Actions

Work Header

loser x lover: get ready

Summary:

"Gue mau minta maaf.”

“Ya bagus kalo gitu—“

“Tapi tanding dulu.”

“APA?!”

Meraih bola oranye yang diulurkan si pirang, Todoroki menghela napas. Kepalanya mengadah ke atas, di mana ring basket untuk telah menunggunya bak pungguk merindukan bulan.

Harus berhasil.... atau dia akan jadi 'budak'.

Notes:

Selamat datang kembali di series kebobrokan Bakugou Katsuki dan Todoroki Shouto (+ Bakusquad yang mencoba membantu)! Yah, semoga Shouto disini diberikan kesabaran yang berlipat ganda....

Here's a song for this story, not too recommended to listen into it but it's still good!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Suki. Bakugou bilang itu nama kucing yang mereka selamatkan sebulan yang lalu. Jujur, Todoroki nggak begitu suka dengan namanya. Padahal ia sudah mengirimkan list berisi nama-nama untuk kucing tersebut via WhatsApp (yang tidak kunjung dibaca si kuning karena nomornya diblok saat itu), namun Bakugou akhirnya muncul keesokan harinya dengan dua baris pesan:

 

Bakugou

Namanya suki

Gausah protes

05:39 AM

 

Lho, kan saya udah kasih daftar nama yang cocok buat meongnya

Marcolo, Santoso, Kuncoro, Adinda, Esmeralda, masih banyak lagi di listnya.

Read, 05:59 AM

 

Bakugou

Ribet, suki ajalah

06:02 AM

 

Emang Suki apa? Ada filosofinya ga?

Read, 06:03 AM

Bakugou

Ada

Suki, panjangnya Sukinem

Dah

06:10 AM

 

....oh, oke.

Read, 06:11 AM

 

Frekuensi pertengkaran mereka semakin intens. Bakugou akan memarahinya di pagi hari karena terus-terusan membeli banyak perlengkapan kucing sampai mengancam akan membuang Suki ke got, lalu Todoroki gantian memukul Bakugou sepulang sekolah karena tidak mau memperlihatkan si kucing sampai ikut mengancam akan membuang semua uang kas milik si kuning.

Hubungan keduanya terlihat anarkis, namun anehnya, tidak ada diantara mereka yang merasa jengah. Malahan... terbiasa. Katanya Midoriya sih, itu namanya love-hate relationship. Dia bilang, kalau ada dua orang yang terus-terusan berkelahi dan membenci satu sama lain, suatu saat pasti akan ada sesuatu yang mengubah mereka. Lalu Iida menambahkan, kebanyakan orang-orang yang saling membenci seperti itu pada akhirnya akan berakhir saling mencintai—

Eh, apa tadi?

PLAK

“Todo? Kenapa?”

“Oh,” Todoroki menggeleng pelan, memberi Midoriya senyuman lebar seraya mengusap pipinya. “Nggak ada, tadi ada nyamuk jadi saya tabokin. Hehe.”

“… Tapi pipimu merah.”

“Kamu kayak nggak tahu aja panas terik gini. Hehehe.”

YANG BENER AJA. Todoroki menghembuskan napasnya kasar, tidak mungkin. Impossible. Jelas omong kosong. Iida ini ada-ada aja—huft.

Memberi ide jam olahraga di siang bolong begini sungguh menyusahkan. Siapa juga yang mau sukarela berjemur pukul duabelas kurang lima menit seperti ini? Bukannya nambah sehat, nambah item iya. Todoroki merutuk bosan, heran mengapa mereka yang di lapangan masih asyik berlarian seakan matahari sekarang bukan apa-apanya.

“Kam, sini anjing!”

“Woilah kampret, gue dilirik napa?!”

2-A berduel dengan anak kelas 2-B yang jamkos hari ini. Tidak ada Pak Present Mic yang mengawasi, sehingga Iida harus turun tangan sebagai wasit dadakan. Pertandingan ini bahkan ditonton oleh beberapa kelas lain termasuk kelas tiga—ada Kak Nejire yang menyemangati anak kelas 2-A bersama Kak Mirio (Kak Tamaki ogah banget ikut)—dan adik tingkat.

“IYAK GUYS, BAKUGOU MEREBUT BOLA DARI SI MONOM-NJING!” seru Mineta sebagai komentator, “BAKUGOU DARI 2-A MENUJU RING KELAS 2-B! BINTANG KITA, BAKUGOU GANTENG KATSUKI!”

Bakugou meliriknya sekilas.

Oke, Todoroki akui. Dia itu cukup… keren. Kemampuan mendribble bolanya memang sudah ahli. Meskipun Bakugou barbar dan tidak sopan begitu, nilai akademik dan non-akademiknya selalu bagus—bahkan terkadang Todoroki iri padanya. Yah, sebenernya kadang dia nggak percaya, sih. Tapi Bakugou sekarang membuktikannya. Ia melewati Tetsutetsu dan Awase dengan lincah, menghindar dari serangan dadakan Monoma, lalu melompat ke arah ring.

“MASUK!”

“YEAAAAAAAH!”

Pria itu menyunggingkan senyum miring.

Lho, kok—tunggu, kenapa dia jadi merasa sesak? Wajahnya juga jadi panas—

PLAK

Midoriya kembali menatapnya.

“… panas.” Todoroki mengipasi wajahnya. “Cuacanya panas.”

Cukup sudah. Setelah pertandingan selesai dan kerumunan perlahan membubarkan diri, Todoroki segera menarik Midoriya pergi.

“E-Eh Todoroki? Udahan?” Midoriya yang tertarik menoleh ke belakang dengan kebingungan, “Tapi itu kayaknya mereka mau lanjut—“

“Nggak!” potong Todoroki cepat. “Panas! Saya juga mau hitung setoran hari ini!”

Midoriya mengerutkan dahi, “Lho? Bukannya tadi kamu udah itung? Ngapain diitung lagi?”

“Y-Ya terserah! Saya juga lapar! Haus! Pusing!”

“Tapi—“

DUK

Todoroki nyaris kehilangan keseimbangan.

“Todoroki!” pekik Midoriya panik.

Kurangajar. Todoroki menatap seonggok bola basket yang menggelinding beberapa meter di dekatnya. Mereka mainnya kok nggak becus, sih?! Mengabaikan Midoriya yang berusaha menahannya, ia berbalik—menatap satu persatu wajah para anak laki-laki di lapangan dengan wajah berang.

“SIAPA YANG TADI LEMPAR BOLA KE SAYA?!”

“T-Todo-sama, suer bukan gue!” Kaminari menggoyangkan tangannya.

“Bukan gue juga, My Majesty! Kita mana berani sama lo Tod!” Kirishima juga menggeleng, “Semua anak kelas 2-A menghormatimu, sama!”

“Jadi siapa?!” tanya Todoroki makin marah. “Siapa—”

“Gue.”

Bakugou mengangkat tangan.

Demi Tuhan, muka Bakugou sekarang ngeselin banget. Todoroki jadi ingin melesatkan pukulan di wajah itu.

“T-Todoroki… ayo pergi aja… sekarang semuanya ngeliatin kita… Kacchan emang suka begi—TODO?!”

Todoroki maju dengan semangat ‘ingin-mencakar-Bakugou’ yang berapi-api.

“Gawat—“ Anak-anak lain auto menjauh.

“Kenapa?” tanya pria itu saat Todoroki sekarang di hadapannya. “Mau jewer gue lagi? Nih.” Bakugou menyodorkan kepalanya.

“Kamu kenapa lempar saya?!”

“Gabut.”

“Hah?!”

“Ya kenapa sih?! Suka-suka gue dong mau lempar ke mana?! Ke Deku kek, ke Kirishima, ke Sero, apa ke muka bloonnya Kaminari, terserah tangan gue dong?!”

Di kejauhan, Kaminari misuh-misuh.

“Saya nggak peduli! Kamu harus minta maaf!”

“Iya-iya. Awas, gue mau ganti baju.” Bakugou malah menjauh.

“Kok?!” Todoroki makin kesal. “Kamu mau ke mana?! Enak banget kamu langsung kabur gitu aja?! Nggak, sini kamu!” Ia menahan lengan Bakugou. “Minta maaf ke saya!”

Bakugou menepis tangan Todoroki, “Nggak.”

“Minta maaf!”

“Nggak.”

GRRRR. Todoroki Shoto kucing garong mode: activated.

“Oh—“ Bakugou berbalik, membuat Todoroki terpaksa menghentikan langkahnya. “Yaudah. Gue mau minta maaf.”

“Ya bagus kalo gitu—“

“Tapi tanding dulu.”

“APA?!”

“Lo budek? Tanding. T-a-n-d-i-n-g.”

“Nggak mau!” tolak Todoroki. “Kamu mau masuk BK?! Nih ya, saya ke sekolah itu buat nyari ilmu bukannya bonyok-bonyokan—“

“Lo ngomong apa sih, sat?” Bakugou mengangkat tangan, menangkap bola oranye yang dilemparkan ke arahnya dan menunjukkannya pada pria di depannya (serta sengaja menghantamkannya pelan ke wajah Todoroki). “Nih, tanding ini. Tanding, Setengah.”

Kurangajar.

“Mau kamu apa sih, Bakugou?!”

“Tanding.” Bola dipantulkan, lalu ditangkap Bakugou cepat. “Oh, lo nggak bisa, ya? Gue baru inget waktu ujian olahraga minggu lalu, lo sama sekali nggak bisa lemparin bola ke ring.”

Todoroki memalingkan wajahnya cepat (soalnya rambut durian ini benar sekali), “N-Nggak!”

“Yaudah. Coba lempar nih bola kesana.” Bakugou menunjuk ring, “Tiga kali percobaan. Kalo lo bisa sekali aja dari tiga itu, gue bakal minta maaf sekalian sujud deh biar lo puas. Tapi kalo nggak… turutin apa yang gue mau.”

Si rambut dua-warna jelas menolak mentah-mentah, “Bakugou, saya nggak—“

“Tuh kan, emang payah lo. Jagonya nagih doang cem mak-mak kosan. Emang dasar—“

“NGGAK YA! Ayo tanding!”

Shou—Todoroki menangis dalam hati. Jiwa kompetitifnya terlalu ambisius untuk kemampuan aslinya yang minus.

Bakugou menyeringai.

Baiklah… Todoroki menatap bola oranye di tangannya. Jadi sekarang dia harus bagaimana? Serius, dia buruk sekali soal ini. Sesekali ia melirik sekitar—dan, wow. Semua mata tertuju padanya. Dia jadi keringat dingin. Todoroki nggak mau jadi ‘budak’ Bakugou, tapi dia juga pesimis dirinya akan menang.

Terserah! Todoroki melempar bola pertamanya.

DUK

Kena papan.

“YAH—“ Penonton kecewa.

“Nggak kena dong, Setengah?” gumam Bakugou.

“Diem!”

Todoroki buru-buru menangkap bola oranye menyebalkan itu sebelum menggelinding lebih jauh.

“Masih dua kali lagi, Songong-roki. Ayo, bisa nggak?”

“Kamu yang songong! Songong-kugou!”

“Bacot! Biar gue songong yang penting gue jago. Mau apa lo?”

“KYAAA BANG JAGO—ADUH.” Kaminari ditimpuk.

Huft. Keringat dinginnya makin banyak. Jemarinya mulai bergetar, takut kalau dia beneran nggak bisa habis ini. Todoroki memejamkan mata, lalu melempar bola kedua.

DUK

Nggak sampai ring sama sekali.

“APAAN LEMPAR BOLA SAMBIL MEREM, GOBLOK?!” Bakugou meledak. “LO BELAJAR DARIMANA, HAH?!”

“SAYA BERDOA, BAKUGOU!”

“KENAPA NGGAK SEKALIAN SUJUD KALO GITU?!”

Kerumunan makin ramai. Todoroki malu! Dia mau pulang! Dia nggak punya kekuatan lagi untuk membalas si pirang. Matahari juga semakin terik, seakan juga ikut mengejeknya bersama setan blonde itu. Memang bajingan.

Sero berbaik hati melemparkan bola kepadanya. Kedua matanya terfokus kepada ring di atas sana. Gawat, ini kesempatan terakhir. Kalau Todoroki juga gagal, dia akan jadi budak Bakugou—dan dia jelas nggak mau. Please, sekali ini aja. Ia berunding dengan benda mati itu, berharap dewi fortuna memberkatinya hari ini.

Baiklah.

“Dilempar, woi! Bukan dijampi-jampiin!”

Lihat aja kamu, Bakugou. Abis ini semua uang kas kamu saya masukin ke lubang parit. Nama kamu saya coret. Sekalian coret dari daftar murid sekolah ini, dari KK, dari keanggotaan negara Indonesia—lalu saya tulis paling atas di Death Note.

Todoroki mengambil ancang-ancang, lalu mendorong tangannya.

GO BEYOND, PLUS ULTRAAAAA!

Hening.

Todoroki berjongkok, memejamkan mata erat seraya meletakkan telapak tangan di telinga. Ayoayoayoayoayoayoayo—

DUK

Kelopak matanya terbuka.

Kerumunan histeris.

Bakugou syok.

“Apa ini?”

Pak Aizawa meraih bola tak berdosa itu, lalu mengangkatnya. “Siapa yang sengaja melemparkan bola ini ke saya?”

Tidak ada yang berani bersuara.

“SIAPA?!”

“S-SAYA, PAK!” Todoroki refleks berdiri.

Hari yang sangat nice sekali. Todoroki menyesal mengapa ia tidak mau mendengarkan Midoriya tadi.

 


 

Gara-gara insiden bola tadi, Todoroki sama sekali tidak keluar kelas hingga bel pulang berbunyi.

Bakugou jelek Bakugou bodoh—nama Bakugou si jelmaan setan itu tidak bosan-bosannya menggema dalam hatinya. Tentu saja, ini semua terjadi karena titisan babi laut itu. Kalau saja dia tidak menyuruh—oh, tidak, kalau saja Bakugou tidak melempari kepalanya, hari ini tentu saja tidak akan berjalan seburuk ini. Todoroki jelas akan aman, dan dia tidak dimarahi oleh Pak Aizawa.

“Todo…,”

Itu Uraraka. Midoriya dan Iida juga ada disana. Mereka semua memandanginya dengan cemas.

“Oh—hehe, iya, Uraraka?” Todoroki memaksakan senyum. “Kalian duluan aja, nanti saya nyusul. Hehe.”

“Kamu yakin, Todoroki-kun? Ini sudah sepuluh menit sejak bel pulang, sepertinya sekolah sudah sedikit sepi kalau diperkirakan.” Iida berpikir, “Nggak ada yang bakal liat kamu juga—“

“Nggak apa-apa, Duluan aja, hehe.”

“Aku temenin aja gimana?”

“Aduh udah nggak usah, Midoriya. Saya nanti pulang. Kalian duluan aja. Beneran.”

Pada akhirnya, ketiga anggota geng-gengannya tersebut menyerah.

Todoroki melipat kedua tangannya, membenamkan wajah di balik lipatan itu dan menutup mata. Serius, dia nggak punya muka buat keluar ataupun sekolah besok. Malu, coy. Tadi itu ramai, pasti mereka semua melihatnya. Dia juga bisa membayangkan bagaimana wajah Bakugou sekarang. Pasti dia udah ngetawain—

Ah, iya. Dia baru ingat.

Sejak tadi, Bakugou sama sekali tidak menyuruhnya apa-apa. Bahkan tadi juga langsung pulang.

Yah, dia nggak peduli dan nggak mau tahu apa alasannya. Yang jelas, Todoroki mau menikmati kesendirian dulu. Simpan tenaga, lalu esok hari ia akan menghajar wajah Bakugou telak—itupun kalau dia masih mau sekolah besok.

SREK

Pintu digeser. Paling anak kelas yang ketinggalan sesuatu. Todoroki masih enggan membuka mata.

Ia lalu mendengar suara langkah kaki—dan diakhiri dengan suara kursi yang ditarik. Di sebelahnya.

Lalu hening.

Siapa, sih? Todoroki mulai penasaran, tapi ingat lagi, dia terlalu malas untuk mengangkat kepala.

Tapi perasaan asing ini… Dia pernah merasakannya di suatu tempat.

“Hh.” Terdengar suara helaan napas.

Lho, tunggu.

“Oi—“

Todoroki segera duduk tegak.

Di sebelahnya, Bakugou balik menatapnya dengan tatapan risih.

“Apaan, sih?! Nggak usah lebay, gue bukan setan.”

“Ngapain kamu disini?!” tanya Todoroki galak.

“Suka-suka gue dong?! Mau gue di sini kek apa di WC, di kantin, di parkiran, ya terserah kaki gue mau bawa gue ke mana?! Emang nggak boleh?!”

Todoroki tidak membalas. Pria itu kembali membenamkan wajahnya, berusaha mengabaikan Bakugou di sana yang juga tidak mengatakan apapun.

“Woi.”

Tidak disahut.

“Heh—”

“Saya punya nama.” gumamnya pelan.

Sekali lagi, hening.

“Todoroki.”

Apa-apaan—kok dia malah jadi deg-degan gini?

“Hm.”

“BISA LIAT SINI NGGAK SIH?! GUE—“

“APASIH?!” Todoroki mengangkat kepala dan gantian ngegas, “KAMU TUH NGESELIN BANGET YA—“

Eh? Todoroki tertegun. Di depan matanya tersodor sekotak susu, dengan Bakugou yang mengalihkan pandangannya seraya mengusap tengkuk.

“Ambil.” titahnya.

Todoroki.exe masih loading.

“KOK BENGONG SIH?!”

Susu malang tersebut sekarang berpindah tangan.

Suasana di sekitar mereka berubah canggung. Lho, ini aneh sekali. Biasanya mereka akan ribut atau bertengkar tentang kucing—tapi kenapa sekarang suram sekali? Lalu kenapa jantungnya berdegup kencang? Todoroki bodoh! Ayo berpikir—

“…f.”

“Ya?” Todoroki menoleh kearah Bakugou. “Kamu ngomong apa tadi?”

“…af.”

“Apasih Bakugou? Tolong kalo mau ngomong itu kencengan sedikit—“

“MAAF! GUE TUH MINTA MAAF! BISA GAK—”

"Kok kamu malah marah?! Saya kan nggak kedengeran karena suaramu—"

Mulutnya terkatup. Bakugou mencengkeram satu lengannya, menggeram kesal seraya menatapnya tajam dan... ehm, berbeda dengan biasanya? Dan itu sukses membuat hawa di sekitar Todoroki mendadak panas membara.

"Dengerin."

Jantung… Tolong… Diam. Todoroki nggak bisa ngomong lagi.

“… Huft, oke. Gue minta maaf soal yang tadi di lapangan. Soal gue lempar lo, dan juga soal tanding kekanakan kita berdua tadi. Yah, tapi sebenernya itu juga salah lo sih, ngapain juga lo mau-mau aja waktu gue suruh—“

Todoroki hendak protes, tapi dia dapat pelototan.

“Tapi serius, gue minta maaf.” Kali ini terdengar tulus dan tampak dari hati terdalam. “Maaf bikin lo malu tadi. Maaf juga gara-gara gue lo jadi diceramahin Pak Aizawa.”

Seorang Bakugou Katsuki minta maaf—ini kejadian langka. Todoroki nggak tahu harus bersyukur apa ngeri.

“…oh, iya nggak apa…,” Todoroki menggenggam susu kotak pemberian Bakugou dengan awkward.

Bakugou menggumam pelan.

"Bakugou, a-anu," Susah payah Todoroki menahan suaranya agar tidak terdengar gugup. "Anu—"

"Anu apaan? Copot?"

"B-BUKAN!" Kurangajar, tubuhnya berkhianat. "Itu, Bakugou. Itu—"

"Apa sih?!"

"—tangan."

"... Oh."

Semakin awkward.

“Omong-omong, itu susu dari Kaminari," Ada jeda cukup lama saat Bakugou bersuara, "Tadi dia beli lebih terus kasih gue. Karena gue nggak suka makanya gue kasih lo, bukan gue yang sengaja beli atau apapun yang lo pikirin. Jadi nggak usah baper, ya.”

“Iya….” Siapa juga yang percaya, sih?! Saya nggak baper tuh! Dia misuh-misuh.

Lalu hening lagi.

Ah, saku celananya bergetar. Itu pasti supirnya yang menelepon. Akhirnya! Keluar dari tempat ini! Todoroki buru-buru meraih tasnya, beranjak dari bangkunya dan hendak pamit pada Bakugou.

“B-Bakugou, saya pamit.” Menyebalkan, kok suaranya terus-terusan gagap?! Todoroki berdeham. “Udah dijemput. Makasih susunya.”

“Oh…,”

Pulang! Todoroki cepat-cepat berbalik. Dia butuh tempat sepi untuk menetralkan jantung—

“Tod.”

“Y-Ya?!” Todoroki kaget, refleks menoleh. “Kenapa? K-Kalo mau minta maaf nanti bisa—“

“Jangan lupa, dare lo.”

APA? Todoroki merasa darahnya perlahan naik.

“Hah?! Gila, ya?! Kamu masih bisa—”

“Besok.” Bakugou memalingkan wajah. “Ayo ke rumah gue.”

Lho?

“Kok bengong sih?! Mau nggak?!”

“H-Hah—t-tunggu dulu—kan biasanya dare itu jadi budak… k-kayak di TV—itu, G-Geum Janbi—“

“Duh, apaan sih?!” Pria pirang itu mengusap wajahnya kasar. “Pokoknya besok ikut gue ke rumah. Lo mau liat Suki, kan? Itu darenya.”

“T-Tapi—“

“MAU NGGAK?!”

“MAU!”

“Bagus.” Bakugou melangkah melewatinya, pergi.

Eh... Sudah?

Setelah Bakugou menutup pintu, Todoroki refleks berjongkok—menepuk pipinya beberapa kali. Ini dia mimpi? Sungguhan? Itu beneran Bakugou? Kok kayak kesurupan? Kok dia aneh? Terus kok dia gemes juga—

PLAK

Pipinya makin panas. Todoroki menggeleng-gelengkan kepalanya kuat, mencoba menghapus bayangan Bakugou dengan pipi yang juga merah (kalau dia tidak salah lihat) dan buru-buru menarik sedotan susu kotak pemberian si kuning—hendak minum sedikit untuk menenangkan diri.

Namun, saat hendak menusuknya, Todoroki menemukan sesuatu.

Sesuatu yang sukses membuat wajahnya merah padam.

......

.....

....

...

..

.

A few hours ago.

ASIK HARI INI PEJE (4)

Kaminari: GIMANA GIMANA

Kirishima: Siap :D

Kirishima: Susu kotaknya udah kan ya

Sero: Udah dong, terus kata katanya sesuai yang disuruh Bakugou kan?

Kirishima: “Senyum.”

Kirishima: Itu gan

Sero: HAH DEMI APA SI BAKUGOU???

Sero: APAAN ANJRIT GAADA ROMANTIS ROMANTISNYA

Kaminari: NANGIS GUE AJA BISA LEBIH ROMANTIS DARI DIA

Sero: Elo mah jatohnya alay

Kaminari: COT.

Kirishima: Gue juga hiks sedih

Kirishima: Tapi beneran itu yg dia tulis di susunya

Kirishima: Anaknya btw gaada nih, lagi disuruh Bu Midnight ngambil barang

Kaminari: YOSH

Kaminari: Kita ganti rencana

Kaminari: Sero, beli susu baru. Kirishima, ambilin gue sapidol

Sero: ENAK BANGET LO

Kaminari: Tolong nurut ama baginda.

Kaminari: Gue punya ide cemerlang, dijamin Bakugou bakal bahagia banget

Kirishima: Gue mencium sesuatu yg buruk bakal terjadi tapi gapapa, gas

Kaminari: LAKSANAKAN PRAJURITKU

Beberapa menit kemudian.

Kirishima: Dah dikasih?

Sero: PFFFTTTTT—UDAH UDAH AWOWKWKWKWKWK

Kaminari: AWOWKWKWKWKWK

Kirishima: Kenapa sih woy… gue ga ngerti… bagi-bagi lah…

Kirishima: Lo tulis apaan Kam?

Sero: Wahai Shouto Todoroki matahariku, bintangku, berlianku, tata suryaku—susu ini mungkin tidak sebanding dengan apa yang terjadi tadi siang. Namun biarlah susu ini akan menghilangkan dahagamu layaknya cintaku ini akan selalu menghalau semua badai yang datang menerjang. Yak betul sekali, Todoroki, ayo pacaran! Ini tantangan kedua! Aku tidak menerima penolakan!

Kirishima: GOBLOKKKK ANJINGGGG CARI MATIIIIII

Sero: PLIS ITU KERJAAN SI DENKS GUE SUCI GUE TIDAK BERDOSA

Kaminari: DIYAAAMMMM GUE NUNGGU KABAR JADIAN MEREKA

Sero: SUMPAH LO EMEJING BANGET KAM GUE SPEECHLESS

Sero: BENERAN GAK TAKUT DIGEBUK SI BAKUGOU

Sero: TUNGGUIN 

Kirishima: DAHLAH CEPET PULANG COY, SEBELUM KITA DILEDUK

Kirishima: ANJINGGGG WOI BAKUBRO BALIK LAGI

Sero: HAH MASA KITA KETAUAN

Sero: KABUR LAH AJG

Kaminari: AYOKLAH NGOPI

Sero: BALA GOBLOG, KITA DIAMBANG MAUT NI NJING DAN LO MALAH MIKIR NGOPI?

Kirishima: TAKUT

Kirishima: KERINGET DINGIN

Kaminari: MAKANYA KABUR EGE

Sero: DIKIRA GAMPANG APA

Kirishima: .....

Kaminari: You healthy, my bro?

Kirishima: Yes I'm no what what

Sero: APAAN SIH JING

Kirishima: HEHE, SORRY MY BROS

Kirishima: Bakubro rupanya balik buat mastiin saran gue semalem yg taktik menyatakan perasaan dengan jitu :D

Sero: Emang kurangajar ya lo Kir, gue udah spot jantung tai

Kirishima: Hehe

Kirishima: BURUAN

Kaminari: CEPET GUE DI PARKIRAN

Kirishima: GUE UDAH DEKET

Sero: UDAH DIBILANG TUNGGUIN KAMPRET GUE MASIH DI LIFT

Notes:

.....moga Bakusquad abis ini masih sehat walafiat, ya.

ANYWAYYYY thank you so much for reading!! <3 maaf banget kalo gaje ato typo dan sebagainya, ya! Kudos and comments are appreciated. ^___^

Series this work belongs to: