mendongak.
Di atas sana, ada seekor kucing oranye yang mengeong-ngeong. Kucing itu di atas pohon—dia nggak tahu gimana caranya kucing itu bisa diatas sana—tapi dari wajahnya, kucing tersebut meminta pertolongan.
Mata merahnya mengedarkan pandangan ke sekeliling lagi. Sekarang cuma ada mobil yang terparkir di depan Indojuni. Mobil itu tampaknya juga sedang ditinggalkan pengendaranya, jadi oke aman. Bakugou melempar tasnya sembarang, mengangkat lengan seragam sekolahnya serta melepas sepatunya.
Ia akan memanjat pohon.
Yah, terimakasih untuk ilmu yang diajarkan kakeknya waktu kecil dulu. Bakugou sekarang merasa seperti sedang syuting bocah petualang.
Hap! Bakugou memanjat dengan sangat lincah. Ia merayap di batang pohon besar tersebut, hingga akhirnya ia berhasil sampai ke dahan tempat kucing malang itu berada. Mengabaikan beberapa semut yang mulai menaiki tubuhnya, ia mengulurkan tangannya.
“Cing, cepetan!” bentak Bakugou. “Lo mau selamat, nggak?!”
Kucing itu bergeming.
“Bangsat.” Bakugou bersusah payah bergerak mendekat dan kembali mengulurkan tangannya, “Elah, Cing! Cepetan brengsek, lo kira gue mau manjat kayak gorila gini, hah?!”
“Meow.” Kucing itu malah menggaruk tubuhnya santai.
Fuck.
Bakugou kehilangan kesabaran. Ia menarik kaki kucing itu paksa, mencoba membawa kucing tersebut ke pelukannya. Namun respon kucing itu di luar dugaan—kucing itu malah berubah menjadi kasar, lalu mencakar wajahnya bertubi-tubi.
“MEOW!!”
“ANJ—”
Keseimbangannya goyah, gravitasi perlahan menarik Bakugou dan si kucing. Ia merasa tubuhnya mulai jatuh.
OH MAN HOLY—
BRUK
—shit.
Bakugou jatuh dengan posisi terlentang. Matanya terpejam, tangannya memeluk kucing bedebah tadi. Punggung dan bokongnya berdenyut nyeri. Sial, kalau saja dia tidak repot-repot memanjat seperti tadi, kejadian memalukan ini tidak akan mungkin terjadi. Kucing ini akan habis di tangannya. Jiwa kriminalnya berapi-api. Bakugou segera membuka mata dan hendak bangkit—
Sebelum kedua iris merahnya bertubrukan dengan sepasang iris hitam-biru yang balik menatapnya.
HAH.
Pria pirang itu refleks bangun dengan cepat, mendongak dan menemukan sosok Todoroki berdiri memandanginya dengan wajah cengo.
“LO NGAPAIN DISINI?!” teriak Bakugou, “JAWAB, LO UDAH DARI KAPAN DISINI BANGSAT?!!”
“OH—E-EHM TADI SAYA DI M-MOBIL, T-TERUS—”
“HAH?!”
“M-MAKSUDNYA SAYA TADI DI MOBIL ITU TERUS LIAT KAMU M-MANJAT POHON!” Todoroki menunjuk mobil yang terparkir di Indojuni dengan terbata-bata, lanjut menjelaskan seraya memejamkan mata. “S-SAYA PANIK! SAYA LANGSUNG KELUAR BUAT NYURUH KAMU TURUN ABIS ITU KAMU JATUH!”
Hening. Todoroki masih memejamkan mata. Bakugou mencoba mencerna apa yang ia dengar tadi.
”...Meow.”
“Meong?” Todoroki membuka mata, langsung berjongkok mendekati kucing yang tadi diselamatkan Bakugou. “Meong, kamu nggak apa-apa?”
“GUE DISINI JATOH DARI POHON SETINGGI ITU DAN LO MALAH NANYAIN KUCING INI?”
“Kamu nggak apa-apa, kok. Buktinya kamu masih bisa teriak-teriak.”
“Jadi maksudnya lo mau liat gue sekarat?!”
“Itu karma, Bakugou. Siapa suruh kamu nunggak uang kas satu semester.”
GRAAAAAAAAAAH.
Bakugou rasanya mau mengubur pria di depannya detik ini juga.
“Tunggu ya, meong.”
Todoroki melepas tasnya. Ia lalu membuka tas tersebut, mengeluarkan kotak P3K kecil yang membuat Bakugou melongo. Pria itu meraih si kucing pelan-pelan, memeriksa keadaan hewan tersebut.
“Pantesan meongnya marah waktu kamu tarik kakinya,” Ia menunjukkan luka di kaki si kucing. “Ada luka, makanya dia cakar kamu.”
“Cih.” Bakugou mencibir.
Manusia Mesolitikum ini telaten sekali. Bakugou mengamati gerak-gerik pria di depannya. Ia mencuci luka tersebut, mengobatinya, dan membungkusnya dengan perban. Brengsek, kok kucing ini diem banget? Kenapa nggak dicakar juga sekalian? Bakugou mendesis kesal, berharap kucing ini juga mencakar wajah sok polos di depannya itu lebih parah darinya.
“Selesai!” Todoroki berseru riang, mengembalikan kucing tersebut kepada Bakugou.
“Kok dikasih ke gue lagi sih?!”
“Diem, sekarang kamu yang saya obatin.”
Bakugou hendak menyemprot, namun mendadak lidahnya kelu.
Tunggu... Sejak kapan wajah Todoroki di matanya bersinar seperti ini?
“Perban saya habis, adanya tinggal Ganjaplast.” ujarnya ketika mengecek isi kotak P3Knya. “Motifnya Hello Kitty, nggak pa-pa, ya?”
Hah. Wait. HELLO KITTY? MAKSUD—
Todoroki mendekat, menyibakkan surai kuningnya dan menempelkan satu Ganjaplast pertama di keningnya.
Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba sekelilingnya terasa panas?
Wajah bedebah itu sangat dekat—terlalu dekat. Dari sini Bakugou bisa mengamati semuanya. Ia bisa melihat bulu mata lentiknya, kedua bola mata dwi-warnanya, hidung bangir miliknya, pipi putihnya, hingga dua belah bibir cherry yang maju beberapa senti sambil berkomat-kamit—
”...Bakugou? Kamu sakit juga? Mukamu merah,”
Sialan—
Kedua tangannya refleks mendorong Todoroki menjauh.
“NGGAK USAH PEGANG-PEGANG GUE!”
“Bakugou, saya cuma megang muka kamu. Terus itu masih ada dua bekas cakar lagi di pipi bagian kiri sama rahang—”
“GUE BISA SENDIRI! SINIIN!”
Bakugou merampas Ganjaplast di tangan Todoroki kasar.
“Bisa nggak sih jangan teriak? Telinga saya sakit.”
“Emang gue peduli?! Dasar kakek peyot!”
“Maksud kamu apa, ya?! Mau saya gantiin meong itu buat cakar mukamu?!”
“Berani lo ama gue?!”
“Berani! Kamu mah kecil buat saya, Durian!”
“SIAL MAKSUD LO APA HAH?! MAJU SINI ARTEFAK!”
“AYO! SAYA NGGAK—”
TIN TIN
Perdebatan dihentikan paksa. Bakugou menatap mobil di seberang sinis, sedangkan Todoroki baru menyadari sesuatu dan segera merapikan peralatannya.
“Kita nggak jadi berantem, Bakugou. Sopir saya udah nyuruh saya pulang.”
“Anak manja.”
“Saya putar kepalamu,” Todoroki memberinya pelototan tajam. “Meongnya jangan kamu lepas dulu, ya. Lukanya belum sembuh. Nanti kalo bisa saya jenguk.”
“Ogah amat! Gue langsung tinggal nih kucing—”
Sekali lagi, suasana di sekeliling Bakugou mendadak panas. Pasalnya Todoroki sekarang menangkup kedua pipinya, menatap iris merah Bakugou dengan berapi-api.
“Kamu nggak boleh ninggalin meongnya!” perintahnya. “Pokoknya saya pantau meongnya, kalau kamu buang meong ini, saya buang juga uang kasmu.”
“JAUH-JAUH BRENGSEK!” Bakugou mendorong Todoroki sekali lagi.
Sialan. Sialan. Perasaan apa ini?
Todoroki terdiam sejenak, lalu beralih pada meong tersebut—namun klakson kembali terdengar, membuat pria itu mengurungkan niatnya dan buru-buru pulang.
“Dadah, Meong!” seru Todoroki seraya melambai dengan senyum cerah. “Cepat sembuh!”
Bakugou masih memeluk kucing itu.
“Kamu juga, Bakugou!”
Eh?
“Cepat sembuh!”
Surai putih-merah tersebut mulai menghilang, seiring dengan Avonza putih yang perlahan menjauh dari sana.
Shit. Bakugou mencengkeram dadanya. Dia kenapa sih?! Kenapa jantungnya tiba-tiba berdegup kencang seperti ini?!
“Meow.”
“APA HAH?!”
“Meow.” Kucing itu mengeong, “Meow.”
“LO NGATAIN GUE CING?!”
“Meow.”
“Cih.” Bakugou menghela napas, melanjutkan langkahnya pulang. “Kalo lo macem-macem di rumah gue nanti, gue jadiin kucing penyet lo.”
“Meoooow.”
Jatuh cinta? Apa itu?
Sepertinya Bakugou mulai mengerti.
